Pengantar Studi Hadis
Introduction to the study of Hadīth
Sebagaimana cinta kita kepada orang tua dapat tumbuh dari kesadaran akan pengorbanan yang telah mereka berikan untuk kita, demikian pula kesadaran kita akan bagaimana hadis-hadis dijaga, kedudukannya dalam Islam, serta jerih payah dan pengorbanan para ulama hadis dalam ilmu hadis, dapat menambah cinta dan penghormatan kita kepada para pendahulu kita. Selain itu, kita akan menghargai nilai hadis yang sebenarnya dan lebih berhati-hati sebelum menilai suatu hadis sebagai lemah.
The way our love for our parents is understood by realization of the sacrifices they made for us, likewise our realization of how úadīth were preserved, their authority in Islam, and the work and sacrifices of the úadīth masters in the science of úadīth, helps increase our love and adoration for our predecessors. In addition, we will appreciate the true value of úadīth and be more scrupulous before judging a hadith as weak.
Pelestarian Hadits
preservation of Hadith
Allah (SWT) berfirman dalam Al-Qur'an:
Allah (SWTH) states in the Qur’an:
Sesungguhnya Allah (SWT) telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.
Indeed Allah (SWTH) has already done a favor to the believers, when He raised amongst them a messenger from themselves to recite to them His verses, purify them and teach them the book and the wisdom.
Ayat ini menjelaskan salah satu tanggung jawab terpenting Nabi yang mulia ﷺ, yaitu mengajarkan Kitab. Tanggung jawab ini bukan hanya mengajarkan cara membaca dan melafalkan Kitab [karena hal itu sudah tercakup dalam tanggung jawab pertama, yaitu ‘membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya’], melainkan yang lebih penting lagi, yaitu makna Al-Qur’an. Tidak ada artinya bagi seorang Muslim untuk berusaha memahami makna dan pesan Al-Qur’an tanpa Nabi ﷺ sebagai guru yang menjelaskannya kepada kita.
This aya explains one of the most important responsibilities of the beloved Blessed Prophet (PBUH): to teach the Book. This responsibility consists of not just teaching the pronunciation and reading of the Book [as that is already covered in the first responsibility, i.e. ‘to recite to them His verses’], but more importantly, the meaning of the Qur’an. It would be meaningless for a Muslim to try to understand the meaning and message of the Qur’an without the Blessed Prophet (PBUH) as a teacher to explain it to us.
Kemahiran dalam bahasa Arab saja tidak dapat membantu kita memahami makna Al-Qur'an. Ingatlah, para ṣaḥābah, yang fasih berbahasa Arab, senantiasa kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk memahami makna-makna Al-Qur'an yang lebih dalam. Lafaz-lafaz Al-Qur'an dan maknanya dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ, baik secara lisan maupun melalui praktik. Sabda-sabda dan penjelasan Nabi Muhammad ﷺ ini disebut ḥadīth, dan ia memberikan kepada kita tafsir Al-Qur'an yang paling otentik. Oleh karena itu, janji Allah (SWT) untuk memelihara Al-Qur'an juga berarti pemeliharaan terhadap aḥādīth.
Proficiency in the Arabic language alone cannot help us grasp the meaning of the Qur’an. Remember, the ýaúóba , who spoke fluent Arabic, always turned to the Blessed Prophet (PBUH) to understand the deeper meanings of the Qur’an. The Qur’an’s words and its meanings were explained both verbally and practically by the Blessed Prophet (PBUH). These sayings and explanations of the Blessed Prophet (PBUH) are called úódõth and provide us with the the most authentic commentary of the Qur’an. Therefore, Allah’s (SWTH) promise to preserve the Qur’an meant preservation of the aúódõth as well.
Namun, pelestarian kata-kata saja tidaklah banyak gunanya. Sebagai contoh, jika Al-Qur'an memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan üalót, tetapi kita tidak mampu memahami apa yang dimaksud oleh perintah tersebut [seperti bagaimana cara melaksanakannya], maka apa manfaat dari melestarikan kata-kata "dirikanlah üalót" itu? Hal ini membuktikan bahwa pelestarian Al-Qur'an, secara mutlak, mencakup pelestarian úódõth. Tanpa úódõth, õmón seorang Muslim menjadi tidak sempurna. Lagipula, bagaimana kita mengetahui bahwa Al-Qur'an adalah kitab Allah (SWTH)?
However the preservation of words alone serves little purpose. For example, if the Qur’an commands Muslims to establish üalót, but we are unable to understand what this command entails [such as how to perform it], then what benefit is there in preserving the words “establish the üalót?” This proves that the preservation of the Qur’an, by necessity, includes preservation of the úódõth. Without úódõth, the õmón of a Muslim is incomplete. After all, how do we know that the Qur’an is the book of Allah (SWTH)?
Jika kita mengetahui Al-Qur’an dan kedudukannya, itu hanyalah karena Nabi yang diberkahi ﷺ bersabda, “Inilah Al-Qur’an; ia adalah firman Allah (SWT).” Jika kita menolak hadis Nabi yang diberkahi ﷺ ini, maka seluruh fondasi Islam runtuh. Kita tidak akan mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah sebagaimana yang diklaimnya.
If we know the Qur’an and its place, it is only because the Blessed Prophet (PBUH) said, “This is the Qur’an; it is the word of Allah (SWTH).” If we were to reject this Hadīth of the Blessed Prophet (PBUH) then the whole foundation of Islam collapses. We would not know that the Qur’an is what it claims to be.
Allah (SWT) berfirman kepada Nabi ﷺ dalam Al-Qur'an:
Allah (SWTH) says to the Blessed Prophet (PBUH) in the Qur’an:
Dan Kami telah menurunkan kepadamu peringatan (Al-Qur'an) agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka, dan agar mereka mau memikirkan.
And We have sent unto you the message, that you may explain clearly to men what is sent for them, and that they may give thought.
Ayat ini membuktikan bahwa peran mendasar hadits adalah menjelaskan makna Al-Qur'an, yang berarti Al-Qur'an tidak dapat dipahami tanpa hadits.
This aya proves that the fundamental role of úódõth is to reveal the meaning of the Qur’an, which means that the Qur’an cannot be understood without the ahadith.