18 Kitab Hadis Enam dan Tujuan Para Imam
18 The Six Books of hadith and the Objectives of the Imams
Enam kitab hadis berikut lebih dikenal sebagai al-Sihah al-Sitta (enam kitab hadis yang sahih):
The following six books of ahadith are better known as the al- Sihah al-Sitta (the six authentic books of hadith):
1. Bukhari 2. Muslim 3. Abu Dawud 4. Nisa’i 5. Tirmidzi 6. Ibnu Majah Tidak ada perbedaan pendapat mengenai lima kitab pertama, tetapi para ulama memang berbeda pendapat tentang Ibnu Majah dan apakah kitab tersebut termasuk dalam enam kitab hadis atau tidak. Meski demikian, Ibnu Majah pada akhirnya menjadi terkenal dan menempati posisinya di antara enam kitab hadis.
1. Bukhari 2. Muslim 3. Abu Dawud 4. Nisa’i 5. Tirmidhi 6. Ibn Maja There is no disagreement about the first five books, but the scholars did differ about Ibn Maja and as to whether it should be included in the six books of hadith or not. Nonetheless, Ibn Maja eventually became famous and established its place amongst the six books of hadith.
Banyak orang mengira bahwa istilah al-Sihah harus berarti bahwa hadis-hadis yang sahih hanya terdapat dalam enam kitab hadis, tetapi anggapan ini juga keliru. Pada kenyataannya, banyak hadis yang tidak termasuk dalam al-Sihah al-Sitta setara dengan, bahkan lebih kuat daripada, banyak hadis yang terdapat dalam al-Sihah al-Sitta. Misalnya, hadis-hadis dalam Muwatta’ Imam Malik telah dihimpun jauh sebelum hadis-hadis Bukhari, dan kitab itu dianggap sebagai kitab yang paling sahih setelah Kitab Allah (SWTH). Meski demikian, Ibnu Hazm berpendapat bahwa Syarh Ma‘ani al-Athar karya Imam Thahawi lebih dapat dipercaya daripada Muwatta’ Imam Malik.
Many people think that al-Sihah must mean that the authentic hadith are only found in the six books of hadith, but this assumption is also incorrect. In fact, many of the ahadith not admitted in the al-Sihah al-Sitta are equal to, if not stronger than, many of the ahadith in the al-Sihah al-Sitta. For example, the ahadith of the Muwatta’’ of Imam Malik were compiled long before the ahadith of Bukhari and it was considered the most authentic book after the book of Allah (SWTH). Even then, Ibn Hazam was of the opinion that the Sharah Ma’ani al-Athar of Imam Tahawi was more reliable than the Muwatta’’ of Imam Malik.
Pertanyaannya kemudian tetap ada: jika ada kitab-kitab hadis lain yang memuat hadis-hadis yang lebih sahih daripada al-Sihah al-Sitta, mengapa hanya enam kitab hadis yang terkenal ini disebut al-Sihah al-Sitta? Kenyataannya, meskipun keenam kitab ini sangat terkenal dan diterima di kalangan umat, hingga kini belum diketahui secara pasti bagaimana keenam kitab hadis tersebut mendapat sebutan al-Sihah al-Sitta.
The question then remains, if other books contain more authentic ahadith than al-Sihah al-Sitta, then why are only the six famous books of ahadith called al-Sihah al-Sitta? The truth is that despite their widespread fame and acceptance in the umma, it is still unknown as to how the six books of ahadith came to be called al-Sihah al-Sitta.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah bahwa semua penulis kitab-kitab besar ini menetapkan syarat-syarat untuk memasukkan sebuah hadis ke dalam kitab mereka. Jika syarat-syarat tersebut diingat ketika mempelajari kitab-kitab mereka, kita akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang hadis-hadis dan ilmu yang digali darinya. Misalnya, kita mengetahui alasan di balik keotentikan atau kelemahan suatu hadis, atau cacat tersembunyi dalam periwayatan sebuah hadis. Kita juga mempelajari cara yang benar untuk menyimpulkan hukum dari hadis-hadis. Mungkin inilah sebabnya kitab-kitab tersebut disebut al-Sihah al-Sitta.
Ultimately, what matters is that all the authors of these great books put conditions for including a hadith in their books. If those conditions are kept in mind when studying their books, we gain a deeper understanding of the ahadith and the knowledge derived from them. For example, we learn the reason behind the authenticity or weakness of ahadith or the hidden flaws in the transmission of a hadith. We also learn the correct method of how to deduce rulings from the ahadith. This is possibly why they are called al-Sihah al-Sitta.
Tidak mungkin membahas berbagai cabang ilmu hadis dalam pendahuluan ini, namun siapa pun yang ingin mempelajari lebih jauh dapat selalu merujuk kembali kepada banyak kitab yang ditulis tentang topik ini. Di sini, saya akan merangkum tujuan setiap penulis kitab al-Sihah al-Sitta dan apa yang mereka maksudkan ketika menghimpun hadis dalam kitab mereka.
It is not possible to cover the different fields of hadith in this introduction, but if anyone wishes to learn more, they may always refer back to the many books written on this subject. Here, I will summarize the objectives of each author of the al-Sihah al-Sitta and what they had in mind when compiling ahadith for their book.
Bukhari
Bukhari
Tujuan Imam Bukhari adalah mengajarkan metode bagaimana menyimpulkan hukum-hukum dari hadis-hadis yang sahih. Setiap sub-bab diberi judul yang menunjukkan suatu hukum yang disimpulkan dari hadis-hadis di bawah sub-bab tersebut. Inilah sebabnya dikatakan bahwa fikih Imam Bukhari terdapat dalam judul-judulnya [fiqh al-Bukhari fī Tarajimihī].
Imam Bukhari’s objective was to teach the method of how to deduce rulings from the authentic ahadith. Every sub-chapter is given a heading that indicates a ruling deduced from the ahadith under that sub-chapter. This is why it is said that the fiqh of Imam Bukhari is in his headings [fiqh al-Bukhari fī Tarajimihī].
Muslim
Muslim
Tujuan Imam Muslim adalah menghimpun seluruh riwayat yang berbeda dari satu hadis dalam satu kitab. Karena itu, lebih mudah menemukan hadis sahih tertentu di dalam Muslim dibandingkan di dalam Bukhari.
Imam Muslim’s objective was to compile all the different trans- missions of one hadith in one book. For this reason, it is easier to find a specific authentic hadith in Muslim than it is in Bukhari.
Nisa'i
Nisa’i
Imam Nasa'i memusatkan perhatiannya pada penggalian hukum-hukum Syariat dari hadis-hadis, sebagaimana Imam Bukhari. Karena itu, judul setiap sub-bab baru menyerupai judul sub-bab dalam Bukhari. Namun Imam Nasa'i juga bertujuan menghimpun hadis-hadis yang memiliki cacat tersembunyi dalam periwayatannya. Adalah gaya khas beliau untuk memulai sebuah sub-bab dengan hadis-hadis yang memiliki cacat tersembunyi dalam periwayatannya, lalu menganalisisnya sebagaimana dilakukan para ahli hadis. Beliau mengakhiri setiap sub-bab dengan hadis yang beliau anggap paling sahih dalam sub-bab tersebut.
Imam Nisa’i concentrated on deducing rulings of the Shari‘a from the ahadith, like Imam Bukhari. For this reason, the heading of each new sub-chapter is similar to that of a sub-chapter in Bukhari. But Imam Nisa’i also aimed to compile the ahadith that carry hidden flaws in their transmissions. It is his unique style to start a sub-chapter with the ahadith that have hidden flaws in their transmission and then analyze them as the hadith masters did. He ends every sub-chapter with the hadith which he considers to be the most authentic in that sub-chapter.
Abu Dawud
Abu Dawud
Imam Abu Dawud menghimpun semua hadis yang dijadikan dalil oleh para fuqaha untuk mendukung hukum-hukum mereka; ia juga mencantumkan beberapa riwayat dari satu hadis dalam kitabnya; dan jika suatu hadis lemah, ia akan memberikan komentar tentangnya. Namun, Imam Abu Dawud menempuh jalan yang berlawanan dengan Imam Nasa'i, karena ia memulai setiap sub-bab dengan hadis yang sahih dan mengakhirinya dengan hadis yang paling lemah.
Imam Abu Dawud compiled all the ahadith that the jurists bring in support of their rulings; he also includes multiple transmissions of one hadith in his book; also, if a hadith is weak, he will comment on it. However, Imam Abu Dawud takes the opposite course of Imam Nisa’i in that he starts off every sub- chapter with a authentic hadith and ends it with the weakest.
Tirmidhi
Tirmidhi
Imam At-Tirmidzi membuka sub-bab baru untuk setiap hadis atau kelompok hadis yang digunakan oleh para fuqaha. Beliau tidak mengumpulkan beberapa riwayat dari satu hadis sebagaimana Imam An-Nasa'i atau Imam Abu Dawud. Biasanya beliau meriwayatkan satu hadis yang mendukung salah satu dari empat imam dalam suatu hukum syariat di bawah satu sub-bab. Metode lain yang digunakan Imam At-Tirmidzi adalah meriwayatkan hadis-hadis yang sebelumnya belum pernah dikemukakan oleh para ahli hadis lain tentang suatu hukum syariat tertentu, lalu menunjukkan hadis-hadis pendukung lainnya [mengenai masalah itu] dengan mengatakan, "Lebih banyak hadis diriwayatkan tentang topik ini oleh fulan." Hal ini untuk menunjukkan bahwa ada lebih banyak hadis mengenai topik tersebut. Beliau juga sering mengutip pendapat para fuqaha mengenai masalah-masalah tertentu.
Imam Tirmidhi opened new sub-chapters for each hadith or group of hadith used by the jurists. He does not gather multiple transmissions of one hadith like Imam Nisa’i or Imam Abu Dawud. He will usually narrate one hadith that is in favor of one of the four imams in a ruling of the Shari‘a under one sub-chapter. Another method employed by Imam Tirmidhi is to narrate the hadith which have never been previously raised by any other of the hadith masters on a specific Shari‘a ruling and then indicate to other supporting ahadith [on that issue] by saying, “more ahadith are narrated on this subject by so and so.” This is to show that there are more ahadith on the subject. He also frequently quotes the opinions of the jurists on certain issues.
Ibnu Majah
Ibn Maja
Sunan Ibn Majah mengikuti pola yang sama dengan Sunan Abu Dawud, kecuali bahwa susunan hadis dalam Sunan Ibn Majah lebih unggul daripada Sunan Abu Dawud. Sunan Ibn Majah juga memuat jumlah hadis lemah (dha'if) yang paling banyak di antara al-Sihah al-Sitta.
Sunan Ibn Maja follows the same pattern as Sunan Abu Dawud except that the arrangement of ahadith in Sunan Ibn Maja surpasses Sunan Abñ Dówñd. Ibn Mója contains the most number of weak ahadith in the al-Sihah al-Sitta.