5 Ingatan Tajam Abū Zur‘a
5 The Sharp Memory of Abū Zur‘a
Hafiz Abu Zur'ah adalah seorang imam yang terkenal dan ulama terkemuka dalam ilmu biografi para perawi [asma' al-rijal]. Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan kisah berikut tentangnya:
Hafiz Abñ Zur‘a was a famous imam and a distinguished scholar in the science of the biographies of narrators [asma’ al-rijjal]. Ibn Abõ ûótim has narrated this story about him:
Suatu ketika Ibnu Wara, yang namanya Muhammad bin Muslim, dan Fadl bin 'Abbas, yang berjuluk Fadluk al-Saigh, datang menemui Hafiz Abu Zur'a. Keduanya mulai berdebat tentang suatu hukum syariat. Ibnu Wara mengutip sebuah Hadis untuk mendukung pendapatnya, tetapi Fadluk menolak Hadis tersebut dan bersikeras bahwa itu bukan lafaz Hadis yang benar. Ibnu Wara bertanya, "Lalu, apa lafaz yang benar dari Hadis ini?"
Once Ibn Wara, whose name was Muúammud ibn Muslim, and Fadl ibn ‘Abbas, whose nickname was Fadluk al-Saigh, came to Hafiz Abñ Zur‘a. Both of them began to argue about some Shari‘a ruling. Ibn Wara quoted a Hadīth to support his position, but Fadluk rejected the Hadīth and insisted that it was not the correct wording of the Hadīth. Ibn Wara asked, “Then what are the proper words of this Hadīth?”.
Fadluk mengutip Hadīts sebagaimana menurutnya benar. Ketika perdebatan berlanjut, Abū Zur‘a diam mendengarkan. Ibnu Wārah kemudian menoleh kepada Abū Zur‘a dan bertanya, "Apa sebenarnya lafaz Hadīts tersebut?"
Fadluk quoted the Hadīth in the way he thought was correct. As the debate continued, Abñ Zur‘a quietly listened. Ibn Wara then turned to Abñ Zur‘a and asked, “What are the actual words of the Hadīth?”.
Abu Zur'ah menghindar untuk menjawab, namun ketika Ibnu Warah terus mendesak, Abu Zur'ah berkata, "Pergilah panggil keponakanku, Abu al-Qasim."
Abñ Zur‘a avoided answering, but when Ibn Wara insisted Abñ Zur‘a said, “Go call my nephew, Abñ al-Qósim.”.
Ketika Abū al-Qāsim tiba, Ḥāfiẓ Abū Zur‘ah berkata kepadanya, "Pergilah ke perpustakaan, tinggalkan rak pertama, kedua, dan ketiga. Di rak berikutnya, kamu akan menemukan sejilid buku. Jangan ambil yang lain kecuali jilid ketujuh belas dan bawalah kepadaku."
When Abñ al-Qósim arrived, ûófiþ Abñ Zur‘a said to him, “Go to the library, leave the first, second and third shelf. In the shelf after, you will find a volume of books. Do not pick any other except the seventeenth volume and bring it to me.”.
Abu al-Qasim pergi dan kembali dengan membawa kitab itu. Hafiz Abu Zur'a membalik-balik halaman hingga sampai pada halaman tempat hadis tersebut tertulis. Ia menyerahkan kitab yang terbuka itu kepada Ibnu Wara. Ibnu Wara membaca hadis tersebut hingga selesai, lalu mengakui kesalahannya.
Abñ al-Qósim went and returned with the book. ûófiþ Abñ Zur‘a flipped through the pages until he reached the page on which the úadīth was written. He handed the open book over to Ibn Wara. Ibn Wóra read through the úadīth and then acknowledged his mistake.
Setelah kejadian ini, kita sebaiknya merenungkan pernyataan Abū Zur‘a, yang diriwayatkan oleh Ibn Ḥajar dengan sanad dari Abū Ja‘far Ṭastarī dalam kitabnya al-Tahḏīb. Abū Zur‘a berkata, "Lima puluh tahun telah berlalu sejak aku menulis aḥādīth, dan semua kitabnya ada di rumahku. Sejak aku menulisnya, aku tidak pernah lagi membaca aḥādīth itu, tetapi aku tahu hadis mana ada di kitab apa, di halaman apa, dan di baris apa."11
After this incident, we should contemplate the claim of Abñ Zur‘a, which has been narrated by Ibn ûajar with reference from Abñ Ja‘far Tastarõ in his book al-Tahþõb. Abñ Zur‘a claimed, “Fifty years have passed since I have written aúódõth, and all the books are in my house. From the time I wrote them, I have never read those aúódõth, but I know which Hadīth is in what book, on what page and on what line.”11
Demikian pula, Imam Sya'bi berkata, "Aku tidak pernah menggoreskan pena di atas kertas [yakni tidak pernah menulis hadis], dan aku tidak pernah harus meminta perawi mengulangi suatu hadis karena aku lupa."12
Similarly, Imam Sha‘ba says, “I have never put pen to paper [i.e. never wrote Ahadith] and never did I have to request a narrator to repeat a Hadith because I have forgotten it.”12
Terdapat banyak sekali peristiwa semacam ini, begitu banyak sehingga diperlukan mungkin satu buku lagi untuk mencoba menuturkannya semua. Namun beberapa peristiwa yang telah disebutkan ini sudah cukup untuk mengukur betapa luar biasanya daya hafal para ulama tersebut.
There are numerous incidents of this kind, so many in fact that it would take perhaps another book to attempt to narrate them all. These few incidents which have been mentioned; however, should suffice to gauge the extraordinary memories of these scholars.
Rushd bin Isma'il adalah teman sekelas Imam Bukhari. Ia sendiri menyaksikan langsung kejadian berikut. Ia meriwayatkan:
ûóshid ibn Ismó’õl was a classmate of Imam Bukhórõ. He himself was an eyewitness to the following incident. He narrates:
Imam Bukhari masih seorang anak kecil ketika ia datang ke kelas kami untuk belajar hadits bersama kami. Umumnya, para murid mencatat hadits yang disampaikan guru ketika beliau meriwayatkannya. Namun, kami memperhatikan Imam Bukhari duduk dengan tenang, mendengarkan gurunya tanpa menulis apa pun. Selama beberapa hari kami mengamati hal ini dalam diam, tetapi ketika ia terus berperilaku demikian, kami mulai menegurnya karena membuang-buang waktu di kelas dan tidak menulis apa pun. Imam Bukhari mengabaikan teguran-teguran ini dan tidak membantahnya.
Imam Bukhari was still a young boy when he came to our class to learn aúódõth with us. Generally, students noted down the aúódõth of the teacher as he narrated them. However, we would notice Imam Bukhórõ sitting quietly, listening to the teacher without writing anything down. For some days we observed this with silence, but when he continued to behave in this manner, we started to chide him for wasting time in the class and not writing anything down. Imam Bukhórõ ignored these objections and did not rebut them.
Suatu hari, orang-orang terlalu banyak memberinya ceramah, dan ia pun menjadi marah. Ia berkata, "Apa yang sebenarnya ingin kalian katakan? Pergilah ambil catatan kalian, duduklah di sekelilingku, dan aku akan menyebutkan dari ingatanku segala sesuatu yang telah kalian tulis."
One day, people lectured him too much, and he became angry. He said, “What are you trying to say? Go bring your notes, sit here around me and I will, by memory, say everything you have written.”.
Rashid akhirnya mengakui, "Dia telah menghafal lebih dari lima belas ribu hadis."
ûóshid finally admits, “He recited over fifteen thousand aúódõth from memory.”