15 Definisi Hadis Sahih
15 The Definition of a Sahih hadith
Sebuah hadis dinyatakan sahih jika setiap perawi dalam rantai periwayatannya bersifat adil ['adāla] dan sangat teliti serta kuat hafalannya [tamm al-ḍabṭ]. Ia harus cerdas, berakal sehat, telah baligh, dan beragama Islam pada saat meriwayatkan hadis tersebut.
A hadith is authentic if every narrator in a chain of transmission is of probity adala] and thoroughly accurate [tamm al-dabbt]. He must be intelligent, sane, mature and Muslim at the time of narrating the hadith.
Keadilan (ʿadālah) berarti bahwa perawi adalah orang yang bertakwa [takut kepada Tuhan]; ia bukan pendusta dan tidak melakukan dosa besar. Jika karena suatu hal ia melakukan dosa besar, ia segera bertobat. Orang seperti itu juga menghindari dosa-dosa kecil sebisa mungkin, dan jika ia melakukannya, ia tidak terus-menerus melakukannya. Orang ini menghindari perbuatan fasik [fisq] dan perbuatan keji [fahsh] dalam bentuk apa pun, dan memiliki rasa harga diri yang jelas. Ia tidak melakukan perbuatan yang dipandang tercela atau tidak terhormat dalam masyarakat Islam. Misalnya, ia tidak akan buang air kecil atau makan dan minum sambil berdiri di tempat umum.
Probity means that the narrator is a person of Taqwa [God-fearing]; he is not a liar and does not commit major sins. If by any chance a major sin is committed, he repents immediately. Such a person also avoids minor sins as much as possible and if he does, he is not consistent upon them. This person avoids transgression [fisq] and sexual misconduct [fahsh] of any kind and has a clear sense of honor. He does not commit such acts as are looked upon as disgraceful or disreputable in Islamic society. For example, he will not urinate or eat and drink while standing in public.
Seorang perawi yang sempurna ketelitiannya [al-tamm al-dabbt] berarti bahwa perawi tersebut sangat cerdas. Orang ini harus memiliki hafalan yang kuat agar dapat menjaga lafaz-lafaz hadis secara tepat. Juga penting bahwa lafaz-lafaz tersebut dihafal dengan akurat, sehingga tidak ada keraguan tentang keotentikannya.
A thoroughly accurate person [al-tamm al-dabbt] means that the narrator is extremely intelligent. This person must possess a strong memory so as to preserve the exact wordings of the hadith. It is also important that the words are memorized accurately, leaving no room for doubt about it being authentic.
Jika kriteria yang disebutkan di atas terpenuhi oleh setiap perawi, mulai dari para Sahabat hingga perawi terakhir, barulah suatu hadis dinyatakan sahih. Jika seluruh syarat terpenuhi, maka hadis tersebut adalah hadis sahih li dzatihi. Jika seorang perawi kurang kuat hafalannya atau diriwayatkan memiliki akhlak yang buruk, tetapi hadisnya dikuatkan oleh hadis-hadis lain, maka hadis tersebut adalah hadis hasan.
If the aforementioned criteria are fulfilled by every narrator, from Sahaba to the last narrator, only then will a hadith be authentic. If all the requirements are fulfilled, then the hadith is a sound- in-itself narration . If a narrator is lacking in sharpness of memory or is reported to be of bad character but the hadith is corroborated by other ahadith, the hadith is a sound narration.
Jika perawi kurang dalam salah satu sifat (karakter), sehingga hadis menjadi lemah dan tidak dikuatkan oleh hadis-hadis lain, maka hadis tersebut disebut hadis hasan (hadis yang baik).
If the narrator is lacking in some character, which calls for a weakening of the hadith and it is not corroborated by other ahadith, it is called a fair narration [hasan].
Jika kriteria yang membuat sebuah hadis menjadi sahih atau hasan tidak terpenuhi pada salah satu atau lebih perawinya, maka hadis tersebut termasuk lemah. Misalnya, jika seorang perawi tidak memiliki keadilan (integritas moral) atau tidak sangat teliti dan kuat hafalannya, dan keabsahan hadis itu terpengaruh karenanya, maka hadis tersebut akan diturunkan derajatnya menjadi hadis lemah.
If the criteria that makes a hadith authentic or fair is not found in one or more than one narrators, then the hadith is weak. For example, if the narrator does not possess probity or is not thoroughly accurate, and the authenticity of the hadith is affected by it, the hadith will be degraded to a weak hadith.
Ada empat cabang utama hadits. Cabang-cabang ini menentukan bagaimana dan dalam keadaan apa hadits sampai kepada kita:
There are four main branches of hadith. These branches determine how and in what condition the hadith reaches us:
1. Hadis mutawatir Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam jumlah perawi yang begitu banyak, sehingga tidak mungkin mereka bersekongkol untuk memalsukannya.
1. A mass-transmitted hadith [mutawatir] A mass-transmitted hadith is a hadith that is transmitted from one generation to the next in such large numbers, that one could not imagine that they conspired to forge it.
2. Hadis yang Terkenal [mashhur] Hadis yang terkenal adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hadis ini juga disebut mustafid.
2. A well-known hadith [mashhur] A well-known narration is a hadith in which three people or more narrated a hadith from one generation to the next. This hadith is also called mustafid.
3. Hadits Aziz Hadits aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dari satu generasi ke generasi berikutnya.
3. A rare hadith [aziz] A rare narration is a hadith in which two people or more narrated a hadith from one generation to the next.
4. Hadits ahad [gharib] Hadits ahad (gharib) adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu orang saja di seluruh rangkaian sanadnya.
4. A solitary hadith [gharib] A solitary hadith is a hadith in which only one person narrated a hadith throughout the transmission.
Istilah-istilah lain juga digunakan:
Other terminologies are also used:
5. Hadits yang Ganjil (Syadz) Hadits yang shahih, tetapi bertentangan dengan hadits-hadits lain yang lebih shahih darinya.
5. An anomalous hadith A hadith that is authentic, but which conflicts with other ahadith that are more authentic than itself.
6. Hadis yang Terjaga Hadis yang sahih, namun bertentangan dengan hadis-hadis lain yang tingkat keotentikannya lebih rendah daripadanya.
6. A preserved hadith A hadith which is authentic, but which conflicts with other ahadith that are less authentic than itself.
7. Hadits munkar. Hadits yang lemah dan bertentangan dengan hadits-hadits lain yang shahih.
7. A declined hadith [munkar] A hadith that is weak and which conflicts with other ahadith that are authentic.
8. Hadits Maqbul: Hadits yang memiliki perawi yang kuat dan bertentangan dengan hadits yang perawinya lemah.