16 Apakah Bukhari dan Muslim Memuat Semua Hadis yang Sahih?
16 Do Bukhāri and Muslim Contain All the Authentic Ahadith?
Sebagian orang berpendapat bahwa sebuah hadis hanya sahih apabila terdapat dalam Bukhari dan Muslim. Bahkan ada yang bersikeras bahwa seluruh din [agama] Islam hanya dapat ditemukan dalam Bukhari.
Some people think that a hadith is only authentic if it is in Bukhari and Muslim. Some even insist that the whole din [religion] of Islam is to be found only in Bukhari.
Suatu ketika, seorang Badui datang menemui Nabi ﷺ. Ia memeluk Islam dan shalat. Setelah selesai shalatnya, ia berdoa, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Nabi ﷺ saja, dan jangan rahmati siapa pun selain kami." Pikirannya adalah, "Jika aku berdoa agar semua orang dirahmati, maka rahmat Allah kepadaku akan berkurang." Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Engkau telah membatasi sesuatu yang luas."38 Rahmat Allah itu luas, begitu pula ilmu agama kita. Sungguh suatu kebodohan yang nyata jika membatasi seluruh agama hanya pada Bukhari. Menurut pandangan ini, dua puluh tiga tahun kenabian Nabi ﷺ hanya terbatas pada hadits-hadits Bukhari, dan segala yang beliau ucapkan atau lakukan selama dua puluh tiga tahun itu hanya ada di Bukhari dan tidak di tempat lain. Ini seperti mengatakan, "Terlalu sulit untuk mengikuti seluruh Al-Qur'an; kita cukup mengikuti surat ke-24 saja." Sekarang, jika seseorang menanyakan suatu hukum, orang ini bertanya apakah hukum itu ada di surat ke-24. Jika ia diberi tahu, "Tidak, itu ada di surat ke-21," ia berkata, "Oh, aku tidak bisa menerimanya karena aku hanya mengikuti surat ke-24 Al-Qur'an." Demikianlah sebagian orang memperlakukan hadits. Jika suatu hadits ada di Bukhari, mereka menerimanya; tetapi jika tidak, ditolaklah ia. Seluruh ulama dan pakar hadits sepakat bahwa ada banyak hadits sahih selain hadits-hadits Bukhari dan Muslim. Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim sendiri tidak pernah membuat klaim semacam itu.
Once, a bedouin came to the Blessed Prophet (PBUH). He accepted Islam and prayed Salat. Once he completed his Salat, he prayed, “O Allah (PBUH), have mercy on me and the Blessed Prophet (PBUH) and no one else.” His thinking was that, “If I pray for everyone’s mercy, the mercy of Allah (PBUH) on me will decrease.” The Blessed Prophet (PBUH) said to him, “You have confined the vast.”38 The mercy of Allah (PBUH) is vast and so is the knowledge of our din. It is absolute ignorance to confine the whole din into Bukhari. According to this view, twenty three years of the Blessed Prophet’s (PBUH) prophethood is limited to the ahadith of Bukhari, and everything he every said or did in twenty three years is in Bukhari and nowhere else. It is like saying that “it is too difficult to follow the whole Qur’an; let’s just follow the twenty fourth chapter.” Now if someone asks about a ruling, this person asks if it is in the twenty-fourth chapter. If he is told, “No, it is in the twenty-first chapter,” he says, “Oh, I can’t accept that because I only follow the twenty fourth chapter of the Qur’an.” This is the same way some people treat the ahadith. If a hadith is in Bukhari, they accept it; but if it is not, it is rejected. All the hadith masters and scholars are unanimous that there are many authentic ahadith besides the ahadith of Bukhari and Muslim. Even Imam Bukhari and Imam Muslim never made any such claim.
Justru mereka menentang klaim-klaim yang radikal semacam itu. Imam Bukhari berkata, "Aku hanya memasukkan hadis-hadis yang sahih ke dalam kitabku, namun juga meninggalkan banyak hadis sahih karena khawatir kitab itu menjadi terlalu panjang."39 Imam Muslim menulis, "Aku tidak memasukkan seluruh koleksi hadis sahih ke dalam kitabku."40 Oleh karena itu, Hafiz Ibnu Hajar menulis dalam Tadrib al-Rawi, "Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak memasukkan seluruh hadis sahih ke dalam kitab mereka, dan mereka juga tidak berniat untuk melakukannya."41
If anything, they opposed such radical claims. Imam Bukhari said, “I have only put authentic hadith in my book, but also left many authentic hadith for fear of the book becoming too drawn- out.”39 Imam Muslim writes, “I have not put the whole collection of authentic ahadith in my book.”40 This is why Hafiz Ibn Hajar writes in Tadrib al-Rawi, “Imam Bukhari and Imam Muslim did not include all the authentic hadith in their books, nor did they intend to do so.”41
Bukan hanya itu, Imam Bukhari menamai kitabnya al-Jami‘ al-Sahih al-Musnad al-Mukhtasar min Umur Rasul Allah ﷺ wa Ayyamihī [Kumpulan (hadis) yang Sahih, Bersambung, dan Ringkas dari Urusan Rasulullah ﷺ dan Hari-harinya].
Not only that, Imam Bukhari named his book, al-Jami‘ al-Sahih al-Musnad al-Mukhtasar min Umur Rasul Allah (SWTH) wa Ayyamihī [The Authentic and Continuous, Abridged Collection (of ahadith) from the Blessed Prophet (PBUH) and his Days].
Kata Mukhtasar [ringkasan] jelas menunjukkan bahwa Bukhari merupakan versi yang diringkas dan tidak mencakup seluruh rangkaian hadis sahih.
The word Mukhtasar [abridged] clearly indicates that Bukhari is condensed and does not include the whole gamut of authentic hadith.