19 Biografi Singkat Para Ulama Besar Hadis
19 Brief Biographies of the Great hadith Masters
Di zaman kita, kekurangan ilmu Islam begitu parah sehingga bahkan para imam komunitas kita pun tidak mengenal para pakar hadis yang berjaya di bidang hadis, apalagi kaum Muslimin awam. Banyak orang yang menyebut diri "pakar hadis" dan orang-orang lain yang menamakan diri "ahlul hadis" [ahl al-hadith] sama sekali tidak mengetahui nama-nama sebagian besar kitab hadis dan biografi para pakar hadis agung yang menyusunnya. Berikut ini adalah pengantar singkat tentang sebagian pakar hadis terbesar.
In our times, the dearth of Islamic knowledge is so severe that even the imams of our communities are not familiar with the different hadīth masters who reigned in the field of ahadith, let alone common Muslims. Many self-proclaimed “hadīth masters” and others who call themselves the “people of hadīth” [ahl al-hadith] are completely ignorant of the names of most of the hadīth books and the biographies of the great hadīth masters who compiled them. Below is a brief introduction to some of the greatest hadīth masters.
Imam Bukhari
Imam Bukhari
Beliau bernama Muhammad bin Isma’il dan lahir di Bukhara pada tanggal 13 atau 16 Syawal tahun 194 H, bertepatan dengan sekitar 810 M, pada hari Jumat setelah shalat Ashar. Ayahnya wafat sebelum beliau lahir. Imam Bukhari menjadi buta pada masa kecilnya, namun doa-doa dan permohonan tulus ibunya membuahkan hasil, dan penglihatannya pun kembali. Setelah itu, beliau terus menuntut ilmu hingga akhir hayatnya.
He was Muhammad ibn Isma’il and was born in Bukhara on the 13 or 16 of Shawwal, 194/c 810 on Friday after ‘Asr. His father died before he was born. Imam Bukhari became blind in childhood but his mothers ardent prayers and du‘as bore their fruit, and his eyesight was returned. After this, he sought knowledge until the end of his life.
Imam Bukhari menulis banyak kitab, termasuk kumpulan hadis yang termasyhur, Sahih al-Bukhari. Nama asli yang diberikan kepada Sahih al-Bukhari adalah al-Jami‘ al-Sahih al-Musnad al-Mukhtasar min Umur Rasul Allah Salla Allahu ‘alaihi wa Sallam ﷺ.
Imam Bukhari wrote many books including the renowned collection Sahih al-Bukhari. The original name given to Sahih al-Bukhari was, al-Jami‘ al-Sahih al-Musnad al-Mukhtasar min Umur Rasul Allah Salla Allahu ‘alaihi wa Sallam.
Sahih al-Bukhari dianggap sebagai kitab yang paling autentik setelah Al-Qur'an, baik secara akademis maupun historis. Imam Bukhari dikenal mandi dan melaksanakan shalat istikharah44 sebelum mencatat hadits apa pun ke dalam kitabnya. Jika ia merasa mantap setelah istikharah, ia memasukkan hadits tersebut ke dalam kitabnya; jika tidak, ia menolaknya. Penyusunan Sahih al-Bukhari merupakan buah dari enam belas tahun penelitian yang teliti. Pujian apa yang dapat kita berikan kepada Imam Bukhari, ketika Allah (SWTH) sendiri telah mengabadikan namanya bagi generasi masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Maka, tanpa menambahkan kata lain, kita tutup pembahasan tentang keutamaan dan ketakwaannya.
Sahih al-Bukhari is regarded as the most authentic book after the Qur’an, academically and historically. Imam Bukhari was known to bathe and perform istikhara44 before recording any hadīth into his book. If he felt positively after the istikhara, he admitted the hadīth into his book; otherwise, he rejected it. The compilation of Sahih al-Bukhari was the fruit of sixteen years of meticulous research. What praise can we bestow on Imam Bukhari when Allah (SWTH) Himself has immortalized his name for past, present and future generations. So without mentioning another word, we lay the subject of his excellence and piety to rest.
Sayangnya, salah satu fakta paling menyedihkan dalam sejarah Islam adalah bahwa para ulama Islam yang sejati dan hamba-hamba Allah (SWT) yang tulus selalu menderita di tangan musuh-musuh mereka. Musuh-musuh Imam Bukhari terus mengganggunya hingga ia terpaksa berdoa, "Ya Allah (SWT), bumi ini terasa sempit bagiku meskipun luas. Ambillah aku ke tempat kediaman-Mu." Imam Bukhari wafat di Samarqand pada malam Idul Fitri tahun 256 H, bertepatan dengan sekitar 870 M, pada usia enam puluh dua tahun.
Unfortunately, one of the saddest facts in the history of Islam is that the true scholars of Islam and sincere servants of Allah (SWTH) always suffered at the hands of their foes. The foes of Imam Bukhari harassed him until he was forced to pray, “O Allah (SWTH), this earth has become narrow for me despite its vastness. Take me to your abode.” Imam Bukhari died in Samarqand on the eve of Eid al-Fitr in 256/c870 at the age of sixty two.
Imam Muslim
Imam Muslim
Beliau bernama Muslim bin Hajjaj, tetapi dikenal dengan kunyahnya, Abu al-Hasan. Imam Muslim lahir di Naisyabur, Iran, pada tahun 204 H/sekitar 820 M atau 206 H/sekitar 822 M. Meskipun menulis banyak kitab, ia paling dikenal melalui karyanya, Sahih Muslim. Dikatakan bahwa Imam Muslim tidak pernah menggunjing, dan ia tidak pernah berbicara buruk tentang seorang pun sepanjang hidupnya. Muslim menjadi sangat populer di kalangan para ahli hadis sehingga sebagian ulama bahkan menempatkannya di atas Bukhari; namun, kebanyakan ahli hadis menempatkan Muslim di bawah Bukhari. Perlu disebutkan bahwa judul-judul bab kecil dalam Muslim tidak ditulis oleh Imam Muslim, melainkan oleh Imam Nawawi.
He was Muslim ibn hajjaj, but was known by his agnomen, Abu al-hasan. Imam Muslim was born in Naishabur, Iran, in either 204/c820 or 206/c822. Though he authored many books, he is most recognized for his Sahīh al-Muslim. It is said that Imam Muslim would never backbite, nor did he speak ill of anyone throughout his life. Muslim became so popular amongst the hadīth masters that some scholars actually put it above Bukhari; however, most hadīth masters rank Muslim below Bukhari. It is worth mentioning that the headings of the sub-chapters in Muslim are not written by Imam Muslim but by Imam Nawawi.
Imam Muslim wafat pada tahun 261 H / sekitar 875 M. Banyak orang menyebutkan bahwa penyebab wafatnya bermula ketika seseorang pernah bertanya kepadanya tentang sebuah hadits. Ia begitu bersemangat untuk menemukan hadits tersebut sehingga langsung mencarinya begitu tiba di rumah. Selama penelitiannya, ia merasa lapar dan menyimpan sekeranjang kurma di dekatnya. Setiap beberapa saat ia mengambil sebutir kurma dari keranjang dan terus mencari hadits itu. Pada akhirnya, tanpa ia sadari, ia memakan begitu banyak kurma sehingga hal itu menjadi penyebab wafatnya.
Imam Muslim died in 261/c875. Many say that the cause of death came after someone once asked him about a hadīth. He was so eager to find the hadīth that he searched for it immediately after returning home. During his research, he became hungry and kept a basketful of dates next to him. Every little while he picked a date from the basket and continued looking for the hadīth. Ultimately, he unknowingly ate so many dates that it became the cause of his death.
Imam Malik
Imam Malik
Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi 'Amir, dan kunyahnya adalah Abu 'Abd Allah. Beliau lahir pada tahun 93 H, sekitar tahun 712 M, di kota Madinah yang diberkahi, dan tinggal di sana sepanjang hidupnya. Beliau dimuliakan dengan gelar "imam negeri hijrah." Sejak lahir beliau sudah istimewa, karena ibunya mengandungnya selama tiga tahun sebelum melahirkannya. Kakek buyutnya adalah orang pertama dari keluarganya yang memeluk Islam. Pada waktu itu, kakek buyutnya tinggal di Yaman, kemudian berhijrah ke Madinah.
He was Malik ibn Anas ibn Malik ibn Abi ‘Amir and his agnomen was Abu ‘Abd Allah. He was born in 93/c712 in the blessed city of Madina and lived there his entire life. He was honored with the title, “imam of the place of migration.” He was exceptional from birth as his mother bore him after carrying him in her womb for three years. His great grandfather was the first in his family to accept Islam. At the time, his great-grandfather lived in Yemen and later migrated to Madina.
Sejak usia dini, kecintaan Imam Malik terhadap ilmu sudah tampak. Keluarganya sangat miskin sehingga mereka pernah terpaksa membongkar langit-langit rumah mereka, mengumpulkan balok-balok kayunya, dan menjualnya untuk bertahan hidup. Namun, dalam keadaan itu, Imam Malik dengan penuh semangat menuntut ilmu agama. Beliau sangat cerdas dan dianugerahi daya ingat yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa apa pun yang pernah beliau baca, beliau tidak pernah melupakannya. Kecintaan beliau kepada Nabi yang Mulia ﷺ juga teladan. Suatu ketika, saat beliau sedang mengajarkan hadits, seekor kalajengking menyengatnya tujuh belas kali, tetapi beliau terus mengajar dan tidak beranjak dari tempatnya karena menghormati hadits tersebut.
Imam Malik’s thirst for knowledge began at an early age. His family was so poor that that they were once forced to tear open the ceiling of their house, collect the wooden beams and sell them to survive. However, during that time Imam Malik vigorously pursued the knowledge of din. He was highly intelligent and was gifted with a photographic memory. It is said that once he read something he never forgot it. His love for the Blessed Prophet (PBUH) was also exemplary. Once, while he was teaching hadīth, a scorpion stung him seventeen times, but he continued teaching and did not move from his spot out of respect for the hadīth.
Kitabnya merupakan sebuah mahakarya dalam bidang hadis. Selain Musnad Imam Abī Hanīfa [disusun oleh Imam Abu Hanifah, sezaman dengan Imam Malik], para ahli hadis menjadikan kitabnya sebagai landasan utama dari seluruh kitab himpunan hadis sahih. Beliau wafat pada tanggal 11 Rabiul Awal tahun 179 H, bertepatan dengan sekitar tahun 795 M, dalam usia delapan puluh enam tahun, dan dimakamkan di Jannatul Baqi' di Madinah.
His book was a masterpiece on hadīth. Aside from Musnad Imam Abī hanīfa [compiled by Imam Abu hanīfa, a contemporary of Imam Malik], the hadīth masters take his book as the cornerstone of all compilations of authentic ahadith. He died on the 11th of Rabī‘ al-Awwal in 179/c795 at the age of eighty-six and was buried in Jannat al-Baqī‘ in Madina.
Imam Tirmidzi
Imam Tirmidhī
Beliau bernama Muhammad bin ‘Īsā dan kunyahnya Abu ‘Īsā. Lahir sekitar tahun 209 H / 825 M, beliau berasal dari kota Tirmidh di Balkh, dan karena itulah nisbahnya adalah Tirmidzī. Imam Tirmidzī dianugerahi hafalan yang luar biasa dan ketakwaan. Beliau menjadi buta akibat terlalu banyak menangis. Beliau termasuk di antara murid Imam Bukhari yang paling beliau sayangi, meskipun dalam fikih beliau mengikuti Imam Syafi‘ī dan tidak menerima hukum-hukum (fatwa-fatwa) Imam Bukhari.
He was Muhammud ibn ‘ösa and his agnomen was Abu ‘ösa. Born in approximately 209/c825, he was from the city of Tirmidh in Balkh, hence his attribution, Tirmidhī. Imam Tirmidhī was blessed with an outstanding memory and piety. He became blind due to excessive weeping. He was one of the most favored students of Imam Bukhari, though he was a follower of Imam Shafi‘ī in fiqh and did not accept the rulings of Imam Bukhari.
Sungguh mengherankan bahwa beliau mengutip semua ulama fikih lainnya dalam kitabnya Sunan al-Tirmidzi, tetapi tidak pernah mengutip atau bahkan menyebut guru beliau, Imam Bukhari. Setelah setiap hadits, Imam Tirmidzi mencantumkan derajat hadits tersebut, lalu memaparkan hukum-hukum yang diambil para imam dari hadits itu. Beliau juga sering menyebutkan hadits-hadits lain yang berkaitan dengan tema tersebut. Tentang kitabnya, Imam Tirmidzi berkata, "Barangsiapa memiliki kitab ini di rumahnya, maka seakan-akan di rumahnya ada Nabi ﷺ yang berbicara."
In fact, it is amazing that he quotes all the other jurists in his book Sunan al-Tirmidhī, but never quotes or even mentions his teacher Imam Bukhari. After every hadīth, Imam Tirmidhī notes the grade of the hadīth and then narrates the rulings the imams derive from that hadīth. He frequently gave reference to other ahadith related to that subject. Regarding his book, Imam Tirmidhī said, “Whosoever has this book in his house has the prophet who speaks in his house.”.
Imran ibn ‘Allan berkata, “Imam Bukhari wafat dan tidak meninggalkan orang yang lebih baik daripada Abu ‘Isa di tempatnya, dalam ilmu dan ketakwaan.” Imam Tirmidzi wafat pada tahun 279 H/sekitar 892 M.
Imran ibn ‘Allan says, “Imam Bukhari died leaving no better person behind than Abu ‘ösa in his place in knowledge and piety.” Imam Tirmidhī died in 279/c892.
Imam Abu Dawud
Imam Abu Dawud
Beliau bernama Sulaiman bin Asy‘ats dan kunyah beliau adalah Abu Dawud. Lahir pada tahun 202 H/sekitar 817 M, beliau berasal dari kota Sijistan yang berdekatan dengan provinsi Khurasan. Sebagai murid yang tekun dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud mengikuti mazhab [aliran fikih] gurunya. Imam Abu Dawud dikenal dengan kerendahan hati dan kesederhanaannya. Imam Abu Hatim berkata, “Imam Abu Dawud adalah imam dunia dalam ilmunya, dalam hafalan dan pemeliharaannya, dalam pemahamannya, dalam ketakwaannya, dan dalam kebijaksanaannya.” Diterimanya kitab beliau oleh Allah (SWT) dibuktikan dengan diterimanya kitab itu di tengah umat. Imam Abu Dawud wafat pada tahun 275 H/sekitar 888 M.
He was Sulaiman ibn Ash‘ath and his agnomen was Abu Dawud. Born in 202/c817, he was from the city of Sīstan near the province of Khurasan. A devoted student of Imam Ahmad ibn hanbal, Imam Abu Dawud followed the madhhab [school] of his teacher. Imam Abu Dawud was known for his humility and simplicity. Imam Abu hatim says, “Imam Abu Dawud was the imam of the world in his knowledge, preservation and memorization, understanding, piety and his judiciousness.” Allah’s (SWTH) acceptance of his book is evidenced by its acceptance in the umma. Imam Abu Dawud died in 275/c888.
Imam Nisa'ī
Imam Nisa’ī
Namanya Ahmad bin Syu'aib bin 'Ali an-Nasa'i dan kunyahnya Abu 'Abdurrahman. Beliau adalah pedang yang terhunus terhadap para pelaku bid'ah. Dikatakan bahwa beliau berpuasa sehari selang sehari sepanjang hidupnya sebagaimana Dawud. Beliau mengikuti mazhab Imam Syafi'i, meskipun ada pula yang mengatakan bahwa beliau mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Imam an-Nasa'i wafat pada tahun 303 H, sekitar 915 M.
His name was Ahmad ibn Shu‘aib ibn ‘Ali al-Nisa’ī and his agnomen was Abu ‘Abd al-Rahman. He was an unsheathed sword against the people of innovation [bid‘a]. It is said that he fasted every other day throughout his life as Dawud did. He followed the madhhab of Imam Shafi‘ī, though others say he followed the madhhab of Imam Ahmad ibn hanbal. Imam Nisa’ī died in 303/c915.
Imam Ibn Maja
Imam Ibn Maja
Nama beliau adalah Muhammad bin Yazid dan kunyahnya adalah Abu ‘Abd Allah. Nama ibunya adalah Maja, sehingga beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Majah. Beliau lahir pada tahun 209 H, sekitar tahun 824 M, di Qazwin, Iran. Seluruh ulama hadis memuji susunan hadis dalam Ibnu Majah yang sangat baik serta fakta bahwa kitab ini bebas dari pengulangan hadis. Berbeda dengan lima kitab lain dari al-Sihah al-Sittah, banyak hadis dalam Ibnu Majah yang hanya terdapat di kitab ini dan tidak dapat ditemukan di kelima kitab lainnya.
He was Muhammad ibn Yazīd and his agnomen was Abu ‘Abd Allah. His mother’s name was Maja, which is how he came to be known as Ibn Maja. He was born in 209/c824 in Qazwīn, Iran. All the hadīth masters laud the superb organization of the ahadith in Ibn Maja and also that it is devoid of repetitiveness in ahadith. Unlike the other five books of al-Sihah al-Sitta, many of the ahadith in Ibn Maja are exclusive to Ibn Maja and cannot be found in any of the other five books.
Imam Ahmad ibn Hanbal
Imam Ahmad ibn hanbal
Imam Ahmad ibn Hanbal terkenal dengan mazhabnya. Nama beliau adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal, dan kunyah beliau adalah Abu ‘Abd Allah. Lahir di Baghdad pada tahun 164 H / sekitar 780 M, beliau diberi gelar “imam Ahl as-Sunnah” [Pengikut Sunnah]. Beliau adalah seorang yang wara’ dan zuhud; orang yang tidak mengurusi dunia. Beliau dipenjara dan disiksa karena menentang kaum Rasionalis [Mu‘tazilah], yang doktrinnya menjadi dogma resmi raja ‘Abbasiyah pada masa itu, mengenai perdebatan apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan. Beliau tetap teguh dan sabar menghadapi penganiayaan raja ‘Abbasiyah. Melalui pengorbanan beliau, Allah (SWT) menyelamatkan umat dari ancaman yang berbahaya. Kitab beliau, Musnad Ahmad, merupakan kumpulan hadis yang menarik, di mana beliau menghimpun lebih dari 40.000 hadis. Imam Ahmad ibn Hanbal wafat pada tahun 241 H / sekitar 855 M.
Imam Ahmad ibn Hanbal is famous for his madhhab. His name was Ahmad ibn Muhammad ibn hanbal and his agnomen was Abu ‘Abd Allah. Born in Baghdad in 164/c780, he is given the title of “imam of the Ahl al-Sunna” [People of the Sunna]. He was pious and austere; one who had nothing to do with the world. He was imprisoned and tortured for challenging the Rationalists [Mu‘tazilas] [whose doctrine was the official dogma of the ‘Abbasid king at the time] on the doctrine of whether the Qur’an is a creation or not. He persevered and endured the persecutions of the ‘Abbasid king patiently. Through his sacrifices, Allah (SWTH) saved the umma from a dangerous threat. His book, Musnad Ahmad, is a fascinating collection of ahadith in which he compiled over 40,000 ahadith. Imam Ahmad ibn hanbal passed away in 241/c855.
Imam Darimī
Imam Darimī
Nama lengkapnya ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman al-Darimī, dan kunyahnya Abu Muhammad. Lahir pada tahun 181 H/sekitar 797 M di Samarqand, Imam Muslim dan Imam Nasa’i keduanya adalah murid beliau. Kitabnya, Sunan al-Darimī, merupakan salah satu kitab hadis yang paling penting. Beliau wafat pada tahun 255 H/sekitar 869 M.
He was ‘Abd Allah ibn ‘Abd al-Rahman al-Darimī and his agnomen was Abu Muhammad. Born in 181/c797 in Samarqand, Imam Muslim and Imam Nisa’ī were both his students. His book, Sunan al-Darimī, is one of the most important books of hadīth. He passed away in 255/c869.
Imam Baihaqī
Imam Baihaqī
Beliau bernama Ahmad bin Husain Baihaqī dan kunyahnya Abu Bakr. Beliau lahir pada tahun 384 H (sekitar 994 M) dan menulis banyak kitab besar, yang paling masyhur di antaranya adalah Sunan al-Baihaqī. Beliau bermazhab Syafi‘i dalam fikih. Beliau wafat pada tahun 456 H (sekitar 1064 M) di Naisabur, Iran.
He was Ahmad ibn husain Baihaqī and his agnomen was Abu Bakr. He was born in 384/c994 and authored many great books, the most acclaimed being Sunan al-Baihaqī. He followed the Shafi‘ī school of fiqh. He died in 456/c1064 in Naishabur, Iran.
Imam Ibnu al-Jauzi
Imam Ibn al-Jauzī
Nama beliau adalah ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali dan kunyah beliau adalah Abu al-Faraj, namun beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Jauzi. Beliau lahir pada tahun 517 H (sekitar 1123 M) di Baghdad. Beliau adalah seorang ahli dalam berbagai cabang ilmu-ilmu Islam dan dianugerahi kecerdasan yang tajam. Di antara karya-karyanya yang terkenal adalah kumpulan hadis-hadis palsu, meskipun beliau keras dalam menilai hadis. Imam Ibnu al-Jauzi wafat pada tahun 597 H (sekitar 1200 M).
He was ‘Abd al-Rahman ibn ‘Ali and his agnomen was Abu al- Faraj, though he became famous by the name Ibn al-Jauzī. He was born in 517/c1123 in Baghdad. He was a master in many of the different fields of Islamic sciences and was blessed with a penetrating intellect. Amongst his famous works is his collection of fabricated ahadith, though he was harsh in his judgment of the ahadith. Imam Ibn Jauzī passed away in 597/c1200.
Ibn al-Athīr al-Jazarī
Ibn al-Athīr al-Jazarī
Ia dilahirkan pada tahun 544 H/sekitar 1149 M di sebuah pulau bernama Ibn ‘Umar di tepi Sungai Tigris. Ia menulis banyak kitab dalam bidang hadis. Al-Nihaya fī Gharīb al-hadīth adalah kitab yang sangat baik dalam lima jilid, sedangkan Jami‘ al-Usul yang terkenal adalah kumpulan hadis dari Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Muwatta’ dan Nasa’i yang terdiri dari dua belas jilid. Ia sangat disukai oleh raja dan para menterinya karena kemampuannya dalam mengambil keputusan serta luasnya ilmu pengetahuannya, dan mereka sering meminta pendapatnya dalam urusan-urusan penting. Menjelang akhir hayatnya, ia menderita kelumpuhan. Raja dan para menterinya mengawasi pengobatannya, tetapi tidak ada yang membawa kesembuhan. Lalu seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, “Pengobatanku selalu berhasil; engkau boleh membayarku setelah engkau sembuh.” Ia pun mulai mengobati sang syaikh, dan sang syaikh benar-benar mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.
He was born in 544/c1149 on the island of Ibn ‘Umar along the bank of the Tigris River. He wrote many books on the subject of ahadith. Al-Nihaya fī Gharīb al-hadīth is an excellent book in five volumes while the famous, Jami‘ al-Usul is a collection of ahadith from Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Muwatta’ and Nisa’ī which consists of twelve volumes. Highly favored by the king and his ministers for his decision-making capabilities and for his vast store of knowledge, he was often consulted by them on important matters. He became paralyzed near the end of his life. The king and his ministers oversaw his treatment, but nothing helped. One man came to him and said, “My treatment always works; you can pay me after you recover.” He began treating the shaikh, who indeed began showing signs of recovery.
Ibnu al-Atsīr berkata kepada saudaranya ‘Izz al-Dīn, “Bayarlah orang ini dan lepaskan dia.”
‘Ibn al-Athīr told his brother ‘Izz al-Dīn, “Pay this man and send him off.”.
Saudaranya menjawab dengan terkejut, "Tapi pengobatannya berhasil, dan kamu sedang pulih."
His brother replied in suprise, “but his treatment is working and you are recovering.”.
Ibnu al-Atsir menjawab, "Inilah sebabnya aku tidak ingin diobati olehnya. Jika aku sembuh, aku harus mengunjungi istana raja dan para pembesarnya. Sekarang, setidaknya aku bisa duduk dan beribadah sementara mereka yang datang mengunjungiku." Setelah itu, pengobatannya terhenti dan ia wafat pada tahun 606 H/sekitar 1209 M dalam usia enam puluh dua tahun.
Ibn al-Athīr replied, “This is why I don’t want to be treated by him. If I recuperate, I will have to pay visits to the courts of the king and his subjects. Right now, I can at least sit and perform my worship while they come to visit me.” After that, his treatment was cut short and he passed away in 606/c1209 at the age of sixty-two.
Hafiz Ibnu Hajar
Hafiz ibn Hajar
Beliau bernama Ahmad bin 'Ali bin Muhammad dan kunyahnya adalah Abu al-Faḍl. Beliau dikenal sebagai Ibnu Hajar karena lahir dari suku Hajar. Beliau lahir pada tanggal 22 Sya'ban 773 H (sekitar tahun 1372 M) di Mesir, meskipun keluarganya berasal dari 'Asqalan, sebuah kota di Palestina. Sejak usia dini beliau telah yatim. Setelah menghafal Al-Qur'an, beliau belajar hadis selama sepuluh tahun kepada Zainuddin al-'Iraqi. Dalam kurun waktu yang singkat ini, beliau membangun landasan yang kokoh dalam berbagai cabang ilmu hadis.
He was Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad and his agnomen was Abu al-Faðl. He is known as Ibn hajar as he was born into the tribe of hajar. He was born on the 22nd of Sha‘ban, 773/c1372 in Egypt, though his family was originally from ‘Asqalan, a town in Palestine. Orphaned at a young age, after memorization of Qur’an, he studied ahadith with Zain al-Dīn ‘Iraqī for ten years. In this brief time, he developed a solid foundation in the different fields of ahadīth.
Kitab komentarnya atas Bukhari, Fath al-Barī, tidak perlu diperkenalkan lagi. Karyanya tentang hadis sangat diperlukan, dan karena itulah gelar hafiz melekat selamanya pada namanya. Pada akhirnya, ia dikenal di tengah umat sebagai hafiz al-hadis.
His commentary of Bukhari, Fath al-Barī, needs no introduction. His work on ahadith was indispensable and for that reason the title hafiþ became permanently fixed to his name. Eventually, he became known as hafiþ al-hadīth in the umma.
Ia adalah seorang pembaca yang rajin dan cepat. Ia pernah menamatkan Shahih Muslim dalam dua setengah hari. Suatu kali, ia menyelesaikan kitab hadis tiga jilid, al-Mu‘jam al-Saghīr, di antara waktu zhuhur dan asar. Ia bermazhab Syafi‘i. Ia wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah tahun 852 H, bertepatan dengan sekitar 1449 M, di Kairo, dalam usia tujuh puluh sembilan tahun.
He was an avid and fast reader, finishing Muslim in two and a half days. Once, he finished the three-volume hadīth book, al-Mu‘jam al-Saghīr between þuhr and asr. He was a follower of the Shafi‘ī school. He passed away on the 28 of Dhu al-hijja, 852/c1449 in Cairo at the age of seventy-nine.
Mundhirī
Mundhirī
Nama lengkapnya adalah ‘Abd al-‘Aẓīm ibn ‘Abd al-Qawīy ibn ‘Abd Allah dan kunyahnya adalah Abu Muhammad. Leluhurnya berhijrah dari Syam, tetapi ia lahir pada tahun 581 H (sekitar 1186 M) di Mesir. “Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi al-Mundhirī dalam hafalan hadis pada masanya,” tulis adz-Dzahabī.
His full name was ‘Abd al-‘Aþīm ibn ‘Abd al-Qawīyy ibn ‘Abd Allah and his agnomen was Abu Muhammad. His forefathers migrated from Syria, but he was born in 581/c1186 in Egypt. “Nobody could beat Mundhirī in memorization of ahadith in his time,” wrote Dhahabī.
Mundhirī menulis banyak kitab, di antaranya karya yang luar biasa, al-Targhīb wa al-Tarhīb. Meskipun terkenal karena ketakwaan dan keteguhan pribadinya, ia paling masyhur karena sikap zuhud-nya. Dalam kitabnya, al-Targhīb wa al-Tarhīb, ia mencurahkan satu bab penuh tentang pentingnya zuhud. Ia memberi judul bab tersebut, “al-Targhīb fi al-Zuhd fi al-Dunya wa al-Akfa’ minha bi al-Qalīl” [“Anjuran untuk Zuhud terhadap Dunia dan Merasa Cukup dengan Sedikit”].
Mundhirī wrote many books, including the outstanding work al- Targhīb wa al-Tarhīb. Though renowned for his piety and integrity, he was most famous for his abstinence. In his book, al-Targhīb wa al-Tarhīb, he devoted a whole chapter to the importance of abstinence. He titles the chapter, “al-Targhīb fi al-Zuhd fi al-Dunya wa al-Akfa’ minha bi al-Qalīl” [“Exhortation Towards Abstinence from the Material World and to be Content with Little”].
Dia menghimpun 160 hadis di bawah bab ini; tidak ada bab lain dalam kitab tersebut yang memuat hadis sebanyak itu. "Jika kami hendak menulis biografi para pendahulu [salaf], kami dapat dengan mudah menyusun beberapa jilid, namun itu bukan tujuan kitab ini. Kami menulis sebanyak ini hanya untuk mengharap berkah." Mundhirī wafat pada tahun 657 H/sekitar 1259 M di Mesir.
He compiled 160 ahadith under this chapter; no other chapter in the book contained so many ahadith. “If we were to write the biographies of the predecessors [salaf], we could easily produce a few volumes, but this is not the objective of this book. We wrote this much only for blessing.” Mundhirī passed away in 657/c1259 in Egypt.
Abu Dawud al-Tayalasī
Abu Dawud al-Tayalasī
Beliau bernama Sulaiman bin Dawud bin al-Jarud al-Tayalasi dan kunyahnya adalah Abu Dawud. Beliau lahir pada tahun 136 H/sekitar tahun 754 M. Nisbah al-Tayalasi yang disandangnya berasal dari usaha keluarganya yang menjual selendang [tailasan]. Nenek moyangnya berasal dari Persia dan pernah dijual sebagai budak di Arab, tetapi kemudian dibebaskan. Imam Abu Dawud al-Tayalasi sendiri berasal dari Basrah, Irak. Pada masa itu, Basrah dan Kufah merupakan pusat keilmuan, sehingga sejak usia dini beliau telah menguasai ilmu agama. Daya ingatnya yang tajam menjadi modal utama dalam mempelajari hadis. Sebagai murid kesayangan dari pakar hadis yang termasyhur, Syu'bah, Abu Dawud al-Tayalasi kemudian menggantikan posisi gurunya. Kitabnya, Sunan Abi Dawud al-Tayalasi, merupakan salah satu kitab hadis yang paling terkenal. Beliau mengikuti mazhab Hanafi. Beliau wafat pada tahun 203 H/sekitar tahun 819 M atau 204 H/sekitar tahun 820 M.
He was Sulaiman ibn Dawu ibn al-Jarud al-Tayalasī and his agnomen was Abu Dawud. He was born in 136/c754. His attribution al-Tayalasī comes from the family business of selling shawls [tailasan]. His forefathers descended from Persia and were sold as slaves in Arabia, but were later freed. Imam Abu Dawud al-Tayalasī himself was from Basra, Iraq. During those times, Basra and Kufa were centers of learning and so he became learned in the knowledge of din from an early age. His sharp memory was a major asset in the study of ahadith. A favorite student of the renowned hadīth master Shu‘ba, Abu Dawud al-Tayalasī later took his teacher’s place. His book, Sunan Abī Dawud al-Tayalasī, is one of the most famous books of hadīth. He was a follower of the hanafī madhhab. He passed away in 203/c819 or 204/c820.
Abu Muhammud Baghawī
Abu Muhammud Baghawī
Beliau bernama Husain bin Mas‘ud bin Muhammad al-Farra’ al-Baghawī dan kunyahnya adalah Abu Muhammad. Beliau lahir pada tahun 433 H / sekitar 1041 M. Orang-orang mengenalnya dengan julukan Muhiyy al-Sunna [Sang Penghidup Sunnah]. Beliau menulis banyak kitab, yang paling terkenal di antaranya adalah Sharh al-Sunna. Ketika menulis Sharh al-Sunna, Nabi yang diberkahi ﷺ muncul dalam mimpinya dan bersabda, “Semoga Allah (SWT) memanjangkan umurmu sebagaimana engkau telah menghidupkan sunnahku.” Kitab terkenal beliau yang lain adalah Masabīh al-Sunna, yang merupakan teks utama dari Mishkat al-Masabīh. Tafsir beliau atas Al-Qur’an, Ma‘alim al-Tanzīl, ditulis dengan sangat indah. Beliau bermazhab Syafi‘i. Beliau wafat pada tahun 516 H / sekitar 1122 M.
He was Husain ibn Mas‘ud ibn Muhammad al-Farra’ al-Baghawī and his agnomen was Abu Muhammad. He was born in 433/ c1041. People knew him as Muhiyy al-Sunna [Reviver of the Sunnas]. He wrote many books, the most well-known of them, Sharh al-Sunna. When he wrote Sharh al-Sunna, the Blessed Prophet (PBUH) appeared in his dream and said, “May Allah (SWTH) keep you alive the way you revived my Sunna.” His other famous book is Masabīh al-Sunna, which is the main text of Mishkat al-Masabīh. His exegesis of the Qur’an, Ma‘alim al-Tanzīl is beautifully written. He was a follower of the Shafi‘ī madhhab. He passed away in 516/c1122.
Jalal al-Dīn Suyutī
Jalal al-Dīn Suyutī
Dia bernama ‘Abd al-Rahman bin al-Kamal Abī Bakr dan kunyahnya adalah Abu al-Fadl. Ia lahir pada tahun 849 H/sekitar 1445 M; ibunya wafat saat melahirkannya. Ia menguasai berbagai disiplin dan bidang ilmu, dan menulis lebih dari enam ratus kitab. Ia mengikuti mazhab Syafi‘i. Jalal al-Din al-Suyuti wafat pada tahun 911 H/sekitar 1505 M di Mesir.
He was ‘Abd al-Rahman ibn al-Kamal Abī Bakr and his agnomen was Abu al-Fadl. He was born in 849/c1445; his mother died during childbirth. Learned in various disciplines and fields, he authored over six hundred books. He followed the Shafi‘ī madhhab. Jalal al-Dīn Suyutī passed away in 911/c1505 in Egypt.
Mulla ‘Ali Qarī
Mulla ‘Ali Qarī
Nama beliau adalah ‘Ali ibn Sultan Muhammad al-Qarī dan kunyahnya Abu al-Hasan. Beliau lahir di Herat, sebuah kota di utara Afghanistan. Ketika Sultan Isma’īl Safawī [seorang fanatik Syi’ah] menyerbu Herat dan membunuh kaum Muslimin tanpa belas kasihan, Mulla ‘Ali Qarī hijrah ke Makkah dan menetap di sana. Beliau mula-mula mempelajari tajwīd Al-Qur’an dan dengan cepat menguasai ilmu tersebut hingga menjadi ahli dalam qira’ah Al-Qur’an. Tidak lama kemudian, beliau mulai mempelajari ilmu hadits. Beliau menulis banyak kitab, di antaranya Mirqāt al-Mafātīh, sebuah syarah yang brilian atas kitab hadits al-Mishkāt al-Mashābīh, dan dikenal sebagai syarah hadits terbaik. Banyak ulama mengakui beliau sebagai mujaddid abad ke-10. Beliau bermazhab Hanafi. Mulla ‘Ali Qarī wafat di Makkah pada bulan Syawal 1114 H / sekitar 1702 M, dan dimakamkan di pemakaman utama Makkah, Jannat al-Mu‘allā.
He was ‘Ali ibn Sultan Muhammad al-Qarī and his agnomen was Abu al-Hasan. He was born in Herat, a northern city of Afghanistan. When Sultan Isma’īl Safawī [a fanatic shiite] sacked Herat and killed the Muslims mercilessly, Mulla ‘Ali Qarī migrated to Makka and settled there. He first learned pronunciation [tajwīd] of Qur’an and quickly mastered the discipline until he became an expert in recitation of Qur’an. Soon after, he began studying the science of ahadith. He wrote many books, including Mirqat al- Mafatīh, a brilliant commentary of the hadīth book al-Mishkat al- Masabīh, and reputed to be the best commentary of hadīth. Many scholars acknowledge him as the revivalist [mujaddid] of the 10th century. He was a follower of the Hanafī madhhab. Mulla ‘Ali Qarī died in Makka in Shawwal 1114/c1702, and was buried in the main cemetery of Makka, Jannat al-Mu‘alla.
Abu Ja‘far Tahawī
Abu Ja‘far Tahawī
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Salamah al-Thahawi, dan kunyahnya adalah Abu Ja'far. Nama Thahawi berasal dari Thaha, sebuah desa kecil di pinggiran Kairo. Ia lahir pada tahun 229 H / sekitar 843 M. Dua di antara kitabnya yang paling terkenal adalah Syarh Ma'ani al-Atsar dan Musykil al-Atsar. Menurut Ibnu Hazm, kedua kitab ini lebih shahih daripada Muwatta' Imam Malik. Imam Thahawi mengikuti mazhab Hanafi. Ia wafat pada tahun 321 H / sekitar 933 M.
His full name was Ahmad ibn Muhammad ibn Salama al-Tahawī and his agnomen was Abu Ja‘far. The name Tahawī comes from Taha, a small village on the outskirts of Cairo. He was born in 229/ c843. Two of his most renowned books are Sharh Ma‘anī al-ôthar and Mushkil al-ôthar. According to Ibn Hazm, these two books are more authentic than the Muwatta’ of Imam Malik. Imam Tahawī followed the Hanafī madhhab. He passed away in 321/c933.
Imam Nawawī
Imam Nawawī
Dia adalah Yahya bin Syaraf al-Nawawi. Ia lahir pada bulan Muharram tahun 631 H, sekitar tahun 1233 M, di Nawa, sebuah kota kecil dekat Damaskus. Sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda zuhud dan tidak tertarik pada permainan dan main-main, lebih memilih menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Qur'an. Syaikh Yasin berkata tentang dirinya, "Aku melihatnya ketika ia berusia sepuluh tahun. Beberapa anak mengajaknya untuk datang dan bermain bersama mereka, tetapi ia lari dari mereka dan menangis karena ingin membaca Al-Qur'an." Kemudian Syaikh Yasin menjadi pembimbing rohaninya [murshid].
He was Yahya ibn Sharaf al-Nawawī. He was born in Muharram, 631/c1233 in Nawa, a small town near Damascus. He showed signs of abstinence early on in life and had little interest in play and games, preferring to spend his time reciting Qur’an. Shaikh Yasīn said of him, “I saw him when he was ten. Some children urged him to come and play with them, but he ran from them and cried because he wanted to recite the Qur’an.” Shaikh Yasīn later became his spiritual mentor [murshid].
Ayah Imam Nawawi mendudukkannya di tokonya, tetapi Imam Nawawi menghabiskan seluruh waktunya di sana untuk membaca Al-Qur'an. Ia hanya makan sekali di siang hari dan sekali di malam hari, dan sebagian besar malamnya ia habiskan untuk beribadah. Banyak dari kitabnya langsung mendapat sambutan luas dan terbukti menjadi aset yang tak tergantikan bagi umat. Kitab terkenalnya, Riyadh al-Salihin, dipuji karena pemilihan hadis-hadisnya yang penuh inspirasi, dan hingga kini termasuk salah satu kitab hadis yang paling banyak dibaca. Dua kitab lainnya, Sharh al-Muhadhdhab dan Sharh al-Muslim, juga disambut baik oleh umat. Sebagai pengikut mazhab Syafi'i, Imam Nawawi wafat pada tahun 676 H, sekitar tahun 1277 M.
Imam Nawawī’s father sat him in his shop, but Imam Nawawī occupied all his time there reciting Qur’an. He ate only once during the day and once at night, and spent most of his nights in worship. Many of his books were instant successes and proved to be indispensable assets for the umma. His famous book Riyadh al-Salihīn was acclaimed for its inspired selection of ahadith, and is one of the most widely read books of hadīth to this day. Two other books, Sharh al-Muhdhdhab and Sharh al-Muslim also were hailed by the umma. A follower of the Shafi‘ī madhhab, Imam Nawawī passed away in 676/c1277.
Abdullah ibn Mubarak
Abd Allah ibn Mubarak
Nama panggilannya (kunyah) adalah Abu ‘Abd al-Rahman, dan ia lahir pada tahun 118 H / 736 M. Kedua orang tuanya adalah budak dari Turkmenistan yang kemudian dimerdekakan. Ia kaya dan hidup dengan bermewah-mewahan, hingga Allah (SWT) menganugerahinya hidayah. Ketika ia mulai menekuni agama, ia menjadi “pemimpin orang-orang beriman” (amīr al-mu’minīn) dalam bidang hadis. Guru Imam Bukhari, Ibnu Mahdi, pernah berkata, “Jika Ibnu Mubarak tidak mengetahui suatu hadis, maka kami pun tidak mengetahuinya.” Ucapan ini menunjukkan bahwa Ibnu Mubarak telah menghafal seluruh hadis dan karena itu termasuk dalam golongan para hafiz hadis. Orang-orang yang sudah lanjut usia dan orang-orang saleh berkumpul di rumahnya dan memperoleh keberkahan serta manfaat dari ceramah-ceramahnya.
His agnomen was Abu ‘Abd al-Rahman and he was born in 118/ c736. His parents were slaves from Turkmenistan who were later freed. He was rich and lived extravagantly, until Allah (PBUH) blessed him with guidance. When he came towards din, he became the “leader of the believers” [amīr al-mu’minīn] of hadīth. Imam Bukhari’s teacher Ibn Mahdī once said, “If Ibn Mubarak doesn’t know a hadīth, we don’t know it either.” This implies that Ibn Mubarak had memorized all the ahadith and is thus ranked amongst the hafiþ of hadīth. The elderly and pious gathered at his house and derived blessings and benefit from his talks.
Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, "Aku berharap satu tahun dari umurku bisa seperti (umur) 'Abdullah bin Al-Mubarak. Aku berusaha untuk menjadi seperti dia, tetapi aku tidak bisa melampaui tiga hari." Suatu ketika, Khalifah Harun Ar-Rasyid sedang menetap di Ar-Raqqah, dan 'Abdullah bin Al-Mubarak kebetulan juga berada di sana. Orang-orang memenuhi jalan-jalan untuk melihat 'Abdullah bin Al-Mubarak. Salah seorang budak wanita milik Khalifah lewat di balkon istana.
Sufyan Thaurī once said, “I wish that one year of my life could be like ‘Abd Allah ibn Mubarak’s. I strive to be like him, but I cannot go beyond three days.” Once, the king Harun al-Rashīd was staying at al-Riqa and ‘Abd Allah ibn Mubarak happened to be there also. Crowds of people filled the streets to see ‘Abd Allah ibn Mubarak. One of the King’s slave girls came by the balcony of the palace.
"Apa yang sedang terjadi?" tanyanya.
“What is going on?” She asked.
"Abd Allah ibn Mubarak ada di sini," adalah jawabannya.
“Abd Allah ibn Mubarak is here,” was the reply.
Dia berkata, "Inilah kerajaan yang sesungguhnya; Harun al-Rashīd harus berarak melewati jalan-jalan agar memenuhinya dengan kerumunan sebanyak ini."
She said, “This is the real kingship; Harun al-Rashīd must parade through the streets to fill it with such crowds.
Wakī‘ ibn al-Jarrah
Wakī‘ ibn al-Jarrah
Kunyah-nya adalah Abu Sufyan dan ia lahir pada tahun 129 H/sekitar 746 M. Ia adalah guru, atau guru dari para guru, dari seluruh penulis al-Sihah al-Sitta. Sebagai seorang ahli hadis dan fakih yang masyhur, ia juga terkenal karena kesalehan dan ketakwaannya, membaca satu Al-Qur'an penuh setiap malam. Imam Ahmad ibn Hanbal berbangga menjadi muridnya. Setiap kali ia meriwayatkan hadis darinya [Wakī‘ ibn al-Jarrah], ia berkata, "Aku meriwayatkan hadis ini dari orang seperti yang belum pernah kalian lihat seumur hidup kalian." Ia adalah pengikut setia madzhab Hanafi dan menjalani hidupnya sesuai dengan fatwa Imam Abu Hanifah. Ia wafat pada tahun 198 H/sekitar 813 M.
His agnomen was Abu Sufyan and he was born in 129/c746. He was the teacher or teachers’ teacher of all the authors of the al-Sihah al-Sitta. A renowned hadīth master and jurist, he was also famous for his piety and taqwa, reciting one whole Qur’an every night. Imam Ahmad ibn Hanbal prided himself on being his student. If he ever narrated a hadīth from him [Wakī‘ ibn al- Jarrah] he would say, “I am narrating this hadīth from the likes of a person you have never seen in your lives.” He was a ardent follower of the Hanafī madhhab and lived his life by the rulings of Imam Abu Hanīfa. He died in 198/c813.
Yahya ibn Sa‘īd l-Qattan
Yahya ibn Sa‘īd l-Qattan
Kunyah-nya adalah Abu Sa‘īd. Ia adalah seorang ahli di bidang biografi para perawi hadis. Ia adalah guru Imam Ahmad dan ‘Ali ibn Madīnī. Ia membaca satu Al-Qur’an setiap malam selama dua puluh tahun dan tidak pernah tertinggal salat berjamaah. Riwayat-riwayatnya terdapat dalam keenam kitab hadis. Adz-Dzahabī mengatakan bahwa Yahya ibn Sa‘īd adalah orang pertama yang menulis di bidang biografi para perawi hadis. Dalam bidang fikih, ia termasuk pengikut Imam Abu Hanīfah. Ia wafat pada tahun 198 H, sekitar 813 M, di Basrah.
His agnomen was Abu Sa‘īd. He was an expert in the field of the biography of the narrators of hadīth. He was the teacher of Imam Ahmad and ‘Ali ibn Madīnī. He recited one Qur’an every night for twenty years and never missed the congregational salat. His narrations are found in all the six books of hadīth. Dhahabī said that Yahya ibn Sa‘īd was the first to write on the field of biography of the narrators of hadīth. In fiqh, he was a follower of Imam Abu Hanīfa. He died in 198/c813 in Basra.
Mahmud ibn Ahmad al-‘Ainī
Mahmud ibn Ahmad al-‘Ainī
Beliau adalah Mahmud bin Ahmad bin Musa al-‘Ainī, dan kunyahnya adalah Abu Muhammad. Beliau lahir pada tanggal 17 Ramadhan 762 H/sekitar 1361 M di sebuah tempat bernama ‘Ain Tab, yang berdekatan dengan Halb [Aleppo, Suriah]. Beliau bermazhab Hanafi dan seorang ulama fikih, hadits, dan sejarah. Meskipun menulis banyak kitab, beliau paling dikenal dengan syarahnya terhadap Bukhari, ‘Umdat al-Qari. Kitab ini sangat dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tanggal 4 Dzulhijjah 855 H/sekitar 1451 M dalam usia sembilan puluh tiga tahun.
He was Mahmud ibn Ahmad ibn Musa al-‘Ainī, and his agnomen was Abu Muhammad. He was born on the 17 of Ramadan, 762/c1361 at a place called ‘Ain Tab, which is close to Halb [Aleppo, Syria]. A follower of the Hanafī madhhab, he was a scholar of fiqh, hadīth and history. Though he wrote many books, he is best known for his commentary of Bukhari, ‘Umdat al-Qarī. This book is highly commended by the scholars. He died on the 4th of Dhu al-Hijja, 855/c1451 at the age of ninety three.
Ibn Abī Shaiba
Ibn Abī Shaiba
Dia bernama ‘Abd Allah ibn Muhammad ibn Ibrahīm, dan kunyahnya adalah Abu Bakr. Ia adalah guru Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan banyak ahli hadis terkemuka lainnya; riwayat-riwayatnya dapat ditemukan dalam seluruh kitab mereka. Karya paling terkenalnya adalah al-Musannaf, yang memiliki banyak keistimewaan. Kitab ini menghimpun hadis-hadis tentang setiap hukum syariat dan memuat seluruh riwayat para sahabat. Mengenai daya ingat Ibn Abi Syaibah yang luar biasa, Imam Abu Zur‘ah al-Razi pernah berkata, “Aku belum pernah melihat seorang hafiz hadis yang setara dengannya.” Ibn Abi Syaibah wafat pada tahun 235 H, sekitar tahun 850 M.
He was ‘Abd Allah ibn Muhammad ibn Ibrahīm, and his agnomen was Abu Bakr. He was the teacher of Imam Bukharī, Muslim, Abu Dawud and many other accomplished ahadīth masters; his narrations can be found in all of their books. His most notable piece of work is the al-Musannaf, which is distinctive in many ways. It compiles ahadith on every Shari‘a ruling and incorporates all the narrations of the Sahaba. Speaking on Ibn Abī Shaiba’s extraordinary memory, Imam Abu Zur‘a al-Razī once said, “I have not seen a hafiz of hadīth who equals him.” Ibn Abī Shaiba died in 235/c850.