Haqā'iq (kebenaran) dan Abāṭīl (kebatilan):
Haqaa’iq (truths) and Abaateel (Falsehoods):
Para tiran dan para pendukung mereka merasa takut jika Ummah dibimbing ke jalan yang benar menuju perubahan dan kebangkitan. Hal ini merupakan peringatan bagi mereka akan berakhirnya kebatilan, penindasan, dan tipu daya mereka. Oleh karena itu, menangani dan mengakhiri orang-orang yang menyeru kepada Al-Haqq merupakan urusan yang sangat penting bagi mereka. Maka setelah mereka menghancurkan Negara Islam, mengoyak-ngoyak negeri-negeri dan menggantinya dengan banyak negara-negara kecil, serta menempatkan agen-agen setia mereka pada posisi-posisi kekuasaan di dalamnya. Setelah itu, mereka melakukan tindakan-tindakan politik yang di dalamnya mereka mengangkat agen-agen mereka dengan menampilkannya sebagai pahlawan dan para pemimpin pembebasan serta kebangkitan, sementara mereka dengan keras menekan setiap aksi dan gerakan yang tulus.
The tyrants and their supporters are frightened of the Ummah being guided to the correct path towards change and revival. This represents a warning to them in respect to the end of their falsehood, oppression and deception. As such it is their vital issue to deal with and put an end to those who are inviting to the Haqq. Therefore after they destroyed the Islamic State, tore up the lands and replaced them with many small statelets and placed their loyal agents in the positions of authority within them. After that they undertook political actions in which they promoted their agents presenting them as heroes and the leaders of liberation and revival whilst vehemently suppressing every action and movement which was sincere.
Agen-agen dan abdi-abdi setia itu bekerja bersama tuan-tuan mereka untuk semakin menyesatkan dan menipu Ummat dengan tujuan menghabisi Islam. Karena itu, banyak partai sekuler dan komunis bermunculan, sementara Da'wah Islam dicegah dan dilarang, kecuali bentuk-bentuk yang bertujuan menjauhkan orang dari pekerjaan yang tulus dan benar, yang melayani tujuan penipuan dan semakin menyesatkan masyarakat. Kekufuran kemudian disajikan dengan nama Islam, pemikiran Islam yang berkaitan dengan pemerintahan dan politik dihilangkan, sedangkan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan metode dimusnahkan, sampai-sampai Islam menjadi sesuatu yang asing di tengah umatnya sendiri.
Those agents and loyal servants worked alongside their masters to increasingly mislead and deceive the Ummah with the objective of finishing of Islaam. As such many secular and communist parties arose whilst the Islaamic Da’wah was prevented and forbidden apart from the forms that aimed at distancing people from the sincere and correct work which served the aims of deception and further mislead the people. Kufr was then presented with the name of Islaam, the thoughts of Islaam related to ruling and politics were made absent whilst the Islamic rulings related to the method were wiped out to the point that Islaam became something strange amongst its own people.
Umat Islam terpecah menjadi negara-negara yang saling membenci dan menaruh dendam satu sama lain. Loyalitas kebangsaan dan kepatriotan pun menampakkan diri dan bermunculan. Setiap negara atau negara bagian memiliki sistem atau persoalan yang bertentangan dan berbeda dengan yang lain. Perselisihan dan sengketa tersebut terus dihasut, sementara Negara Yahudi ditanamkan bagaikan belati di jantung umat.
The Islamic Ummah became States with mutual hatred and resentment between each other. The nationalistic and patriotic allegiances manifested and arose, every State or Statelet had a System or issue which was contrary and different from the other, the issues of difference and dispute were incited whilst the Jewish State was planted as a dagger in the very heart of the Ummah.
Karena Islam adalah akidah dan syariat yang seluruh umat yakini, orang-orang kafir dan antek-antek mereka berupaya menyesatkan umat dalam banyak pemikiran dan pandangannya. Di antaranya adalah anggapan bahwa Islam tidak memiliki peran dalam politik, bahwa persatuan umat adalah perkara yang tidak praktis dan bahkan mustahil, serta bahwa pendirian Khilafah juga merupakan perkara yang sama sekali tidak mungkin.
Because Islaam is an Aqeedah and Sharee’ah which the Ummah in its entirety believes in, the disbeliever and his agents attempt to mislead the Ummah in many of her thoughts and opinions. These included the thought that Islaam has no say in politics, that the unity of the Ummah is an impractical matter and indeed impossible, and that the establishment of the Khilafah was also a matter that was beyond all possibility.
Reference: Taghyeer (perubahan) - Mahmoud Abdul-Kareem Hasan