Pemikulan amanah itu tidak terputus atau terhenti.
The carrying of the Amaanah is not cut off or interrupted
Bangsa-bangsa dan umat-umat setelah wafatnya para Nabi mereka mulai mengikuti jejak Syaithan, mereka mengubah agama, memutarbalikkan Risalah (pesan) dan melepaskan Amanah mereka. Maka mereka pun tersesat, menyembah selain Allah, dan tidak tersisa jalan bagi mereka untuk mendapat petunjuk, keselamatan, dan memikul Amanah (kepercayaan) kecuali bila diutus seorang Nabi baru dengan risalah baru dari Allah. Lalu apa jalan yang tersisa terbuka bagi umat Nabi Muhammad ﷺ jika Amanah telah hilang dan Sunan (jalan) orang-orang sebelum mereka telah diikuti dalam hal tersesat dan mengikuti kesesatan? Padahal hal ini terjadi setelah diketahui dengan pasti bahwa tidak akan ada risalah baru setelah risalah ini dan tidak ada Nabi baru setelah Nabi ﷺ ini?
Nations and people after the passing of their Prophets begin to follow the footsteps of Shaytaan, they change the Deen, distort the Risaalah (message) and let go of their Amaanah. They therefore go astray and worship other than Allah and no way is left for them for guidance, being saved and to carry the Amaanah (trust) unless a new Nabi is sent with a new message from Allah. So what is the path left open to the Ummah of the Nabi Muhammad (saw) if the Amaanah has been lost and the Sunan (ways) of those who came before them have been followed in terms of being led astray and following misguidance? And this is after knowing for certain that there will be no new message after this message and no new Prophet after this Prophet (saw)?
Benteng yang tidak pernah lenyap dalam hal menjaga umat ini dan risalahnya, serta dalam hal memikul amanah, adalah pertolongan Allah dan jaminan-Nya bahwa risalah ini tidak akan hilang dan tidak akan pernah dilupakan, betapapun jauhnya kaum Muslimin dari risalah itu dan apa pun upaya orang-orang yang ingin memutarbalikkannya.
The fortress that does not disappear in respect to safeguarding this Ummah and her message, and her carrying of the Amaanah, is the help of Allah and His guarantee that this message will not be lost and will never be forgotten irrespective of how much the Muslims have gone away from it and regardless of the efforts of those who wish to distort it.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya (Al-Hijr 9).
Verily We have revealed the Dhikr (Qur’aan) and verily We will safeguard it (Al-Hijr 9).
Dengan demikian, Risaalah (pesan) akan tetap ada dan terus berlanjut, dan jalan menuju Iman dan petunjuk tidak akan pernah lenyap atau padam. Risaalah itu akan tetap menjadi cahaya yang menghalau segala kegelapan, dan jalannya akan tetap terang hingga Hari Kiamat.
As such the Risaalah (message) will remain and continue to go and the path to Imaan and guidance will never disappear or be extinguished. The message will remain a light that scatters all darkness and the path will remain clear until the Day of Judgement.
Dalam kasus di mana risalah ini akan terus dipertahankan dan dijaga hingga Hari Kiamat, maka siapakah yang akan memikulnya jika manusia lalai atau mengingkarinya? Berkenaan dengan umat-umat terdahulu, jika mereka tersesat, Allah (SWT) akan mengutus seorang Rasul dan sebuah risalah kepada mereka, lalu siapakah yang akan membawa risalah Islam jika manusia tersesat dan tidak ada Rasul?
In the case where the message will continue, be preserved and safeguarded until the Day of Judgement, then who will carry it if the people neglect to or deny it? In regards to the previous nations, if they were to go astray, Allah (swt) would send a Messenger and a message to them, so who will carry the message of Islaam if the people were to go astray and if there was no Messenger?
Sebagaimana Allah (swt) telah menjamin terjaganya risalah ini dari kehilangan atau penyimpangan, Dia (swt) dengan rahmat-Nya juga menjamin bahwa Ummat ini tidak akan tersesat dan seluruhnya tidak akan meninggalkan pengembanan Da'wah, betapa pun banyaknya orang-orang yang sesat atau yang mengubah dan mengingkari. Maka sebagaimana Risalah secara keseluruhan terlindungi dan terjaga, akan tetap ada di dalam Ummat ini orang-orang yang akan mengembannya secara utuh.
The answer to this is: Just as Allah (swt) has guaranteed the protection of this message from being lost or distorted He (swt) by His mercy has also guaranteed that the Ummah will not go astray and that all of it will not relinquish the carrying of the Da’wah regardless of the great number of those who are misguided or those who distort and deny. So just as the Risaalah as a whole is protected and safeguarded there will remain within the Ummah those who will carry it in its entirety.
Rasulullah ﷺ bersabda:
The Messenger (saw) said:
Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tegak di atas perintah Allah. Orang-orang yang menyelisihi mereka (tidak menolong mereka) ﷺ
There will always remain a group from my Ummah upholding the command of Allah. Those who betray them (let them down)
atau menentang mereka tidak akan membahayakan mereka hingga datang perintah Allah dan mereka tetap menang atas manusia.
or oppose them will not harm them until the command of Allah comes and they will be victorious over the people.
(Disepakati) dan ini adalah lafaz (redaksi) riwayat Muslim.
(Agreed upon and this is the Lafzh (worded version) of Muslim.
Jadi, seberapa pun Ummat menyimpang dari Islam, seberapa pun ia tersesat atau mengikuti langkah-langkah Syaitan, dan seberapa pun ia terseret ke dalam kegelapan, akan selalu ada di dalam Ummat sebuah Thā'ifah (kelompok) yang berpegang teguh pada Kitāb dan Sunnah, yang diterangi oleh keduanya dan oleh petunjuk para Anbiyā' (nabi-nabi). Mereka akan melaksanakan tugas mereka yang Allah (swt)
So however much the Ummah strays away from Islaam, however misguided she becomes or follows the steps of Shaytaan, and however much she is pulled into darkness, there will always remain in the Ummah a Taa’ifah (group) that holds fast to the Kitaab and the Sunnah, being illuminated by them and by the guidance of the Anibyaa’ (prophets). They will undertake their work that Allah (swt)
…telah mewariskannya kepada mereka, dan mereka akan memikul warisan para Nabi, sebagai thaifah (golongan) yang kepadanya Allah telah membebankan tanggung jawab untuk menjaga Amanah dan memikulnya. Amanah ini adalah perkara Laa Ilaaha Illallah; mereka akan memegangnya dan memikulnya hingga Allah (SWT) mendatangkan perintah-Nya dan menyempurnakan urusan-Nya.
has passed on to them and they will carry the inheritance of the Anbiyaa’ as the Taa’ifah which Allah has passed on the responsibility of safeguarding its Amaanah (trust) and carrying it. This trust (Amaanah) is the issue of Laa Ilaaha Illallah and they will adopt it and carry it until Allah (swt) brings about His command and accomplishes His affair.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Allah telah menetapkan: "Sesungguhnya Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang." Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa (Al-Mujaadilah 21).
Allah has decreed: "Verily! It is I and My Messengers who shall be the victorious." Verily, Allah is All-Powerful, All-Mighty (Al-Mujaadilah 21).
Dan Dia (swt) berfirman:
And he (swt) said:
Sesungguhnya Kami benar-benar akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari ketika para saksi berdiri (yaitu hari Kiamat) (Ghafir: 51).
Verily, We will indeed make victorious Our Messengers and those who believe in this world's life and on the Day when the witnesses will stand forth (i.e. Day of Resurrection) (Ghaafir 51).
Dengan cara ini, umat Islam, umat kaum Muslimin, betapapun banyak mereka membangkang atau tersesat, karena adanya golongan (ṭā'ifah) yang menjalankan tugas para nabi, tetap akan mewakili Khairu Ummah (umat terbaik) yang dibangkitkan untuk seluruh manusia. Hal ini karena ia adalah umat yang memerintahkan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Umat ini akan tetap memikul tanggung jawab yang telah Allah (SWT) amanahkan kepadanya dan menunaikan tanggung jawabnya atas nama umat manusia.
In this the way the Islamic Ummah, the Ummah of the Muslims, regardless of how much she disobeys or is led astray, will due to the existence of the Taa’ifah (group) that undertakes the work of the Anbiyaa’, represent the Khaira (best) Ummah raised up for mankind. This is because she is an Ummah that orders the Ma’rouf, forbids the Munkar and believes in Allah. The Ummah will remain charged with the responsibility that Allah (swt) has entrusted her with and to perform her responsibility on behalf of humankind.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang Ma'ruf dan mencegah dari yang Munkar, serta beriman kepada Allah. (Ali 'Imran: 110)
You are the best Ummah raised up for mankind; you enjoin Al-Ma'rouf and forbid Al-Munkar and you believe in Allah (Aali ‘Imraan 110).
Dan Dia (SWT) juga berfirman:
And He (swt) also said:
Dan demikianlah Kami menjadikan kalian umat yang adil/terbaik agar kalian menjadi saksi atas seluruh manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian. (Al-Baqarah 143).
And thus we have made you a just/best Ummah so that you will be witnesses over mankind and the Messenger will be a witness over you (Al-Baqarah 143).
Setiap mukallaf (orang yang dibebani hukum syariat) wajib berjuang dan bersungguh-sungguh untuk memahami amanah ini agar ia dapat memikulnya dan menempuh jalannya yang jelas. Ia berusaha menjadi bagian dari Ṭā'ifah (golongan) ini dengan keimanan, amal, dan perjuangannya bersama mereka, demi tegaknya hukum Allah Ta'ala di muka bumi.
It is a duty upon every Mukallaf (legally responsible person) to strive and exert himself to understand this Amaanah so that he can carry it and proceed upon its clear path. He would strive to be a part of this Taa’ifah (group) with his Imaan, actions and striving along with it in order to establish the rule of Allah Ta’Aalaa upon the earth.
Reference: Taghyeer (perubahan) - Mahmoud Abdul-Kareem Hasan