Pengantar Edisi Kedua
Introduction to the Second Edition
Pada awalnya, pokok-pokok bahasan dalam buku kecil ini adalah hal-hal yang telah dikaji dan dibahas oleh sebagian pengemban Da'wah yang berupaya menegakkan kekuasaan Allah di muka bumi. Kondisi dan keadaan Ummat dibahas, begitu pula kemunduran dan kemandekan yang telah mencengkeramnya. Pembahasan tersebut juga mencakup penanganan atas apa yang dideritanya dalam jalan menuju kebangkitan dan kebangunannya, apa yang telah dicapai di jalan menegakkan Negara Islam, serta apa yang masih harus dicapai untuk mewujudkan Negara tersebut, agar ia menerapkan Islam dan menyebarkan Da'wahnya ke seluruh dunia. Berdasarkan hal itu, dibahas pula persoalan apa yang harus ditangani di tengah Ummat, dan apa yang perlu diserukan kepadanya serta disadarkan olehnya.
In origin the subjects of this small book were subjects that had been looked into and discussed by some of the carriers of the Da’wah working to establish the rule of Allah upon the earth. The condition and state of the Ummah was discussed and the decline and stagnation that had taken grip of her. The discussions also included addressing what she suffers from in the path towards her awakening and revival, what has already been accomplished upon the path of establishing the Islamic State, in addition to that which must still be accomplished to bring the State into existence, so that it will apply Islaam and carry its Da’wah to the world. Built upon this, the issue of what had to be addressed with the Ummah, what she needed to be called to and made aware of was also discussed.
Negara Islam adalah entitas politik dengan tujuan menerapkan Islam dan menyebarkannya ke seluruh dunia, dan hal ini membutuhkan kemampuan dan kekuatan yang bersifat syar'iyah. Syariat telah memberikan kekuasaan ini kepada Ummah, sedangkan kemampuan dan kekuatan tersebut tidak dimiliki oleh satu kelompok, satu faksi, atau satu partai politik saja. Sebaliknya, Negara Islam didirikan oleh Ummah dengan kepemimpinan faksi atau Hizb (partai politik) ini, yang telah menghidupkan kembali keimanan Ummah terhadap kewajiban besar ini, di samping membangkitkan kembali keimanannya dalam kaitannya dengan perjuangannya serta pengorbanan di jalannya.
The Islamic State is a political entity for the purpose of implementing Islaam and carrying it to the world and this requires a Shar’iyah capability and power. The Shar’a has given this power to the Ummah whilst this capability and power is not possessed by a group, single faction or single political party by itself. Rather the Islamic State is established by the Ummah with the leadership of this faction or Hizb (political party) which has brought the Imaan of the Ummah back to life within her in respect to this great obligation in addition to reawakening her Imaan in relation to its work and sacrificing upon its path.
Maka Negara Islam adalah sebuah entitas yang lahir dari rahim entitas Ummah, agar menerapkan bersama Ummah dan atasnya Sistem Islam, serta membawa Islam olehnya dan bersamanya kepada seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Ummahlah yang melahirkan Negara Islam.
So the Islamic State is an entity that emanates from the womb of the Ummah’s entity so as to implement with the Ummah and upon her the System of Islaam and to carry Islaam by her and along with her to the whole of mankind. Therefore it is the Ummah that gives birth to the Islamic State.
Entitas Ummah tidak akan menjadi sempurna atau terbedakan kecuali dengan apa yang menjadikan Ummah sebagai Ummah dan dengan hidup di atas landasannya. Ummah Islam kita tidak akan seperti itu tanpa Dien-nya diadopsi sebagai akidah dan sistem. Ummah tidak akan memiliki produktivitas atau kehadiran praktis yang efektif kecuali jika ia ada sebagai satu Jama'ah yang bersatu di bawah kepemimpinan seorang Amir. Oleh karena itu, Ummah tidak akan sempurna dan tidak akan terbedakan secara benar-benar khas tanpa munculnya entitas Negara-nya, dan kecuali jika ia membaiat Khalifah-nya untuk berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah (SWT).
The entity of the Ummah will not be completed or distinguished except by that which makes the Ummah an Ummah and by its living upon its basis. Our Islamic Ummah will not be like that without its Deen being adopted as an Aqeedah and System. It will not have its productiveness or a practical effective presence unless it exists as a single unified Jamaa’ah (group) under the leadership of a single Ameer. Therefore the Ummah will not be completed and will not be distinguished in a completely distinct way without the emergence of its State entity and unless it pledges allegiance to its Khalifah upon the ruling by what Allah (swt) has revealed.
Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk kebangkitan Ummat selain dengan mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasoolullah dan berpegang teguh pada makna tersebut. Dengan demikian, ia akan mengetahui makna keberadaannya dalam kehidupan ini dan tujuan dari keberadaan itu. Karena itu, ia akan berjuang untuk mewujudkan makna keberadaan dan tujuan tersebut.
Therefore, there is no way forward for the revival of the Ummah other than her knowing the meaning of Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasoolullah and for her to firmly commit to this meaning. She will then know the meaning of her existence in this life and the purpose of this existence. As such she will strive to realise the meaning of this existence and this purpose.
Selain itu, pengetahuan ini saja tidak cukup, dan bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan ini tidak serta-merta membebaskan tanggung jawab, kecuali jika dilakukan sampai pada tingkat yang dituntut oleh Syariat. Oleh karena itu, setelah menetapkan tujuan, sangat penting untuk berupaya mencapainya dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada tujuan tersebut. Hal ini harus sesuai dengan Sunnatullah (sunan) yang atas dasarnya Allah (SWT) menciptakan makhluk ini, yang mencakup menghubungkan antara sebab dan akibat, dengan memperhatikan karakteristik segala sesuatu dan kondisi hubungan-hubungan yang ada.
In addition, this knowledge by itself is not enough and striving to accomplish this purpose does not free the responsibility, unless it was undertaken upon the level that the Shar’a has demanded. As such it is essential after defining the objective to strive to accomplish it by undertaking actions that lead to that. This must be in accordance to the Sunan upon which Allah (swt) has created this creation which includes connecting between the causes and the effects, considering the characteristics of matters and the conditions of relationships.
Seorang saudara yang mulia mengusulkan agar pemikiran-pemikiran ini dituangkan dalam tulisan, lalu dibagikan kepada masyarakat, dan ia bersedia membiayainya dengan harapan memperoleh pahala dan ganjaran. Maka terlaksanalah hal itu, dan buku kecil yang memuat empat pokok bahasan ini pun diterbitkan, Al-Hamdu Lillah. Allah (SWT) memberikan penerimaan yang baik terhadap buku ini, dan eksemplarnya cepat habis, sementara permintaan terhadapnya tetap tinggi.
One of the noble brothers suggested that these thoughts be put down on paper and then distributed amongst the people and that he would fund this, desiring the Ajr and Thawaab. And as such it came to pass and this small book comprising of four subjects was published Al-Hamdu Lillah. And Allah (swt) found an acceptance for it and its copies quickly ran out whilst demand for it remained strong.
Saudara yang mulia itu merasakan permintaan ini, lalu menawarkan untuk mencetaknya kembali dengan biayanya sendiri, dan akibatnya edisi kedua ini terbit dan di dalamnya terdapat pokok bahasan kelima: 'Al-Amaanah dan Al-Imaan'.
The noble brother sensed this demand and offered to print it once again through his funding and as a result this second edition was published and it included within it a fifth subject: ‘Al-Amaanah and Al-Imaan’.
Sesungguhnya kecintaan kepada dunia dan kebencian terhadap kematian, kekeliruan-kekeliruan dalam pemikiran, kelemahan, keputusasaan, serta tidak adanya konsep-konsep akidah yang berkaitan dengan rezeki, ajal, pertolongan, tawakal, serta kebaikan dan keburukan (khair dan sharr), di antara yang lainnya, telah memalingkan banyak kaum Muslimin dari tujuan hidup mereka, yaitu beribadah kepada Allah, yang diwujudkan dalam komitmen mereka terhadap perintah dan larangan Allah (SWT). Hal ini terutama terjadi ketika mereka terpengaruh oleh fatwa-fatwa atau pendapat-pendapat yang dilontarkan oleh orang-orang yang disebut sebagai ‘Ulama, yang menyebarkan pandangan atas nama para penguasa yang zalim, korup, dan khianat. Di samping itu, ada pula partai-partai politik beserta para pengikutnya yang menjadikan agama ini haram dan mengada-adakan kebohongan terhadap Allah (SWT). Mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, serta menyibukkan dan mengalihkan perhatian putra-putra Ummat pada perkara-perkara yang paling dangkal dan sia-sia, sambil memalingkan mereka dari jalan perubahan dan jalan menuju tegaknya Negara Islam.
Verily the love of the Dunyaa and the hatred of death, intellectual misconceptions, weakness, despair and the absence of the Aqeedah concepts related to Rizq, Ajal, Nasr, Tawakkul, and khair and Sharr amongst others, has turned many Muslims away from their purpose in life, which is worship to Allah and is represented in their commitment to the commands and prohibitions of Allah (swt). This has particularly been the case when they have become affected by the Fataawa or opinions which have been spurted out by the so-called ‘Ulamaa who propagate on behalf of the rulers of oppression, corruption and treachery. This is in addition to the political parties and their followers who make the Deen Haraam and fabricate lies against Allah (swt). They make the Haraam Halaal and the Halaal Haraam and they busy and distract the sons of the Ummah in the most shallow and futile of matters whilst diverting them from the path of change and the path towards the establishment of the Islamic State.
Demi menarik perhatian terhadap masalah ini, memperingatkan bahayanya, dan memberi peringatan tentangnya, pokok bahasan kelima ini ditambahkan: Al-Amaanah dan Al-Imaan.
For the sake of bringing attention to this issue, alerting to its danger and warning about it, this fifth subject was added: Al-Amaanah and Al-Imaan.
Ketika saya mempersembahkan buku kecil ini kepada Umat Islam, saya memohon kepada pembacanya dari kalangan mereka yang berjuang demi tegaknya Laa Ilaaha Illallah agar mendekati dan mempelajarinya dengan akal dan hati mereka, sebagaimana saya telah mempersembahkan buku ini dari akal dan hati saya. Dan saya memohon kepada Dia Ta'ala agar menganugerahkan pahala dan ganjaran yang besar kepada setiap orang yang membantu usaha ini, baik dengan arahan, nasihat, harta, maupun tenaga, serta kepada setiap orang yang telah mendoakan saya dan kedua orang tua saya.
When I present this small book to the Islamic Ummah I appeal to its reader from amongst those working for the cause of Laa Ilaaha Illallah to approach and study it with their minds and their hearts just as I have presented this book from my mind and heart. And I ask Him Ta’Aalaa to grant great Thawaab and Ajr to everyone who assisted in this effort in terms of direction, advice, wealth and effort and to everyone who has made Du’a for me and my parents.
Ya Allah, siapa pun yang menginginkan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin, maka berikanlah ia taufik dalam setiap kebaikan. Dan siapa pun yang menginginkan keburukan bagi Islam dan kaum Muslimin, maka tangkaplah mereka dengan tangkapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
O Allah whoever wants good for Islaam and the Muslims then give him Tawfeeq in every goodness and whoever wants bad for Islaam and the Muslims then seize them with the seizure of One exalted in Might and Perfect in Ability.
Mahmoud Abdul-Kareem Hasan 3 Safar 1425 24 Maret 2004.
Mahmoud Abdul-Kareem Hasan 3rd Safar 1425 24th March 2004.
Reference: Taghyeer (perubahan) - Mahmoud Abdul-Kareem Hasan