Pendirian Negara Islam
The establishment of the Islamic State
Adapun tipu daya dan penyesatan yang telah terjadi terkait anggapan mustahilnya mendirikan Negara Islam dan mustahilnya keberlangsungannya, orang-orang kafir tidak akan segan-segan mengerahkan segala upaya untuk itu. Mereka menciptakan dan mengada-adakan kebenaran palsu mengenai dampak buruk Khilafah (Mafaasid), mereka menghapus dan melenyapkan kebenaran serta fakta yang sebenarnya, sambil memalsukan sejarah dan menekan mereka yang menyeru kepada Islam. Dalam media mereka yang menyesatkan dan penuh tipu daya, mereka memusatkan perhatian pada perpecahan di antara kaum Muslimin dan kelemahan mereka, sementara pada saat yang sama menonjolkan kemampuan orang-orang kafir serta kekuatan dan kekuasaan besar mereka. Mereka telah menjadikan sebagian agen mereka, yaitu orang-orang yang mengibarkan slogan-slogan Islam namun membawa kekalahan dan kemunduran bagi kaum Muslimin, sebagai tokoh dan pemimpin terkemuka dalam upaya memutarbalikkan dan menyelewengkan Islam serta menyesatkan kaum Muslimin. Semua itu membantu mereka membuat kaum Muslimin jatuh ke dalam keputusasaan dan menyebarkan suasana depresi dan kehilangan harapan. Seandainya keputusasaan menancapkan pijakan yang kokoh di dalam hati kaum Muslimin, niscaya hal itu akan pasti menjauhkan mereka dari melakukan aksi, dan mereka tidak akan pernah bekerja untuk mendirikan Negara Islam.
As for the deception and misleading that has occurred in regards to the impossibility of establishing the Islamic State and the impossibility of it continuation as the disbelievers will spare no effort in regards to that. They create and invent false truths in regards to harmful effects of the Khilafah (Mafaasid), they erase and wipe out the truths and true realities whilst fabricating the history and repressing those who call to Islaam. They focus in their misleading and deceitful media upon the divisions between the Muslims and their weakness whilst focusing at the same time upon the capabilities of the disbelievers and their great powers and strength. They have made from some of their agents, who have raised Islamic slogans and brought defeat and regression to the Muslims, they have made from them prominent models and leaders in respect to distorting and twisting Islaam and the deviation of Muslims. All of which aids them to make the Muslims fall into despair and to spread the climate of depression and hopelessness. If despair was to find a firm foothold within the hearts of the Muslims then this would inevitably take them away from undertaking action and they will never work for the establishment of the Islamic State.
Karena teks-teks syariah dari Al-Qur'an dan Sunnah menunjukkan kembalinya Negara Islam, otoritasnya, kehormatan, dan kekuatannya, kaum Muslimin meyakini bahwa Negara Islam itu pasti akan kembali. Namun kami mendapati bahwa sebagian orang yang keputusasaannya telah mengakar dalam dirinya mengatakan bahwa berdirinya Khilafah bukan untuk masa kita sekarang, melainkan akan terjadi setelah 100 tahun, setelah beberapa generasi, atau bahkan ketika Imam Mahdi datang. Argumen-argumen ini memainkan perannya sendiri dalam memperkuat rasa putus asa, dan dipromosikan serta didorong oleh rezim-rezim melalui media mereka dan para agen mereka. Di antara para agen itu adalah Ulama As-Salaateen (ulama penguasa), mufti resmi negara atau rezim, dan ulama-ulama televisi yang telah diberi cap persetujuan oleh rezim. Mereka mengarahkan dan menyesatkan kaum Muslimin sehingga mereka hanya peduli pada urusan pribadi dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah mereka. Adapun gagasan bahwa Negara Islam adalah sebuah hadiah yang akan diberikan kepada manusia ketika Allah (SWT) menghendaki, tanpa manusia perlu bertindak atau berusaha untuk mewujudkannya, maka ini adalah kebodohan, sementara permusuhan rezim-rezim di zaman kita sekarang ini justru bertujuan untuk menanamkan ketakutan pada kaum Muslimin dan mengintimidasi mereka.
Because the Shar’iyah texts from the Qur’aan and the Sunnah guide to the return of the Islamic State, its authority, its honour and might, the Muslims possess the belief that it will return. However we have noticed in those in whom despair has become deeply rooted that they say that the establishment of the Khilafah is not for our current time but rather it will occur after 100 years or after generations or even when Imaam Mahdi arrives. These arguments play their own role in respect to reinforcing the hopelessness and they are promoted and pushed by the regimes via their media and their agents. Amongst these agents are the Ulamaa As-Salaateen (the scholars of the rulers), the regime or state Muftis and the TV ‘Ulamaa who have been given a rubber stamp by the regimes. They direct and mislead the Muslims so that they only become concerned about the individual private affairs and those related to their ‘Ibaadah (acts of worship). As for the idea that the Islamic State is a gift that will be gifted to the people when Allah (swt) wills without the people needing to act or work for it then this is ignorance whilst the regimes hostility in our current time is aimed at striking fear in the Muslims and intimidating them.
Ada pula gerakan-gerakan dan para yang disebut ‘Ulama yang mengaku Islami, sementara mereka melakukan tindakan-tindakan yang memberikan dukungan kepada rezim-rezim tersebut. Mereka tetap diam ketika kejahatan dilakukan, secara terbuka memberikan loyalitas kepada mereka, memprotes penentangan terhadap mereka dalam perkara-perkara yang tidak penting, dan memberikan pembenaran atas segala yang dilakukan rezim-rezim itu dengan dalih-dalih seperti Maslahah, ketidakmampuan, atau kenyataan. Dengan semua cara ini, mereka pada akhirnya mengalihkan kaum Muslimin dari pemikiran tentang Negara Islam dan dari upaya untuk menegakkannya, sementara mereka dibuat puas dengan jalan-jalan dan arah lain yang hanya membawa mereka pada kesesatan yang semakin bertambah, kelemahan, dan kekalahan-kekalahan baru.
There are also those movements and so-named ‘Ulamaa who claim to be Islamic whilst undertaking actions that provide support to the regimes. They remain silent when evils are committed, openly give loyalty to them, protest against their opposition in insignificant matters and provide justifications for all that the regimes do using arguments such as Maslahah, incapability or the reality. In all of these ways they therefore divert the Muslims away from the thought of the Islamic State and working to establish it whilst being made content with alternative courses and paths which just lead to their increased misguidance, weakness and new defeats.
Oleh karena itu, kaum Muslimin harus menyadari dan memahami secara menyeluruh Haqaa'iq (kebenaran-kebenaran) yang berkaitan dengan realitas dan Syari'ah (hukum Islam), lalu menimbang dan mengukur setiap pemikiran, metodologi, pendapat, atau orang dengan timbangan Haqq (kebenaran).
For these reasons the Muslims must realise and fully comprehend the Haqaa’iq (truths) associated with the reality and the Shar’a (Islamic legislation) and to then weigh and measure every thought, methodology, opinion or person upon the scale of the Haqq (truth).
Penerapan Islam dan menyampaikan dakwahnya merupakan kewajiban (fardhu), dan hal-hal ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya sebuah kekuatan politik yang mengamankannya, menerapkannya, dan melindunginya dari pemberontakan atau kelemahan terhadap kedaulatannya. Saya tambahkan lagi bahwa keberadaan kekuatan ini merupakan bagian dari hukum-hukum (ahkam) Islam, dan Islam telah melarang penerapan sistem atau hukum apa pun yang tidak bersumber dari Islam, sekaligus menggambarkan hal itu sebagai berhukum kepada Thaghut (berhala-berhala palsu yang tidak sah/sumber-sumber kebatilan).
The application of Islaam and carrying its Da’wah is Fard and these cannot possibly be fulfilled without a political entity that secures it, applies it and protects it from rebellion or weakness to its sovereignty. I will add further that the existence of this entity represents part of the Ahkaam of Islaam and Islaam has prohibited the application of any System or law that has not been taken from Islaam whilst describing this as going to judgment to the Taghoot (false illegitimate idols/sources):
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, wahai Muhammad ﷺ, dan kepada apa yang diturunkan sebelum engkau? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya; dan setan hendak menyesatkan mereka sejauh-jauhnya (An-Nisaa 60).
Have you not seen those who claim to have believed in what was revealed to you, [O Muhammad], and what was revealed before you? They wish to refer legislation to Taghoot, while they were commanded to reject it; and Satan wishes to lead them far astray (An-Nisaa 60).
Rezim-rezim dan sistem-sistem yang berdiri saat ini di dunia Islam semuanya berasal dari kemungkaran, bahkan mereka mewakili pucuk kemungkaran. Adalah kewajiban syar'i untuk menjatuhkan mereka, menggantikannya, lalu mendirikan Negara Islam di atas reruntuhannya, yaitu Negara Khilafah, yang merupakan satu-satunya negara (yang sah) bagi seluruh kaum Muslimin di muka bumi.
The regimes and systems that are currently standing today in the Islamic world are all from the Munkar and indeed they represent the head of the Munkar. It is a Shar’iy obligation to bring them down, replace them and then establish the Islamic State upon their ruins, the Khilafah State, which is the only (legitimate) State for all of the Muslims upon the face of the earth.
Rasulullah ﷺ bersabda:
The Messenger of Allah (saw) said:
Barangsiapa menarik tangannya dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat tanpa memiliki hujjah (atau alasan) untuk dirinya.
Whoever takes his hand from obedience will meet Allah on the Day of judgement without any proof (or argument for himself.
Dan barangsiapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada bai'ah, maka dia mati dengan kematian jahiliyah. (Muslim)
And whoever dies whilst there is no Bai’ah upon his neck, he dies a death of Jaahilliyah (Muslim).
Dan beliau ﷺ juga bersabda:
And he (saw) also said:
Barangsiapa yang datang kepadamu ketika urusanmu sudah bersatu dan ingin memecah kekuatanmu serta mencerai-beraikan kesatuanmu, maka bunuhlah dia. (Muslim)
Whoever comes to you whilst your affair is united and wants to split your strength and divide your collective unit then kill him (Muslim).
Dan:
And:
Sesungguhnya akan datang Hannaat (ujian dan masa-masa fitnah) dan Hannaat. Maka barang siapa yang ingin memecah belah urusan umat ini selagi ia bersatu, maka pukullah dia dengan pedang, siapa pun dia (Muslim, Abu Daawood, An-Nasaa'iy).
Verily there will be Hannaat (trials and times of Fitnah) and Hannaat. So whoever wishes to divide the affair of this Ummah whilst she is united, then strike him with the sword whoever he may be (Muslim, Abu Daawood, An-Nasaa’iy).
Penerapan Islam dan pengembanan Da'wah tidak mungkin terwujud tanpa adanya kekuatan yang mengamankan dan melindunginya, sehingga Islam dapat diterapkan dan Da'wahnya dapat diemban. Hal ini karena Negara Islam adalah entitas politik yang didirikan di atas dasar penerapan Islam di dalam negeri serta penyebaran Islam ke seluruh dunia melalui Da'wah dan Al-Jihad di luar negeri. Artinya, Negara Islam adalah badan pelaksana yang menerapkan syariat untuk menegakkan Dien Islam secara menyeluruh. Oleh karena itu, pendirian Negara mengharuskan dua hal berikut diwujudkan:
The application of Islaam and carrying the Da’wah is not possible without a power that secures it and protects it so that it can undertake the implementation of Islaam and carry its Da’wah. This is because the Islamic State is a political entity that is established upon the basis of the application of Islaam internally and the spread of Islaam to the world by way of Da’wah and Al-Jihaad externally. This means that the Islamic State is the executive implementing body to establish the Deen of Islaam completely and as such the establishment of the State means that two matters need to be brought into existence:
The first
The first:
Terbentuknya opini publik (Ra’y ‘Aamm) yang di dalamnya keimanan dalam Islam mendominasi dan berjaya, serta adanya kesadaran umum (Wa’ie ‘Aamm) terhadap kewajiban yang diemban atasnya, penerapannya, dan pendirian serta perlindungan Negaranya.
The generation of a public opinion (Ra’y ‘Aamm) in which the Imaan in Islaam dominates and prevails and the possession of a general awareness (Wa’ie ‘Aamm) in respect to the obligation that is being committed to it, its application and the establishment and protection of its State.
The user's message "The second:" appears to be a label/heading with no other content, but per instructions I translate it. Kedua:
The second:
Menghadirkan kekuatan atau otoritas yang akan mewujudkan dan melaksanakan penerapan Islam, melindunginya, serta memiliki kemampuan untuk menyebarkan dakwahnya ke seluruh dunia.
Bringing into existence the power or authority that will realise and accomplish the application of Islaam, its protection and possess the capability to spread its Da’wah to the world.
Kedua perkara ini merupakan poros yang menjadi tumpuan kerja serius untuk mendirikan Negara Islam, dan keduanya merupakan poros tempat berlangsungnya perjuangan melawan kekufuran, sistem-sistemnya, serta orang-orang yang menjaganya.
These two matters represent the axis that the serious Islamic work to establish the Islamic State revolves around and they represent the axis upon which the struggle with Kufr, its systems and those who guard them takes place.
Perlu ditegaskan di sini bahwa tidak mungkin melakukan usaha untuk mewujudkan kekuatan yang akan menegakkan Islam sebelum terlebih dahulu membangkitkan opini umum tentangnya di tengah masyarakat dan lingkungan, serta kesiapan atau kesediaan untuk menerapkannya. Demikian pula, tidak mungkin mengumumkan atau memproklamasikan Negara Islam sebelum adanya opini umum Islam yang menghendaki keberadaannya, mendukungnya, dan memandangnya sebagai solusi yang haq, wajib, dan benar bagi realitas serta persoalan mereka. Tidak cukup dengan mengatakan bahwa kaum Muslimin itu ada, bahwa mereka secara keseluruhan mewakili Ummat Islam, dan bahwa akidah mereka adalah akidah Islam. Hal ini karena disyaratkan bahwa mereka adalah kaum Muslimin yang memiliki kesadaran tentang Islam, dan tidak tersesat atau tertipu mengenai kewajiban penerapannya, eksistensi politiknya, maupun bentuk keberadaannya. Maka jika kaum Muslimin menyerukan berdasarkan patriotisme atau nasionalisme, atau pemisahan agama dari kehidupan, atau demokrasi, dan mereka tertipu oleh penguasa mereka, sistem-sistem, atau para ulama penguasa serta hal-hal semacam itu, maka dalam kondisi demikian mereka belum siap. Mereka akan tetap menjadi orang-orang yang tertipu oleh kepalsuan dan kesalahpahaman, yang menyebabkan mereka kehilangan kekuatan ruhani yang besar dan potensial. Apabila kesadaran umum yang benar telah terwujud berkaitan dengan penegakan Negara Islam dan kembalinya kehidupan Islami, dan keberadaan Negara Islam telah menjadi tuntutan kaum Muslimin, maka pada saat itu wajib mewujudkan kekuatan yang mampu mendirikan entitas Negara Islam, mencabut basis dukungan dan kekuatan kekufuran, lalu menerapkan Islam menggantikannya.
It is important to indicate here that it is not possible to work to bring about the power that will implement Islaam before first generating the public opinion for it within the society and the environments for it and the preparedness or readiness for its application. Similarly it is not possible to declare (or announce) the Islamic State before the existence of the Islamic public opinion that desires its existence, supports it and views it as a Haqq, Waajib and correct solution to its reality and issues. It is not enough to say that the Muslims exist, that they represent an Islamic Ummah in their entirety and that their Aqeedah is Islamic. This is because it is required for them to be Muslims who have awareness about Islaam and not misguided or deceived in respect to the obligation of its application, its political existence or the shape of its existence. So if the Muslims are calling based on their patriotism or nationalism or the separation of the Deen from life or democracy, and are being deceived by their rulers, systems, or the ‘Ulamaa of those in authority and anything similar, then in that case they would not be ready. They would remain as those who are deceived by the falsities and misconceptions which would caus them to lose their potent great spiritual strength and force. If the sound general awareness is brought into existence related to the establishment of the Islamic State and the resumption of the Islamic way of life, and the existence of the Islamic State has become a demand of the Muslims, then at that time it would be obligatory to bring about the power that will be able to establish the entity of the Islamic State, remove the Kufr support base and its power, and then apply Islaam (in its place).
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan bahwa Dia pasti akan mengokohkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan bahwa Dia pasti akan mengubah keadaan mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, (karena) mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. (An-Nur 55)
Allah has promised those who have believed among you and done righteous deeds that He will surely grant them succession [to authority] upon the earth just as He granted it to those before them and that He will surely establish for them [therein] their religion which He has preferred for them and that He will surely substitute for them, after their fear, security, [for] they worship Me, not associating anything with Me (An-Nur 55).
Dan Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: {Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di negeri itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (negeri itu), dan hendak Kami teguhkan kedudukan mereka di negeri (Mesir) dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun, Haman dan tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu} (Al-Qasas: 5-6).
And Allah ‘Azza Wa Jalla said And We wanted to confer Our favour upon those who were oppressed in the land and make them leaders and make them inheritors. And establish them (firmly) in the land and show Pharaoh and [his minister] Haman and their soldiers through them that which they had feared (Al-Qasas 5-6).
Reference: Taghyeer (perubahan) - Mahmoud Abdul-Kareem Hasan