Talab un-Nusrah (mencari pertolongan)
Talab un-Nusrah (seeking the supporting power)
Kami telah menyebutkan pada bagian sebelumnya bahwa Negara Islam adalah badan pelaksana yang menerapkan Islam, dan bahwa tidak mungkin sesuatu pun diterapkan di dunia ini tanpa adanya kekuasaan yang mampu melakukannya. Membuat rakyat tunduk pada sebuah Nizhaam (sistem) atau Qanoon (undang-undang), serta melindungi Negara dari dalam maupun luar, memerlukan kekuasaan yang cakap dan mampu untuk mewujudkan hal itu.
We have mentioned in the previous section that the Islamic State is an executive implementing body for Islaam and that it is not possible to implement anything in the Dunyaa in the absence of the power that is capable of doing that. Making the people abide by a Nizhaam (system) or Qanoon (Law), protecting the State internally and externally requires a competent and capable power to accomplish that.
Jika pemikiran yang menjadi dasar dan tujuan pendirian Negara itu sudah mulai tampak dan tersebar, dan masyarakat mulai melihat bahwa para pengemban dakwah untuk menegakkan Khilafah dan menerapkan Islam adalah wakil dari kalangan Ahlul Haqq (kebenaran), sedangkan para penentang mereka adalah dari kalangan Ahlul Baathil (kebatilan), maka dalam kondisi ini perlu diwujudkan suatu kekuatan yang akan mendukung dan melindungi penerapan Islam. Pemikiran yang serius dan tulus harus dipusatkan pada cara mewujudkan dukungan ini.
If the thoughts upon which it is intended and desired to establish the State have began to have a presence and to spread and the people have began to see that those carrying the Da’wah for the establishment of the Khilafah and the application of Islaam are representative of the people of the Haqq (truth) whilst their adversaries are from amongst the people of Baatil (falsehood), then in this case it is necessary to bring into existence a power which will support and protect the application of Islaam. The serious and sincere thought must be focused upon the manner of bringing this support into existence.
Kenyataan dan upaya-upaya telah menunjukkan jalan-jalan untuk mencapai hal ini, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga.
The reality and attempts have indicated the paths towards accomplishing this which can be categorized into three:
Jalan atau metode yang pertama
The first path or method
Mendapatkan dukungan dan kekuatan dari suatu pihak atau entitas yang memiliki kedua sifat tersebut, di mana hal itu disertai dengan kesepakatan yang mencakup kompromi terhadap sebagian pemikiran dan hukum-hukum Syar'iyyah, atau kesepakatan yang menjamin tercapainya kepentingan bagi pihak atau entitas tersebut, sehingga penerapan Islam menjadi bersyarat atau tidak utuh. Hal ini juga dapat berupa perjanjian yang menjadikan Negara tunduk kepada pihak yang telah memberikan kekuatan dan perlindungan kepadanya. Contohnya adalah ketika dukungan itu bergantung pada negara lain yang diberikan untuk menjatuhkan suatu rezim tertentu. Jika hal ini terjadi, maka Negara yang baru itu akan bergantung kepada orang-orang kafir atau kaki tangan mereka, dan akibatnya hanya akan menerapkan Islam sebatas yang diizinkan oleh orang-orang kafir atau kaki tangan tersebut. Dengan demikian, mereka akan menerapkan kekufuran, kemudian mereka akan berakhir dan lenyap ketika peran yang telah digariskan bagi mereka, yang menjadi alasan diberikannya kekuatan dan perlindungan tersebut, telah tercapai.
Gaining the support and the power from a direction or entity that possesses these two attributes where this is completed by a deal which includes some compromises in respect to some thoughts and Shar’iyah rulings or a deal which secures the attainment of interests for that direction or entity making the application of Islaam based on conditions or incomplete. It could also be an agreement that makes the State subservient to the one that has provided it with the power and protection. An example of which could be when the support is reliant upon another country which was provided to bring down a certain regime. If this was to happen then this would then make the new State reliant upon the disbelievers or agents and as a result will only apply Islaam in accordance to the amount that the disbelievers or agents permit. As such they will implement Kufr (disbelief) and then they will come to an end and disappear when the role that has been drawn out for them, for which the power and protection was original given, is accomplished.
Ini adalah metode dan pendekatan yang keliru dan tidak sah. Hal ini karena tujuannya adalah menegakkan Islam dalam kekuasaan dan pemerintahan, bukan menempatkan orang-orang yang hanya tampak Islami pada tampuk kekuasaan.
This is an incorrect and invalid method and approach. This is because the objective and goal is to bring Islaam to the rule and ruling whilst it is not to bring men to the rule whose appearance is Islamic.
Berkompromi dalam penerapan Islam, atau sebagian darinya, tidak lebih dari menukar kekufuran dengan kekufuran, sedangkan memberlakukan syarat-syarat kepada Negara oleh arah atau pihak mana pun berarti pihak tersebut akan memiliki otoritas atas Negara ini, dan hal itu haram.
Compromising in regards to the application of Islaam or some of it means no more than swopping Kufr for Kufr whilst placing conditions upon the State by any direction or entity would mean that this entity would hold authority over this State which is Haraam.
Allah tidak akan pernah memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman (An-Nisaa: 141).
Allah will never allow the disbelievers to have a way over the believers (An-Nisaa 141).
Dan Dia (SWT) berfirman:
And He (swt) said:
{Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan mendapat pertolongan.} (Hud: 113)
And incline not toward those who do wrong, lest the Fire should touch you, and you have no protectors other than Allah, nor you would then be helped (Hud 113).
Sementara Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa'i:
Whilst the Messenger of Allah (saw) said in a Hadeeth recorded by Ahmad and An-Nasaa’iy:
Janganlah mencari cahaya dari api orang-orang Musyrikin (kaum Politeis).
Do not seek the light from the fire of the Mushrikeen (Polytheists).
Rasulullah ﷺ menolak pengaturan dan kesepakatan semacam ini, yaitu kesepakatan yang akan memberinya kekuasaan yang terkompromi dan terbatas, atau kesepakatan di mana mereka (orang-orang kafir) akan menyembah Tuhannya selama setahun yang kemudian diikuti dengan menyembah Tuhan mereka selama setahun.
The Messenger of Allah (saw) rejected the likes of these types of arrangements and deals which would provide him with an authority which would be compromised and restricted or where they (the disbelievers) would worship his God for a year which would then be followed by worshipping their God for a year.
Demikianlah, kita telah melihat bahwa mereka yang bersandar dan bergantung pada rezim-rezim kafir, ketika menghadapi kekafiran lainnya, justru dibawa kepada kekalahan yang lebih besar lagi. Maka para Mujahidin di Afghanistan condong untuk menerima dukungan dan bantuan Amerika melalui Pakistan dan Arab Saudi. Akibatnya, tercapailah tujuan Amerika untuk mengusir Rusia, sementara para Mujahidin gagal mewujudkan apa yang selama ini mereka serukan, yaitu sebuah Negara Islam.
As such we have seen those who have depended and relied upon the Kufr regimes, whilst confronting another Kufr, being led to even greater defeats. So the Mujaahideen in Afghanistan inclined towards accepting the American support and assistance via Pakistan and Saudi Arabia. The result of which was the realisation of the American’s objective of expelling the Russians whilst the Mujaahideen failed in realising what they had been calling for in terms of an Islamic State.
Akhirnya mereka ikut bersekutu dengan Syaitan dan jatuh ke dalam cengkeramannya.
They ended up participating with the Shaytaan and falling in to its clutches.
Demikian pula, organisasi-organisasi Palestina yang bergantung dan mengandalkan kekuasaan serta dukungan dari rezim-rezim yang menjadi agen bagi orang-orang kafir mengaku bangkit demi Palestina, sementara mayoritas rakyatnya pada awalnya mempercayai mereka. Lalu tiba-tiba organisasi-organisasi yang sama ini menyerahkan tanah tersebut dan kemudian mengakui kedaulatan Negara Yahudi atasnya, ditambah dengan haknya untuk hidup damai dan aman, sementara pada saat yang sama mereka bekerja untuk kepentingan entitas ini sebagai kekuatan kepolisian bagi mereka.
Similarly the Palestinian organisations which relied and depended upon power and support from the regimes which were agents to the disbelievers claimed to be rising up for the sake of Palestine whilst the majority of its people initially believed them. And then all of the sudden these same organisations give up the land and then recognise the sovereignty of the Jewish State upon it, in addition to its right to a peaceful and secure existence, whilst at the same time working on behalf of this entity as a police force for them.
Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
And do not follow the steps of Shaytaan. Verily he is to you a clear enemy (AlBaqarah 168).
Jalan atau metode kedua:
The second path or method:
Inilah tujuan para pengemban Dakwah atau sebuah gerakan, yaitu membangun kekuatan dari kalangan mereka sendiri untuk menghadapi kekuasaan dan kekuatan kebatilan, mengalahkannya, lalu mendirikan Negara Islam menggantikannya. Ini adalah metode yang khayal dan mustahil, karena uang, persenjataan, militer, media, alat dan perangkat semuanya berada di tangan negara kebatilan. Yang mungkin hanyalah membangun kekuatan yang kecil dan lemah dibandingkan dengan apa yang dimiliki negara kebatilan. Selain itu, bantuan atau dukungan apa pun yang diberikan kepada mereka hanya diberikan dengan syarat membatasi seruan kepada Al-Haqq, padahal seluruh negara di dunia memusuhi dan menentang Islam.
This is where the carriers of the Da’wah or a movement aims at and targets the building of a power from themselves in order to confront the power and force of the falsehood, defeat and overcome it and then establish the State of Islaam in its place. This is a delusional and impossible methodology because the money, weaponry, military, media, tools and devices are all in the hands of the State of falsehood. It is only possible to build an insignificant and meagre power or strength in comparison to what the State of falsehood possesses. Additionally any help or support provided to them is only given in return for limiting the call to the Haqq in the case where all States in the world are hostile and against Islaam.
Rezim-rezim ini tidak memiliki sesuatu pun yang mencegah mereka untuk membom kota-kota, penduduknya, dan memusnahkan mereka jika mereka merasakan adanya bahaya Islam bagi mereka, dan hal ini akan terjadi dengan dorongan serta disertai pemberitaan yang dibungkam atau dialihkan oleh seluruh negara di dunia.
These regimes do not have anything preventing them from bombing towns, their populations and wiping them out if they sense the danger of Islaam to them and this would occur with the encouragement and accompanying media blackouts or misdirection from all of the world’s States.
Jenis perjuangan militer seperti ini akan membuat para pembawa Da'wah terus-menerus membutuhkan bantuan finansial, militer, dan teknis untuk mencegah kelemahan dan beban kehidupan. Memperolehnya akan membuat mereka tertebus dan bergantung kepada pihak yang memberikan bantuan, serta membuka pintu bagi Syaitan dan pembenaran-pembenaran yang tidak didukung oleh bukti dari Syari'ah. Para agen kemudian diaktifkan, dan Da'wah pada akhirnya ternoda oleh keikutsertaan pihak-pihak yang memiliki agenda berbeda (yang tidak Islami). Inilah yang persis telah terjadi di Afghanistan, Mesir, Aljazair, Lebanon, dan Suriah (dalam sejarah terkini kita).
This kind of material military struggle would make the carriers of the Da’wah in continual need of financial, military and technical assistance to prevent weakness and the burdens of the life. Obtaining this would ransom them and make them dependent upon the one who has provided the assistance and would open the door to Shaytaan and justifications that the Shar’iyah has not brought any proof for. The agents are then activated and the Da’wah ends up being compromised by the participation of those with different (UnIslamic) agendas. This is exactly what has already happened in Afghanistan, Egypt, Algeria, Lebanon and Syria (in our recent history).
Tidakkah engkau melihat orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu [dari berperang], dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat"? (An-Nisaa 77).
Have you not seen those who were told, "Restrain your hands [from fighting] and establish prayer and give Zakaah"? (An-Nisaa 77).
Tidak boleh dikatakan di sini bahwa orang-orang beriman mempersiapkan segala yang mereka mampu sambil bersandar pada iman mereka berdasarkan:
It should not be said here that the people of Imaan prepare all that they are able to whilst relying upon their Imaan based on:
"Berapa kali kelompok kecil telah mengalahkan pasukan yang besar dengan izin Allah?" Dan Allah bersama orang-orang yang sabar (Al-Baqarah 249).
How often does a small group overcame a mighty host by Allah's Leave?" And Allah is with As-Saabireen (the patient and persevering) (Al-Baqarah 249).
Atau bahwa tidak perlu diperhatikan perbedaan kekuatan materi dan kekuasaan antara pasukan-pasukan tersebut, meskipun perbedaannya sangat besar.
Or that no regard should be given to the differences in material strength and power between the forces and even if they are huge.
Hal ini tidak boleh diperdebatkan atau dikemukakan karena bukan konteks dari pembahasan dan bidang kajian ini. Hal ini karena Rasulullah ﷺ menolak penggunaan kekuatan atau kekuasaan materi ketika berada dalam realitas yang serupa, dan oleh karena itu tindakan Rasulullah ﷺ
This should not be argued or stated because it is not the context of this discussion and subject area. This is because the Messenger of Allah (saw) rejected the use of material strength or power whilst in a similar reality and as such the action of the Messenger (saw)
merupakan Hukm Asy-Syar'iy yang berkaitan dengan realitas tertentu ini.
represents the Hukm Ash-Shar’iy that relates to this particular reality.
Banyak kenyataan dan peristiwa telah membuktikan bahwa tindakan dan pendekatan semacam ini berujung pada keputusasaan dan kelumpuhan, atau bahwa kendali justru diserahkan kepada para penyusup yang kemudian memberikan layanan kepada orang-orang kafir dengan mengatasnamakan Islam dan Da'wah. Rezim-rezim yang berkuasa saat ini akan memanfaatkan hal semacam itu dengan cara yang paling kotor, karena mereka memutarbalikkan Haqaa'iq (kebenaran), mencemarkan para pembawa Da'wah, dan menyesatkan kaum Muslimin dengan tipu daya.
Many realities and occurrences have confirmed that the like of this action and approach either lead to despair and inaction or that the reigns are handed over to those who are infiltrators who then go on to provide services to the disbelievers in the name of Islaam and Da’wah. The current regimes will exploit such a matter in the dirtiest of manners as they distort the Haqaa’iq (truths), malign the Da’wah carriers and mislead the Muslims by deception.
Oleh karena itu, metode atau jalan untuk membentuk dan membangun kekuatan atau kekuasaan guna memproklamasikan Negara Islam adalah keliru dan berbahaya. Metode ini menghabiskan para pembawa dakwah sekaligus merusak dakwah itu sendiri, di dalamnya juga terdapat kemungkaran (perbuatan-perbuatan keji), dan ia menimbulkan serta menyebabkan keputusasaan.
Therefore this method or path towards generating or establishing a force or power in order to announce the Islamic State is incorrect and dangerous. It consumes the carriers of the Da’wah whilst distorting the Da’wah and it also includes Munkaraat (evil acts) within it and it leads to and causes despair.
Jalan atau metodologi ketiga
The third path or methodology
Ini adalah upaya untuk mengubah kekuatan yang sudah ada di tengah masyarakat, atau sebagian darinya, agar dapat menjadi penopang dan penguat bagi dakwah al-Haqq, bukan menjadi penopang dan penguat bagi al-Baatil beserta sistemnya. Di sinilah Ahl al-Quwwah wal Man'ah (orang-orang yang memiliki kekuatan dan daya cegah), di suatu tempat yang telah disiapkan dan dipersiapkan untuk tegaknya Khilafah, menempatkan kekuatan serta kemampuan mereka sebagai penopang dan penguat bagi al-Haqq dan bagi penerapan Islam. Al-Haqaa'iq (kebenaran-kebenaran).
This is to transform an existing power present within the society or part of it so that it can become a support and prop for the Da’wah of Haqq instead of being a support and prop for Baatil and its system. This is where the Ahl ul-Quwwah Wal Man’ah (People of power and preventative force), in a place which has been made ready and prepared for the establishment of the Khilafah, place their power and capabilities as a support and prop for the Haqq and for the application of Islaam. The Haqaa’iq (truths)
mempengaruhi pemikiran orang-orang, konsep dan loyalitas mereka, sedangkan Da'wah kepada Islam mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dakwah ini mengubah mereka menjadi pendukung Da'wah al-Haqq dan para pengemban Da'wah, serta menjadi musuh bagi sistem dan rezim penguasa yang membenci mereka. Sebagaimana Ummah mengalami perubahan, perubahan pada kelompok masyarakat ini pun terjadi dan tuntas, sehingga mereka menjadi pelindung penerapan dan pelaksanaan Islam.
have an effect upon the thoughts of the people, their concepts and loyalties, whilst the Da’wah to Islaam takes people out of darkness and into the light. It transforms them into supporters of the Da’wah of the Haqq and of the carriers of the Da’wah and enemies of the ruling systems and regimes who carry hatred towards them. In the same way as the Ummah is transformed, the transformation of this faction of the people takes place and is completed so that they become protectors of the application and implementation of Islaam.
Selain melanjutkan dakwah kepada Islam dengan terlibat dalam pertarungan intelektual dan perjuangan politik serta memberi makan umat dengan konsep dan pemikiran Islam, dakwah juga memerlukan pendekatan yang berfokus pada kelompok ini dengan program khusus. Tujuannya agar mereka siap memberikan loyalitas penuh kepada penerapan Islam secara menyeluruh tanpa syarat atau ketentuan apa pun. Inilah yang disebut Talab An-Nusrah (mencari dukungan untuk menegakkan otoritas). Kekuatan yang diperlukan agar loyalitas mereka dapat diambil untuk gagasan ini merupakan kekuatan yang dibutuhkan dan cukup untuk memproklamasikan Negara, memperluas otoritasnya, mencegah pemberontakan di dalamnya, serta melindunginya dari dalam dan luar.
In addition to the continuation of the Da’wah to Islaam by engaging in the intellectual clash and political struggle whilst feeding the Ummah with the concepts and thoughts of Islaam, the Da’wah also requires an approach that focuses upon this group with a special programme. This is so that they can be ready to offer their complete loyalty to the complete implementation of Islaam without any condition or stipulation. This then is the Talab An-Nusrah (seeking of the support to establish the authority). The force that is required for its loyalty to be taken upon this idea represents the necessary power that is sufficient to announce the State, expand its authority, prevent rebellion within it and protect it internally and externally.
“Kami mengadu kepada Nabi ﷺ (tentang penindasan yang dilakukan kaum kafir terhadap kami) ketika beliau sedang duduk di bawah naungan Ka’bah, bersandar pada Burdah-nya (yaitu kain penutup). Kami berkata kepadanya: "Maukah engkau memohon pertolongan bagi kami? Maukah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?" Beliau bersabda: "Di kalangan umat-umat sebelum kalian, ada seorang (mukmin)
“We complained to the Prophet (of the persecution inflicted on us by the infidels) while he was sitting in the shade of the Ka’bah, leaning over his Burdah (i.e. covering sheet). We said to him: "Would you seek help for us? Would you pray to Allah for us?" He said: "Among the nations before you a (believing)
Seseorang akan diletakkan di dalam parit yang digali untuknya, lalu sebuah gergaji akan diletakkan di atas kepalanya dan ia akan dibelah menjadi dua bagian; namun siksaan itu tidak akan membuatnya meninggalkan agamanya. Tubuhnya akan disisir dengan sisir besi yang akan memisahkan dagingnya dari tulang dan urat-urat, namun hal itu tidak akan membuatnya meninggalkan agamanya. Demi Allah, agama ini (yakni Islam) akan tersebar hingga seseorang yang bepergian dari Sana'a (di Yaman) menuju Hadhramaut tidak akan merasa takut kecuali kepada Allah, atau kepada serigala terhadap domba-dombanya, tetapi kalian ini tergesa-gesa."
man would be put in a ditch that was dug for him, and a saw would be put over his head and he would be cut into two pieces; yet that (torture) would not make him give up his religion. His body would be combed with iron combs that would remove his flesh from the bones and nerves, yet that would not make him abandon his religion. By Allah, this religion (i.e. Islam) will prevail until someone travelling from Sana (in Yemen) to Hadrawmaut will fear none but Allah, or a wolf as regards his sheep, but you (people) are hasty”.
Masyarakat pun menjadi beku dan tertutup terhadap dakwah, gangguan yang menimpa kaum Muslimin menjadi tak tertahankan, namun Nabi ﷺ tetap melanjutkan dakwahnya tanpa mengubah apa pun, tidak dengan menjilat, tidak berusaha menyenangkan siapa pun (dari kalangan orang-orang kafir), tidak pula dengan tawar-menawar dan membuat kesepakatan. Beliau ﷺ melakukan hal ini dengan dukungan Allah (SWT) dan di bawah pemeliharaan-Nya.
The society therefore became frozen and closed off to the Da’wah, the harm inflicted upon the Muslims became unbearable and yet the Nabi (saw) continued in his Da’wah without changing anything, making flattery, seeking to please anyone (from the disbelievers) or bargaining and making deals. He (saw) undertook this with the support of Allah (swt) and under His care:
Dan sekiranya Kami tidak meneguhkan (hati)mu, niscaya engkau hampir condong kepada mereka sedikit.
And if We had not strengthened you, you would have almost inclined to them a little.
{Maka jika Kami tidak meneguhkan (hati)mu, niscaya hampir-hampir kamu condong sedikit kepada mereka. Maka sungguh, jika kamu berbuat demikian, Kami benar-benar akan merasakan kepadamu (siksa) dua kali lipat (di dunia) dan (siksa) dua kali lipat (di akhirat), kemudian kamu tidak akan menemukan seorang penolong pun bagi dirimu terhadap (azab) Kami.} (Al-Isra 74-75) Catatan: Terjemahan di atas mengikuti teks ayat dalam Al-Qur'an, bukan hanya terjemahan bahasa Inggris yang diberikan.
Then [if you had], We would have made you taste double [punishment in] life and double [after] death. Then you would not find for yourself against Us a helper (Al-Israa 74-75).
Sementara ia tetap berada di jalan itu sesuai dengan sabdanya:
This is whilst he continued upon the path in accordance to his words:
Wahai Paman! Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya (menjadikannya menang).
O Uncle! By Allah. If they were to place the sun in my right and hand and the moon in my left upon me abandoning this matter, I would not leave it until Allah has made it victorious (prevail)
atau aku binasa tanpanya (Sīrah Ibnu Hisyām).
or I perish without it (Seerah Ibn Hishaam).
Para pemimpin Quraisy bersuka cita atas dinginnya sambutan terhadap dakwah, dan Abu Jahl berkata kepada mereka: "Teruslah berpegang pada agama nenek moyang kalian hingga Allah memutuskan perkara antara kami dan dia" (Sirah Ibnu Hisyam).
The leaders of Quraish gloated about the coldness of reception to the Da’wah and Abu Jahl announced to them: ‘Continue upon the Deen of your forefathers until Allah brings judgment between us and him’ (Seerah Ibn Hishaam).
Dalam keadaan dan situasi seperti ini, Allah (SWT) memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk mencari nusrah. Berikut ini disebutkan dalam Fat'h ul-Baari (hlm. 220, Jilid 7): Al-Haakim, Abu Na'eem, dan Baihaqi meriwayatkan bahwa 'Ali bin Abi Thalib (ra) berkata:
In this condition and these circumstances Allah (swt) commanded His Nabi (saw) to seek the Nusrah. The following was mentioned in Fat’h ul-Baari (p220 Vol. 7): Al-Haakim, Abu Na’eem and Bayhaqi recorded that ‘Ali Bin Abi Taalib (ra) said:
Ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah, beliau ﷺ dan aku pergi bersama Abu Bakr yang menyertai kami hingga sampai di Mina.
When Allah commanded His Nabi to present himself to the tribes he and I went out with Abu Bakr accompanying until Mina.
Dan Ibnu Katsir meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib (ra), bahwa beliau berkata:
And Ibn Katheer related from ‘Ali Ibn Abi Taalib (ra) that he said:
Ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memperkenalkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab, beliau ﷺ dan aku pergi bersama Abu Bakr yang menyertai kami, hingga kami sampai ke majelis-majelis dari tempat-tempat perkumpulan orang Arab.
When Allah commanded His Nabi to present himself to the Arab tribes he and I went out with Abu Bakr accompanying until we reached the gatherings from amongst the Arab places of gathering
Menghadirkan dirinya kepada suku-suku yang disebutkan di sini berarti Nabi ﷺ mempresentasikan dirinya dan dakwahnya kepada para pemimpin suku agar mereka memberinya perlindungan dan basis dukungan bagi dakwahnya. Mencari nusrah ini oleh karena itu bukan sekadar pendapat atau gaya, melainkan sebuah Hukm Shar'iy yang telah Allah (SWT) perintahkan kepada Rasul-Nya. Ini adalah perlakuan atau solusi yang bersifat Shar'iy, atau sebuah Tareeqah Shar'iyah (metode) untuk mencapai tujuan yang bersifat Shar'iy.
Presenting himself to the tribes mentioned here means the Nabi (saw) present himself and his Da’wah to the chiefs of the tribes so that they would provide him with protection and a support base for his Da’wah. This seeking of the Nusrah is therefore not merely an opinion or s style but rather it is a Hukm Shar’iy that Allah (swt) had commanded His Messenger with. It is a Shar’iy treatment or solution or a Shar’iyah Tareeqah (method) in order to achieve a Shar’iy objective.
Mencari Nushrah (Talab un-Nusrah) adalah metode yang syar'i dan tidak ada jalan lain. Hal ini ditunjukkan oleh tindakan Rasulullah ﷺ dalam melakukan hal tersebut dan keteguhannya di atasnya tanpa beralih darinya dan mengambil metode lain. Hal itu tetap beliau lakukan meskipun menghadapi segala penolakan dan penentangan, dan meskipun semua jalan duniawi yang dapat diperkirakan telah tertutup di hadapannya.
Seeking the Nusrah (Talab un-Nusrah) is the Shar’iy way and there is no other way. This is indicated by the Messenger’s (saw) undertaking this action and his continuation upon it without diverting from it and adopting another method. This was in spite of all the rejection and opposition that he encountered and in spite of all foreseeable worldly paths having been blocked in front of him.
Nabi ﷺ telah memberitahukan kami tentang hal ini, dan tentang keadaan dakwah ketika Allah (SWT) memerintahkan beliau untuk mencari pertolongan (nusrah), serta bagaimana beliau diterima oleh masyarakat dan oleh mereka yang beliau mintai pertolongan. ‘Aisyah (ra) pernah bertanya kepada beliau ﷺ pada suatu hari tentang hari paling berat yang pernah beliau alami dalam hidupnya, padahal ia mengira bahwa hari itu adalah hari perang Uhud. Dia (ra)
The Nabi (saw) informed us of this and about the situation of the Da’wah when Allah (swt) commanded him to seek the Nusrah, in addition to how he was received by the people and by those whom he had sought the Nusrah from. ‘Aa’ishah (ra) asked him (saw) one day about the most difficult day that he had faced in his life whilst she had thought that it was the day of the battle of Uhud. She (ra)
Dia berkata: "Pernahkah engkau mengalami hari yang lebih berat daripada hari Uhud?" Maka Nabi ﷺ menjawab:
"Aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah kualami, dan yang paling berat dari apa yang kualami adalah ketika aku menghadapkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, salah seorang pemuka kaum Thaif. Ia tidak menanggapiku dan tidak menerima apa yang aku inginkan. Maka aku pun pergi dengan hati yang sedih dan bingung, hingga aku sampai di Qarnu ath-Tha'alib." (HR. Al-Bukhari)
‘I encountered from your people what I encountered from them and the most sever of what I encountered was when I presented myself to Ibn Abd Ya Lail Bin Abd Kalaal who was one of the chiefs of the people of Taa’if. He did not respond to me and accept what I had wanted. So I departed, overwhelmed and wandering aimlessly, until I reached Qarn ath-Tha’aalib’ (Al-Bukhaari).
Beliau ﷺ telah meminta perlindungan dan dukungan dari kaum Nufoodh (pengaruh) dan Man'ah (kekuatan/perlindungan), yaitu para pemimpin penduduk At-Taa'if. Namun mereka menolaknya dengan penolakan yang paling buruk, kemudian menghasut pemuda dan preman mereka untuk menentangnya, dan mereka melempari beliau dengan batu hingga kedua kaki beliau yang mulia berlumuran darah. Beliau ﷺ tidak mampu menemukan seseorang yang dapat mendukung atau melindunginya, sehingga beliau berkelana tanpa arah dan tidak dapat memasuki Makkah. Pada saat inilah ketika beliau ﷺ
He (saw) had requested the protection and support from the people of Nufoodh (influence) and Man’ah (force/protection) i.e. The Chiefs of the people of At-Taa’if. However they rejected him with the worst forms of rejection and then incited their youth and thugs against him and they threw rocks at him to the point where his two noble feet were covered in blood. He (saw) was not able to find someone to support or protect him and so he wandered aimlessly and he was not able to enter Makkah. It was at this point when he (saw)
berdoa dengan doa yang terkenal darinya:
supplicated with his famous Du’aa:
"Ya Allah! Kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Wahai Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhanku juga. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang jauh yang menerimaku dengan permusuhan? Ataukah kepada musuh yang Engkau berikan kuasa atasku? Aku tidak peduli, selama Engkau tidak murka kepadaku. Namun karunia-Mu jauh lebih berarti bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang dengannya segala kegelapan menjadi terang dan segala urusan dunia dan akhirat menjadi teratur, agar Engkau tidak menurunkan murka-Mu kepadaku atau kemarahan-Mu menimpaku. Hanya milik-Mu hak untuk menegur hingga Engkau berkenan. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan)-Mu." (Sirah Ibnu Hisyam).
“O Allah! Unto You do I complain of my weakness, of my helplessness and of my lowliness before men. O most Merciful of the merciful. O Lord of the weak and my Lord too. Into whose hands have you entrusted me? To some far off stranger who receives me with hostility? Or to an enemy whom you have empowered against me? I care not, so long as You are not angry with me. But Your favour is much more significant to me. I take refuge in the light of Your countenance whereby all darknesses are illuminated and all things of this world and the next are rightly ordered, lest You make descend Your anger upon me or lest Your wrath beset me. Yet it is Yours to reproach until You are well pleased. There is no power and no might except through Thee.” (Seerah Ibn Hisham).
Dengan cara ini Nabi ﷺ menyatakan bahwa tidak ada penyimpangan atau berpaling dari ketaatan kepada Allah (SWT) dan dari mengikuti perintah-perintah-Nya, sekalipun semua jalan telah tertutup di hadapan hamba. Nash-nash telah dengan jelas menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa memohon pertolongan (nusrah) untuk dua perkara.
In this way the Nabi (saw) declared that there was no swerving or diverting away from the obedience to Allah (swt) and from following His commands, and even if all the paths have been closed down in front of the servant. The texts have clearly explained that the Nabi (saw) use to seek the Nusrah for two matters:
Saya tidak melihat teks yang perlu diterjemahkan. Silakan kirimkan teksnya, dan saya akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
The first:
Untuk melindunginya dan mencegahnya dari bahaya, sehingga ia dapat menyampaikan risalah dan mengajak kepada Allah dalam suasana yang nyaman dan aman.
To protect him and prevent him from harm so that he would be able to convey the message and invite to Allah in a comfortable and secure environment.
Kedua:
Secondly:
Untuk memberinya segala yang mereka miliki berupa kekuatan dan kemampuan agar ia dapat mendirikan negaranya.
To provide him with all that they possessed of power and capability in order to be able to establish his State.
Adapun masalah pertama, maka hal itu telah jelas dari sejumlah kenyataan:
As for the first issue, then it has been made apparent from a number of realities:
Ibnu Ishaq berkata:
Ibn Ishaq said:
Rasulullah ﷺ biasa menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab pada musim Haji. Beliau menyeru mereka kepada Allah dan meminta mereka memberikan Nusrah (dukungan) kepadanya. Beliau memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang telah diutus, dan meminta mereka untuk beriman kepadanya serta melindunginya dari gangguan, agar beliau dapat menyampaikan dengan jelas dari Allah apa yang Dia utuskan beliau dengannya.' (Sirah Ibnu Hisyam).
‘The Messenger of Allah (saw) used to present himself before the Arab tribes in the seasons of Hajj. And he would call them to Allah and to give him Nusrah (support). He would inform them that he was a Nabi who had been sent and he would ask them to believe in him and prevent harm from reaching him so that he could make clear from Allah that which He had sent him with’ (Seerah Ibn Hishaam).
Ibnul Qayyim berkata dalam *Zaadul Ma'aad*: "Bahwa Nabi ﷺ menghabiskan sepuluh tahun untuk mendatangi orang-orang di rumah mereka, pada musim-musim haji, di Majannah, dan di pasar 'Ukaazh. Beliau bersabda:
Ibn ul-Qayyim said in ‘Zaad Al-Ma’aad’: ‘That the Nabi (saw) spent ten years following up people in their houses, in the seasons of Hajj, the Majnah and the (Ukaazh) market. He would say:
"Siapakah yang akan melindungi dan mendukungku agar aku dapat menyampaikan risalah Tuhanku dan agar mereka dapat meraih Al-Jannah (surga)?" Namun beliau tidak mendapati seorang pun yang mau mendukung dan melindunginya.
‘Who will shelter me and support me so that I can convey the messages of my Lord and so that they can attain Al-Jannah (paradise) but he was unable to find anyone to support and shelter him’.
Di antara riwayat-riwayat ini terdapat juga riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Haakim dari Jaabir bin ‘Abdullah (ra) dalam ‘Al-Mustadrak’ (sesuai dengan syarat Ash-Shahihain).
From amongst these texts there is also the narration related by AlHaakim from Jaabir Bin ‘Abdullah (ra) in ‘Al-Mustadrak’ (upon the conditions of the Saheehaini):
Rasulullah ﷺ biasa menawarkan dirinya kepada orang-orang...
‘The Messenger (saw) used to present himself to the people...
Dia (Nabi) akan berkata: "Adakah seorang laki-laki yang bersedia membawaku kepada kaumnya? Sebab orang-orang Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku." Dia (Jaabir) berkata: "Kemudian datang seorang laki-laki dari Bani Hamdaan dan berkata: 'Aku bersedia.' Maka Nabi ﷺ bertanya: 'Apakah kaummu memiliki Man'ah (kekuatan dan kekuasaan untuk menolak atau mencegah bahaya)?' Ia menjawab: 'Ya.' Lalu Nabi ﷺ menanyakan dari mana asalnya. Ia berkata: 'Dari Hamdaan.' Laki-laki itu kemudian khawatir terhadap kaumnya, bahwa mereka mungkin akan melanggar perjanjian mereka. Maka ia mendekati Rasulullah ﷺ dan berkata: 'Aku akan pergi kepada kaumku dan memberitahukan mereka, lalu aku akan menemuimu pada tahun berikutnya.'"
He would say: Is there a man who will take me to his people because Quraish have prevented me from conveying the speech of my Lord? He (Jaabir) said: Then a man from Bani Hamdaan came and said: ‘I will’. So he (saw): ‘Do your people possess Man’ah (the force and power to repel/prevent harm)?’ He replied: ‘Yes’. So he asked him from where he was from. So he said: ‘From Hamdaan’. The man then feared in respect to his people and that they might break their covenant and so he approached the Messenger of Allah (saw) and said: I will go to my people and inform them and then meet you in the following year’.
Oleh karena itu, contoh di atas menunjukkan permintaan an-nushrah dengan makna mencari perlindungan bagi dirinya sendiri dan agar ia dapat melaksanakan dakwah serta menyampaikannya.
The above therefore illustrates the seeking of the Nusrah with the meaning of seeking protection for himself and to enable him to be able to undertake the Da’wah and convey it.
Adapun masalah kedua: Ini adalah mencari nushrah (pertolongan) demi tujuan dan maksud memperoleh kekuasaan, dan bukan semata-mata untuk menyampaikan risalah. Hal ini telah ditunjukkan dan diarahkan oleh nash-nash (teks-teks) yang mencakup:
As for the second issue: This is the seeking of the Nusrah for the purpose and sake of attaining the rule and not only for the sake of conveying the message. This has been indicated and guided to in the Nusoos (texts) which include:
Ketika kabilah Bikr bin Waa'il datang untuk berhaji, Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Bakar (ra): "Bawa aku kepada mereka dan perkenalkan aku kepada mereka." Maka Abu Bakar mendatangi mereka dan Rasulullah ﷺ memperkenalkan dirinya kepada mereka. Lalu beliau bertanya kepada mereka: "Berapa jumlah kalian?" Mereka menjawab: "Banyak dan besar." Beliau kemudian bertanya:
‘When the tribe of Bikr Bin Waa’il came to Hajj the Messenger of Allah (saw) said to Abu Bakr (ra): ‘Bring me to them and present me to them’. So they approached them and he presented himself to them. So he said to them: ‘How big is your number? They replied: ‘Many and substantial’. He then asked:
"Seberapa kuat daya cegah (Man'ah) kalian?" Mereka menjawab:
‘How powerful is your deterrent force (Man’ah)?’ They replied:
"Kami tidak memiliki Man'ah (kekuatan pencegah). Kami bertetangga dengan Persia dan kami tidak mencegah mereka, dan kami tidak memiliki hubungan bertetangga dengan mereka (yakni permusuhan dan peperangan)." Maka Rasulullah ﷺ kemudian hanya merasa cukup dengan membatasi perkataannya pada peringatan kepada mereka tentang Allah dan memberitahukan bahwa beliau adalah Rasulullah ﷺ. (Catatan: Tidak disebutkan sumber rujukan dalam teks asli, tetapi ditemukan hadits yang serupa dengan makna yang sama, yang diriwayatkan oleh Al-Haithami dalam *Majma' Az-Zawaa'id*.)
‘We do not have Man’ah (preventative force). We neighbour the Persians and we do not prevent from them and we do not have neighbourly relations with them (i.e. hostilities and war)’. The Messenger of Allah (saw) then just found it sufficient to confine his speech to reminding them of Allah and informing them that he was the Messenger of Allah’ (Note: No reference was mentioned in the original text but found similar sound Hadeeth with the same meaning recorded by Al-Haithami in ‘Majma’ Az Zawaa’id’).
Juga ada perundingan yang terjadi antara Nabi ﷺ dan para pemuka Bani ‘Aamir bin Sa’sa’ah ketika salah seorang dari mereka menceritakan:
Also there are the negotiations that took place between the Nabi (saw) and the Notables of Bani ‘Aamir Bin ‘Sa’Sa’ah when one of them related:
"Seorang pemuda dari Quraisy datang kepada kami dengan mengaku sebagai Nabi ﷺ dan mengajak kami untuk memberinya perlindungan (Man'ah)."
‘A young man came to us from Quraish claiming to be a Prophet and inviting us to give him preventative force (Man’ah)
Hal ini menunjukkan dan memberi petunjuk tentang penolakan untuk menerima nusrah yang di dalamnya diletakkan dan disyaratkan syarat-syarat, dalam hal nusrah itu dimaksudkan untuk merebut kekuasaan (pemerintahan).
The indicates and guides to the rejection of accepting the Nusrah in which conditions are placed and stipulated in the case where the Nusrah is for the sake of taking the rule.
Kami juga memiliki bukti berupa dialog yang terjadi antara Nabi ﷺ, Abu Bakr (ra) di satu pihak dan para pemimpin Bani Syaiban di pihak lain. Berikut ini adalah apa yang disebutkan dalam kitab ‘Ar-Rawd Al-Anf Fee Tafseer As-Seerah An-Nabawiyah’ karya Ibn Hishaam:
We also have as evidence the dialogue that took place between the Nabi (saw), Abu Bakr (ra) on one side and the chiefs of Bani Shaibaan on the other. The following is what was mentioned in the book: ‘Ar-Rawd Al-Anf Fee Tafseer As-Seerah An-Nabawiyah’ by Ibn Hishaam:
"Abu Bakr bertanya: 'Berapa jumlah kalian?'"
‘Abu Bakr asked: ‘How large is your number?’.
Salah seorang pemimpin mereka yang bernama Mafrooq berkata: "Jumlah kami lebih dari seribu orang, dan seribu orang tidak akan mudah dikalahkan (atau oleh sekelompok kecil orang) (yakni jumlahnya cukup besar)."
One of their leaders called Mafrooq said: ‘We number more than one thousand and a thousand will never be defeated easily (or by a small group) (i.e. it is substantial)’.
Abu Bakr bertanya: "Apa tingkat Man'ah (kekuatan pencegah) Anda?"
Abu Bakr asked: ‘What is the level of your Man’ah (preventative force’?
Mafrooq berkata: "Jihad itu wajib atas kita, dan setiap kaum memiliki titik kesungguhan" (yakni, kami adalah kaum yang sudah terbiasa dengan peperangan).
Mafrooq said: ‘The struggle is obliged upon us and every people has a point of seriousness’( i.e. we are people well used to war)
Abu Bakr: 'Bagaimana hasil peperangan antara kalian dan musuh-musuh kalian?' Mafrooq: 'Ketika kami berperang, kami berada dalam salah satu amarah kami dan pertempuran berkobar... Kami lebih menyukai kuda-kuda kami daripada anak-anak kami, dan kami lebih menyukai senjata daripada hewan perah. Kemenangan datang dari Allah; kadang berakhir menguntungkan kami dan kadang merugikan kami. Tampaknya engkau adalah saudara dari suku Quraisy?' Abu Bakr: 'Apakah engkau telah diberitahu bahwa dia adalah Rasulullah ﷺ? Ini dia (di sana)'.
Abu Bakr: ‘What is the result of war between you and your enemies?’ Mafrooq: ‘When we fight we are in one of our furies and the battle is enraged.... We prefer our horses to our children and we prefer weapons to milking animals. The victory comes from Allah, sometimes it ends in our favour and sometimes against us. It appears that you are a brother of Quraish?’ Abu Bakr: ‘You have been informed that he is the Messenger of Allah? Here he is (over there)’.
"Maka tujuh puluh orang dari kalangan kami mengadakan musyawarah dan pertemuan, lalu kami berkata:"
‘So seventy men from among us held a conference and meeting and we said:
"Sampai kapan Rasulullah ﷺ dibiarkan terusir ke gunung-gunung Makkah dalam keadaan takut?" Dan kami pun berangkat menemuinya hingga kami sampai kepadanya. Nabi ﷺ memberikan mereka janji rahasia yang jatuh di tengah hari-hari Tasyriq, setelah sepertiga malam berlalu di Al-'Aqabah dan setelah selesainya Haji mereka, agar mereka memberikan Bai'at kepadanya ﷺ.
‘For how long should the Messenger of Allah (saw) be allowed to be cast out into the mountains of Makkah living in fear’. And so we travelled to him until we reached him’. The Nabi (saw) gave them a secret appointment which was in the middle of the days of At-Tashreeq, after a third of a night had passed at Al-‘Aqabah and after the completion of their Hajj, in order for them to provide the Bai’ah to him (saw).
Ka'b bin Maalik (ra) meriwayatkan: "Ketika kami selesai melaksanakan haji dan tiba malam yang telah dijanjikan Rasulullah ﷺ kepada kami, kami tidur malam itu di antara kaum kami dan bekal kami. Kemudian ketika sepertiga malam telah berlalu, kami keluar menuju janji kami dengan Rasulullah ﷺ. Kami berjalan mengendap-endap seperti kucing, berusaha tetap tersembunyi hingga kami sampai di jalan pegunungan Al-'Aqabah. Di antara kami ada tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan... Kami berkumpul dan menunggu hingga Rasulullah ﷺ datang kepada kami."
Ka’b Bin Maalik (ra) related: ‘Then when we finished the Hajj and it was the night which the Messenger of Allah (saw) had appointed for us, we went to sleep that night amongst our people and supplies. Then when a third of the night had passed by we went out to our appointment with the Messenger of Allah (saw). We crept stealthily like a cat and trying to remain hidden until we reached the mountain path of Al-‘Aqabah. There were seventy-three men amongst us and two women... We gathered and waited until the Messenger of Allah (saw) came to us’.
Ketika Nabi ﷺ tiba, beliau berbicara kepada mereka dan mereka pun menjawab beliau. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau, lalu beliau ﷺ menjawabnya, kemudian mereka memberikan baiat kepada beliau. Pidato kaum Anshar dalam pertemuan itu sangat penting, dan di dalamnya terdapat:
When the Nabi (saw) arrived he spoke to them and they spoke back to him. They asked him certain questions and he (saw) answered them and then they gave him the pledge of allegiance. The speech of the Ansaar in the meeting was of significance and it included:
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqi, dan dinilai Shahih oleh Al-Hakim serta disepakati oleh Adz-Dzahabi. Ibnu Katsir berkata dalam kitab Sirah-nya: Sanad ini Jayyid (baik) menurut syarat Muslim. Ibnu Hibban menilainya Shahih.)
(Recorded by Ahmad and Al-Baihaqi, and was classified as Saheeh by Al-Haakim and agreed upon by Adh-Dhahabi. Ibn Katheer said in his Seerah: This Isnaad (chain) is Jayyid (good) according to the condition of Muslim. Ibn Hibbaan classified it as Saheeh).
Bai'at ini disebut Bai'at ul-Harb (baiat perang) karena menyetujui penggunaan kekuatan dan pedang untuk melindungi penerapan Islam serta melindungi Nabi ﷺ dan para Sahabatnya (rah).
This Bai’ah was called the Bai’at ul-Harb (the pledge of war) because it approved of the use of force and the sword to protect the application of Islaam and protect the Nabi (saw) and his Sahaabah (rah).
Setelah selesainya Bai'ah ini, Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Al-Madinah. Maka mereka pun pergi, dan kemudian Nabi ﷺ bersama Abu Bakr (ra) memulai perjalanan hijrahnya pada hari yang sama ketika para pemuka Makkah telah bersepakat untuk membunuh beliau. Kedatangan beliau di Al-Madinah menandai pengumuman berdirinya Negara Islam dan kedaulatan Syari'ah. Al-Madinah Al-Munawwarah menjadi titik pendirian dan penopang bagi Negara Islam serta perwujudan Haakimiyah Allah di muka bumi.
After the completion of this Bai’ah the Nabi (saw) commanded his companions to make Hijrah to Al-Madinah. So they went and then the Nabi (saw) accompanied by Abu Bakr (ra) began their journey of Hijrah on the very same day that the chiefs of Makkah had agreed to kill him. His arrival in Al-Madinah signified the announcement of the Islamic State and the sovereignty to the Shar’a. Al-Madinah AlMunawwarah represented the establishment and support point for the Islamic State and the realisation of the Haakimiyah of Allah upon the earth.
Dengan demikian, hal ini memperjelas hakikat mencari Nusrah dan pentingnya dalam kaitannya dengan pendirian Negara Islam. Hal ini menunjukkan bahwa ia bersifat praktis, bahwa ia merupakan perintah dari Allah Ta'ala, dan bahwa ia adalah cara yang digunakan Nabi ﷺ dalam mendirikan Negara Islam. Oleh karena itu, ia bukanlah sekadar pilihan gaya untuk meraih kekuasaan. Sebaliknya, ia adalah Hukm Shar'iy dari antara Ahkaam (hukum-hukum) Tareeqah. Hal ini juga memperjelas bahwa dalam kenyataannya tidak ada metode yang benar selain metode ini.
This therefore makes clear the reality of seeking the Nusrah and its importance in respect to the establishment of the Islamic State. It shows that it is practical, that it represents a command from Allah Ta’Aalaa and that it is the way in which the Nabi (saw) established the Islamic State. As such it is not a style of choice for the rule to be attained. Rather it is a Hukm Shar’iy from amongst the Ahkaam (rulings) of the Tareeqah. It also makes clear that there is no correct method in reality other than this method.
"Kami telah membuat janji untuk bertemu dengan Rasulullah ﷺ di lereng Al-'Aqabah... Maka kami pun datang... Lalu beliau bersabda: 'Aku akan berbicara singkat karena aku khawatir terhadap kalian dari orang-orang kafir Quraisy.' Kami berkata: 'Wahai Rasulullah, mintalah dari kami untuk Tuhanmu, mintalah untuk dirimu sendiri dan mintalah untuk para sahabatmu, dan beritahukanlah kepada kami apa yang akan kami peroleh berupa pahala di sisi Allah Tabaaraka wa Ta'aala?' Beliau ﷺ..."
‘We arranged to meet the Messenger of Allah (saw) at the descent of Al-‘Aqabah... So we came... Then he said: ‘I will be concise in my speech because I fear for you from the disbelievers of Quraish’. We said: ‘O Messenger of Allah, ask what (you wish) from us for your Lord, and ask us for yourself and ask us for your companions, and inform us what we will have of reward with Allah Tabaarak Wa Ta’Aalaa? He (saw)
"Adapun yang kuminta darimu untuk Rabbku: Yaitu agar engkau beriman kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dalam ibadah kepada-Nya.
said: ‘As for that which I ask of you for my Rabb: It is that you believe in him and do not associate anything in worship to him.
"Untuk diriku sendiri: Aku memintamu untuk menaatiku, dan aku akan membimbingmu di jalan petunjuk yang benar, dan aku memintamu untuk diriku dan para sahabatku agar kalian menolong kami dan melindungi kami dari apa yang kalian lindungi untuk diri kalian sendiri. Jika kalian melakukan hal itu, maka Allah yang akan memberi kalian Jannah (surga), dan hal ini menjadi tanggunganku." Dia ('Uqbah) berkata: "Maka kami mengulurkan tangan kami dan membaiatnya."
For myself: I ask you to obey me and I will guide you upon the paths of right guidance and I ask you for myself and my companions that you assist us and that you protect us from that which you protect yourselves. If you are to do that then it will be for Allah to give you Jannah (paradise) and this will be upon me’. He (‘Uqbah) said: ‘So we stretched forth our hands and pledged allegiance to him’.
Kami memohon kepada Allah Ta'ala agar Dia menyiapkan dan mempersiapkan bagi kami pertolongan (Nusrah) yang mampu dalam waktu dekat, yang dengannya kami akan mendirikan Negara Islam yang menerapkan Islam, memberikan kehormatan dan kekuatan (‘Izzah) kepada Islam dan kaum Muslimin, menghilangkan kezaliman (Zhulm) dan ketidakadilan dari mereka, menghapus Negara Yahudi yang merampas, mengusir kekufuran dan kolonialisme, serta melaksanakan Al-Jihaad Fee Sabeel Allah. Dan semua ini bukanlah perkara yang sulit bagi Allah.
We ask Allah Ta’Aalaa to ready and prepare for us the capable Nusrah soon by which we will establish the State of Islaam that will apply Islaam, bring honour and might (‘Izzah) to Islaam and the Muslims, remove the Zhulm (oppression) and injustice from them, remove the usurping Jewish State, expel the Kufr and colonialism and undertake Al-Jihaad Fee Sabeel Allah. And none of this is a difficult matter for Allah.
Allah tidak akan membiarkan orang-orang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sampai Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal gaib (yang tersembunyi) (Aali 'Imraan: 179).
Allah will not leave the believers in the state in which you are now, until He distinguishes the wicked from the good. Nor will Allah disclose to you the secrets of the Ghaib (unseen) (Aali ‘Imraan 179).
Reference: Taghyeer (perubahan) - Mahmoud Abdul-Kareem Hasan