Lemahnya iman termasuk dari faktor-faktor yang paling berbahaya yang memalingkan amanah dari ditunaikan dan dipikul.
The weakness of Imaan is from the most dangerous factors which diverts the Amaanah from being carried and undertaken:
Salah satu hal yang menghalangi seseorang untuk menempuh jalan ini dan memikul amanah, sekaligus menjadi sebab pembenaran bagi penyimpangan dan perubahan, adalah kelemahan iman yang membuat hati mewarisi penyimpangan dan penyakit, serta membuat wilayah iman menjadi rapuh sehingga pada akhirnya mengikuti hawa nafsu dan kesesatan (dalal). Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu.
One of the matters that prevents following this path and carrying the Amaanah, and a cause for justifying deviation and distortion, is the weakness in Imaan which makes the heart inherit deviation and disease, whilst making the area of Imaan insecure which in turn leads to following desires and Dalaal (misguidance), and refuge is sought in Allah from that.
Kelemahan dalam Iman tercermin pada: Ketika iman seseorang terhadap setiap perkara dan urusan berada di tangan Allah, bahwa Dia Ta'ala-lah yang memberi hidup dan mematikan, membagi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan sebagaimana yang Dia kehendaki, bahwa hanya Allah yang memiliki manfaat dan madharat, bahwa Dia (swt) sendirilah yang memberi 'Izzah dan mendatangkan Dzull (kehinaan), bahwa pertolongan (Nashr) hanya datang dari-Nya, dan iman bahwa:
The weakness in Imaan is reflected in: When the Imaan (belief) in every matter and affair resting in the hand of Allah, that He Ta’Aalaa is the one who gives life and death, distributes Rizq to whom He wishes and how he wishes, that Allah alone who possesses the benefit and the harm, that He (swt) alone brings ‘Izza and brings Dhull (disgrace), that the Nasr (victory) comes from Him alone and the Imaan that:
Tidak ada musibah yang menimpa di bumi maupun pada diri kalian kecuali telah tertulis dalam Kitab (Al-Lauh Al-Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak berputus asa atas apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu bangga atas apa yang diberikan-Nya kepada kalian (Al-Hadid 22-23).
No calamity happens on the earth or in yourselves except that it is inscribed in the Book (Al-Lauh Al-Mahfuz), before We bring it into existence. Verily, that is easy for Allah. This is so that you do not despair over what has eluded you and do not exult [in pride] over what He has given you (Al-Hadeed 22-23).
Kelemahan dalam keimanan adalah ketika keimanan dalam semua perkara ini hanya menjadi kata-kata yang diucapkan berulang-ulang oleh lisan atau disampaikan di atas mimbar dan dalam pengajian-pengajian Islam, namun meskipun demikian, keimanan itu tidak tampak dalam perbuatan, dalam sikap dan pendirian pada saat-saat kesulitan, kesukaran, serta saat-saat ujian dan cobaan. Kesesatan dan penyimpangan dari kebenaran yang menjadikan seluruh perkara ini tidak lebih dari kajian-kajian Kalam (filsafat), kajian tentang Sifat-sifat, serta mengikuti Al-Mutasyabihat (perkara-perkara yang samar). Semua itu bukanlah konsep yang benar, nyata, dan jujur yang menjelaskan dan menampakkan kedudukan keimanan dalam perbuatan.
The weakness in Imaan is when the Imaan in all of these matters is made into mere words that are repeated by the tongue or expressed upon the Minbars and in Islamic lessons, however despite that they do not manifest in the actions and in the positions and stances at the times of hardship, severities and the times of trials and tests. It is misguidance and deviation from the truth that makes this matter as a whole no more than studies of Kalaam (philosophical), studies in Siffaat (attributes) and the following of Al-Mutashaabihaat (the ambiguous matters). They are not true, real and truthful concepts that make clear and manifest the positions of Imaan within the actions.
Konsep-konsep yang menuntun kepada kehadiran iman adalah bahwa Allah itu Al-Akbar (Maha Besar), bahwa Dia Al-Qadeer (Maha Kuasa atas segala sesuatu), dan bahwa Dia (SWT) bersama serta berpihak kepada orang-orang yang beriman. Karena itu kita melihat keruntuhan pada saat Ibtilaa' (ujian dan cobaan), bahkan sebelum terjadinya Ibtilaa', dari mereka yang mengklaim sebagai ahli dalam 'Aqeedah dan penjelasan maknanya. Hal ini terjadi karena mereka telah mengubah konsep-konsep 'Aqeedah dan Iman menjadi diskusi intelektual dan logika. Meskipun lisan telah mengucapkannya atau hati telah memuliakannya, hal itu tetap tidak diteguhkan oleh amal. Disebutkan dalam sebuah Athar (riwayat): 'Iman adalah yang dimuliakan dalam hati dan dibuktikan dalam amal'. Maka kita melihat mereka yang mengklaim berada di atas Manhaj ini duduk tinggi di atas mimbar-mimbar para penguasa, terkait dengan Fataawa (fatwa-fatwa) yang menyenangkan para penguasa dan tuan-tuan mereka sementara membuat Allah (SWT) murka, memutarbalikkan Ahkaam Ash-Shar'iyah, menafsirkan nash-nash untuk melayani kepentingan mereka, dan mengubah pendirian mereka sesuai tuntutan sistem-sistem Kufr dan orang-orang di balik sistem tersebut dari kalangan Syaithaan manusia dan jin. Mereka pun menyesatkan kaum Muslimin dan memalingkan mereka dari pekerjaan yang benar, yaitu yang berjuang untuk menghapus Kufr beserta para penguasanya.
The concepts which guide to the presence of Imaan in that Allah is Al-Akbar (the greatest), that He is Al-Qadeer (capable over all matters) and that He (swt) is with and on the side of those who have believed. For this reason we see the collapse at the time of the Ibtilaa’ (trial and test) and indeed even before the occurrence of the Ibtilaa’, from those who claim to be experts in the Aqeedah and the explanation of its meanings. This is because they have transformed the concepts of the ‘Aqeedah and Imaan in to intellectual and logical discussions. Even though the tongue has pronounced it or the heart venerated it, it has nevertheless not been affirmed by the action. It was mentioned in an Athar (report): ‘Imaan is that which is revered in the heart and affirmed in the action’. As such we see those claiming to be upon this Manhaj high upon the Minbars of the rulers, associated with Fataawa (verdicts/rulings) which please the rulers and their masters whilst angering Allah (swt), distorting the Ahkaam AshShar’iyah, interpreting the texts to serve them and changing their positions in accordance to the demands of the systems of Kufr and those who are behind these systems from amongst the Shayaateen of men and Jinn. They therefore mislead the Muslims and seduce them away from the correct work that works for the removal of Kufr and its rulers.
Dialah yang telah menurunkan kepadamu (Muhammad ﷺ) Kitab (Al-Qur'an) ini.
It is He Who has sent down to you (Muhammad (saw)) the Book (this Quran).
Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas maknanya (Muhkam), itulah pokok-pokok Kitab, dan yang lain masih samar maknanya (Mutasyaabih). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang samar darinya, untuk mencari fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepadanya; semuanya (ayat-ayat yang muhkam dan mutasyaabih) berasal dari Tuhan kami." Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (Aali 'Imraan 7).
In it are Verses that are entirely clear (Muhkam), they are the foundations of the Book and others not entirely clear (Mutashaabih). So as for those in whose hearts there is a deviation (from the truth) they follow that which is not entirely clear thereof, seeking Al-Fitnah and seeking for its hidden meanings, but none knows its hidden meanings save Allah. And those who are firmly grounded in knowledge say: "We believe in it; the whole of it (clear and unclear Verses) are from our Lord." And none receive admonition except men of understanding (Aali ‘Imraan 7).
Tidaklah aneh jika para pendukung dan pengikut Manhaj (metodologi) ini tidak tetap teguh di atas perkataan dan perbuatan yang benar (al-Haqq) ketika sikap tersebut menuntut kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian, atau ketika hawa nafsu dan pengorbanan kedudukan serta mimbar bertabrakan dengannya.
It is not strange to find the proponents and followers of this Manhaj (methodology) not remaining firm upon the speech and acts of the Haqq when this stance requires patience and perseverance in the face of trials or when the desires and the sacrificing of positions and minbars clash with it.
Kelemahan dalam iman merupakan suatu penyakit dalam hati yang menyimpang dari keimanan bahwa segala urusan berada di tangan Allah semata, bahwa Dialah satu-satunya An-Naaf'i (Yang Memberi manfaat), bahwa bahaya berada di tangan-Nya semata, dan ia merupakan kelemahan iman dalam hal Al-Qadaa' Wa-l-Qadr. Orang yang sakit menganggap musuhnya begitu besar, sementara ia lupa bahwa Allah lebih besar dan Maha Besar. Ia melihat bahwa jalan menuju Allah dipenuhi bahaya dan risiko, sementara ia lupa bahwa ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Ta'aalaa, bahwa ia sedang diuji, dan bahwa ia harus lulus dalam ujiannya dengan tetap teguh pada pendiriannya dan amalnya. Ia lupa bahwa iman berarti ia harus kembali kepada Allah 'Azza Wa Jalla agar Allah berbalik kepadanya. Ayat-ayat Al-Qur'an, Sunnah Nabi ﷺ, dan kisah-kisah para Nabi serta kehidupan mereka, dalam pandangan orang yang sakit, hanyalah ayat-ayat yang dibaca dan dihafal tanpa Tadabbur (perenungan), kisah-kisah yang diceritakan dan diulang tanpa pertimbangan yang semestinya, dan riwayat-riwayat yang disampaikan dan diceramahkan tetapi tidak diikuti. Jika bahaya mengancam dan cobaan atau ujian sudah dekat, atau jika ia memikirkan rezekinya, keamanan, dan kenikmatan dunia beserta kemungkinan runtuhnya semua itu, maka alasan-alasan (dan dalih-dalih) pun bermunculan.
Weakness in Imaan represents a sickness within the heart that diverts from the Imaan (belief) that all matters rest in the hand of Allah alone, that He is An-Naaf’i (the one who benefits) alone, that harm lies in His hand alone and it represents a weakness of Imaan in respect to Al-Qadaa’ Wa-l- Qadr. The one who is sick regards his enemy to be great whilst forgetting that Allah is greater and the greatest. He sees that the path towards Allah is associated with dangers and risks whilst forgetting that he was created for the purpose of worshiping Allah Ta’Aalaa and that he is tested and that he must succeed in his examination by remaining firm in his stance and action. He forgets that Imaan means that he must turn to Allah ‘Azza Wa Jalla so that Allah will turn towards him. The Aayaat of the Qur’aan, the Sunnah of the Nabi (saw) and the stories of the Anbiyaa’ and their lives, in the perspective of those who are sick, only represent mere Aayaat that are recited and memorised without Tadabbur (reflection), stories that are told and repeated without due consideration, and narrations that are presented and lectured about but not followed. If dangers are threatened and a trial or test looms or if thought was given to his Rizq, security and pleasures of the Dunyaa and their potential collapse, the justifications (and excuses)
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai Awliyaa' (teman, pelindung, penolong, dan sebagainya); mereka hanyalah Awliyaa' bagi sesama mereka. Dan barangsiapa di antara kamu yang mengambil mereka sebagai Awliyaa', maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (musyrik dan orang-orang yang berbuat aniaya dan lalim). Dan engkau melihat orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit (kemunafikan), mereka bergegas mendekati (persahabatan dengan) mereka seraya berkata: "Kami takut akan tertimpa bencana." Mudah-mudahan Allah mendatangkan kemenangan atau keputusan dari sisi-Nya. Maka mereka menjadi menyesal atas apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka (Al-Maa'idah 51-52).
O you who believe! Take not the Jews and the Christians as Awliyaa' (friends, protectors, helpers, etc.), they are but Awliyaa' to one another. And if any amongst you takes them as Awliyaa', then surely he is one of them. Verily, Allah guides not those people who are the Zhaalimoon (polytheists and wrong-doers and unjust). And you see those in whose hearts there is a disease (of hypocrisy), they hurry to their friendship, saying: "We fear lest some misfortune of a disaster may befall us." Perhaps Allah may bring a victory or a decision according to His Will. Then they will become regretful for what they have been keeping as a secret in themselves (Al-Maa’idah 51-52).
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kelompok ini menyimpang dari jalan praktik yang benar, yaitu jalan Syar'iy, lalu melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan membuat-buat alasan untuk menutupi kepura-puraan mereka. Tidak aneh pula bagi orang-orang yang imannya lemah dan memiliki penyimpangan atau penyakit di dalam hatinya, untuk mengklaim bahwa yang mereka inginkan hanyalah perbaikan dan bahwa mereka termasuk orang-orang yang tulus memberi nasihat (an-Naashiheen). Setelah itu, mereka menempuh jalan dan metode demi perbaikan dan perubahan ini, jalan-jalan yang akan membuat malu siapa pun yang berakal sehat, atau yang kebaikannya lebih besar daripada keburukannya, atau yang mengetahui Qadar Allah yang telah ditegaskan oleh imannya, untuk membicarakannya. Maka kita melihat dan mendengar usulan dan argumen yang paling remeh dan sepele, seperti seruan untuk berdamai dengan para penguasa. Selain itu, mereka juga memperindah citra para penguasa, membenarkan sikap-sikap mereka, dan berusaha menerapkan syariat Islam pada tindakan-tindakan mereka.
For this reason it is not surprising for this group to diverge away from the correct practical path, the Shar’iy path, and to commit bad acts and invent justifications to cover their pretence. It is not strange for those with weak Imaan who have a deviation in their hearts or sickness to claim that all that they desire is reform and that they are from amongst the Naasiheen (sincere advisors). After that they proceed upon paths and methodologies for the sake of this reform and change, paths anyone with a sound mind or the one whose good outweighs his bad or the one who knows the Qadar of Allah which his Imaan has affirmed, would be embarrassed to speak about. We therefore see and hear the most trivial and frivolous proposals and arguments like the call for conciliation with the Rulers. This is in addition to beautifying the images of the rulers, justifying their stances and attempting to apply the Shar’iyah upon their actions.
Mereka juga menggunakan dalih kelemahan, keadaan darurat (Daroorah), dan melindungi Ummah, padahal persoalannya sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal tersebut.
They also utilise claims of weakness, necessity (Daroorah) and protecting the Ummah, whilst the issue has nothing to do with that.
Hal itu hanyalah sekadar angan-angan dan berpegang teguh pada puing-puing dunia ini serta memuaskan hawa nafsu. Karena itu, mereka membiarkan dirinya terpapar bahaya padahal mereka tidak menyadarinya.
It is rather only whims and grasping on to the debris of this Dunyaa and holding on to the desires. They therefore expose themselves whilst they are unaware of it.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Tidakkah engkau (wahai Muhammad ﷺ) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau akan menjadi penjaminnya?
Have you (O Muhammad SAW) seen him who has taken as his Ilaah (god) his own desire? Would you then be a Wakeel (a disposer of his affairs or a watcher)
…atas mereka. Ataukah engkau mengira bahwa kebanyakan dari mereka mendengar atau berpikir? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti hewan ternak. Bahkan mereka lebih sesat jalannya. (Al-Furqaan: 43-44)
over him. Or do you think that most of them hear or reason? They are not except like livestock. Rather, they are [even] more astray in [their] way (Al-Furqaan 43-44).
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Tahukah engkau orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, serta menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allah? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?
Have you seen him who takes his own lust (vain desires) as his Ilaah (god), and Allah knowing (him as such), left him astray, and sealed his hearing and his heart, and put a cover over his sight. Who then will guide him after Allah? Will you not then remember (and take heed)? (Al-Jaathiyyah 23)
Saudaraku pembaca yang saya cintai, memikul amanah berarti mengikuti jalan para nabi dan para pengikut mereka yang beriman. Itu adalah jalan cobaan, ujian, pemeriksaan, penyaringan orang-orang beriman, dan pemisahan antara yang khabeeth (buruk dan keji) dengan yang thayyib (baik dan suci). Menapaki jalan ini membutuhkan dan menuntut iman yang tulus dan benar kepada Allah serta kepada segala yang telah Allah Ta'ala beritakan. Ia menuntut rasa takut kepada Allah, dan takut hanya kepada-Nya Subhaanahu Wa Ta'aalaa, tanpa takut kepada selain-Nya. Ia menuntut iman kepada al-Qadhaa' dan al-Qadar, bahwa yang baik dan yang buruk darinya semata-mata berasal dari Allah, dan bahwa orang yang memiliki iman ini disertai dengan amal perbuatan termasuk para wali Allah.
My dear brother reader, carrying the Amaanah (trust) means following the path of the Anbiyaa’ and their believing followers. It is the path of trials, tests, examinations, screening the believers and distinguishing the Khabeeth (impure and bad) from the Tayyib (pure and good). Proceeding upon this path requires and demands the sincere and true Imaan in Allah and all that Allah Ta’Aalaa has informed of. It demands the fear of Allah and to be fearful of Him alone whilst not fearing other than Him Subhaanahu Wa Ta’Aalaa. It requires Imaan in Al-Qadaa and Al-Qadar, that their good and their bad are from Allah alone, and that the one who possesses this Imaan which is accompanied by the action is from the Awliyaa’ of Allah.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Tidak diragukan lagi! Sesungguhnya para wali Allah tidak akan merasa takut dan tidak pula bersedih hati (Yunus 62).
No doubt! Verily, the Awliyaa' of Allah no fear shall come upon them nor shall they grieve (Younus 62).
Dan bahwa para pemilik keimanan ini adalah mereka yang diberi kemenangan dan kekhalifahan (penguasaan) di muka bumi.
And that the possessors of this Imaan are those who are granted victory and succession to the authority upon the earth.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Sesungguhnya Kami benar-benar akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman (dalam keesaan Allah, tauhid Islam) dalam kehidupan dunia ini dan pada hari ketika para saksi akan berdiri (yaitu Hari Kiamat) (Ghafir 51).
Verily, We will indeed make victorious Our Messengers and those who believe (in the Oneness of Allah Islamic Monotheism) in this world's life and on the Day when the witnesses will stand forth (i.e. Day of Resurrection) (Ghaafir 51).
Dan:
And:
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan bahwa Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai untuk mereka (yaitu Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. (Dengan syarat) mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An-Nur: 55).
Allah has promised those among you who believe, and do righteous good deeds, that He will certainly grant them succession to (the present rulers) in the earth, as He granted it to those before them, and that He will grant them the authority to practise their religion, that which He has chosen for them (i.e. Islam). And He will surely give them in exchange a safe security after their fear (provided) they (believers) worship Me and do not associate anything (in worship) with Me. But whoever disbelieved after this, they are the Fasiqun (rebellious, disobedient to Allah). (An-Noor 55).
Sesungguhnya kegelisahan hati dalam menghadapi ketakutan, yaitu takut terhadap apa yang menanti di dunia, serta rasa ngeri dan sikap terlalu berhati-hati dalam menempuh jalan menuju keridhaan Allah (SWT), berasal dari rasa takut yang ditiupkan oleh Syaitan. Hal itu merupakan akibat dari mengikuti langkah-langkahnya, dan ini sendiri menunjukkan lemahnya iman.
Indeed the dislocation of the heart in the face of fears, fear from what lies in wait in the Dunyaa, being terrified and over cautious in respect to treading the path towards Allah’s pleasure (swt), emanates from a fear brought by Shaytaan. It represents the result of following his footsteps and this in itself represents weakness in Imaan.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) states:
Hanya setan yang menakut-nakuti kamu dengan para pengikutnya, maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman. {(QS. Ali ‘Imran: 175)}
It is only Shaitan that suggests to you the fear of his Awliyaa' (supporters) so fear them not, but fear Me, if you are (true) believers (Aali ‘Imraan 175).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
And He Ta’Aalaa said:
Apakah kalian takut kepada mereka? Padahal Allah lebih berhak untuk kalian takuti, jika kalian benar-benar orang-orang beriman. (At-Taubah 13)
Do you fear them for Allah is more worthy of being feared if you are truly believers (At-Taubah 13).
Dan Allah (SWT) telah menjadikan kemenangan sebagai sekutu bagi orang-orang beriman yang sabar dan tekun. Keamanan dan ketenteraman menjadi milik mereka dan hati mereka dalam setiap keadaan dan di setiap waktu.
And Allah (swt) has made the victory the ally of the patient and persevering believers. Security and tranquillity belongs to them and to their hearts in every circumstance and in every time.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Dan merupakan kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman. (Ar-Rum 47)
And it was incumbent upon us to support the believers (Ar-Room 47)
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Itulah orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan zhulm (kezaliman), bagi mereka keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (Al-An'aam 82).
It is those who believe and confuse not their belief with Zhulm (transgression) for them there is security and they are the guided (Al-An’aam 82).
Dan:
And:
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqan (pembeda) yaitu (kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah), atau (Makhraj, yakni jalan keluar bagimu dari setiap kesulitan), dan akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, serta mengampuni kamu. Dan Allah memiliki karunia yang besar. {QS. Al-Anfal: 29}
O you who believe! If you obey and fear Allah, He will grant you Furqan a criterion [(to judge between right and wrong), or (Makhraj i.e. making a way for you to get out from every difficulty)], and will expiate for you your sins, and forgive you, and Allah is the Owner of the Great Bounty (Al-Anfaal 29).
Dan:
And:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik. (Al-'Ankabut: 69)
And those who strive for Us - We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good (Al-Ankaboot 69).
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Tetapi kemuliaan (kekuatan dan keagungan) hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya ().
Oleh karena itu, kewajiban manusia hanyalah taat kepada Allah (SWT) dan menjauhi maksiat kepada-Nya Ta'ala, sambil memahami Sunan (ketetapan) Allah terhadap makhluk-makhluk-Nya.
It is therefore only upon the human being to act in obedience to Allah (swt) and to avoid disobedience to Him Ta’Aalaa whilst comprehending the Sunan (ways) of Allah in respect to His creations.
Dia tetap teguh dan bertekad kuat untuk menegakkan hukum Allah atas dirinya dan di atas bumi, serta tetap kokoh menghadapi kesulitan maupun di waktu lapang dan kemakmuran. Ia mengetahui bahwa Allah pasti akan menguji dan mengawasinya, sehingga ia tidak boleh membiarkan Allah menyaksikan darinya selain apa yang telah diperintahkan kepadanya. Jika tidak, ia akan tersesat, meskipun ia termasuk orang-orang yang berilmu, sebab syaitan kemudian akan menggodanya dan menyesatkannya. Betapa banyak pelajaran untuk direnungkan dan diambil perhatian yang telah dikisahkan kepada kita dalam Al-Qur'an Al-Karim, dalam kisah-kisah para Nabi (Nabiyyeen) dan berita tentang orang-orang yang terdahulu sebelum kita, yang memberitahukan kepada kita bahwa akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa (Muttaqeen), yaitu mereka yang takut dan taat kepada Allah Ta'aalaa.
He remains determined with firm resolve to establish the rule of Allah upon himself and upon the earth and remains firm in the face of hardship and in times of ease and affluence. He knows that Allah will surely test him and observe him, and as such he must not let Allah witness from him except that which he has been commanded with. Otherwise he will go astray; even if he was from those who possessed knowledge and Shaytaan would have then seduced him and led him astray. And how many lessons for contemplation and taking note have been told to us in the Qur’aan Al-Kareem in the Qisas (stories) of the of the Nabiyyeen (Prophets) and the news of those who passed by before us, informing us that the good end belongs to the Muttaqeen (those who fear and obey Allah Ta’Aalaa).
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (Yusuf: 111)
Indeed their stories provide a lesson for those of understanding ((Yousuf 111).
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Sesungguhnya Fir'aun (Firaun) berbuat sewenang-wenang di negeri (Mesir) dan menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok, menindas segolongan dari mereka (yakni Bani Israil), menyembelih anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan (yakni orang-orang yang melakukan dosa besar dan kejahatan, penindas, tiran, dan sebagainya). Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di negeri itu, menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka pewaris (kekuasaan), serta meneguhkan kedudukan mereka di negeri itu, dan Kami perlihatkan kepada Fir'aun, Haman, dan bala tentara mereka apa yang selalu mereka khawatirkan dari golongan itu. (Al-Qasas: 4-6)
Verily, Fir'aun (Pharaoh) was arrogant in the land and made its people into groupings, weakening (oppressing) a group (i.e. Children of Israel) among them, killing their sons, and letting their females live. Verily, He was of the Mufsidoon (i.e. those who commit great sins and crimes, oppressors, tyrants, etc.). And we wished to do a favour to those who were weak (and oppressed) in the land, and to make them rulers and to make them the inheritors (of the authority). And to establish them in the land, and we let Fir'aun (Pharaoh) and Haamaan and their hosts receive from them that which they had been warned of (Al-Qasas 4-6).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
And He Ta’Aalaa said:
Dan sungguh telah Kami tuliskan di dalam Zabur setelah Adz-Dzikr (di dalam Lauhul Mahfuzh) bahwa hamba-hamba-Ku yang saleh akan mewarisi bumi (Al-Anbiya' 105).
And indeed we have written in the Zaboor (Psalms) after Adh-Dhikr (in the Lawh Al-Mahfoozh) that my righteous slaves shall inherit the land (AlAnbiyaa’ 105).
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Saudaraku yang beriman, saudaraku yang Muslim: Perbaruilah imanmu dan sucikanlah hatimu dari penyakit, kebencian, dan kekurangan dalam iman.
My believing brother, my Muslim brother: Renew your Imaan and purify your heart from disease, aversion and deficiency in Imaan.
Teguhkanlah Imanmu dengan amal saleh dan sikap teguh yang diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla. Bergabunglah dengan orang-orang beriman yang berjuang menegakkan Hukum Allah (swt) di muka bumi, dan sabarkanlah dirimu dalam pekerjaanmu bersama mereka. Ketahuilah bahwa Ajalmu (umurmu)
Affirm your Imaan by the righteous action and the firm stance that is pleasing to Allah ‘Azza Wa Jalla. Join with the believers working to establish the Hukm of Allah (swt) upon the earth and make your Nafs patient in your work with them. Know that your Ajal (lifespan)
telah tertulis, rezeki Anda telah dibagikan, dan apa pun yang telah Allah tetapkan akan terjadi pada Anda, baik itu baik maupun buruk, dan apa pun yang tidak ditetapkan akan terjadi pada Anda tidak akan pernah terjadi, bahkan jika seluruh jin dan manusia berkumpul bersama. Apa pun yang menguntungkan atau merugikan Anda adalah milik Allah, dan jika seluruh manusia di muka bumi berkumpul untuk satu perkara, mereka tidak akan memiliki kuasa atasnya. Urusan itu hanya bergantung pada perbuatan Anda sendiri; perbuatan tersebut dapat menjadi untuk Anda (dan demi kebaikan Anda) atau menjadi melawan Anda.
has been written, your Rizq (provision) has been divided and whatever Allah has written to happen to you will happen to you whether this is good or bad and whatever has not been written to happen to you will never happen to you and even if all of Jinn and mankind were to gather together. Whatever is for you or against you is that which Allah possesses and if all of the people upon the face of the earth were to gather together upon a single matter they would have no power over it. The issue rests alone upon your own actions; they can either be for you (and your benefit) or against you.
Dan katakanlah: Bekerjalah kalian! Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan (At-Taubah 105).
And Say: Act (work)! Allah will see your work (what you have done), and (so will) his Messenger and the believers. And you will (then) be brought back to the All-Knower of the unseen and the seen and then He will inform you of what you had been doing (At-Taubah 105).
Oleh karena itu, pahamilah persoalan ini sepenuhnya dan bergabunglah bersama kaum mukminin yang berjuang menegakkan Khilafah serta menjadi saksi atas umat manusia dengan menyampaikan Da'wah kepada mereka. Sesungguhnya kemenangan itu akan datang, Dien yang Haq akan berjaya, dan urusan Allah akan mendominasi.
Therefore make yourself comprehend this issue fully and join with the believers working to establish the Khilafah and to bear witness over mankind by carrying the Da’wah to them. Indeed the victory is coming, the Deen of Haqq will prevail and Allah’s affair will dominate:
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq (benar) agar dimenangkan-Nya di atas segala agama lain, meskipun orang-orang musyrik membencinya (At-Taubah 33, As-Saff 9).
He it is who has sent His Messenger with the guidance and the Deen of Haqq (truth) to make it prevail over all other Deens and even if the Mushrikeen (polytheists, disbelievers) detest it (At-Taubah 33, As-Saff 9).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
And He Ta’Aalaa said:
Allah telah menetapkan: "Sesungguhnya Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang." Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al-Mujadilah: 21)
Allah as ordained that I and My Messengers will definitely prevail, Verily Allah is Qawiyy ‘Azeez (Al-Mujaadalah 21).
Dan Allah (swt) berfirman:
And Allah (swt) said:
Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (yaitu mereka yang takut kepada Allah dan taat kepada-Nya) (Al-A'raf 128, Al-Qasas 83).
And the good end belongs to the Muttaqeen (those who fear Allah and obey Him) Al-‘Aaraaf 128, Al-Qasas 83).
Adapun musuh-musuh agama Allah; orang-orang kafir, para antek, kaki tangan, mata-mata, dan badan intelijen mereka, maka mereka semua pasti akan dikalahkan.
As for the enemies of Allah’s Deen; the disbelievers, their agents, henchmen, spies and intelligence agencies, then they will all surely be defeated.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menafkahkan harta itu, kemudian harta itu menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang yang kafir itu akan dikumpulkan ke dalam Neraka Jahanam (Al-Anfal: 36).
Verily, those who disbelieve spend their wealth to hinder (men) from the path of Allah, and so will they continue to spend it; but in the end it will become an anguish for them. Then they will be overcome and those who have disbelieved will be gathered in Hell (Al-Anfaal 36).
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Dia akan menyesatkan amal-amal mereka (Muhammad 1).
Those who disbelieve and hinder (men) from the Path of Allah He will render their deeds worthless (Muhammad 1).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
And He Ta’Aalaa said:
Perumpamaan orang-orang yang mengambil awliyā' (pelindung dan penolong) selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba, yang membuat rumah (untuk dirinya sendiri), dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba; sekiranya mereka mengetahui (Al-‘Ankabut 41).
The likeness of those who take Awliyaâ' (protectors and helpers) other than Allah is as the likeness of a spider, who builds (for itself) a house, but verily, the frailest (weakest) of houses is the spider's house; if they but knew (Al-‘Ankaboot 41).
Bersabarlah dan teguhlah, wahai saudaraku sesama Muslim:
Patiently persevere my Muslim brother:
Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah adalah benar (Al-Haqq) (Ghafir: 55).
Be Patient for verily the promise of Allah is Al-Haqq (the truth) (Ghaafir 55).
Dan tentukanlah dalam dirimu sendiri sikap dan pendirian yang teguh, bersikaplah jujur terhadap dirimu sendiri dalam hal itu, serta jujur dan ikhlas kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
And determine within yourself a firm position and stance, and be truthful to yourself in respect to it and be truthful and sincere to Allah Subhaanahu Wa Ta’Aalaa:
Sesungguhnya Wali-Ku (Pelindung, Penolong, dan Pembela, dan sebagainya) adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an), dan Dia melindungi (membela dan menolong) orang-orang yang saleh. Dan mereka yang kalian seru selain Dia (Allah) tidak dapat menolong kalian, bahkan tidak dapat menolong diri mereka sendiri. (Al-A'raf: 196-197)
Verily, My Walî (Protector, Supporter, and helper, etc.) is Allah who has revealed the Book (the Qur'aan), and He protects (supports and helps) the righteous. And those whom you call upon besides Him (Allah) cannot support you nor can they support themselves (Al-A’araaf 196-197)
Reference: Taghyeer (perubahan) - Mahmoud Abdul-Kareem Hasan