5 Sarana dan Gaya Pengajaran
5 Teaching means and styles
Setiap gagasan memiliki metode pelaksanaannya. Adapun gaya (uslub) adalah cara-cara tertentu yang tidak tetap dalam melaksanakan suatu tindakan. Gaya dalam bidang pendidikan mencakup semua jenis kegiatan terarah yang dilakukan guru dengan tujuan membantu murid-muridnya mencapai sasaran, yaitu menyampaikan pemikiran, konsep, dan berbagai ilmu pengetahuan dengan cepat dan berhasil. Guru dapat memilih berbagai gaya sesuai dengan keadaan pendidikan, sehingga ia memperhatikan tingkat murid-muridnya dan memilih gaya yang terbaik untuk mencapai tujuan, misalnya gaya debat, diskusi, penceritaan (narasi), bercerita, pemecahan masalah, eksperimen, latihan praktik langsung, dan lain sebagainya. Sering kali gaya membutuhkan satu atau lebih sarana untuk melaksanakan tindakan. Sarana dan gaya tidaklah tetap; keduanya berubah, berkembang, dan beragam sesuai dengan keadaan, orang, dan kemungkinan yang ada. Sebagaimana suatu metode harus ada untuk melaksanakan suatu tindakan, sarana dan gaya memainkan peran penting dalam melaksanakan metode tersebut. Keberhasilan dalam melaksanakan tindakan dengan cepat dan tepat bergantung pada inovasi sarana dan gaya yang sesuai untuk melaksanakan tindakan ini.
Every idea has its method of execution. As for styles, they are specific non-permanent modes of performing the action. Styles within the subject of education means all types of directed activity that the teacher undertakes with the objective of assisting his students to realise the goal, namely communicating thoughts, concepts and diverse knowledge quickly and successfully. The teacher can choose diverse styles according to what suits the education situation, so he heeds the level of students and chooses the best style to achieve the goal e.g. styles such as debate, discussion, narration, story telling, problem solving, experimentation, direct practical exercises, etc. Often styles require one or more means to perform the action. Means and styles are not permanent; they change, evolve and ennumerate according to circumstances, people and possibilities. Just as a method must exist to execute an action, means and styles play an important role in executing this method. Accomplishing the action quickly and successfully depends upon innovating suitable means and styles to perform this action.
Misalnya, metode pendidikan, yakni penyampaian rasional dari guru dan pembelajaran intelektual dari murid, secara historis dilaksanakan melalui sarana dan gaya seperti pena dan kertas, atau secara lisan, dan/atau melalui peniruan dan tulisan. Dewasa ini sarana dan gaya juga digunakan untuk melaksanakannya, tetapi berbeda dari sarana dan gaya sebelumnya, misalnya gambar cetak dan gambar bergerak, kaset audio, eksperimen laboratorium, dan lain-lain. Sekolah harus menggunakan sarana dan gaya yang tepat untuk memantapkan metode rasional pada siswa, karena hal ini merupakan dasar bagi pemikiran yang tercerahkan sekaligus kebangkitan di atas landasan Islam. Pemikiran yang tercerahkan memecahkan masalah terbesar manusia; dan ia juga memberikan manusia gagasan yang menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta, tentang apa yang mendahului kehidupan dunia dan apa yang mengikutinya, serta hubungannya dengan apa yang mendahului dan mengikutinya. Dengan demikian ia memperoleh, melalui metode rasional, akidah Islam yang menjadi dasar bagi negara, umat, dan sistem dalam Islam.
For instance, the method of education, namely the teacher’s rational address and the student’s intellectual learning was historically accomplished via means and styles such as pen and paper, or orally, and/or through imitation and writing. Nowadays means and styles are also employed to accomplish it but they differ from previous means and styles e.g. printed and moving pictures, audio cassettes, laboratory experiments, etc. The school must use appropriate means and styles to consolidate the rational method in students since this is the basis both for enlightened thinking as well as revival upon the Islamic basis. Enlightened thinking solves man’s greatest problem; and it also provides man the comprehensive idea about man, life and the universe, what preceded earthly life and what follows it, and its relationship with what preceded and what follows it. Thus he attains, via the rational method, the Islamic ‘aqeedah that is the basis for the State, Ummah and system in Islam.
Sejak abad ke-19 Masehi, Eropa, kemudian Amerika dan Rusia, berhasil melakukan inovasi Revolusi Industri secara menakjubkan, yang merupakan hasil dari gaya penelitian ilmiah yang dikenal sebagai "metode ilmiah." Setelah diteliti, metode ilmiah terbukti benar dan efektif hanya dalam ilmu-ilmu empiris; demikian pula, tidak keliru menyebutnya sebagai metode, karena ia merupakan teknik penelitian yang spesifik dan permanen. Namun, kekeliruan terletak pada menjadikannya sebagai dasar berpikir sebagai pengganti metode rasional, karena hal itu mengarah pada pengingkaran terhadap keberadaan banyak fakta dan pengetahuan yang keberadaannya telah dibuktikan manusia melalui metode rasional, misalnya keberadaan Allah dan kenabian Muhammad (ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam). Dengan demikian, metode ilmiah adalah metode yang benar, tetapi khusus hanya untuk materi yang nyata (madda) yang dapat diteliti melalui eksperimen untuk mengetahui hakikat dan sifat-sifat materi tersebut melalui eksperimen. Meski demikian, metode rasional dengan empat unsur penyusunnya tetap menjadi dasar berpikir, karena ia digunakan tidak hanya dalam meneliti materi nyata, misalnya dalam fisika dan lain-lain, tetapi juga dalam meneliti pemikiran seperti doktrin intelektual (‘aqīdah), legislasi dan sejarah, serta dalam meneliti bahasa, misalnya sastra dan lain-lain. Jika suatu kesimpulan rasional kebetulan bertentangan dengan kesimpulan ilmiah mengenai keberadaan sesuatu, maka kesimpulan rasional yang diambil, karena putusannya mengenai keberadaan sesuatu bersifat pasti.
From the 19th century Christian Era, Europe and thereafter America and Russia succeeded in innovating the Industrial Revolution in a breathtaking manner, itself a result of scientific research styles that became known as the “scientific method.” Upon examination, the scientific method proves to be correct and effective in empirical sciences only; similarly it is not wrong to call it a method as it is a specific and permanent research technique. However, the error lies in taking it as a basis for thinking in place of the rational method as that leads to negating the existence of numerous facts and knowledge whose existence man proved via the rational method e.g. the existence of Allah and the Prophethood of Muhammad (salla Allahu ‘alaihi wa sallam). Thus the scientific method is a correct method but specific only to tangible materials (madda) susceptible to experimentation in order to know the material’s reality and attributes via experimenation. Nevertheless the rational method with its four (constituent) elements remains the basis for thinking as it is employed not only in researching tangible materials e.g. in physics etc, but also in researching thoughts like the intellectual doctrine (‘aqeedah), legislation and history as well as in researching language e.g. literature etc. If a rational conclusion happens to contradict with a scientific conclusion with respect to a thing’s existence, the rational conclusion is adopted since its judgement with respect to a thing’s existence is definitive.
Metode ilmiah hanya terbatas pada penggunaannya dalam ilmu-ilmu empiris, misalnya kimia dan fisika, untuk memahami hakikat dan sifat-sifat benda-benda alam semesta yang Allah ta'ala tundukkan untuk melayani manusia, agar manusia dapat mengambil manfaat dari benda-benda tersebut dan sifat-sifatnya sesuai dengan aturan-aturan Islam.
The scientific method is restricted to use in empirical sciences e.g. chemistry and physics to realise the reality and attributes of the universe’s materials that Allah ta’ala subjugated to man’s service in order to derive benefit from such materials and their attributes according to the Islamic rules.
Sebagian filsuf, terutama bangsa Yunani kuno, menganggap "metode logika" sebagai suatu metode berpikir, padahal logika bukanlah metode berpikir, dan juga tidak mencapai tingkat penelitian ilmiah (metode ilmiah). Logika hanyalah salah satu gaya dari metode rasional (yaitu membangun satu gagasan di atas gagasan lain untuk sampai pada suatu kesimpulan), namun merupakan gaya yang rumit dan berpotensi keliru, menipu, dan menyesatkan. Logika juga dapat menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang dengan kenyataan, sehingga lebih baik dihindari. Jika tetap digunakan, kesimpulannya harus diuji kembali dengan metode rasional.
Some philosophers, particularly the ancient Greeks, consider the “logical method” a method of thinking, whereas logic is neither a method of thinking nor does it reach the level of scientific research (the scientific method). Rather logic remains one style of the rational method (i.e. building one idea upon another idea to reach a conclusion), but it is a complicated style with the potential to err, deceive and mislead. It can also reach the opposite of the reality, thus it is better to avoid it. If used, its conclusion must be subjected to the rational method.
Perancang kurikulum untuk sekolah dan guru harus memperhatikan pemikiran-pemikiran berikut ketika memilih sarana dan gaya pengajaran untuk mata pelajaran apa pun:
The designer of the curriculum for schools and teachers must pay attention to the following thoughts when choosing the teaching means and styles for any subject:
Sarana dan metode bersifat sementara, sehingga guru harus berinovasi menciptakan sarana dan metode yang bermanfaat agar murid memahami pemikiran yang dianut, dengan memperhatikan kondisi serta perbedaan individu mereka.
Means and styles are temporary, so the teacher must innovate useful means and styles to make students understand the adopted thoughts, while taking their circumstances and individual differences into account.
Indra (pendengaran, penglihatan, sentuhan, penciuman dan perasa) merupakan unsur mendasar dalam berpikir yang digunakan untuk menyampaikan penginderaan terhadap realitas ke otak. Guru hendaknya memungkinkan para murid untuk menggunakan sebanyak mungkin indra tersebut—sebisa mungkin—untuk merasakan realitas dari subjek yang dipelajari (berpikir) jika realitas itu dapat diakses oleh mereka selama mereka belajar. Jika realitas itu tidak dapat diakses, maka realitas tersebut harus didekatkan ke benak mereka dengan menggunakan segala cara dan gaya yang mungkin, hingga mereka membayangkannya seolah-olah mereka telah menginderainya, karena penginderaan terhadap realitas merupakan unsur mendasar dalam berpikir. Setiap kali lebih banyak indra terlibat dalam menginderai realitas, maka penginderaan seseorang terhadap realitas tersebut semakin mendalam dan penilaiannya terhadap realitas beserta sifat-sifatnya menjadi semakin tepat.
Senses (hearing, sight, touch, smell and taste) are a fundamental element in thinking used to transfer the sense of the reality to the brain. The teacher should enable students to use most of these senses—as much as possible—to sense the reality of the subject of study (thinking) if the reality is accessible to them as they study. If the reality is not accessible, one should bring this reality closer to their minds using all possible means and styles until they imagine it as if they sensed it, since sensing the reality is a fundamental element of thinking. Whenever more senses are involved in sensing the reality, the person’s sensation of the reality deepens and his judgement upon it and its attributes becomes more precise.
Dengan mempertimbangkan capaian kebahasaan para siswa dalam penyusunan kurikulum dan dalam cara berkomunikasi dengan mereka.
Taking into account the students’ linguistic achievement in writing the curriculum and in addressing them.
Mengingat pemahaman manusia terhadap bentuk menyeluruh (seegha kulliyya) dari sesuatu sebelum memahami rinciannya, khususnya bagi para pelajar berusia enam hingga sepuluh tahun, hal ini menuntut:
Taking into account human understanding of the comprehensive form (seegha kuliyya) of things before understanding its details, particularly for students between six and ten years old, which necessitates:
- Mengajarkan kepada siswa kata-kata yang menunjukkan makna sebelum mengajarkan huruf. Setelah mereka memahami bahwa makna sebuah kata menandakan realitas khususnya, dimulailah proses analisis kata: yaitu penjelasan huruf dan suku kata yang membentuk kata tersebut. Hal ini disertai dengan proses penyusunan, yaitu menyusun kata-kata baru dari huruf-huruf yang telah dipelajari dan menyusun kalimat-kalimat baru dari kata-kata yang telah dipelajari. Ini menggabungkan dua metode pengajaran bahasa: metode huruf dan metode kalimat.
- Teaching students the words denoting meanings before teaching them the letters. After they understand that the meaning of a word signifies its specific reality, the process of word analysis begins: which is the explanation of letters and syllables that constitutes that word. This is accompanied by the composition process; namely composing new words from the letters learnt and composing new sentences from the words learnt. This merges two methods of teaching the language: The letter method and the sentence method.
- Mengajarkan kepada mereka gambaran tentang hal-hal yang tampak terlebih dahulu sebelum mengajarkan unsur-unsur dan sifat-sifat khususnya.
- Teaching them the description of apparent things before teaching their specific elements and attributes.
Mengajarkan biografi singkat para tokoh sebelum mengajarkan kehidupan dan perbuatan para tokoh tersebut secara terperinci.
- Teaching them the summarized biographies of personalities before teaching the detailed lives and actions of these personalities.
Mengajarkan kepada mereka makna-makna umum dan gagasan-gagasan dasar dalam teks sebelum mengajarkan perincian dan cabang-cabangnya.
- Teaching them the general meanings and basic thoughts in the text before teaching the details and branches.