1.4 Kapitalisme dalam Praktik: Papan Skor Kinerja
1.4 Capitalism in Action: Performance Scoreboard
Keberhasilan atau kegagalan suatu sistem ekonomi seharusnya diukur dari dampak langsungnya terhadap kehidupan rakyat yang hidup di bawah sistem ekonomi tersebut. Ukuran pertumbuhan ekonomi, perluasan kekayaan, dan stabilitas keuangan harus dikaitkan dengan kondisi kesulitan yang dialami masyarakat. Dampak dari sistem ekonomi, dalam hal ini kapitalisme, harus diukur dari tingkat keamanan dan kepuasan yang diberikan kepada rakyat. Keamanan dan kepuasan tersebut selanjutnya diukur dari segi keamanan pangan, keamanan pendidikan, keamanan kesehatan, dan keamanan fisik. Ukuran lain dari stabilitas sistem adalah keyakinan moral, etika, dan ideologis serta kepercayaan terhadap landasan ekonomi tersebut.
The success or failure of an economic system should be measured by the direct impact it has on the life of the people who live under that economic system. Measures of economic growth, wealth expansion, and financial stability should be correlated to the plights of people in the society. The impact of the economic system, in this case capitalism, should be measured by the level of security and satisfaction provided to the people. The security and satisfaction are further measured in terms of food security, education security, health security, and physical security. Another measure of the stability of the system is the moral, ethical, and ideological conviction and trust in the economic foundation.
Dua sistem besar telah mendominasi arena dunia dalam seratus tahun terakhir, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Sosialisme runtuh sebelum akhir abad kedua puluh dengan kegagalan total dan karena itu tidak akan dibahas dalam buku ini kecuali jika diperlukan untuk memperjelas suatu konsep.
Two major systems have dominated the world arena in the last one hundred years, namely, capitalism and socialism. Socialism collapsed before the end of the twentieth century with a complete failure and hence will not be discussed in this book except where it is needed to clarify a concept.
Setelah runtuhnya sosialisme, kapitalisme terus mendominasi seluruh dunia; berbagai corak kapitalisme ada di berbagai belahan dunia. Bahkan Tiongkok yang masih sosialis telah mengadopsi corak kapitalisme versi sosialis. Setelah runtuhnya sosialisme Leninis Soviet, kapitalisme memasuki era ekonomi global, yang secara resmi dikenal sebagai globalisasi. Globalisasi memperluas dampak dan pengaruh kapitalisme hingga ke hampir setiap penjuru dunia. Krisis keuangan terbaru, yang bermula di Amerika Serikat, menjalar ke Eropa, Jepang, Tiongkok, Timur Tengah, dan Afrika. Kajian tentang dampak kapitalisme tidak terbatas pada satu negara tertentu; sebaliknya, dampaknya teramati secara global.
After the collapse of socialism, capitalism proceeded to dominate the entire globe; different flavors of capitalism exist in different parts of the world. Even socialist China has adopted a cocialist brand of capitalism. After the collapse of Soviet Leninist socialism, capitalism had entered the era of global economy, more officially known as globalization. Globalization extended the impact and influence of capitalism to almost every corner of the world. The most recent financial crisis, which started in the United States, rippled through Europe, Japan, China, the Middle East, and Africa. The study of the impact of capitalism is not constrained to a particular nation; rather its impact is observed globally.
Tanggung jawab kapitalisme terhadap situasi ekonomi dunia secara umum adalah fakta yang diakui. Globalisasi telah menjadikan kapitalisme dunia sebagai sistem ekonomi de facto dunia. Kegiatan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), dua instrumen utama dunia kapitalis, bertanggung jawab secara langsung maupun tidak langsung atas kondisi ekonomi di negara-negara berkembang.
The responsibility of capitalism to the economic situation of the world at large is an acknowledged fact. Globalization has made world capitalism the de facto economic system of the world. The activities of the World Bank and the International Monetary Fund (IMF), the two main instruments of the capitalist world, are directly and indirectly responsible for the economic conditions in the developing world.
Hubungan antara kemiskinan di dunia pada umumnya dan instrumen kapitalis, IMF, tercermin dalam banyak kasus dan cerita. Salah satu kasus yang jelas terlihat adalah krisis beras Haiti baru-baru ini. Krisis beras Haiti dituturkan dalam sebuah artikel yang menyentuh, yang diterbitkan oleh Inter Press Service (IPS), sebuah lembaga komunikasi dengan fokus pada pembangunan dan globalisasi di belahan selatan62.
The relation between poverty in the world at large and the capitalist instrument, the IMF is reflected in numerous cases and stories. One of such cases stands clear in the recent Haiti rice crisis. The Haiti rice crisis is narrated in a moving article, published by Inter Press Service (IPS), a communication institution with focus on development and globalization in the south62.
Artikel ini melaporkan seorang perempuan dengan tiga anak yang mengatakan bahwa ia tidak lagi sanggup membeli beras untuk memberi makan ketiga anaknya, di sebuah negara yang dahulu merupakan salah satu produsen beras terbesar di dunia. Ibu dari tiga anak ini menjelaskan dilema yang dihadapinya: sekaleng kecil beras saja berharga enam puluh lima sen, minyak dua puluh lima sen, dan arang dua puluh lima sen. Dengan dua dolar dua puluh lima sen (garis kemiskinan absolut yang ditetapkan oleh PBB), bahkan satu porsi makan nasi untuk satu anak pun tidak bisa dibuat. Haiti, negara termiskin di belahan bumi ini, mengimpor sebagian besar pangan yang dikonsumsinya; hal ini merupakan akibat dari kebijakan pasar bebas yang melemahkan produksi nasional. Presiden Haiti René Préval mengakui bahwa "beras impor yang murah menghancurkan beras yang ditanam di dalam negeri"62. Tiga puluh tahun yang lalu, Haiti memproduksi hampir seluruh beras yang dikonsumsinya. Namun pada akhir 1980-an, beras impor murah dari Amerika Serikat membanjiri negeri ini setelah sebuah junta militer mulai melonggarkan perekonomian dengan dukungan Dana Moneter Internasional (IMF).
The article reports on a woman with three children who says that she can no longer afford to purchase rice to feed her three children in a country which once was one of the largest rice producers in the world. The mother of three explains the dilemma: a little can of rice alone costs sixty-five cents, oil is twenty-five cents, and charcoal is twenty-five cents. With dollar twenty-five cents (the absolute poverty line set by the UN), you can’t even make a rice meal for one child. Haiti, the hemisphere’s poorest country, imports most of the food it consumes; this is the result of free-market policies that have undermined national production. The president of Haiti René Préval recognized that “cheap imported rice destroyed nationally grown rice”62. Thirty years ago, Haiti produced nearly all the rice it consumed. But in the late 1980s, cheap imported US rice flooded the country after a military junta began liberalizing the economy with support from the International Monetary Fund (IMF).
Batch pertama beras impor dikawal oleh konvoi bersenjata. Para petani padi memandang beras AS impor sebagai ancaman bagi produksi dan mata pencaharian mereka. Ternyata, kekhawatiran mereka beralasan. Pada tahun 1994, sebuah rencana yang didukung IMF memangkas tarif beras impor dari 35% menjadi 3%, yang terendah di kawasan. Dalam satu tahun, jumlah impor beras meningkat dua kali lipat.
The first batches of imported rice were escorted by armed convoys. Rice farmers regarded the imported US rice as a threat to their production and livelihoods. As it turned out, their concerns were justified. In 1994, an IMF-sponsored plan cut tariffs on imported rice from 35% to 3%, the lowest in the region. In one year, the amount of rice imports doubled.
Sementara pemerintah AS memberikan subsidi kepada petani padinya sendiri, mitra mereka di Haiti dilarang melakukan hal serupa berdasarkan ketentuan perjanjian mereka dengan IMF. Selama dua puluh tahun terakhir, produksi beras di Haiti telah terpangkas separuhnya, sementara impor kini mendominasi pasar. Bagi banyak orang di Haiti, kekurangan gizi dan kelaparan menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
While the US government subsidizes its own rice farmers, its Haitian counterpart was prohibited from doing so under the terms of their agreement with the IMF. Over the last twenty years, rice production in Haiti has been cut in half, while imports now dominate the market. For many people in Haiti, undernutrition and starvation is the only remaining option.
Pada akhir abad kedua puluh, diperkirakan dua puluh hingga tiga puluh juta orang di seluruh dunia kehilangan tanah mereka akibat dampak liberalisasi perdagangan dan pertanian berorientasi ekspor63. Program bantuan pangan internasional Amerika Serikat, yang diresmikan pada tahun 1954 sebagai Public Law 480, mendominasi lanskap perdagangan pangan selama dua dekade berikutnya. Surplus pangan yang dikelola Amerika Serikat didistribusikan kepada negara-negara yang dianggap sebagai pelanggan di masa depan. Rezim ekspor pangan ini memang melemahkan petani lokal dengan harga pangan pokok yang rendah64.
By the end of the twentieth century, twenty to thirty million people around the world were estimated to have lost their land under the impact of trade liberalization and export agriculture63. The US international food aid program, formalized in 1954 as Public Law 480, dominated the food trade landscape over the next two decades. US-managed food surpluses were distributed to states regarded as future customers. This food export regime indeed undermined local farmers with low-priced staple foods64.
Instrumen utama dalam memengaruhi perekonomian lokal di seluruh dunia adalah Bank Dunia dan IMF melalui apa yang dikenal sebagai Program Penyesuaian Struktural (Structural Adjustment Programs/SAPs). Dirumuskan sebagai syarat pinjaman, SAPs mewajibkan perubahan kebijakan makroekonomi yang mengharuskan negara penerima untuk meliberalisasi kebijakan perdagangan dan investasi mereka. Akibatnya, pemerintah menurunkan tarif atas barang impor, mencabut subsidi atas produk lokal, khususnya pangan, memindahkan lahan pertanian dalam jumlah besar menjadi lahan pertambangan dan eksplorasi minyak, dan menjerumuskan negara-negara tersebut ke dalam kesulitan membayar utang. Hasil akhirnya adalah ketergantungan pada pangan dan pasokan impor oleh korporasi kapitalis raksasa.
The main instruments of influencing the local economies worldwide have been the World Bank and the IMF through what is known as the Structural Adjustment Programs (SAPs). Formulated as loan conditions, SAPs mandated macroeconomic policy changes that obligate recipient nations to liberalize their trade and investment policies. As a result, governments reduced tariffs on imported goods, lifted subsidies on local products, particularly food, moved large acreage land from farming into mining and oil exploration, and plunged the nations into difficulty to repay loans. The end result is dependence on imported foods and supplies by giant capitalist corporations.
Dominasi kapitalisme di dunia dan dampaknya terhadap kondisi ekonomi dunia tampak dari meluasnya kemiskinan, kelaparan, wabah penyakit, dan masih banyak lagi.
The dominance of capitalism in the world and its impact on world economic conditions are observed in prevalent poverty, hunger, health epidemics, and much more.
Pembahasan mengenai prinsip-prinsip dasar kapitalisme dan ekonomi politiknya telah mengungkap sejumlah cacat dan kelemahan mendasar dalam sistem tersebut, khususnya prinsip kelangkaan, nilai, harga, dan kepemilikan pribadi. Penerapan sistem yang memiliki kelemahan besar diperkirakan akan menghasilkan, seiring waktu, berbagai anomali, krisis, dan jebakan dalam kehidupan masyarakat yang hidup di bawah sistem tersebut. Kesimpulan ini mengikuti model cacat-kesalahan-kegagalan (fault-error-failure) yang dibahas pada bagian 2. Kesimpulan ini juga didukung oleh pengamatan serta fakta dan data statistik dari kehidupan nyata.
The discussion of the basic principles of capitalism and its political economy revealed several defects and flaws at the core of the system, particularly the principles of scarcity, value, price, and private ownership. The implementation of a system with major flaws is expected to produce over time several anomalies, crises, and pitfalls in the life of people living under such system. This conclusion follows from the fault-error-failure model discussed in section.2. It is also supported by observations and real-life statistics and data.
Dalam bagian-bagian berikutnya, kita akan mengkaji data nyata tentang kondisi dunia kontemporer di bawah sistem ekonomi kapitalis. Data tersebut menunjukkan bahwa kelemahan teoretis dari prinsip-prinsip ekonomi utama telah menimbulkan kesalahan serius yang terus menyebabkan dampak bencana yang sangat besar bagi segmen populasi dunia yang luas. Upaya berkelanjutan dan intervensi paksa melalui bailout serta pembelian oleh pemerintah atas entitas ekonomi yang gagal diupayakan untuk membendung dampak krisis, dengan harapan dapat mencegah keruntuhan dan kegagalan total dari keseluruhan sistem kapitalisme.
In the next sections, we will examine actual data from the contemporary world conditions under capitalist economic system. The data shows that the theoretical flaws of the major economic principles have led to serious errors that continue to cause huge catastrophic effects on very large segment of the population in the world. Continuous attempts and forced intervention through bailouts and government buyout of failing economic entities are sought to contain the impact of the crisis, hoping to prevent a complete collapse and failure of the entire system of capitalism.