Pendahuluan
Preface
Ketika pertama kali tiba di negeri bangsa kapitalis terbesar di dunia, saya takjub dengan kekuatan produktivitas kapitalisme di Amerika Serikat. Sebagai remaja belia, belum genap 16 tahun, saya melihat traktor dan mesin panen raksasa yang mengolah ratusan hektar serta menghasilkan ton-ton biji jagung dan kedelai; semuanya dioperasikan oleh satu keluarga. Saya melihat tangan seorang petani yang mengeras oleh tanah yang ia garap, dan melunak oleh uang yang dihasilkan tanahnya. Saat itu saya tidak melihat tangan-tangan tak kasatmata dari bank yang membiayai seluruh operasi tersebut. Saya belum bisa melihat tanda-tanda kegagalan sama sekali.
When I first arrived at the land of the largest capitalist nation in the world, I was amazed by the power of capitalism productivity in the United States of America. As a young teenager, less than 16 years old, I saw huge tractors and combines cultivating hundreds of acres and producing tons of corn and soybean grain; all operated by a single family. I saw the hands of a farmer hardened by the land he cultivates and softened by the money his land generates. I did not see then the invisible hands of the banks financing all that operation. I could not see any signs of failure then.
Setahun kemudian, takdir pendidikanku membawaku ke kutub yang berlawanan. Aku tiba di negeri bangsa sosialis terbesar di dunia untuk menghabiskan enam tahun berikutnya belajar sambil mengamati sosialisme di Uni Republik Sosialis Soviet (USSR). Aku masih ingat betapa seringnya aku harus mengantre untuk membeli bahan makanan, hanya untuk kecewa satu jam kemudian karena barang yang kutunggu sudah habis. Sistem itu tidak akan bertahan lama; naluriku mengatakan demikian. Aku juga ingat harus membeli sebuah terbitan komunis sebagai syarat untuk membeli buku matematika atau ilmu komputer. Sistem itu tidak akan bertahan lama; aku merasakannya.