6.1 Menyanggah Sistem Ekonomi Kapitalis
6.1 Refuting the Capitalist Economic System
Sistem ekonomi Kapitalis adalah sistem yang didasarkan pada kebebasan kepemilikan atas alat-alat produksi. Dengan demikian, dalam Kapitalisme, setiap individu atau kelompok berupaya mencapai kepentingan pribadi, kepuasan, atau keuntungan. Kapitalisme berpusat pada pilar-pilar utama berikut:
The Capitalist economic system is a system based on the freedom of ownership of the means of production. Thereby in Capitalism, each individual or group seeks to achieve self-interest, satisfaction or profit. Capitalism is centered on the following main pillars:
1) Kepemilikan pribadi atau kebebasan individu untuk memiliki harta 2) Kepentingan diri sendiri atau keuntungan yang dianggap sebagai motif utama dalam aktivitas ekonomi 3) Pasar yang kompetitif melalui kebebasan untuk masuk dan keluar dari pasar 4) Mekanisme pasar yang didasarkan pada penawaran dan permintaan, dengan harga sebagai alat penyeimbang 5) Peran negara yang terbatas dalam pasar ekonomi
1) Private property or individual freedom to possess 2) Self-interest or profit which is considered as the primary motive for economic activity 3) Competitive market by freedom to enter and exit the market 4) A market mechanism based on supply and demand, with price being a balancing tool 5) A limited role of a state in the economic markets.
Para ekonom saat ini menyebut sistem ekonomi yang berlaku luas di seluruh dunia, dan dianut oleh sebagian besar negara-negara Barat, dengan istilah ‘ekonomi campuran.’ Artinya, ini adalah perekonomian yang memadukan sebagian pasar bebas dengan sebagian intervensi negara dalam pasar. Dengan demikian, individu dan perusahaan yang terlibat diberi kebebasan luas dalam perekonomian terkait penggunaan modal, investasi dan produksi. Dalam ekonomi campuran, hal ini disertai intervensi negara di bidang dan situasi tertentu, untuk menyediakan kesejahteraan sosial atau mencegah monopoli, demi menjaga keseimbangan. Misalnya, penetapan harga dalam kapitalisme dianggap sebagai tangan tak terlihat yang menggerakkan pasar. Namun, negara dapat mengintervensi sebagian barang, seperti tembakau, dengan memberlakukan pajak, untuk mengurangi konsumsinya. Yang membedakan perekonomian negara-negara yang menganut ‘ekonomi campuran’ adalah sejauh mana intervensi negara dalam urusan ekonomi.
Economists today call the economic system that is prevalent around the world, followed by most of the Western nations, by the term ‘mixed economy.’ It means that it is an economy that combines the free market in part and state intervention in the market in part. Thus it gives the individuals and companies engaged free rein in the economy with respect to usage of capital, investment and production. In the mixed economy this is accompanied by the intervention of the state in certain areas and situations, to provide social welfare or to prevent monopoly, in order to maintain balance. For instance, pricing in capitalism is regarding as the invisible hand that moves the market. However, the state may intervene in some of the goods, like tobacco, by imposing taxes, to discourage its consumption. What distinguishes the economies of states that follow the ‘mixed economy’ is the extent of the state intervention within economic affairs.
Demikian pula, model ekonomi Amerika, misalnya, berbeda sampai batas tertentu dari model Jerman, Prancis, Jepang, dan Swedia. Padahal, semuanya pada dasarnya mengikuti sistem yang sama, terlepas dari apakah kapitalisme mereka disebut kapitalisme negara, kapitalisme kesejahteraan, kapitalisme pasar, kapitalisme terkelola, kapitalisme modern, atau sebutan lainnya. Maka, perbedaan variasi ini tidak serta-merta menjadikan mereka bukan kapitalisme. Daratan Eropa pada umumnya cenderung melakukan pengawasan dan kendali atas pasar keuangan, sedangkan Amerika Serikat dan Inggris membatasi campur tangan negara semacam itu. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Eropa daratan bukan kapitalis.
Thus, the American economic model, for instance, differs to some extent from that of the German, French, Japanese and Swedish models. This is despite all of them inherently following the same system, regardless of their capitalism being called state capitalism, welfare capitalism, market capitalism, managed capitalism, modern capitalism, or others. So the variation does not negate them from being capitalism. Mainland Europe in general tends to exert oversight and control over financial markets, whilst the United States and the United Kingdom limit such state intervention. This, however, does not mean that mainland Europe is not capitalist.
Dengan demikian, ekonomi Barat secara keseluruhan adalah ekonomi kapitalis. Di luar lingkup pembahasan ini untuk mengulas perbedaan jenisnya, meskipun kita membahas perbedaan model di dalam satu kerangka kapitalisme. Selain itu, intervensi negara itu sendiri merupakan tolok ukur untuk menggambarkan sistem ekonomi sebagai ekonomi campuran. Jadi, intervensi negara merupakan hasil langsung dari kapitalisme. Hal ini karena reformasi parsial yang disaksikan dalam teori-teori ekonomi kapitalis, terutama pada paruh pertama abad ke-20 M, melalui teori Keynes, bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan sistem kapitalis. Intervensi negara di sejumlah negara untuk menata perilaku ekonomi, mempercepat pertumbuhan, dan memberlakukan sejumlah undang-undang terkait jaminan sosial, pengangguran, dan layanan kesehatan, terjadi akibat munculnya gerakan buruh yang kuat dan dipengaruhi pemikiran sosialis, yang menuntut hak-hak mereka. Hal ini juga merupakan akibat dari berbagai krisis ekonomi, termasuk krisis 1929. Kapitalisme diuji dan keabsahannya diragukan. Terjadi tinjauan moneter, reformasi, dan penyesuaian parsial untuk menyelamatkan kapitalisme itu sendiri, demi menjamin kelangsungannya. Meskipun demikian, intervensi negara itu sendiri menjadi sasaran kritik, setelah terbentuknya sebuah visi baru yang dikenal sebagai neoliberalisme pada akhir abad ke-20 M. Revisi-revisi Keynes ditinjau ulang dan dikritik, menyerukan pembatasan intervensi negara dan pembebasan ekonomi kapitalis dari segala batasan, sesuai dengan prinsip-prinsip kapitalis yang asli.
Thus, the Western economy as a whole is a capitalist economy. It is not within our scope to discuss the difference in its types, although we discuss the difference in the model, within the single framework of capitalism. Moreover, the state intervention in itself is the measure by which to describe the economic system as a mixed economy. So state intervention is the direct result of the Capitalism. This is because the partial reformations witnessed by the capitalist economic theories, particularly in the first half of the twentieth century CE, through Keynesian theory, were to preserve the continuity of the capitalist system. State intervention in some nations to streamline economic behavior, accelerate growth and enact some laws related to social security, unemployment and healthcare, were due to the emergence of strong labor movements influenced by socialist thought, who demanded their rights. This was also the consequence of multiple economic crises including the 1929 crisis. Capitalism was put to test and doubts were cast over its validity. There were monetary reviews, reformations and partial adjustments to save Capitalism itself, to ensure its continuity. Despite that, state intervention has itself become the subject of criticism, after the crystallization of a new vision, called neo-liberalism at the end of twentieth century CE. Keynes’s revisions were reviewed and criticized, calling for curbing of state intervention and liberation of the capitalist economy from all constraints, in accordance with the original capitalist principles.
Bagaimanapun juga, kami memilih untuk membangun kritik kami terhadap filsafat ekonomi kapitalis berdasarkan landasan dan prinsip-prinsip yang menjadi dasarnya. Kami memandang sistem ekonomi negara-negara Barat secara keseluruhan sebagai ekonomi kapitalis, terlepas dari perbedaan-perbedaan di antara mereka. Hal ini karena kami melihat adanya landasan dan prinsip-prinsip yang sama di dalam setiap ekonomi tersebut. Landasan dan prinsip itu mencakup pandangan tentang ekonomi itu sendiri dari segi hakikat dan tujuannya, pandangan tentang masalah-masalah ekonomi, serta definisi tentang nilai, barang, dan jasa. Landasan dan prinsip-prinsip ini sama di seluruh Barat. Tidak ada perbedaan di dalamnya, dan tidak pula mengalami perubahan.
In any case, we chose to build our critique against the philosophy of capitalist economy based on the foundations and principles upon which it is built. We see the economic system of the Western nations as a whole as a capitalist economy, regardless of the differences between them. This is because we see shared foundations and principles within each economy. These extend to the view of the economy itself in terms of its essence and objective, the view of the economic problems and the definitions of values, goods and services. These foundations and principles are the same throughout the West. There is no difference within them nor have they changed.
Adapun kerusakan dalam sistem ekonomi kapitalis ini, perlu diperhatikan poin-poin berikut:
As for the corruption within this capitalist economic system, one must consider the following points: