8 Ringkasan dan Kesimpulan
8 Summary and Conclusion
Banyak pemikir Barat membahas ateisme dan kekosongan spiritual yang melanda masyarakat Barat. Mereka meratapi manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya dan berubah menjadi mesin dalam masyarakat industrialis dan konsumtif. Mereka membahas kasus-kasus depresi, kesengsaraan, isolasi, keterasingan dan keterputusan hubungan yang menimpa individu yang hidup di masyarakat Barat, di mana ia tidak menemukan jalan lain selain bunuh diri. Mereka juga membahas absurdisme, nihilisme, anarkisme, eklektisisme, rasisme, oportunisme, neo-perbudakan, peperangan yang menghancurkan umat manusia, serta kehancuran nilai-nilai, kolonialisme yang berdarah dan brutal, dan berbagai penderitaan lain yang merajalela di seluruh dunia. Mereka merangkum semua penderitaan ini dalam sebuah ungkapan yang telah menjadi lumrah di kalangan intelektual Barat, yaitu krisis kemanusiaan. Krisis kemanusiaan yang mereka bahas, dalam pengertian yang paling sederhana, berarti keadaan stagnasi dalam waktu dan tempat, disertai perasaan gagal mencapai obat dan solusi. Hal ini disebabkan kekacauan dalam pola pikir (‘aqliyah) dan kejiwaan (nafsiyah) manusia yang menimbulkan gejolak dalam pikiran, kecenderungan, dan perilakunya. Maka rasa gagal menguasainya, yang mengarah pada ketidakberdayaan, kehilangan, kebingungan, dan absurdisme. Krisis ini tidak akan terselesaikan dengan mempelajari gejala dan akibatnya. Sebaliknya, ia harus diatasi dengan melihat penyebab sebenarnya yang melahirkannya. Maka yang tersisa adalah meninggalkan kekerasan hati dan dengan berani mengakui kebenaran. Alasan krisis kemanusiaan yang mereka bahas adalah kegagalan budaya dan peradaban kapitalisme yang mendominasi dunia. Budayanya, yang mewakili pendekatan positivis dan rasionalis, telah gagal memahami manusia dan hakikatnya karena memandang manusia semata-mata sebagai makhluk materialistis, baik dalam motif maupun tujuannya. Ia juga gagal memandang masyarakat beserta komponennya, hanya berfokus pada individualisme, dan membentuk konsepsi bahwa setiap manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
Many Western thinkers discuss atheism and the spiritual void afflicting Western society. They lament about man having lost his humanity, transforming into a machine in an industrialized, consumerist society. They discuss the cases of depression, misery, isolation, alienation and estrangement that afflict the individual living in Western societies, where he does not find a way to but for suicide. They also discuss absurdism, nihilism, anarchism, eclecticism, racism, opportunism, neo-slavery, wars that ravage humanity, along with the destruction of values, bloody and brutal colonialism and other miseries that are prevalent around the world. They summarize all of this misery in an expression that has become common amongst Western intellectuals, which is, the crisis of humanity. The crisis of humanity they discuss, in its simplest sense, means the state of stagnation in time and place, accompanied by the feeling of failure to reach the cure and solution. This is because of the confusion in the mentality ('aqleeyah) and disposition (nafseeyah) of man that causes turmoil in his thoughts, inclinations and behaviors. So the sense of failure dominates him, which leads to helplessness, loss, confusion and absurdism. The crisis is not resolved by studying its manifestations and results. Instead it is to be solved by looking at the actual cause that produced it. So what remains is to leave stubbornness behind and boldly acknowledge the truth. The reason for the crisis of humanity, which they discuss, is the cultural and civilizational failure of capitalism that dominates the world. Its culture representing its positivist, rationalist approach has failed in its understanding of man and his nature as it views man merely as materialistic, in both his motive and objective. It has also failed to look at society and its components, focusing only on individualism and established a conception that each man is a wolf for another man.
Adapun kegagalannya sebagai peradaban, hal itu tampak pada doktrinnya yang menyangkal keterkaitan kehidupan dengan apa yang sebelumnya dan apa yang sesudahnya. Doktrin itu mendewakan manusia sebagai penguasa alam semesta dan sebagai pembuat hukum. Kegagalan itu tampak pada sistem-sistem masyarakat liberalnya yang tidak mampu memberikan ketenteraman dan kebahagiaan. Kegagalan itu tampak pada nilai-nilainya yang hanya terbatas pada kegunaan dan materialisme semata. Nilai-nilainya membatasi perilaku manusia pada tujuan-tujuan hewani dan naluriah semata, tanpa kemanusiaan, akhlak, dan ruh.
As for its civilizational failure, it is apparent in its doctrine that denies the connection of life with what is before and what is after. It deifies man as a master of the universe and as the legislator. The failure is apparent in its liberal societal systems that fail to provide tranquility and happiness. The failure is apparent in its values that are confined to utility and materialism alone. Its values confine human behavior to animalistic, instinctive ends alone devoid of humanity, morals and spirit.
Kemajuan bangsa-bangsa yang beradab tidak diukur semata-mata dari kemajuan material, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan itu juga diukur dari terangkatnya moral, nilai-nilai luhur dan tujuan-tujuan yang mengangkat manusia dari alam kebinatangan. Kemajuan itu juga diukur dari sistem-sistem yang sesuai dengan fitrah (sifat dasar manusia), yang memadukan materi dengan ruh secara seimbang, sehingga menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat. Banyak bangsa yang mendahului Barat memiliki kekuatan, dominasi dan kemajuan material. Namun, mereka menyimpang dari hukum-hukum Tuhan mereka, dan bersikap sombong, zalim serta menindas di muka bumi. Mereka berbelit-belit, rusak dan bejat, maka Allah (swt) membinasakan mereka. Allah (swt) berfirman,
The advancement of civilized nations is not measured in terms of material progression, as scientific and technological developments, alone. Instead, it is also measured with respect to the elevation of morals, supreme values and objectives that elevate man from the realm of the animal. It is also measured with respect to systems that agree with the fitra (human nature) by mixing the matter with the spirit in a precise balance, combining the goodness of this world and the Hereafter. Many nations that preceded the West had strength, dominance and material advancement. However, they deviated from the rulings of their Lord and were arrogant, tyrannical and oppressive upon the earth. They were twisted, spoiled and corrupted and so Allah (swt) destroyed them. Allah (swt) says,
"Tidakkah mereka berjalan di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Mereka itu lebih kuat dari mereka dan lebih banyak bekas-bekasnya di bumi, tetapi Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung pun dari (azab) Allah." [TMQ Surah Ghafir 40:21],
“Have they not traveled through the land and observed how was the end of those who were before them? They were greater than them in strength and in impression on the land, but Allah seized them for their sins. And they had not from Allah any protector.” [TMQ Surah Ghafir 40:21],
Keselamatan manusia Barat dan seluruh dunia terletak pada meninggalkan akidah sekularisme. Keselamatan itu terletak pada berpegang kepada suatu akidah yang memecahkan persoalan terbesar umat manusia dengan cara yang meyakinkan akal dan sesuai dengan fitrah manusia, sehingga hati dipenuhi ketenangan dan kedamaian. Akidah yang benar adalah akidah yang memberikan kepada manusia pemikiran yang benar dan menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta, dalam kaitannya dengan apa yang ada sebelumnya dan apa yang ada sesudahnya. Berdasarkan pemikiran yang menyeluruh ini, manusia mampu menentukan makna keberadaannya dan tujuan (ghaayah) dalam hidup, sehingga ia dapat merumuskan konsep-konsepnya tentang kehidupan dunia untuk membentuk perilakunya.
The salvation of the Western man and the entire world lies in abandoning the creed of secularism. It lies in taking a creed that solves the greatest problem of humankind in a manner that convinces the mind and agrees with human nature, such that hearts are filled with tranquility and peace. The true creed is the one that finds for a man a correct and comprehensive thought about man, life and universe, with respect to their relationship to what is before and what is after. Based on this comprehensive thought, man is able to determine the meaning of his existence and goal (ghaayah) in life, thereby defining his concepts about worldly life to shape his behavior.
Pemikiran yang tercerahkan adalah metode untuk menemukan pemikiran yang menyeluruh bagi manusia. Pemikiran ini bukanlah kompromi atau penghindaran dari menjawab pertanyaan-pertanyaan penting manusia: Dari mana aku berasal? Mengapa aku ada di sini sekarang? Ke mana aku akan pergi? Setiap orang yang berakal menyadari bahwa keberadaan semata dari segala sesuatu yang ia indera memiliki Pencipta yang menciptakannya. Fakta mengenai hal-hal yang dapat diindera adalah bahwa mereka either mampu ada dengan sendirinya atau tidak mampu ada dengan sendirinya, dan bergantung pada Yang Wajibul Wujud (Yang mutlak harus ada). Kemampuan sesuatu untuk ada dengan dirinya sendiri adalah sebuah penilaian atas sesuatu, yang ditentukan melalui penalaran apakah ia mampu ada dengan sendirinya atau tidak dapat ada dengan sendirinya. Penilaian ini, yaitu penilaian atas kemampuan untuk ada, …
Enlightened thinking is the method to find this comprehensive thought for a man. This thinking is not a compromise or evasion over answering the crucial questions of man: Where did I come from? Why am I here now? Where will I go? Any reasoning person is aware that the mere existence of things which he senses have a Creator who created them. The fact with regards to the perceived things is that either they are able to exist of themselves or they are incapable of existing by themselves, dependent on the indispensable for existence (wajibul wujood). Being able to exist by its own self is a judgment upon a thing, determined by reasoning over whether it is capable to exist of itself or cannot exist of its own. This judgment, the judgment over the ability to exist,
dibandingkan dengan penilaian yang berkaitan dengan sesuatu yang wajib adanya. Oleh karena itu, ketika indera seseorang tertuju pada sebuah meja, ia menetapkan suatu penilaian yang jelas dan rasional tentang keberadaan meja tersebut. Meja itu hanya mungkin ada karena keberadaannya terkait dengan pembuatnya (sani'/'a). Adapun pembuat meja itu sendiri, ia adalah sesuatu yang wajib bagi keberadaan meja. Hal ini karena keberadaannya menjadi sebab adanya meja. Alam semesta, manusia, dan kehidupan tidak mungkin ada dengan sendirinya secara jelas. Keberadaan mereka menjadi bukti adanya Yang Wajib Ada (waajib ul wujood) yang telah menciptakan mereka. Yang Wajib Ada itu adalah Sang Pencipta, yaitu Allah (SWT).
is contrasted with the judgment related to the indispensable for existence. Accordingly, when a man’s sense falls on a table, he establishes an evident, rational udgment related to the existence of the table. It is only able to exist because its existence is connected with its maker (saan/'a). As for the maker of the table himself, he is indispensable for the existence of the table. This is because his existence is the reason for the existence of the table. The universe, man and life are not able to exist of themselves evidently. Their existence evidences the indispensable for existence (waajib ul wujood) that created them. The indispensable for existence is the Creator Who is Allah (swt).
Kajian kemudian mewajibkan pencarian hubungan Sang Pencipta dengan makhluk. Sesungguhnya keyakinan manusia yang diciptakan terhadap keberadaan Sang Pencipta mengharuskan pencarian tentang adanya hubungan Sang Pencipta dengan makhluk. Karena manusia tidak mampu menentukan hakikat hubungannya dengan Sang Pencipta, akal mewajibkan manusia untuk berhenti dari hal itu dan menyerahkan perkara tersebut kepada Sang Pencipta sendiri. Sang Pencipta, Allah (SWT), telah menetapkan cara menyampaikan hubungan-Nya dengan makhluk. Maka Dia (SWT) mengutus para Rasul kepada umat manusia. Di antara mereka adalah Musa (AS) yang diutus kepada kaumnya, Isa (AS) yang diutus kepada kaumnya, dan Muhammad ﷺ yang diutus kepada seluruh umat manusia.
The study then mandates finding the relationship of the Creator with the creation. Indeed, the belief of a created man in the existence of a Creator necessitates the search for the existence of the relationship of the Creator with the creation. Since man is unable to determine the nature of his relationship with the Creator, the intellect mandates that man desists from that and leaves the matter to the Creator himself. The Creator, Allah (swt), has specified how to convey His relationship with the creation. So He (swt) sent Messengers to humankind. Amongst them are Musa (as) who was sent to his people, Isa (as) who was sent to his people and Muhammad (saw) who was sent to the whole of humankind.
Untuk memastikan kebenaran Risalah dan kenabian para Rasul, akal mewajibkan adanya bukti yang meyakinkan (burhān) dari para Rasul tersebut mengenai risalah mereka. Hal ini mengharuskan seorang Rasul menunjukkan mukjizat yang tidak mampu dilakukan manusia, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Demikianlah mukjizat-mukjizat Musa (as), Isa (as), dan nabi-nabi lainnya (as). Namun, mukjizat-mukjizat tersebut kini hanya tersampaikan melalui riwayat yang tidak dapat dibuktikan kenyataannya saat ini. Satu-satunya mukjizat yang dapat dirasakan oleh manusia dan tetap menjadi tantangan hingga hari ini adalah mukjizat yang dibawa oleh Muhammad ﷺ dari Allah (SWT), yaitu Al-Qur'an.
To confirm the validity of the Message and Prophethood of the Messengers, intellect mandates the establishment of decisive evidence (burhaan) from the Messengers, regarding their Message. This requires the Messenger to demonstrate miracles which humans are incapable of performing, within the established norm. Such were the miracles of Musa (as), Isa (as) and other Prophets (as). However, such miracles are only carried in narrated information now, that have no verifiable reality today. The only miracle which is sensed by man and remains a challenge today, is the miracle brought by Muhammad (saw) from Allah (swt), which is the Quran.
Mukjizat ditetapkan sebagai benar melalui dua cara: baik dengan pemahaman langsung atau dengan penalaran (istidlaal). Maka ketika Musa (as) mengubah tongkat menjadi ular yang bergerak cepat, para penyihir secara langsung memahami bahwa itu adalah mukjizat dan bukan sihir. Jadi mereka memahami mukjizat itu dengan sendirinya secara langsung dan yakin akan kebenaran Musa (as). Adapun selain para penyihir, mereka memahami mukjizat itu dari ketidakmampuan para penyihir untuk mendatangkan yang serupa dengannya dan dari ketundukan mereka kepada Musa (as). Jadi jalan penalaran adalah cara mereka menuju iman. Adapun yang berkaitan dengan Al-Qur'an, seseorang dapat memahami secara langsung sifat mukjizatnya, bahwa tidak seorang pun mampu mendatangkan yang serupa dengannya, atau ia dapat menalar ketidakmampuan seluruh bangsa Arab, baik yang beriman maupun yang kafir, untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an telah menantang mereka untuk melakukannya. Dengan demikian, Al-Qur'an berasal dari bangsa Arab, atau dari Muhammad ﷺ, atau dari Allah (SWT). Keliru jika dikatakan bahwa Al-Qur'an berasal dari bangsa Arab, karena mereka tidak menisbatkannya kepada diri mereka sendiri. Lagi pula, mereka gagal mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur'an, padahal ia menantang mereka. Keliru pula jika dikatakan bahwa Al-Qur'an berasal dari Muhammad ﷺ, karena beliau ﷺ adalah orang Arab dan apa yang berlaku bagi seluruh bangsa Arab juga berlaku bagi beliau ﷺ. Selain itu, Muhammad ﷺ telah berbicara secara luas. Di antara ucapan beliau ﷺ terdapat hadis mutawatir yang sama sekali berbeda dengan Al-Qur'an. Seandainya Al-Qur'an benar-benar ucapan beliau ﷺ, tentu beliau ﷺ akan mengklaim mukjizat untuk seluruh ucapannya, bukan untuk sebagiannya saja. Tidaklah masuk akal bagi beliau ﷺ untuk mengklaim mukjizat hanya pada sebagian ucapannya, sementara tidak mengklaimnya untuk keseluruhan. Karena tidak sahnya pernyataan bahwa Al-Qur'an berasal dari bangsa Arab atau dari Muhammad ﷺ, maka dapat dipastikan bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah (SWT).
The miracle is established as true through two methods: Either by direct comprehension or by reasoning (istidlaal). Thus when Musa (as) turned a stick into a swiftly moving snake, the illusionists directly comprehended that it was a miracle and not illusion. So they comprehended the miracle by themselves directly and were certain of the truthfulness of Musa (as). As for those other than the illusionists, they comprehended the miracle from the inability of sorcerers to bring the like of it and their submission to Musa (as). So the method of reasoning was their way to belief. As for the matter related to Quran, one can either directly comprehend the nature of its miracle that no one can bring the like of it or he can reason the inability of all the Arabs, whether they are believers or kuffar, to bring the like of the Quran, despite the Quran challenging them to do so. Thus the Quran is either from Arabs or from Muhammad (saw) or from Allah (swt). It is wrong to say that the Quran comes from the Arabs, because they did not attribute it to themselves. Moreover, they failed to bring the like of the Quran, despite it challenging them. It is wrong also to say that the Quran is from Muhammad (saw) because he (saw) is an Arab and what applies to all the Arabs also applies to him (saw). Moreover, Muhammad (saw) had spoken extensively. Within his speech are the conclusively narrated (mutawwatir) Hadith which are entirely different from the Quran. If the Quran were really his (saw) words, he would have claimed the miracle for all of his speech and not for some of it. It is irrational for him (saw) to claim a miracle for just part of his speech, whilst not claiming for the whole. Since it is invalid to say that the Quran is from Arabs or Muhammad (saw), it is definitely from Allah (swt)
dan dengan demikian, mukjizat itu menjadi bukti kebenaran kerasulan orang yang membawanya.
and thus the miracle validates the Messengership of the one who brought it.
Dengan demikian, keimanan kepada Allah (swt) dan kepada Risalah Muhammad ﷺ, yakni keimanan terhadap akidah Islam, dibangun di atas akal ('aql) dan bergantung padanya. Maka akidah Islam adalah akidah yang rasional, yang meyakinkan akal. Ia juga akidah yang sesuai dengan fitrah manusia, karena mengakui naluri pengagungan (taqdis), mengakui kebutuhan manusia kepada Sang Pencipta, Yang Mengatur (Al-Mudabbir). Dia menetapkan Dien, yakni sistem yang diperintahkan oleh Allah (swt), Yang mengatur perbuatan manusia, mengurus urusan mereka, dan menangani seluruh persoalan mereka. Dengan demikian, akidah Islam adalah landasan intelektual dan kepemimpinan intelektual yang meyakinkan akal dan sesuai dengan fitrah manusia, yang membawa ketenangan dan kedamaian. Sesungguhnya, Islam saja adalah keselamatan bagi umat manusia dari krisisnya.
Accordingly, the belief in Allah (swt) and in the Message of the Muhammad (saw) i.e. belief in the Islamic creed is built on intellect ('aql) and is dependent on it. So the Islamic creed is the rational creed that is convincing to the mind. It is also a creed agreeing with human nature because it acknowledges the sanctification instinct, acknowledging the need of man for the Creator, the One Who organizes (Al-Mudabbir). He determines the Deen i.e. the system commanded by Allah (swt), the One who organizes the actions of humans, takes care of their affairs and treats all their problems. Thus the Islamic creed is the intellectual basis and intellectual leadership that is convincing to the mind and agrees with human nature, which brings tranquility and peace. Indeed, Islam alone is the salvation for humanity, from its crisis.
Akidah Islam bersifat spiritual sekaligus politik, karena melalui hukum-hukum yang lahir darinya dan pemikiran-pemikiran yang dibangun di atasnya, ia mengurus urusan dunia maupun akhirat. Nizam (sistem) yang lahir darinya adalah kumpulan hukum syariat untuk mengatur hubungan manusia dengan Pencipta, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia. Ia merupakan sistem yang menyeluruh dan sempurna, yang dibangun di atas dasar penghambaan kepada Allah (swt) semata. Maka laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, dewasa dan muda, serta kulit hitam dan kulit putih, dalam hal ini sama kedudukannya. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abu Nadhrah: orang-orang yang mendengar khutbah Rasulullah ﷺ pada hari-hari Tasyriq menceritakan kepadaku bahwa beliau ﷺ ...
The Islamic creed is both a spiritual and political creed because through the rulings emerging from it and the thoughts which are built upon it, it takes care of the affairs of both this world and the Hereafter. The system (niZaam) that emerged from it is the collection of Shariah rulings to regulate man’s relationship with the Creator, himself and with other humans. It is a comprehensive and complete system built upon the basis of servitude to Allah (swt) alone. So men and women, rich and poor, adult and young and black and white are equal in this regard. Imam Ahmed reported in his Musnad from Abu Nadhra: those who heard the sermon of the Messenger of Allah (saw) during the days of Tashreeq narrated to me that he (saw)
Beliau bersabda,
said,
"Wahai manusia, Tuhan kalian itu Esa dan bapak kalian itu satu. Orang Arab tidak memiliki keutamaan atas non-Arab, dan non-Arab juga tidak memiliki keutamaan atas orang Arab. Orang berkulit putih tidak memiliki keutamaan atas orang berkulit hitam, dan orang berkulit hitam tidak memiliki keutamaan atas orang berkulit putih, kecuali dengan takwa. Bukankah aku telah menyampaikan?"
“O people, your Lord is One and your father is one: an Arab has no superiority over a non Arab nor does a non-Arab have any superiority over an Arab. The White has no superiority over the Black nor does the Black have any superiority over a White except by piety. Have I not conveyed?”.
Dalam sistem ini, seseorang dapat melihat perpaduan antara materi dengan ruh, berbeda dengan sistem kapitalis yang memisahkan materi dari ruh. Manusia beserta perbuatannya bersifat material, karena ia digerakkan oleh energi hidupnya, oleh kebutuhan-kebutuhan organik dan naluri-naluri untuk mencapai pemuasannya. Ia kemudian melakukan perbuatan-perbuatan tersebut berdasarkan keyakinannya bahwa ia adalah ciptaan Sang Pencipta dan bahwa kehidupan terhubung dengan apa yang ada sebelumnya dan apa yang ada sesudahnya. Maka ia terikat oleh syariat Allah (SWT) dan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya, yang membentuk perilakunya. Dengan demikian, manusia menyadari hubungannya dengan Allah (SWT) dalam kehidupannya, yaitu memadukan materi dengan ruh, berusaha meraih keridaan Allah (SWT), dan dengan itu manusia memperoleh ketenangan yang abadi, yakni kebahagiaan.
In this system, one can see the mixing of matter with the spirit, unlike the capitalist system that separates matter from the spirit. Man and his actions are material, as he is driven by his life energy, of organic needs and instincts, to achieve their satiation. He then performs such actions based on his belief that he is a creation of the Creator and that life is connected to what is before and what is after. So he is restricted by the Shariah of Allah (swt) and abides by His commands and prohibitions, that shape his behavior. So man realizes his connection with Allah (swt) in his life i.e. mixes the matter with the spirit, seeking to achieve the pleasure of Allah (swt), by which man achieves perpetual tranquility i.e. happiness.
Tindakan seorang manusia dalam Islam bukanlah absurd, tanpa nilai, dan tanpa tujuan. Sebaliknya, tindakannya memiliki tujuan, sehingga ia melangkah sesuai dengan perintah dan larangan Allah, yakni ia berpegang pada hukum-hukum Syariat dalam tindakannya demi tujuan yang ia cari dan maksud (qasd) yang ia capai. Dengan demikian, tindakannya didasarkan pada hukum-hukum yang menghasilkan hasil yang dimaksud, yang diperhitungkan oleh seorang Muslim dalam tindakannya, yaitu tercapainya suatu nilai (qeemah) bagi individu dan masyarakat. Siapa pun yang menelaah hukum-hukum Syariat dapat melihat bahwa nilai-nilai yang ditetapkan oleh Syariat, yang menetapkan penanganan bagi permasalahan manusia dalam kehidupan, terbagi menjadi empat jenis: material, spiritual, moral, dan kemanusiaan. Ketika seorang Muslim bertindak untuk mencapai nilai-nilai ini sesuai dengan hukum-hukum Syariat, sebagaimana ditetapkan, ditentukan, dan diatur oleh Islam, maka seluruh nilai tersebut akan tercapai dalam masyarakat sejauh yang diperlukan, sebagai masyarakat Muslim yang menjamin kesejahteraan dan ketenteraman bagi semua. Allah (SWT) berfirman,
The actions of a man in Islam are not of absurdism, valueless and aimless. Instead they are for an aim and so he proceeds according to the commands and prohibitions of Allah i.e. he adheres to the Shariah rulings in actions for the goal he seeks and the aim (qasd) he achieves. So his actions are based on the rulings that produces an intended result that the Muslim takes into account in his action i.e. the achievement of a certain value (qeemah) for the individual and the community. One who scrutinizes the Shariah rulings can see that the values specified by the Shariah, that decreed the treatments for the problems of man in life, are of four types, material, spiritual, moral and humanitarian. When a Muslim man acts to achieve these values according to the Shariah rulings, as defined, determined and organized by Islam, all those values will be achieved in a society to the extent necessary, as a Muslim society, which ensures the well-being and tranquility of all. Allah (swt) says,
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." [TMQ Surah Ar-Ra'ad 13:38],
“Those who have believed and whose hearts are assured by the remembrance of Allah. Unquestionably, by the remembrance of Allah hearts are assured.” [TMQ Surah Ar-Ra'ad 13:38],
Sebagai penutup, kami menyerukan kepada seluruh umat manusia, termasuk masyarakat Barat, agar meninjau kembali apa yang telah menjadi Barat, meninggalkan gagasan Kapitalisme dan peradaban Barat, dan sebaliknya mengambil serta menerapkan Islam. Sesungguhnya, Islam adalah satu-satunya jaminan untuk menyelamatkan umat manusia dari penderitaan yang kini mereka alami, dengan mengeluarkan umat manusia dari kedalaman ketidakadilan dan kegelapan, menuju cahaya keadilan dan Kebenaran.
In conclusion, we call for the whole of humankind, including the people of the West to review what the West has become, to renounce the idea of Capitalism and the Western civilization and to take and adopt Islam instead. Indeed, Islam is the only guarantee to save humankind from the miseries in which it now lives, by driving out humanity from the depths of injustice and darkness, into the light of justice and Truth.