2 Dampak pandangan ini terhadap hubungan antara Laki-laki dan Perempuan
2 The Impact of this view on the relationship between Man and Woman
Naluri ini hanya membutuhkan pemuasan ketika ia sedang tergerak. Begitu naluri tersebut menuntut pemuasan, ia akan mendorong manusia untuk memperolehnya, dan selama naluri itu tergerak, manusia akan merasakan kecemasan. Apabila naluri itu sudah tenang, kecemasan pun tidak lagi ada. Tidak terpenuhinya naluri ini tidak akan menyebabkan kematian ataupun bahaya fisik, mental, atau psikologis. Bahayanya hanyalah berupa kecemasan dan frustrasi. Oleh karena itu, pemuasan naluri ini tidak bersifat wajib sebagaimana pemuasan kebutuhan-kebutuhan organik, melainkan merupakan hal yang bertujuan untuk menghadirkan ketenangan dan kenyamanan.
Only when the instinct is excited, will it require satisfaction. Once the instinct requires satisfaction, it will drive mankind to acquire it, and the human will experience anxiety as long as the instinct is excited. Once it is calmed down, anxiety will no longer exist. The nonsatisfaction of this instinct will not result in death or any physical, mental, or psychological harm. Harm will be merely through anxiety and frustration. Consequently the satisfaction of this instinct is not mandatory such as the satisfaction of the organic needs, it is rather a matter to bring about tranquillity and comfort.
Dua perkara ini membangkitkan naluri.
Two matters excite the instinct:
1. Realitas yang nyata dan.
1. The tangible reality and.
2. Pemikiran dan asosiasi gagasan.
2. Thought and association of ideas.
Setidaknya salah satu dari hal-hal ini harus ada agar naluri dapat tergerak. Artinya, naluri tidak tergerak karena dorongan internal seperti halnya kebutuhan jasmani, melainkan karena rangsangan eksternal, yaitu realitas yang nyata atau pemikiran-pemikiran yang berkaitan. Hal ini berlaku untuk semua naluri, yaitu naluri mempertahankan diri, naluri beragama, dan naluri berkembang biak, tanpa ada perbedaan di antara ketiganya.
One of these matters at least, must be present for the instinct to be excited. Meaning, it is not excited due to an internal motive, as is the case with the organic need, but rather from an external incentive, namely the tangible reality or associated thoughts. This holds true for all instincts, namely the instinct of survival, sanctification and procreation, with no difference between them.
Karena naluri berkembang biak serupa dengan naluri-naluri lain, yaitu jika telah terangsang ia menuntut pemuasan, dan karena ia tidak terangsang kecuali oleh realitas yang dapat dirasakan atau pemikiran yang berkaitan, maka manusia mampu mengendalikan pemuasan ini. Bahkan, manusia mampu memulai pemuasan tersebut, atau mencegahnya terjadi kecuali dengan cara yang diarahkan untuk melestarikan keturunan manusia. Melihat lawan jenis atau realitas apa pun yang berkaitan dengan naluri berkembang biak akan membangkitkan naluri tersebut dan membuatnya menuntut pemuasan. Akibatnya, membaca cerita-cerita seksual dan mendengarkan gagasan-gagasan seksual akan membangkitkan naluri berkembang biak. Sebaliknya, menjauhi lawan jenis, gagasan seksual, atau apa pun yang berkaitan dengan naluri berkembang biak akan mencegah naluri tersebut terangsang. Hal ini terjadi karena naluri berkembang biak tidak dapat terangsang kecuali oleh realitas yang dapat dirasakan atau pemikiran seksual.
Since the procreation instinct is similar to the other instincts in that if it is excited it will require satisfaction, and since it is not excited except by a tangible reality or associated thoughts, then the human is able to control this satisfaction. As a matter of fact, the human is able to initiate this satisfaction, or to prevent it from taking place except in such a manner that it is geared towards preserving the human race. Seeing the opposite sex or any tangible reality related to the procreation instinct will excite the instinct and cause it to require satisfaction. Consequently, reading sexual stories and listening to sexual ideas will excite the procreation instinct. Conversely, keeping away from the opposite sex, sexual ideas or anything related to the procreation instinct will prevent the instinct from being excited. This is so because the procreation instinct cannot be excited except by a tangible reality or a sexual thought.
Jika pandangan masyarakat terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan berpusat pada hubungan lawan jenis, yaitu hubungan seksual, sebagaimana yang terjadi di masyarakat Barat, maka masyarakat itu akan sibuk menciptakan realitas yang menggairahkan secara nyata serta membangkitkan pikiran-pikiran seksual yang diperlukan untuk merangsang naluri berkembang biak, sehingga naluri tersebut menuntut pemuasan, dan dengan pemuasannya hubungan dianggap tercapai dan kenyamanan diperoleh. Sebaliknya, jika pandangan masyarakat terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan berpusat pada tujuan untuk apa naluri ini diciptakan, yaitu melestarikan keturunan manusia, maka menjauhkan realitas yang membangkitkan gairah dan pikiran-pikiran seksual dari laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik menjadi suatu keharusan. Jika tidak, naluri itu akan terangsang dan menuntut pemuasan yang tidak tersedia, dan hal ini menimbulkan kecemasan serta frustrasi. Selain itu, membatasi realitas yang menggairahkan pada kasus pernikahan juga diperlukan untuk menjaga kelestarian manusia, karena dengan demikian menghasilkan ketenangan dan kenyamanan ketika pemuasan dibutuhkan dalam pernikahan.
If the community's view of the relationship between men and woman is focused on the male-female relations, i.e. the sexual relations, as is the case in Western society, then it will be preoccupied with creating exciting tangible realities and generating sexual thoughts necessary to excite the procreation instinct, so as to require satisfaction, and by its satisfaction, the relationship is achieved and comfort is gained. Contrary to this, if the view of the community to the relationship between man and woman is focused on the purpose for which this instinct was created, namely preserving the human race, then keeping the tangible realities and sexual thoughts away from men and woman in public life is a necessity. Otherwise, the instinct will be excited and require a satisfaction that is not available, a matter which causes anxiety and frustration. Also, restricting exciting tangible realities to the case of marriage is necessary to preserve the human race, by producing tranquillity and comfort when satisfaction is demanded within marriage.
Ini merupakan indikasi yang jelas tentang sejauh mana pandangan masyarakat terhadap hubungan pria-wanita mengarahkan kehidupan publik di dalam komunitas dan masyarakat. Baik pandangan Barat maupun Timur terhadap hubungan pria-wanita bersifat seksual, bukan berorientasi pada pelestarian keturunan manusia. Oleh karena itu, mereka dengan sengaja berupaya mencari realitas nyata dan pemikiran seksual bagi pria dan wanita untuk membangkitkan naluri ini, agar dapat memuaskannya. Mereka berpendapat bahwa jika naluri ini tidak dipuaskan, maka akan timbul penekanan, yang berujung pada bahaya fisik, psikologis, dan mental. Akibatnya, dalam masyarakat Timur dan Barat, serta dalam masyarakat Barat dan Komunis, banyak ditemukan pemikiran seksual dalam tulisan, puisi, dan sastra pada umumnya. Di masyarakat-masyarakat ini, adalah hal yang lazim terjadinya percampuran bebas yang tidak perlu antara pria dan wanita, misalnya di rumah, taman, jalan, dan kolam renang. Hal ini karena mereka menganggap hal-hal tersebut sebagai kebutuhan yang sengaja mereka ciptakan. Semua itu merupakan bagian dari pengaturan kehidupan mereka dan bagian dari gaya hidup mereka.
This is a clear indication of the extent that the community's view of manwoman relations has in directing public life in the community and in the society. Both the Western and Eastern view of the man-woman relationship is one that is sexual, not one geared to preserving the human race. Hence, they purposely worked on finding tangible realities and sexual thoughts for man and woman to excite this instinct, in order to satisfy it. They claimed that if this instinct is not satisfied, this will lead to suppression, which leads to physical, psychological and mental harm. As a result, one finds in the Eastern and Western communities and in the Western and Communist societies, many sexual thoughts in writing, poetry, and literature in general. It is normal in these societies to have unnecessary free mixing between men and women in their homes, parks, roads, and swimming pools for example. This is because they consider these things a necessity which they purposely create. It is a part of organising their life and a part of their life style.
Muslim yang meyakini Aqidah Islam dan keabsahan hukum-hukumnya memiliki sudut pandang yang berbeda. Artinya, Islam memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai sarana untuk melestarikan keberlangsungan umat manusia. Sudut pandang Islam tidak berfokus pada aspek seksual dari hubungan tersebut; meskipun Islam menganggapnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kepuasan, aspek itu bukanlah motif utamanya. Oleh karena itu, Islam memandang kehadiran gagasan-gagasan seksual dan realitas nyata yang membangkitkan naluri sebagai penyebab kerusakan dan bahaya. Karena itu, Islam melarang laki-laki dan perempuan berduaan (khalwat), melarang perempuan menampakkan kecantikannya kepada orang asing (yaitu mereka yang boleh ia nikahi), serta melarang laki-laki dan perempuan saling memandang dengan cara yang bernuansa seksual. Islam juga mengatur kerja sama antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik, serta membatasi hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan hanya pada dua keadaan, yaitu pernikahan dan kepemilikan budak perempuan.
Muslims who believe in the Aqeedah of Islam and the validity of its rules, carry a different point of view. Meaning, Islam views the man-woman relations as for preserving the human race. The Islamic point of view does not focus on the sexual aspect of the relationship': though considering it an inseparable part of satisfaction, however, it is not the motive. Consequently, Islam views the presence of sexual ideas and the tangible realities that excite the instinct as a cause of corruption and harm. Hence, it forbade man and woman to meet in seclusion (Khulwa), the woman from showing her charms to strangers (those whom she can marry) and the men and women from looking at each other in a sexual fashion. Islam also has defined the cooperation between men and women in public life and confined sexual relations between men and women to two situations, namely marriage and ownership of concubines.
Oleh karena itu, Islam berupaya mencegah naluri melestarikan keturunan agar tidak dirangsang oleh apa pun dalam kehidupan umum, dan berupaya membatasi hubungan seksual pada situasi-situasi tertentu. Berbeda dengan Islam, Kapitalisme dan Komunisme berupaya menciptakan situasi-situasi yang merangsang naluri ini untuk memuaskannya dan melepaskannya dalam segala hal. Selain itu, sementara Islam memandang hubungan laki-laki dan perempuan hanya untuk tujuan melestarikan umat manusia, Kapitalisme dan Komunisme memandang hubungan laki-laki dan perempuan sebagai hubungan jantan-betina, yakni pandangan yang bersifat seksual. Perbedaan yang sangat lebar antara apa yang hendak dicapai Islam dan apa yang hendak dicapai kedua ideologi lainnya pun menjadi jelas. Hal ini mencerminkan pandangan Islam sebagai pandangan yang mengutamakan kesucian, kebenaran, dan kesucian diri, dan pandangan itu ditujukan demi ketenteraman manusia serta kelangsungan jenisnya.
Therefore, Islam works to prevent the procreation instinct from being excited by anything in the public life and works to confine sexual relations to specific situations. Contrary to Islam, Capitalism and Communism work to create situations that excite this instinct in order to satisfy it and to set it loose in everything. Also, while Islam views the man-woman relations as only for the purpose of preserving the human race, Capitalism and Communism view the man-woman relations as a male-female one, i.e. a sexual view. The wide difference between what Islam aims to achieve and what the other two ideologies are designed to achieve becomes evident. This reflects the Islamic point of view as being one of purity, righteousness and chastity, and it is for the tranquillity of the human and the continuation of his race.
Mengenai klaim kaum Barat dan Komunis bahwa menekan naluri seksual pada pria maupun wanita menyebabkan gangguan mental, fisik, dan psikologis pada manusia, klaim ini keliru dan bertentangan dengan kenyataan. Hal ini disebabkan karena terdapat perbedaan antara kebutuhan organik dan naluri dari segi keharusan untuk dipenuhi. Kebutuhan yang pertama, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, dan buang hajat, harus dipenuhi, atau akan mengakibatkan kerusakan fisik yang dapat berujung pada kematian. Adapun naluri untuk mempertahankan diri, pengagungan (taqdis), dan melestarikan keturunan, jika tidak dipenuhi, tidak akan menimbulkan kerusakan fisik, mental, maupun psikologis, melainkan hanya menimbulkan kecemasan dan rasa sakit. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa seseorang mungkin menghabiskan seluruh hidupnya tanpa memenuhi sebagian naluri, dan tidak ada bahaya yang menimpanya. Selain itu, klaim mereka bahwa penyakit fisik, mental, dan psikologis terjadi ketika naluri melestarikan keturunan tidak terpenuhi adalah tidak benar, karena hal itu hanya terjadi pada sebagian individu, bukan pada manusia secara umum. Ini menunjukkan bahwa penyakit-penyakit tersebut tidak terjadi secara alami akibat tidak terpenuhinya naluri, melainkan karena faktor-faktor lain. Seandainya komplikasi tersebut merupakan akibat dari penekanan naluri, tentu akan terjadi pada setiap kasus tidak terpenuhinya naluri, sesuai dengan hukum alam, dan hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan mereka sendiri mengakui bahwa penyakit tersebut tidak terjadi secara alami akibat tidak terpenuhinya naluri. Oleh karena itu, komplikasi tersebut pastilah disebabkan oleh faktor-faktor selain penekanan naluri.
With regard to what the Westerners and the Communists claim that suppressing the sexual instinct in men and women alike causes mental, physical and psychological disorders to the human, this claim is wrong and conflicts with reality. This is due to the fact that there is a difference between the organic needs and the instincts in terms of the necessity of satisfaction. The former, such as the need for food, drink, and relieving the call of nature, must be satisfied or it will result in physical harm that may lead to death. As for the instincts of survival, sanctification and procreation, if not satisfied these will not lead to any physical, mental or psychological harm, but merely lead to anxiety and pain. This is proven by the fact that a person might spend his entire life without satisfying some of the instincts and no harm befalls Him. Also their claim that physical, mental and psychological illnesses occur when the procreation instinct is not satisfied is false, since it only happens to some individuals, not humans at large. This shows that such illnesses do not happen naturally due to its non-satisfaction but rather due to other factors. If such complications were a result of suppressing the instinct, it would have happened in every case of non-satisfaction, according to the laws of nature, a matter which has never occurred. And they admit to the fact that it does not occur naturally due to non-satisfaction. Therefore, such complications must be due to factors other than the suppression of the instinct.
Selanjutnya, kebutuhan organik harus terpenuhi secara alami dari dalam diri. Kebutuhan ini tidak memerlukan rangsangan dari luar, meskipun rangsangan luar dapat membangkitkannya ketika kebutuhan itu memang ada. Hal ini berbeda dengan naluri (gharizah), yang tidak memerlukan pemenuhan secara alami dari dalam diri tanpa adanya rangsangan dari luar. Naluri tidak terangsang dari dalam kecuali ada rangsangan eksternal, yang berasal dari realitas nyata yang membangkitkan atau dari pemikiran seksual yang merangsang, yang sebagian di antaranya adalah asosiasi pemikiran-pemikiran yang merangsang. Ketika faktor eksternal tidak ada, tidak akan ada rangsangan. Hal ini berlaku untuk semua naluri, tanpa perbedaan antara naluri mempertahankan diri, naluri pengagungan (taqdis), atau naluri melestarikan keturunan, serta seluruh manifestasi lahiriahnya. Oleh karena itu, jika ada rangsangan bagi suatu naluri, maka seseorang akan tergugah dan naluri itu menuntut pemenuhan. Begitu rangsangan tersebut dijauhkan atau seseorang sibuk dengan sesuatu yang lebih penting, tuntutan untuk dipenuhi akan hilang dan ia pun menjadi tenang. Hal ini berbeda dengan kebutuhan organik, yang apabila sudah tergugah, tidak akan pernah hilang hingga terpenuhi.
Furthermore, an organic need requires satisfaction naturally from within. It does not require an external stimulant, though an external stimulant incites it when the need is present. This is different from the instinct which does not require satisfaction naturally from within, without the presence of an external stimulant. It is not stimulated internally unless there exists an external stimulant which results either from an exciting tangible reality or an exciting sexual thought, part of which is the association of exciting thoughts. When the external factor is absent, there will be no stimulation. This holds true for all instincts with no difference between the instinct of survival, sanctification or procreation and with all their external manifestations. Therefore, if a stimulant for any instinct is present, the person will be excited and the instinct will require satisfaction. Once the stimulant is kept at bay or the person becomes occupied in something that is more important, the demand for satisfaction will disappear and He will calm down. This is different from the organic need where once excited, it will never go away until satisfied.
Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa jika naluri melestarikan keturunan tidak terpenuhi, tidak akan timbul penyakit fisik, mental, maupun psikologis, karena hal itu semata-mata merupakan naluri, dan bukan kebutuhan organik. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa ketika seseorang dihadapkan pada realitas nyata yang merangsang atau pada pikiran seksual yang membangkitkan naluri melestarikan keturunan, orang tersebut akan menjadi bergairah dan menuntut pemuasan. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, orang tersebut tidak akan mengalami apa pun selain kecemasan. Dengan berulangnya kejadian, kecemasan itu akan berubah menjadi rasa sakit. Namun, jika rangsangan dijauhkan atau orang tersebut disibukkan dengan sesuatu yang menguasai naluri itu, kecemasan akan hilang. Oleh karena itu, menekan naluri melestarikan keturunan setelah ia terbangkitkan akan menimbulkan kecemasan dan rasa sakit, sedangkan jika tidak dibangkitkan, tidak akan timbul apa-apa, bahkan kecemasan atau rasa sakit pun tidak. Maka, solusi yang tepat adalah tidak membangkitkan naluri tersebut. Hal ini dicapai dengan mencegah segala sesuatu yang dapat membangkitkannya selama naluri itu tidak dapat dipuaskan.
This clearly demonstrates that if the procreation instinct is not satisfied, there will result no physical, mental or psychological illness, since it is merely an instinct, and not an organic need. What in fact happens is that once a person is confronted with an exciting tangible reality or sexual thought, which stimulates the procreation instinct, that person will be excited and demand satisfaction. If the demand is not met with satisfaction, that person will experience nothing more than anxiety. With repetition, anxiety will turn to pain. However, if the stimulant is kept away or the person is kept occupied with something that dominates the instinct, the anxiety disappears. Therefore, suppressing the procreation instinct once aroused will result in anxiety and pain, and if not excited, nothing will result, not even anxiety or pain. Therefore, the proper solution is not to excite the instinct. This is achieved by preventing anything from exciting it as long as it can not be satisfied.
Hal ini menunjukkan kekeliruan sudut pandang Barat dan Komunis, yang membuat cara masyarakat memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan berpusat pada relasi laki-laki dan perempuan. Akibatnya, hal ini menunjukkan kekeliruan perlakuan yang dihasilkan oleh sudut pandang tersebut, yaitu merangsang naluri pada laki-laki dan perempuan dengan menonjolkan hal-hal yang membangkitkannya, seperti percampuran bebas, tarian, permainan, cerita, dan sebagainya. Hal ini juga menunjukkan kebenaran sudut pandang Islam, yang membuat cara masyarakat memandang hubungan laki-laki dan perempuan berpusat pada tujuan untuk apa naluri ini diciptakan, yaitu menjaga kelestarian umat manusia. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan ketepatan solusi yang dihasilkan oleh sudut pandang ini, yaitu menjauhkan segala bentuk kenyataan nyata atau pikiran seksual yang merangsang ketika pemenuhan yang halal melalui pernikahan atau melalui budak perempuan tidak tersedia. Karena itu, hanya Islam yang mampu mengobati secara menyeluruh dan tepat kerusakan yang disebabkan oleh naluri berketurunan dalam masyarakat dan di antara manusia. Pengobatan yang tepat dan menyeluruh seperti ini akan menghasilkan ketakwaan dan kemuliaan dalam masyarakat dan di antara manusia.
This shows the fallacy of the Western and Communist point of view, which made the community's view to the relations between men and women focused on the male-female relations. Consequently, it shows the falsehood of the treatment produced by this point of view of stimulating the instinct in the man and the woman via highlighting things that stimulate it, such as free mixing, dancing, games, stories, etc. It also shows the truthfulness of the Islamic point of view which made the community's view to man-woman relations focused on the purpose for which this instinct was created, namely preserving the human race. Accordingly, it shows the correctness of the solution produced by this view of keeping away any kind of stimulating tangible reality or sexual thought when legal satisfaction through marriage or through concubines is not available. Therefore, Islam alone is able to completely and correctly treat the corruption caused by the procreation instinct in the society and among the people. Such correct and complete treatment will result in piety and elevation in the society and among the people.