Tentang Penulis
About The Author
Syaikh Fareed Saalih (Haafizh Saalih) rahimahullah dilahirkan di sebuah desa di Palestina. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau berhenti sekolah dan bekerja di Palestina sebelum pindah ke Kuwait pada awal tahun 1950-an. Beliau menempuh pendidikan menengahnya pada akhir tahun 1960-an di Yordania, dan memperoleh gelar Baccalaureus serta gelar Magister dalam Studi Islam di Pakistan pada pertengahan tahun 1980-an.
Sheikh Fareed Saalih (Haafizh Saalih) May Allah’s mercy be upon him, was born in a Palestinian village. After completing his primary education he left school and worked in Palestine before moving to Kuwait in the early 1950’s. He obtained his secondary education at the end of the 1960’s in Jordan and attained a Baccalaureus degree and Masters in Islamic Studies in Pakistan in the mid 1980’s.
Dia menikah dan memiliki dua belas anak serta tiga puluh empat cucu.
He was married and had twelve children and thirty-four grandchildren.
Ia mulai mengemban Dakwah Islam sejak tahun 1950-an dan menjadikan pekerjaan ini sebagai prioritas di atas segala prioritas lainnya. Ia mengemban Dakwah di Irak, Yordania, Lebanon, Mesir, Pakistan, dan Tunisia. Ia dipenjara di Yordania pada tahun 1969 dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Ia dipenjara di Irak pada masa Abd Al-Ilah, masa Abdul Karim Qasim, Ahmad Hasaan Al-Bakr, dan Saddam. Ia juga dipenjara di Mesir pada masa Sadat di Mesir, dan diburu oleh badan-badan intelijen Habib Bourguiba (Tunisia) dan Hafez Al-Asad (Suriah).
He began to carry the Islamic Da’wah from the 1950’s and prioritised this work above all other priorities. He carried the Da’wah in Iraq, Jordan, Lebanon, Egypt, Pakistan and Tunisia. He was imprisoned in Jordan in 1969 and was given a life-sentence. He was imprisoned in Iraq in the days of Abd Al-Ilah, the days of Abdul Karim Qasim, Ahmad Hasaan Al-Bakr and Saddam. He was also imprisoned in Egypt in the days of Sadat in Egypt and hunted by the intelligence agencies of Habib Bourguiba (Tunisia) and Hafez Al-Asad (Syria).
Dia mengemban Dakwah di Tepi Barat dan Irak pada tahun enam puluhan, kemudian kembali ke Yordania untuk beberapa waktu sebelum pindah ke Mesir pada masa Sadat. Setelah dipenjara, ia kembali ke Yordania lalu pergi ke Irak, di mana ia dipenjara. Setelah itu ia kembali sebentar ke Yordania, lalu secara diam-diam pergi ke Lebanon, di mana ia mendampingi Syekh Taqi ud Deen An-Nabhani (rh) selama tiga tahun hingga sang Syekh wafat. Ia kemudian mendampingi Syekh Abu Yusuf (Abdul Qadeem Az-Zaloum) (rh) untuk waktu yang singkat, sebelum pindah ke Tunisia, di mana disebutkan bahwa ia menyelenggarakan lebih dari empat puluh halaqah kebudayaan setiap pekan. Kemudian ia meninggalkan Tunis untuk kembali ke Lebanon sebelum diutus ke Pakistan, tempat ia tinggal selama dua tahun sebelum kembali ke Lebanon. Pada saat itu kesehatannya menurun dan ia terkena stroke yang menghalanginya beraktivitas untuk beberapa waktu. Ia juga diburu oleh dinas intelijen Suriah, sehingga ia memutuskan untuk kembali dan menetap di Yordania pada akhir tahun 1990-an, dan tinggal di sana hingga wafat (rh). Pada saat itu, dalam pengantar sebuah buku yang tidak sempat ia selesaikan, ia menyatakan bahwa kesehatannya menghalanginya untuk terlibat dalam dakwah secara aktif, sehingga ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya menulis dengan harapan hal ini dapat memenuhi sebagian dari apa yang telah diamanahkan kepadanya.
He carried the Da’wah in the West Bank and Iraq in the sixties before returning to Jordan for a time before moving to Egypt in the days of Sadat. After being imprisoned he returned to Jordan and then went to Iraq where he was imprisoned. After that he returned for a short time to Jordan and then secretly went to Lebanon where he accompanied Sheikh Taqi ud Deen An-Nabhani (rh) for three years until the Sheikh passed away. He then accompanied Sheikh Abu Yusuf (Abdul Qadeem Az-Zaloum) (rh) for a short time before moving to Tunisia where it has been mentioned that he conducted more than forty cultural Halaqaat (circles) weekly. He then left Tunis to return to Lebanon before being sent to Pakistan where he remained for two years before returning to Lebanon. At this time his health declined and he suffered a stroke that prevented his activity for a while. He was also being hunted by the Syrian intelligence and so he decided to return to live in Jordan in the latter 1990’s where he remained until he passed away (rh). At this time he stated in the introduction to a book that he never completed that his health prevented him from engaging in the active Da’wah and so he decided to spend his time writing in the hope that this would fulfil some of what he had been obliged with.
Adapun tentang afiliasi dan keanggotaannya, maka orang-orang yang mengenalnya menjadi saksi dan bukti bahwa ia memandang dirinya termasuk dari keluarga gerakan Dakwah. Setiap orang yang lebih tua baginya adalah paman, setiap orang yang seusia dengannya adalah saudara, dan setiap orang yang lebih muda adalah seperti anaknya. Namun jika ia jengkel terhadap salah seorang dari mereka, maka orang itu bukan lagi anaknya, melainkan keponakannya.
As for his affiliation and belonging then those who knew him bear witness and testimony to the fact that he saw himself as being from the family of the Da’wah movement. Every elder was his uncle, everyone from his age was his brother and everyone who was younger was like his son and if he was annoyed by any of them then they would not be his son but rather his nephew.
An-Nahdah termasuk di antara beberapa kitab yang ia tulis dan masukkan.
An-Nahdah was from amongst some of the books that he wrote and included.
Demokrasi dan hukum Islam mengenai hal tersebut.
- Democracy and the Islamic ruling in regards to it.
- Metodologi Al-Qur'an Al-Karim dalam Dakwah.
- The methodology of the Qur’an Al-Kareem in the Da’wah.
Pembahasan Dakwah dalam Cahaya Surah-Surah Makkiyah.
- Examination of the Da’wah in light of the Makki Surahs.
Pengkajian Dakwah dalam Cahaya Surah-Surah Madaniyah.
- Examination of the Da’wah in light of the Madani Surahs.
Selain itu, beliau juga menulis kitab-kitab dan penjelasan-penjelasan lain, di samping beberapa puisi prosa (Qasaa’id).
He also wrote other books and explanations in addition to some prose poetry (Qasaa’id).
Semoga Allah Ta'ala menerima hal ini darinya dan mengangkatnya di antara golongan orang-orang yang bertakwa, jujur, syuhada, dan para nabi.
May Allah Ta’Alaa accept this from him and raise him amongst the ranks of the pious, truthful, Shuhadaa’ and Anbiyaa’.