Al-Insaan (manusia):
Al-Insaan (the human being):
Kajian ini berkaitan dengan manusia dan pemahaman tentang tingkat keluhuran atau kemerosotannya, serta cara memastikannya yang bersumber dari perbuatan dan perilakunya, baik itu berlaku pada seorang individu maupun sebuah kelompok, karena kajian ini berhubungan dengan manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami manusia ini sesuai dengan hakikat sejatinya, sehingga kita dapat mengetahui kapan ia merosot dan kapan ia terangkat. Memahami manusia memerlukan pemahaman tentang faktor pendorong bagi perbuatan dan perilakunya, memahami cara perbuatan dan perilaku itu berlangsung, serta memahami apa yang mengendalikan perilaku manusia ini dan kesesuaiannya dengan perilaku kelompok atau kolektif dari orang-orang di sekitarnya.
This study concerns the human and understanding his level of elevation or decline and the way of ascertaining that emanates from his actions and behaviours whether this applies upon an individual or a group, as the study relates to the human in his capacity as a human being. Therefore it is essential to understand this human upon his true reality, so that we can know when he is declined and when he is elevated. Understanding the human requires an understanding of the motivating factor for the actions and behaviours, understanding the manner in which they proceed in addition to that which controls the behaviour of this human and his conformity to the behaviour of the group or collective from amongst those who surround him.
Memang benar bahwa memandang manusia termasuk dalam pandangan menyeluruh tentang alam semesta serta apa yang tercakup di dalamnya dari segi kehidupan. Namun, manusia yang menempati alam semesta ini berbeda dari seluruh makhluk lainnya dengan karakteristik dan sifat-sifat yang khas baginya. Meskipun ia merupakan bagian materi dari alam semesta dan ciptaan, serta termasuk bentuk-bentuk kehidupan yang berjalan di atas bumi, ia tetap berbeda sepenuhnya dari makhluk-makhluk tersebut karena keistimewaan yang Allah (SWT) anugerahkan kepadanya, yaitu akal (‘aql) dan apa yang telah dianugerahkan kepadanya berupa pemahaman dan pengertian. Inilah alasan mengapa segala yang ada dalam ciptaan ditundukkan untuk melayani manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah (SWT) kepadanya.
Yes, it is correct to say that taking a view of the human falls under the overall view of the universe as a whole and what is included within it in terms of life however the human who fits into this universe differs from all other creations with characteristics and attributes that are unique to him. Despite being a material part of the universe and creation and from the forms of life that walks upon the earth, he does however differ completely from this creation due to what Allah (swt) made special with him in terms of his ‘Aql (mind) and that which has been bestowed upon him in terms of comprehension and understanding. This is the reason for subjecting that which exists in the creation to the service of man, as a mercy and favour from Allah (swt) to him.
Dan Dia telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semuanya (berasal) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (Al-Jaatsiyah: 13).
And He has subjected for you all that is in the heavens and all that is on the earth - from Him. Indeed in that are signs for a people who give thought (Al-Jaathiyah 13).
Dan Dia telah menundukkan untukmu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar, dan Dia telah menundukkan untukmu malam dan siang.
And He subjected for you the sun and the moon, continuous [in orbit], and subjected for you the night and the day (Ibrahim 33).
Dan Dia menundukkan untukmu kapal-kapal agar berlayar di lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menundukkan untukmu sungai-sungai. (Ibrahim: 32)
And He subjected for you the ships to sail through the sea by His command and subjected for you the rivers (Ibrahim 32).
Selain ayat-ayat ini, ada pula ayat-ayat lain yang menjelaskan karunia yang Allah (SWT) berikan dengan kemurahan-Nya kepada manusia ini, berupa nikmat akal dan pemahaman, serta apa yang menyertainya, yaitu penyediaan dan penundukan segala yang ada di alam semesta untuknya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari apa yang ia kehendaki, dengan cara apa pun yang bisa ia temukan untuk memanfaatkannya.
There are in addition to these other Aayaat (verses) which explain that which Allah (swt) has bestowed out of his favour upon this human being in terms of the blessing of the mind and comprehension and what follows this in terms of providing and subjugating all that is in existence to him and allowing him to seek benefit from what he wishes and in whatever way he can find to utilise them.
Maka manusia adalah makhluk hidup dan memiliki segala sifat yang dimiliki makhluk hidup lainnya. Ia tumbuh dan berkembang, makan dan minum, beristirahat, berketurunan, dan berkembang biak. Ia memelihara dan melindungi dirinya sendiri. Ia merasakan dan menyadari kelemahan serta kebutuhannya, lalu berusaha memenuhinya. Demikian pula, ia merasakan kasih sayang dan kelembutan, keayahan dan keanakan, sebagaimana ia merasakan takut dan rasa aman, cinta diri, cinta kekuasaan dan kepemilikan. Ia marah dan senang, bergembira dan bersedih, serta merasakan berbagai sensasi atau perasaan lainnya. Semua itu menimbulkan dalam dirinya keinginan dan memberinya dorongan untuk bergerak demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dan meredakan gejolak-gejolak tersebut, yang lahir dari energi hidup yang melekat dalam dirinya.
So the human is a living body and has everything that any other living body has in terms of attributes. So he develops, grows, eats, drinks, rests, produces offspring, populates, he takes care and protects himself, he senses and feels his inabilities and need whilst seeking to cater for this. Similarly he feels compassion and tenderness, paternity and sonship, just as he feels fear and security, love of the self, of authority and ownership and he gets angry and pleased, he celebrates and he is sad amongst other sensations or feelings that generate within him the desire and provide for him an incentive to go forth in order to satisfy these wants and deal with these hungers, that are a product of the life energy that lies inherently within him.
Juga tubuh yang menyerupai mesin ini memiliki kebutuhan dalam hal geraknya, kelangsungannya, pembangunannya, pembentukannya, perbaikan terhadap apa yang rusak atau cacat, dan penyingkiran terhadap apa yang menyebabkan kerusakan berupa sisa-sisa buangan. Dengan demikian, Taaqah Al-Hayyawiyah (energi/daya hidup) mendorongnya untuk memperoleh makanan dan air setiap kali tubuh membutuhkannya, atau untuk membuang apa yang membakar atau merusak di dalamnya. Oleh karena itu, manusia ini sejak saat kelahirannya hingga saat kematiannya berada dalam keadaan gerak yang terus-menerus dan berkesinambungan, dan karena hal ini ia membutuhkan apa yang diperlukannya berupa energi untuk gerakan ini, serta apa yang dibutuhkan tubuh berupa komponen dan alat. Manusia, dengan demikian, senantiasa sibuk memenuhi kebutuhannya atau menghalau rasa laparnya yang dituntut dari tubuh ini dalam struktur organ dan struktur instingtifnya, dan dengan cara ini ia seperti makhluk hidup atau wujud lainnya. Namun, ia berbeda dari semua makhluk atau benda hidup lainnya dalam hal cara ia meraih apa yang memuaskan rasa laparnya dan dalam hal cara memuaskannya. Makhluk hidup dan binatang lainnya bertindak dengan reaksi naluriah (Raj’i Ghareezi) sesuai dengan Fitrah (kodrat) yang telah Allah (SWT) berikan kepada mereka.
Also this body that resembles a motor has needs in terms of its movement, continuation, building, forming, fixing what is broken or damaged and removing that which causes it damage in terms of waste. As such the Taaqah Al-Hayyawiyah (Life energy/force) drives him to obtain nourishment and water whenever the body requires this or to remove that which burns or is damaged within it. Therefore this human from the time of his birth until the time of his death is in a state of continuous and sustained movement and due to this he requires what he needs in terms of energy for this movement and what the body requires in terms of components and tools. The human is as such always busy in securing his need or driving away his hunger that is demanded from this body in its organ structure and instinctive structure, and in this way he is like any other living entity or being. However he differs from all other creatures or living things in regards to the manner in which he fulfils the attainment of that which satisfies his hungers and in regards to the manner of satisfying them. Other living things and creatures act by instinctive reaction (Raj’i Ghareezi) according to the Fitrah (nature) that Allah (swt) has given them.
Dan (Zat) yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya), serta yang memberi kadar (ukuran) dan memberi petunjuk (Al-A'laa 3).
And (the One) who gave proportion and guided (AL-‘Aalaa 3).
Makhluk-makhluk ini berperilaku dengan cara-cara tertentu untuk mempertahankan hidupnya, untuk menjaga dirinya dan melestarikan jenisnya, atau untuk memenuhi rasa laparnya, dengan gaya dan sarana yang menakjubkan dan mengagumkan. Namun manusia berbeda dari mereka, karena ia bertindak sesuai dengan akal yang telah Allah (SWT) anugerahkan kepadanya, dan bukan sesuai dengan reaksi naluriah sebagaimana makhluk hidup lainnya. Ketika ia hendak memenuhi rasa laparnya, memenuhi kebutuhan atau keinginannya, ia hanya melakukannya berdasarkan pemahaman intelektual dan dengan membentuk suatu konsep tentang perkara yang sedang dihadapinya, mengenai apakah hal itu dapat membawa pada pemenuhan atau tidak. Dan apakah diperbolehkan baginya untuk mencari pemanfaatan darinya atau tidak. Dengan demikian, manusia tidak melangkah atas suatu perkara dari sekian perkara hingga ia telah mengajukan dua pertanyaan kepada dirinya sendiri.
So these creatures behave in specific ways to maintain their life, to preserve themselves and maintain their species or to fulfil their hungers with mind boggling and wondrous styles and means. However the human being differs from them because he acts in accordance to his mind that Allah (swt) has bestowed upon him and not in accordance to instinctive reaction like the other living creatures. When he goes forth to satisfy his hunger or fulfil his need or desire he only does this based on a intellectual comprehension and by forming a concept about a matter that he is addressing, in regards to whether it can lead to satisfaction or not? And whether it is permitted for him to seek utilisation by it or not? As such the human does not proceed upon a matter from amongst matters until he has posed two questions to himself.
Pertanyaan pertama: Apakah benda atau perkara ini mengandung sesuatu yang memuaskan keinginannya, memenuhi kebutuhannya, atau memuaskan hasratnya? Jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada konsep yang ia miliki. Jika konsepnya tentang perkara tersebut adalah bahwa perkara itu memuaskan keinginannya, memenuhi suatu kebutuhan, atau memuaskan hasratnya (baik konsep ini berasal dari dirinya sendiri maupun diambil dari orang lain), maka dengan konsep yang ia miliki itu saja, ia akan condong kepadanya, merasakan dorongan dan keinginan untuk mengambilnya. Inilah yang kita sebut ‘konsep tentang suatu benda atau perkara’. Namun, ia menahan diri untuk mengambilnya dan memanfaatkannya sampai ia mendengar jawaban atas pertanyaan kedua, yaitu: Apakah boleh memanfaatkan benda atau perkara ini dan memuaskan keinginannya dengannya, ataukah tidak boleh? Jika jawabannya negatif, ia akan berpaling darinya, memalingkan kecenderungannya darinya, atau berusaha melakukannya, karena tidak boleh memanfaatkannya atau memenuhi keinginannya dengannya. Namun jika jawabannya positif, yakni boleh memanfaatkannya, maka ia akan mengambilnya, melakukannya, dan memuaskan keinginannya dengannya. Inilah yang kita sebut ‘konsep tentang kehidupan’.
The first question: Does this thing or matter contain that which satisfies his hungers, meets his needs or satisfies his desires? And the answer to this question rests upon the concepts that he carries, so if his concept about the matter is that is satisfies his hunger or meets a need or satisfies his desire (whether this concept has originated from him or has been taken from others) then by this concept alone that he possesses, he will attain the inclination towards it and will feel the pressure and hunger towards taking it and this is what we call ‘the concept about a thing or matter’. However he refrains from engaging in taking it and seeking utility from it until he has heard the answer to the second question which is: Is it permissible to utilise or benefit from this thing or matter and satisfy his hunger from or by it or is it not permissible to do so? Then if the answer to this is negative he will incline away from it, turn his inclination away from it or attempt to do so because it is not permissible to benefit from it or meet his hunger by it. If however the answer is positive in the case where it is permissible to benefit from its use, then he will take it, perform it and satisfy his hunger by it. This is what we call ‘The concept about life’.
Oleh karena itu, yang menentukan tingkah laku atau perilaku seseorang adalah konsep-konsepnya tentang segala sesuatu dalam hal apakah hal itu memuaskan atau tidak memuaskan, lalu konsep-konsepnya tentang kehidupan dalam hal apakah perkara tersebut diperbolehkan atau tidak.
Therefore that which determines the conduct or behaviour of a person is his concepts about things or matters in terms of them being satisfying or not satisfying and then his concepts about life in terms of the matter being permissible or not.
Konsep-konsep tentang perkara atau benda pada dasarnya bisa dikatakan sama bagi anak-anak Adam (manusia), dan tidak ada perbedaan di antara mereka selain perbedaan dalam selera dan keinginan. Dengan demikian, dalam hal konsep tentang benda serta pemahaman atau pengetahuan tentang sifat-sifat yang dimilikinya dan manfaat yang terkandung di dalamnya, semuanya sama bagi manusia. Hal-hal tersebut tidak memengaruhi perilaku atau tindak-tanduk manusia dalam hal ketinggian maupun kemerosotan derajatnya. Maka buah-buahan, sayur-sayuran, dan daging dalam berbagai bentuk dan jenisnya yang beragam, mengetahui bahwa perempuan memuaskan dorongan yang berkaitan dengan keturunan, bahwa ibadah memuaskan dorongan yang berkaitan dengan penyucian diri, bahwa pakaian melindungi seseorang dari dingin dan panas atau dikenakan karena alasan penampilan, maka semua konsep tentang perkara atau benda ini sama bagi manusia, karena semuanya merupakan pengetahuan yang dipelajari atau pemahaman tentang sifat-sifat benda dalam kaitannya dengan kemampuannya memuaskan dorongan tersebut atau tidak.
The concepts about matters or things could virtually be the same in respect to the sons of Adam (humans) and there are no differences between them apart from differences in tastes and desires. As such in terms of the concepts about things and understanding or knowing the attributes they consist of and the benefits that they contain, then these are one and the same in respect to humankind. As such these do not affect the conduct or behaviour of the human in terms of his elevation or level of decline. So fruits, vegetables and meats in their different and various forms and categories, knowing that the female satisfies the hunger related to procreation, that worship satisfies the hunger related to sanctification, that clothing protects the person from the cold and heat or is worn for reasons of appearance, then all of these concepts about matters or things are the same in respect to the human being because they represent studied knowledge or a comprehension of the attributes of things in respect to them satisfying the hunger or not satisfying it.
Adapun konsep-konsep tentang kehidupan dalam hal boleh atau tidaknya mencari kepuasan dari suatu benda atau perkara tertentu, maka persoalan ini tidak terletak pada benda atau perkara itu sendiri dan tidak pula pada diri manusia itu sendiri. Namun, perlu dikembalikan kepada satu prinsip atau beberapa prinsip yang dijadikan kriteria atau ukuran bagi tindakannya dan takaran bagi perilakunya. Artinya, kembali kepada pandangan hidupnya dalam kaitannya dengan melakukan suatu tindakan atau menahan diri darinya. Dan pandangan hidup seorang Muslim adalah halal dan haram. Oleh karena itu, setiap kali muncul rasa lapar padanya, misalnya yang berkaitan dengan perut, lalu ia melihat semangkuk makanan dan mengetahui bahwa makanan itu layak dimakan karena pengetahuannya bahwa itu adalah makanan yang biasa dimakan, maka ia akan cenderung kepadanya. Namun, ia tidak akan mengambilnya hingga ia menjawab pertanyaan kedua: apakah boleh mengambil manfaat darinya atau tidak? Dengan kata lain, ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah halal atau haram untuk mengambil dan memakannya. Jika kemudian ia mengetahui bahwa makanan ini mengandung sesuatu yang bertentangan dan menyalahi takaran yang ia kembalikan (untuk diputuskan), yaitu pandangan hidupnya, seperti jika ia mengetahui bahwa makanan itu najis, atau bahwa di dalamnya terdapat daging babi, atau bahwa pemiliknya tidak memberi izin untuk mengambilnya, maka dalam keadaan-keadaan seperti ini ia akan menahan diri dari mengambilnya, terlepas dari kecenderungannya kepadanya, dan ia kemudian berusaha menjauhkan kecenderungan itu. Contoh ini dapat diterapkan pada apa pun yang dijumpai manusia dalam kaitannya dengan pemenuhan rasa lapar apa pun dari antara rasa laparnya atau keinginan apa pun dari antara keinginannya, baik dari rasa lapar yang bersifat jasmani seperti makan dan minum, maupun dari rasa lapar yang bersifat naluriah seperti pengagungan, reproduksi, dan kelangsungan hidup.
As for the concepts about life in terms of it being permissible to seek satisfaction from a certain thing or matter or it not being permissible to do so, then this issue rests outside of the thing or matter itself and outside of the human himself. Rather it is necessary to return to a principle or principles which are used as criteria or a measurement for his actions and a measure for his behaviours. This means returning to his viewpoint in life in respect to undertaking an action or refraining from it. And the viewpoint of the Muslim in life is the Halaal and the Haraam. Therefore whenever a hunger comes to him like that related to the stomach for example and he sees a bowl of food and knows that it is suitable to be eaten due to his knowledge that it is food that is eaten, then he will be inclined towards it, however he will not take it until he has answered the second question: Is it permissible to take benefit from it or is it not? In other words he is asking himself whether it is Halaal or Haraam to take it and eat it. If he then knows that this food contains something that contravenes and is against the measurement that he returns to (for judgment) i.e. his viewpoint in life, like if he knew that is was Najas or that pork was contained within it or that its owner had not given permission for him to take it, then in the like of these circumstances he would refrain from taking it regardless of his inclination towards it and he then attempts to distance this inclination. This example can be applied to anything that the human comes across in relation to the satisfaction of any hunger from amongst his hungers or desire from amongst his desires and whether it was from the organic hungers like eating and drinking or from the instinctual hungers like sanctification, procreation and survival.
Dan berdasarkan hal ini kita katakan: Bahwa seluruh perbuatan manusia dibatasi oleh ukuran, kriteria dan prinsip yang ia yakini dan yang telah ditetapkan oleh pandangannya terhadap kehidupan, yaitu oleh Aqidahnya (keyakinan tentang kehidupan). Dan bahwa setiap perbuatan dari antara perbuatannya ditentukan dan berjalan sesuai dengan konsepnya tentang kehidupan, baik dalam hal melakukan perbuatan itu atau menahan diri darinya, baik perbuatan itu bersifat mendasar atau tidak, besar atau kecil, dan bernilai tinggi atau rendah. Maka Aqidahnya adalah prinsip dasar (atau landasan) bagi pemikiran dan konsepnya tentang kehidupan, dan seluruh sistem kehidupan bersumber darinya. Pandangannya terhadap kehidupan diambil darinya, begitu pula prinsip, kriteria dan ukuran yang membedakan yang khabits (kotor/buruk) dari yang thayyib (baik/bersih) dan gandum dari sekam.
And based on this we say: That all of the actions of the human are restricted by measurements, criteria and principles that he believes in and which have been defined by his viewpoint in life i.e. by his Aqeedah (belief about life). And that every action from amongst his actions is determined and runs in accordance to his concept about life in terms of proceeding to undertake the action or refraining from it, whether this action was a fundamental one or not, great or lowly and of high value or of low worth. So his Aqeedah is the fundamental principle (or basis) for his thoughts and concepts about life and all of the systems of life emanate from it. His viewpoint in life is taken from it, in addition to the principles, criteria and measurements that distinguish the Khabeeth (filth/bad) from the Tayyib (wholesome/good) and the wheat from the chaff.
Inilah yang membedakan manusia dari seluruh makhluk hidup lainnya, dan inilah yang mengangkatnya di atas mereka. Ia memiliki akal yang memahami benda-benda dan perkara-perkara di sekitarnya, serta memiliki pandangan hidup yang mampu menalar kebenaran secara intelektual melalui pemikiran, dan ia meyakini pemikiran-pemikiran tersebut hingga menjadi konsep baginya yang menentukan perilakunya dalam kehidupan dan mengatur tingkah lakunya ketika ia keluar untuk memenuhi rasa laparnya serta memuaskan keinginan atau kebutuhannya.
This is what distinguishes the human from all other living creatures and this is what elevates him above them. He possesses a mind that comprehends the things and matters that are around him and has a viewpoint in life that can intellectually reason the truthfulness by thoughts, and he believes in these thoughts so that they become concepts for him that define his conduct in life and regulate his behaviours when he goes forth to satisfy his hungers and satisfy his desires or wants.
Berdasarkan hal ini, penilaian terhadap manusia dibuat melalui perbuatannya. Penilaian ini dibuat atas pemikiran apa yang ia yakini, apa yang ia jadikan tolok ukur bagi dirinya, serta apa yang ia jadikan sudut pandang dalam kehidupan. Penilaian terhadap pemikiran-pemikiran tersebut memerlukan adanya prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran yang diterima, yang menjadi rujukan ketika menetapkan suatu penilaian.
Based upon this the judgement upon this human is made through his actions. This is a judgement made upon what thoughts he believes in and what he has taken as a criterion for himself in addition to what he has made the viewpoint in life. Judgement upon these thoughts requires the presence of principles and given accepted truths that are returned to when issuing a judgement.
Oleh karena itu, persoalan di sini adalah memahami seorang manusia tertentu. Apakah ia terangkat atau merosot? Ini adalah penilaian atas perbuatan dan perilakunya berdasarkan kriteria kita tentang konsep dan keyakinan mengenai perbuatan dan perilaku yang luhur serta sifat-sifat yang terkait dengannya, seperti ketidakmementingkan diri sendiri, kebaikan, kesatriaan, dan kesetiaan atau kepercayaan, di samping kebaikan bertetangga, kejujuran dalam transaksi, ketulusan, dan kesempurnaan, serta ukuran dan kriteria lain yang digunakan orang untuk menentukan hakikat sebenarnya dari suatu perbuatan.
Therefore the issue here is about understanding a particular human being. Is he elevated or declined? It is a judgement upon his actions and behaviours based on our criteria of concepts and convictions about the elevated actions and behaviours and its associated characteristics like selflessness, goodness, chivalry and loyalty or trustworthiness, in addition to good neighbourliness, honesty in transactions, sincerity and perfection amongst other measurements and criteria that people use to ascertain the true reality of actions.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan kezaliman. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An-Nahl: 90)
Verily Allah orders justice and good conduct and giving to relatives and forbids immorality and bad conduct and oppression. He admonishes you that perhaps you will be reminded (An-Nahl 90).
Dan Dia (SWT) berfirman:
And He (swt) said:
Kebajikan bukanlah dengan menghadapkan wajah kalian ke arah timur atau barat, tetapi [kebajikan yang sebenarnya] adalah [milik] orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, para malaikat, Kitab, dan para nabi, serta memberikan harta, meskipun ia mencintainya, kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan budak; [dan orang yang] mendirikan shalat dan menunaikan zakat; [orang-orang yang] menepati janji apabila mereka berjanji; dan [orang-orang yang] sabar dalam kesengsaraan, penderitaan, dan pada saat pertempuran. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Righteousness is not that you turn your faces toward the east or the west, but [true] righteousness is [in] one who believes in Allah , the Last Day, the angels, the Book, and the prophets and gives wealth, in spite of love for it, to relatives, orphans, the needy, the traveller, those who ask [for help], and for freeing slaves; [and who] establishes prayer and gives Zakah; [those who] fulfil their promise when they promise; and [those who] are patient in poverty and hardship and during battle. Those are the ones who have been true, and it is those who are the righteous(Al-Baqarah 177).
Rasulullah ﷺ bersabda:
The Messenger of Allah (saw) said:
"Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada segala sesuatu yang terbit matahari atasnya." (HR. At-Tabaraani dari Abu Raafi')
<<For one person to be guided by Allah by your hands is better for you than all that the sun rises upon>> (At-Tabaraani from Abu Raafi’).