Ummah macam apa sebenarnya umat kita ini?
What Type Of Ummah Is This Ummah Of Ours?
Ummah Islam adalah dasar pembentukannya, dan bukti hal ini adalah apa yang ditulis oleh ‘Ali bin Abi Thalib (ra) dan didiktekan kepadanya oleh Muhammad Rasulullah ﷺ dalam konstitusi tertulis pertama, yang ditandatangani oleh masyarakat ketika Rasulullah ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah. Pasal pertama konstitusi itu memberikan definisi Ummah ini dengan menyatakan: <<Muhammad Rasulullah dan orang-orang Muslim yang beriman bersamanya adalah satu Ummah, dengan mengecualikan semua yang lain>>. Inilah Ummah yang oleh Allah (swt) dijadikan sebagai Ummatan Wasatan (Ummah yang terbaik dan adil), yakni Ummah terbaik yang dibangkitkan untuk umat manusia. Ummah ini menempati posisi sentral di dunia agar dapat menunaikan amanah yang dipercayakan kepadanya, yaitu menjadi saksi atas umat manusia, dan itulah tugas yang sama persis dengan yang dijalankan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau berada di posisi sentral Ummah ini, beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah, tulus kepada Ummah, dan berjihad di jalan Allah serta mencurahkan segenap kemampuannya ﷺ.
It is the Islamic Ummah and the evidence for this is what ‘Ali Ibn Abi Taalib (ra) wrote and was dictated to him by Muhammad the Messenger of Allah (saw) in the very first written constitution which the people signed upon when the Messenger of Allah (saw) made Hijrah from Makkah to Al-Madinah. The first article in the constitution provided the definition of this Ummah when it stated: <<Muhammad the Messenger of Allah and those believing Muslims with him are one Ummah to the exclusion of all others>>. This is the Ummah that Allah (swt) has made the Ummatan Wasatan (The best/just Ummah) meaning the best Ummah raised up for mankind. It occupies the centre stage in the world so that it can fulfil the mission that it has be entrusted with to bear witness over mankind which is exactly the same mission that the Messenger of Allah (saw) undertook. He was at the centre stage of this Ummah, he conveyed the message, fulfilled the trust, was sincere to the Ummah and performed Al-Jihaad in the way of Allah and gave it his all (saw).
Beliau ﷺ meninggalkan di tengah umat ini suatu jaminan untuk melindunginya dari kebinasaan dan kesesatan, sebagaimana beliau ﷺ bersabda:
He (saw) left in this Ummah a security to protect it from loss and misguidance as he (saw) said:
"Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan pernah sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Sunnahku" (Shahih, diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Abu Hurairah (ra)).
<<I have left amongst you that which if you hold on to it firmly, you will never ever go astray: The Book of Allah and my Sunnah>> (Saheeh related by Al-Haakim from Abu Hurairah (ra)).
Ini adalah kesaksian (Syahadah) Rasulullah ﷺ atas umatnya dan hujjah beliau terhadap mereka, lalu di mana kesaksian umatnya atas sekalian manusia yang lain? Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menangis ketika mendengar firman Allah (SWT):
This is the witness (Shahaadah) of the Messenger of Allah (saw) upon his Ummah and his argument against them, so where is the witness of his Ummah over the rest of the people? Indeed the Messenger of Allah (saw) cried when he heard the statement of Allah (swt):
Maka bagaimanakah (keadaan mereka) nanti apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad ﷺ) sebagai saksi atas mereka itu.
So how [will it be] when We bring from every nation a witness and we bring you, [O Muhammad] against these [people] as a witness (An-Nisaa 41).
Lalu beliau bersabda kepada orang yang sedang membaca itu: "Itu sudah cukup."
And then he said to the one who was reciting: ‘That is sufficient’.
Rasulullah ﷺ mengemban dan memikul urusan ini sepanjang hidupnya hingga beliau diangkat ke tempat teragung di sisi Allah, lalu urusan ini diserahkan dan ditinggalkan kepada umatnya. Maka mereka bangkit memikul tanggung jawab ini, dan Abu Bakr Ash-Shiddiq (ra) adalah orang pertama yang memegang kepemimpinan dalam hal ini setelah Nabi ﷺ. Ia menegakkan hujah atas bangsa Persia dan Romawi, dan setelah itu ‘Umar bin Al-Khaththab (ra) mengikutinya dalam hal ini, yang kemudian diikuti oleh para Khalifah dan pemimpin yang dengan teguh menegakkan hujah atas manusia pada masa itu. Mereka adalah Ummatan Wasathan, negara nomor satu, dan menempati pusat panggung dunia; mereka menegakkan bukti atas umat manusia dan terus menyampaikan apa yang telah dimulai oleh Rasulullah ﷺ.
The Messenger (saw) assumed and took charge of this matter throughout his life until he was raised to the best company and this matter was then entrusted and left to his Ummah. So they rose up to this responsibility and Abu Bakr As-Siddeeq (ra) was the first to assume the leadership in this (after the Nabi (saw)). So he established the witness over the Persians and Romans and then he was followed in this by ‘Umar Ibn Al-Khattaab (ra) who in turn was followed by Khulafaa’ and leaders who firmly established the witness over the people of that time. They were the Ummah Wasat, the number one State and occupied the central stage in the world; they established the proof upon mankind and continued to convey that which the Messenger (saw) had started.
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Saba’: 28).
And we have not sent you except to the entirety of mankind as a bringer of glad tidings and a warner however most of the people do not know (Saba’ 28).
Maka Ummat membawa Dakwah Islam dan menyampaikannya kepada seluruh bangsa di dunia, dari perbatasan Cina di Timur hingga Samudra Atlantik di Barat, dari Turkistan, Samarkand dan Azerbaijan melintasi Asia Tengah hingga mencapai gerbang Wina di tengah Eropa, dan dari Gibraltar hingga Poitiers di Prancis, tidak jauh dari Paris. Keadaan ini terus berlangsung selama mereka berpegang pada apa yang Allah (SWT) perintahkan kepada mereka, yaitu menyerukan yang Ma'ruf (kebaikan) dan mencegah yang Munkar (keburukan). Namun setelah itu mereka berpaling darinya, kelemahan pun merayap masuk, dan mereka menjauh dari apa yang dahulu mereka serukan serta semakin dekat kepada apa yang dahulu mereka larang. Api Iman melemah di dalam dada mereka, mereka mulai keliru memahami tujuan hidup dan makna menjadi seorang Muslim, pemahaman mereka tentang Islam melemah, pemikiran mereka merosot, dan sesungguhnya mereka mengalami kemunduran di banyak bidang. Akibatnya, penyakit perpecahan, keterbelakangan dan kemerosotan menyebar di tengah mereka, seperti nasionalisme, kesukuan, patriotisme, kedaerahan dan fanatisme kelompok. Maka negara mereka pun berlalu dari tangan mereka, kekuatan mereka hancur, dan negara mereka dibongkar. Sesungguhnya mereka sendiri yang meruntuhkan negara mereka dan merobek panji kejayaan mereka, lalu mendatangi meja-meja bangsa lain dan mengambil dari mereka apa saja yang mereka kira dapat memperbaiki urusan mereka.
So the Ummah carried the Da’wah of Islaam and conveyed it to all of the nations of the world from the borders of China in the East to the Atlantic Ocean in the west, from Turkistan, Samarqand and Azerbaijan through central Asia until it reached the gates of Vienna in the middle of Europe and from Gibraltar to Poitiers in France not far from Paris. This reality continued for as long as they were characterised with what Allah (swt) had commanded them with; ordering the Ma’rouf (good) and forbidding the Munkar (wrong). However after that they turned away from this, weakness crept in and they became distanced from that which they had been ordering and became closer to that which they had been forbidding. The flame of Imaan weakened within their breasts, they began to misunderstand their purpose in life and the meaning of being Muslims, their understanding of Islaam weakened and their thinking declined and indeed they declined in many areas. Therefore the diseases of division, backwardness and decline spread amongst them like those of nationalism, tribalism, patriotism, regionalism and clannism and so their State passed by them, their might was broken and their State was dismantled. Indeed they brought down their State and tore up the banner of their glory and presented themselves at the tables of the other nations taking from them anything they thought would mend their affairs.
Dan hari ini kita mewarisi hasil dari hal ini, padahal yang dituntut dari kita adalah menjadi Shuhadaa’ ‘Ala-n-Naas (menjadi saksi atas umat manusia). Maka, mungkinkah kita menjadi saksi atas umat manusia tanpa lebih dahulu menegakkan Islam dalam kenyataan kehidupan? Mungkinkah menjadi saksi atas umat manusia tanpa kita lebih dahulu kembali kepada cara hidup Islami, atau tanpa adanya Negara yang menerapkan Hudud, menjaga batas-batas wilayah, mengurus urusan rakyat, menerapkan Islam di dalam negeri, dan membawa Islam kepada bangsa-bangsa di muka bumi, sehingga hujah dan bukti tegak atas mereka dan dengan demikian menjadi saksi atas mereka? Inilah keadaan ketika Da’wah Islam telah sampai kepada seluruh bangsa, kekuasaan Islam telah tersebar di muka bumi, hukum-hukumnya telah tampak, dan akidah serta pemikirannya telah disampaikan dengan jelas, sehingga tidak ada lagi alasan bagi seorang pun di hadapan Allah. Inilah makna bersaksi.
And today we have inherited the results of this whilst what is required is for us to be Shuhadaa’ ‘Ala-n-Naas (To be witnesses over mankind). So is it possible for us to witness over mankind without first establishing Islaam in the reality of life? Is it possible to be witnesses over mankind without us first resuming the Islamic way of life or without a State that implements the Hudood, protects the boundaries, looks after the people’s affairs, implements Islaam internally and carries Islaam to the nations of the earth so as to establish the proof and evidence over and upon them and as such becoming witnesses over them? This is the situation where the Da’wah of Islaam has reached all nations, the authority of Islam has spread over the earth, its rules have manifested and its beliefs and thoughts have been presented clearly, so that no one will have any argument in front of Allah and this is the meaning of bearing witness.
Kita telah mewarisi kondisi ini, dan kita, lebih dari satu miliar kaum Muslimin di lebih dari lima puluh negara, tidak memiliki kekuasaan di satu pun dari negara-negara tersebut. Bahkan Islam tidak memiliki kehadiran dalam kehidupan umum masyarakat, karena sebagian besar individu yang beriman telah membatasi Islam hanya pada ibadah dan akhlak (kecuali bagi mereka yang Allah rahmati). Masyarakat pun didominasi oleh pemikiran kapitalis dan sosialis, serta opini-opini yang kalah, munafik, dan apatis. Mereka dicengkeram oleh perasaan dan sentimen patriotik, nasionalistik, dan spiritualistik, sementara negara-negara diatur oleh sistem kapitalis dan sistem kapitalis tambal sulam. Yang lebih besar lagi bencananya, seluruh negara ini tanpa kecuali berjalan sesuai dengan perintah orang kafir dan antek-anteknya.
We have inherited this predicament and we are more than a billion Muslims in more than fifty states and Islaam has no authority in any of them. Indeed it does not even have a presence in the general life of the people as the believers from amongst the individuals have restricted Islaam to the ‘Ibaadaat and Akhlaaq (except for the one whom Allah has been merciful upon) and the societies are dominated by capitalist and socialist thoughts and defeated, hypocritical and apathetic opinions. They are plagued by and under the grip of patriotic, nationalistic and spiritualistic feelings and sentiments whilst the States are governed by capitalist and patchwork capitalist systems. An even greater calamity than this though is that all of these states without exception proceed in line with the commands of the disbeliever and his agents.
Selain itu, para politisi dan blok-blok partai politik dengan berbagai arah mereka saling bersaing dan berebut untuk memperoleh keuntungan politik yang murah serta mewujudkan tujuan-tujuan sesaat dan egois, tanpa memahami secara mendasar apa pun tentang kebangkitan dan tanpa berupaya memperjelas jalan untuk mencapainya. Mereka tidak memiliki lebih dari sekadar slogan-slogan tentang gagasan-gagasan umum yang tidak terperinci, dan mereka tidak mengajukan atau menawarkan suatu metode yang setidaknya dapat menjelaskan apa yang mereka inginkan agar masyarakat bergerak menuju dan bangkit di atas dasarnya. Demikian pula, mereka tidak memperjelas metodologi untuk pekerjaan ini, dan hanya berlandaskan pada demonstrasi, pengibaran slogan-slogan, serta condong kepada para penguasa dan menjilat mereka, atau menentang dan memusuhi mereka setiap kali keadaan menuntut demikian, baik untuk mengamankan suatu kepentingan maupun untuk menyenangkan, menenangkan, dan memuaskan opini jalanan pada waktu tertentu. Dengan demikian, mereka mengajarkan kepada rakyat bahwa politik berarti tipu daya, penyesatan, kemunafikan, dan menjilat demi mencapai tujuan dan mewujudkan harapan dan cita-cita mereka. Dan yang lebih buruk lagi dari semua itu adalah pandangan mereka bahwa wajib hukumnya meminta pertolongan dan bantuan dari orang kafir untuk mewujudkan tujuan dan sasaran mereka, atau setidaknya mereka tidak melihat adanya sesuatu yang salah dalam hal itu, tanpa menyadari bahwa hal tersebut berarti bunuh diri politik.
In addition, the politicians and political party blocs with their different directions compete and battle to attain cheap political gains and to realise temporary and selfish goals without fundamentally knowing anything about the revival and without seeking to clarify a path towards achieving it. They did not possess more than slogans for general unspecific thoughts and they did not present or put forward a method that would in the very least explain what they wanted the society to move towards and to revive upon its basis. Just as they did not clarify a methodology for this work and merely proceeded upon protests, the raising of slogans and inclining towards the rulers and fawning them or opposing them and being hostile to them whenever the situation dictated that, whether this was to secure an interest or to please, appease and satisfy the opinion of street at a given time. In doing so they taught the people that politics meant deception, misleading, hypocrisy and fawning in order to arrive at the goals and realise there hopes and aspirations. And even worse than this, was their view that it was obligatory to seek the help and assistance of the disbeliever to realise their ends and aims and arrive at the purposes or in the very least they did not see anything wrong in doing that and without knowing that this meant political suicide.
Inilah yang telah kita warisi, dan inilah realitas Ummah yang ingin kita bekerja bersamanya untuk menghidupkannya kembali.
This therefore is what we have inherited and this is the reality of the Ummah that we desire to work with in order to revive her.