Pendahuluan
Introduction
Bisa saja terlintas dalam benak bahwa Nahdah itu melambangkan kemajuan ilmiah, peningkatan produksi, banyaknya pabrik, serta penggunaan teknologi dan inovasi dalam bentuk-bentuk material yang dipakai dalam kehidupan, dengan anggapan bahwa Nahdah hanya berarti kemajuan dan beralihnya masyarakat serta manusia dari satu kondisi ke kondisi yang lebih baik. Pemahaman ini sampai pada titik di mana sebagian orang membayangkan bahwa setiap negeri yang mengalami kemakmuran ekonomi berarti telah bangkit, padahal pernyataan ini bertentangan dengan realitas yang tampak dan dirasakan di banyak negeri yang menikmati kemajuan ekonomi, kelimpahan dalam bentuk-bentuk material kehidupan, dan kesejahteraan dalam hidup, sementara pada kenyataannya negeri-negeri tersebut termasuk yang paling terbelakang dan merosot.
It could come to the mind that the Nahdah represents scientific progress, increased production, the abundance of factories and the use of technology and innovation in the material forms used in life with the consideration that the Nahdah only means progress and the moving of the society and people from one condition to a better one. This understanding reached the point to where some imagined that every land that experiences economic affluence is revived despite this statement being contradictory to the witnessed sensed reality in many of the lands that enjoy economic flourishing, abundance in the material forms of life and affluence in living whilst in reality being from amongst the most backward and declined countries.
Oleh karena itu perlu memberikan definisi An-Nahdah, menjelaskan maknanya dan cara mencapainya. Apakah benar seperti yang diklaim sebagian orang: penyebaran pendidikan, peningkatan kekayaan, atau memerangi penyakit dan wabah? Dan berdasarkan pemahaman ini, apakah sebab-sebab yang mereka klaim sebagai penyebab keterbelakangan, yaitu kemiskinan, kebodohan dan penyakit, perlu dihapuskan dan dicabut?
For this reason it is necessary to give a definition of An-Nahdah, define its meaning and the manner of achieving it. Is it as some have claimed: the spread of education, the increase of riches or combating illnesses and diseases? And based on this understanding the reasons they claim to be the cause of backwardness i.e. Poverty, ignorance and disease need be cancelled out and removed?
Apakah banyaknya sekolah, lembaga pendidikan, dan universitas, serta jumlah besar lulusan universitas yang memegang ijazah tinggi di semua disiplin ilmu, merupakan bukti kebangkitan negeri tersebut, ataukah itu menunjukkan bahwa negeri tersebut berada di jalan menuju kebangkitan?
Is the abundance of schools, educational institutes, universities, large numbers of university graduates carrying higher certifications in all disciplines a proof of the revival of the country or that it is upon the path leading to revival?
Dapat dirasakan dengan jelas bahwa banyak negara terbelakang telah menderita akibat besarnya jumlah lulusan yang memegang ijazah pendidikan tinggi. Hal ini sampai pada titik di mana mereka menjadi beban dan tekanan bagi negara tersebut, serta beban yang berat, karena negara tidak mampu menyediakan penghasilan yang layak bagi mereka. Akibatnya, para lulusan ini terpaksa meninggalkan negeri mereka untuk mencari rezeki (penghidupan) di tempat lain. Oleh karena itu, perlu diterapkan kebijakan pendidikan untuk menghadapi tantangan besarnya jumlah lulusan dalam berbagai bidang. Kebijakan ini diwujudkan dengan menetapkan persentase kelulusan tertentu serta jumlah penerimaan mahasiswa tertentu, untuk menyerap para lulusan yang suatu hari nanti akan berdiri di depan pintu-pintu jurusan mencari pekerjaan atau jabatan yang dapat menjamin penghidupan mereka.
It can be clearly sensed that many of the backward countries have suffered due to the great number of graduates holding higher certifications. This has reached the point where they have become a burden and strain upon them and a heavy weight, as they have been unable to provide them with a dignified income which has compelled these graduates as a result to leave these lands and seek their Rizq (sustenance) elsewhere. This has made it necessary to implement an education policy to meet the challenge of the large number of graduates in a large number of fields and this is done through putting down a policy based on a specific percentage of passes in addition to a specific number of admissions to absorb those graduates who one day will be standing at the doors of the departments seeking work or a position that will provide them with a living.
Persentase lulusan dan pemegang sertifikat pendidikan tinggi di banyak negeri yang dianggap terbelakang dan digolongkan sebagai apa yang mereka sebut negara-negara Dunia Ketiga, jauh lebih besar daripada persentase lulusan dan pemegang sertifikat pendidikan tinggi yang ditemukan di negara-negara paling maju. Bahkan yang terjadi adalah para lulusan ini (dari negeri-negeri Muslim) telah diekspor ke segala penjuru dunia, terutama ke negara-negara yang paling bangkit dan maju, dan di samping itu banyak di antara mereka bahkan telah melepaskan kewarganegaraan mereka demi tinggal di negeri-negeri asing tersebut.
The percentage of graduates and those carrying higher certifications in many of the lands that are considered to be backward and are categorised under what they have called third world countries is much greater than the percentage of graduates and those holding higher certifications found in the most progressive countries. Indeed what has happened is that these graduates (from the Muslim lands) have been exported to all corners of the world and particularly to the most revived and progressive states and on top of that many of them have even given up their nationalities in order to live in those foreign lands.
Oleh karena itu, jika kita meneliti misalnya negeri mana pun dari negeri-negeri Dunia Ketiga (yaitu negeri-negeri dunia Islam kita), maka kita akan melihat sesuatu yang mengherankan akal dan membingungkan orang-orang yang berpikir. Ambil contoh Mesir, Pakistan, Yordania, Suriah, atau Turki, di antara yang lainnya, dan engkau akan mendapati bahwa puluhan ribu putra negeri-negeri ini memegang ijazah pendidikan yang lebih tinggi di segala bidang, termasuk kedokteran, fisika, teknik, kimia, studi atom, dan bidang teknologi. Mereka meninggalkan negeri mereka untuk mencari sumber penghidupan, dan karena itu banyak di antara mereka yang menetap di Amerika, Jerman, dan banyak negeri lain dari kalangan bangsa-bangsa yang telah bangkit dan maju, di samping negeri-negeri lain di dunia.
Therefore if we examine for example any land from amongst the lands of the third world (i.e. the lands of our Islamic world) then we would see that which amazes the minds and baffles those of understanding. Take for example Egypt, Pakistan, Jordan, Syria or Turkey amongst others and you will find that tens of thousands of the sons of these states hold higher certifications in education and across all areas including medicine, physics, engineering, chemistry, atom studies and technological areas. They have left their lands and gone in search for a source of sustenance and as such many have settled in America, Germany and many other lands from amongst the revived and progressive nations in addition to other lands in the world.
Isu ini telah memunculkan banyak bahan diskusi, dan banyak penulis serta pemikir telah membicarakannya dengan judul-judul seperti: 'Pikiran-pikiran matang telah dicuri', atau 'Pelarian pikiran-pikiran ke negeri pikiran', atau 'Amerika telah membeli pikiran kita dengan uang', di antara judul-judul provokatif serupa lainnya. Meski demikian, pikiran-pikiran ini dan jumlah lulusan yang melimpah tersebut tidak mampu membangkitkan Ummah dan mengangkat derajatnya.
This issue has given rise to many points of discussion and many writers and thinkers have spoken about it under titles such as: ‘The ripe minds have been stolen’ or ‘The flight of the minds to the land of the minds’ or ‘America has bought our minds with money’ amongst other similarly provocative headings and titles. Despite this, these minds and this plentiful number of graduates have been incapable of reviving the Ummah and elevating her.
Dengan sekadar melihat sekilas keadaan negeri-negeri ini, kita mendapati di dalamnya kekayaan bahan mentah, sumber daya alam, dan tenaga kerja yang melimpah ruah, yang tak terkatakan. Hal ini dapat kita rangkum dalam satu pernyataan singkat: ‘Mereka mewakili bagian dunia yang paling kaya dalam hal karunia yang Allah berikan kepadanya dan nikmat-nikmat yang Dia pilihkan khusus untuknya’. Meski demikian, mereka menderita kemiskinan yang ekstrem dan merana di bawah beban utang yang berat, sampai-sampai mereka harus meminjam lebih banyak hanya untuk membayar bunga pinjaman sebelumnya. Mereka tidak mampu memenuhi apa yang dituntut dari mereka dan terus-menerus menuntut revisi jadwal pinjaman, sehingga satu krisis belum berakhir sebelum krisis baru dimulai, yang lebih besar lagi, dan keadaan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.
By taking a simple look at these states we find within them an abundance of raw materials, natural resources and manpower which is beyond words and we can summarise this in the summarized statement: ‘They represent the richest part of the world in terms of what Allah has granted it with and the favours that he has specifically chosen for it’. In spite of this they suffer from extreme poverty and languish under the heavy burden of debts to the point that it borrows more just to pay the interest on the previous loans. They are unable to fulfil what is demanded from them and persist upon demanding revisions to the loan schedule so that one crisis does not end before a new one begins which is even greater and the situation becomes worse than before.
Alasan dari hal ini tidak lepas dari salah satu dari dua perkara: Pertama, kebodohan para penanggung jawab urusan Ummat mengenai makna Nahdah dan cara mencapainya, sehingga mereka terombang-ambing secara acak dalam kebijakan dan pengurusan urusan rakyat. Kedua, mereka hanyalah agen bagi tuan-tuan mereka dan pengkhianat bagi Ummat mereka, yang tugasnya adalah menjinakkan rakyat dan menjaga negeri tetap menjadi lahan subur, tambang terbuka, dan pasar luas bagi tuan-tuan yang telah menempatkan mereka pada posisi berkuasa atas rakyat. Bisa juga keduanya digabungkan, yakni kebodohan mereka berpadu dengan perbudakan dan keagenan mereka terhadap tuan-tuan mereka.
The reason for this does not go beyond one of two matters: It is either the ignorance of those who are responsible for the Ummah’s affairs, in regards to the meaning of Nahdah and the way of achieving it, so they stumble about randomly in their policies and caretaking of the people’s affairs. Or they are merely agents to their masters and traitors to their Ummah whose job is to tame the people and keep the lands a fertile ground, open mine and vast market for their masters who placed them in the positions of authority over the people. They could also be a combination of the two matters combining their ignorance to their servitude and agency to their masters.
Oleh karena itu, perlu dipahami apa itu Nahdah, landasan-landasan yang menjadi dasarnya, serta jalan yang mengantarkan kepada pencapaiannya.
In light of this it is necessary to understand what the Nahdah is, the foundations that it is established upon and the path that leads to its achievement.