An-Nahdah (Kebangkitan)
An- Nahdah ( The Revival)
Seperti yang telah kita sampaikan, An-Nahdah adalah istilah modern yang digunakan untuk menyatakan suatu realitas tertentu, yaitu perpindahan suatu bangsa, kaum, atau individu dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Namun, keadaan yang dimaksud di sini yang mana? Telah jelas bagi kita bahwa banyaknya orang berpendidikan dan lulusan perguruan tinggi, bertambahnya kekayaan atau sumber daya, dan adanya banyak orang kaya tidak berarti (terwujudnya) Nahdah.
As we have said An-Nahdah is a modern Istilaah (terminology) and has been put down to express a specific reality which is the moving of a nation or people or individual from one condition to a better condition. However what condition do we mean? It has become evident to us that the abundance of educated people and graduates, the increase in wealth or resources and the existence of many affluent people does not mean (the realisation of) Nahdah?
Maka apakah perubahan atau pergerakan ini, yang keberadaannya menjadi ungkapan adanya Nahdah dalam suatu bangsa, kaum, atau individu? Inilah inti persoalan untuk menentukan apa yang membedakan satu bangsa dari bangsa lainnya. Apa pula perbedaan antara kaum yang bangkit dan kaum yang mundur? Apa ukuran yang membedakan antara seseorang yang bangkit dan seseorang yang rendah atau merosot? Apa yang membedakan satu individu dari individu lainnya, padahal keduanya sama-sama manusia yang memiliki potensi dan karakteristik yang sama, dan keduanya berusaha memenuhi kebutuhan serta memuaskan keinginan mereka? Meski demikian, kita menyebut yang satu sebagai orang yang terangkat dan yang lain sebagai orang yang merosot, tanpa sedikit pun memperhatikan penampilan lahiriahnya, ukuran dan bentuk tubuhnya, atau warna kulitnya. Dengan demikian, kita yakin bahwa penilaian yang kita berikan kepada mereka adalah penilaian yang benar, dan penilaian itu sesuai dengan kenyataan keadaan orang tersebut. Hal ini karena kita tidak menilainya kecuali setelah menyaksikan perilakunya, setelah melihat tingkah lakunya, serta berinteraksi dan bergaul dengannya. Dengan begitu, kita tidak menjatuhkan penilaian secara sembarangan dan tidak menggambarkannya secara keliru. Perilakunya, cara ia mengatur hubungan-hubungannya, dan cara ia menjalani hidup adalah cermin yang menampakkan hakikat dirinya yang sebenarnya, dan itulah bukti pasti yang kita andalkan dalam membuat penilaian. Dengan cara ini, kita dapat menggambarkan suatu kaum sebagai terangkat atau merosot berdasarkan perbuatan dan tingkah lakunya, dan gambaran ini kemudian berlaku atas kenyataan orang tersebut tanpa berlebihan maupun kelalaian.
Therefore what is this transformation or moving whose existence is an expression of the existence of Nahdah within a nation, people or individual? This is the crux of the matter to determine that which distinguishes one nation from another. And what is the difference between a revived people and a declined people? What is the measurement that distinguishes between a revived person and a low or declined one? What distinguishes one individual from another whilst both of them are human enjoying the same faculties and specificities and both of them strive to fulfil their needs and satisfy their hungers? Despite this we describe one as being an elevated person and the other declined whilst paying no regard at all to his outer appearance, the size and shape of his body or the colour of his skin. Having said that we are certain that the judgement that we have made upon them is a correct judgement and that it is a true judgment upon that is applied upon the person’s reality. This is because we do not judge him except after witnessing his conduct and after we have seen his behaviours and interacted and dealt with him. So that we do not pronounce a haphazard judgment upon him and do not describe him falsely then his conduct, the manner that he regulates his relationships and proceeds in life is the mirror that makes evident his true reality and it is the definite proof that we rely upon in making our judgment. In this way we are able to describe the people as being elevated or declined built upon their conducts and behaviours and this description would then be applicable upon the person’s reality without excess or negligence.
Mungkin saja kita membaca karya seorang penulis tertentu, atau mendengarkan ceramah orang lain, atau menyimak kuliah seorang dosen, atau duduk dalam majelis seseorang, dan akibatnya kita terpikat oleh tulisan-tulisan itu atau hati kita tergerak oleh ceramah-ceramah tersebut. Kita juga bisa saja mengecam apa yang disampaikan dalam kuliah itu, atau menyalahkan apa yang disebutkan dalam diskusi tertentu, namun meskipun demikian kita tidak dapat menilai pribadinya dari apa yang telah kita dengar darinya atau yang telah kita baca darinya. Yang kita nilai adalah apa yang kita dengar dan apa yang kita baca, sehingga penilaian itu berlaku untuk kuliahnya dan bukan untuk dosennya, untuk ceramahnya dan bukan untuk penceramahnya. Adapun penilaian terhadap dosen, penulis, dan penceramah itu sendiri, maka hal itu tidak dapat dicapai kecuali setelah kita melihat atau menyaksikan dari perilaku, tingkah laku, dan perbuatannya hal-hal yang memungkinkan kita untuk menjatuhkan penilaian atasnya.
It is possible that we read the works of a certain author, or hear the speeches of another, or listen to a lecture of a lecturer or sit in a gathering of a certain person and as a result we could be enchanted by these writings or our hearts affected by these speeches. We could also denounce what came in the lecture or condemn what was mentioned in certain discussions however despite this we are not able to describe him from what we have heard from him or read from him. Rather we describe what we heard and what we read so the description is for the lecture and not the lecturer or the talk and not the speaker. As for the description of the lecturer, author and speaker then this is not arrived at unless we see or witness from his behaviours, conduct and actions that which allows us to make a judgement upon him.
Oleh karena itu, orang yang mendefinisikan iman sebagai: "Keyakinan dalam hati (Janaan), pengucapan dengan lisan (Lisaan), dan pengamalan sesuai dengan Arkaan (rukun-rukun)", atau sebagai: "Apa yang diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan", demikian pula. Hal ini karena bukti yang pasti dan cermin yang benar yang menggambarkan keadaan seseorang sebagaimana hakikatnya adalah yang tercermin dalam tingkah laku, sikap, dan perbuatannya, dan tidak ada yang lain selain itu. Adapun pernyataan dan karya tulis hanyalah sebatas petunjuk yang berfungsi sebagai dorongan untuk mengawasi atau menindaklanjuti orang tersebut agar dapat memahami hakikat keadaannya yang sebenarnya.
As such the one who defined Imaan (belief) as: ‘The belief in the gardens (Janaan), the pronouncement with the tongue (Lisaan) and the acting according to the Arkaan (fundamentals)’ or as: ‘That which is pronounced by the tongue and affirmed by the acts’. This is because the definite proof and true mirror applying upon his image in its true reality is that which is reflected in his conduct, behaviours and actions and none other than these. As for the statements and written works then these represent no more than an indication that acts as an incentive to monitor or follow up upon that person to understand his true reality.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) states:
Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya menyenangkanmu dalam kehidupan dunia, dan ia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah musuh yang paling keras.
And of the people is he whose speech pleases you in worldly life, and he calls Allah to witness as to what is in his heart, yet he is the fiercest of opponents.
Dan apabila ia berpaling (pergi), ia berusaha di muka bumi untuk membuat kerusakan di sana dan merusak tanaman serta binatang. Dan Allah tidak menyukai kerusakan (Al-Baqarah 204-205).
And when he goes away, he strives throughout the land to cause corruption therein and destroy crops and animals. And Allah does not like corruption (Al-Baqarah 204-205).
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Mereka mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka (Al-Fath 11).
They say with their tongues that which is not in their hearts (Al-Fath 11).
Dan Dia (swt) berfirman:
And He (swt) said:
Dan katakanlah: "Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman." (At-Taubah 105).
And say: Perform acts for Allah will see your deeds, and [so, will] His Messenger and the believers. (At-Taubah 105).
Adapun menilai ceramah yang telah kita dengar, artikel dan buku yang telah kita baca, serta diskusi yang telah kita simak, maka semua itu merupakan kumpulan pemikiran yang dinilai sebagaimana pemikiran pada umumnya dinilai. Pemikiran memiliki kaidah, prinsip, dan kriteria tertentu yang memungkinkan kita membedakan pemikiran yang benar dari pemikiran yang tidak bernilai, dan membedakan pemikiran yang dangkal dari pemikiran yang mendalam. Oleh karena itu, ketika kita menilai sebuah buku, artikel, atau ceramah, kita tidak memperhatikan pribadi penceramah atau penulisnya, melainkan memperhatikan pemikiran dan konsep yang ia hasilkan, dari segi kata-kata dan maknanya, tanpa sedikit pun terpengaruh oleh kepribadian penulis atau oleh pengenalan kita terhadapnya. Kita menjatuhkan penilaian atas pemikiran dan konsep tersebut dengan berpijak pada kriteria yang kokoh dan kaidah-kaidah tertentu, yang memang ada untuk memahami kebenaran ide dan konsep serta ketepatannya.
As for passing judgement over speeches that we have heard, articles and books that we have read and discussions that we have listened to then these represent a collection of thoughts which are judged according to the manner that thoughts are judged. Thoughts have specific rulings, principles and criteria that allow the correct thought to be distinguished from the thought that holds no value and for the shallow thought to be distinguished from the deep thought. Therefore when we pass judgement on a book, article or lecture we do not pay attention to the person giving the lecture or the writer but rather we pay attention to the thoughts and concepts that he has produced in terms of the words and meanings and without being affected in the least by the personality of the writer and knowing him. We make a judgement upon these thoughts and concepts built upon solid criteria and specific principles which exist specifically to understand the truthfulness of ideas and concepts and their correctness.
Oleh karena itu, penilaian terhadap seseorang tidak dapat dicapai kecuali dengan mengetahui perilaku dan tingkah lakunya, dan penilaian terhadap seseorang, baik berupa kemuliaan maupun kemerosotan, dinilai melalui perilakunya. Penilaian ini berbeda dengan penilaian yang dibuat terhadap keyakinan, pemikiran, konsep, dan berita.
Therefore the judgement upon a person is not arrived at except by knowing his conduct and behaviours and the judgement upon a person in terms of being elevated or declined would be judged through his behaviour which is different from the judgement that is made upon beliefs, thoughts, concepts and news.
Apa yang berlaku pada individu juga berlaku pada masyarakat, karena masyarakat adalah kumpulan orang yang memiliki hubungan permanen yang ada di antara mereka. Hubungan permanen atau berkesinambungan inilah yang mengubah kumpulan orang tersebut menjadi sebuah masyarakat, dan tanpanya kelompok itu hanya akan tetap menjadi kumpulan individu, seperti orang-orang yang bepergian bersama dengan kapal dan tidak disebut sebagai masyarakat. Oleh karena itu, penekanan diletakkan pada hubungan-hubungan ini, dan penilaian terhadap masyarakat didasarkan pada hubungan permanen tersebut, bukan pada penderitaan dan kekurangan atau pada kenikmatan kekayaan dan kemewahan yang ada. Maka hubungan-hubunganlah cermin yang sebenarnya, yang memantulkan realitas masyarakat yang sesungguhnya, dan hubungan-hubungan inilah yang mengatur kehidupan orang-orang serta menentukan adat dan tradisi. Dengan meneliti hubungan-hubungan ini, serta memperhatikan bagaimana orang-orang berperilaku sesuai dengan hubungan tersebut dan kepentingan mereka, kita dapat menilai apakah masyarakat itu sehat atau rusak, sehingga kita dapat memastikan apakah masyarakat itu sedang maju atau mundur. Dalam penilaian ini tidak ada tempat untuk mempertimbangkan banyaknya orang berpendidikan, berbudaya, dan lulusan perguruan tinggi, atau pertumbuhan perdagangan dan industri, atau kemakmuran ekonomi, dan adanya kekayaan yang berlebihan. Sebaliknya, pertimbangan terletak pada landasan yang menjadikan masyarakat sebagai masyarakat, yakni pada pemikiran dan konsep-konsep yang mendominasi masyarakat dan yang menjadi dasar pengaturan kepentingan orang-orang. Selain itu, pertimbangan juga mencakup perasaan tidak puas dan puas yang ditimbulkan oleh pemikiran dan emosi tersebut, nilai-nilai serta teladan tinggi yang diyakini masyarakat, dan kemudian sistem umum yang mengatur hubungan-hubungan ini, menata mereka, dan menjaga apa yang telah disepakati masyarakat. Dengan cara ini, hubungan-hubungan tersebut menjadi cermin yang jernih yang memperlihatkan realitas masyarakat yang sebenarnya, dan gambaran tentang masyarakat dibangun di atas realitas yang dipahami itu sebagai deskripsi yang benar. Oleh karena itu, jika terdapat keselarasan antara adat kebiasaan umum dan sistem, di mana pemikiran dan perasaan sejalan dengan sistem tersebut, maka kita akan mengatakan: masyarakat ini harmonis, dan terdapat keselarasan yang sempurna antara warga dan mereka yang bertanggung jawab atas urusan warga. Dan jika hubungan-hubungannya baik, perasaannya baik, nilai-nilainya luhur sebagai teladan yang tinggi, serta mereka yang bertanggung jawab memelihara urusan-urusan ini, maka kita akan mengatakan: 'Masyarakat ini tercerahkan dan merupakan masyarakat yang bangkit kembali.'
That which applies to the individual also applies upon the society because the society is a group of people who have permanent relationships that exist between them. These permanent or continuous relationships is what transforms this group of people into a society and without them the group would have remained merely a collection of individuals like those found travelling together on a journey on a ship who are not called a society. The importance is therefore placed upon these relationships and the judgement upon the society is based upon these permanent relationships and it is not based upon suffering and deprivation or the enjoyment of riches and luxuries that are present. So the relationships are the true mirror that reflects the true reality of the society and it is these that regulate the life of the people and by which the customs and traditions are defined. By examining these relationships and taking note of how the people conduct themselves in accordance to these relationships and their interests then we make a judgement upon the society in terms of the society being sound or degenerate so that we can ascertain that the society is elevated or declined. In this evaluation there is no place for considering the abundance of the educated, cultured and graduates or the growth in trade and industry, or economic flourishing and the existence of obscene riches. Rather the consideration rests in the foundations that have made the society a society meaning that the consideration lies in the thoughts and concepts that dominate the society and by which the people’s interests are arranged in accordance with. This is in addition to the sentiments of displeasure and contentment that these thoughts and emotions have generated and the values and high example that the people believe in, and then the general system that regulates these relationships, organises them and preserves that which the people have agreed upon. In this way the relationships represent the true mirror that makes clear the true reality of the society and the description of the society would be built upon that perceived reality as a true description. Therefore if there was harmony between the public or general custom and the system where the thoughts and sentiments were the same as the system we would say: This society is harmonious and that there is complete harmony between the citizens and those responsible for the citizen’s affairs. And if the relationships were good and the sentiments were good, the values high representing a high example and that those responsible took care of these affairs, then we would say: ‘This society is an enlightened one and it is a revived society’.
Sebaliknya juga benar, yaitu pada masyarakat yang hubungan antarorangnya saling bertentangan dan berlawanan, pemikirannya tercerai-berai dan terpecah-belah, dibangun di atas perasaan yang tumpul dan sentimen yang berbeda-beda, yang menyimpan kebencian terhadap penguasa dan berusaha merongrongnya, rakyatnya diperintah dengan besi dan api, mulut-mulut dibungkam, leher-leher diikat, dan sumber-sumber rezeki diputus, serta di mana keegoisan dan sikap acuh tak acuh mendominasi. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana kita menggambarkan masyarakat semacam itu? Inilah realitas yang dialami seluruh masyarakat di dunia Islam, tanpa memandang apa yang mereka miliki berupa universitas, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan sekolah, serta tanpa memandang jumlah orang terdidik, lulusan, dan mereka yang memegang ijazah pendidikan tinggi, dan tanpa memandang apa yang telah Allah (SWT) karuniakan kepada negeri-negeri ini berupa sumber daya alam dan kekayaan. Meski demikian semua itu, negeri-negeri ini tetap disebut dunia ketiga, dan rakyatnya digambarkan sebagai orang-orang yang terbelakang.
The opposite is also true with a society where the relationships are in conflict and contradictory, the thoughts are scattered and fragmented built on a dull sensation and differing sentiments which hold hatred towards the regime and undermine it, the people are ruled by iron and fire, the mouths are gagged, necks are tied and sources of sustenance are cut and where selfishness and apathy dominate. In this case how would we describe such a society? This is the reality of all of the societies in our Islamic world irrespective of what they contain in terms of universities, colleges, educational institutes and schools and regardless of what these societies possess in terms of numbers of educated people, graduates and those holding higher educational certification, and irrespective of what Allah (swt) has bestowed upon these lands in terms of natural resources and riches. Regardless of all of this, these lands are still called the third world and the people are described as being backward.
Contoh-contoh untuk hal ini banyak dan jelas. Tidak ada satu pun sumber daya alam atau harta karun kecuali kita memiliki bagian terbesar darinya. Maka kita memiliki minyak bumi, gas alam, berbagai mineral yang berada di bawah tanah, pertanian dan peternakan dalam berbagai bentuknya, sumber-sumber energi yang melimpah, batu onyx dan marmer di antara batuan dan bahan berharga lainnya, serta banyak lagi yang telah dianugerahkan Allah (SWT) kepada kita, yang tidak dimiliki oleh bangsa atau kaum mana pun seperti itu.
The examples for this are many and clear. There is not a natural resource or treasure except that we have a lion’s share of it. So we have oil, natural gas, various minerals that are beneath the earth, agriculture and cattle in their many forms, a plentiful supply of sources of energy, onyx and marble amongst other valuable rocks and materials in addition to much more that Allah (swt) has bestowed upon us, all of which no other nation or people possess the like of.
Di samping itu, kita memiliki tenaga kerja yang sangat besar, dan banyak di antara mereka yang memegang sertifikat serta ahli di setiap bidang, namun mereka terpaksa mengisi lowongan di seluruh dunia demi mencari nafkah dan kehidupan yang layak. Kita memiliki semua ini, namun kenyataan masyarakat-masyarakat ini sama sekali tidak berubah dan mereka tidak naik ke tingkat yang semestinya. Bahkan, mereka tetap berada di jurang kemunduran dan telah mencapai titik terendah atau mendekati titik terendah. Semua ini terjadi karena hal-hal tersebut bukanlah dasar kebangkitan, ataupun dasar yang dengannya suatu masyarakat berpindah dari suatu keadaan menuju keadaan dan kondisi yang lebih baik, dan karena hal-hal tersebut tidak mencerminkan dasar yang di atasnya suatu masyarakat didirikan. Hal-hal tersebut tidak merepresentasikan unsur-unsur suatu masyarakat, sebab pembentukan masyarakat bertumpu pada unsur-unsurnya, dan unsur-unsur masyarakat adalah landasan yang di atasnya hubungan-hubungan yang tetap dibangun, serta yang mengatur hubungan-hubungan tersebut. Dengan demikian, pembentukan masyarakat bertumpu pada pengetahuan tentang apa yang terkandung di dalamnya berupa pemikiran dan konsep, serta apa yang lahir darinya berupa perasaan dan nilai. Setelah itu, perlu pengetahuan tentang apa yang mengatur hubungan-hubungan tersebut berupa sistem dan undang-undang. Tidak ada hubungan antara hal ini dengan sumber daya alam atau hal-hal lain dalam kaitannya dengan pembentukan masyarakat, dan dalam kaitannya dengan penjelasan nilai-nilainya serta tingkat yang telah dicapainya, baik dalam hal kemajuan maupun kemunduran.
On top of this we have a huge working man force and a large number of them carry certificates and are specialists in every field but have been driven to fill vacancies all over the world, whilst seeking a living and dignified life. We have all of this and yet the reality of these societies has not changed in the least and they have not elevated to a fitting level. Indeed they remain in the abyss of decline and have reached rock bottom or near rock bottom. All of this is because these matters do not represent the basis of revival or the basis by which a society moves from a condition to a better condition and state, and because these do not reflect the basis upon which a society is established. They do not represent the components of a society because the formation of a society rests upon its components and the components of the society are the bases that the permanent relationships are built upon and what regulate them. As such the formation of the society rests upon the knowledge of what it contains in terms of thoughts and concepts, and what emanates from these in terms of sentiments and values. Following this is the knowledge of that which regulates the relationships in terms of systems and laws. There is no relation in this to the natural resources or other matters in regards to the formation of the society and in relation to explaining its values and the level that it has reached in terms of elevation or decline.
Dan dengan mencermati masyarakat-masyarakat yang ada di dunia Islam kita, kita dapati bahwa selain kemunduran intelektual, sensasi yang tumpul, dan kontradiksi dalam diri manusia akibat upaya mendamaikan antara apa yang ada dalam diri mereka dengan apa yang mengatur hubungan-hubungan mereka, serta teracuninya pemikiran mereka oleh pemikiran Barat, di samping semua ini terdapat pula perbedaan atau pertentangan dalam kaitannya dengan sistem yang diterapkan atas mereka, yang telah menjadikan kecemasan dan kebingungan sebagai landasan kehidupan mereka. Hal ini mendorong mereka yang berwenang menerapkan sistem tersebut untuk menempuh penindasan dan kekerasan dengan besi dan api, untuk memaksa rakyat tunduk kepada sistem dan menjalankan hubungan serta tingkah laku mereka sesuai dengan hukum-hukum yang diberlakukan atas mereka, meskipun bertentangan dengan akidah dan pemikiran mereka. Rakyat kemudian mulai menempuh kemunafikan, cara-cara putus asa, siasat, merajut konspirasi, bahkan meminta bantuan kepada Syaitan untuk melepaskan diri dari keadaan yang mereka alami dan untuk menghilangkan dominasi penguasa atas mereka. Keadaan (hari ini) tetap sama dalam hal menjinakkan dan menundukkan rakyat serta merendahkan mereka hingga mereka menerima apa yang diterapkan atas mereka. Inilah kenyataan yang diderita masyarakat-masyarakat di dunia Islam kita: kerusakan dan kebingungan dalam pemikiran, kelemahan dalam sensasi, dan perasaan yang berbeda-beda dengan permusuhan yang ada antara rakyat dan penguasa, sehingga para penguasa menjadi musuh nomor satu bagi massa.
And by taking a close look to these societies which exist in our Islamic world we find that in addition to the intellectual decline, dull sensation and contradictions within the people as a result of attempting to reconcile between that which exists within the people and that which regulates their relationships, and the poisoning of their thoughts by the Western thoughts, in addition to all of this there is a difference or contradiction in relation to the system that is applied upon them which has made anxiety and confliction the basis of their lives. This has led to those who are in charge of implementing the system to resort to suppression and force by use of iron and fire to compel the people to submit to the system and to run their relationships and conducts in accordance to the laws that have been enforced upon them despite being contrary to their Aqeedah and thought. The people then began resorting to hypocrisy, desperate measures, plotting, weaving conspiracies or even seeking assistance from Shaytaan to get rid of the situation they found themselves in and to remove their dominance over them. The situation (today) remains the same in terms of domesticating and taming the people and humiliating them until they accept that which is implemented upon them. This is the reality that the societies in our Islamic world are suffering from, corruption and confliction in the thoughts, weakness in sensation and differing sentiments or emotions with hostility existing between the people and the regime, so that those in authority became the number one enemy to the masses.
Bagaimana kita memandang realitas ini dalam kaitannya dengan sabda Rasulullah ﷺ:
How do we view this reality in relation to the statement of the Messenger (saw):
Sesungguhnya Imam itu hanyalah perisai; orang berperang di belakangnya dan perlindungan diperoleh melalui dirinya.
Verily the Imaam alone is the shield, he is fought behind and protection is found in him.
(Muslim, Al-Bukhaari, Abu Daawood dan An-Nasaa’iy).
(Muslim, Al-Bukhaari, Abu Daawood and An-Nasaa’iy).
Dan sabdanya ﷺ:
And his statement (saw):
Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.
The best of your Imaams are those whom you love and they love you, you make supplication for them and they make supplication upon you. The worst of your Imaams are those you hate and they hate you, and you curse them and they curse you.
(Muslim, At-Tirmidhi dan Ad-Darami).
(Muslim, At-Tirmidhi and Ad-Darami).