Kolonialisme:
Colonialism:
Kolonialisme adalah metode ideologi kapitalis untuk menyebarkan dan mempropagandakannya, serta untuk membawanya ke dalam realitas kehidupan. Ini berarti penyebaran hegemoni dan dominasi militer, politik, intelektual, ekonomi, dan budayanya. Sebagaimana kolonialisme merupakan metode untuk menyebarkan ideologi dan mewujudkannya dalam realitas kehidupan, ia juga merupakan sarana untuk menjarah sumber daya alam negeri-negeri, merampas kekayaannya, dan menghisap darah putra-putra negeri tersebut. Inilah metode fundamental untuk menyebarkan ideologi kapitalis, dan ini pula persis metode yang mereka gunakan untuk menyebarkan ideologi mereka di dunia Islam.
Colonialism is the method of the capitalist ideology to spread and propagate it, and to bring it into the reality of life. This means the spread of its military, political, intellectual, economic and cultural hegemony and dominance. Just as it is the method for spreading the ideology and making it exist in the reality of life it is also a means for looting the natural resources of the lands, plundering their treasures and sucking the blood from the sons of the land. This is the fundamental method for propagating the capitalist ideology and it is the exact method that they have used for spreading their ideology within the Islamic world.
Maka mereka menggerakkan pasukan-pasukan, membuat aliansi-aliansi, dan menundukkan para agen serta orang-orang yang memiliki kepentingan dari kalangan putra-putra Ummah, lalu mereka menyatakan perang yang mereka sebut Perang Dunia Pertama. Inilah saat ketika seluruh negara kafir, kecuali Jerman, bersatu untuk menghancurkan Khilafah dan mencabut kekuasaan kaum Muslimin. Setelah mereka berhasil mencapai hal itu, mereka memperluas kendali militer mereka atas wilayah-wilayah Muslim. Mereka memecah-belah wilayah-wilayah itu terlebih dahulu agar kekuatan dan kekuasaan mereka hilang, jika mereka menyadari betapa seriusnya apa yang terjadi dan kekejian yang telah mereka bantu wujudkan atau yang mereka diamkan ketika hal itu berlangsung. Kemudian, setelah mencabik-cabik dan membagi-bagi wilayah tersebut, mereka berfokus memperluas kendali politik dan hegemoni mereka. Mereka lalu menempatkan agen-agen dan pendukung mereka sebagai penguasa atas leher-leher kaum Muslimin, yang kemudian tunduk pada perintah-perintah mereka dan melaksanakan segala kebijakan yang mereka inginkan. Mereka menguasai kemampuan negeri-negeri tersebut serta sumber daya alamnya, sambil memberlakukan sistem ekonomi yang mereka kehendaki. Para agen ini menandatangani perjanjian-perjanjian ekonomi yang memungkinkan mereka memperoleh sumber daya, termasuk perjanjian-perjanjian yang hina terkait minyak. Mereka selanjutnya memperluas pengaruh intelektual dan budaya mereka, dan mempercayakan para penjaga mereka untuk melaksanakan apa yang mereka inginkan, agar masyarakat dapat dibangun dan ideologi tertanam kokoh di dalamnya secara terang-terangan, sesuai bentuk dan kadar yang mereka kehendaki.
So they mobilized the armies, they made alliances and they subjugated the agents and those had desires from amongst the sons of the Ummah and they declared a war which they called the First World War. This is when all of the states of disbelief with the exception of Germany gathered together to destroy the Khilafah and remove the authority of the Muslims. After they accomplished that, they spread their military control over the Muslim regions. They divided them first so that their power and strength would be lost in case they realised the seriousness of what happened and the atrocity that they had helped to achieve or had been silent whilst it was taking place. Then after tearing up the regions and dividing them, they then focused on extending their political control and hegemony. So they established their agents and supporters as rulers over the necks of the Muslims who proceeded to be commanded by their commands and to implement all the policies that they desired. They placed their hands over the capabilities of the lands and their natural resources whilst they enforced the economic system that they wanted. These agents signed economic agreements that enabled them to obtain the resources including the despicable agreements in regards to the oil. They proceeded to extend their intellectual and cultural influence and they entrusted their wardens to implement what they wanted so that the society could be built and the ideology firmly implanted within it openly according to the form that they wanted and by the amount that they wanted.
Karena budaya memiliki pengaruh terbesar terhadap pemikiran manusia dan memengaruhi jalannya kehidupan, mereka memusatkan perhatian pada penanaman budaya mereka kepada masyarakat, dan mereka menyusun pendidikan serta kurikulum budaya di atas dasar filsafat mereka tentang ‘pemisahan Dien dari kehidupan’, yang mencerminkan pandangan mereka terhadap kehidupan. Untuk mempercepat konsentrasi dan penyebaran hal ini, mereka mendirikan sekolah-sekolah dan pusat-pusat pendidikan di setiap kota, kota kecil, dan desa. Kenyataan bahwa sebagian besar kota kecil dan desa belum memiliki sekolah justru membantu mereka dan memudahkan perkara ini, dan hal itu merupakan akibat dari buruknya pengurusan urusan kemasyarakatan rakyat oleh penguasa pada masa kemunduran yang mendahului runtuhnya Khilafah. Hal ini membuat masyarakat menerima tindakan-tindakan semacam ini, sementara mereka tidak menyadari maksud dan tujuan sebenarnya yang tersembunyi di baliknya.
As the culture has the greatest affect over the human thought and influences the course of life, they focused upon enforcing their culture upon the people and they put down education and cultural curricula upon the basis of their philosophy of ‘the separation of the Deen from the life’ which represents their viewpoint in life. To speed up the concentration and spread of this they established schools and educational centres in every city, town and village. The fact that most of the towns and villages did not already have schools helped them and made this matter easier and this was the result of the bad caretaking of the people’s societal affairs by the authority in the period of decline preceding the fall of the Khilafah. This made the people warm to the likes of these actions whilst they did not perceive the true intentions and objectives that lay behind them.
Mereka memaksakan kurikulum yang telah mereka susun kepada sekolah-sekolah dan pusat-pusat pendidikan, dan mewajibkan mereka untuk berpegang padanya, sementara tidak mengizinkan sedikit pun penyimpangan dari kurikulum dan program yang telah mereka tetapkan. Dengan melihat sekilas kurikulum kebudayaan yang mereka tetapkan, kita dapati misalnya mata pelajaran Deen (Agama). Jadi, kolonialisme tidak menghalangi pengajaran Deen, bahkan sebaliknya, mereka menjadikannya mata pelajaran pokok di sekolah-sekolah. Namun mereka mengajarkannya sesuai dengan cara pandang yang mereka kehendaki terhadap Deen, sehingga Deen tidak memiliki peran dalam urusan politik dan urusan kehidupan, melainkan hanya berkaitan dengan urusan akhirat dan hubungan antara individu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, kurikulum dibatasi pada akidah, ibadah, dan akhlak, dan kurikulum ini tidak boleh memuat sistem politik atau ekonomi, atau membahas realitas politik. Maka Deen dipisahkan dari politik dan dijauhkan dari Negara: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah." Sedangkan memasukkan Deen ke dalam urusan pemerintahan menimbulkan fitnah (kekacauan), peperangan, dan membawa malapetaka serta bencana! Hal ini karena Eropa menderita akibat campur tangan agama, yang menyeret mereka ke dalam peperangan selama ratusan tahun, dan mereka tidak bangkit maupun maju kecuali setelah mereka menjauhkan Deen dari politik dan Negara. Demikianlah kurikulum mata pelajaran Deen harus disusun. Mereka yang diberi amanah menulis rincian kurikulum wajib berpegang teguh pada prinsip ini, dan inilah yang diwajibkan serta ditegakkan atas seluruh rakyat.
They enforced curricula that they had prepared upon the schools and educational centres and compelled them to stick to them whilst not allowing a single departure from the curricula and programmes that they had laid down. By taking a glance at the cultural curricula that they laid down we find for example the subject of Deen (Religion). So the colonialism did not prevent the teaching of the Deen and indeed they did the opposite by making it a fundamental subject in the schools. However they taught it in the manner that they intended for the Deen so the Deen had no input in political affairs and the affairs of life but rather it only related to the affairs of the hereafter and the relationship between the individuals and their Lord. The curriculum was therefore restricted to the beliefs, worships and morals and it was not permitted for this curriculum to include within it the political or economic systems or discuss political realities. So the Deen is separated from politics and taken away from the State: ‘Give to Caesar what is to Caesar and to Allah what belongs to Allah’ whilst bringing the Deen into the matters of ruling instigates Fitnah (unrest) and wars and brings calamities and scourges! This is because Europe suffered from the interference of the religion and it pulled them into wars that lasted for hundreds of years and they did not revive or elevate except after they had taken the Deen away from politics and the State. This was how the curriculum for the subject of the Deen had to proceed. It was necessary for those entrusted with writing the details of the curriculum to stick firmly to this principle and this is what was obliged and enforced upon the people as a whole.
Adapun dalam bidang sejarah, prinsip dasarnya adalah menjadikan sejarah Eropa sebagai contoh dan model yang harus ditiru, serta kepribadian Barat sebagai teladan tertinggi yang harus dijadikan panutan. Mereka mengklaim: "Di Barat kalian mendapati teladan terbaik," sambil menunjuk dengan jari mereka pada kenyataan negeri-negeri tersebut yang maju dan bangkit. Maka prinsip dasar dan landasan kurikulum sejarah dibangun di atas dua pokok. Pertama: menampilkan gambaran Eropa yang gemilang dan cemerlang, kebangkitannya, sejarahnya, dan tokoh-tokohnya, termasuk para pemikirnya. Kedua: mereka menyajikan sejarah umat Islam dengan cara yang sama seperti cara kaum Orientalis menyajikannya dan menuliskannya. Oleh karena itu, mereka tidak menyisakan satu pun peristiwa fitnah yang terjadi, atau perbedaan dan perselisihan yang terjadi karena kekuasaan dan pemerintahan, kecuali mereka mengangkatnya dan menonjolkannya. Mereka membuat pemuda Muslim merasa malu terhadap sejarahnya sendiri, dan membayangkan Perang Jamal, Shiffin, dan Marj Dabiq, di antara peristiwa lainnya, serta persaingan di antara para Khulafaa, dan pembunuhan terhadap 'Utsmaan, 'Umar, dan 'Ali (rah), di antara perkara-perkara lain yang membuat kaum Muslimin merasa jijik dan benci terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, bahkan hanya dengan mendengar kabarnya. Tujuannya adalah agar keadaan mencapai titik di mana seorang Muslim tidak lagi mampu memandang sejarahnya kecuali melalui kacamata gambaran suram dan kelam yang telah disajikan kepadanya.
As for the subject of history, then the fundamental principle for it was to make the European history the example and model that needs to be emulated and the western personality the highest example that must be imitated. They claimed that ’In the West you have the best of examples’ whilst pointing with their fingers to the reality of those lands which are elevated and revived. So the fundamental principle and basis for the history curriculum was established upon two points. The first: To provide a glowing and shining image of Europe, its revival, its history and it personalities including its thinkers. Secondly: They presented the history of the Islamic Ummah in the same way as the Orientalists presented it and wrote it. They therefore did not leave any incident of Fitnah that took place, or difference or struggle that happened over the ruling and authority except that they brought it out and made it prominent. They made the young Muslim feel shy of his history and would visualise the Battle of the Camel, of Siffeen and Marj Dabiq amongst others and the competing amongst the Khulafaa, the assassinations of ‘Uthmaan, ‘Umar and ‘Ali (rah) amongst other matters that made the Muslims feel disdain and contempt towards these events and even from just hearing about them. This was so that the situation would reach the level where the Muslim would not be able to view his history except through the glasses of this gloomy and dark image that had been presented to him.
Adapun persoalan bahasa Arab, mereka membungkusnya dengan selubung nasionalisme agar perasaan kebangsaan menyebar, beserta kebanggaan mereka terhadap orang Arab dan kearabian. Mereka mengagungkan kejayaan-kejayaan mereka, menulis buku-buku dan artikel-artikel, dan mengatur emosi serta perasaan sedemikian rupa, sehingga karena kebodohan mereka, sebagian orang mulai memandang bahwa orang Arab dan kearabian memiliki keutamaan yang lebih besar daripada Islam, dan bahwa tanpanya Islam tidak akan tersebar dan tidak akan menemukan tempat dalam kehidupan.
As for the subject of the Arabic language they wrapped it in a nationalistic covering so that the nationalistic feelings would spread and their pride in Arabs and Arabism along with it. They sang the praises of their glories, they wrote books and articles and regulated the emotions and feelings to such a degree that due to their ignorance some began to view that the Arabs and Arabism held a greater merit over Islaam and that without it Islaam would not have spread and found a place within life.
Subjek-subjek ini termasuk mata pelajaran utama dalam kurikulum budaya, dan itulah yang memengaruhi pembentukan ‘Aqliyyah (pola pikir) seseorang serta pembangunan kepribadiannya. Jika ditambah dengan jenis orang yang mereka angkat untuk melaksanakan mata pelajaran ini, mengawasinya, dan mengajarkannya, maka akibatnya para siswa menjadi tidak menyukai agama karena kepribadian guru serta perilaku dan tingkah lautnya. Para siswa bahasa Arab pun meninggalkan atau bahkan mengakhiri kurikulum mereka dan lulus sebagai orang asing bagi bahasa Arab, akibat gabungan dua faktor: rusaknya kurikulum dan rusaknya orang-orang yang diserahi tanggung jawab atas pelaksanaannya.
These are some of the main subjects within the cultural curriculum and they are the subjects that have an effect upon the shaping of the ‘Aqliyyah (mentality) of the person and the building of his personality. If we add to that the type of people that they appointed to implement these subjects, supervise over them and teach them, then this made the students as a result dislike the Deen as a result of the personality of the teacher and his behaviour and conduct. The students of the Arabic language would leave or indeed end their curriculums and graduated as foreigners to the Arabic language due to a combination of two factors: The corruption of the curriculum and the corruption of those who were entrusted over its implementation.
Di antara hal-hal lain yang menyebabkan hasil dan akibat berikut ini, dan inilah yang kami maksud dengan pengaruh penjajahan Barat atas pemikiran masyarakat dan opini publiknya:
This was amongst other matters that led to the following results and consequences and these are what we mean by the western occupying influence over the thoughts of the society and its public opinion:
a) Adanya sejumlah besar orang berpendidikan, yang telah dididik dengan budaya mereka, meyakini akidah Barat dan bekerja sesuai dengan sudut pandang serta filosofinya.
a) The existence of a large number of educated people, who had been educated with their culture, believed in the western Aqeedah and worked in accordance to its viewpoint and philosophy.
b) Menganggap kembalinya Islam ke dalam realitas kehidupan dan kembalinya kekuasaan kaum Muslim sebagai perkara yang masih jauh, sekaligus menganggap seruan kepada hal itu sebagai sekadar khayalan atau semacam kegilaan, serta menganggap seruan kepada Islam sebagai sesuatu yang reaksioner dan terbelakang.
b) Making the return of Islaam to the reality of life and the return of the Muslim authority a far off matter whilst considering the call to that as mere fiction or a kind of madness and considering the call to Islaam as being reactionary and backward.
c) Pemusatan perhatian dan fokus pada pemikiran kebangsaan atau kedaerahan, serta penyebaran kebencian dan permusuhan di antara putra-putra dari satu Ummah yang sama.
c) The concentration and focus upon the nationalistic or regional thinking and the spreading of malice and hatred amongst the sons of the one and same Ummah.
d) Menjadikan demokrasi sebagai sorotan utama, serta sebagai tujuan yang diserukan dan sasaran yang diupayakan untuk dicapai.
d) Putting the spotlight upon democracy and making it the goal that is called for and the aim that is worked for to achieve.
e) Tersebarnya gagasan kebebasan, kebebasan-kebebasan umum di bawah slogan-slogan seperti ‘Kebebasan, keadilan dan persamaan’.
e) The spread of the ideas of freedom, general freedoms under slogans such as ‘Freedom, justice and equality’.
f) Penyebaran berbagai bentuk pemikiran sosialis dan apa yang melekat padanya berupa makna dan penafsiran.
f) The spread of various forms of socialist thoughts and what is attached to them in terms of meanings and interpretations.
g) Dan untuk memuaskan kaum Muslimin serta menyesatkan mereka, mereka memusatkan pandangan pada pemahaman bahwa masyarakat tersusun dan terdiri dari individu-individu. Maka seruan untuk kembali kepada Allah melalui perbaikan diri setiap individu pun tersebar dengan slogan "Perbaikilah individu, niscaya masyarakat akan membaik!" Seruan ini disertai dengan ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, amalan-amalan sunnah, dan akhlak yang terpuji. Akibatnya, berdirilah banyak perkumpulan amal, keagamaan, dan akhlak di atas landasan ini.
g) And to satisfy the Muslims and mislead them they focused their viewpoints towards understanding the society as being made up of and consisting of individuals. So the call to return to Allah by the self reformation of the individual spread under the slogan ‘Reform the individual and the society will be reformed’! This was accompanied by calls to gain closeness to Allah through acts of worship, recommended acts of obedience and praiseworthy morals. As a result of this many charitable, religious and moral associations were established upon this basis.
h) Larangan bagi seorang Muslim untuk berkecimpung dalam politik karena menganggap politik sebagai tipu daya dan kemunafikan, padahal Islam itu lurus dan jelas, sehingga Islam dan politik tidak bertemu dan tidak bercampur. Selain itu, mereka telah menjauhkan dari benak kaum Muslimin bahwa politik dalam Islam berarti mengurus urusan rakyat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
h) The prohibition of political work upon the Muslim due to considering politics as deceit and hypocrisy whilst Islaam is upright and clear and as such Islaam and politics do not meet and mix. In addition they distanced from the minds of the Muslims that politics in Islaam means the taking care of the affairs of the people domestically and externally.
i) Bergantung kepada orang asing untuk mencapai tujuan dan meraih hasil.
i) Reliance upon the foreigner to reach goals and achieve results.
Hal ini di samping tersebarnya pemikiran-pemikiran yang defeatis dan pendapat-pendapat yang menyimpang, seperti pernyataan-pernyataan mereka yang menyesatkan:
This was in addition to the spread of defeatist thoughts and declined opinions like their misleading statements:
Mengenai ayat yang mulia:
In respect to the Noble Aayah:
Wahai orang-orang yang beriman, kewajiban atas kalian adalah (menjaga) diri kalian sendiri (Al-Maa'idah 105).
O you who have believed, upon you is [responsibility for] yourselves (Al-Maa’idah 105).
Mereka mengambil makna: Apatis dan acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan publik dan umum.
They took the meaning: Apathy and indifference to what happens in the public and general life.
Pepatah Arab: "Tangan yang tidak dapat kamu lawan, ciumlah dengan patuh, lalu berdoalah agar ia dipatahkan."
The Arab proverb: ‘The hand which you cannot resist, kiss it in submission, and then pray that it may be broken’.
Manakah yang memiliki makna: Tunduk pada kezaliman dan hanya melawannya dengan harapan kosong.
Which carries the meaning: Submit to injustice and only resist it with empty hopes.
Ungkapan: "Bulan yang di dalamnya tidak ada pahala bagimu, janganlah engkau hitung hari-harinya."
The expression: ‘The month in which you do not have in it a reward, do not count its days’.
Ini menyatakan makna sikap apatis terhadap kehidupan publik, yaitu tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk mengubahnya.
This expresses the meaning of apathy towards the public life i.e. there is nothing that you can do to change it.
Ungkapan: 'Telapak tangan tidak dapat beradu pukul dengan kepalan (tinju)'.
The expression: ‘The palm does not exchange blows with the punch (fist)’.
Ini mencerminkan kekalahan dan kepengecutan.
This reflects defeat and cowardice.
Ungkapan: "Tidak halal bagi seorang Muslim untuk merendahkan dirinya, dan menentang penguasa adalah bentuk kehinaan."
The expression: ‘It is not Halaal (permissible) for the Muslim to humiliate himself and confronting the ruler is humiliation’.
Ini berarti bahwa kerja politik itu dilarang.
This means that the political work is prohibited.
Ungkapan: 'Dekatilah anjing itu dari mulutnya agar aku dapat mengambil hajatku darinya'.
The expression: ‘Approach the dog by his mouth so that I can take my requirement from him’.
Ini mencerminkan kelemahan dan kemunafikan.
This reflects weakness and hypocrisy.
Ungkapan: 'Merasa cukup dengan keadaan yang nyata, meskipun bukan yang kamu inginkan...'.
The expression: ‘Contentment with the state of the reality if it is not what you desire...’.
Ungkapan untuk menerima kenyataan bahwa diri berada dalam posisi tunduk (hamba).
An expression to accept the reality of being subservient.
"Ambil dan tuntutlah."
The expression: ‘Take and demand’.
Ungkapan yang mencerminkan penerimaan terhadap solusi parsial.
An expression reflecting the acceptance of partial solutions.
Prinsip: "Solusi jalan tengah".
The principle: ‘The middle solution’.
Sebuah gaya Barat yang digunakan untuk memecahkan masalah yang dibangun di atas akidah mereka.
A western style used to solve problems built upon their Aqeedah.
Ini adalah sebagian dari pendapat dan pemikiran di antara banyak pendapat yang telah meracuni masyarakat dan meresap ke dalam benak orang-orang hingga menjadi tolok ukur bagi perbuatan mereka dan prinsip bagi cara berpikir mereka. Oleh karena itu, wajib bagi orang yang menginginkan kebangkitan untuk berupaya menghilangkan pengaruh-pengaruh tersebut, membersihkan pikiran, dan menjauhkan kotoran-kotoran ini agar kemurnian dapat kembali kepada Ummah, dan agar pola pikirnya dapat dibangun di atas landasan akidah yang benar.
These are a selection of opinions and thoughts amongst many that poisoned the society and were absorbed into the minds of the people until they became the measure for their actions and the principles for their thought. It therefore became necessary upon the one desiring revival to work to remove these effects, cleanse the brains and distance these defilements so that the purity can return to the Ummah and so that its mentality can be built upon the correct ideological bases.
Adapun pengaruh pendudukan terhadap perasaan kolektif (yaitu masyarakat):
As for the effect of the occupation upon the collective’s (i.e. the society) sentiments:
Mereka berhasil menyebarkan benih-benih nasionalisme, regionalisme, rasisme, kesukuan, kekelanan, fanatisme madzhab, dan sektarianisme. Mereka menemukan tanah yang subur, yang tumbuh dan berkembang dengan cepat, serta menyulut perasaan permusuhan dan kebencian di tengah masyarakat. Inilah alat yang dengannya mereka mampu menguasai semua orang, dan mereka memberi makan setiap golongan sesuai dengan prinsip mereka yang terkenal: ‘Pecah belah lalu kuasai’. Umat yang tadinya satu menjadi banyak bangsa, satu kaum menjadi banyak kaum, dan satu masyarakat menjadi banyak masyarakat yang dibentuk menurut keinginan mereka. Perasaan dan emosi rakyat tidak akan digerakkan kecuali dengan cara yang telah digariskan bagi mereka. Dari sisi lain, mereka menjadikan kepribadian mereka (penjajah Barat) sebagai kepribadian ideal dan teladan di dalam hati rakyat, serta menjadikan negeri dan sejarah mereka sebagai gambaran yang dikagumi rakyat karena keagungan dan kemuliaannya. Hal ini terus berlangsung hingga sampai pada titik di mana mereka yang telah dibesarkan dengan budaya mereka dan meyakini keyakinan mereka ikut berjalan bersama sang penjajah. Mereka tercetak dengan pemikiran penjajah, sehingga akibatnya mereka menjadi asing di tengah masyarakatnya sendiri. Mereka memandang rendah kaumnya, menghina umatnya, sembari merasa malu terhadap sejarah mereka sendiri.
They were able to sow the seeds of nationalism, regionalism, racism, tribalism, clanism, madhabiyah and sectarianism. They found a fertile soil that grew and developed quickly and set alight feelings of hostility and hatred amongst the people. This was the tool by which they were able to gain control over everyone and they would feed all of the factions in line with their famous principle: ‘Divide and rule’. The Ummah became many nations and a single people became many peoples and a single society became societies fashioned upon their desires and the feelings and sentiments of the people would not be agitated except in the way that had been drawn out for them to. This is from one angle and from another, they made their (the western colonist) personality the ideal and model personality within the breasts of the people and they made their lands and history the image of what the people look up to in awe of their greatness and majesty. They did this until it reached the extent that those who had been cultured with their culture and who believed in their belief proceeded along with the colonizer. They were imprinted with the colonizer’s thoughts and as a result they became strangers in their society, they would look at their people in scorn and their Ummah in contempt whilst being ashamed of their history.
Dan pada titik ini saya akan menyebutkan sebuah kisah yang terjadi dengan salah satu delegasi dari sekelompok orang yang sangat berbudaya yang mengunjungi Cina. Mereka disambut dengan hangat, diterima, dan dijamu dengan keramahan serta penghormatan. Mereka pun semakin memuliakan mereka, dan hal itu melampaui formalitas dengan mengundang mereka ke kegiatan dan pertemuan sosial malam hari mereka. Dalam salah satu pertemuan malam tersebut, menteri luar negeri Cina hadir dan duduk bersama mereka untuk menghormati dan menyenangkan hati mereka. Lalu ia mulai berbicara tentang seorang pahlawan dan legenda yang bahkan belum mencapai usia dua puluh tahun, panglima Muslim yang menaklukkan India dan mencapai perbatasan Cina. Ia kemudian menyebutkan dialog yang terjadi antara Raja Cina dan panglima muda tersebut. Pemimpin muda Muhammad bin Al-Qasim berkata, "Amir kami telah bersumpah bahwa ia akan menginjakkan kakinya di tanah Cina dengan kedua kakinya." Raja Cina menjawabnya: "Sampaikan salamku kepadanya. Apa yang ringan untuk dibawa namun berharga sebagai hadiah, bersama sekantong tanah yang dapat kalian letakkan di bawah kakinya, lalu ia dapat melangkahinya dan menunaikan sumpahnya." Demikianlah yang diceritakan pejabat tinggi Cina tersebut. Namun, delegasi yang terhormat dan berbudaya itu menundukkan wajah karena malu mendengar kisah ini, lalu mereka mulai menyerang Muhammad bin Al-Qasim dengan keras, menggambarkan apa yang dilakukannya sebagai kolonialisme barbar, dan bertanya mengapa ia merasa perlu menyerang Cina serta apa urusannya dengan Cina? Mengapa pula bangsa Arab pernah keluar dari Semenanjung Arab?! Ini adalah hasil dari mentalitas penjajah, kesombongan dan gaya mereka, dan inilah yang terwakili dalam delegasi yang terhormat dan berbudaya ini. Akibatnya, pejabat Cina itu murka. Ia berdiri, menghadapi delegasi tersebut dengan kebencian dan penghinaan sambil menunjuk kepala delegasi yang sedang mencela Muhammad bin Al-Qasim, dan berkata kepadanya: "Dengarkan, kau si anu!" "Bangsa mana pun yang malu terhadap sejarahnya tidak layak untuk hidup." Kemudian dia dan orang-orang yang bersamanya pergi, dan keesokan harinya rombongan tersebut diminta untuk meninggalkan Tiongkok. Peristiwa ini diriwayatkan oleh salah seorang yang hadir, yang pada saat itu menjadi duta besar yang mewakili negaranya.
And at this point I will mention a story that happened with one of delegations of a group of very cultured people who visited China. They were received warmly, welcomed and were hosted with graciousness and honour. They increased their honouring of them and this went past the formalities by inviting them to their evening social activities and gatherings. In one of these even gatherings the Chinese foreign minister was present and he sat with them to honour them and to please them. He then began to talk about the hero and legend who had not even reached twenty years of age, the Muslim commander who conquered India and reached the borders of China. He then mentioned the dialogue that happened between the King of China and the young commander. The young leader Muhammad Bin Al-Qaasim said that ‘Our Ameer has made an oath that he would tread upon the ground of China with his two feet’. The King of China replied to him saying: ‘Carry my greetings with you to him and what is light to carry but precious in wealth as a present along with a bag of soil that you can put underneath his feet and then he can step over it and fulfil his oath’. This is what the high Chinese official related however the respectable cultured delegation hid their faces in shame from this story and they began to attack Muhammad Bin Al-Qaasim severely describing what he did as barbaric colonialism asking why he had felt the need to attack China and what did he have to do with China? And why did the Arabs ever go out outside from the Arabian Peninsula?! This was the result of the colonisers mentality, its arrogance and style and this is what was represented in this respectable and cultured delegation. As a result of this the Chinese Official was furious and he stood up addressing the delegation with hatred and contempt whilst pointing to the head of the delegation who had been condemning Muhammad Bin Al-Qaasim and he said to him: ‘Listen you so and so. Any nation that is ashamed of their history does not deserve to live’. He and those with him then left and the following day the delegation was made to leave China. This event was related by one of those attending who had been an ambassador representing his country at that time.
Oleh karena itu, uraian di atas mencerminkan perasaan dan sentimen yang tertinggal dalam hati orang-orang.
The above therefore represents the sentiments and feelings that were left within the breast of the people.
Adapun pengaruh pendudukan terhadap Sistem, maka Sistem diwakili oleh konstitusinya, undang-undangnya, dan badan eksekutif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan dan menerapkannya kepada rakyat, yaitu Haakim (penguasa). Adapun penguasa, maka kehadiran orang-orang kafir tidak hilang dari jalanan kaum Muslimin sampai mereka puas dan yakin bahwa ada penjaga yang akan melindungi apa yang telah mereka tanam. Maka mereka tidak menyerahkan kekuasaan kepada agen-agen mereka dari kalangan putra-putra kaum Muslimin sampai mereka yakin bahwa merekalah yang terbaik untuk menjaga kehadiran mereka, mengamankan kepentingan mereka bagi mereka, dan menerapkan kebijakan-kebijakan mereka. Dan bahwa merekalah yang paling mampu menjinakkan rakyat dan membentuk mereka sesuai dengan pandangan hidup Barat dan budaya Barat, serta merekalah yang paling mampu membawa masyarakat secara keseluruhan menuju menjadi masyarakat kapitalis dalam hal sistem, pemikiran, dan perasaannya.
As for the effect of the occupation upon the System, then the System is represented by its constitution, laws and the executive body that is responsible for implementing and applying them upon the people i.e. the Haakim (ruler). As for the ruler, then the presence of the disbelievers did not disappear from the Muslim street until they were satisfied and reassured that there were guards present that would protect what they had cultivated. So they did not hand over the rule to their agents from amongst the sons of the Muslims until they were reassured that they were the best to safeguard their presence, secure for them their interests and implement their policies. And that they were the most capable of taming the people and shaping them in accordance to the western viewpoint in life and the western culture, and that they were the most capable of carrying the society as a whole towards becoming a capitalist society in terms of its systems, thoughts and sentiments.
Mereka menjadikan kerja politik di negeri ini sebagai perebutan kedudukan kekuasaan yang berlangsung di antara sekumpulan agen mereka, yang tidak mengubah sistem pemerintahan melainkan hanya berujung pada pergantian penguasa dan penggantinya. Bukti terbaik atas hal ini adalah apa yang telah kita saksikan dalam beberapa tahun terakhir berupa perjuangan politik, revolusi, dan kudeta, yang tidak satu pun melampaui upaya mengganti penguasa. Banyak dari upaya-upaya ini berhasil dalam hal mengganti penguasa sambil tetap mempertahankan sistem yang sama. Memang terlihat jelas bahwa sistem dan sebagian besar undang-undang yang diberlakukan sejak masa pendudukan belum berubah hingga sekarang, kecuali beberapa keberpihakan kecil yang tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar dan garis-garis besar, dan ini terjadi meskipun penguasa telah diganti beberapa kali.
They made the basis of political work in the land a struggle for the position of ruling that takes place between a collection of their agents that would not change the rule but rather just lead to the changing of the ruler and replacing him. The best evidence for this is what we have witnessed in recent years in terms of political struggles, revolutions and coups, not one of which extended beyond the attempt to change the ruler. Many of these attempts were successful in terms of changing the ruler whilst keeping the same system. Indeed it is noticeable that the systems and most of the laws that were enacted since the occupation have not changed until now apart from some minor partialities that do not go outside of the fundamental principles and broad lines, and this is despite the fact that the ruler has been changed a number of times.
Di tengah masyarakat kita hari ini, kita masih menyaksikan partai-partai dan struktur politik yang terlibat dalam perebutan kekuasaan yang sengit, yang sering kali berujung pada pertikaian berdarah. Kita melihat program, manifesto, dan budaya yang mereka tawarkan (jika mereka memang pernah menyajikannya), dan kita mendapati bahwa tidak satu pun dari mereka luput dari menghiasi program dan manifestonya dengan kata-kata demokrasi, kebebasan, sosialisme, republikanisme, kemajuan, serta istilah-istilah lain yang mereka agung-agungkan para tokohnya, dan dengan apa yang mereka yakini akan membuat mereka lebih dekat ke hati rakyat. Namun, sistem apa pun yang dipaksakan kepada suatu bangsa yang bertentangan dengan keyakinan mereka atau bertolak belakang dengan pikiran dan perasaan mereka, wajar dan jelas akan menghadapi cemoohan dan kebencian rakyat, dan mereka akan menentangnya jika mampu.
We still witness today in the society how political parties and structures engage in fierce political struggles which quite often reach the point of a bloody struggle. We see the programmes, manifestos and culture that they present (if they have even done that) and we see that not a single one of them exits from beautifying their programmes and manifestos with the words of democracy, freedom, socialism, republicanism and progress amongst other wordings by which they adulate their idols and by what they believe will bring them closer to the hearts of the people. However any system that is enforced upon a people in opposition to their belief or in contradiction to their thoughts and feelings, it is only natural and obvious for it to be met by the scorn and hatred of the people and they will oppose if they are able to.
Oleh karena itu, perlu digunakan kebijakan "wortel dan tongkat", dan dengan demikian kebijakan serta aturan represi, penganiayaan, darurat militer, mata-mata, dan informan dipadukan dengan pengamanan kepentingan, perwakilan dagang, hibah, pinjaman, serta izin impor. Jadi tongkat berada di satu tangan sementara wortel berada di tangan lainnya, yang menambah kepedihan di atas luka, sementara negara-negara kafir saling berebut tanah dan bersaing untuk memperluas kekuasaan, memperlebar pengaruh, dan mengamankan kepentingan mereka. Kemudian Amerika memutuskan, setelah Perang Dunia Kedua, untuk keluar dari isolasinya setelah ia menanggung beban terberat dari dua perang, dan ia melihat bahwa Amerikalah penyebab tercapainya kemenangan. Oleh karena itu Amerika menganggap dirinya pewaris yang sah dan berhak atas kolonialisme Inggris, Prancis, dan sesungguhnya seluruh kolonialisme Barat yang sebelum perang telah menguasai dunia Islam. Namun Inggris dan Prancis memutuskan untuk tetap mempertahankan kehadiran, kepentingan, dan pengaruh mereka, dan karena itu pertarungan tersembunyi di antara mereka pun dimulai. Maka Amerika memanfaatkan bobot internasionalnya, tekanan finansialnya, dan agen-agen barunya, sementara Inggris dan Prancis memanfaatkan agen-agen mereka dari kalangan penguasa beserta para pendukung dan pembantu mereka. Maka terjadilah pertarungan berdarah, dan alat-alat pertarungan itu adalah putra-putra umat, bahan bakarnya adalah harta dan sumber daya mereka, dan umat dilanda api fitnah serta perang saudara. Semua itu terjadi demi terlaksananya keinginan kekafiran dan orang-orang kafir, dan di bawah tabir kebebasan dan pembebasan.
For this reason it was necessary to use the ‘carrot and stick’ policy and as such the policy and rule of repression, persecution, martial law, spies and informers were coupled with the securing of interests, trade representations, grants, loans and import licences. So the stick was in one hand whilst the carrot was in the other which added insult to injury whilst the states of disbelief wrestled over the lands and competed to extend their authority, widen their influence and secure their interests. Then America decided after the Second World War to break out of its isolation after it bore the brunt of the burdens of two wars and it saw that America was the reason for achieving the victory. For this reason America considered itself the legitimate and rightful inheritor of the British, French and indeed all western colonialism which had controlled the Islamic world prior to the war. However Britain and France decided to hang on to their presence and to hold on to their interests and influence and for this reason a hidden struggle between them commenced. So America utilised its international weight, financial pressures and its new agents whilst Britain and France utilised their agents from amongst the rulers and their supporters and helpers. So a bloody struggle occurred and the tools for the struggle were the sons of the Ummah, the fuel were their treasures and resources and the Ummah was afflicted by the fire or tribulations and internal wars. All of which happened in implementation of the desires of disbelief and the disbelievers and under the covering of freedom and liberation.
Inilah kondisi yang telah dicapai masyarakat kita, di samping umat kita, dan inilah warisan besar yang harus dihadapi oleh mereka yang bekerja untuk membangkitkan umat. Inilah yang kami maksud dalam hal memahami realitas dan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentangnya sebelum berupaya memperbaikinya dan sebelum menjatuhkan penilaian terhadapnya. Maka tidaklah cukup bagi ideologi itu saja jelas dalam benak mereka yang ingin membangkitkan umat di atas dasarnya, untuk memimpinnya sesuai dengan tuntutannya dan mengangkatnya ke tingkat dan kedudukan yang layak baginya. Hal itu saja tidak cukup, melainkan mereka harus memahami sepenuhnya bagaimana keadaan rakyat dan apa yang mereka derita, baik berupa penyakit-penyakit mendasar maupun persoalan-persoalan cabang. Maka bagaimana mereka akan berhasil jika mereka tidak memahami dari ideologi kecuali namanya, dan tidak memahami dari Al-Qur’an kecuali tulisannya dan pujiannya, dan mereka tidak memahami apa pun dari tujuan dan sasaran yang mereka perjuangkan kecuali bahwa mereka menginginkan Negara Islam dan kembalinya kekuatan serta kehormatan bagi kaum Muslimin?
This therefore is the condition that our society has arrived at in addition to our Ummah and this is the huge legacy that those working to revive the Ummah must deal with. This is what we mean in respect to understanding the reality and gaining a deep understanding of it before attempting to correct it and before making a judgement upon it. So it is not sufficient alone for the ideology to be clear in the minds of those who want to revive the Ummah upon its basis, to lead her in accordance to what it demands and raise her to the level and position that is fitting for her. This alone is not sufficient but rather they have to fully comprehend what the situation of the people is and what they are suffering from in terms of fundamental diseases and side issues. So how will they be successful if they do not comprehend from the ideology except its name and do not understand from the Qur’aan except its script and praise, and they do not understand anything from the goals and objectives that they are striving for except that they want an Islamic State and the return of the might and honour for the Muslims?
Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu hanya pada sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang akan menyatakan waktu terjadinya selain Dia." (Al-A'raaf: 187)
Say its knowledge is only with my Lord. None will reveal its timing except Him (Al-A’araaf 187).