23. Dubai Menawarkan Model Ekonomi Baru bagi Dunia Muslim
23.Dubai presents a new Economic Model for the Muslim world
Dubai telah dielu-elukan sebagai kisah sukses ekonomi dan model baru pembangunan ekonomi bagi dunia Muslim. Dubai dengan ekonomi senilai $46 miliar telah menarik perhatian dunia melalui proyek-proyek properti yang inovatif dan acara-acara olahraga dalam kurun waktu yang relatif singkat. Banyak ekonom menekankan bahwa diversifikasi Dubai dari minyak bumi telah menempatkannya pada jalur pembangunan yang menghadirkan formula baru bagi pembangunan ekonomi di kawasan tersebut serta pendekatan pembangunan ekonomi yang secara khas bercorak Islam.
Dubai has been heralded as an economic success story and a new model for economic development for the Muslim world. Dubai with its $46 billion economy has attracted world-wide attention through innovative real estate projects and sports events in a relatively short period of time. Many economists have emphasized that Dubai’s diversification away from oil has placed it upon a path of development which presents a new formula for economic development for the region and a distinctly Islamic approach to economic development.
Pendapatan minyak setelah Perang Teluk mendorong Dubai untuk memusatkan perhatian pada perdagangan bebas dan pariwisata. Keberhasilan zona bebas Jebel Ali memungkinkan kota ini mereplikasi modelnya untuk mengembangkan kluster zona bebas baru, termasuk Dubai Internet City, Dubai Media City, dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, serta penciptaan kawasan permukiman baru, digunakan untuk memasarkan Dubai demi tujuan pariwisata. Sejak tahun 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estate swasta dalam membentuk kembali cakrawala Dubai melalui proyek-proyek seperti The Palm Islands, The World Islands, dan Burj Dubai. Pada intinya, ukuran keberhasilan Dubai terletak pada pembangunan seperti gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan yang luas.
Oil revenues after the Persian Gulf War encouraged Dubai to focus on free trade and tourism. The success of the Jebel Ali free zone allowed the city to replicate its model to develop clusters of new free zones, including Dubai Internet City, Dubai Media City and Dubai Maritime City. The constructions of Burj Al Arab, the world’s tallest freestanding hotel, as well as the creation of new residential developments, were used to market Dubai for purposes of tourism. Since 2002, the city has seen an increase in private real estate investment in recreating Dubai’s skyline with such projects as The Palm Islands, The World Islands and Burj Dubai. In essence the measure of success of Dubai has been on developments such as skyscrapers and vast shopping malls.
Oleh karena itu, Dubai unik di antara negeri-negeri Muslim karena telah menyaksikan perkembangan yang luar biasa selama 20 tahun terakhir. Kini Dubai menjadi kota modern, dengan kekayaan yang dipamerkan dalam bentuk gedung-gedung tinggi dan pembangunan-pembangunan yang unik. Kota ini tidak hanya didatangi dalam jumlah besar oleh kaum Muslimin dari negara-negara Islam, tetapi juga oleh orang-orang dari berbagai kalangan dari seluruh dunia. Dubai menawarkan gaya hidup Barat dengan cita rasa Timur bagi semua orang. Penduduk asli merupakan minoritas, 85% penduduk Dubai terdiri dari warga asing. Bagi banyak orang, hal ini dianggap sebagai kisah sukses, karena Dubai telah menarik perhatian dunia ke pulau kecilnya, namun di balik keberhasilan yang tampak ini tersembunyi mitos tentang pembangunan ekonomi.
Due to this, Dubai is unique amongst the Muslim world in that it has witnessed phenomenal development over the last 20 years. It is today a modern city, with much wealth on display in the form of tall buildings and unique developments. It is a city that not only Muslims from Islamic countries head towards in large numbers, but people of all kinds from all over the world. Dubai offers a western lifestyle with an Eastern flavour for all. The native population is a minority, 85% of Dubai’s population is composed of expatriates. For many this would be considered a success story as Dubai has attracted the world to its tiny island, but in this apparent success lays the myth of economic development.
Dubai telah dianugerahi minyak bumi dalam jumlah yang sangat besar, dan pendapatannya memungkinkan sebuah kota modern berkembang dari sebuah desa nelayan yang dahulunya kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, Dubai juga mengarahkan perekonomiannya ke sektor pariwisata dan jasa. Hal ini menjadikan Dubai sebagai pusat pariwisata bukan hanya di Timur Tengah, tetapi di seluruh dunia. Dubai juga bercita-cita menjadi pusat keuangan yang mampu menyaingi kota-kota seperti London dan New York.
Dubai has been blessed with a vast amount of oil, the revenues of which have allowed a modern city to develop out of a once small fishing village. In recent years Dubai has also taken to orienting its economy towards the tourism and service sectors. This has led to Dubai becoming a hub of tourism in not only the Middle East but the world. It is also aspiring to become a financial centre to rival the likes of London and New York.
Masalah dengan Dubai adalah bahwa ia bukan model yang dapat diikuti orang lain, melainkan kasus pembangunan yang unik. Ia berkembang dengan cara sedemikian rupa sehingga pada kenyataannya ia hidup di dalam gelembung ekonomi.
The problem with Dubai is that it’s not a model for others to follow, but a unique case of development. It has developed in such a manner that it is in fact existing in an economic bubble.
Kekuatan pendorong pertumbuhan Dubai sebagian besar berasal dari kekayaan minyaknya, disusul oleh perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh pekerja asing. Posisinya sebagai pusat perdagangan juga telah membawa kemakmuran baginya. Masalahnya, minyak tidak tak terbatas, dan persediaannya sudah mulai habis. Para pekerja terampil yang membantu mengembangkan sektor jasa sebagian besar berasal dari luar negeri, dengan hanya sebagian kecil penduduk Dubai yang kini dianggap sebagai orang Arab asli.
The driving force behind Dubai’s growth has been largely its oil wealth, followed by companies that are run by foreign workers. Its position as a trading hub has also brought it wealth. The problem with this is that the oil is not unlimited, and is already running out. The skilled workers that are helping to develop the service sector are mostly from overseas, with only a tiny part of Dubai’s population now considered to be native Arabs.
Faktor-faktor ini menunjukkan mengapa Dubai bukanlah contoh pembangunan ekonomi yang sejati. Dubai hanya memanfaatkan sumber daya alam yang terbatas dan mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri dengan sedikit transfer keterampilan dan pengetahuan untuk menggerakkan perekonomiannya. Ditambah lagi, Dubai tidak memproduksi barang manufaktur apa pun yang dibeli oleh penduduk kota tersebut. Dubai adalah sebuah negara yang tidak mandiri, karena tidak memiliki infrastruktur maupun sumber daya alam untuk mengembangkan produk-produk yang dikonsumsinya.
These factors show why Dubai is not an example of true economic development. It has merely exploited limited natural resources and has been importing talent from abroad with little skills and knowledge transfer to drive its economy. This is coupled with the fact that Dubai does not produce any manufactured products that the people in the city buy. It is a nation that is not self-sufficient, as it does not have the infrastructure or natural resources in place to develop the products it consumes.
Pertumbuhannya merupakan hasil langsung dari statusnya sebagai zona yang pada dasarnya bebas pajak bagi warga negara asing dan perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan ini, meskipun menyediakan lapangan kerja dan penghasilan bagi masyarakat di negara tersebut, tidak mentransfer keterampilan teknis apa pun kepada masyarakat. Harga properti di sana naik sebagian besar karena spekulasi bahwa harga akan terus naik, dan keuntungan dapat diperoleh dengan menjual kembali properti tersebut.
Its growth has been a direct result of it becoming an essentially tax free zone for foreign nationals and companies. These companies, whilst providing jobs and income to people in the country, are not transferring any technical skills to the people. Its real estate prices are rising in large part due to speculation that the prices will continue to rise, and a profit can be made from selling the property on.
Dubai telah memosisikan dirinya sebagai perekonomian berbasis jasa, di mana pemerintah menyediakan semua layanan yang dibutuhkan, seperti infrastruktur, komunikasi, apartemen, taman, gerai ritel, dan pariwisata, agar perusahaan-perusahaan dunia dapat beroperasi dari sana. Masalahnya, model pembangunan seperti ini, perusahaan tidak selalu harus beroperasi hanya dari satu lokasi; mereka dapat berpindah bila diperlukan, dan ketidakstabilan biasanya akan mendorong hal tersebut. Pembangunan semacam ini membuat negara bergantung pada orang asing yang terus ingin bekerja dari Dubai. Mengingat Timur Tengah adalah kawasan paling tidak stabil di dunia dan adanya kemungkinan perang, hal ini dapat menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut meninggalkan Dubai kapan saja.
Dubai has modelled itself as a service based economy where the government will provide all the necessary services such as infrastructure, communications, flash apartments, parks, retail outlets and tourism for the worlds companies to operate from. The problem with this type of development is companies do not necessarily need to operate from only one location, they can move around if needed and any instability will usually lead to this. Such a development makes the nation reliant on foreigners to continually want to work from Dubai. With the Middle East being the most unstable region in the world and prospects of war this could lead to a departure of such companies at any time.
Alasan-alasan ini menunjukkan bahwa Dubai tidak lebih dari fatamorgana di gurun. Pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya bergantung pada bakat dan keahlian pihak-pihak asing. Dubai hanya dapat menawarkan layanan khusus seperti perbankan dan keuangan sebagai sarana untuk menjamin masa depannya, di samping pariwisata. Karena sektor-sektor ini sangat bergantung pada niat baik dan kepercayaan orang asing, Dubai rentan terhadap keruntuhan ekonomi jika kekuatan-kekuatan tersebut memutuskan untuk menarik diri. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai alasan. Perang regional dapat membuat Dubai menjadi tempat yang tidak aman bagi para pekerja, sementara jalur perdagangan juga akan terputus. Harga perumahan akan anjlok, dan uang yang saat ini mengalir deras ke sektor real estat akan keluar dari kota.
These reasons show why Dubai is nothing more than a mirage in the desert. Its growth and survival are dependent upon the talent and expertise of foreign entities. It can only offer specialist services such as banking and finance as a means to guarantee its future, along with tourism. As these sectors rely heavily on the goodwill and confidence of foreigners, Dubai is vulnerable to economic collapse if ever these powers decide to pull out. This could be caused for a variety of reasons. A regional war could render Dubai an unsafe place for workers, with trade routes also being cut off. Housing prices would collapse and money that is currently pouring into real estate would rush out of the city.
Meskipun skenario ini tampak ekstrem, skenario tersebut tidaklah mustahil mengingat realitas politik di Timur Tengah. Bahkan selama kemakmuran ini berlangsung, ia datang dengan harga berupa melemahnya nilai-nilai Islam, karena minuman keras dan berbagai kemaksiatan lainnya dibolehkan demi menarik tenaga kerja dari Barat untuk menggerakkan perekonomian.
Though this may appear an extreme scenario, it is not an unlikely one given the political reality of the Middle East. Even while this prosperity continues, it comes at a cost in the dilution of Islamic values since alcohol and other vices are permitted in order to attract a western workforce to drive the economy.
Batasan bagi siapa pun yang berusaha meniru Dubai adalah bahwa di kawasan ini hanya dapat ada satu pusat pariwisata dan keuangan. Menurut definisinya, tidak mungkin ada dua pusat di satu tempat. Contoh dua maskapai regional sudah cukup untuk menjelaskan hal ini. Emirates adalah maskapai yang beroperasi dari Dubai, sedangkan Etihad beroperasi dari Abu Dhabi. Emirates berhasil membangun dirinya sebagai merek dan populer di kalangan orang yang bepergian ke kawasan ini. Etihad, sebaliknya, kesulitan, karena jumlah penumpang tidak cukup untuk membuat dua maskapai yang letaknya begitu berdekatan sama-sama sepopuler Emirates.
The limitation upon anyone trying to emulate Dubai is that there can only be one hub of tourism and finance in the region. By definition, there cannot be two hubs in one place. The example of two regional airlines is sufficient to explain this point. Emirates are an airline that runs out of Dubai, whilst Etihad runs from Abu Dhabi. Emirates have managed to establish itself as a brand and are popular with people travelling to the region. Etihad on the other hand struggles, as there simply is not enough traffic to make two airlines so close to each both as popular as Emirates.
Di dunia pascaindustri, memiliki sektor jasa yang besar dianggap sebagai syarat mutlak bagi ekonomi abad ke-21; baik Amerika Serikat maupun Inggris memiliki sektor jasa yang membentuk lebih dari 70% perekonomian mereka. Namun, Dubai serta dunia Muslim tidak pernah melalui industrialisasi, sehingga menjadi ekonomi berbasis jasa bukanlah model yang berkelanjutan, dan hal ini sepenuhnya bertentangan dengan jalan yang ditempuh dunia Barat untuk menjadi ekonomi yang mandiri, yang kini memiliki basis manufaktur, militer yang besar, serta sektor pertanian yang didanai negara. Seperti krisis kredit, model Dubai adalah gelembung yang terus mengembang dan menunggu untuk pecah.
In a post-industrial world having a large service sector is considered a prerequisite for the 21st century economy, both the US and the UK have service sectors that make-up more then 70% of the economy. However, Dubai as well as the Muslim world never went through industrialisation, thus becoming service based economies is not a sustainable model and is in complete contradiction to the path the Western world took to become independent economies, which today have a manufacturing base, large militaries and state funded agricultural sectors. Like the credit crunch the Dubai model is an inflating bubble waiting to burst.
Reference: Mitos-Mitos Geopolitik - Adnan Khan