Kesimpulan
Conclusion
Situasi global pada waktu tertentu dapat melibatkan berbagai peristiwa yang berlangsung bersamaan, sehingga dapat mengaburkan siapa yang melakukan apa serta motif di balik tindakan-tindakan tersebut. Karena umat diberi amanah untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia, maka setiap Muslim wajib mengikuti perkembangan situasi global, memahami keadaannya, dan mengenali motif bangsa-bangsa dunia serta rencana-rencana politik mereka. Untuk memahami situasi global atau keseimbangan kekuatan global, hal-hal berikut perlu diperhatikan:
The global situation at any given time can have multiple events taking place which can cloud who is doing what and the motives behind such actions. Since the Ummah is entrusted with carrying the Islamic da’wah to the whole world, it is indispensable for every Muslim to pursue the global situation, comprehend its circumstances, and acquaint oneself with the motives of the world’s nations and their political plans. In order to understand the global situation or the global balance of power the following points should be kept in mind:
1. Untuk menilai keabsahan suatu situasi politik, keuntungan strategis yang dapat dibawa oleh kebijakan tertentu, atau bahkan apakah suatu fakta dalam kenyataan merupakan mitos, hal itu hanya benar-benar dapat dipahami jika seseorang mengenal situasi internasional dan bangsa-bangsa yang saling bersaing. Realitas geopolitik dengan sendirinya tidak memberikan indikasi tentang keabsahannya; menghubungkan faktor-faktor yang lebih luas, seperti bangsa-bangsa yang membentuk keseimbangan kekuatan global, bersama dengan kebijakan-kebijakan nasional, adalah cara untuk memahami setiap pergulatan global dan membedakan mitos dari kebenaran.
1. In order to asses the validity of any political situation or the strategic advantage a particular policy may bring, or even whether a certain fact in reality is a myth - this can only really be understood if one is acquainted with the international situation and the nations that compete with each other. Geopolitical realities on their own give no indication of their validity, linking wider factors such as the nations that make up the global balance of power alongside national policies is the way to comprehend any global struggle and distinguish myths from truths.
2. Geopolitik adalah cabang dari politik. Mustahil dan berbahaya untuk mengikuti situasi geopolitik global tanpa terlebih dahulu memahami politik. Melalui politiklah geopolitik dapat dipahami dengan jelas. Hal ini karena politik adalah kebijakan, rencana, dan gaya yang digunakan untuk mengurus urusan dalam negeri suatu bangsa melalui penerapan suatu ideologi, sedangkan kebijakan luar negeri suatu bangsa adalah hubungan yang dibangun dengan dunia guna mencapai tujuan-tujuannya. Politiklah yang membentuk arena geopolitik, sehingga menyusutnya sumber-sumber air di seluruh dunia, politik minyak, penguasaan Terusan Suez atau Teluk Persia bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan kepentingan-kepentingan beragam yang dimiliki berbagai bangsa di dunia menjadikannya penting secara strategis.
2. Geopolitics is a branch of politics. It is impossible and dangerous to follow the global geopolitical situation without first understanding politics. It is through politics that geopolitics is clearly understood. This is because politics is the polices, plans and styles used to take care of the nations affairs domestically through the implementation of an ideology whist a nations foreign policy is the relations a nation builds with the world in order to achieve its goals. It is the politics that will define the geopolitical arena, hence the dwindling water wells around the world, the politics of oil, control of the Suez canal or the Persian Gulf are not issues in themselves, but the multiple interests a variety of nations around the world have makes them strategically important.
3. Bangsa-bangsa di seluruh dunia terbagi menjadi dua: ada yang bersifat ideologis, yaitu bangsa yang telah mengadopsi suatu ideologi yang memberi arah bagi negara serta menjadi dasar untuk menurunkan perundang-undangan dan menyusun kebijakan, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman dengan kapitalismenya. Lalu ada pula bangsa-bangsa lain yang tidak merangkul suatu ideologi, tetapi memiliki kepentingan yang ditentukan oleh sejarah atau letak geografisnya. Bagi mereka, perlindungan kepentingan itulah yang mendorong pengembangan kebijakan, sebagaimana terlihat pada Pakistan yang berupaya mempertahankan diri dari India, dan Tibet yang menginginkan kemerdekaan dari Tiongkok. Penerapan ideologi serta upaya melindungi dan mencapai kepentingan nasional ini menimbulkan interaksi di seluruh dunia, dan inilah yang disebut situasi internasional.
3. Nations around the world are either ideological in nature where they have adopted an ideology which gives the nation direction and acts as a basis for deriving legislation and building polices, such as the US, Britain, France and Germany with Capitalism. Then there are other nations which do not embrace an ideology but have interests which are defined by their history or location, for them the protection of the interest is what drives policy development as can be seen with Pakistan attempting to defend itself against India and Tibet wanting independence from China. The application of the ideology and the attempts to protect and achieve national interests leads to interactions across the world and this is the international situation.
4. Keadaan di negara mana pun di dunia tidak tetap sama. Keadaan itu mengalami banyak perubahan, dalam hal kekuatan dan kelemahan, kekuatan pengaruh atau ketiadaannya, serta dalam hal perbedaan dan perubahan dalam hubungan luar negerinya dengan negara-negara lain. Karena itu, mustahil menetapkan kerangka tetap atau seperangkat pedoman untuk memandang situasi internasional, sebab situasi internasional senantiasa berada dalam keadaan yang terus berubah. Namun, analisis terhadap situasi internasional pada waktu tertentu tetap mungkin dilakukan dengan mengingat bahwa analisis tersebut dapat berubah. Begitu pula, kekuatan negara-negara di dunia dapat dianalisis dengan mengingat bahwa penilaian tersebut dapat berubah. 5. Situasi internasional adalah struktur hubungan internasional antarnegara di dunia. Ia mencakup kedudukan negara adidaya dan negara-negara yang bersaing dengannya.
4. The state of affairs in any nation of the world does not remain the same. It goes through many changes, in terms of strength and weakness, power of influence or its absence, and in terms of difference and change in its foreign relations with other nations. This is why it is impossible to draw a constant framework or a set of guidelines to view the international situation as the international situation is always in a state of flux. However, an analysis of the international situation at any given time is possible bearing in mind it is liable for change. It is also possible to analyze the strength of the powers in the world bearing in mind such an assessment is liable for change. 5. The international situation is the structure of the international relations between the world’s nations. It is the status of the superpower and the nations that compete with it.
Memahami keseimbangan kekuatan global, terlepas dari mengetahui negara-negara yang menjadi kekuatan dunia beserta kebijakan dan tujuan mereka, memerlukan pengetahuan tentang hubungan internasional, yaitu persaingan yang terus-menerus antara kekuatan-kekuatan dunia untuk memperebutkan posisi sebagai negara adidaya. Inilah sebabnya situasi internasional tidak stabil dan mengalami banyak perubahan. Oleh karena itu, setiap analisis tentang keseimbangan kekuatan global adalah gambaran tentang suatu titik waktu tertentu. Ketika situasi internasional berubah, analisis tersebut menjadi bagian dari sejarah.
Understanding the global balance of power apart from knowing the nations who are the world’s powers, their policies and aims requires the knowledge of international relations, which is the constant competition between the world’s powers over the position of the superpower. This is why the international situation is not stable and goes through many changes. Hence any analysis of the global balance of power is a description of a particular point in time. When the international situation changes such an analysis becomes part of history.
6. Situasi internasional akan selalu berada dalam keadaan yang berubah-ubah karena ditentukan oleh situasi politik-ekonomi sejumlah negara dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Perubahan situasi dan keadaan semacam itu terjadi entah karena suatu bangsa menjadi lebih kuat atau lebih lemah, atau karena hubungannya dengan negara-negara lain menjadi lebih kuat atau lebih lemah. Dalam hal demikian, perubahan keseimbangan kekuatan global akan terjadi akibat perubahan keseimbangan kekuatan yang ada di dunia. Inilah sebabnya mengapa memahami status setiap negara yang memiliki pengaruh terhadap situasi internasional merupakan dasar untuk memahami keseimbangan kekuatan global.
6. The international situation will always be in a state of flux because it is determined by the political-economic situation of some states from one circumstance to another. Such change of situations and circumstances is either because a nation became stronger or weaker, or because its relations with other states became stronger or weaker. In such a case, a change in the global balance of power would result due to a change in the balance of powers existent in the world. This is why understanding the status of each state that has influence on the international situation is the basis for understanding the global balance of power.
7. Memahami situasi global pada suatu waktu tertentu tidak berarti seseorang harus mengetahui seluruh politik dunia. Negara-negara yang tidak termasuk dalam keseimbangan kekuatan global tidak perlu dikejar-kejar, karena tindakan-tindakan besar di dunia merupakan hasil dari persaingan kekuatan-kekuatan dunia satu sama lain dan di berbagai arena di seluruh dunia.
7. Understanding the global situation at any given time does not mean one must be acquainted with all of the world’s politics. The nations who do not make up the global balance of power need not be pursued as the major actions in the world are a result of the world’s powers competing with each other and in different arenas across the world.
- Kebuntuan senjata nuklir Korea Utara dengan AS merupakan akibat langsung dari upaya AS untuk membendung Cina. Cina telah mengupayakan perundingan multilateral untuk penyatuan Korea Utara dan Korea Selatan, berusaha memastikan agar "pintu belakangnya" tidak terbakar. Pernyataan-pernyataan dari pertemuan semacam itu saling bertentangan: Cina bersikap pesimis terhadap perundingan dan menjaga jarak dalam sebagian besar isu, sementara AS terus-menerus menyatakan bahwa perundingan berjalan sukses.
- The North Korea Nuclear weapons stand-off with the US is a direct result of US attempts to contain China. China has been pursuing multilateral talks for the reunification of North and South Korea trying to ensure its back door is not set on fire. The statements from such meetings have been contradictory where China has been pessimistic about the talks with distance on most issues whilst the US has continually remarked successful negotiations.
Amerika Serikat belum pernah bernegosiasi secara langsung dengan Korea Utara, dan hal ini membuat persoalan tersebut semakin membuat frustrasi. Kemajuan yang lamban dan terus berlarut-larut sangat sesuai dengan kehadiran hampir 100.000 pasukan AS di kawasan tersebut, dan dengan diujinya persenjataan nuklir Korea Utara pada Oktober 2006, hal ini akan menguras upaya Tiongkok dan memberikan justifikasi yang tepat bagi kehadiran AS yang berkelanjutan dan substansial di Korea Selatan. J Rielly menguraikan hal ini dalam sebuah makalah kebijakan: 'Pasukan AS ini berada di kawasan tersebut bukan semata-mata untuk memerangi "kelompok teroris" yang menyebabkan ketidakstabilan lokal, melainkan untuk memperkuat kendali militer AS atas wilayah di Laut Cina Selatan. Kawasan strategis ini, dengan potensi cadangan minyak yang sangat besar, terletak di samping jalur pelayaran menuju Timur Tengah dan memberikan akses ke sebagian besar Asia Tenggara. Perluasan kehadiran AS...'
The US has not directly negotiated with North Korea which is exasperating the issue. The continued sluggish progress and prolonging fits perfectly for the presence of nearly 100,000 US troops in the region and with North Korea testing its nuclear arsenal in October 2006 this will expend Chinese efforts and gives a suitable justification for sustained and substantial US presence in South Korea. J Rielly outlined this in a policy paper: ‘These U.S. troops are in the region not simply to fight the "terrorist groups" causing local instability, but to enhance U.S. military control over territory in the South China Sea. This strategic area with vast potential oil reserves sits aside the shipping lanes to the Middle East and offers access to much of Southeast Asia. The expanded U.S.
Kehadiran dan aliansi militer yang baru terbentuk dengan negara-negara Asia Tenggara memperparah kekhawatiran Tiongkok dan menghambat kesepakatan independen di antara negara-negara Asia melalui mekanisme seperti Forum Regional ASEAN.41
presence and nascent military alliances with Southeast Asian nations exacerbates Chinese anxieties and impedes independent accords among Asian states though such mechanisms as the ASEAN Regional Forum.’41
- Seruan Ossetia Selatan untuk memisahkan diri dari Georgia merupakan akibat langsung dari persaingan antara Amerika Serikat dan Rusia untuk menguasai Eropa Timur. Perang Balkan pada dasarnya diciptakan oleh Amerika Serikat untuk membendung Rusia di dunia pascasoviet dan membawa negara-negara bekas komunis ke dalam lingkup pengaruh Amerika Serikat. Rusia mampu menempatkan Serbia dalam lingkup pengaruhnya karena sejarahnya, dan menjadikannya sebagai benteng untuk menggagalkan dominasi Amerika Serikat.
- The call for independence by South Ossetia from Georgia is a direct result of competition between the US and Russia for control over Eastern Europe. The Balkan wars were essentially created by the US to contain Russia in a post Soviet world and bring the former communist states under the US area of influence. Russia was able to bring Serbia under its area of influence due to its history and has used it as a bulwark to frustrate US dominance.
Serbia telah menjadi penghalang bagi agenda Amerika, dan akibatnya AS berupaya melemahkannya sejak awal dengan merekayasa pemisahan Montenegro dari Serbia, kemudian memisahkan Kosovo darinya, dan selanjutnya serangan NATO terhadap angkatan bersenjata Serbia di Kosovo maupun di Serbia sendiri. Ossetia Utara adalah wilayah semi-otonom di Rusia, sedangkan Ossetia Selatan jatuh ke dalam wilayah Georgia pada hari-hari terakhir Uni Soviet. Rusia telah memanfaatkan hubungannya dengan Ossetia Utara untuk mendorong warga Ossetia Selatan menyerukan kemerdekaan, sehingga menggagalkan tujuan AS di kawasan tersebut. Rusia menjalin kontak erat dengan kepemimpinan di Tskhinvali, tempat para separatis menyambut sikap dukungan Moskow. Yang sangat menjengkelkan bagi Georgia, sebagian besar warga Ossetia Selatan memegang paspor Rusia, dan rubel Rusia umum digunakan dalam perdagangan.
Serbia has been a barrier for the American agenda and as a result the US was keen to weaken it initially by engineering the separation of Montenegro from Serbia, then separating Kosovo from it and then the NATO attack on Serbian armed forces in Kosovo as well as in Serbia itself. North Ossetia is a semi autonomous region in Russia, whilst South Ossetia fell into Georgia in the dying days of the USSR. Russia has used its relations with North Ossetia to push South Ossetians to call for independence thus thwarting US aims in the region. Russia maintains close contacts with the leadership in Tskhinvali where separatists welcome Moscow’s supportive stance. To Georgia’s deep annoyance, most South Ossetians have Russian passports and the Russian rouble is commonly used in trade.
Seruan Tibet untuk memisahkan diri dari Tiongkok juga merupakan pertarungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
- The call by Tibet for separation from China is also a struggle between China and the US.
Campur tangan AS di kawasan ini dimulai pada tahun 1950-an melalui CIA untuk menghadang adopsi komunisme oleh Tiongkok. Pemberontakan berdarah yang menghancurkan pada tahun 1959 oleh Gerakan Tibet Merdeka adalah kampanye aksi rahasia berskala besar yang dilakukan CIA terhadap orang-orang Tionghoa komunis di Tibet. Puluhan ribu orang Tibet tewas, sementara Dalai Lama dan sekitar 100.000 pengikutnya terpaksa melarikan diri melintasi pegunungan Himalaya yang berbahaya menuju India dan Nepal. CIA mendirikan kamp pelatihan militer rahasia bagi para pejuang perlawanan Dalai Lama di Camp Hale dekat Leadville, Colorado, Amerika Serikat. Para gerilyawan Tibet dilatih dan diperlengkapi oleh CIA untuk perang gerilya dan operasi sabotase terhadap orang-orang Tionghoa komunis. Tiongkok menghadapi masalah serius, dengan kaum Muslim Uighur di provinsi Xinjiang dan kegiatan Falun Gong, di antara banyak kelompok pembangkang lainnya yang menginginkan kemerdekaan. Rakyat Tibet mendapati dirinya terjebak di antara Beijing yang menindas dan Washington yang manipulatif, yang berupaya melemahkan Tiongkok.
US interference in the region begun in the 1950’s through the CIA in order to counter China’s adoption of communism. The disastrous bloody uprising in 1959 by the Free Tibet Movement was a CIA conducted large scale covert action campaign against the communist Chinese in Tibet. Tens of thousands of Tibetans were left dead, while the Dalai Lama and about 100,000 followers were forced to flee across the treacherous Himalayan passes to India and Nepal. The CIA established a secret military training camp for the Dalai Lama’s resistance fighters at Camp Hale near Leadville, Colorado, in the US. The Tibetan guerrillas were trained and equipped by the CIA for guerrilla warfare and sabotage operations against the communist Chinese. China is faced with significant problems, with the Uighur Muslims in Xinjiang province, and the activities of the Falun Gong among many other dissident groups aiming for independence. Tibetan people find themselves trapped between an oppressive Beijing and a manipulative Washington attempting to weaken China.
8. Persaingan antara negara-negara adidaya telah ada sejak awal zaman dan akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Pada zaman kuno, Mesir di bawah para firaun adalah negara adidaya, dan Mesopotamia bersaing dengannya. Kekaisaran Romawi kemudian menjadi negara adidaya, dan Kekaisaran Persia bersaing dengannya. Khilafah kemudian mengalahkan sisa-sisa Kekaisaran Persia dan Bizantium, dan menjadi negara adidaya dunia hingga abad ke-18, dengan menghadapi tantangan dari bangsa Mongol dan pasukan Salib pada masa itu. Prancis dan Inggris kemudian bersaing dengan Khilafah Utsmani selama hampir tiga abad hingga pertengahan abad ke-18. Menjelang Perang Dunia I, Jerman menggeser keseimbangan kekuatan global, sementara Prancis dan Inggris bersaing dengannya. Setelah Perang Dunia I, Inggris muncul sebagai kekuatan dunia dan Prancis bersaing dengannya. Jerman sekali lagi menantang Inggris sebagai negara adidaya dunia, dan hanya Perang Dunia II yang menghentikan hegemoni Jerman. Amerika Serikat muncul sebagai negara adidaya dunia setelah Perang Dunia II dan ditantang oleh Uni Soviet selama lima dekade hingga runtuhnya pada tahun 1990.
8. Competition between the world powers is something that has existed from the beginning of time and will continue until the day of judgement. In ancient times Egypt under the pharaohs was the superpower and Mesopotamia competed with it. The Roman Empire became the superpower and the Persian Empire competed with it. The Khilafah then defeated the remnants of the Persian and Byzantine empires and was the world’s superpower until the 18th century facing challenges from the Mongols and the crusaders during this time. France and England then competed with the Uthmani Khilafah for nearly three centuries until the mid-18th century. On the eve of World War 1 Germany shifted the global balance of power, whilst France and Britain competed with it. After World War 1 Britain emerged as the world’s power and France competed with it. Germany once again challenged Britain as the world’s superpower and only World War 2 stopped German hegemony. The US emerged the world’s superpower after World War 2 and was challenged by the Soviet Union for five decades until its collapse in 1990.
9. Pada tahun 2008 Amerika Serikat adalah negara adidaya dunia. Meskipun mulai goyah, negara ini tetap memiliki pengaruh terbesar di seluruh dunia dalam politik internasional. Amerika Serikat adalah ekonomi terbesar di dunia dengan selisih yang jauh, dan negara paling maju secara teknologi, serta mempertahankan pangkalan militer di seluruh dunia untuk melindungi kepentingannya. Negara-negara yang mampu bersaing dengan Amerika Serikat adalah Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman.
9. In 2008 the US is the world’s superpower. Although faltering it still has the greatest influence around the world on international politics. The US is the world’s largest economy by far and the most advanced nation technologically, and maintains military bases across the world in order to protect its interests. The nations that are able to compete with the US are Russia, Britain, France and Germany.
Keempat negara ini memiliki ambisi internasional di seluruh dunia. Rusia dalam dekade terakhir berhasil menguasai sumber daya mineral dan utilitasnya, serta menyingkirkan banyak oligarki yang diuntungkan oleh runtuhnya Uni Soviet. Dengan salah satu cadangan energi terbesar di dunia, Rusia kini sedang mengembangkan militer yang canggih dan bersaing langsung dengan Amerika Serikat di kawasan-kawasan tempat Amerika Serikat selama hampir satu dekade memegang hegemoni tanpa tantangan.
All four nations have international ambitions across the world. Russia in the last decade has managed to gain control over its mineral resources and utilities and banished many oligarchs who benefited from the break-up of the Soviet Union. With some of the worlds largest energy reserves it is now developing a state of the art military and competing directly with the US in regions where the US for nearly a decade had uncontested hegemony.
Inggris secara historis merupakan kekuatan dunia dan hingga kini masih memiliki pengaruh di bekas tanah jajahannya.
Britain historically has been a world power and still has influence in its former colonies.
Inggris adalah pemain kunci di Eropa dan telah menggagalkan banyak rencana Amerika Serikat. Inggris terus memiliki ambisi global dan berupaya mempertahankan kepentingannya dengan bekerja sama dengan Amerika Serikat, dan dalam banyak kesempatan bersaing dengannya.
Britain is a key player in Europe and has frustrated many US plans. Britain continues to have global ambitions and works to maintain its interests by cooperating with the US and on many occasions competing with it.
Perancis, seperti Inggris, telah menjadi pemain kunci dalam sejarah dan politik Eropa. Selama puluhan tahun, kebijakannya berpusat pada upaya menciptakan pengaruh di seluruh dunia melalui koloninya, budaya Prancis, dan kekuatan ekonominya.
France like Britain has been a key player in European history and politics, its policies for decades have been centred on creating influence across the world through its colonies, French culture and through its economic strength.
Jerman adalah negara ketiga terbesar di dunia dari segi ekonomi dengan nilai $2,7 triliun, dan merupakan kekuatan ekonomi di Eropa. Jerman juga menjadi eksportir barang terbesar di dunia dengan nilai $1,1 triliun. Saat ini Jerman terus memperluas pengaruh ekonominya melalui serangkaian kebijakan ekonomi yang khas, dengan hegemoni yang nyaris menguasai kawasan Eropa Timur. Jerman juga berperan aktif dalam keberhasilan mediasi pertukaran tahanan antara Israel dan Hizbullah.
Germany is the third largest in economy in the world at $2.7 trillion and an economic powerhouse in Europe. It is the world’s largest exporter of goods at $1.1 trillion. Germany today is expanding economically through a distinct set of economic policies with a virtual hegemony in the regions of Eastern Europe. Germany also played an active role in the successful mediation in the issue of exchanging prisoners between Israel and Hezbollah.
Jerman juga mengerahkan pasukan angkatan laut dalam invasi Israel ke Lebanon pada tahun 2006. Pengerahannya terdiri dari dua fregat, yaitu Mecklenburg-Vorpommern dan Karlsruhe, yang didukung oleh helikopter, kapal pasokan, dan kapal patroli, dengan sekitar 1.500 personel di atas kapal.
Germany also deployed a naval force in the Israeli invasion of Lebanon in 2006. Its deployment consisted of two frigates - the Mecklenburg-Vorpommern and Karlsruhe - supported by helicopters, supply ships and patrol boats, with about 1,500 men on board.
Ini adalah pengerahan militer terbesar Jerman sejak Perang Dunia II.
This is Germany’s largest military deployment since World War 2.
Setelah negara-negara yang secara langsung bersaing dengan AS di seluruh dunia, Tiongkok memiliki pengaruh terbesar, namun saat ini ia tetap merupakan kekuatan regional. Seandainya Tiongkok tidak membatasi ambisi internasionalnya, dengan hanya berfokus pada kawasannya, tentu ia akan bersaing dengan kekuatan-kekuatan dunia. Namun, situasi ini sangat mungkin berubah di masa depan.
After the nations that directly compete with the US across the world, China has the most influence however it remains currently a regional power. Had China not been narrow in its international ambitions, focusing only on its region it would have competed with the world’s powers. However, this situation is very likely to change in the future.
Jepang adalah kekuatan ekonomi dengan perekonomian terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, di luar bidang ekonomi, pengaruhnya nyaris tidak ada. Kebijakannya saat ini untuk ikut serta dalam koalisi di Afghanistan dan penghapusan Pasal 9 dari konstitusi pasifisnya, yang memungkinkannya mengerahkan pasukan dan mengembangkan senjata nuklir, merupakan upaya Amerika Serikat untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok di kawasan tersebut. Pengaruh Jepang sebenarnya membuktikan dominasi Amerika Serikat, bukan perkembangan Jepang.
Japan is an economic power with the largest economy in the world after the US. However, outside the economic sphere it has no influence. Its current policy of taking part in the coalition in Afghanistan and the removal of article 9 in its pacifist constitution allowing it to deploy troops and develop nuclear weapons, is the US attempting to counterbalance Chinese influence in the region. Japanese influence actually proves US dominance, rather than Japanese development.
Setelah kekuatan-kekuatan besar, ada beberapa negara yang memiliki pengaruh dalam keadaan tertentu terhadap isu-isu spesifik karena sejarah atau letak geografis mereka, namun pengaruh ini bersifat sementara. India memiliki populasi yang besar dan memiliki senjata nuklir, serta berpotensi di masa depan untuk memengaruhi kawasannya, sedangkan Italia pernah menjadi kekuatan sebelum Perang Dunia II, tetapi hal itu juga bersifat sementara. Inilah keseimbangan kekuatan global saat ini, yang sewaktu-waktu dapat berubah.
After the great powers there are some nations that have influence in some circumstances on specific issues due to their history or location, but this has been temporary. India has a large population and possesses nuclear weapons and has the potential in the future to influence its region, whilst Italy was once a power prior to World War 2 but this was temporary. Currently this is the global balance of power, which is liable to change at any time.
Memahami sejarah negara-negara ini, bagaimana mereka berkembang, keyakinan dan nilai-nilai mereka, serta ideologi yang mereka anut, akan memberikan pemahaman tentang motif masing-masing negara. Negara-negara ini saling bersaing di tingkat global, begitu pula dengan negara adidaya, yaitu Amerika Serikat. Situasi internasional ini dapat dipahami dengan sangat jelas, karena situasi global merupakan persaingan antara kekuatan-kekuatan dunia untuk mencapai kepentingan mereka.
Understanding the histories of these states, how they developed, their beliefs and values as well as the ideologies they have embraced would give one an understanding of the motives of these individual states. These nations all compete with each other globally as well as with the superpower - the US. This international situation can be understood very clearly as the global situation is the competition between the world’s powers to achieve their interests.
10. Kaum Muslimin hendaknya mengingat bahwa seburuk apa pun situasi Ummah di dunia saat ini, sebagian besar gambaran itu hanyalah fatamorgana dan sangat mudah untuk diubah dan digantikan. Ummah Islam pernah menjadi kekuatan besar dan terus memengaruhi politik internasional hingga abad kesembilan belas. Dengan runtuhnya Khilafah pada tahun 1924, pengaruh internasionalnya merosot karena Ummah tidak lagi memiliki negara, dan sejak itu ia terus berada dalam keadaan suram dan kekacauan. Namun, dalam dekade terakhir, perubahan telah mencapai titik didih, sehingga kini tanda-tanda datangnya Khilafah menjadi gagasan arus utama, bahkan di kalangan non-Muslim. Setelah merasakan pahitnya pemikiran rusak Barat, Ummah di seluruh dunia menolak Kapitalisme, sebagaimana tampak dari kerinduannya terhadap Islam. Dengan izin Allah, fajar Khilafah akan segera terbit sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits berikut:
10. Muslims should bear in mind that however dire the situation may look globally for the Ummah, much of this picture is a mirage and can very easily be changed and replaced. The Muslim Ummah has historically been a superpower and continued to influence international politics until the nineteenth century. With the destruction of the Khilafah in 1924 its international influence declined as it was without a state and ever since it has remained in a situation of gloom and anarchy. However, in the last decade change has reached boiling point where now the signs of the coming of the Khilafah is a mainstream idea amongst even non-Muslims. After tasting the corrupt thoughts of the West, the Ummah globally rejected Capitalism as shown by her desire for Islam and by Allah’s leave the dawn of the Khilafah is about to rise as prophesised by the Prophet Muhammad وسلم وآله عليه الله صلى in the following hadith:
"Kenabian akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya. Setelah itu akan ada Khilafah Rasyidah (yang mendapat petunjuk) sesuai dengan jalan kenabian. Khilafah itu akan tetap ada selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya. Setelah itu akan ada kepemimpinan yang bersifat turun-temurun, yang akan tetap ada selama Allah menghendaki, kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak. Setelah itu, akan ada penindasan yang menggigit, dan itu akan berlangsung selama Allah menghendaki, kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak."
“The Prophethood will last among you for as long as Allah wills, then Allah would take it away. Then it will be (followed by) a Khilafah Rashida (rightly guided) according to the ways of the Prophethood. It will remain for as long as Allah wills, then Allah would take it away. Afterwards there will be a hereditary leadership which will remain for as long as Allah wills, then He will lift it if He wishes. Afterwards, there will be biting oppression, and it will last for as long as Allah wishes, then He will lift it if He wishes.
"Kemudian akan ada Khilafah Rasyidah sesuai dengan metode kenabian." Lalu beliau diam. [Musnad Imam Ahmad (273)]
Then there will be a Khilafah Rashida according to the ways of the Prophethood.” Then he kept silent. [Musnad Imam Ahmad (273)]
1 Pidato Woodrow Wilson di St. Louis, 11 September 1919
1 Woodrow Wilson speech at St. Louis 11 September, 1919
2 Rodrik D (1999) ‘Institutions for high quality growth; What are they and how to acquire them,’ Paper prepared for IMF conference on ‘second generation reform’ Washington DC, 8-9 November 1999
2 Rodrik D (1999) ‘Institutions for high quality growth; What are they and how to acquire them,’ Paper prepared for IMF conference on ‘second generation reform’ Washington DC, 8-9 November 1999
3 R. Alan Dahl, I. Shapiro, J. A. Cheibub, The Democracy Sourcebook, MIT Press 2003 dan M. Hénaff, T. B. Strong, Public Space and Democracy, University of Minnesota Press 4 World Population Clock – Worldometers, diakses September 2008, http://www.worldometers.info/population/ 5 "The ins and outs: The EU's most effective foreign-policy instrument has been enlargement. But how far can it go?" The Economist, Oktober 2008, http://www.economist.com/research/articlesBySubject/displaystory.cfm?subjectid=682266&story_id=8808134
3 R. Alan Dahl, I. Shapiro, J. A. Cheibub, The Democracy Sourcebook, MIT Press 2003 and M. Hénaff, T. B. Strong, Public Space and Democracy, University of Minnesota Press 4 World Population Clock – Worldometers, retrieved September 2008, http://www.worldometers.info/population/ 5 “The ins and outs: The EU's most effective foreign-policy instrument has been enlargement. But how far can it go?” The Economist, October 2008, http://www.economist.com/research/articlesBySubject/displaystory.cfm?subjectid=682266&story_id=8808134
6 Koppelaar, Rembrandt H.E.M, ‘World Production and Peaking Outlook,’ 2006-2009, diakses 18 September 2008, http://peakoil.nl/wp-content/uploads/2006/09/asponl_2005_report.pdf 7 James Rubin, November 2003, diakses 2 Oktober 2008, http://www.newstatesman.com/200311170002
6 Koppelaar, Rembrandt H.E.M, ‘World Production and Peaking Outlook,’ 2006-2009, retrieved 18th September 2008, http://peakoil.nl/wp-content/uploads/2006/09/asponl_2005_report.pdf 7 James Rubin, November 2003, retrieved 2nd October 2008, http://www.newstatesman.com/200311170002
8 Duta Besar AS Warren Zimmerman dalam wawancara dengan harian Kroasia Danas, 12 Januari 1992, dicetak ulang di http://www.emperors-clothes.com/interviews/nothing.htm 9 Karen Talbot ‘Backing up Globalization with Military Might’ New World Order Onslaught, Covert Action Quarterly, Edisi 68, Musim Gugur 1999, http://www.globalissues.org/Geopolitics/Articles/Backing.asp 10 Benjamin Schwarz & Christopher Layne ‘The Case Against Intervention in Kosovo,’ the nation, 19 April 1999, http://www.thenation.com/doc/19990419/schwarz/single 11 http://www.fair.org/press-releases/kosovo-solution.html 12 Resolusi Dewan Keamanan PBB 912 (1994), yang melaksanakan 'penyesuaian' mandat dan tingkat kekuatan UNAMIR sebagaimana diuraikan dalam Laporan Khusus Sekretaris Jenderal tentang Misi Bantuan PBB untuk Rwanda, 20 April 1994 (dokumen nomor S/1994/470), diakses 2 Juli 2008, http://daccessods.un.org/access.nsf/Get?Open&DS=S/1994/470&Lang=E&Area=UNDOC 13 Watson, Roland, “Bush deploys hawk as new UN envoy,” The Times, Maret 2005, diakses 1 Juli 2008, http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/us_and_americas/article421888.ece 14 Vincent B Khapoya, ‘The African Experience,’ Prentice Hall, 1998, hlm. 132
Reference: Mitos-Mitos Geopolitik - Adnan Khan