Musa dan Al-Khadir
Moses And Ai-khadir
Allah Yang Maha Kuasa berfirman:
Allah, the Almighty says:
{Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan terus berjalan bertahun-tahun." Maka ketika mereka sampai di pertemuan dua laut itu, mereka lupa akan ikan mereka, lalu ikan itu menempuh jalannya ke laut dengan cara yang aneh seperti terowongan. Ketika mereka telah berjalan lebih jauh (melewati tempat yang telah ditentukan), Musa berkata kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan pagi kita; sungguh, kita telah merasakan kelelahan yang besar dalam perjalanan ini." Muridnya berkata: "Tahukah engkau ketika kita berlindung di batu itu? Sesungguhnya aku telah lupa (menceritakan) ikan itu, dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya selain setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh!" Musa berkata: "Itulah yang kita cari;" Maka mereka kembali menelusuri jejak mereka. Lalu mereka menemukan salah seorang hamba Kami, yang telah Kami anugerahi rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya (Al-Khidir): "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu (petunjuk dan jalan yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)?" Ia (Al-Khidir) berkata: "Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku! Dan bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang engkau tidak mengetahui hakikatnya?" Musa berkata: "Jika Allah menghendaki, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu pun;" Ia (Al-Khidir) berkata: "Maka jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu;" Maka keduanya pun berjalan, hingga ketika mereka menaiki perahu, ia (Al-Khidir)
{And (remember) when Musa (Moses) said to his boy-servant: "I will not give up (travelling) until I reach the junction of the two seas or (until) I spend years and years in travelling." But when they reached the junction of the two seas, they forgot their fish, and it took its way through the sea as in a tunnel. So when they had passed further on (beyond that fixed place), Musa (Moses) said to his boy-servant: "Bring us our morning meal; truly, we have suffered much fatigue in this, our journey." He said: "Do you remember when we betook ourselves to the rock? I indeed forgot the fish,; none but Shaitan (Satan) made me forget to remember it, it took its course into the sea in a strange (way)!" [Musa (Moses)] said: "That is what we have been seeking;" So they went back retracing their footsteps; Then they found one of Our slaves, on whom We had bestowed mercy from Us, and whom We had taught knowledge from Us; Musa (Moses) said to him (Al-Khadir): "May I follow you so that you teach me something of that knowledge (guidance and true path) which you have been taught (by Allah)?" He (Al-Khadir) said: "Verily you will not be able to have patience with me! And how can you have patience about a thing which you know not;" Musa (Moses) said: "If Allah wills, you will find me patient, and I will not disobey you in aught;" He (Al-Khadir) said: "Then, if you follow me, ask me not about anything till I myself mention of it to you;" So they both proceeded, till, when they embarked the ship, he (Al-Khadir)
...ia melubangi perahu itu. Musa (Moses) berkata: "Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar (buruk, mengerikan);" Dia (Al-Khadir) berkata: "Bukankah telah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?" [Musa (Moses)] berkata:
scuttled it; Musa (Moses) said: "Have you scuttled it in order to drown its people? Verily, you have committed a thing Imr (a Munkar -evil, bad, dreadful thing); " He (Al-Khadir) said: "Did I not tell you, that you would not be able to have patience with me?" [Musa (Moses)] said:
"Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah engkau membebaniku dengan urusanku (bersamamu);" Kemudian keduanya berjalan hingga bertemu dengan seorang anak, lalu (Al-Khidhr) membunuhnya. Musa berkata: "Apakah engkau telah membunuh jiwa yang suci, bukan karena dia telah membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan perbuatan yang mungkar!" (Al-Khidhr) berkata: "Bukankah telah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?" [Musa] berkata: "Jika aku menanyakan sesuatu kepadamu setelah ini, maka janganlah engkau membolehkan aku menyertaimu; sungguh, engkau telah cukup memberi udzur kepadaku." Kemudian keduanya berjalan hingga ketika mereka sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta jamuan kepada penduduknya, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya. Lalu mereka menemukan di sana sebuah dinding yang hampir roboh, lalu (Al-Khidhr) menegakkannya kembali. [Musa] berkata: "Jika engkau mau, niscaya engkau dapat mengambil upah untuk itu!" (Al-Khidhr) berkata: "Inilah perpisahan antara aku dan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu penjelasan atas hal-hal yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya. Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Maka aku ingin merusaknya, karena di belakang mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu dengan paksa. Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, dan kami khawatir ia akan membebani mereka dengan kedurhakaan dan kekafiran. Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan (anak) yang lebih baik kesuciannya dan lebih dekat kasih sayangnya. Adapun dinding itu, ia milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat harta simpanan milik mereka; ayah mereka adalah orang yang saleh, dan Tuhanmu menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa dan mengeluarkan harta simpanan mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah penjelasan atas hal-hal yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya." (Al-Kahf, 60-82)
"Call me not to account for what I forgot,4 and be not hard upon me for my affair (with you);" Then they both proceeded, till they met a boy, and he (Al-Khadir) killed him; Musa (Moses) said: "Have you killed an innocent person who had killed none? Verily, you have committed a thing Nukr (a great Munkar prohibited, evil, dreadful thing)!" (Al- Khadir) said: "Did I not tell you that you can have no patience with me?" [Musa (Moses)] said: "If I ask you anything after this, keep me not in your company, you have received an excuse from me; " Then they both proceeded, till, when they came to the people of a town, they asked them for food, but they refused to entertain them; Then they found therein a wall about to collapse and he (Al-Khadir) set it up straight; (Musa (Moses)] said: If you had wished, surely, you could have taken wages for it!" (Al-Khadir) said: "This is the parting between me and you, I will tell you the interpretation of (those)things over which you were unable to hold patience. As for the ship, it belonged to Masakin (poor people) working in the sea. So I wished to make a defective damage in it, as there was a king behind them who seized every ship by force. And as for the boy, his parents were believers, and we feared lest he should oppress them by rebellion and disbelief. So we intended that their Lord should change him for them for one better in righteousness and nearer to mercy. And as for the wall, it belonged to two orphan boys in the town; and there was under it a treasure belonging to them; and their father was a righteous man, and your Lord intended that they should attain their age of full strength and take out their treasure as a mercy from your Lord. And I did them not of my own accord. That is the interpretation of those (things) over which you could not hold patience}. (Al-Kahf, 60-82)
Sebagian Ahli Kitab berkata: orang yang bertemu dengan Al-Khadir adalah Musa bin Misha bin Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim, bapak para nabi.
Some of the People of the Book said: the one who met Al-Khadir was Musa Ibn Misha Ibn Yusuf Ibn Ya` ub Ibn Ishaq Ibn Ibrahim, father of the Prophets.
Namun, pendapat yang paling sahih adalah bahwa ia adalah Musa bin `Imran, Nabi yang diutus oleh Allah kepada Bani Israil.
But, the most authentic view is that he was Musa Ibn `Imran, the Prophet sent by Allah to the Children of Israel.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari: Telah menceritakan kepadaku Al-Hamidi, dari Sufyan, dari `Amr bin Dinar, dari Sa`id bin Jubair, yang berkata: Aku berkata kepada Ibnu `Abbas: "Nauf Al-Bakali mengklaim bahwa Musa (sahabat Khidir) bukanlah Musa dari Bani Israil, melainkan Musa yang lain." Ibnu `Abbas (semoga Allah meridhainya) berkata:
Narrated Imam Al-Bukhari: I was told by Al-Hamidi after Sufyan after `Amr Ibn Dinar after Sa`id Ibn Jubair as saying: I said to Ibn `Abbas: "Nauf AI-Bakali claims that Moses (the companion of AI-Khadir) was not the Moses of Banu Israel but he was another Moses." Ibn `Abbas (May Allah be pleased with him)
Beliau menyebutkan bahwa musuh Allah (Nauj) adalah seorang pendusta. Diriwayatkan dari Ubai bin Ka'b:
remarked that the enemy of Allah (Nauj) was a liar. Narrated Ubai bin Ka `b:
Nabi ﷺ bersabda: "Suatu ketika Nabi Musa berdiri dan berbicara kepada Bani Israil. Ia ditanya: 'Siapakah orang yang paling berilmu di antara manusia?' Ia menjawab: 'Akulah yang paling berilmu.' Allah menegur Musa karena ia tidak menyandarkan ilmu yang mutlak kepada-Nya (Allah). Maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Di tempat pertemuan dua laut ada seorang hamba-Ku yang lebih berilmu daripadamu.' Musa berkata: 'Wahai Tuhanku! Bagaimana aku dapat bertemu dengannya?' Allah Yang Maha Kuasa berfirman: 'Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang besar (lalu berangkatlah), dan engkau akan menemukannya di tempat engkau kehilangan ikan itu.' Maka Musa berangkat bersama pembantunya, Yusya' bin Nun, dengan membawa seekor ikan dalam keranjang besar hingga mereka sampai di sebuah batu, tempat mereka meletakkan kepala (yaitu berbaring) dan tidur. Ikan itu keluar dari keranjang dan menempuh jalannya ke laut seperti dalam sebuah terowongan. Maka hal itu menjadi peristiwa yang mengherankan bagi Musa dan pembantunya. Mereka melanjutkan perjalanan sepanjang sisa malam itu dan keesokan harinya. Ketika hari telah siang, Musa berkata kepada pembantunya: {Bawalah kepada kami makanan pagi kami. Sesungguhnya kami telah merasa sangat lelah dalam perjalanan ini}. Musa tidak merasa lelah sampai ia melewati tempat yang telah diberitahukan kepadanya. Di sana pembantunya berkata kepada Musa: {Tahukah engkau ketika kita berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan) tentang ikan itu}. Musa berkata:"
The Prophet (Peace be upon him) said: "Once Prophet Moses stood up and addressed Banu Israel. He was asked: "Who is the most learned man amongst the people?" He said: "I am the most learned." Allah admonished Moses as he did not attribute absolute knowledge to Him (Allah). So Allah inspired to him, "At the junction of the two seas there is a slave of mine who is more learned than you." Moses said: "O my Lord! How can I meet him?" Allah Almighty said: "Take a fish in a large basket (and proceed) and you will find him at the place where you will lose the fish." So Moses set out along with his (servant) boy, Yusha` bin Nun and carried a fish in a large basket till they reached a rock, where they laid their heads (i. e. lay down) and slept. The fish came out of the basket and it took its way into the sea as in a tunnel. So it was an amazing thing for both Moses and his (servant) boy. They proceeded for the rest of that night and the following day. When the day broke, Moses said to his (servant) boy: {Bring us our early meal. No doubt, we have suffered much fatigue in this journey}. Moses did not get tired till he passed the place about which he was told. There the (servant) boy told Moses: {Do you remember when we betook ourselves to the rock, I indeed forgot the fish}. Moses remarked:
{Itulah yang kita cari}, lalu mereka kembali menelusuri jejak mereka sendiri, hingga sampai ke batu itu. Di sana mereka melihat seorang laki-laki yang tertutup oleh kain (atau menyelimuti dirinya dengan kainnya sendiri). Musa mengucapkan salam kepadanya. Al-Khadir menjawab dengan berkata: "Bagaimana orang-orang saling memberi salam di negerimu?" Musa berkata: "Aku Musa." Ia bertanya: "Musa dari Bani Israil?" Musa membenarkan dan menambahkan: "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Al-Khadir menjawab: "Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, wahai Musa! Aku memiliki sebagian ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku dan engkau tidak mengetahuinya, sedangkan engkau memiliki sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya." Musa berkata: "Insya Allah, engkau akan mendapatiku sabar dan aku tidak akan membangkang kepadamu dalam sesuatu pun." Maka keduanya berangkat berjalan di sepanjang tepi laut, karena mereka tidak memiliki perahu. Dalam pada itu, sebuah perahu lewat di dekat mereka, dan mereka meminta kepada awak perahu itu agar membawa mereka naik. Awak perahu mengenali Al-Khadir, lalu mereka membawa keduanya naik tanpa membayar ongkos.
{That is what we have been seeking. So they went back retracing their footsteps}, till they reached the rock. There they saw a man covered with a garment (or covering himself with his own garment). Moses greeted him. Al- Khadir replied saying: "How do people greet each other in your land?" Moses said: "I am Moses." He asked: "The Moses of Banu Israel?" Moses replied in the affirmative and added: "May I follow you so that you teach me of that knowledge which you have been taught." Al-Khadir replied: "Verily! You will not be able to remain patient with me, 0 Moses! I have some of the knowledge of Allah which He has taught me and which you do not know, while you have some knowledge which Allah has taught you which I do not know." Moses said: "Allah willing, you will find me patient and I will not disobey you in aught. So both of them set out walking along the seashore, as they did not have a boat. In the meantime a boat passed by them and they requested the crew of the boa(. to take them on board. The crew recognized Al-Khadir and took them on board without fare.
Kemudian datanglah seekor burung pipit, lalu hinggap di tepi perahu dan mencelupkan paruhnya ke laut sekali atau dua kali. Al-Khadir berkata: "Wahai Musa! Ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali sebanyak yang dikurangi burung pipit ini dari air laut dengan paruhnya." Al-Khadir pergi ke salah satu papan perahu itu dan mencabutnya. Musa berkata: "Orang-orang ini telah memberi kita tumpangan secara cuma-cuma, tetapi engkau telah merusak perahu mereka dan menenggelamkannya agar penumpangnya tenggelam." Al-Khadir menjawab: "Bukankah telah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?" Musa berkata: "Janganlah engkau menghukumku karena apa yang aku lupakan." Alasan pertama Musa adalah bahwa ia lupa. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan menjumpai seorang anak laki-laki yang sedang bermain bersama anak-anak lain. Al-Khadir memegang kepala anak itu dari bagian atas dan mencabutnya dengan tangannya (yakni membunuhnya). Musa berkata:
Then a sparrow came and stood on the edge of the boat and dipped its beak once or twice in the sea. Al-Khadir said: "O Moses! My knowledge and your knowledge have not decreased Allah's knowledge except as much as this sparrow has decreased the water of the sea with its beak." Al-Khadir went to one of the planks of the boat and plucked it out. Moses said: "These people gave us a free lift but you have broken their boat and scuttled it so as to drown its people." Al-Khadir replied: "Didn't I tell you that you will not be able to remain patient with me." Moses said: "Call me not to account for what I forgot." The first (excuse) of Moses was that he had forgotten. Then they proceeded further and found a boy playing with other boys. Al-Khadir took hold of the boy's head from the top and plucked it out with his hands (i.e. killed him). Moses said:
"Apakah engkau telah membunuh jiwa yang tidak bersalah yang tidak membunuh siapa pun?" Al-Khadir menjawab: "Bukankah telah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan sabar bersamaku?" Lalu keduanya melanjutkan perjalanan hingga ketika mereka sampai kepada penduduk sebuah negeri, mereka meminta makanan kepada penduduknya, tetapi mereka menolak untuk menjamu keduanya. Kemudian mereka mendapati di negeri itu sebuah dinding yang hampir roboh. Al-Khadir memperbaikinya dengan tangannya sendiri. Musa berkata: "Jika engkau menghendaki, tentu engkau dapat mengambil upah untuk itu." Al-Khadir menjawab: "Inilah perpisahan antara aku dan engkau." Nabi Muhammad ﷺ (Semoga kesejahteraan tercurah atasnya)
"Have you killed an innocent soul who has killed none." AI-Khadir replied: "Did I not tell you that you cannot remain patient with me?" Then they both proceeded till when they came to the people of a town, they asked them for food, but they refused to entertain them. Then they found there a wall on the point of collapsing. Al-Khadir repaired it with his own hands. Moses said: "If you had wished, surely you could have taken wages for it." Al-Khadir replied: "This is the parting between you and me." The Prophet (Muhammad (Peace be upon him))
"Semoga Allah merahmati Musa! Andai saja dia bisa lebih sabar agar dapat mempelajari lebih banyak tentang kisahnya bersama Al-Khadir." (Sahih Al-Bukhari)
added: "May Allah be Merciful to Moses! Would that he could have been more patient to learn more about his story with Al-Khadir." (Sahih Al-Bukhari)
Allah Yang Mahakuasa berfirman: {Adapun dinding itu, adalah milik dua anak yatim di kota itu}. As-Suhaili berkata: keduanya bernama Asram dan Sarim, putra Kasyih. {Dan di bawahnya terdapat harta simpanan milik mereka}, yakni harta itu berupa emas, atau semacam ilmu pengetahuan. Namun, pendapat yang paling mungkin adalah bahwa itu berupa semacam ilmu pengetahuan yang tertulis pada sebuah lempengan emas.
Allah the Almighty says: {And as for the wall, it belonged to two orphan boys in the town}, As Suhaili said: they were Asram and Sarim sons of Kashih. {And there was under it a treasure belonging to them}, i.e. the treasure was gold, or some kind of knowledge. However, the most likely view is that it was some kind of knowledge inscribed on a golden board.
Al-Bazzar berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Sa'id Al-Jauhari, dari Bishr bin Al-Mundhir, dari Al-Harith bin 'Abdullah Al-Yahbasi, dari 'Iyad bin 'Abbas Al-Ghassani, dari Ibnu Hujairah, dari Abu Dharr, yang berkata: "Harta simpanan yang disebutkan dalam Kitab Allah (Al-Qur'an yang Mulia) adalah sebuah papan emas padat yang bertuliskan: Aku heran terhadap orang yang meyakini takdir, kemudian ia bersungguh-sungguh; dan aku heran terhadap orang yang mengingat Neraka, kemudian ia tertawa; dan aku heran terhadap orang yang mengingat kematian, kemudian ia lalai dari makna 'Tiada tuhan selain Allah.'" Riwayat serupa diriwayatkan oleh Al-Hasan Al-Basri, 'Umar bekas budak 'Afrah, dan Ja'far As-Sadiq.
Al-Bazzar said: I was told by Ibrahim Ibn Sa'id Al-Jauhari after Bishr Ibn Al- Mundhir ufter Al Harith Ibn 'Abdullah Al- Yahbasi after 'Iyad Ibn `Abbas Al- Ghassani after Ibn Hujairah after Abu Dharr as saying: "The treasure mentioned in Allah's Book (the Glorious Qur'an) was a solid golden board where it was inscribed: I wondered at the one who affirmed faith in the Divine Decree and then he exerted himself; and I wondered at the one who remembered Hell-Fire and then he laughed; and I wondered at the one who remembered death and then he became heedless of the meaning of 'There is no god but Allah.'" The like was narrated by Al-Hasan Al-Basri, ` Umar the freed slave of `Afrah and Ja`far As-Sadiq.
Firman Allah: {Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh}, yakni kakek mereka yang ketujuh atau kesepuluh. Namun, hal ini menunjukkan bahwa kesalehan seorang ayah bermanfaat bagi anak-anaknya sendiri dan anak-cucu mereka.
Allah's Saying: {And their father was a righteous man}, i.e. their seventh or tenth grandfather. However, this proves that the righteousness of the father benefits his own children and their children.
Firman Allah: {sebagai rahmat dari Tuhanmu}, ini adalah dalil tekstual bahwa Al-Khadir adalah seorang Nabi dan bahwa ia tidak melakukan sesuatu pun atas dasar keinginannya sendiri, melainkan sebagaimana diperintahkan oleh Allah Yang Maha Kuasa.
Allah's Saying: {as a mercy from your Lord} , this is a textual proof that Al-Khadir was a Prophet and that he did not do anything out of his own desire but as ordered by Allah the Almighty.
Nama, Nasab dan Kenabian Al-Khadir: Apakah Ia Masih Hidup?
Al-Khadir's Name, Lineage and Prophethood: Is He Still Alive?
Nama asli, silsilah, dan status Al-Khadir diperselisihkan. Hal ini dapat ditambahkan pada pertanyaan yang sangat penting: apakah ia masih hidup?
The real name, lineage and status of Al-Khadir are controversial. This can be added to the very important question: is he still alive?
Al-Hafiz Ibnu 'Asakir berkata: Dikatakan bahwa ia adalah Al-Khadir putra Adam. Ibnu Qutaibah berkata: Namanya adalah Balya -atau Aylya -bin Malakan bin Faligh bin 'Abir bin Shalikh bin Arfakhshad bin Sam bin Nuh (semoga kesejahteraan tercurah atasnya).
Al-Hafiz Ibn `Asakir said: He is said to be Al-Khadir son of Adam. Ibn Qutaibah said: His name was Balya -or Aylya -Ibn Malakan Ibn Faligh Ibn `Abir Ibn Shalikh Ibn Arfakhshdh Ibn Sam Ibn Noah (Peace be Upon him).
Isma'il Ibn Abu Uwais berkata: Namanya adalah Al-Mu'amir Ibn Malik Ibn 'Abdullah Ibn Nasr Ibn Lazd.
Isma`il Ibn Abu Uwais said: His name was Al-Mu`amir Ibn Malik Ibn `Abdullah Ibn Nasr Ibn Lazd.
Yang lain berkata: Ia adalah Khadhrun bin 'Amyaiyl bin Al-Afiz bin Al-'Iys bin Ishaq bin Nabi Ibrahim (عليه السلام). Ada banyak pendapat lain mengenai nama dan silsilahnya.
Others said: He is Khadrun Ibn `Amyaiyl Ibn Al-afiz Ibn AI-`Iys Ibn Ishaq Ibn Prophet Ibrahim (Peace be upon him). There are so many other views pertaining to his name and lineage.
Imam Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sa'id Al-Asbahani, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Mu'ammar, dari Hammam, dari Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya) bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Al-Khadir dinamakan demikian karena ia duduk di atas tanah putih yang gersang, lalu tanah itu menjadi hijau dengan tumbuh-tumbuhan setelah (ia duduk di atasnya)." Qabisah meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Manshur, dari Mujahid, yang berkata: Al-Khadir dinamakan demikian karena segala sesuatu di sekitarnya menjadi hijau setiap kali ia berdiri untuk shalat. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Musa dan Yusya' (semoga keselamatan atas keduanya) kembali menelusuri jejak mereka hingga sampai ke batu itu. Di sana mereka melihat seorang laki-laki yang berselimut kain hijau (atau menyelimuti dirinya dengan pakaiannya sendiri). Musa mengucapkan salam kepadanya. Al-Khadir menjawab: "Bagaimana orang-orang saling memberi salam di negerimu?" Musa berkata: "Aku Musa." Ia bertanya: "Musa dari Bani Israil?" Musa membenarkan dan menambahkan: "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu... dan seterusnya."
Imam Al-Bukhari said: I was told by Muhammad Ibn Sa'id Al-Asbahani after Ibn Al-Mubarak after Mu`amir after Hammam on the authority of Abu Hurairah (May Allah be pleased with him) that the Prophet (Peace be upon him) said: "Al- Khadir was named so because he sat over a barren white land, it turned green with plantation after (his sitting over It)." Qabisah narrated on the authority of Ath-Thauri after Mansur after Mujahid as saying: Al-Khadir was named so because everything around him used to turn into green when he stands for prayer. It was stated earlier that Moses and Yusha` (Peace be upon them) went back retracing their footsteps, till they reached the rock. There they saw a man covered with a green garment (or covering himself with his own garment). Moses greeted him. Al-Khadir replied saying: "How do people greet each other in your land?" Moses said: "I am Moses." He asked: "The Moses of Banu Israel?" Moses replied in the affirmative and added: "May I follow you so that you teach me of that knowledge which you have been taught... etc."
Kisah tersebut menunjukkan kenabiannya dalam empat aspek:
The Story Indicated His Prophethood In Four Aspects:
Pertama: Allah Yang Maha Kuasa berfirman: {Lalu mereka mendapati salah seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami}. (Al-Kahf, 65)
First: Allah the Almighty says: {Then they found one of Our slaves, on whom We had bestowed mercy from Us, and whom We had taught knowledge from Us}. (Al-Kahf, 65)
Kedua: Musa berkata kepadanya (Al-Khidr):
Second: Moses says to Al-Khadir: {Musa (Moses) said to him (Al-Khadir):
"Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajariku sebagian dari ilmu (petunjuk dan jalan yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)?" Dia (Al-Khidir) berkata: "Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku! Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu yang belum engkau ketahui?" Musa (Musa) berkata: "Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan membantahmu dalam sesuatu pun." Dia (Al-Khidir) berkata: "Maka jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun hingga aku sendiri yang menerangkannya kepadamu." (Al-Kahf, 66-70) Maka, seandainya ia bukan seorang nabi, tentulah Musa tidak akan menyapanya dengan cara demikian, dan ia pun tidak akan menjawab Musa dengan cara demikian. Musa mencari kebersamaannya karena ia ingin memperoleh sebagian dari ilmu yang diberikan Allah kepada Al-Khidir dan yang tidak diperoleh Musa. Seandainya Al-Khidir bukan seorang nabi, tentu ia tidak akan terjaga dari kesalahan. Dengan demikian, Musa tidak akan bersemangat untuk menyertainya, karena Musa sendiri adalah seorang nabi yang mulia dan seorang rasul yang terjaga dari kesalahan.
"May I follow you so that you teach me something of that knowledge (guidance and true path) which you have been taught (by Allah)?" He (Al-Khadir) said: "Verily you will not be able to have patience with me! And how can you have patience about a thing which you know not." Musa (Moses) said: "If Allah wills, you will find me patient, and I will not disobey you in aught." He (Al-Khadir) said: "Then, if you follow me, ask me not about anything till I myself mention of it to you"). (Al-Kahf, 66-70) So, were he not a Prophet, Moses would not address him that way, and he would not answer Moses that way as well. Moses sought his company because he wanted to get some of the knowledge Al-Khadir was given by Allah and that which Moses did not get. Were Al-Khadir anything but a Prophet, he would not be infallible. Thus, Moses would not be keen to accompany him because Moses himself was an honorable Prophet and an infallible Messenger.
Apakah Al-Khadir Masih Hidup?
Is Al-khadir Still Alive?
Mayoritas ulama berkata: "Al-Khadir masih hidup karena dialah yang menguburkan Adam (semoga kesejahteraan tercurah kepadanya) setelah banjir besar, dan dengan demikian ia terkena doa Adam bahwa siapa yang menguburkannya akan panjang umur." Sebagian orang berkata: "ia masih hidup karena ia telah minum dari mata air kehidupan." Ada begitu banyak riwayat dan kisah yang menjadi dasar pendapat orang-orang yang meyakini keberadaan Al-Khadir saat ini. Namun, semua riwayat dan hadis yang berkaitan dengan masalah itu lemah dan palsu, dan para perawinya tidak terjaga dari kesalahan.
The majority of scholars said: "Al-Khadir is still alive because he was the one who buried Adam (Peace be upon him) after the Deluge and thus he was affected by the invocation of Adam that he who buries him will live long." Some people said: "he is still alive because he drank of the spring of life." There are so many narrations and stories on which those who viewed the existence of Al-Khadir today based their opinion. But, all the narrations and Hadiths pertaining to that issue are weak and invented and those who narrated them are not infallible.
'Abdur Razzaq berkata: Aku diberitahu oleh Mu'amar bahwa Abu Sa'id Al-Khudri berkata:
'Abdur Razzaq said: I was told by Mu' amir that Abu Sa'id AI-Khudri said:
"Pada suatu hari Rasulullah ﷺ menceritakan kepada kami sebuah riwayat panjang tentang Ad-Dajjal, dan di antara hal yang beliau ﷺ ceritakan kepada kami adalah: 'Ad-Dajjal akan datang, lalu ia akan dilarang memasuki celah-celah gunung Madinah. Ia akan berkemah di salah satu daerah berpasir asin yang berdekatan dengan Madinah, dan akan muncul kepadanya seorang laki-laki yang merupakan orang terbaik atau salah satu dari orang-orang terbaik. Laki-laki itu akan berkata: 'Aku bersaksi bahwa engkaulah Ad-Dajjal yang kisahnya telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah ﷺ.' Ad-Dajjal akan berkata (kepada para pendengarnya): 'Lihatlah, jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya kembali, apakah kalian akan ragu terhadap klaimku?' Mereka menjawab: 'Tidak.' Lalu Ad-Dajjal akan membunuh laki-laki itu kemudian menghidupkannya kembali. Laki-laki itu akan berkata: 'Demi Allah, sekarang aku semakin yakin bahwa engkau adalah Dajjal!' Ad-Dajjal kemudian akan mencoba membunuhnya (lagi), tetapi ia tidak diberi kekuasaan untuk melakukannya.' Mu'amir berkata: Aku diberitahu bahwa laki-laki yang menentang Dajjal itu adalah Al-Khadir, dan bahwa lehernya pada hari itu akan tertutup oleh kuningan."
"One day Allah's Messenger (Peace be upon him) narrated to us a long narration about Ad-Dajjal and among the things he narrated to us, was: 'Ad-Dajjal will come, and he will be forbidden to enter the mountain passes of Medina. He will encamp in one of the salt areas neighboring Medina and there will appear to him a man who will be the best or one of the best of the people. He will say: 'I testify that you are Ad-Dajjal whose story Allah's Messenger has told us. 'Ad Dajjal will say (to his audience): 'Look, if I kill this man and then give him life, will you have any doubt about my claim?' They will reply: 'No.' Then Ad Dajjal will kill that man and then will make him alive. The man will say: 'By Allah, now I recognize you more than ever! 'Ad-Dajjal will then try to kill him (again) but he will not be given the power to do so. ", Mu'amir said: I was told that the man who stands against the Dajjal is Al-Khadir and that his neck on that day would be covered with brass.
4 Diriwayatkan dari Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya): Nabi ﷺ bersabda:
4 Narrated Abu Hurairah (May Allah be pleased with him): The Prophet (Peace be upon him) said:
"Allah memaafkan umatku atas (keburukan) yang mungkin dibisikkan atau dibisikkan oleh diri mereka sendiri selama mereka tidak melakukannya (atas) atau mengucapkannya." (Sahih Al-Bukhari) Diriwayatkan dari Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya): Nabi ﷺ bersabda: "Jika seseorang makan sesuatu karena lupa padahal ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena Allah telah memberinya makan dan minum." (Sahih Al-Bukhari).
"Allah forgives my followers those (evil deeds) their own selves may whisper or suggest to them as long as they do not act (on it) or speak." (Sahih Al-Bukhari) Narrated Abu Hurairah (May Allah be pleased with him): The Prophet (Peace be upon him) said: "If somebody eats something forgetfully while he is fasting, then he should complete his fast, for Allah has made him eat and drink." (Sahih Al-Bukhari).
5 Yaitu, di dekat Sidrat-ul-Muntaha (pohon bidara di batas tertinggi di atas langit ketujuh, yang tidak dapat dilampaui siapa pun). (Penerjemah)
5 I.e. Near Sidrat-ul-Muntaha (a lote-tree of the utmost boundary over the seventh heaven beyond which none can pass). (Translator)