5.4 Tahap Pertama Dakwah: Tahap Pembinaan (Dawr al-Tathqeef)
5.4 The first stage of the Da’awah: The Stage of Culturing (Dawr al-Tathqeef)
Allah (SWT) memerintahkan Nabi ﷺ:
Allah (swt) ordered the Prophet (saw):
"Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah!" (QS al-Mudatstsir, ayat 1-3)
“O you wrapped in garments, arise and warn, your Lord Magnify!” (TMQ al-Mudathir, verse 1-3)
Imam Abu Ja'far At-Tabari berkomentar: "Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk bangkit memberi peringatan kepada manusia bahwa Allah akan menghukum mereka karena kufur terhadap Rabb mereka dan karena menyembah berhala-berhala serta tuhan-tuhan palsu, dengan mengesampingkan Dzat yang telah menciptakan mereka dan memberi mereka rezeki sehari-hari. Beliau ﷺ juga harus menyampaikan kepada mereka karunia Rabb-nya kepada beliau sendiri, dengan firman-Nya, {Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah engkau sampaikan}. Menurut Ibnu Ishaq, inilah kenabian beliau ﷺ (at-Tareekh at Tabari Vol. 6 Par 1156)."
Imam Abu Ja’far At-Tabari comments: “Allah commanded the Prophet (saw) to rise up to warn the people that Allah would punish them for ingratitude to their Rabb and their worship of the false gods and the idols to the exclusion of Him who created them and gave them their daily bread. He (saw) was also to tell them of his Lord’s bounty to himself, with the words, “Of the bounty of your Lord let your discourse be..” According to Ibn Ishaq this was his Prophethood (at-Tareekh at Tabari Vol. 6 Par 1156).
Setelah ayat ini diturunkan, Nabi ﷺ mulai menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Beliau mulai memperingatkan mereka agar memeluk Islam, menerima tauhid (keesaan) Allah, Al-Khaliq (Sang Pencipta) dan Al-Malik (Sang Penguasa) tanpa sekutu, serta menerima kepemimpinan beliau ﷺ. Beliau melakukan hal ini bukan dengan menantang salah satu dari kaum Quraisy, dan bukan pula dengan menentang cara hidup mereka, melainkan dengan menjelaskan akidah kepada mereka agar mereka mau menerimanya. Jika mereka menerimanya, maka beliau ﷺ akan membina mereka dengan Islam seiring turunnya ayat-ayat Al-Qur'an.
It was after this Ayah was revealed that the Prophet (saw) addressed his people to carry his Da’awah. He started to warn them to embrace Islam, accept the Tawheed (oneness) of Allah, the Khaliq (Creator) and the Malik (Sovereign) with no partners, and to accept his (saw) leadership. He did this not through challenging any of the Quraysh, nor through challenging their way of life, rather through expressing the Aqeedah to them for them to embrace it. If they did then he would culture them with Islam as the Ayaat of the Qur’an came down.
Fase dakwah ini berlangsung selama tiga tahun, dan Nabi ﷺ berulang kali melaksanakan dua tindakan yang diperintahkan, meskipun beliau menggunakan berbagai cara yang berbeda. Terkadang beliau ﷺ mengundang orang-orang ke rumahnya, di lain waktu beliau ﷺ mendatangi mereka. Di waktu lain beliau ﷺ berdiskusi dengan mereka di pasar, dan banyak riwayat yang berkaitan dengan hal ini. Namun, beliau ﷺ berulang kali melaksanakan dua tindakan, yaitu mengajak orang-orang untuk memeluk Islam, serta membangun pemahaman dan keimanan yang kuat terhadap Laa ilaha illallah di kalangan mereka yang menerima dakwahnya.
This phase of the Prophet’s (saw) Da’awah lasted for three years and he (saw) repeatedly undertook the two actions commanded although he utilised many different styles. So at times he (saw) invited people to his house, at other times he visited them. At other times he (saw) discussed with them at the markets and there are many narration’s pertaining to this. However, he (saw) repeatedly undertook two actions, inviting people to embrace Islam, and building the strong understanding and Iman in Laa ilaha ill Allah, amongst those who accepted his message.
Hal penting yang perlu dicatat di sini adalah bahwa pada tahap ini belum diturunkan hukum-hukum salat, puasa, maupun sedekah. Dakwah yang disampaikan kepada mereka bukanlah seruan kepada suatu ritual, melainkan kepada suatu akidah. Akidah yang secara mendasar akan mengubah pandangan mereka tentang bagaimana seharusnya mereka hidup di dunia ini. Mereka tidak lagi hidup untuk berhala, tidak lagi bertindak semata-mata demi dunia ini saja, dan tidak pula hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Sebaliknya, mereka kini menyadari hakikat keberadaan mereka dan tujuannya, yaitu untuk akhirat, sehingga mereka harus menjalani hidup sesuai dengan cara yang telah ditetapkan Allah (SWT) bagi mereka.
An important point to note here is that there were no Ahkam of Salah, nor Ahkam of fasting or Sadaqah revealed at this point. The Da’awah that was given to them was not to call to a ritual rather it was to an Aqeedah. An Aqeedah that was radically going to change their view to how they should live in this Dunya. They no longer lived for the idols, they no longer acted purely for the sake of this Dunya alone, nor merely to satisfy their desires. Rather they now realised their true existence and its purpose was for the Akhirah (Hereafter) and therefore they had to live life in the manner that Allah(swt) decided for them.
Oleh karena itu, para Sahabat (ra) sudah siap sejak hari pertama memeluk Islam untuk mengorbankan segalanya demi agama. Bilal (ra), budak Habasyah, dijemur di bawah terik matahari yang membakar dengan sebongkah batu besar di atas tubuhnya. Sumayyah (ra) mengorbankan nyawanya, begitu pula Yasir (ra). Inilah iman yang kuat dan tak tergoyahkan yang mereka miliki. Mereka juga memahami tanggung jawab mereka sebagai pembawa agama ini.
Therefore, the Sahabah (ra) were prepared from day one of embracing Islam to sacrifice everything for the sake of the Deen. Bilal (ra) the Ethiopian slave was placed in the hot burning sun under a large boulder. Sumayah (ra) gave her life, as did Yaasir (ra). This was the strong and unshakable Iman they had. They also understood their responsibility as the carriers of the Deen.
Untuk memperjelas hal ini, ayat-ayat awal Al-Qur'an senantiasa mengingatkan mereka akan kemenangan yang akan Allah (SWT) berikan kepada mereka serta tanggung jawab mereka. Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud (RA) bahwa ketika turun ayat,
To further illustrate this, the early verses of the Qur’an would always remind them of the success that Allah (swt) would grant them as well as their responsibility. It has been narrated from Ibn Mas’ud (ra) that when the Ayah,
“Ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat manusia, jin, dan segala yang ada” (QS. Al-Qalam, ayat 52) diturunkan, mereka pun mengetahui saat itu—meskipun mereka hanya segelintir kaum Muslimin pada masa itu—bahwa Islam akan menguasai dunia (Jami’u al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an karya Imam at-Tabari).
“This is nothing but a reminder to mankind, Jinn and all that exists”(TMQ al-Qalam, verse 52) was revealed they knew then, even though they were a small handful of Muslims at that time, that Islam would come to dominate the world (Jami’u al Bayan an Ta’wil ul Qur’an by Imam at-Tabari).
Bahkan, ketika kaum Musyrikin bertemu dengan kaum Muslimin, mereka biasa mengejek dengan cemoohan, dengan berkata, "Inilah para penguasa bumi yang akan mengalahkan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi)" (Raheeq ul-Makhtoom). Namun, pada awalnya keadaan memang demikian, karena kaum Quraisy tidak melihat pada kaum Muslimin sebagai ancaman yang nyata.
In fact, when the Mushrikeen would meet the Muslims they would scorn them by jeering, saying “Here are the masters of the Earth who will defeat Chosroes (of Persia) and Caesar (of Rome)” (Raheeq ul-Makhtoom). This was, however, initially the case as the Quraysh did not see in the Muslims any real threat.
Maka Nabi ﷺ menyeru manusia kepada Islam dan membina orang-orang yang memeluk Islam dengan pemahaman yang kokoh, yaitu keimanan akan kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Hence the Prophet (saw) would call the people to Islam and would culture those who embraced Islam with the firm understanding, Iman in the victory in this world and felicity in the Akhirah.
Contoh bagaimana Umar bin Al-Khattab (ra) memeluk Islam setelah mengetahui bahwa saudara perempuannya dan suaminya diam-diam dibina oleh Khabbab bin Al-Arat (ra), lalu ia menemukan Al-Qur'an, telah diriwayatkan dengan baik oleh Ibnu Hisyam (Jilid 1/343). Demikian pula pembinaan secara rahasia para Sahabat (ra) di rumah Al-Arqam.
The example of how Umar ibn al Khattab (ra) embraced Islam upon finding out that his sister, and her husband, were privately being cultured by Khabbab ibn Arrat (ra) and then coming across the Qur’an has been well narrated by Ibn Hisham (Vol. 1/343). As well as the private culturing of the Sahabah (ra) in the house of al-Arqam.
Beliau ﷺ terus melakukan amalan-amalan ini selama tiga tahun hingga Allah SWT memerintahkan beliau lain. Inilah yang wajib kita teladani sebagai bagian dari metode untuk menegakkan Islam.
He (saw) persisted in these actions for three years until Allah (swt) ordered him otherwise. This is what we are obligated to emulate as part of the method to establish Islam.
Oleh karena itu, amalan-amalan pokok dalam fase pertama Da'wah adalah:
Hence, the key actions in the first phase of the Da’awah are:
i) Mengajak manusia kepada Islam bukan dengan paksaan, melainkan dengan dialog intelektual.
i) Calling people to Islam not through force but intellectual discourse.
ii) Membina orang-orang yang menanggapi dengan pemahaman yang kuat tentang Dien ini dan iman yang kokoh agar mereka mampu memikul dakwah dan menanggung tanggung jawabnya.
ii) Culturing those who responded with a strong understanding of this Deen and strong Iman in order to carry the Da’awah and shoulder its responsibilities.
Oleh karena itu, dari hukum-hukum Syariat, partai politik Islam wajib mengemban tugas-tugas ini, yaitu mengemban dakwah intelektual Islam, menyebarkan konsep-konsep yang benar, dan menjelaskan kebatilan konsep-konsep yang keliru.
Therefore, from the Shari’ah rules, the Islamic political party would be obliged to undertake these tasks of carrying the intellectual call of Islam, spreading the correct concepts and illustrating the fallacy of the erroneous concepts.
Ia juga perlu berupaya membangun tubuh dan anggota badannya agar mampu memikul tanggung jawab membawa Da'wah Islam dengan iman yang teguh kepada Allah, agama-Nya, dan kebangkitan kembali Islam.
It would also need to seek to build its body and its members so they become capable of withstanding the responsibilities of carrying the Da’awah of Islam with firm Iman in Allah, His Deen and the resumption of Islam.
Hal ini memerlukan perubahan besar pada kepribadian kaum Muslim yang akan memikul tanggung jawab membawa Da'wah Islam, agar sejalan dengan kepribadian Islam. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda dalam salah satu Hadis, "Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga kecenderungannya mengikuti apa yang telah aku bawa (kepada kalian)" (diriwayatkan oleh Imam al-Isfahani dalam Kitab al-Hujja dan dinilai sahih oleh Imam al-Nawawi dalam Arba'een-nya).
It would need to radically change the personalities of those Muslims who were going to take up the responsibility of carrying the Islamic Da’awah to be in line with the Islamic personality. As the Prophet (saw) stated in one Hadith, “No one of you has attained Iman until his inclinations are in accordance to what I have brought (you)” (narrated by Imam al-Isfahani in Kitab al-Hujja and authenticated by Imam al-Nawawi in his Arba’een).