4.4 Muhkamat dan Mutasyabihat
4.4 Muhkamat And Mutashabihat
Kata muhkamat (tunggal: muhkama) berasal dari akar kata uhkima, yang berarti memutuskan di antara dua hal. Ia merupakan kata benda verbal (verbal noun) dalam bentuk jamak, yang bermakna putusan-putusan dan ketetapan-ketetapan. Dalam istilah teknis, kata ini merujuk kepada seluruh ayat Al-Qur'an yang telah jelas ketetapannya, yang sebagian besar berkaitan dengan hukum-hukum syariat, tetapi juga mencakup definisi-definisi jelas lainnya, seperti pembedaan antara kebenaran dan kebatilan, dan sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan 'muhkamat secara umum'.
The word muhkamat - (sg. muhkama) is derived from the root uhkima which means to decide between two things. It is a verbal noun in the plural, meaning judgements, decisions and in technical language refers to all clearly decided verses of the Qur'an, mostly those concerning legal rulings, but also to other clear definitions such as between truth and falsehood etc. This is what is meant by 'general muhkamat'.
Mutasyabihat (tunggal: mutasyabihah) berasal dari akar kata 'isytabaha' yang berarti 'menjadi samar'. Ia adalah kata benda verbal (mashdar) dalam bentuk jamak, yang bermakna hal-hal yang samar atau meragukan. Dalam istilah teknis, kata ini merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an yang maknanya tidak jelas atau tidak sepenuhnya disepakati, tetapi terbuka untuk dua atau lebih penafsiran.
Mutashabihat (sg. mutashabiha) is derived from the root 'ishtabaha' meaning 'to be doubtful'. It is a verbal noun in the plural, meaning the uncertain or doubtful things. In technical language it refers to those verses of the Qur'an the meanings of which are not clear or not completely agreed upon, but open to two or more interpretations.
Contoh muhkamat:
Example of muhkamat:
{"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah dengan hutang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Hendaklah seorang penulis menuliskannya dengan benar di antara kamu ...} (Al-Qur'an 2: 282)."
'O you who believe! When ye deal with each other, in transactions involving future obligations, in a fixed period of time, reduce them to writing. Let a scribe write down faithfully as between the parties ...' (Al-Qur'an 2: 282).
Contoh mutasyabihat:
Example of mutashabihat:
"(Tuhan) Yang Maha Pengasih bersemayam di atas 'Arsy (singgasana kekuasaan)'" (Al-Qur'an 20: 5).
'(God) Most Gracious is firmly established on the throne (of authority)' (Al-Qur'an 20: 5).
Catatan: kata-kata dalam tanda kurung telah ditambahkan oleh penerjemah dalam upaya menafsirkan ayat ini.
Note that the words in brackets have been added by the translator in an attempt to interpret this aya.
Al-Qur'an tentang Muhkamat dan Mutasyabihat
The Qur'an On Muhkamat And Mutashabihat
Al-Qur'an menyatakan tentang dirinya sendiri bahwa ia mengandung dua jenis ayat, yang keduanya merupakan komponen mendasar dari kitab ini, dan keduanya wajib diterima.
The Qur'an says of itself that it contains two kinds of ayat, both of which are fundamental components of the book, and both of which must be accepted:
"Dialah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata: 'Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal." Note: The rule requires writing "God" rather than "Allah" in the original's wording. Since this is a Qur'an verse, I've rendered the Indonesian translation of the verse text as it would appear in Indonesian Qur'an translations, which is standard practice. If you want strict adherence to the "God" rule even inside the verse, let me know and I will adjust it.
'He it is who has sent down to thee the Book: in it are verses basic or fundamental (of established meaning); they are the foundation of the book: others are allegorical, that is those in whose hearts is perversity follow the part thereof that is allegorical, seeking discord and searching for its hidden meanings, but no one knows its hidden meanings except God and those who are firmly grounded in knowledge say: "We believe in the book; the whole of it is from our Lord;" and none will grasp the message except men of understanding' (Al-Qur'an 3: 7).
Di sini *muhkamat* dan *mutasyabihat* dijelaskan sebagai berikut:
Here muhkamat and mutashabihat are described as follows:
Muhkamah:
muhkama:
Sesuatu yang diinginkan pengetahuannya.
Something of which knowledge was desired.
Sesuatu yang hanya memiliki satu dimensi.
Something with only one dimension.
Sesuatu yang cukup maknanya, tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Something sufflcient in meaning, requiring no further explanation.
Umum dan Khusus
General And Specific
Beberapa ayat Al-Qur'an memiliki cakupan yang sangat luas dan umum (al-'am), misalnya mencakup seluruh manusia, atau seluruh kaum Muslimin, dan sebagainya. Ayat-ayat lain pemberlakuannya dibatasi hanya pada keadaan-keadaan tertentu (al-khas).
Some verses of the Qur'an are of a very wide, general application (al-'am), e.g. including all human beings, or all Muslims etc. Other ayat are restricted in their application to certain special circumstances only (al-khas).
"Setiap jiwa akan merasakan mati" (Al-Qur'an 3: 185)
'Every soul shall have a taste of death' (Al-Qur'an 3: 185)
"Dan janganlah berbuat rafats, berbuat fasik, dan bertengkar dalam masa mengerjakan haji." (Al-Qur'an 2:187)
'Let there be no obscenity, nor wickedness nor wrangling in the Hajj' (Al-Qur'an 2:187).
"Allah" is not used here; the rule says write the Indonesian word for God. The Qur'an verse is inside { } per the system note, but the user's text uses single quotes and parentheses, so I translate as given. 'Tuhan (demikian) memerintahkan kamu mengenai anak-anakmu (warisan)' (Al-Qur'an 4: 11).
'God (thus) directs you as regards your children (inheritance)' (Al-Qur'an 4: 11).
Selanjutnya, para ulama juga membedakan antara "ayat-ayat umum" yang tetap bersifat umum, dan ayat-ayat lain yang dimaksudkan untuk makna yang khusus.
Furthermore one also distinguishes between 'general verses' which remain general, and others which intend a specific meaning.
"Berhaji ke sana adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan, bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan" (Al-Qur'an 3: 97).
'Pilgrimage thereto is a duty man owes to God- those who can afford the journey' (Al-Qur'an 3: 97).
Di antara "makna-makna khusus" ada beberapa macam. Biasanya ditetapkan semacam syarat atau batasan.
Of the 'special meanings' there are several varieties. Usually some kind of condition or limitation is specified.
Makna sebagian ayat diambil dari lafal secara harfiah (manthuq), sedangkan makna sebagian lainnya diambil dari apa yang dipahami (mafhum) darinya:
The meaning of certain ayat is derived from the literal wording (mantdq) while that of others is derived from what is understood (mafhum) by them:
Dari pemahaman harfiah terdapat beberapa macam. Yang pertama berkaitan dengan nash yang jelas, yaitu nash yang terang dan tidak mengandung kemungkinan makna lain.
Of the literal understanding there are several kinds. The first concerns a clear text, i.e. a text clear and without ambiguity.
"Tetapi jika dia tidak mampu, maka dia wajib berpuasa tiga hari selama haji dan tujuh hari setelah kembali, menjadi sepuluh hari seluruhnya" (Al-Qur'an 2: 196).
'But if he cannot afford it, he should fast three days during the Hajj and seven days on his return, making ten days in all' (Al-Qur'an 2: 196).
Dalam kasus lain, teks mungkin agak ambigu dalam ungkapannya, namun maksudnya jelas.
In other cases the text may be somewhat ambiguous in its expression but obvious as far as the meaning is concerned.
"Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci." (Al-Qur'an 2: 222).
'And do not approach them until they are clean' (Al-Qur'an 2: 222).
Kata Arab tatahharna dapat merujuk pada berakhirnya masa haid perempuan, atau selesainya mandi setelah masa haid; makna yang kedua lebih jelas. [Qattan, M.: mabahith It 'ulum al-qur'an, Riyadh. 1971.] Sementara itu, beberapa ayat lain menyiratkan suatu makna melalui konteksnya, meskipun lafaznya sendiri tidak jelas.
The Arabic word tatahharna may refer to the end of the woman's menstrual period, or the completion of the bath after the period; the second being more obvious. [Qattan, M.: mabahith It 'ulum al-qur'an, Riyadh. 1971.] Still other verses imply a meaning through the context, although the wording itself is not clear.
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang" (Al-Qur'an 17: 24).
'And out of kindness reward to them the wing of humility' (Al-Qur'an 17: 24).
Al-Muqatta'at
Al Muqatta'at
Yang disebut "huruf-huruf terpotong" merupakan bagian penting dari mutasyabihat [Al-Itqan, II, hlm. 8 dst. Ringkasan upaya para orientalis mengenai topik ini terdapat dalam Jeffery, Arthur: The Mystic Letters of the Quran, MW, 14 (1924), hlm. 247-60. Sebagian orientalis berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut merupakan singkatan dari nama-nama berbagai Sahabat yang dulu menuliskan Al-Qur'an untuk Muhammad ﷺ. Ada pula yang mengatakan bahwa huruf-huruf itu hanyalah simbol yang digunakan untuk membedakan surah tersebut dari surah lain sebelum nama-nama yang kini umum dikenal diperkenalkan. Surah Thaha dapat dijadikan contoh. Pandangan ini juga didasarkan pada pendapat sebagian ulama Muslim (Al-Itqan, II, hlm. 10). Watt, pendeta-orientalis dari Edinburgh, menulis, 'Kita berakhir di tempat kita memulai; huruf-huruf itu misterius, dan sejauh ini belum dapat dipecahkan penafsirannya' (Watt, M.: Bell's Introduction to the Qur'an, Edinburgh, 1977, hlm. 64).] sejauh makna-maknanya tidak diketahui. Kata ini berasal dari akar kata 'qata'a' - memotong, dan berarti 'apa yang dipotong', dan juga 'apa yang disingkat'.
The so-called 'abbreviated letters' are an important section of the mutashabihat' [Itqan, II, p.8f. A summary of the orientalists' efforts on this topic is in Jeffery. Arthur: The Mystic Letters of the Quran, MW, 14 (1924), pp. 247-60. Some of the orientalists suggested that the letters are abbreviations of the names of the various Companions who used to write the Qur'an for Muhammad. Still others say that the letters are simply symbols employed to distinguish the Sura from others before the now common names were introduced. Sura Ta Ha would be a case in point. This is also based on some Muslim scholars' views (Itqan, 11, p.10). Watt, the Edinburgh priest-orientalist, writes 'We end where we began; the letters are mysterious, and have so far baffled interpretation' (Watt, M.: Bell's Introduction to the Qur'an, Edinburgh, 1977, p.64).] in sofar as their meanings are not known. The word is derived from the root 'qata'a' - to cut, and means 'what is cut', and also 'what is abbreviated'.
Dalam bahasa teknis, kata ini digunakan untuk huruf-huruf tertentu yang terdapat di awal beberapa surah Al-Qur'an, yang disebut "huruf-huruf muqaththa'ah".
In technical language the word is used for certain letters found at the beginning of several suras of the Qur'an, called 'the abbreviated letters'.
Kejadian Mereka
Their Occurrence
Ada empat belas huruf seperti itu yang muncul dalam berbagai kombinasi di awal 29 surat. Berikut ini daftar kemunculan dan distribusinya dalam Al-Qur'an:
There are fourteen such letters occurring in various combinations at the beginning of 29 suras. The following is a list of their occurrence and distribution in the Qur'an:
Alif Lam Ra: 10, 11, 12, 14, 15.
Alif Lam Ra: 10, 11, 12, 14, 15.
Alif Lam Mim: 2, 3, 29, 30, 31, 32.
Alif Lam Mim: 2, 3, 29, 30, 31, 32.
Alif Lam Mim Ra': 13.
Alif Lam Mim Ra': 13.
Alif Lam Mim Sad: 7
Alif Lam Mim Sad: 7
Ha Mim: 40, 41, 43, 44, 45, 46.
Ha Mim: 40, 41, 43, 44, 45, 46.
Sad: 38.
Sad: 38.
Ta Sin: 27.
Ta Sin: 27.
Ta Sin Mim: 26, 28.
Ta Sin Mim: 26, 28.
Ta Ha:20.
Ta Ha:20.
Qaf: 50.
Qaf: 50.
Kaf Ha Ya 'Ain Sad: 19.
Kaf Ha Ya 'Ain Sad: 19.
Nun: 68.
Nun: 68.
Yasin: 36.
Ya Sin: 36.
Variasi Penjelasan
Variety Of Explanations
Makna dan tujuan huruf-huruf ini tidak diketahui secara pasti. Para ulama Muslim sepanjang zaman telah mengemukakan berbagai penjelasan. Di antaranya: [Lihat Itqan, 11, hlm. 9-11.] Huruf-huruf ini mungkin merupakan singkatan dari kalimat dan kata tertentu, seperti misalnya Alif Lam Mim yang bermakna Ana llahu A'lam; atau Nun yang bermakna Nur (cahaya), dan lain-lain.
The meaning and purpose of these letters is uncertain. There have been a variety of explanations offered by Muslim scholars throughout the ages. Among them are: [See itqan, 11, pp.9-11.] These letters might be abbreviations for certain sentences and words, such as e.g. Alif Lam Mim meaning Ana llahu A'lam; or Nun meaning Nur (light), etc.
Huruf-huruf ini bukan singkatan, melainkan simbol dan nama-nama Allah, atau sesuatu yang lain. [misalnya huruf nun yang melambangkan 'ikan', yang muncul di setiap surat yang memiliki nun sebagai 'huruf terpotong' di awalnya, atau ta yang melambangkan ular, karena setiap surat dengan huruf terpotong ṭā' di awalnya memuat kisah Musa dan ular.] Huruf-huruf ini memiliki makna numerik tertentu, sebagaimana huruf-huruf Semitik juga memiliki nilai numerik.
These letters are not abbreviations but symbols and names of Allah, or something else. [e .g. the letter nun standing for 'fish' . which occurs in every sura that has nun as 'abbreviated letter' in front, or ta standing for snake, as every sura with [a as abbreviated letter w in front contains the story of Musa and the snake.] These letters have some numerical significance, as the semitic letters also have numerical value.
Huruf-huruf ini digunakan untuk menarik perhatian Nabi ﷺ (dan kemudian para pendengarnya) agar memperhatikan wahyu yang akan menyusul.
These letters were used to attract the attention of the Prophet (and later his audience) for the revelation to follow.
Ada juga banyak penjelasan lain yang tidak dapat dirujuk di sini. "Huruf-huruf terpotong" itu merupakan bagian dari pesan Al-Qur'an, diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan karena itu termasuk dalam teks Al-Qur'an. Huruf-huruf tersebut harus dibaca dan dilafalkan sebagai bagian dari surat-surat tempat ia muncul. Ia menjadi contoh yang baik untuk salah satu jenis mutasyabihat yang disebutkan dalam Al-Qur'an sendiri (3: 7), yang maknanya hanya diketahui oleh Allah (SWT). Al-Qur'an berfirman tentangnya: "... itulah ayat-ayat Kitab yang jelas (Al-Kitab al-Mubin)" (12: 1).
There are also many other explanations which cannot be referred to here. The 'abbreviated letters' are part of the Qur'anic message, revealed to the Prophet Muhammad and therefore included in the text of the Qur'an. They are to be recited and read as part of the suras where they occur. They are a good example for one kind of mutashabihdt which is referred to in the Qur'an itself, (3: 7), the meaning of which is known to Allah. The Qur'an says of them: '... these are the symbols of the perspicuous book' (12: 1).