5.1 Wahyu Makkiyah dan Madaniyah
5.1 Makkan And Madinan Revelations
Pertumbuhan dan perkembangan umat Islam ditandai oleh dua fase besar:
The growth and development of the Muslim umma is marked by two great phases:
Periode di Makkah, sebelum hijrah (M. 622).
The period in Makka, before the hijra (A.D. 622).
Periode di Madinah, setelah hijrah.
The period in Madina, after the hijra.
Tentu saja wahyu dari Allah untuk membimbing kaum Muslim juga, sampai batas tertentu, menjawab keadaan-keadaan khusus ini.
Naturally the revelation from Allah to guide the Muslims also responded, to some extent, to these particular situations.
Fase Makkah
The Makkan Phase
Fase Makkah dari wahyu berlangsung sekitar 13 tahun, dari wahyu pertama hingga hijrah.
The Makkan phase of the revelation lasted about 13 years, from the first revelation up to the hijra.
Fase ini ditentukan oleh tugas utama Nabi ﷺ untuk menyeru manusia kepada Islam. Tema-tema utama dari seruan ini, berdasarkan wahyu Al-Qur'an, adalah:
This phase is determined by the prime task of the Prophet to call people to Islam. The main themes of this call, based on the Qur'anic revelation are:
Allah dan tauhid-Nya.
Allah and His unity (Tawhid).
Kebangkitan dan hisab yang akan datang.
The coming resurrection and judgement.
Perilaku yang baik.
Righteous conduct.
Peran Nabi ﷺ pada fase ini adalah terutama sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.
The role of the Prophet in this phase is in particular that of an announcer and Warner.
Fase Madinah
The Madinan Phase
Fase Madinah berlangsung sekitar sepuluh tahun, dari hijrah hingga wafatnya Nabi ﷺ. Meskipun tema-tema dasar fase Makkah tetap ada, faktor bersatunya kaum Muslimin menjadi sebuah komunitas dan terbentuknya umat (ummah) kini terasa jelas kehadirannya.
The Madinan phase lasted about ten years, from the hijra to the death of the Prophet. While the basic themes of the Makkan phase remain, the factor of the Muslims' growing together into a community and the formation of the umma, now makes its presence clearly felt.
Di Madinah, terdapat empat kelompok orang yang dapat ditemui:
In Madina, there are four groups of people to be met:
Kaum Muhajirin, yaitu mereka yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.
The muhajirun, who migrated from Makka to Madina.
Kaum Anshar, yang berasal dari Madinah dan menolong kaum Muhajirin.
The ansar, who originated from Madina and helped the muhajirun.
Orang-orang munafik, yang berasal dari Madinah dan berpura-pura mendukung kaum Muslimin.
The munafiqun, who are from Madina and pretended to support the Muslims.
Ahl al-kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani, beserta kitab suci masing-masing.
The ahl al-kitab, i.e. Jews and Christians, with their respective scriptures.
Selain ini, Al-Qur'an juga terus menyapa al-nas, "manusia", yakni seluruh umat manusia, dan merujuk kepada orang-orang kafir serta orang-orang yang bodoh.
In addition to these the Qur'an also continued to address al-nas, 'mankind' i.e. all people, and referred to the disbelievers and ignorant ones.
Surah-Surah Makkiyah dan Madaniyah
Makkan And Madinan Suras
Surat-surat dalam Al-Qur'an juga telah dikelompokkan, berdasarkan asal-usulnya, menjadi surat-surat Makkiyah dan surat-surat Madaniyah.
Suras of the Qur'an have also been classified, according to their origin, into Makkan and Madinan suras.
Surat dikatakan berasal dari Makkah apabila awal surat tersebut diturunkan pada masa Makkah, meskipun di dalamnya terdapat ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.
A sura is said to be of Makkan origin, when its beginning was revealed in the Makkan phase, even if it contains verses from Madina.
Sebuah surah dikatakan berasal dari Madinah apabila permulaannya diturunkan pada masa Madinah, meskipun di dalam teksnya terdapat ayat-ayat dari masa Makkah. [Mabani, dalam GdQ, 1, hlm.59.] Berikut ini 85 surah yang, menurut Zarkashi, [Zarkashi, B.: Al-burhan fi 'ulum al-Qur’an, Kairo, 1958, Jilid 1, hlm.193.] berasal dari Makkah:
A sura is said to be of Madinan origin, when its beginning was revealed in the Madinan phase, even if it has verses from the Makkan period in its text. [Mabani, in GdQ, 1, p.59.] The following 85 suras are, according to Zarkashi, [Zarkashi, B.: Al-burhan fi 'ulum al-Qur’an, Cairo, 1958,Vol. 1,p.193.] of Makkan origin:
96, 68, 73, 74, 111, 81, 87, 92, 89, 93, 94, 103, 100, 108, 102, 107, 109, 105, 113, 114, 112, 53, 80, 97, 91, 85, 95, 106, 101, 75, 104, 77, 50, 90, 86, 54, 38, 7, 72, 36, 25, 35, 19, 20, 56, 26, 27, 28, 17, 10, 11, 12, 15, 6, 37, 31, 34, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 51, 88, 18, 16, 71, 14, 21, 23, 32, 52, 67, 69, 70, 78, 79, 82, 84 Terdapat perbedaan pendapat mengenai surat apa yang terakhir diturunkan di Makkah. Sebagian mengatakan, mengikuti Ibnu 'Abbas, bahwa itu adalah Surat 29 (al-'Ankabut); sebagian lain mengatakan Surat 23 (al-Mu'minun); dan yang lain lagi mengatakan Surat 83 (al-Muthaffifin). Sebagian ulama berpendapat bahwa Surat 83 sebenarnya termasuk Madaniyyah.
96, 68, 73, 74, 111, 81, 87, 92, 89, 93, 94, 103, 100, 108, 102, 107, 109, 105,113,114,112,53,80,97,91,85,95, 106,101,75, 104,77,50,90,86,54,38,7,72,36,25,35, 19,20, 56,26,27, 28, 17, 10, 11, 12, 15, 6, 37, 31, 34, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 51, 88, 18, 16, 71, 14, 21, 23, 32, 52, 67, 69, 70, 78, 79, 82, 84, There is a difference of opinion as to what was last revealed in Makka. Some say, following Ibn 'Abbas, that it was Sura 29 (al-ankabut); others say Sura 23 (al-mu'minun); still others say Sura 83 (al-mutaffifin). Some believe that Sura 83 is actually Madinan.
Berikut ini 29 surat yang, menurut Zarkashi, [Zarkashi. Jilid 1, hlm. 194. Untuk daftar lain lihat Fihrist. 1, hlm. 52-3.] berasal dari Madinah:
The following 29 suras are, according to Zarkashi, [Zarkashi. Vol. 1, p. 194. For another list see fihrist. 1, pp. 52-3.] of Madinan origin:
Kronologi
Chronology
Menurut sebuah daftar yang didasarkan pada Nu'man b. Bashir dan dimuat dalam Fihrist karya al-Nadim, [Fihrist, I. pp.49-52.] urutan kronologis turunnya surat-surat adalah sebagai berikut:
According to a list based upon Nu'man b. Bashir and given in the fihrist of al-Nadim, [Fihrist, I. pp.49-52.] the chronological order of the revelation of the suras is as follows:
96, 68, 73, 74, 111, 81, 94, 103, 89, 93, 92, 100, 108, 102, 107, 109, 105, 112, 113, 114, 53, 80, 97, 91, 85, 95, 106, 101, 75, 104, 77, 50, 90, 55, 72, 36, 7, 25, 35, 19, 20, 56, 26, 27, 28, 17, 11, 12, 10, 15, 37, 31, 23, 34, 21, 37, 40, 41, 47, 43, 44, 45, 46, 51, 88, 18, 6, 16, 71, 14, 32, 52, 67, 69, 70, 78, 79, 82, 84, 30, 29, 83, 54, 86.
96, 68, 73, 74, 111, 81, 94, 103, 89, 93, 92, 100, 108, 102, 107, 109, 105, 112, 113, 114, 53, 80, 97, 91, 85, 95, 106, 101, 75, 104, 77, 50, 90, 55, 72, 36, 7, 25, 35, 19, 20, 56, 26, 27, 28, 17, 11, 12, 10, 15, 37, 31, 23, 34, 21, 37, 40, 41, 47, 43, 44, 45, 46, 51, 88, 18, 6, 16, 71, 14, 32, 52, 67, 69, 70, 78, 79, 82, 84, 30, 29, 83, 54, 86.
Mengapa penting untuk mengetahui kronologi surah dan ayat, padahal Al-Qur'an tidak disusun menurut urutan kronologis?
Why is it important to know the chronology of the suras and verses, although the Qur'an is not arranged in chronological order?
Untuk mengetahui asal-usul dan urutan sebagian wahyu adalah penting untuk memahami maknanya, yang seringkali lebih mudah dipahami jika seseorang mengetahui waktu dan keadaan yang berkaitan dengannya. Misalnya, banyak ayat dari periode Makkah mungkin sangat bermakna bagi kaum Muslim yang hidup dalam lingkungan yang sangat tidak Islami, sementara sebagian dari periode Madinah akan sangat menarik bagi kaum Muslim yang sedang dalam proses pembentukan umat. Dalam beberapa kasus, kecuali seseorang mengetahui mana dari dua atau lebih ayat yang berkaitan yang diturunkan lebih dahulu, ia tidak dapat memutuskan hukum mana yang sekarang mengikat kaum Muslim. Di sini, pengetahuan tentang kronologi berkaitan langsung dengan persoalan al-nasikh wa al-mansukh. [Lihat di bawah untuk perincian.] Penting pula untuk mengetahui kronologi ayat-ayat guna memahami perkembangan bertahap dari banyak praktik, sikap, dan hukum Islam, seperti misalnya terhadap pelarangan minuman keras, terhadap peperangan, dan sebagainya, serta untuk melihat bagaimana perkara-perkara ini berkembang secara historis, yakni selama masa hidup Nabi ﷺ, agar dapat memahami implikasinya secara utuh. [Misalnya, dalam hal memerangi musuh, ayat pertama yang diturunkan mengenai pokok ini berasal dari Surah al-Hajj (22). Ayat ini termasuk periode Madinah, dan dari sini menjadi jelas bahwa kaum Muslim tidak diperintahkan untuk memerangi non-Muslim sebelum hijrah. Hal ini memiliki implikasi penting bagi perencanaan dan cara berpikir kita sendiri, misalnya:]
Ringkasan
Summary
Ilmu tentang wahyu Makkiyah dan Madaniyah merupakan salah satu cabang penting dari ‘Ulum al-Qur’an. Ilmu ini bukan sekadar bernilai sejarah, tetapi sangat penting bagi pemahaman dan penafsiran ayat-ayat masing-masing.
The knowledge of Makkan and Madinan revelations is one of the important branches of ''ulum al-Qur’an. It is not merely of historical interest, but particularly important for the understanding and interpretation of the respective verses.
Banyak surat dalam Al-Qur'an memang memuat materi dari kedua periode pewahyuan, dan dalam sejumlah kasus terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai klasifikasi suatu ayat tertentu. Namun secara umum, pembedaan ini merupakan pembagian yang sudah mapan, dipakai sepenuhnya dalam ilmu tafsir, dan paling baik diperoleh dari bukti internal teks Al-Qur'an itu sendiri.
Many suras of the Qur'an do contain material from both periods of revelation, and in some cases there exists difference of opinion among scholars concerning the classification of a particular passage. However, on the whole, it is a wellestablished distinction, fully employed in the science of tafsir and best derived from the internal evidence of the text of the Qur'an itself.