6. Menafsirkan Teks
6. Interpreting The Text
Tafsir, Jenis-Jenisnya, dan Kaidah-Kaidahnya
Tafsir, Its Kinds And Principles
Tafsir (penafsiran) Al-Qur'an adalah ilmu yang paling penting bagi kaum Muslimin. Semua perkara yang berkaitan dengan cara hidup Islam terhubung dengannya dalam satu arti atau lainnya, karena penerapan Islam yang benar didasarkan pada pemahaman yang tepat terhadap petunjuk dari Allah. Tanpa tafsir, tidak akan ada pemahaman yang benar terhadap berbagai ayat Al-Qur'an.
Tafsir (exegesis) of the Qur'an is the most important science for Muslims. All matters concerning the Islamic way of life are connected to it in one sense or another since the right application of Islam is based on proper understanding of the guidance from Allah. Without tafsir there would be no right understanding of various passages of the Qur'an.
Tafsir dan Ta'wil
Tafsir And Ta'wil
Kata tafsir berasal dari akar kata 'fassara' – menjelaskan, menguraikan. Maknanya adalah 'penjelasan' atau 'penafsiran'. Dalam istilah teknis, kata tafsir digunakan untuk penjelasan, penafsiran, dan komentar terhadap Al-Qur'an, yang mencakup segala cara memperoleh ilmu yang membantu pemahaman yang benar terhadapnya, menjelaskan maknanya, dan memperjelas implikasi hukumnya. [Lihat Zarkashi, op.cit., 1, hlm. 13.] Kata mufassir (jamak: mufassirun) adalah istilah yang digunakan untuk orang yang melakukan tafsir, yaitu 'ahli tafsir' atau 'pengkaji'.
The word tafsir is derived from the root 'fassara' – to explain, to expound. It means 'explanation' or 'interpretation'. In technical language the word tafsir is used for explanation, interpretation and commentary on the Qur'an, comprising all ways of obtaining knowledge, which contributes to the proper understanding of it, explains its meanings and clarifies its legal implications. [See Zarkashi, op.cit., 1, p. 13.] The word mufassir (pl. mufassirun) is the term used for the person doing the tafsir, i.e. the 'exegete' or 'commentator'.
Kata ta'wil, yang juga digunakan dalam konteks ini, berasal dari akar kata 'awwala dan juga bermakna "penjelasan, penafsiran".
The word ta'wil, which is also used in this connection, is derived from the root 'awwala' and also means 'explanation, interpretation' .
Secara istilah teknis, kata ini juga merujuk pada penjelasan dan penafsiran Al-Qur'an.
In technical language it similarly refers to explanation and interpretation of the Qur'an.
Tafsir dalam bahasa para ulama berarti penjelasan dan penerangan. Tujuannya adalah ilmu dan pemahaman tentang Kitabullah, yaitu menjelaskan maknanya, menggali hukum-hukumnya, dan memahami hikmah serta alasan di baliknya. Tafsir menjelaskan makna-makna yang bersifat lahiriah (zahir) dari Al-Qur'an. Ta'wil, menurut sebagian ulama, berarti penjelasan tentang makna-makna batin dan tersembunyi dari Al-Qur'an, sejauh seseorang yang berilmu dapat mengetahuinya. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa tidak ada perbedaan antara tafsir dan ta'wil.
Tafsir in the language of the scholars means explanation and clarification. It aims at knowledge and understanding concerning the book of Allah, to explain its meanings, extract its legal rulings and grasp its underlying reasons. Tafsir explains the 'outer' (zahir) meanings of the Qur'an. Ta'wil is considered by some to mean the explanation of the inner and concealed meanings of the Qur'an, as far as a knowledgeable person can have access to them. Others are of the opinion that there is no difference between Tafsir and ta'wil.
Mengapa Hal Ini Penting?
Why Is It Important?
Ada sejumlah alasan mengapa tafsir sangat penting, namun alasan mendasarnya adalah sebagai berikut: Allah telah menurunkan Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk bagi umat manusia. Tujuan manusia adalah beribadah kepada Allah, yaitu mencari keridhaan-Nya dengan menjalani cara hidup yang telah Allah serukan kepadanya. Ia dapat melakukannya dalam kerangka petunjuk yang telah Allah wahyukan mengenai hal ini, namun ia hanya dapat melakukannya jika ia memahami dengan benar makna dan implikasinya.
There are a number of reasons why Tafsir is of great importance, but the basic reason is the following: Allah has sent the Qur'an as a book of guidance to mankind. Man's purpose is to worship Allah, i.e. to seek His pleasure by living the way of life Allah has invited him to adopt. He can do so within the framework of the guidance that Allah has revealed concerning this, but he can do so only if he properly understands its meanings and implications.
Peringatan
A Warning
Sebagian ulama Muslim telah memperingatkan terhadap tafsir. Ahmad bin Hanbal, misalnya, pernah berkata: "Tiga perkara tidak memiliki dasar: tafsir, malahim (kisah-kisah yang bersifat eskatologis), dan maghazi (kisah-kisah peperangan)." [Ibn Taimiyah, Muqaddimah fi Usul al-Tafsir, Kuwait, 1971, hlm. 59.] Yang dimaksud dengan ini adalah bahwa di dalam bidang-bidang tersebut banyak terdapat pelebihan-lebihan dan materi yang tidak sahih, tetapi bukan berarti bahwa tidak satu pun dari ketiganya layak dipertimbangkan. Hal ini jelas dari versi lain dari pendapat yang sama, di mana kata isnad digunakan untuk menggantikan kata "dasar".
Some Muslim scholars have warned against Tafsir. Ahmad b. Hanbal, e.g. has said: 'Three matters have no basis: Tafsir, malahim (tales of eschatological nature) and maghazi (tales of the battles)'. [Ibn Taimiya, muqaddima fi usul al-tafsir, Kuwait, 1971, p.59.] By this is meant that there is much exaggeration and unsound material in these fields, but it does not mean that neither of them ought to be considered. This is clear from another version of the same verdict, in which the word isnad is used for 'basis'.
Syarat-Syarat Dasar
Basic Conditions
Para ulama Muslim telah menetapkan beberapa syarat dasar bagi tafsir yang sahih. Tafsir apa pun yang mengabaikan prinsip-prinsip ini harus disikapi dengan sangat hati-hati, bahkan jika tidak ditolak sama sekali. Yang paling penting di antara syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
Muslim scholars have laid down certain basic conditions for sound Tafsir. Any Tafsir, which disregards these principles must be viewed with great caution, if not rejected altogether. The most important among these conditions are the following:
Seorang mufassir harus:
The mufassir must:
Bersihkanlah akidahmu.
Be sound in belief ('aqida).
Memiliki pengetahuan yang kuat tentang bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya.
Well-grounded in the knowledge of Arabic and its rules as a language.
Memiliki landasan yang kuat dalam ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan kajian Al-Qur'an (misalnya 'ilmu al-riwayah).
Well-grounded in other sciences that are connected with the study of the Qur'an (e.g. 'ilm al-riwaya).
Memiliki kemampuan untuk pemahaman yang tepat.
Have the ability for precise comprehension.
Jauhilah penggunaan pendapat semata.
Abstain from the use of mere opinion.
Mulailah Tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an.
Begin the Tafsir of the Qur'an with the Qur'an.
Carilah petunjuk dari perkataan dan penjelasan Nabi ﷺ.
Seek guidance from the words and explanations of the Prophet.
Rujuklah kepada riwayat-riwayat dari para sahabat.
Refer to the reports from the sahaba.
Perhatikanlah riwayat-riwayat dari para tabi'in.
Consider the reports from the tabi'un.
Konsultasikan pendapat-pendapat ulama besar lainnya.
Consult the opinions of other eminent scholars.
Tingkatan Sumber [see Ibn Taimiya, Op.cit., P.93.]
Grades Of Sources [see Ibn Taimiya, Op.cit., P.93.]
Tafsir yang terbaik adalah penjelasan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an.
The best Tafsir is the explanation of the Qur'an by the Qur'an.
Berikutnya yang terbaik adalah penjelasan Al-Qur'an oleh Nabi Muhammad ﷺ, yang, sebagaimana dijelaskan Asy-Syafi'i, bertindak sesuai dengan apa yang beliau pahami dari Al-Qur'an.
The next best is the explanation of the Qur'an by the Prophet Muhammad, who, as Shafi'i explained, acted according to what he understood from the Qur'an.
Jika tidak ditemukan apa pun dalam Al-Qur'an maupun dalam sunnah Nabi ﷺ, maka seseorang merujuk kepada riwayat-riwayat dari para sahabat. [Lihat Ibn Taimiya, op.cit., hlm. 95.] Jika tidak ditemukan apa pun dalam Al-Qur'an, sunnah, dan riwayat-riwayat dari para sahabat, maka seseorang merujuk kepada riwayat-riwayat dari para tabi'in. [Lihat Ibn Taimiya, op.cit., hlm. 102.] Namun, tidak ada yang dapat menandingi penjelasan Al-Qur'an oleh Al-Qur'an dan penjelasan Al-Qur'an oleh Nabi ﷺ.
If nothing can be found in the Qur'an nor in the sunna of the Prophet, one turns to the reports from the sahaba. [See Ibn Taimiya, op.cit., p.95.] If nothing can be found in the Qur'an, the sunna and the reports from the sahaba, one turns to the reports from the tabi'un. [See Ibn Taimiya, op.cit., p. 102.] However, nothing can match the explanation of the Qur'an by the Qur'an and the explanation of the Qur'an by the Prophet.
Jenis-Jenis Tafsir Tafsir dapat dibagi menjadi tiga kelompok dasar: [Klasifikasi ini dipinjam dari Sabuni, Tibyan, hlm. 63. Lihat juga Qattan, op.cit., bagian 25.] Tafsir bi-l-riwayah (berdasarkan riwayat), yang juga dikenal sebagai Tafsir bi-l-ma'thur.
Kinds of Tafsir Tafsir may be divided into three basic groups: [This classification has been borrowed from Sabuni, tibyan, p.63. See also Qattan, op.cit. section 25.] Tafsir bi-l-riwaya (by transmission), also known as Tafsir bi-l-ma'thur.
Tafsir bi'l-ra'y (dengan pendapat yang benar; juga dikenal sebagai tafsir bi-l-diraya, dengan pengetahuan).
Tafsir bi'l-ra'y (by sound opinion; also known as tafsir bi-l-diraya, by knowledge).
Tafsir bi-l-isyarah (penafsiran melalui isyarat).
Tafsir bi-l-ishara (by indication, from signs).
Tafsir Bi-l-riwaya
Tafsir Bi-l-riwaya
Yang dimaksud dengan ini adalah seluruh penjelasan terhadap Al-Qur'an yang dapat ditelusuri kembali melalui rantai periwayatan hingga kepada sumber yang sahih, yaitu:
By this is meant all explanations of the Qur'an which can be traced back through a chain of transmission to a sound source, i.e.:
Al-Qur'an itu sendiri.
The Qur'an itself.
Penjelasan tentang Nabi ﷺ.
The explanation of the Prophet.
Penjelasan para Sahabat Nabi ﷺ (sampai batas tertentu).
The explanation by Companions of the Prophet (to some extent).
Tentu saja, tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an dan tafsir Al-Qur'an oleh Nabi ﷺ adalah dua sumber tertinggi dalam tafsir, yang tidak dapat disamai maupun digantikan oleh sumber lain. Setelah keduanya, berikutnya adalah penjelasan dari para sahabat, karena para sahabat menyaksikan langsung turunnya wahyu, dididik dan dilatih oleh Nabi ﷺ sendiri, serta paling dekat dengan masa umat Islam pertama. Tentu saja, semua riwayat penjelasan dari Nabi ﷺ maupun dari seorang sahabi harus sahih menurut ilmu riwayat dalam 'ulum al-hadith.
Naturally, the explanation of the Qur'an by the Qur'an and the explanation of the Qur'an by the Prophet are the two highest sources for tafsir, which cannot be matched nor superseded by any other source. Next to these rank the explanations by the sahaba, since the sahaba were witnesses to the revelations, were educated and trained by the Prophet himself and were closest to the period of the first Muslim umma. Of course all reports of explanations by the Prophet or by a sahabi must be sound according to the science of riwaya as in 'ulum al-hadith.
Al-Qur'an Dijelaskan oleh Al-Qur'an
The Qur'an Explained By The Qur'an
Penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an adalah sumber tafsir yang paling tinggi. Banyak pertanyaan yang mungkin timbul dari suatu bagian Al-Qur'an telah memiliki penjelasannya di bagian lain dari kitab yang sama, dan sering kali tidak perlu merujuk kepada sumber lain selain firman Allah, yang di dalamnya sendiri sudah mengandung tafsir. Berupaya menjelaskan suatu ayat Al-Qur'an dengan merujuk kepada ayat lain dari Al-Qur'an adalah tugas pertama dan utama seorang mufassir. Hanya jika cara ini tidak mencukupi, barulah ia merujuk kepada sumber tafsir lainnya. [Al-Itqan, 11, hlm. 181-2.] Contoh yang tepat adalah penjelasan rinci atas QS. 5:2 oleh QS. 5:4, mengenai daging yang halal dan haram. Contoh lain penjelasan satu ayat Al-Qur'an dengan ayat lainnya berkaitan dengan pertanyaan yang mungkin timbul dari QS. 44:3. Hal itu dijelaskan dalam QS. 97:1:
The interpretation of the Qur'an by the Qur'an is the highest source of tafsir. Many of the questions which may arise out of a certain passage of the Qur'an have their explanation in other parts of the very same book, and often there is no need to turn to any sources other than the word of Allah, which in itself contains tafsir. To seek to explain an aya from the Qur'an by referring to another aya from the Qur'an is the first and foremost duty of the mufassir. Only if this does not suffice, he will refer to other sources of tafsir. [Itqan, 11, pp.181-2.] A case in point is the detailed explanation of 5:2 by 5:4, concerning permissible and prohibited meat. Another example of explanation of one aya in the Qur'an by another concerns a question which might arise from Surah 44: 3. It is explained in Surah 97: 1:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi" (44: 3).
'We sent it down during a blessed night' (44: 3).
Malam yang diberkahi ini, yang di dalamnya Al-Qur'an diturunkan, malam apakah itu?
Which night is this blessed night, in which the Qur'an was sent down?
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadr" (97: 1).
'We have indeed revealed this in the lailat al-qadr' (97: 1).
Contoh ketiga adalah penjelasan Surah 2:37 dengan Surah 7:23:
A third example is the explanation of Surah 2:37 by Surah 7:23:
Al-Qur'an yang dijelaskan oleh Nabi ﷺ
The Qur'an explained by the Prophet
Ada banyak contoh penjelasan Al-Qur'an oleh Nabi ﷺ, yang baik secara langsung meminta penjelasan kepada Malaikat Jibril atas hal-hal yang belum jelas baginya, maupun ditanya oleh para Sahabat tentang Al-Qur'an. As-Suyuthi telah memberikan daftar panjang penjelasan Al-Qur'an oleh Nabi ﷺ surat demi surat. [Al-Itqan, jilid 2, hlm. 191-205.] Di sini satu contoh sudah cukup:
There are numerous examples of explanation of the Qur'an by the Prophet, who either himself asked the Angel Gabriel for explanation of matters not clear to him, or who was asked by the Companions about the Qur'an. Suyuti has given a long list of explanations of the Qur'an by the Prophet sura by sura. [Itqan, 11, pp. 191-205.] Here one example may suffice:
"Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. . ." (2: 187).
'And eat and drink until the white thread of dawn appears to you distinct from its black thread. . .' (2: 187).
Diriwayatkan dari 'Adi bin Hatim: Aku berkata, "Wahai Rasulullah ﷺ! Apa maksud benang putih yang berbeda dari benang hitam?"
Narrated 'Adi b. Hatim: I said: 'O Allah's Apostle! What is the meaning of the white thread distinct from the black thread?
"Apakah ini dua benang?" Dia berkata: "Kamu tidak cerdas jika kamu melihat kedua benang itu." Lalu dia menambahkan, "Tidak, itu adalah gelapnya malam dan putihnya siang." [Itqan 11. pp. 191-205.]
Are these two threads?' He said: 'You are not intelligent, if you watch the two threads'. He then added, 'No, it is the darkness of the night and the whiteness of the day'. [Itqan 11. pp. 191-205.]
Tafsir oleh Para Sahabat
Tafsir By Sahaba
Untuk ringkasan singkat tentang tafsir awal, lihat al-Sawwaf, 'Early Tafsir', dalam Ahmad, K. dan Z. I. Ansari. Islamic Perspectives.
[For a brief summary on early Tafsir see al-Sawwaf, 'Early Tafsir', in Ahmad, K. and Z. 1. Ansari. Islamic Perspectives.
Leicester, 1979, hlm. 135-45.] Selanjutnya, setelah penjelasan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an dan penjelasan Al-Qur'an oleh Nabi sendiri, peringkat berikutnya adalah penjelasan Al-Qur'an oleh para sahabat. Di antara mereka, yang paling terkenal atas pengetahuan dan kontribusinya di bidang tafsir adalah: Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, 'Ali (tidak banyak riwayat yang berasal dari beliau), Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas, 'Ubay bin Ka'b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy'ari, 'Abdullah bin Zubair.
Leicester, 1979, pp.l35-45.] Next, after explanation of the Qur'an by the Qur'an and of the Qur'an by the Prophet himself, ranks the explanation of the Qur'an by the sahaba. Among them, the following were best known for their knowledge of and contribution to the field of tafsir: Abu Bakr, 'Umar, 'Uthman, 'All (not much has been reported from them), Ibn Mas'ud, Ibn 'Abbas, 'Ubay b. Ka'b, Zaid b. Thabit, Abu Musa al-Ash'arl, 'Abdullah b. Zubair.
Ibn 'Abbas Abdullah b. 'Abbas (w. 68 H/687 M) dianggap sebagai sahabat yang paling berilmu dalam tafsir. [Sebuah kitab berjudul Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas (Beirut, t.t.) merupakan tafsir lengkap atas Al-Qur'an, yang semua penjelasannya konon bersumber dari Ibn 'Abbas. Mengenai keotentikannya, lihat al-Sawwaf, op.cit. hlm. 140.] Ia dijuluki 'tarjuman al-Qur'an', penerjemah/penafsir Al-Qur'an. Karena ia masih kerabat Nabi ﷺ, sepupu beliau, dan bibinya dari pihak ibu, Maimunah, adalah salah seorang istri Nabi ﷺ, ia sangat dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ dan banyak belajar tentang wahyu. Dikatakan bahwa ia pernah melihat Malaikat Gabriel dua kali. Selain pengetahuannya yang mendalam tentang segala hal yang berkaitan dengan tafsir, ia juga dikenal karena menegaskan salah satu prinsip dasar 'ilm al-tafsir yang tetap penting hingga hari ini, yaitu bahwa makna kata-kata, terutama kata-kata yang tidak lazim dalam Al-Qur'an, harus ditelusuri kembali pada penggunaannya dalam bahasa puisi pra-Islam. Terdapat daftar panjang penjelasan semacam itu yang dikutip oleh Suyuti.
Ibn 'Abbas Abdullah b. 'Abbas (d. 68/687) is considered to be the most knowledgeable of the Companions in tafsir. [A book entitled tanwir al-miqbas min Tafsir Ibn Abbas (Beirut, n.d.) is a complete tafsir of the Qur'an. all explanations of which are said to go back to Ibn 'Abbas. On the question of authenticity, see al-Sawwaf, op.cit. p. 140.] He has been called 'tarjuman alqur'an', the interpreter of the Qur'an. Since he was related to the Prophet, being his cousin, and his maternal aunt Maimuna being one of the Prophet's wives, he was very close to the Prophet Muhammad and learnt much about the revelation. It is said that he saw the Angel Gabriel twice. Apart from his detailed knowledge of everything concerning tafsir, he is also given the credit for having emphasised one of the basic principles of 'ilm al-tafsir which has remained important to this day, namely, that the meaning of words, especially of unusual words in the Qur'an ought to be traced back to their usage in the language of pre-Islamic poetry. There is a long list of such explanations quoted by Suyutl.
Tafsir Tabi'in
Tafsir By Tabi'un
Ada lebih banyak lagi tokoh dari kalangan tabi'in yang dikenal karena perhatian mereka terhadap tafsir, karena jumlah orang yang memeluk Islam semakin banyak dan kebutuhan akan ilmu tentang Al-Qur'an pun meningkat berkali-kali lipat. Selain itu, Nabi ﷺ sendiri dan banyak dari para Sahabatnya sudah tidak lagi ada untuk memberikan bimbingan ini, sehingga usaha yang lebih besar harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan pemahaman yang benar terhadap Kitabullah.
There are many more persons from among the tabi’un known for their preoccupation with tafsir, because many more people had embraced Islam and the need for knowledge about the Qur'an had increased manifold. Also, the Prophet himself and many of his Companions were no longer available to give this guidance, and therefore greater efforts had to be made to satisfy this need for proper understanding of the book of Allah.
Dari kalangan mufassir dari generasi tabi'in, orang dapat membedakan tiga kelompok, berdasarkan asal-usul dan wilayah kegiatan mereka:
Of the mufassirun from among the tabi’un one distinguishes three groups, according to their origin and area of activity:
Mereka yang berasal dari Makkah.
Those from Makka.
Mereka yang berasal dari Madinah.
Those from Madina.
Mereka yang berasal dari Irak.
Those from Iraq.
Kelompok Makkah
The Makkan Group
Menurut banyak ulama, kelompok mufassirin dari kalangan tabi'in ini adalah yang paling berpengetahuan dalam tafsir, karena mereka mempelajarinya dari 'Abdullah bin 'Abbas. Jumlah mereka banyak, dan di antara yang paling terkenal dari sekian banyak lainnya adalah Mujahid (w. 104 H/722 M), 'Atha' (w. 114 H/732 M), dan 'Ikrimah (w. 107 H).
According to many scholars, this group of mufassirun from among the tabi’un are the most knowledgeable in tafsir, because they learnt about it from 'Abdullah b. 'Abbas. They are many in number, and among the best known out of many others are Mujahid (d.104/722), 'Ata' (d.114/732) and 'Ikrima (d.107H).
Mujahid, yang paling terkenal di antara mereka, diriwayatkan telah membaca Al-Qur'an tiga kali bersama Ibnu 'Abbas dan menanyakan kepadanya tentang "kapan" dan "bagaimana" setiap ayat yang telah diturunkan. [Taimiya, hlm. ;102.] Sebuah kitab tafsir lengkap karya Mujahid telah diterbitkan. Kitab ini didasarkan pada sebuah manuskrip dari abad ke-6 Hijriah dan disunting oleh Surti. [Surti, A.: Tafsir Mujdhid, 2 jilid, Beirut, t.t.] Contoh:
Mujahid, the best known among them, is reported to have gone through the Qur'an thrice with Ibn 'Abbas and to have asked him about the 'when' and 'how' of each verse that had been revealed. [Taimiya p. ;102.] A complete book of tafsir by Mujahid has been published. It is based on a manuscript from the 6th Hijra century and is edited by Surti. [Surti, A.: Tafsir Mujdhid, 2 vols., Beirut, n.d.] Example:
Humaid b. Qais Makki meriwayatkan: Saya bersama Mujahid, dan kami sedang melakukan thawaf mengelilingi Rumah (Ka'bah). Seorang laki-laki datang dan bertanya apakah puasa kafarat sumpah harus dilakukan secara berturut-turut atau boleh terpisah-pisah. Humaid menjawab bahwa jika ia mau, ia boleh melakukannya secara terpisah-pisah juga! Namun Mujahid berkata: Tidak secara terpisah-pisah, karena bacaan Ubay b. Ka'b adalah {thalatsati ayyamin mutatabi'at}, yaitu berpuasa tiga hari secara berturut-turut. [Muwatta Malik, No. 617.]
Humaid b. Qais Makki reported: I was with Mujahid and we were circumambulating the house (Ka'ba). A man came and asked whether the fasts of penalty of an oath should be observed continuously or severally. Humaid replied that if he liked he could observe them severally too! But Mujahid said: Not severally, for the reading of 'Ubayy b. Ka'b is thalathi ayyamin mutatabi'at, i.e. to fast three days continuously'. [Muwatta Malik, No. 617.]
Kelompok Madinah
The Madinan Group
Para mufassir di kalangan tabi'in dari Madinah memiliki banyak sahabat sebagai guru mereka, dan yang paling terkenal di antaranya adalah Ubay b. Ka'b. Berikut ini adalah beberapa mufassir Al-Qur'an yang terkenal di antara mereka: Muhammad b. Ka'b al-Qurazi (w. 117 H/735 M), Abu al-'Aliyah al-Riyahi (w. 90 H/708 M), dan Zaid b. Aslam (w. 130 H/747 M).
The mufassirun among the tabi’un from Madina had many Companions as their teachers, among the best known being 'Ubay b. Ka'b. The following are some of the well-known Qur'an exegetes among them: Muh. Ammad b. Ka'b al-Qarzi (d.117/735), Abu-l 'Alliya al-Riyahl (d.90/708) and Zaid b. Aslam (d.130/747).
Kelompok Irak
The Iraq Group
Di antara para tabi'in di Irak juga terdapat banyak mufassirun. Guru utama mereka adalah Ibnu Mas'ud. Pusat-pusat utama mereka adalah Basra dan Kufah. Yang paling dikenal di antara mereka adalah: Al-Hasan al-Basri (w. 121/738), Masruq bin al-Ajda' (w. 63/682).
There were also many mufassirun among the tabi’un in Iraq. Their principal teacher was Ibn Mas'ud. Their main centres were Basra and Kufa. The best known among them are: Al-Hasan al-Basri (d.121/738), Masruq b. al-'Ajda' (d.63/682)
dan Ibrahim al-Nakha'i. (wafat 95 H/713 M).
and Ibrahlm al-Nakha'i. (d.95/713).
Ringkasan
Summary
Tidak ada yang dapat melebihi tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an. Setelah itu adalah riwayat-riwayat yang sahih tentang penjelasan Nabi ﷺ terhadap wahyu.
Nothing can excel the tafsir of the Qur'an by the Qur'an. This is followed by sound reports about the Prophet's explanation of the revelation.
Apa pun yang sahih dan benar dalam penjelasan Al-Qur'an dari para sahabat dan tabi'in tidak boleh ditolak, namun prinsip-prinsip berikut harus diperhatikan:
Whatever is sound and genuine in the explanation of the Qur'an by the sahaba and the tabi’un may not be rejected, but the following principles are to be observed:
Riwayat yang sahih harus dibedakan dari yang tidak sahih, karena banyak pendapat yang secara keliru dinisbatkan kepada sebagian sahabat dan tabi'in (terutama kepada Ibnu 'Abbas dan Mujahid, dua tokoh yang paling masyhur di antara mereka), yang tidak dapat ditelusuri kembali kepada mereka ketika sanadnya diteliti. Riwayat-riwayat seperti itu tentu harus ditolak.
Sound reports must be distinguished from unsound ones, for many views have been falsely attributed to some sahaba and tabi’un (especially to Ibn 'Abbas and Mujahid, the most renowned ones among them), which cannot be traced back to them when the isnad is investigated. Those reports must of course be rejected.
Materi dari ahl al-kitab, khususnya tradisi-tradisi Yahudi (isra'iliyat) [Untuk rincian, lihat di bawah, hlm. 133.] harus dipilah dan dievaluasi.
Material from the ahl-al-kitab, in particular the Jewish traditions (isra’iliyat) [For details, see below, p. 133.] must be sorted out and evaluated.
Materi yang masuk karena pertimbangan teologis, filosofis, politik, dan lainnya harus dipilah dan dievaluasi (misalnya beberapa riwayat yang dinisbatkan kepada 'Ali oleh kalangan Syiah, atau riwayat yang dinisbatkan kepada Ibnu 'Abbas oleh kalangan 'Abbasiyah, dan sebagainya).
Material which crept in due to theological, philosophical, political and other considerations, must be sorted out and evaluated (such as e.g. some Shi'a attributions to 'Ali, or 'Abbasid attributions to Ibn 'Abbas, etc.).
Materi palsu yang sengaja dimasukkan oleh musuh-musuh Islam harus dibedakan dari materi yang sahih.
False material purposely introduced by the enemies of Islam must be distinguished from sound material.
Tafsir Bi'l-ra'y
Tafsir Bi'l-ra'y
Jenis tafsir kedua, setelah tafsir bi'l-riwayah, adalah yang disebut tafsir bi'l-ra'y. Tafsir ini tidak didasarkan secara langsung pada periwayatan ilmu dari para pendahulu, melainkan pada penggunaan akal dan ijtihad.
The second kind of tafsir, after tafsir bi'l-riwaya, is the so-called tafsir bi'l-ra'y. It is not based directly on transmission of knowledge by the predecessors, but on the use of reason and ijtihad.
Tafsir bi'l-ra'y tidak berarti "penafsiran berdasarkan opini semata", melainkan penarikan suatu pendapat melalui ijtihad yang berlandaskan sumber-sumber yang sahih. Jika yang pertama telah dicela dalam hadis, yang kedua justru dianjurkan, apabila digunakan pada tempatnya sebagai ijtihad yang benar, dan hal ini juga telah disetujui oleh Nabi ﷺ, sebagaimana ketika beliau mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman.
Tafsir bi’l-ra'y does not mean 'interpretation by mere opinion', but deriving an opinion through ijtihad based on sound sources. While the former has been condemned already in the hadith, the latter is recommendable, when used in its proper place as sound ijtihad, and was also approved by the Prophet, e.g. when he sent Mu’adh bin Jabal to Yemen.
[Mishkat al-Masabih, op. cit., II, hal. 794: (Arab), Jilid 2, No. 3737.] Tafsir bi'l-ra'y, di sisi lain, telah dinyatakan haram berdasarkan hadis berikut:
[Mishkat al-masabih, op.cit., II, p.794: (Arabic), Vol. 2, No. 3737.] Tafsir bi'l-ra'y on the other hand has been declared haram on the basis of the following hadith:
Dari Ibnu ‘Abbas: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa berbicara tentang Al-Qur'an tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka" ‘. [Ibnu Taimiyah, hlm. 105, dari Tirmidzi, yang mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih.] Namun hadits ini telah dijelaskan dengan dua cara.
'From Ibn ‘Abbas: Allah's messenger said: "He who says (something) concerning the Qur'an without knowledge, he has taken his seat of fire" ‘. [Ibn Taimiya, p.105, from Tirmidhi, who says it is hasan sahlh.] However this hadith has been explained in two ways:
Bahwa tidak boleh seorang pun mengatakan tentang Al-Qur'an sesuatu yang tidak bersumber dari para sahabat atau tabi'in.
That no one should say of the Qur'an what is not from the sahaba or tabi’un.
Bahwa tidak seorang pun boleh mengatakan tentang Al-Qur'an sesuatu yang ia ketahui bertentangan dengan kebenarannya. [Sabuni.tibyan,p.174.] Makna yang jelas dari hadits ini adalah bahwa seseorang tidak boleh mengatakan sesuatu tentang Al-Qur'an tanpa memiliki pengetahuan yang memadai, yang sumber-sumbernya telah dijelaskan sebelumnya. [Al-Qur'an dijelaskan oleh Al-Qur'an, oleh Nabi ﷺ, oleh para Sahabat. Oleh para tabi'in. Oleh ijtihad yang benar.]