Adapun perbuatan-perbuatan yang berada di luar kendali manusia, yang tidak mampu ia hindari dan tidak termasuk dalam hukum-hukum alam semesta, yaitu perbuatan yang dilakukan manusia atau menimpanya tanpa kehendaknya, dan ia tidak pernah mampu menghindarinya. Contoh perbuatan tersebut adalah, jika seseorang yang berada di atas tembok secara tidak sengaja jatuh menimpa seseorang lalu membunuhnya; atau jika seseorang menembak seekor burung lalu tembakannya mengenai orang lain yang tidak ia sadari dan membunuhnya; atau jika sebuah mobil keluar dari jalan atau kereta api anjlok, atau pesawat jatuh. Semua itu terjadi karena kegagalan yang tidak terduga tanpa kemampuan pada diri pilot atau pengemudi untuk menghindari kecelakaan, sehingga menyebabkan kematian para penumpang. Semua contoh perbuatan dan sejenisnya yang terjadi dari manusia atau menimpanya ini tidak termasuk dalam hukum alam semesta, namun tetap terjadi dari manusia atau menimpanya tanpa kehendaknya, dan berada di luar kemampuannya untuk mengendalikannya. Semua perbuatan ini, yang terjadi dalam lingkup yang menguasai manusia, disebut QaDaa, karena hanya Allah (SWT) yang telah menetapkannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, manusia tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan ini, baik perbuatan tersebut tergolong bermanfaat atau berbahaya, atau apakah ia menyukainya atau tidak menyukainya, meskipun hanya Allah (SWT) yang mengetahui kebaikan dan keburukan dalam perbuatan-perbuatan tersebut, karena manusia tidak memiliki pengaruh terhadapnya. Ia tidak memiliki informasi tentangnya ataupun tentang cara terjadinya; dan ia pun tidak mampu menolak atau menghindarinya sama sekali. Maka manusia wajib beriman kepada QaDaa ini dan bahwa QaDaa ini berasal dari Allah (SWT). Adapun Qadar, jelaslah bahwa perbuatan-perbuatan yang terjadi, baik dalam lingkup yang menguasai manusia maupun dalam lingkup yang dikuasai manusia, terjadi melibatkan benda-benda di alam semesta, manusia, dan kehidupan. Allah (SWT) menciptakan sifat-sifat tertentu pada benda-benda ini. Misalnya, Dia menciptakan pada api sifat membakar, pada kayu sifat mudah terbakar, dan pada pisau sifat memotong. Dia menjadikan sifat-sifat tersebut tidak terpisahkan dari benda-benda itu sesuai dengan hukum alam semesta, sehingga sifat-sifat itu tidak berubah. Ketika tampak bahwa suatu sifat berubah, itu berarti Allah (swt) telah meniadakan sifat dari benda tersebut, dan peristiwa seperti itu tidak wajar. Inilah mukjizat-mukjizat yang terjadi pada para Nabi.
Sebagaimana Allah (swt) menciptakan sifat-sifat pada benda-benda, Dia juga menciptakan pada manusia naluri-naluri dan kebutuhan-kebutuhan jasmani. Dia menciptakan pada naluri dan kebutuhan jasmani itu sifat-sifat tertentu. Maka, Dia menciptakan pada naluri reproduksi sifat kecenderungan seksual. Dia menciptakan pada kebutuhan jasmani sifat-sifat seperti lapar, haus, dan sejenisnya. Dia menjadikan sifat-sifat ini tidak terpisahkan dari keduanya sesuai dengan hukum alam semesta.
Sifat-sifat tertentu yang Allah (swt) ciptakan pada benda-benda, naluri, dan kebutuhan jasmani ini disebut al-Qadar. Hal ini karena Allah (swt) sendirilah yang menciptakan benda-benda, naluri, dan kebutuhan jasmani, dan Dia yang menetapkan (Qaddara) sifat-sifat mereka. Sifat-sifat ini tidak diadakan oleh benda-benda itu, dan manusia tidak memiliki peran atas sifat-sifat tersebut maupun pengaruh terhadap keberadaannya. Oleh karena itu, manusia wajib beriman bahwa Allah (swt)-lah yang telah menetapkan sifat-sifat ini pada benda-benda.
Namun, sifat-sifat ini memiliki kemampuan yang dapat dilakukan manusia dengan memanfaatkannya untuk suatu perbuatan, baik sesuai dengan perintah Allah (swt) sehingga menjadi baik, atau bertentangan dengan perintah-Nya sehingga menjadi buruk. Maka ketika melakukan perbuatan dengan memanfaatkan benda-benda beserta sifatnya, atau dalam memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani, jika perbuatan itu sesuai dengan perintah dan larangan Allah (swt), perbuatan tersebut disebut perbuatan baik; dan jika bertentangan dengan perintah dan larangan Allah (swt), perbuatan tersebut disebut perbuatan buruk.
As for the actions, which are beyond man's control, which he is unable to avoid and they are not within the laws of the universe, they are the actions which man initiates, or they fall on him against his will without him ever being able to avoid them. Examples of such actions are, if someone on a wall accidentally falls on a person and thus kills that person; or if someone shoots at a bird and the shot hits a person he was not aware of and kills him; or if a car goes off the road or a train derails, or a plane crashes. All of these are due to, an unexpected failure without any ability on the part of the pilot or the driver to avoid the accident, thus causing the death of the passengers. All of these examples of actions and the like which occurred from man or fell on him, are not within the law of the universe, yet they occurred from man or on him without his will and it was beyond his ability to control them. All of these actions, which occur within the sphere that dominates man, are termed QaDaa, because Allah (swt) alone is the one who has predetermined them. Therefore, man is not reckoned about these actions, whether they are classified as beneficial, or harmful, or whether he liked or disliked them - though Allah (swt) alone knows the good and bad in these actions - because man has no influence on them. He has no information about them or the manner in which they came about; nor is he able to drive them away or avoid them at all. Man thus must believe in this QaDaa and that this QaDaa is from Allah (swt). As for Qadar, it is evident that the actions, which occur either in the sphere that dominates man or in the sphere that man dominates, occur involving objects in the universe, man and life. Allah (swt) created certain attributes in these objects. For example, He created in fire the attribute of burning, in wood the attribute of catching fire, and in the blade the attribute of cutting. He made the attributes indispensable in objects according to the law of the universe such that they do not change. When it appears that an attribute changes, it means Allah (swt) has eliminated the attribute of that object and such an event would be unnatural. These are miracles that happen to the Prophets. As Allah (swt) created attributes in the objects, He created in man instincts and organic needs. He created in the instincts and organic needs specific attributes. Hence, He created in the instinct of reproduction the attribute of sexual inclination. He created in the organic needs attributes such as hunger and thirst and the like. He made these attributes inseparable from them according to the law of the universe. These particular attributes that Allah (swt) has created in objects, instincts and organic needs are called al-Qadar. This is because Allah (swt) alone created the objects, instincts, and organic needs and predetermined (Qaddara) in them their attributes. These attributes are not brought about by the objects nor does man have anything to do with them nor an influence on their existence. Therefore, man must have iman that it is Allah (swt) who has predetermined these attributes in objects. However, these attributes have the capacity for man to perform by means of utilising them an action either according to the commands of Allah (swt) and thus it is good, or contradicting His commands and thus it is bad. So when performing actions utilising objects with their attributes or in responding to the instincts and organic needs, if (these actions) were according to the commands and prohibitions of Allah (swt) they would be termed good actions, and would be termed bad actions if they were in disagreement to the commands and prohibitions of Allah (swt).