6 Cara Membawa Dakwah Islam
6 The Way to Carry the Islamic Da’wah
Kaum Muslimin tidak tertinggal dari dunia karena keteguhan mereka pada Islam. Sebaliknya, kemunduran mereka dimulai pada hari ketika mereka meninggalkan keteguhan pada Islam ini, dan membiarkan budaya asing masuk ke negeri mereka serta konsep-konsep Barat menguasai pikiran mereka. Mereka mengalami kemunduran ketika meninggalkan kepemimpinan intelektual Islam, mengabaikan dakwahnya, dan salah menerapkan hukum-hukumnya (aHkam). Oleh karena itu, kaum Muslimin harus kembali pada cara hidup Islam jika mereka menginginkan terjadinya kebangkitan (naHDah). Namun, mereka tidak akan mampu kembali pada cara hidup Islam kecuali mereka mengemban dakwah Islam dengan memikul kepemimpinan intelektual Islam, dan mendirikan, melalui dakwah ini, sebuah Negara Islam yang pada gilirannya akan memikul kepemimpinan intelektual Islam dengan memikul seruan Islam.
The Muslims did not lag behind the world due to their adherence to Islam. On the contrary, their regression commenced the day they abandoned this adherence to Islam and they allowed the foreign culture to enter their lands and the Western concepts to occupy their minds. They declined when they abandoned the intellectual leadership of Islam, neglected its da’wah and misapplied its rules (aHkam). Therefore, the Muslims must resume the Islamic way of life if they want the revival (naHDah) to occur. However, they will not be able to resume the Islamic way of life unless they carry the Islamic da’wah by carrying the intellectual leadership of Islam, and establish, by this da’wah an Islamic State which in turn will carry the intellectual leadership of Islam by carrying the Islamic call.
Perlu dicatat bahwa memikul kepemimpinan intelektual dengan mengemban dakwah Islam untuk membangkitkan kaum Muslimin dilakukan karena Islam saja yang dapat memperbaiki dunia, dan kebangkitan yang sejati tidak dapat dicapai tanpa Islam, baik bagi kaum Muslimin maupun bagi selain mereka. Atas dasar inilah dakwah harus dilaksanakan.
It should be noted that carrying the intellectual leadership by carrying the Islamic da’wah in order to revive the Muslims is undertaken because Islam alone can reform the world, and the true revival cannot be achieved without Islam, whether for the Muslims or others. It is on this basis that the da’wah should be carried out.
Dakwah harus disampaikan kepada dunia sebagai kepemimpinan intelektual, yang darinya segala sistem bersumber, dan di atas kepemimpinan ini semua pemikiran dibangun, dan dari pemikiran-pemikiran tersebut bersumber seluruh konsep yang memengaruhi pandangan seseorang dalam hidup, tanpa terkecuali. Cara Menyampaikan Dakwah Islam (Tareeqat Hamled Da'wah)
The da’wah must be carried to the world as an intellectual leadership from which all systems emanate, and upon this leadership all thoughts are built, and from such thoughts emanate all the concepts that influence one's viewpoint in life, without exception. The Way to Carry the Islamic Da'wah (Tareeqat Hamled Da'wah)
Dakwah seharusnya dijalankan pada hari ini sebagaimana ia disampaikan pada masa lampau, dan hendaklah berjalan sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ, tanpa sedikit pun menyimpang dari metode tersebut baik dalam perincian umum maupun khususnya. Perbedaan zaman tidak boleh dijadikan pertimbangan, karena perbedaan itu hanyalah pada sarana dan bentuk. Adapun hakikat dan kenyataan hidup tidak berubah dan tidak akan berubah, meskipun zaman berlalu dan bangsa-bangsa serta tempat-tempat silih berganti.
The da’wah should be carried today as it was delivered in the past and should proceed in compliance with the example of the Messenger (saw) , without the slightest deviation from that method in its general and specific details. No regard should be given to the difference in time, for this difference amounts to nothing more than the means and forms. However, the essence and the reality of life has not and will not change, regardless of the passing of ages and changing of peoples and places.
Oleh karena itu, memikul dakwah menuntut keterusterangan, keberanian, kekuatan, pemikiran, serta menantang segala sesuatu yang bertentangan dengan fikrah dan thariqah (pemikiran dan metode) Islam, dengan menghadapinya dan membongkar kebatilannya, apa pun keadaannya dan apa pun akibatnya.
Thus, carrying the da’wah demands frankness, courage, strength, thought and to challenge all that contradicts the fikrah and tareeqah (idea and method) of Islam by facing it and exposing its falsehood, irrespective of the situation and its consequences.
Membawa dakwah Islam mengharuskan bahwa kedaulatan tertinggi (siyadah) berada pada ideologi Islam, terlepas dari apakah ia sejalan atau tidak sejalan dengan kehendak masyarakat, apakah mereka menerimanya atau menolaknya dan menentangnya, atau apakah ia sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat atau tidak.
Carrying the Islamic da’wah necessitates that the ultimate sovereignty (siyadah) belongs to the Islamic ideology, regardless of whether it agrees or disagrees with the masses and whether they accept it or reject it and oppose it, or whether it is in accordance with the people's customs or not.
Pengemban da'wah (hamil da'wah) tidak menjilat masyarakat, tidak bersikap lunak kepada penguasa, tidak mempedulikan adat dan tradisi masyarakat, dan tidak memberi perhatian sedikit pun apakah masyarakat akan menerimanya atau tidak. Sebaliknya, ia harus berpegang teguh pada mabda' (ideologi) semata dan hanya menyampaikannya, tanpa mengindahkan apa pun selain mabda' tersebut. Tidak dibolehkan memerintahkan para pengikut ideologi lain untuk tetap berpegang pada ideologi mereka. Sebaliknya, mereka diajak tanpa paksaan untuk memeluk mabda' (Islam), karena da'wah menuntut agar tidak ada mabda' lain di samping Islam, dan agar kedaulatan hanya bagi Islam.
The da’wah carrier (hameled da’wah) does not flatter the people, is not courteous to the authorities or cares for the people's customs and traditions, and does not give any attention to whether the people will accept him or not. Rather he must adhere to the ideology alone and solely express it paying no regard to anything except the ideology. It is not allowed to tell the followers of other ideologies to adhere to their ideologies. Instead, they are invited without compulsion to embrace the ideology (of Islam) because the da’wah requires that there be no other ideology alongside Islam and that the sovereignty be for Islam alone.
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya ﷺ dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (Haqq), agar dia memenangkannya atas semua agama lain, meskipun orang-orang musyrik membenci(nya). [At-Tubah: 33]
"It is He who has sent His Messenger (saw) with the guidance and deen of Haqq, to prevail over all other religions even though the idolaters may abhor it." [At-Tubah: 33]
Rasulullah ﷺ datang ke dunia ini dengan risalahnya dan secara terbuka menantang seluruh dunia. Beliau ﷺ meyakini kebenaran yang beliau ﷺ serukan kepada manusia, dan beliau ﷺ menyatakan perang terhadap bangsa merah dan hitam, yakni setiap orang, tanpa memandang tradisi, adat, agama, doktrin, penguasa, maupun rakyat jelata. Beliau ﷺ tidak mengindahkan apa pun selain risalah Islam. Beliau ﷺ memulai dakwah dengan mencela tuhan-tuhan palsu kaum Quraisy. Beliau ﷺ menantang mereka dalam doktrin mereka dan mencela mereka ketika beliau ﷺ sendirian, terasing, tanpa penolong dan tanpa senjata, kecuali keyakinan beliau ﷺ yang tak tergoyahkan dan berakar kuat pada Islam, yang beliau ﷺ serukan. Beliau ﷺ tidak peduli terhadap adat, tradisi, agama, maupun doktrin bangsa Arab. Dalam hal ini, beliau ﷺ tidak bersikap santun dan tidak memberi penghormatan apa pun kepada mereka.
The Messenger (saw) came to this world with his Message and openly challenged the whole world. He (saw) believed in the Truth he (saw) was inviting the people to and declared war against the red and black (people) i.e. everyone, irrespective of their traditions, customs, religions, doctrines, rulers and masses. He (saw) paid no attention to anything other than the message of Islam. He commenced the da’wah by discrediting the false deities of Quraysh. He (saw) challenged them in their doctrines, discredited them while he was alone, isolated, with no helper and no weapon except his unshakeable and deeply rooted conviction in Islam to which he was inviting. He (saw) did not care for the Arab customs, traditions, religions, or doctrines. In this respect, he (saw) was not courteous nor gave them any regard.
Demikian pula, pengemban dakwah harus menantang segala sesuatu. Ini mencakup menantang adat istiadat, tradisi, pemikiran dan konsep yang keliru, serta opini publik ketika itu salah, bahkan jika ia harus berjuang melawannya. Ia harus menantang doktrin-doktrin dan agama-agama, meskipun ia mungkin menghadapi fanatisme para pengikutnya dan permusuhan dari mereka yang berpegang teguh pada penyimpangan-penyimpangan mereka.
Similarly, the da’wah carrier has to challenge everything. This includes challenging the customs, traditions, erroneous thoughts and concepts, the public opinion when it is wrong even if he has to struggle against it. He has to challenge the doctrines and religions despite the fact that he might be exposed to the fanaticism of their followers and the hostility of those who stick to their distortions.
Dalam menyampaikan dakwah, diperlukan perhatian terhadap penerapan hukum-hukum Islam secara utuh tanpa sedikit pun kompromi. Pengemban dakwah tidak menerima gencatan, kompromi, kelalaian, maupun penundaan. Sebaliknya, ia memegang persoalan itu secara menyeluruh dan segera menuntaskannya secara tegas. Ia tidak menerima syafaat apa pun yang dapat menghalangi kebenaran. Rasulullah ﷺ tidak mengabulkan permintaan delegasi Tsaqif agar diizinkan mempertahankan berhala mereka, Al-Lat, selama tiga tahun sebelum dihancurkan, dan beliau juga tidak membebaskan mereka dari shalat, sebagai syarat untuk memeluk Islam. Beliau juga menolak membiarkan Al-Lat selama dua tahun atau satu bulan sebagaimana yang mereka tuntut. Beliau menolak permintaan ini dengan tegas dan mantap, tanpa keraguan maupun kelonggaran. Hal ini semata-mata karena manusia harus memilih antara beriman atau tidak, sebab akhirnya adalah surga atau neraka. Namun, Rasulullah ﷺ mengabulkan permintaan mereka agar berhala itu tidak dihancurkan oleh tangan mereka sendiri. Sebaliknya, beliau meminta Abu Sufyan dan Al-Mughirah bin Syu'bah untuk menghancurkannya. Beliau sama sekali tidak menerima sesuatu yang kurang dari aqidah yang utuh beserta tuntutan penerapannya. Adapun sarana dan bentuk pelaksanaannya, Rasulullah ﷺ menerimanya karena hal-hal tersebut tidak berkaitan dengan hakikat aqidah Islam. Oleh karena itu, harus dijaga kehati-hatian dalam menyampaikan dakwah Islam agar kesempurnaan gagasan dan kesempurnaan penerapannya tetap terjaga tanpa kompromi dalam fikrah dan thariqah. Tidak ada salahnya menggunakan wasa'il (sarana) apa pun yang dibutuhkan untuk itu.
Delivering the da’wah requires a concern for the complete implementation of the rules of Islam without the slightest concession. The carrier does not accept any truce nor concession, negligence or postponement. Instead, he maintains the matter as a whole and definitively settles it immediately. He does not accept any intercession which would obstruct the truth. Rasool Allah did not accept the request of Thaqif's delegation to be allowed to retain their idol, Allat, for three years before it was demolished, neither did he exempt them from prayer, as pre-conditions for embracing Islam. He refused also to leave Allat for two years or for one month as they had demanded. He refused this request firmly, and decisively, without any hesitation or leniency. This is simply because man has to either believe or not, after all, the result is either Paradise or Hell. However, Rasool Allah did accept their request not to have them demolish their idol by their hands. Instead, he asked Abu Sufyan and al- Mughirairah ibn Shu'abah to demolish it. He definitely did not accept anything less than the complete ‘aqeedah and what it requires of implementation. As for the means and forms of carrying this implementation, the Rasool of Allah accepted them because they are not connected with the nature of the Islamic ‘aqeedah. Therefore, care must be taken in delivering the Islamic da’wah to preserve the completeness of the idea and the completeness of its implementation without any compromise in the fikrah and Tareeqah. There is no harm in using any wasa'il (means) it demands.
Mengemban dakwah Islam mengharuskan setiap tindakannya dilakukan untuk tujuan tertentu. Pengemban dakwah harus selalu menyadari tujuan ini dan berupaya mencapainya, serta mengerahkan dirinya tanpa henti untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, pengemban dakwah tidak akan puas dengan pemikiran tanpa tindakan, dan ia akan menganggapnya sebagai filsafat yang membius dan khayalan belaka. Demikian pula, ia tidak akan puas dengan pemikiran dan tindakan yang tidak memiliki tujuan apa pun, karena menganggapnya sebagai gerak berputar-putar yang pada akhirnya berujung pada sikap apatis dan keputusasaan. Sebaliknya, pengemban dakwah harus bersikeras menghubungkan pemikiran dengan tindakan dan menyatukan keduanya dalam upaya meraih tujuan tertentu, yang akan diwujudkan secara praktis dan dihadirkan menjadi kenyataan.
Carrying the Islamic da’wah necessitates that every one of its actions be undertaken for a specific objective. The carrier should always be aware of this aim and work towards achieving it, exerting himself relentlessly to fulfil it. Therefore, the carrier would not be satisfied by thought without action and would deem it to be a hypnotic and fanciful philosophy. Likewise, he would not be satisfied by thought and action devoid of any objective, considering this to be a spiral motion which ultimately ends in apathy and despair. Instead, the da’wah carrier has to insist upon connecting the thought with action and uniting the two in working for a specific objective which will be fulfilled in a practical manner and be brought into existence.
Rasulullah ﷺ memegang kepemimpinan intelektual Islam di Makkah. Ketika beliau menyadari bahwa masyarakat di sana tidak akan menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat, beliau mulai mempersiapkan masyarakat Madinah. Di Madinah, beliau mendirikan Negara, dengan demikian menerapkan Islam, menyampaikan risalahnya, dan mempersiapkan Ummah untuk menyampaikannya setelah beliau dan untuk melanjutkan dengan cara yang sama sebagaimana yang telah beliau tempuh. Oleh karena itu, mengemban dakwah Islam dalam keadaan tidak adanya Khalifah, harus mencakup seruan kepada Islam dan kembalinya kehidupan Islami dengan berupaya mendirikan Negara Islam yang menerapkan Islam dan menyampaikan risalahnya kepada dunia. Dengan demikian, dakwah kemudian beralih dari seruan di dalam ummat untuk kembali kepada kehidupan Islami menjadi seruan kepada dunia yang dilakukan oleh Negara Islam, dan dari dakwah lokal di dunia Islam menjadi dakwah yang universal.
Rasool Allah (saw) carried the intellectual leadership of Islam in Makkah. When he realised that the society there would not make Islam the system of society, he began preparing the society of Madinah. In Madinah, he established the State, thereby implemented Islam, carried its message, and prepared the Ummah to convey it after him and to proceed in the same way he had traced. Therefore, carrying the Islamic da’wah in the situation where there is no Khaleefah, should include the call for Islam and the resumption of the Islamic way of life by working to establish the Islamic State which implements Islam and carries its message to the world. Thus, the da’wah is transferred then from a call within the ummah to resume the Islamic way of life to a call to the world carried out by the Islamic State, and from a local da’wah within the Islamic world to a universal da’wah.
Dakwah kepada Islam harus secara jelas mencakup pelurusan keyakinan-keyakinan yang berlaku di tengah masyarakat, penguatan hubungan dengan Allah (SWT), dan harus memberikan solusi bagi problem-problem umat, sehingga dakwah itu hidup dalam seluruh bidang kehidupan. Nabi ﷺ biasa membacakan kepada penduduk Makkah ayat-ayat berikut:
The call to Islam should clearly include correcting the prevalent doctrines, strengthening the relationship with Allah (swt), and it should provide solutions for the problems of the people, so that the da’wah becomes vivid in all fields of life. The Prophet (saw) would recite to the people of Makkah the following verses:
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab." [Al-Masad: 1]
"Perish the hands of Abu Lahab." [Al-Masad: 1]
Sesungguhnya ini adalah perkataan seorang utusan yang mulia ﷺ. Ini bukan perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kalian beriman. [Al-Haqqah: 40-41]
"This is verily the word of an honourable Messenger (saw). It is not the words of a poet. Little it is that you believe." [Al-Haqqah: 40-41]
"Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menakar atau menimbang dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." [Al- Mutaffifin: 1-3]
"Woe to those who deal in fraud, those who when they have to receive by measure from men, exact full measure, but when they have to give by measure or weight to men, give less than due." [Al- Mutaffifin: 1-3]
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah kemenangan yang besar (terpenuhinya segala keinginan)." [Al-Buruj: 11] Di Madinah, beliau ﷺ membacakan (ayat ini).
"For those who believe and do righteous deeds will be gardens beneath which rivers flow; that is the great salvation (the fulfilment of all desires)." [Al-Buruj: 11] In Madinah, he recited:
"Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat." [Al-Baqarah: 43]
"Establish prayer and practice regular charity." [Al-Baqarah: 43]
Beliau juga membaca:
He also recited:
"Berangkatlah kalian (dalam keadaan) ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah." [At-Taubah: 41] Dan beliau membacakan:
"Go forth (whether equipped) lightly or heavily, and strive and struggle with your property and yourselves in the cause of Allah." [At-Tauba: 41] And he would recite:
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya." [Al-Baqarah: 282]
"O you who believe, when you deal with each other in a debt for a fixed period of time, reduce it to writing." [Al-Baqarah: 282]
"Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian." [Al-Hashr: 7]
"In order that it does not become (merely) a circuit between the wealthy among you." [Al-Hashr: 7]
Tidaklah sama penghuni Neraka dengan penghuni Surga. Penghuni Surga itulah orang-orang yang beruntung. [Al-Hashr: 20]
"Not equal are the Companions of the Fire and the Companions of the Garden. The Companions of the Garden are the victorious." [Al-Hashr: 20]
Oleh karena itu, dakwah Islam harus menyampaikan kepada masyarakat sistem yang dengannya mereka dapat menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dikarenakan rahasia keberhasilan dakwah Islam adalah bahwa dakwah tersebut hidup dan menyapa manusia secara menyeluruh sebagai manusia, sehingga membawa perubahan yang menyeluruh dan mendasar pada dirinya.
Accordingly, the Islamic da’wah should carry to the people the system by which they are to solve their daily life's problems. This is because the secret to the success of the Islamic da’wah is that it is vivid and addresses man in a comprehensive manner as a human being, thereby bringing about a comprehensive and radical change in him.
Para pengemban dakwah tidak mungkin dapat memikul tanggung jawab dan menunaikan tugas-tugasnya secara efektif kecuali jika dalam diri mereka tertanam motivasi menuju kesempurnaan dan kelengkapan. Mereka harus senantiasa mencari kebenaran, terus-menerus menelaah segala yang mereka ketahui untuk memurnikan pemahaman (tentang berbagai persoalan) dari pemikiran-pemikiran asing, dan menyingkirkan dari pemahaman-pemahaman tersebut segala sesuatu yang serupa (maknanya) yang mungkin melekat padanya. Dengan demikian, ide yang mereka emban akan tetap murni dan jernih. Kemurnian dan kejernihan pemikiran adalah satu-satunya jaminan bagi keberhasilan Islam dan kesinambungan keberhasilan tersebut.
It is impossible for the da’wah carriers to carry out the responsibility and to effectively discharge their duties unless they rooted within themselves the motivation towards perfection and completeness. They should constantly search for the truth, continuously scrutinize all that they know in order to purify their understandings (of issues) from any alien thoughts, and remove away from these understandings anything close to them (in meaning) that might possibly stick to them. This will keep the idea they carry, pure and clear. The purity and clarity of the thoughts is the only guarantee for Islam's success and the continuity of this success.
Para pengemban dakwah harus memikul tugas ini sebagai kewajiban dari Allah (SWT). Mereka harus memulainya dengan semangat dan penuh suka cita, dengan mengharapkan keridhaan Allah (SWT). Mereka tidak boleh mencari imbalan duniawi atas pekerjaan mereka, dan tidak boleh mengharapkan pujian dari manusia. Mereka tidak boleh menjadikan tujuan apa pun selain mencari keridhaan Allah (SWT).
The da’wah carriers have to carry this duty as an obligation from Allah (swt). They have to embark upon it enthusiastically and delightedly expecting the pleasure of Allah (swt). They must not seek for their work any worldly reward or expect praises from people. They must acknowledge nothing except the pursuit of the pleasure of Allah (swt).