30 Akhlak dalam Islam (al-Akhlaaq fil-Islam)
30 Morals in Islam ( al-akhlaaq fil- Islam)
Islam didefinisikan sebagai din yang telah diturunkan Allah (SWT) kepada Rasul kami Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia. Hubungan manusia dengan Penciptanya berpusat pada Aqaid dan ‘Ibadat. Hubungannya dengan dirinya sendiri mencakup akhlak, makanan, dan pakaian. Sedangkan hubungannya dengan sesama manusia meliputi mu'amalat (transaksi) dan 'uqubat (hukuman).
Islam is defined as the deen which Allah (swt) has revealed to our Messenger Muhammad (saw) to organise man's relationship with his Creator, himself and with other human beings. Man's relationship with his Creator revolves around the Aqaid and ‘Ibadat. His relationship with himself includes morals, foodstuffs and clothing. While his relationship with other human beings involves mu'amalat (transactions) and 'uqubat (punishments).
Islam menangani seluruh persoalan manusia dan memandang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, Islam menyelesaikan persoalan manusia dengan satu metode. Selain itu, Islam membangun sistemnya di atas landasan spiritual, yakni akidahnya (‘aqeedah). Dengan demikian, aspek spiritual menjadi dasar bagi peradabannya (hadarah), negara, dan syariahnya. Ini adalah ejaan yang benar untuk ‘aqeedah.
Islam tackles all of man's problems and looks upon man as an indivisible whole. Consequently, it solves man's problems according to one method. Furthermore, Islam has built its system on a spiritual basis, i.e., its creed (‘aqeedah). Accordingly, the spiritual aspect is the basis of its haDarah (civilization ), state, and Shari’ah. This the right spelling of ‘aqeedah.
Meskipun Syariat Islam menjelaskan berbagai sistem secara rinci, seperti ibadah, muamalat, dan 'uqubat, Islam tidak mengajukan sistem terperinci tentang akhlak. Sebaliknya, Islam memperlakukan kaidah-kaidah akhlak sebagai perintah dan larangan dari Allah (SWT), tanpa memandang perinciannya sebagai hal yang harus mendapat perhatian khusus melebihi yang lain. Justru sebaliknya, perincian kaidahnya lebih sedikit dibandingkan kaidah-kaidah lain, dan ia tidak mendapat bab khusus dalam fikih Islam. Oleh karena itu, dalam kitab-kitab fikih yang memuat bab-bab hukum syariah, tidak ditemukan bab yang berjudul "akhlak". Lebih jauh lagi, para fuqaha dan mujtahid belum banyak memberi perhatian, dalam penggalian hukum maupun kajian, pada bidang kaidah-kaidah akhlak.
Although the Islamic Shari’ah explained the various systems in precise details, such as the ‘ibadat and mu'amalat and 'uqubat, Islam did not put forward a detailed system for the morals. Rather, it treated the rules of morals as commands and prohibitions from Allah (swt), without viewing their details as morals that should be given special care greater than others. To the contrary, the details of their rules are less than other rules and they are given no particular section in Islamic fiqh. Thus, one does not find in the books of fiqh that contain the AHkam Shari’ah chapters titled "morals". Furthermore, the Fuqaha'a and Mujtahidoon have not paid much attention, in deduction and study, to the subject area of moral rules.
Akhlak tidak memengaruhi pembangunan masyarakat, karena masyarakat dibangun di atas sistem-sistem kehidupan dan dipengaruhi oleh pemikiran serta perasaan. Akhlak tidak berpengaruh dalam membentuk masyarakat atau menentukan kebangkitan maupun kemundurannya. Faktor yang efektif adalah tradisi-tradisi umum yang muncul dari konsep-konsep tentang kehidupan. Faktor penggerak dalam masyarakat bukanlah akhlak, melainkan sistem-sistem yang diterapkan di dalamnya serta pemikiran dan perasaan yang dibawa oleh manusia. Sesungguhnya, akhlak bersumber dari pemikiran dan perasaan, dan merupakan hasil dari penerapan sistem.
Morals do not affect the building of a society, because society is built upon the systems of life and is affected by thoughts and emotions. Morals have no effect in establishing the society or determining its revival or decline. The effective factor is the general traditions which arises from the concepts about life. The driving factor in society is not morals but the systems applied within it and the thoughts and emotions people carry. Indeed, morals stem from the thoughts, emotions and result from the implementation of the system.
Oleh karena itu, karena akhlak merupakan hasil dari perintah Allah (swt) dan lahir dari seruan kepada 'aqidah serta dari penerapan Islam secara umum, maka tidak dibolehkan melakukan dakwah akhlak di tengah masyarakat. Seruan kepada akhlak sebenarnya membalikkan konsep-konsep Islam tentang kehidupan; ia menjauhkan orang dari pemahaman terhadap realitas dan unsur-unsur dasar masyarakat. Ia memberi orang rasa puas yang semu dengan keutamaan-keutamaan individual, sehingga menyebabkan diabaikannya sarana yang benar untuk kebangkitan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, menjadikan seruan Islam sebagai seruan akhlak adalah berbahaya, karena hal itu menipu orang dengan anggapan bahwa seruan Islam adalah seruan kepada moralitas, dan akibatnya menghapus karakter intelektual Islam serta mengalihkan orang dari satu-satunya metode yang mengarah kepada penerapan Islam, yaitu pendirian Negara Islam. Ketika Syari'at Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesuai dengan Ahkam Syar'iyyah yang berkaitan dengan sifat-sifat akhlak, syariat itu tidak menjadikannya sebuah sistem sebagaimana ia melakukannya terhadap ibadat dan mu'amalat. Sebaliknya, Ahkam Syar'iyyah ini memperhatikan terwujudnya nilai-nilai tertentu yang telah Allah (swt) perintahkan, seperti kejujuran, kejujuran dalam perkataan dan perbuatan, menjauhi iri hati dan tipu daya, dan lain-lain. Nilai-nilai ini hanya tercapai dengan perintah Allah (Ta'ala) berkenaan dengan nilai-nilai akhlak, seperti sifat-sifat mulia dan keutamaan. Kejujuran, misalnya, adalah sifat akhlak yang diperintahkan oleh Allah (swt). Sifat akhlaknya harus diperhatikan ketika ia dilaksanakan. Ia adalah sesuatu yang mencapai nilai akhlak, dan karena itu disebut akhlak. Namun, ketika sifat-sifat akhlak ini dihasilkan sebagai akibat dari perbuatan dan transaksi, seperti kesucian yang dihasilkan dari shalat, dan kejujuran yang dihasilkan dari perdagangan, maka nilai akhlak tersebut tidak tercapai, karena tujuannya ketika melakukan perbuatan itu bukanlah untuk mencapai nilai akhlak. Sebaliknya, sifat-sifat yang diperoleh sebagai hasil dari melaksanakan amalan-amalan ini dengan memperhatikan kewajiban atas aturan-aturannya adalah akhlak mulia seorang mukmin ketika ia beribadah kepada Allah (SWT) dan melakukan transaksinya. Dalam salat, seorang mukmin mencapai tujuan utama, yaitu memperoleh nilai spiritual, dan dalam berdagang, seorang mukmin mencapai tujuan memperoleh nilai materi, sementara pada saat yang sama ia dihiasi dengan akhlak yang baik.
Accordingly, since morals are the product of Allah's (swt) commands and they ensue from the call to the ‘aqeedah and from the implementation of Islam in general, it is impermissible to carry da’wah for morals in society. The call for morals actually reverses the Islamic concepts about life; it keeps people away from understanding the reality and the basic elements of society. It gives people a false satisfaction with individualistic virtues and thus leads to the negligence of the true means of the revival in life. Therefore, to turn the Islamic call into a call for morals is dangerous, for it deludes people into thinking the Islamic call is a call for morality and, consequently, obliterates the intellectual character of Islam and diverts people away from the only method that leads to the application of Islam, i.e. the establishment of the Islamic State. When the Islamic Shari’ah tackled man's relationship with himself, in accordance with the AHkam Shara’iah connected with the moral characteristics, it did not make that a system as it did with the ibadat and mu'amalat. Instead, these AHkam Shari’ah check spellingobserved the fulfilment of certain values which Allah (swt) has commanded, such as truthfulness, honesty, shunning envy and deceit etc. These values are achieved only by the command of Allah (taala) in respect to moral values, such as noble characteristics and virtues. Honesty, for instance, is a moral quality commanded by Allah (swt). Its moral quality should be observed - when it is enacted. It is something which achieves the moral value and so it is called a moral. However, when these moral characteristics are produced as a result of actions and transactions, like purity produced from prayers, and honesty produced from trading, the moral value is not attained, because the aim was not to achieve the moral value when undertaking the action. Rather, the characteristics accrued as a result of performing these actions with the obligatory observance of their rules are moral characteristics of the believer when he worships Allah (swt) and undertakes his transactions. In prayer, the believer fulfils the primary aim of obtaining the spiritual value, and in trading the believer fulfils the aim of achieving the materialistic value while he is characterised with moral characters at the same time.
Syariat telah menetapkan sifat-sifat yang keberadaannya pada seseorang dianggap memiliki akhlak yang baik, dan sifat-sifat yang keberadaannya pada seseorang dianggap memiliki akhlak yang buruk. Syariat mendorong untuk memiliki akhlak yang baik dan melarang akhlak yang buruk. Syariat mendorong kejujuran, keikhlasan, keceriaan, rasa malu, berbakti kepada orang tua, menjalin hubungan baik dengan kerabat (silaturahim), menolong orang dari kesulitan, dan menginginkan untuk orang lain apa yang diinginkan untuk diri sendiri, dan sebagainya. Syariat memandang hal-hal ini dan semacamnya sebagai dorongan bagi manusia untuk mengikuti perintah Allah (SWT). Sementara itu, syariat melarang memiliki sifat-sifat yang bertentangan, seperti: dusta, ketidakjujuran, iri hati, kebejatan, dan sejenisnya, dan memandang hal-hal ini dan semacamnya sebagai larangan terhadap apa yang Allah (SWT) haramkan.
The shar’a has identified those virtues, the possessor of which is considered to have good morals, and those characteristics the possessor of which is considered to have bad morals. It has encouraged acquiring good morals, and has forbidden bad morals. It has encouraged truthfulness, honesty, cheerfulness, modesty, honouring parents, good relationships with relatives (silaat ur rahm), rescuing people from hardships, and wishing for others what one wishes for himself, etc. The shar’a considers these matters and the like as encouragement to people to follow the commands of Allah (swt). While it has forbidden the acquisition of opposing characteristics, such as: lying, dishonesty, envy, debauchery and the like and considers these matters and the like as prohibition of what Allah (swt) forbade.
Akhlak merupakan bagian dari syariat ini dan cabang dari perintah serta larangan yang harus diwujudkan oleh seorang Muslim dalam dirinya agar ia menyempurnakan pengamalan Islamnya dan perintah Allah (swt). Namun, cara seluruh masyarakat mencapai akhlak tersebut adalah dengan menegakkan emosi dan pemikiran Islami. Apabila masyarakat telah mencapainya, maka individu-individunya pasti akan memperolehnya. Sungguh, cara memperoleh akhlak bukanlah melalui seruan kepada akhlak itu sendiri, melainkan melalui cara yang disebutkan di atas, yaitu menegakkan pemikiran dan emosi. Namun, untuk memulai proses ini diperlukan persiapan sekelompok orang oleh Islam dalam bentuknya yang sempurna, di mana individu-individu menjadi bagian dari kelompok dan bukan individu-individu yang berdiri sendiri, untuk membawa dakwah Islam yang sempurna di tengah masyarakat, sehingga melahirkan emosi dan pemikiran Islami. Hal ini membuat orang-orang memeluk akhlak dalam kelompok-kelompok besar sebagai hasil dari mereka memeluk Islam dalam kelompok-kelompok besar. Perlu dipahami bahwa pandangan kami ini menjadikan akhlak terikat secara mutlak dengan perintah Allah (swt) dan penerapan Islam, dan menegaskan wajibnya seorang Muslim memiliki akhlak yang baik.
Morals are a part of this Shari’ah and a branch of the commands and prohibitions which a Muslim should verify in oneself so as to complete his observance of Islam and the commands of Allah (swt). However, the way in which the whole society attains these morals is by establishing the Islamic emotions and thoughts. Once the community has attained them, the individuals will inevitably acquire them. Most definitely, the way to acquire morals is not through the call to morals in itself, but by the way mentioned above which is establishing the thoughts and emotions. However, the initiation of this process necessitates the preparation of a group by Islam - in its complete form wherein the individuals are part of the group and not independent individuals - to carry the complete Islamic da’wah in the society, and thus bring into existence the Islamic emotions and thoughts. This makes the people embrace morals in huge groups as a result of their embracing Islam in huge groups. It is necessary to understand that this our view that makes morals unconditionally attached to the commands of Allah (swt) and to the application of Islam, and confirms the necessity that the Muslim acquires good morals.
Allah (swt) telah menyebutkan dalam banyak surah Al-Qur'an yang mulia sifat-sifat yang seharusnya dimiliki dan diusahakan oleh manusia. Sifat-sifat ini meliputi 'aqidah, ibadat, mu'amalat, dan akhlak. Keempat sifat ini seharusnya membentuk satu kesatuan yang utuh.
Allah (swt) has mentioned in many surahs of the Glorious Qur'an those characteristics which man should acquire and endeavour to possess. These characteristics consist of the '’aqeedah, ibadat, m’uamalat and morals. These four characteristics should form an integrated whole.
Allah (SWT) berfirman dalam Surat Luqman:
Allah (swt) says in Surat Luqman:
Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam memberi pelajaran: "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." Dan Kami wasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, (maka Kami perintahkan) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Tetapi jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, lalu Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. "Wahai anakku! (kata Luqman), sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Wahai anakku! Dirikanlah shalat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." [Luqman: 13-19]
"Behold, Luqman said to his son by way of instruction: Oh my son! Join not in worship (others) with Allah, for false worship (polytheism) is indeed the highest wrong-doing. And we have enjoined on man (to be good) to his parents, in travail upon travail did his mother bear him, and in years twain was his weaning, (hear the command) show gratitude to Me and to your parents, to Me is (your final) Goal. But if they strive to make you join worship with Me things of which you have no knowledge, obey them not, yet bear their company in this life with justice (and consideration), and follow the way of those who turn to Me (in love), in the end the return of you all is to Me, and I will tell you the truth (and meaning) of all that you did. O my son! (said Luqman), if there be (but) the weight of a mustard seed and it were (hidden) in a rock, or (anywhere) in the heavens or on earth, Allah will bring it forth: For Allah understands the finest mysteries, (and) is well acquainted (with them). O my son! establish regular prayer, enjoin what is just, and forbid what is wrong, and bear with patient constancy whatever happens to you, for this is firmness (of purpose) in (the conduct of) affairs. And swell not your cheek (for pride) at men, nor walk in insolence through the earth, for Allah loves not any arrogant boaster. And be moderate in your pace, and lower your voice, for the harshest of sounds without doubt is the braying of the ass." [Luqman: 13-19]
Allah (SWT) berfirman dalam Surat al-Furqan:
Allah (swt) says in Surat al-Furqan:
"Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka berkata: Salam!"
"And the servants of (Allah) most Gracious are those who walk on the earth in humility, and when the ignorant (people) address them, they say, Peace!.
Mereka yang menghabiskan malam dengan beribadah kepada Tuhan mereka, bersujud dan berdiri. Mereka yang berkata, "Ya Tuhan kami! Jauhkanlah dari kami azab Neraka Jahannam, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang amat dahsyat." Sesungguhnya Neraka Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat tinggal. Mereka yang apabila membelanjakan harta, tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya secara wajar. Mereka yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan demikian, niscaya dia mendapat dosa(nya). Azabnya akan dilipatgandakan pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Barangsiapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. Mereka yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila melewati perbuatan yang sia-sia, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan diri. Mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak tersungkur di hadapannya seolah-olah tuli dan buta. Dan mereka yang berdoa, "Ya Tuhan kami! Anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." Mereka itulah yang akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan keselamatan. Mereka kekal di dalamnya. Alangkah indahnya tempat menetap dan tempat tinggal itu! [Al-Furqan: 63-76]
Those who spend the night in adoration of their Lord prostrating and standing. Those who say, Our Lord! Avert from us the Wrath of Hell, for its Wrath is indeed an affliction grievous; Evil indeed is it as an abode, and as a place to rest in; Those who, when they spend, are not extravagant and not niggardly, but hold just (balance) between those (extremes); Those who invoke not, with Allah, any other god, nor slay such life as Allah has made sacred, except for just cause, nor commit fornication, and any that does this (not only) meets punishment; (But) the Penalty on the Day of Judgment will be doubled to him, and he will dwell therein in disgrace; Unless he repents, believes, and works righteous deeds, for Allah is oft-forgiving, most merciful; And whoever repents and does good has truly turned to Allah with an (acceptable) conversion; Those who witness no falsehood, and, if they pass by futility, they pass by it with honorable (avoidance); Those who, when they are admonished with the Signs of their Lord, droop not down at them as if they were deaf or blind; And those who pray; Our Lord! Grant unto us wives and offspring who will be the comfort of our eyes, and give us (the grace) to lead the righteous; Those are the ones who will be rewarded with the highest place in heaven, because of their patient constancy; therein shall they be met with salutation and peace; Dwelling therein, how beautiful an abode and place of rest!" [Al-Furqan: 63-76]
Allah (SWT) berfirman dalam Surat al-Israa:
Allah (swt) says in Surat al-Israâa:
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, dan agar kamu berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah", dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidik aku waktu kecil." Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali (kepada-Nya) dengan penuh ketaatan. Dan berikanlah kepada kerabat haknya, begitu pula kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut. Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah engkau terlalu mengulurkannya, yang akibatnya engkau menjadi tercela dan menyesal. Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah dia melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga dia mencapai usia dewasa. Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya. "Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang lurus; itulah yang lebih baik dan lebih bagus akibatnya." [Al-Israâa: 23-35]
"Thy Lord has decreed that you worship none but Him, and that you be kind to parents. Whether one or both of them attain old age in your life, say not to them a word of contempt, nor repel them, but address them in terms of honor. And out of kindness, lower to them the wing of humility, and say: My Lord! Bestow on them Thy Mercy even as they cherished me in childhood. Your Lord knows best what is in your hearts: If you do deeds of righteousness, verily He is Most Forgiving to those who turn to Him again and again (in true penitence). And render to the kindred their due rights, as (also) to those in want, and to the wayfarer: But squander not (your wealth) in the manner of a spendthrift. Verily spendthrifts are brothers of the Evil Ones, and the Evil One is to his Lord (Himself) ungrateful. And even if you have to turn away from them in pursuit of the Mercy from thy Lord which you do expect, yet speak to them a word of easy kindness. Make not your hand tied (like a niggard's) to your neck, nor stretch it forth to its utmost reach, so that you become blameworthy and destitute. Verily thy Lord does provide sustenance in abundance for whom He pleases, and He provides in a just measure. For He does know all His servants. Kill not your children for fear of want. We shall provide sustenance for them as well as for you. Verily the killing of them is a great sin. Nor come nigh to adultery, for it is a shameful (deed) and an evil, opening the road (to other evils). Nor take life - which Allah has made sacred - except for just cause. And if anyone is slain wrongfully, we have given his heir authority (to demand Qisas or to forgive); but let him not exceed bounds in the matter of taking life; for he is helped ( by the Law). Come not nigh to the orphan's property except to improve it, until he attains the age of full strength; and fulfill (every) engagement, for (every) engagement will be inquired into (on the Day of Reckoning). Give full measure when you measure, and weigh with a balance that is straight; that is the most fitting and the most advantageous in the final determination." [Al-Israâa: 23-35]
Ayat-ayat dalam ketiga surah ini membentuk satu kesatuan yang utuh, yang menjelaskan berbagai keutamaan, memperjelas karakter seorang Muslim, dan menunjukkan kepribadian Islam dalam identitasnya yang unik dan istimewa. Terlihat jelas bahwa ayat-ayat tersebut berisi perintah dan larangan dari Allah (swt). Sebagian di antaranya adalah hukum yang berkaitan dengan ibadah, sementara sebagian lain adalah hukum yang berkaitan dengan muamalat dan akhlak. Selain itu, ayat-ayat tersebut tidak terbatas pada sifat-sifat akhlak saja, melainkan juga mencakup akidah, ibadah, muamalat, serta akhlak. Semua itu merupakan karakteristik yang membentuk kepribadian Islam. Oleh karena itu, membatasi pembahasan hanya pada akhlak tidak akan melahirkan manusia yang sempurna dan kepribadian Islam. Lebih dari itu, akhlak harus dibangun di atas landasan spiritual, yaitu akidah Islam, agar dapat mencapai tujuan yang menjadi alasan keberadaannya. Dengan demikian, pembentukan karakter melalui akhlak harus dibangun di atas akidah ini. Seorang Muslim tidak berkarakter jujur semata-mata demi kejujuran itu sendiri, melainkan karena Allah (swt) memerintahkan Muslim untuk memiliki sifat mulia ini, meskipun ia juga berupaya meraih nilai moral dalam berkata benar. Dengan demikian, akhlak tidak diperoleh sebagai tujuan pada dirinya sendiri, melainkan karena Allah (swt) telah memerintahkannya.
The verses in these three surahs represent one complete whole that elucidates the different virtues, clarifies the Muslim character and demonstrates the Islamic personality in its unique and distinguished identity. It is noticeable that these verses are commands and prohibitions from Allah (swt). Some of which are rules connected to 'ibadal; while others are rules connected to m’uamalat and akhlaq. Furthermore, the verses were not confined to moral attributes but they also included Aqaid, ‘ibadat and m’uamalat, as well as akhlaq. They are the characteristics that constitute the Islamic personality. Therefore, confining the subject matter to morals alone will not produce the perfect man and the Islamic personality. Moreover, the morals should be built on the spiritual basis, i.e., the Islamic ‘aqeedah, if they are to achieve the goal for which they exist. Thus the characterisation by it must be built on this ‘aqeedah. The Muslim is not characterised by truthfulness for the sake of truthfulness in itself but because Allah (swt) commanded the Muslim to acquire this virtue, although he seeks to achieve the moral value in telling the truth. Thus morals are not acquired as such for themselves but because Allah (swt) commanded them.
Oleh karena itu, seorang Muslim harus memiliki sifat-sifat akhlak yang mulia dan melaksanakannya dengan patuh dan tunduk, karena akhlak berkaitan dengan takwa, sebab akhlak lahir dari ibadah.
Accordingly, the Muslim should be characterised with moral virtues and perform them obediently and submissively for they are linked with taqwa since morals result from ‘I'badat:
"Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar," [Al-Ankabut: 45]
"Prayer forbids lewdness and abomination," [Al-Ankabut: 45]
dan diamalkan dalam muamalat "Agama itu adalah muamalah" (yakni cara seseorang memperlakukan orang lain), di samping adanya perintah dan larangan yang bersifat khusus, maka hal itu memperkuat akhlak tersebut dalam diri seorang Muslim dan menjadikannya sifat yang tak terpisahkan dari karakternya. Oleh karena itu, penyatuan akhlak dengan sistem-sistem kehidupan lainnya, meskipun ia merupakan karakteristik yang berdiri sendiri, memungkinkan seorang Muslim dipersiapkan secara menyeluruh dan benar, terutama dalam memperoleh suatu akhlak sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah (swt) atau dalam menjauhi larangan-larangan-Nya (swt), bukan karena akhlak tersebut mendatangkan manfaat atau mudarat dalam kehidupan dunia ini. Hal ini membuat perolehan akhlak yang baik menjadi kekal dan teguh selama seorang Muslim terus menerapkan Islam dan tidak berporos pada manfaat. Sebab tujuan akhlak bukanlah manfaat, melainkan nilai akhlak itu diperoleh demi dirinya sendiri, dan bukan demi nilai-nilai materialistik, kemanusiaan, atau spiritual. Nilai-nilai tersebut tidak boleh dilibatkan dalam nilai akhlak agar tidak terjadi kekacauan dalam pelaksanaannya atau dalam perolehannya. Selain itu, perhatian harus diberikan pada kenyataan bahwa nilai materialistik harus dipisahkan dari akhlak. Demikian pula, melaksanakan akhlak demi keuntungan dan manfaat harus dihindari, karena hal itu merupakan bahaya bagi akhlak tersebut.
and are observed during m’uamalat "Religion is the treatment" (i.e. how you treat others), in addition to their being specific commands and prohibitions, then this reinforces them in the Muslim and makes them an indispensable attribute of his character. Therefore, the merging of the morals with the rest of life's systems - though they are independent characteristics - allows the Muslim to be thoroughly and correctly prepared, especially the acquisition of a moral is in response to the commands of Allah (swt) or in avoiding His (swt) prohibitions, and not because such a moral benefits or harms in this life. This makes the acquisition of good morals permanent and resolute as long as the Muslim continues to apply Islam and does not revolve around benefit. This is because the objective of morals is not benefit, but the moral value is acquired for itself and not for materialistic, humanitarian or spiritual values. These values should not be involved in the moral value so as no disorder occurs in performing it or acquisition of them. Moreover, the attention must be paid to the fact that the materialistic value has to be separated from the morals. Likewise performing the moral for the sake of gains and benefits should be avoided, for it constitutes a danger unto it.
Sebagai kesimpulan, akhlak bukanlah pilar dasar masyarakat, melainkan bersifat individualistik. Oleh karena itu, masyarakat tidak diperbaiki oleh akhlak, melainkan oleh pemikiran Islam dan perasaan Islam, serta oleh penerapan sistem-sistem Islam. Meskipun akhlak merupakan salah satu unsur dasar individu, akhlak bukanlah dan tidak seharusnya menjadi satu-satunya unsur; akhlak harus disertai dengan aqa'id, ‘ibadat, dan mu'amalat. Maka, individu yang memiliki akhlak yang baik tetapi ‘aqidahnya tidak Islami tidak layak mendapat pertimbangan, karena ia adalah seorang kafir, dan tidak ada dosa yang lebih besar daripada kufur. Demikian pula, orang yang berakhlak baik tetapi tidak melaksanakan ‘ibadat dan tidak mempraktikkan mu'amalat sesuai dengan Ahkam Syar'iah, tidak diberi perhatian apa pun. Oleh karena itu, dalam membina individu, sangat penting untuk memperhatikan ‘aqidah, ‘ibadat, mu'amalat, dan akhlak. Haram hukumnya hanya memperlakukan akhlak dan mengabaikan karakteristik lainnya. Selain itu, dilarang memberi perhatian kepada hal apa pun sebelum memiliki keyakinan penuh terhadap ‘aqidah. Ciri fundamental akhlak adalah bahwa ia harus dibangun di atas ‘aqidah Islam, dan bahwa seorang mukmin harus dicirikan dengannya sebagai perintah dan larangan dari Allah (SWT).
In conclusion, morals do not constitute fundamental pillars of a society, but rather they are individualistic. Consequently, society is not bettered by morals but by Islamic thoughts and Islamic emotions, and by the implementation of the Islamic systems. Although morals constitute one of the basic elements of the individual, they are not and should not constitute the sole ones; morals should be accompanied by the aqa'id, ‘ibadat and m’uamalat. Therefore, the individual who possesses good morals but his ‘aqeedah is not Islamic warrants no consideration as he is a Kafir, and there is no sin bigger than Kufr. Likewise, the person who has good morals but does not perform the ‘ibadat nor practices m’uamalat according to the AHkam Shara’iah, is not given any regard. Consequently, it is essential to observe the ‘aqeedah, the ‘ibadat, the m’uamalat and the akhlaq in reforming an individual. It is haram to treat morals alone and to leave the other characteristics. Moreover, it is forbidden to give attention to anything before having full confidence in the ‘aqeedah. The fundamental feature of morals is that they should be built upon the Islamic ‘aqeedah and that the believer should be characterised with them as commands and prohibitions from Allah (swt).