29 Menguasai Semenanjung
29 Dominating the Peninsula
Ekspedisi Tabuk memungkinkan Rasulullah ﷺ mengamankan perbatasan negara, sehingga musuh-musuh menganggap serius negara tersebut. Ekspedisi ini juga menjadi teladan bagi seluruh penerus beliau ﷺ untuk diikuti dalam menyampaikan risalah Islam kepada dunia luar.
The raid on Tabuk enabled the Messenger of Allah (pbuh) to secure the frontiers of the State which led the enemies to take the State seriously. It also set the example for all of his (pbuh) successors to emulate in order to carry the Message of Islam to the outside world.
Segera setelah Rasulullah ﷺ kembali dari ekspedisi Tabuk, seluruh wilayah selatan Semenanjung, dari Yaman, Hadramaut, dan ‘Oman, datang dan menyatakan keislaman mereka kepada beliau. Mereka tunduk pada kekuasaan dan otoritas Negara Islam.
As soon as Allah’s Messenger (pbuh) returned from the raid on Tabuk the whole of the south of the Peninsula from Yemen, Hadramaut and ‘Oman came and declared their Islam to him. They submitted to the rule and authority of the Islamic State.
Pada tahun kesembilan Hijrah, para utusan dengan penuh harap datang kepada Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keislaman mereka dan keislaman kaum mereka. Peristiwa ini menandai dominasi penuh Negara Islam atas Semenanjung Arab. Satu-satunya ancaman internal yang tersisa adalah kaum musyrik, yang masih dibiarkan menyembah berhala mereka dan melaksanakan haji ke Baitullah karena perjanjian yang telah dibuat Rasulullah ﷺ dengan mereka. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa orang-orang tidak boleh dilarang mengunjungi Baitullah, dan mereka tidak boleh disakiti selama bulan-bulan haram.
In the ninth year of Hijrah, the delegates anxiously went to the Messenger of Allah (pbuh) to declare their Islam and that of their people. This marked the total dominance of the Islamic State over the Arabian Peninsula. The only internal threat which remained were the polytheists who had been allowed to continue worshipping their idols and performing the pilgrimage to the Sacred House of Allah due to the agreement that the Messenger of Allah (pbuh) had made with them. The agreement stated that the people were not to be forbidden from visiting the Sacred House, nor were they to be harmed during the sacred months.
Namun, keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus berlanjut. Bagaimana mungkin Rumah Suci dapat menampung orang-orang dengan keyakinan yang saling bertentangan, yang satu merendahkan yang lain? Bagaimana mungkin dua keyakinan yang bertentangan dapat berkumpul di sekitar Rumah Allah, ketika salah satu keyakinan itu telah menyebabkan dihancurkannya berhala-berhala keyakinan yang lain? Lebih serius lagi, dapatkah para penganut agama yang berseberangan dibiarkan begitu saja, sementara seluruh masyarakat lainnya telah tunduk kepada otoritas Negara Islam dan keesaan Allah I? Jelas, kemusyrikan telah menjadi sesuatu yang tidak lagi sesuai dengan zaman dan merupakan ancaman bagi persatuan masyarakat, sehingga harus diberantas. Berkenaan dengan kaum musyrikin, Allah (swt) menurunkan surah at-Taubah kepada Rasulullah ﷺ setelah peperangan Tabuk dan ketika haji yang dipimpin Abu Bakar sedang berlangsung. Rasulullah ﷺ memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan memintanya untuk menyusul Abu Bakar di Makkah, di mana ia diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang baru itu kepada orang-orang. ‘Ali pergi ke sana dan menemui orang-orang. Kemudian ia, dengan Abu Hurairah di sampingnya, berdiri dan membacakan dari Al-Qur’an,
However, this state of affairs could not be allowed to last, for how could it be that the Sacred House would be able to play host to people of contradictory beliefs, one despising the other? How would it be possible for two conflicting beliefs to come together around the House of Allah when one of those beliefs had led to the destruction of the others’ idols? More seriously still, could the adherents of the opposing faith be left to their own devices while the rest of society had submitted to the authority of the Islamic State and the oneness of Allah I? Clearly, polytheism had become an anachronism and a danger to the unity of society and thus it had to be eradicated. Concerning the polytheists, Allah (swt) revealed the Surah of al-Taubah to the Messenger of Allah (pbuh) after the raid on Tabuk and once the Hajj led by Abu Bakr was underway. The Messenger of Allah (pbuh) summoned ‘Ali ibn Abi Talib and asked him to join Abu Bakr in Makkah where he was instructed to address the people with the new revelation. ‘Ali went there and met with the people. Then he, with Abu Hurayrah next to him, arose and recited from the Qur’an,
Kebebasan dari segala ikatan perjanjian (diumumkan) dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kalian telah mengadakan perjanjian dengan mereka. {Q.S. At-Taubah, 9:1}
“Freedom from all obligations (is declared) from Allah and His Messenger to those of the “Mushrikun”, with whom you made a treaty.” [At-Tauba, 9:1].
hingga sampai pada titik di mana Allah (SWT) berfirman,
until he reached the point where Allah (swt) says,
"Dan perangilah kaum musyrikin semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." [At-Taubah, 9:36].
“And fight against the Mushrikun collectively, as they fight against you collectively. But know that Allah is with those who are Al-Muttaqun.” [At-Tauba, 9:36].
Ketika 'Ali selesai membacakan ayat-ayat ini, ia berhenti sejenak, lalu berseru, "Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada orang kafir yang akan masuk surga, tidak ada orang musyrik yang berhaji setelah tahun ini, dan tidak seorang pun boleh thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Setelah itu tidak ada perjanjian kecuali bagi mereka yang memiliki perjanjian dengan Rasulullah ﷺ untuk suatu masa; ia boleh menjalankannya hingga masa yang telah ditentukan itu." 'Ali mengumumkan keempat perintah ini, kemudian ia memberi orang-orang empat bulan untuk kembali ke negeri mereka masing-masing. Setelah tahun itu, tidak pernah lagi ada orang musyrik yang berhaji, dan tidak seorang pun thawaf mengelilingi Baitul Haram dalam keadaan telanjang.
When ‘Ali finished reciting these verses he paused for awhile and then shouted, “O people, verily no disbeliever will enter paradise, no polytheist will go on pilgrimage after this year and nobody should circumambulate the House naked. Afterwards there will be no covenant except for those who had an agreement with the Messenger of Allah (pbuh) for a period, he can have it for that specified period.” ‘Ali declared these four orders and then he gave the people four months in which to return to their homes. Never again after that year did any polytheist go on the pilgrimage nor did anyone ever circumambulate the Sacred House naked.
Firman Allah kini telah meliputi seluruh Semenanjung Arab melalui perantaraan Negara Islam yang baru didirikan, yang dasarnya adalah ‘Aqidah Islam sebagaimana diturunkan oleh Pencipta, Allah (swt), dan tetap demikian. Dengan turunnya Surah Bara’ah (At-Taubah), surah terakhir, maka penghapusan kemusyrikan di Semenanjung Arab serta pendirian dan penegakan Negara Islam telah sempurna. Segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam telah diberantas, dan segala kekuasaan selain Negara Islam telah dihapuskan. Dengan demikian, landasan bagi menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia pun telah kokoh diletakkan.
The Word of Allah had now engulfed the whole of the Arabian Peninsula through the agency of the newly established Islamic State which was, and remained, based on the Islamic ‘Aqeedah as revealed by the Creator, Allah (swt). With the revelation of Surah Bara’ah (Taubah) , the last Surah, the abolition of polytheism in the Arabian Peninsula and the founding and establishment of the Islamic State was complete. All thoughts contradictory to Islam were eradicated, and all authorities other than the Islamic State were wiped away. The grounds for carrying the Message of Islam to the rest of mankind were thus firmly laid.