40 Invasi Misionaris
40 The Missionary Invasion
Eropa memulai invasinya ke Negara Islam atas nama ilmu pengetahuan, dan menyediakan anggaran besar untuk tujuan tersebut. Pada kenyataannya, invasi itu bersifat kolonial secara terselubung, tetapi disamarkan sebagai kerja misionaris atas nama ilmu pengetahuan dan bantuan kemanusiaan. Invasi ini dirancang agar departemen intelijen politik dan departemen penjajahan budaya dapat menetap di negeri-negeri Muslim hingga keduanya menjadi jantung dan ujung tombak mesin penjajahan Barat. Penjajahan dimulai ketika dunia Islam membuka pintu-pintunya bagi budaya Barat melalui kedok perkumpulan misionaris, yang sebagian besar berasal dari Prancis, Inggris, dan Amerika.
Europe began its invasion of the Islamic State in the name of science and it appropriated large budgets for that purpose. In fact, the invasion was covertly colonial, but disguised as missionary work in the name of science and humanitarian aid. This invasion was designed to enable the departments of political intelligence and cultural colonization to settle in Muslim countries until they became the heart and spearhead of the Western colonial juggernaut. Colonization began when the Muslim world opened its gates to Western culture via the guise of missionary associations, which were mainly French, English and American.
Akibatnya, pengaruh Prancis dan Inggris masuk ke dunia Muslim melalui misi-misi ini. Pengaruh tersebut justru menjadi pendorong gerakan-gerakan nasionalis, yang mendorong Pan-Arabisme dan Pan-Turkisme, serta berperan dalam mengarahkan kaum Muslim terpelajar ke arah Barat. Ada dua tujuan utama di balik hal ini. Pertama, memisahkan bangsa Arab dari Negara ‘Utsmani, yang mereka namai Turki, untuk membangkitkan rasisme, sehingga semakin merobek tatanan Negara Islam. Kedua, menjauhkan kaum Muslim dari ikatan Islam yang sejati, karena mereka tidak lagi mengenal ikatan lain.