Hambatan-Hambatan dalam Mendirikan Negara
47 Obstacles in Establishing the State
Menegakkan kembali Negara Islam sama sekali bukanlah tugas yang mudah atau sederhana. Ada beberapa rintangan besar yang harus lebih dahulu disingkirkan dan dibongkar, dan ada beberapa kesulitan besar yang menghadang dilanjutkannya kembali cara hidup Islam yang juga harus diatasi. Hal ini karena persoalannya bukan sekadar adanya suatu negara biasa, juga bukan pendirian sebuah negara yang hanya menyebut dirinya Islami. Persoalannya sesungguhnya adalah adanya Negara Islam yang menerapkan Islam sebagai sistem yang bersumber dari ‘Aqidah Islam, sebuah Negara yang menerapkan Islam sesuai dengan hukum-hukum Syari’ah, karena itulah hukum-hukum Allah (SWT). Dengan demikian, cara hidup Islam pada awalnya akan dilanjutkan kembali di dalam negeri, dan Risalah Islam kemudian akan disampaikan kepada seluruh bangsa di luar negeri.
Reestablishing the Islamic State is by no means an easy or straightforward task. There are several colossal obstacles facing the re-establishment of the Islamic State which first need to be removed and dismantled, and there are several major difficulties standing in the way of the resumption of the Islamic way of life which also need to be overcome. This is so because the issue is not merely the existence of just any state, nor the founding of a state simply calling itself Islamic. The issue is in fact the existence of the Islamic State which implements Islam as a system emanating from the Islamic ‘Aqeedah, a State which implements Islam according to the Shari’ah rules, since these are the rules of Allah (swt). Thus, the Islamic way of life would initially be resumed at home and the Islamic Message would come to be conveyed to all the peoples abroad.
Negara Islam ini harus didirikan di atas konsep dan perasaan Islam, berlandaskan 'Aqidah Islam. Pola pikir Islam, yang dipelihara oleh pemikiran Islam dan dibentuk secara rasional oleh ideologi serta metode Islam, harus ada pada warga negaranya. Dorongan untuk menaati Syari'ah harus berasal dari dalam diri. Watak Islami seperti ini akan menjamin pelaksanaan sistem dan aturannya secara sukarela, dengan semangat, gairah, dan ketenangan batin.
This Islamic State should be founded upon the Islamic concepts and emotions, grounded in the Islamic ‘Aqeedah. The Islamic mentality, nurtured by Islamic thought and rationally shaped by the Islamic ideology and method should be present in its citizenry. The incentives to adhere to the Shari’ah should originate from the inner self. This Islamic disposition would ensure the voluntary implementation of the system and its rules with passion, zeal and peace of mind.
Negara ini harus bersifat Islami, baik pada tingkat umat maupun pada tingkat para penguasa. Negara ini harus Islami dalam seluruh aspek kehidupannya, dengan memastikan kembalinya cara hidup Islam sedemikian rupa sehingga memungkinkannya menyampaikan Risalahnya kepada seluruh dunia. Hal ini pada gilirannya akan memungkinkan orang-orang non-Muslim menyaksikan cahaya Islam dari dalam negaranya, sehingga mereka masuk ke dalam Dien Allah (SWT) berbondong-bondong.
This State must be Islamic both at the level of the Ummah and that of the people in authority. It must be Islamic in all aspects of its life, securing the resumption of the Islamic way of life in a manner which would enable her to carry its Message to the whole world. This in turn would enable the non- Muslims to witness the light of Islam from within its State so that they enter the Deen of Allah (swt) in flocks.
Inilah sebabnya mengapa kesulitan-kesulitan yang menghadang jalan untuk kembali menjalani cara hidup Islam begitu banyak. Kesulitan-kesulitan tersebut harus dinilai dengan cermat, dan sebuah rencana yang tersusun dengan jelas harus dibuat untuk mengatasinya.
This is why the difficulties which stand in the path of resuming the Islamic way of life are numerous. They should be assessed and a clearly laid out plan should be made in order to overcome them.
Yang paling serius dari hambatan-hambatan ini adalah:
The most serious of these obstacles are:
1. Kehadiran konsep-konsep non-Islam di dunia Islam. Hal ini terjadi karena dunia Islam, selama mengalami masa kemunduran dengan tingkat pemikiran yang rendah, ilmu yang langka, dan rasionalitas yang sangat lemah akibat keadaan kemundurannya, diserbu oleh konsep-konsep non-Islam yang bertentangan dengan konsep-konsep Islam dan didasarkan pada pemahaman yang keliru tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia ini, kehidupan sebagaimana kita kenal, dan kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia ini berakhir. Konsep-konsep ini menemukan lahan subur tanpa perlawanan apa pun dan berakar dalam, sehingga pola pikir kaum Muslimin, terutama kaum intelektual, menjadi terjangkiti oleh konsep-konsep tersebut. Muncullah pola pikir yang sebagian besar dipengaruhi oleh peniruan, yang tidak memiliki sedikit pun kreativitas dan tidak siap menerima mabda' Islam, tidak pula mampu memahami hakikat mabda' ini, terutama sisi politiknya. Dakwah Islam harus merupakan seruan untuk melanjutkan kembali cara hidup Islam. Orang-orang non-Muslim harus diseru kepada Islam dengan menyajikan pemikiran-pemikiran Islam kepada mereka, dan kaum Muslimin harus diseru untuk berupaya melanjutkan kembali cara hidup Islam dengan menjelaskan Islam kepada mereka secara tepat. Hal ini mengharuskan dibukanya kekurangan konsep-konsep non-Islam dan akibat-akibatnya yang berbahaya, sehingga dakwah harus mengambil jalur politiknya dengan upaya-upaya untuk menanamkan kepada Ummat pandangan Islam tentang kenyataan sebelum dan sesudah kehidupan, serta kehidupan itu sendiri, yang mengharuskan adanya pembahasan tentang aspek-aspek politik kehidupan. Dengan cara inilah rintangan pertama dapat diatasi.
1. The presence of the non-Islamic concepts in the Islamic world. This is so because the Islamic world - while undergoing a period of decline with the level of thought being low, knowledge scarce and rationality very weak due to its state of decline - was invaded by non- Islamic concepts, which contradict the Islamic concepts and are based on an erroneous understanding of what existed prior to the life of this world, life as we know it, and the life to come after the life of this world comes to its conclusion. These concepts found fertile ground free of any resistance and they became deeply rooted, thus the mentality of the Muslims, especially the intelligentsia, came to be infested by these concepts. A mentality largely influenced by imitation emerged which lacked any sense of creativity and which was unprepared to accept the Islamic ideology nor was it able to realize the essence of this ideology, especially the political side of it. The Islamic call must be a call to resume the Islamic way of life. The non- Muslims should be called to Islam by presenting the Islamic thoughts to them and the Muslims should be called to work towards the resumption of the Islamic way of life by properly explaining Islam to them. This would entail divulging the shortcomings of non-Islamic concepts and their dangerous consequences and thus the Da’wah should take its political course with endeavors made in order to enculcate the Ummah with the Islamic outlook on the reality before and after life, as well life itself, which necessitates a discussion of life’s political aspects. This is how the first obstacle would be overcome.
2. Keberadaan program-program pendidikan yang didirikan oleh kekuatan kolonial, dan cara sistem-sistem pendidikan ini diterapkan di sekolah-sekolah dan universitas. Mereka yang menduduki jabatan di pemerintahan, administrasi, peradilan, profesi keguruan, kedokteran, serta para pelajar dari profesi lain yang lulus dari lembaga-lembaga semacam itu, telah mengadopsi pola pikir yang khas, yang bekerja selaras dengan rencana yang telah disusun oleh kaum kolonialis. Hal ini tampak jelas pada sistem pemerintahan sebagaimana kita lihat hari ini, di mana pegawai-pegawai kolonial digantikan oleh orang-orang Muslim, yang tugasnya (dan masih menjadi tugasnya) adalah menjaga hukum, budaya, kebijakan, dan sistem yang telah didirikan oleh kekuatan kolonial, serta membelanya sebagaimana dilakukan kaum kolonialis, bahkan dengan semangat yang lebih besar! Cara untuk mengatasi rintangan ini adalah dengan membeberkan tindakan para penguasa dan pegawai negeri tersebut kepada seluruh masyarakat, agar wajah buruk kolonialisme tersingkap ke permukaan dan mereka berhenti melindungi kebijakan dan sistem tersebut, sehingga dakwah dapat sampai kepada kaum Muslimin tersebut.
2. The presence of the educational programs which the colonial powers set up and the method by which these educational systems are implemented in the schools and universities. Those who take up positions in Government, the Administration, the Judiciary, the teaching profession, medicine and students of other professions who graduate from such institutions have adopted a distinctive mentality that works in harmony with the plan which the colonialists have laid down. This is clearly reflected in the ruling system as we see it today whereby the colonial employees were replaced by Muslim ones whose task was (and is) to safeguard the laws, the culture, the policies and the systems which the colonial powers had established, and to defend them as the colonialists did, nay with even greater vigor! The way to overcome this obstacle would be to divulge these actions of those rulers, civil servants to all the people so that the ugly face of colonialism comes to the surface and so that they cease protecting those policies and systems allowing therefore the Da’wah to find its way to those Muslims.
3. Penerapan kurikulum pendidikan yang terus berlanjut sesuai dasar yang diletakkan oleh para penjajah kafir, dan sesuai metode yang mereka pilih, hal yang membuat mayoritas pemuda lulusan dan mereka yang berada di lembaga pendidikan melaju ke arah yang bertentangan dengan Islam. Yang kami maksud bukanlah bagian ilmiah dan industri dari kurikulum pendidikan, karena bagian tersebut bersifat universal dan tidak berkaitan dengan umat tertentu. Yang kami maksud di sini adalah budaya yang memengaruhi pandangan terhadap kehidupan, karena budaya inilah yang bertanggung jawab menjadikan program pendidikan berdiri sebagai penghalang dalam menghadapi kembalinya cara hidup Islami. Mata pelajaran tersebut meliputi sejarah, sastra, filsafat, dan perundang-undangan. Sejarah mencerminkan penafsiran praktis atas kehidupan; sastra mencerminkan kondisi emosional; filsafat adalah pemikiran dasar tempat pandangan terhadap kehidupan dibangun; dan perundang-undangan adalah solusi praktis atas problem kehidupan serta alat yang mengatur organisasi dan transaksi antarindividu dan antarmasyarakat. Semua ini membentuk budaya yang digunakan para penjajah kafir untuk membentuk mentalitas kaum Muslimin. Sebagian orang merasa Islam tidak diperlukan dalam kehidupan mereka dan kehidupan umat mereka. Hal itu membuat sebagian dari mereka memusuhi Islam, mengingkari kemampuannya untuk memecahkan problem kehidupan. Oleh karena itu, perlu mengubah mentalitas ini, dengan membina generasi muda saat ini di luar sekolah dan universitas melalui pendidikan intensif yang mencakup diskusi mendalam tentang pemikiran dan hukum-hukum Islam.
3. The continued application of the educational curriculum according to the basis which was laid down by the unbelieving colonialists, and according to the method which they selected, a matter which made the majority of the graduated young people and those in the educational institutions proceed in a direction contradictory to Islam. We do not mean the scientific and industrial part of the educational curriculum, as these are universal which do not relate to a specific Ummah. We mean here the culture which affect the viewpoint towards life, as they are responsible for making the educational programs stand as an obstacle in the face of resuming the Islamic way of life. These subjects include history, literature, philosophy and legislation. History reflects the practical interpretation of life; literature reflects emotional conditions; philosophy is the basic thought upon which the viewpoint towards life is built; and legislation is the practical solutions to life’s problems and the tool which regulates the organization of and transactions between individuals and communities. These comprise the culture with which the disbelieving colonialists fashioned the Muslim mentality with. Some felt Islam as unnecessary in their life and the life of their Ummah. It made some of them hostile to Islam, denying its capability to solve life’s problems. Therefore, it is necessary to change this mentality, by culturing today’s young people outside the schools and universities with concentrated education that entails probing discussions about the Islamic thoughts and rules.
4. Memberikan penghormatan yang berlebihan kepada ilmu-ilmu yang bersifat budaya, seperti sosiologi, psikologi, dan ilmu pendidikan, serta keliru menggolongkannya sebagai ilmu universal. Kebanyakan orang menganggap disiplin-disiplin ini sebagai ilmu pengetahuan dan bahwa fakta-fakta yang ditetapkan oleh kajian-kajian tersebut diperoleh melalui eksperimen. Akibatnya, mereka memandang tinggi ilmu-ilmu ini dan menganggap temuan-temuan dari kajian semacam itu sebagai sesuatu yang tidak dapat diperdebatkan. Dengan demikian, mereka berpaling kepadanya untuk menyelesaikan urusan hidup mereka dan mengajarkannya di sekolah-sekolah dan universitas-universitas kita sebagai ilmu pengetahuan. Akibatnya, apa pun yang dikatakan para psikiater, sosiolog, dan ahli pendidikan dijadikan rujukan di atas otoritas Al-Qur'an dan Hadits, atau paling tidak, kajian-kajian ini telah bercampur dengan teks-teks Islam sehingga kita membawa konsep-konsep dan sudut pandang yang keliru.
4. Lending culturally based subjects, such as sociology, psychology and education science unnecessary respect and erroneously classifying them as universal sciences. Most people recognize these disciplines as being scientific and that the facts which these studies establish have come by way of experimentation. As a result, they treat them with high regard and they consider the findings of such studies to be indisputable. In so doing, they turned to them in order to solve their life’s affairs and taught them in our schools and universities as sciences. Consequently, whatever the psychiatrists, sociologists and educationalists say is taken as a reference above the authority of the Qur’an and Hadeeth, or at best, these studies have been mixed with the Islamic texts and thus we carry erroneous concepts and viewpoints.
Akibatnya, menjadi sangat sulit bagi orang untuk menerima apa pun yang bertentangan dengan keadaan ini. Hal ini secara tegas mengarah pada pemisahan Deen dari urusan kehidupan sehari-hari, baik di ranah publik maupun pribadi, dan menghalangi upaya untuk menegakkan kembali Negara Islam. Sebenarnya, disiplin-disiplin ini tidak dapat dianggap sebagai usaha ilmiah, karena disusun dari pengamatan dan penarikan kesimpulan, dan tidak didasarkan pada eksperimen. Penerapannya terhadap manusia tidak dapat disebut sebagai eksperimen, melainkan hanya pengamatan berulang yang dilakukan terhadap orang-orang yang berbeda dalam situasi dan keadaan yang berbeda, sehingga hal tersebut hanyalah pengamatan dan kesimpulan, dan sama sekali tidak seperti eksperimen di laboratorium yang menguji sesuatu. Dengan demikian, disiplin-disiplin ini digolongkan sebagai kajian yang berlandaskan budaya, bukan yang berlandaskan ilmiah. Temuannya selalu diragukan dan memiliki margin kesalahan yang cukup besar. Selain itu, disiplin-disiplin ini didasarkan pada premis yang keliru, karena berpijak pada cara memandang masyarakat dari sudut pandang individualistis.
It has thus become extremely difficult for people to accept anything which contradicts this state of affairs. This categorically leads to the separation of the Deen from life’s daily affairs in both the public and private arena and stands in the way of reestablishing the Islamic State. The truth of the matter is that these disciplines cannot be considered as scientific endeavors, as they are drawn from observation and inference and are not based on experimentation. Implementing them upon people cannot be defined as experimentation, but merely repetitive observations carried out on different persons in different situations and circumstances, and therefore they are just observations and inferences and nothing like the experiments carried out in laboratories where something is tested. Thus, they are classified as culturally based studies and not scientifically based. The findings are always doubtful with some considerable margin of error. Furthermore, these disciplines are based on false premises because they are based on viewing the society from an individualistic point of view.
Oleh karena itu, cara pandang mereka berkembang dari individu ke keluarga, kelompok, lalu ke masyarakat, dengan dasar bahwa masyarakat didefinisikan sebagai sekumpulan individu. Hal ini mengarah pada pemahaman bahwa masyarakat itu independen dan bahwa apa yang berlaku bagi satu masyarakat belum tentu berlaku bagi masyarakat lain. Pada kenyataannya, masyarakat tersusun dari manusia (individu), konsep, emosi, dan sistem, dan apa yang berlaku bagi manusia dalam hal konsep dan solusi di satu tempat seharusnya berlaku baginya di mana pun. Konsep dan solusi ini akan menyatukan beberapa masyarakat menjadi satu masyarakat tunggal yang bagi-nya konsep, emosi, dan sistem tersebut berlaku. Kekurangan pada pendidikan dan sosiologi disebabkan oleh kenyataan bahwa kedua disiplin ilmu tersebut dibangun di atas salah pemahaman tentang susunan masyarakat ini.
Therefore, their outlook, progresses from the individual to the family, group, and then to society on the basis that the society is defined as a group of individuals. This leads to the understanding that societies are independent and that what is valid for one society is not necessarily valid for another. In reality, society is comprised of the human (individual), concepts, emotions, and systems, and what is valid for the human in terms of concepts and solutions in one place should be valid for him everywhere else. These concepts and solutions would transform several societies into one single society for which the concepts, emotions and systems would be valid. The shortcoming of education and sociology is due to the fact that those two disciplines are built upon this misinterpretation of the makeup of society.
Selanjutnya, psikologi memengaruhi sosiologi dan pendidikan. Psikologi adalah disiplin ilmu yang keliru karena dua alasan. Pertama, ia menganggap otak terbagi menjadi beberapa segmen, dengan masing-masing segmen memiliki fungsi atau bakat yang berbeda, serta mengklaim bahwa sebagian otak memiliki bakat tertentu yang tidak dimiliki otak lain. Kenyataannya, otak adalah satu kesatuan, dan perbedaan pemikiran itu wajar karena perbedaan hal-hal yang dihadapi serta informasi sebelumnya yang tersimpan dalam pikiran. Tidak ada bakat pada satu otak yang tidak ditemukan pada otak lain, melainkan semua otak memiliki kemampuan untuk memikirkan setiap perkara ketika realitas yang nyata, indera, dan informasi sebelumnya tersedia bagi otak. Otak berbeda dalam kemampuan menilai dan menghubungkan informasi, serta dalam kemampuan indera, sebagaimana variasi alami pada ketajaman penglihatan. Oleh karena itu, seseorang dapat diberi data jenis apa pun dan ia akan memiliki kemampuan untuk mencernanya. Dengan demikian, klaim yang dibuat para psikolog tentang bakat-bakat tersebut tidak berdasar. Psikologi menganggap naluri itu banyak jumlahnya, sebagian telah ditemukan dan sebagian lainnya belum ditemukan.
Furthermore, psychology influences sociology and education. Psychology is an erroneous discipline for two reasons: It considers the brain as being divided into segments with each of these segments having a distinct function or aptitude and claiming that some brains have certain aptitudes which other brains may not have. The truth of the matter is that the brain is one unit and the disparity of thoughts is natural due to the disparity of things and the previous information retained by the mind. There is no aptitude in one brain which is not found in another, but all brains contain the ability to think about every matter whenever the tangible reality, the senses, and previous information were made available to the brain. Brains differ in their ability to assess and link information and in the ability of the senses; similar to the natural variation in eyesight. It would be possible therefore to feed any person with any type of data and he would have the ability to digest such data. Thus, the claims which psychologists make about those aptitudes are groundless. Psychology considers the instincts to be numerous, some of which have been discovered and others which are yet to be discovered.
Beberapa ahli teori kemudian membangun teori-teori yang keliru berdasarkan konsep tentang naluri ini. Pada kenyataannya, jika kita mengamati reaksi manusia, seseorang dapat memahami melalui panca indra bahwa manusia memiliki energi vital yang mempunyai dua aspek: satu aspek yang harus dipenuhi, jika tidak, manusia akan binasa, dan aspek lain yang harus dipenuhi, jika tidak, manusia, meskipun tetap hidup, akan menjadi gelisah dan resah. Aspek pertama mewakili kebutuhan organik, seperti lapar, haus, dan dorongan untuk buang hajat.
Some theorists went on to establish false theories based on this concept about instincts. In reality, if we observe the reaction of human beings, one can perceive through the senses that the human being possesses vital energy which has two aspects: one which needs to be satisfied, otherwise the human being would perish, and the other which needs to be satisfied, otherwise the human being, although he would survive, would become agitated and troubled. The first one represents the organic needs, such as hunger, thirst, and the call of nature.
Yang kedua merepresentasikan naluri-naluri, yaitu naluri beragama, naluri kasih sayang, dan naluri bertahan hidup. Naluri-naluri ini mencerminkan perasaan lemah, perasaan menjaga kelestarian spesies, dan perasaan bertahan hidup, dan tidak ada naluri lain selain ketiga ini. Apa pun selain ketiga naluri ini hanyalah dorongan-dorongan dari naluri-naluri tersebut. Misalnya, rasa takut, keinginan untuk berkuasa, dan kepemilikan, yang merupakan dorongan-dorongan bagian dari naluri bertahan hidup; pengagungan dan ibadah, yang merupakan dorongan-dorongan dari naluri spiritual; serta keibuan dan persaudaraan, yang merupakan aspek dari naluri kasih sayang. Jelaslah bahwa pandangan psikologi tentang naluri-naluri manusia itu keliru, dan klaimnya tentang otak juga tidak benar, yang pada gilirannya menyebabkan kekeliruan teori-teori yang didasarkan padanya, dan akibatnya kekeliruan pendidikan.
The second represents the instincts, which are the instinct of religiosity, kind, and survival. These instincts reflect the feeling of weakness, the feeling of the preservation of species and the feeling of survival, and there are no other instincts except these three. Anything other than these three instincts would be merely drives of these instincts. For example, fear, supremacy and ownership, which are drives that are part of the instinct of survival; sanctification and worship, which are drives of the spiritual instinct; and parenthood and brotherhood, which are aspects of the instinct of kind. Evidently, psychology’s vision of human instincts is false and its claims about the brain are also incorrect, which in turn leads to the falsehood of the theories upon which it is based and consequently to the falsehood of education.
Sosiologi, pendidikan, dan psikologi adalah disiplin budaya yang dipelajari dan disebarluaskan oleh Barat, dan mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan pemikiran Islam. Terus menjunjung tinggi disiplin-disiplin tersebut dan menjadikannya sebagai rujukan merupakan penghalang dalam upaya mendirikan Negara Islam. Kita harus menunjukkan bahwa ini adalah persoalan budaya dan bukan ilmu murni, bahwa ia merupakan bidang yang diperdebatkan, dan bahwa hasilnya tidak meyakinkan. Ia didasarkan pada premis-premis keliru yang tidak seharusnya mengatur kehidupan kita.
Sociology, education and psychology are cultural discipline are studied and propagated by the West contain ideas that contradict Islamic thought. To continue to hold them in high esteem and to refer to them as a reference constitutes an obstacle in the face of working towards establishing the Islamic State. We ought to demonstrate that these are cultural matters and not pure sciences, and that they are disputed subjects and their results are inconclusive. They are based on false premises that should not be running our lives.
5. Masyarakat di dunia Islam tersesat oleh cara hidup non-Islami. Hal ini terjadi karena sistem politik yang menjadi dasar masyarakat, serta prinsip-prinsip yang menopang masyarakat secara keseluruhan, kecenderungan emosional yang diikuti kaum Muslimin, dan pola berpikir intelektual mereka, didasarkan pada konsep-konsep tentang kehidupan yang asing dari konsep-konsep Islam. Selama dasar-dasar ini tetap tidak berubah dan selama konsep-konsep yang keliru ini tidak diberantas, akan sulit untuk mengubah cara hidup masyarakat, sistem politik, tatanan sosial, serta kecenderungan emosional dan rasional yang menguasai kaum Muslimin.
5. Society in the Islamic world is misguided by the non-Islamic way of life. This is so because the political system upon which the society is based, as well as the principles upon which society as a whole stands, and the emotional trend which Muslims follow and their intellectual mode of thinking is based on concepts about life which are alien to Islamic concepts. As long as these fundamentals remain unchanged and as long as these erroneous concepts are not eradicated, it would be difficult to change people’s way of life in society, political system, society’s order, and the emotional and rational trends which control the Muslims.
6. Semakin melebarnya jurang antara kaum Muslimin dan penerapan Islam, khususnya dalam bidang pemerintahan dan ekonomi. Hal ini membuat gambaran kaum Muslimin tentang cara hidup Islam menjadi terasa jauh, dan membuat gambaran orang-orang kafir tentang cara hidup Islam menjadi negatif, karena kaum Muslimin telah menyaksikan suatu masa ketika Islam diterapkan secara keliru. Sejak tahun 1924, mereka diperintah oleh musuh mereka dengan sistem yang bertentangan dengan Islam dalam setiap bidang, khususnya dalam pemerintahan dan ekonomi. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa perubahan menuju cara hidup Islam harus menyeluruh, bukan sebagian, dan bahwa penerapan Islam harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh, bukan secara bertahap dan sebagian atau serampangan.
6. The widening gap between the Muslims and Islamic rule, especially in the areas of ruling and economy. This makes the Muslims’ vision of the Islamic way of life as something remote, and makes the disbelievers’ illustration of the Islamic way of life negative due to the fact that the Muslims witnessed a period during which Islam had been misimplemented. Since 1924, they have been ruled by their enemy with a system which contradicts Islam in every department, specifically in ruling and economics. It is therefore imperative that people should realize that this transformation to the Islamic way of life must be comprehensive and not partial, and that the implementation of Islam must be simultaneous and comprehensive, and not gradually and in a partial or haphazard manner.
7. Keberadaan di negeri-negeri Muslim pemerintahan yang didirikan atas dasar sekuler, yang menerapkan Ideologi Kapitalis dan Sistem Demokrasi atas rakyat, yang memiliki ikatan politik yang kuat dengan negara-negara Barat, dan yang didirikan atas dasar nasionalisme. Hal ini membuat tugas untuk mengembalikan cara hidup Islam sulit dicapai, karena tidak dapat diwujudkan kecuali jika bersifat menyeluruh. Islam tidak membolehkan negeri-negeri Muslim dipecah menjadi negara-negara kecil, tetapi memerintahkan agar negeri tersebut disatukan di bawah satu negara. Hal ini mengharuskan adanya sifat menyeluruh dalam Da'wah. Hal ini akan dihadapi dengan perlawanan dari para wakil rezim-rezim ini, meskipun mereka menyebut diri mereka Muslim. Oleh karena itu, Da'wah harus dilakukan di setiap negeri, meskipun harus menanggung kesulitan dan penderitaan akibat oposisi dari rezim-rezim di negeri-negeri Muslim.
7. The presence in the Muslim countries of governments founded on a secular basis, implementing the Capitalist Ideology and Democratic System upon the people, having strong political ties with Western countries, and founded on nationalism. This makes the task of resuming the Islamic way of life difficult to achieve because it cannot be brought about unless it is comprehensive. Islam does not allow Muslim lands to be divided into statelets, but commands that the land be united under one single state. This entails the need for comprehensiveness in the Da’wah. This would be met by the resistance of the representatives of these regimes even if they called themselves Muslims. The Da’wah should therefore be conducted in every land even if it means enduring difficulties and hardship as a result of opposition from the regimes in the Muslim countries.
8. Adanya opini publik yang kuat yang mendukung nasionalisme, patriotisme, dan sosialisme, disertai munculnya gerakan-gerakan politik yang berlandaskan gagasan nasionalis, patriotik, dan sosialis. Hal ini terjadi karena perampasan tanah-tanah kaum Muslimin oleh Barat, pengambilalihan kekuasaan oleh mereka, dan penerapan sistem Kapitalis atas negeri-negeri tersebut, yang memicu kecenderungan untuk membela diri. Hal ini membangkitkan sentimen nasionalisme dan menyentuh titik sensitif rasisme dan fanatisme kesukuan dalam rangka membela diri, membela keluarga, dan membela suku, yang kemudian mendorong orang-orang untuk bekerja dan bersaing guna meraih kekuasaan atas dasar tersebut. Akibatnya, muncullah beberapa gerakan politik yang mengusung panji nasionalisme untuk mengusir musuh dari negeri, dan gerakan lain yang mengusung panji patriotisme untuk membatasi kekuasaan di tangan rakyat. Kemudian, kebobrokan dan kekurangan sistem Kapitalis menjadi nyata, dan seruan untuk sosialisme pun menyebar. Akibatnya, didirikanlah kelompok-kelompok yang mengusung panji sosialisme untuk menambal sistem Kapitalis. Gerakan-gerakan ini tidak memiliki visi yang jelas tentang sistem kehidupan, strategi mereka tidak terarah, dan hal ini menjauhkan mereka dari Islam sebagai ideologi yang universal.
8. The presence of strong public opinion in favor of nationalism, patriotism and socialism coupled with the rise of political movements based on nationalist, patriotic and socialist ideas. This came about due to the fact that seizure by the West of Muslim lands, its resumption of power and its implementation of the Capitalist system over the land, triggered the tendency of self defense. This fueled the sentiments of nationalism and touched on the raw nerve of racism and tribalism in self defense and in defense of the family and tribe, and which led people to work and compete towards gaining the rule on that basis. This led to the rise of some political movements which carried the banner of nationalism to repel the enemy from the land, and others which carried the banner of patriotism in order to confine the rule within the people. Then the corruption and shortcomings of the Capitalist system became flagrant and the call for socialism spread. As a result, groups carrying the banner of socialism were established in order to patch up the Capitalist system. These movements did not have any clear vision of the system of life, their strategy was not focused and this led them astray from Islam being a universal ideology.