4 Peluncuran Dakwah
4 The Launching of the Da’wah
Seruan Islam telah dikenal sejak hari pertama Rasulullah ﷺ menerima wahyu. Penduduk Makkah sudah mengetahui sejak awal bahwa Muhammad ﷺ menyerukan agama baru, dan bahwa banyak orang telah memeluk Islam. Mereka juga mengetahui bahwa Muhammad ﷺ mengumpulkan para sahabatnya dan memperhatikan mereka, dan bahwa kaum Muslimin menyembunyikan diri dari sisa kaum Quraisy selama mereka berkumpul dan mempelajari agama baru mereka.
The Islamic call was known from the first day the Messenger of Allah (pbuh) recieved the message. People in Makkah had known all along that Muhammad (pbuh) was calling for a new Deen, and that scores of people had embraced Islam. They also knew that Muhammad (pbuh) was gathering his companions and looking after them, and that the Muslims concealed themselves from the rest of the Quraysh while they grouped together and learned about their new Deen.
Orang-orang di Makkah mengetahui adanya seruan baru ini dan orang-orang yang beriman kepadanya, tetapi mereka tidak pernah tahu di mana mereka bertemu dan siapa mereka. Karena itu, ketika Rasulullah ﷺ mengumumkan keyakinan barunya, hal itu tidak mengejutkan. Yang mengejutkan Makkah adalah munculnya kelompok Muslim baru ini. Kaum Muslimin memperoleh kekuatan besar ketika Hamzah bin ‘Abdul Muththalib memeluk Islam, disusul ‘Umar bin al-Khaththab tiga hari kemudian. Kemudian turunlah wahyu dari Allah (SWT),
People in Makkah were aware of this new call and of those who believed in it, but they never knew where they met nor who they were. That is why when the Messenger of Allah (pbuh) proclaimed his new belief, it did not come as a surprise. What surprised Makkah was the emergence of this new group of Muslims. The Muslims had gained a great deal of strength when Hamzah ibn ‘Abd al-Muttalib embraced Islam, followed by ‘Umar ibn al-Khattab three days later. Then came the revelation of Allah (swt),
"Maka sampaikanlah secara terang-terangan (Pesan Allah) apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari "Al-Musyrikun". Sesungguhnya Kami akan mencukupimu dari (gangguan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau), yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah dengan tuhan lain; maka kelak mereka akan mengetahui" [Al-Hijr, 15: 94-96].
“Therefore, proclaim openly (Allah’s Message), that which you are commanded, and turn away from “Al-Mushrikun”: Truly! We will suffice you against the scoffers. Who set up along with Allah another god, they will come to know” [Al-Hijr, 15: 94-96].
Rasulullah ﷺ dengan patuh melaksanakan perintah Allah dan memperlihatkan kelompoknya kepada seluruh penduduk Makkah. Beliau ﷺ keluar bersama para Sahabatnya dalam dua barisan, satu dipimpin oleh 'Umar dan yang lain dipimpin oleh Hamzah. Para Sahabat berjalan dengan cara yang belum pernah disaksikan oleh kaum Quraisy sebelumnya. Kemudian beliau ﷺ bertawaf mengelilingi Ka'bah bersama mereka.
Allah’s Messenger (pbuh) duly obeyed Allah’s command and presented his group to all of Makkah. He (pbuh) went out with his Sahabah in two lines, one led by ‘Umar and the other by Hamzah. The Sahabah walked in a manner that the Quraysh had never witnessed before. He (pbuh) then circumambulated the Ka’bah with them.
Inilah tahap ketika Rasulullah ﷺ bersama para Sahabatnya beralih dari fase rahasia ke fase terbuka, dari menyeru dan mengajak serta mengajarkan kepada orang-orang yang beliau pandang sudah siap menyambut seruannya, menjadi menyeru seluruh manusia. Dakwah pun kemudian memasuki babak baru: benturan antara iman dan kekufuran mulai terjadi di tengah masyarakat, dan interaksi antara konsep-konsep yang benar dengan yang busuk pun dimulai. Maka dimulailah fase kedua dakwah, yaitu fase interaksi dan perjuangan.
This is the stage when Allah’s Messenger (pbuh) moved with his Sahabah from the secret phase to the open one, from calling and addressing and inviting those whom he felt were ready to answer his call, to addressing all people. The Da’wah then took a new turn, the clash between Iman and Kufr in society began, the interaction between the right concepts and the rotten ones began, setting off therefore the second phase of the Da’wah, i.e. the phase of interaction and struggle.
Orang-orang kafir mulai menentang dan memerangi dakwah, dan dalam prosesnya mereka menimpakan segala macam gangguan dan cedera kepada Rasulullah ﷺ dan para Sahabatnya. Fase ini merupakan salah satu yang paling keras. Rumah Rasulullah ﷺ dilempari batu, dan Ummu Jamil, istri Abu Lahab, biasa membuang kotoran di depan rumah beliau ﷺ. Beliau ﷺ hanya mengabaikannya atau menyingkirkannya. Pernah Abu Jahl melemparkan rahim seekor kambing, yang disembelih sebagai persembahan untuk berhala, kepada Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ menanggung semuanya, lalu pergi ke rumah putrinya, Fatimah, agar ia dapat membersihkan beliau ﷺ. Hal ini justru semakin menguatkan tekad Rasulullah ﷺ dan membuat beliau semakin bersemangat dalam menyerukan Islam.
The disbelievers began resisting and fighting the Da’wah, inflicting in the process all kinds of harm and injury on the Messenger of Allah (pbuh) and his Sahabah. This phase was one of the most severest. The house of Allah’s Messenger (pbuh) was stoned and Umm Jamil, wife of Abu Lahab, used to throw impurities outside his home. He (pbuh) just ignored or removed them. Abu Jahl once threw a goat’s uterus, slaughtered as a sacrifice to the idols, at Allah’s Messenger (pbuh). He (pbuh) bore it all, and would go to his daughter Fatimah’s house so that she could clean him up. This only strengthened Allah’s Messenger’s (pbuh) resolve and made him more eager towards the Islamic call.
Kaum Muslimin diancam dan disakiti; setiap kabilah mengambil tindakan sendiri untuk menyiksa dan menganiaya anggota kabilahnya yang beragama Islam. Dalam suatu peristiwa, seseorang membiarkan budaknya, Bilal, di atas pasir yang membara dan meletakkan batu berat di atas dadanya, semata-mata karena Bilal bersikeras memeluk Islam. Bilal dengan tegas mengucapkan kalimat ‘Ahad! ‘Ahad! (Yang Esa, Yang Esa) dan menanggung semua penderitaan itu demi Tuhannya. Seorang wanita meninggal dunia setelah mengalami penyiksaan, semata-mata karena ia tidak mau meninggalkan keyakinan barunya dan kembali kepada agama nenek moyangnya.
The Muslims were threatened and hurt, every tribe took it upon itself to torture and persecute its Muslim tribesmen. In one incident, one person left his slave Bilal on the burning sand and placed a heavy rock upon his chest simply because he insisted on Islam. Bilal defiantly uttered the words ‘Ahad! ‘Ahad! (the One, the One) and endured all this suffering for the sake of his Lord. One woman died after being subjected to torture, simply because she would not renounce her new belief and return to the faith of her forefathers.
Kaum Muslimin menanggung penderitaan, siksaan, penghinaan dan perampasan dengan hanya satu tujuan, yaitu mencari keridhaan Allah (SWT).
The Muslims endured the suffering, torture, humiliation and deprivation with only one aim in mind, seeking to please Allah (swt).