Reformasi PBB untuk Melegitimasi Teror terhadap Umat Islam
1.8 Un Reforms To Legitimize Terror Against Muslims
"Sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa cacat bahkan sejak dasarnya, dan bahkan dalam motifnya, bagi mereka yang dapat melihat tembus tabir dan pernyataan palsu tentang cinta dan perdamaian dari para penakut yang kaya, berkuasa, dan licik, yang hanya ingin selalu berkuasa atas orang lain." -- Ron McEntee Obsesi sebagian negara Muslim terhadap negara mana yang harus menduduki kursi di Dewan Keamanan PBB yang diperluas adalah keliru arah. Yang seharusnya menjadi fokus adalah usulan-usulan reformasi dan apa artinya bagi dunia Muslim.
“The United Nations system is flawed even in its foundation, and even in its motives, to those who can see through the veil and false declarations of love and peace from wealthy, powerful, conniving fear mongers who only want to always be in control over others.” -- Ron McEntee he obsession of some Muslim countries on which countries should occupy a seat in the expanded UN Security Council is misdirected. Instead the focus should be on the proposed reforms and what it means for the Muslim world.
Selain rencana perluasan Dewan Keamanan, reformasi baru ini juga menganjurkan penggunaan serangan preventif dan memuat definisi terorisme yang bersifat terbuka. Usulan-usulan tersebut dimaksudkan untuk dibahas oleh Majelis Umum pada akhir tahun ini, tetapi sejauh ini diskusi masih berpusat pada perluasan Dewan Keamanan.
Besides the plan to expand the Security Council, the new reforms advocate the use of pre-emptive strikes and include an open-ended definition on terrorism. The proposals are meant to be debated by the General Assembly later this year, but so far the discussions have revolved around the expansion of the Security Council.
Dimasukkannya serangan pre-emptif dan definisi terorisme yang longgar akan memungkinkan kekuatan-kekuatan Barat untuk membenarkan secara hukum tindakan-tindakan hukuman terhadap negara-negara Muslim yang dianggap membahayakan kepentingan mereka. Ancaman itu tidak harus nyata, cukup dipersepsikan saja. Hal ini akan mempertahankan dominasi Barat atas negeri-negeri kaum Muslimin dalam kerangka hukum internasional.
The inclusion of pre-emptive strikes and a loose definition on terrorism will enable western powers to legally justify punitive actions against Muslim countries that pose a threat to their interests. The threat does not have to be real, only perceived. This will preserve the West’ s domination over Muslims lands within the ambit of international law.
Sejak berdirinya pada tahun 1945, PBB telah digunakan oleh kekuatan-kekuatan besar, terutama Amerika, untuk memperkokoh hegemoni mereka di seluruh dunia. Tidak ada bangsa yang lebih menderita di tangan PBB daripada umat Islam. Barat menggunakan PBB untuk membagi-bagi tanah kaum Muslimin, seperti pemisahan Bangladesh dari Pakistan, pemecahan Bosnia, dan pembagian Indonesia.
Since its inception in 1945, the UN has been used by the great powers especially America to cement their hegemony all over the world. No people have suffered more at the hands of the UN then the Muslim Ummah. The West used the UN to carve up Muslim land such as the separation of Bangladesh from Pakistan, dismemberment of Bosnia and the division of Indonesia.
Selain itu, PBB telah digunakan oleh Barat untuk menusukkan belati jauh ke dalam jantung Ummah dengan menciptakan Israel dan mendukung keberadaannya melalui penerbitan resolusi-resolusi yang menguntungkannya.
Furthermore, the UN has been used by the West to plunge a dagger deep into the heart of the Ummah by creating Israel and supporting its existence by issuing resolutions in her favour.
PBB juga telah memainkan peran penting dalam memecah belah kaum Muslim, dengan menjatuhkan sanksi terhadap Irak, Libya, Sudan, Iran, dan Afghanistan. PBB juga telah digunakan oleh Barat untuk membenarkan invasi ke Somalia, serta pendudukan Irak dan Afghanistan.
The UN has also played the instrumental role in isolating Muslims from each other by imposing sanctions on Iraq, Libya, Sudan, Iran and Afghanistan. The UN has also been used by the West to justify the invasion of Somalia, and the occupation of Iraq and Afghanistan.
Mengingat catatan kriminal PBB terhadap dunia Muslim, rencana-rencana permusuhannya untuk masa depan, dan ketidakmampuannya membendung hegemoni Amerika, sungguh sulit dipercaya mengapa para penguasa dunia Muslim tunduk secara membabi buta kepada PBB dan menjunjungnya dengan begitu tinggi.
Given the UN’ s criminal record against the Muslim world, its hostile plans for the future and its inability to restrain American hegemony, it beggars belief why the rulers of the Muslim world blindly submit to the UN and hold it in such great esteem.
Setiap penguasa yang waras dan punya akal sehat seharusnya sudah menyadari bahwa memutus hubungan dengan PBB akan memberi mereka peluang yang lebih baik untuk melawan imperialisme Barat.
Any sane ruler with a modicum of common sense should have realized by now that severing ties with the UN would give them a better chance of fighting western imperialism.
Jika tidak, mereka akan mengalami nasib yang sama seperti Saddam Hussein, yang menaati resolusi PBB secara harfiah dan justru menyebabkan kehancuran Irak.
Or else they will meet the same fate as Saddam Hussein who followed UN resolutions to the letter and caused the destruction of Iraq.
Dewasa ini, ironi yang pahit adalah bahwa sementara para penguasa dunia Islam menyatakan kesetiaan mereka kepada PBB, Amerika menyadari keterbatasan PBB dalam memerangi Islam dan tetap ingin menempuh jalan unilateral untuk menundukkan kebangkitan Islam global.
Today, the bitter irony is that while the rulers of the Muslim world pledge their loyalty to the UN, America realizes UN’ s limitations to fight Islam and still wants to pursue a unilateralist course to subdue the global Islamic revival.
Satu-satunya sumber perlindungan dari agresi kekuatan-kekuatan Barat dan alat-alat terorisme mereka seperti PBB terletak pada munculnya sebuah Negara Islam yang kuat. Pada kenyataannya, justru lajunya Khilafah Utsmaniyah menuju Eropa yang mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk menandatangani Perjanjian Westphalia, dan hukum internasional pun lahir.
The only source of protection from the aggression of Western powers and their instruments of terrorism such as the UN lie in the emergence of a powerful Islamic State. In actual fact it was the Ottoman Caliphate’ s march towards Europe that encouraged European nations to conclude the Treaty of Westphalia and international law was born.
Khilafah Utsmaniyah berdiri teguh menghadapi hukum internasional dengan keteguhan sedemikian rupa sehingga selama bertahun-tahun ia mampu menuntut negara-negara yang berperang untuk menandatangani perjanjian damai sesuai syaratnya, tanpa menyerahkan sumber daya Ummah maupun mengompromikan nilai-nilai Islam.
The Ottoman Caliphate stood firm against international law with such resoluteness that for many years it was able to demand warring countries to sign up to peace treaties on its terms and without surrendering the Ummah’ s resources or compromising Islamic values.
15 Juli 2005
July 15, 2005