4.7 Kekosongan Kepemimpinan di Pakistan Mempercepat Kekhalifahan
4.7 Pakistan's Leadership Vacuum Precipitates The Caliphate
"Pakistan: Tempat Paling Berbahaya di Bumi." -- Majalah Newsweek Setelah hampir delapan tahun di bawah pemerintahan militer, Pakistan menghadapi berbagai tantangan yang mengancam keberadaannya. Ancaman tindakan sepihak Amerika di kawasan suku, pemberontakan yang didukung India di Baluchistan, peningkatan drastis ledakan bom bunuh diri, dan ekonomi yang porak-poranda adalah sebagian dari persoalan Pakistan. Namun mungkin, persoalan yang paling signifikan adalah kekosongan kepemimpinan yang meresap ke seluruh lapisan masyarakat. Salah satu wujud dari kekosongan ini adalah tingkah laku pemerintahan koalisi saat ini, yang selama enam bulan terakhir berjuang untuk menentukan tujuannya dan menyusun program konkret untuk menghadapi tantangan-tantangan ini. Para politisi bukan satu-satunya pihak yang bersalah. Pimpinan tinggi militer, pejabat birokrasi kelas atas, para industrialis, dan tokoh masyarakat sama bersalahnya. Dengan kata lain, mereka semua telah melepaskan tanggung jawab atau sekadar menutup mata. Satu-satunya hal yang sama di antara para pemimpin bangsa ini adalah memohon belas kasihan kekuatan asing.
“Pakistan: The Most Dangerous Place on Earth.” -- Newsweek Magazine After almost eight years of military rule, Pakistan faces a myriad of challenges that threaten its very existence. American threats of unilateral action in the tribal area, an Indian backed insurrection in Baluchistan, a dramatic increase in suicide blasts, and the economy in tatters are some of Pakistan’ s woes. But perhaps, the most significant issue is the leadership vacuum that pervades all segments of society. A manifestation of this void is the antics of the current coalition government, which over the past six months has struggled to define its purpose and chalk out a concrete program to confront these challenges. Politicians are not the only culprits. Military top brass, bureaucratic big-wigs, industrialists and civic leaders are just as guilty. Put it another way, all have either abdicated responsibility or simply buried their heads in the sand. The only thing common amongst the nation’ s leaders is the beseechment of foreign powers.
Politisi yang tidak malu-malu menjilat pejabat Amerika dan Inggris sering kali merencanakan dan melaksanakan perjalanan ke Dubai, London, dan Washington untuk urusan sekecil apa pun. Sebagian besar dari mereka secara terbuka mendambakan penghambaan kepada kekuatan-kekuatan Barat dan tanpa malu mempromosikan kepentingan mereka. Lalu ada politisi pseudo-Islamis, yang sumbangsihnya sejauh ini tidak lain hanyalah menambah korupsi dalam panggung politik, melegitimasi tindakan keji para penguasa, dan menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap politik Islam.
Politicians unashamed of courting American and British officials frequently plan and execute trips to Dubai, London and Washington for even the smallest of issues. A large proportion of them, openly desire servitude to Western powers and shamelessly promote their interests. Then there are the pseudo-Islamist politicians, whose contributions to date include none other than adding corruption to the political landscape, legitimizing the abhorrent actions of the rulers and destroying the confidence of the public in political Islam.
Perilaku para petinggi militer juga sama tidak berperasaannya.
The behaviour of the military top brass is equally callous.
Baik Musharraf maupun Kayani, seperti para pendahulu mereka yang curang, telah mengerahkan segala daya upaya untuk mengamankan kepentingan Amerika di Pakistan. Pemenjaraan Abdul Qadeer Khan, pengabaian rakyat Kashmir, pembantaian di Lal Masjid, dan penumpasan kaum Muslimin di Waziristan, Bajaur, dan Hangu adalah beberapa dari pencapaian mereka yang patut dicatat.
Both Musharraf and Kayani like their fraudulent predecessors have moved heaven and earth to secure American interests in Pakistan. The incarceration of Abdul Qadeer Khan, the abandonment of the Kashmiri people, the massacre at Lal Masjid and the slaughter of Muslims in Waziristan, Bajaur and Hangu are some of their noteworthy accomplishments.
Komunitas bisnis dan para industrialis juga tidak luput dari kritik ini. Sejarah membuktikan bahwa mereka bersedia menjadi sekutu dengan pemerintah mana pun, sipil maupun militer, selama beban pajak mereka tetap minimal dan mereka diberi kekebalan dari gagal bayar pinjaman. Ketika capaian komunitas bisnis diukur dari segi alih teknologi dan kontribusinya terhadap swasembada bangsa, hasilnya nihil. Singkatnya, kepemimpinan Pakistan sejak berdirinya pada tahun 1947 berulang kali gagal membebaskan Pakistan dari penjajahan intelektual, politik, dan ekonomi oleh kekuatan kolonial.
The business community and industrialists are not immune from this critique. History bears testimony that they are content to be bedfellows with any government – civilian or military – long as the tax bill is kept to a minimum and they are granted immunity from loan defaults. When the achievements of the business community is measured in terms of transfer of technology and contribution to the nation’ s self-sufficiency they score naught. In sum – Pakistan’ s leadership since its inception in 1947 has repeatedly failed to emancipate Pakistan from the intellectual, political and economic subjugation of colonialist powers.
Akar penyebab krisis kepemimpinan Pakistan dapat dikaitkan dengan satu faktor, yaitu sistem ekonomi dan politik yang ditinggalkan oleh Inggris dan kemudian dimodifikasi oleh Amerika Serikat. Sistem ini secara cermat telah menumbuhkan banyak pemimpin sipil dan militer yang gagal, korup, dan tergila-gila pada Barat. Dalam keinginan mereka untuk melayani kekuatan-kekuatan Barat, solusi-solusi Barat terus-menerus diambil dan diterapkan pada setiap lapisan kehidupan Pakistan. Mentalitas gunting-tempel ini pasti akan gagal, karena solusi yang diadopsi terlepas dari persoalan Pakistan dan bertentangan dengan keyakinan serta nilai-nilai budaya yang dijunjung oleh rakyat. Akibatnya, Pakistan mengalami bertahun-tahun pergolakan dan polarisasi yang kini mencapai puncaknya yang bergejolak.
The root cause of Pakistan’ s leadership predicament can be attributed to a single factor – namely the economic and political system left behind by the British – later modified by the US. This system has meticulously cultivated a plethora of civilian and military leaders who were defeated, corrupt and infatuated with the West. In their eagerness to serve western powers – western solutions were relentlessly borrowed and applied to all walks of Pakistani life. The cut and paste mentality was bound to fail, as the adopted solutions were disconnected from the problems of Pakistan and opposed to the beliefs and cultural values coveted by the people. Subsequently, Pakistan witnessed years of turmoil and polarization which has reached a tumultuous climax today.
Satu-satunya keselamatan bagi Pakistan adalah ketika kepemimpinan Islam yang baru dan dinamis mengambil alih kendali kekuasaan dan membalikkan kemunduran Pakistan. Kepemimpinan ini harus benar-benar berbeda dari masa lalu dan tidak boleh menjadi pemain yang sudah ada dalam sistem serta lembaga-lembaga Pakistan yang korup. Ia harus memiliki kepekaan yang tajam terhadap persoalan-persoalan Pakistan dan visi ideologis yang mencerminkan keyakinan dan nilai-nilai rakyat. Ia harus menjauhi kekerasan, namun cukup berani untuk memimpin massa dalam pemberontakan menyeluruh melawan tatanan sekuler yang ada sekarang serta menghancurkan segala sisa dominasi Barat. Barat sendiri telah menggambarkan arus politik ini sebagai gerakan untuk menegakkan kembali Khilafah.
The only salvation for Pakistan is for a new dynamic Islamic leadership to take the reigns of power and reverse Pakistan’ s decline. This leadership must be radically different from the past and cannot be an existing player in the nation’ s corrupt systems and institutions. It must possess an acute sensation of the problems of Pakistan and an ideological vision that reflects the beliefs and values of the people. It must eschew violence, but be bold enough to lead the masses to a comprehensive revolt against the present secular order and raze all vestiges of western domination. The West has already described this political trend as the movement to re-establish the Caliphate.
Berakhirnya krisis kepemimpinan bergantung pada seberapa cepat rakyat Pakistan terbangun dari kelalaian mereka dan merangkul fenomena ini.
The end to the leadership crisis is dependent upon how quickly the people of Pakistan wake up from their slumber and embrace this phenomenon.
8 Maret 2008
March 8, 2008