4.1 Perpecahan Konstitusional di Eropa Mengungkap Pelajaran Penting bagi Umat Islam
4.1 Europe's Constitutional Schisms Reveal Important Lessons For Muslims
"Lenyapnya kesadaran ras di antara kaum Muslim adalah salah satu pencapaian luar biasa Islam, dan di dunia kontemporer ini, memang terdapat kebutuhan mendesak akan penyebarluasan kebajikan Islam ini" -- Arnold Toynbee Krisis di Uni Eropa (UE) terkait konstitusi dan anggaran ekonominya telah menjadi bahan perdebatan hangat di kalangan masyarakat Eropa. Non-Eropa pun turut memberi perhatian besar terhadap kesulitan yang dihadapi UE dan begitu bersemangat berspekulasi tentang masa depan Eropa.
“The extinction of race consciousness as between Muslims is one of the outstanding achievements of Islam, and in the contemporary world there is, as it happens, a crying need for the propagation of this Islamic virtue” -- Arnold Toynbee The crisis in the European Union (EU) over its constitution and economic budget has become a subject of great debate amongst Europeans. Non-Europeans too have taken a keen interest in the EU’ s predicament and have been eager to speculate on Europe’ s future.
Sebagian pihak meramalkan kehancuran Eropa, sementara yang lain memandang krisis saat ini sebagai peluang untuk memodernisasi dan mengubah Uni Eropa menjadi kekuatan dunia yang mampu menantang hegemoni global Amerika.
Some predict Europe’ s demise, while others view the current crisis as an opportunity to modernise and transform the EU into a world power that is able to challenge American global hegemony.
Pendapat-pendapat mayoritas ulama Muslim terbagi ke dalam dua kubu ini. Namun, ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari krisis yang sedang terjadi ini, yang luput dari perhatian banyak pengamat. Pelajaran-pelajaran tersebut dapat dirangkum sebagai berikut:
Opinions of most Muslim commentators fall into these two camps. However, there are some important lessons to be learnt from the present crisis, which has escaped the attention of many commentators. These can be summarised as follows:
1. Islamofobia - penghalang permanen antara Eropa dan dunia Islam Keputusan yang sangat mayoritas dari para pemilih Belanda dan Prancis untuk menolak konstitusi Uni Eropa sebagian dipicu oleh permusuhan yang telah berabad-abad usianya terhadap dunia Islam. Ini bukan pertama kalinya Islamofobia menampakkan wajah buruknya, tetapi ini adalah pertama kalinya warga Eropa biasa diberi kesempatan untuk menyuarakan ketakutan mereka terhadap Islam melalui kotak suara.
1. Islamphobia - a permanent barrier between Europe and the Islamic world The overwhelmingly decision by Dutchxx and Frenchxxi voters to reject the EU’ s constitution was in part fuelled by centuries old animosity towards the Islamic world. This is not the first time that Islamophobia has raised its ugly head, but it is the first time that ordinary Europeans have been given a chance to voice their fears of Islam via the ballot box.
Peristiwa 11 September, ledakan bom di London dan Madrid, serta keinginan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa telah menciptakan gelombang perasaan anti-Islam yang meresap ke seluruh lapisan masyarakat Eropa. Lembaga-lembaga media terkemuka di Eropa dan para politisi elitis telah memanfaatkan sentimen ini untuk menciptakan jurang permanen antara Eropa dan dunia Islam.
The events of September 11, the bomb blasts in London and Madrid, and Turkey’ s desire to join the union has created a well of anti-Islamic feelings that permeates all sections of European society. Europe’ s premier media institutions and elitist politicians have exploited this sentiment to create a permanent wedge between Europe and the Islamic world.
Orang-orang Eropa yang setiap hari dijejali Islamofobia telah memanfaatkan setiap kesempatan untuk menolak imigrasi dari dunia Islam dan menolak masuknya Turki ke dalam Uni Eropa.
Europeans fed on a daily diet of Islamophobia have taken every opportunity to spurn immigration from the Islamic world and reject Turkey’ s entry into the Union.
Bahkan Inggris dan Amerika, yang membela keanggotaan Turki, melakukannya karena mereka yakin hal itu akan memicu api Islamofobia dan mengakhiri impian Prancis-Jerman tentang Eropa yang kuat. Singkatnya, tembok kebencian yang didirikan Eropa untuk menangkis kemajuan dari Turki dan negara-negara Maghreb kini telah menjadi tak teratasi. Adalah tindakan ceroboh bagi kaum elit di negara-negara Muslim ini untuk terus berupaya menjadikan negara mereka bagian dari sebuah persatuan yang menghina Islam.
Even Britain and America that champion Turkey’ s entry do so, because they believe it will stoke the flames of Islamophobia and bring an end to the Franco-German dream of a powerful Europe. Simply put the barrier of hate erected by Europe to ward off advances from Turkey and Maghreb countries has become insurmountable. It is foolhardy for the elite in these Muslim countries to continue efforts to make their countries part of a union that reviles Islam.
2. Nasionalisme Bangkit Kembali di Eropa namun Memudar di Dunia Muslim Sekali lagi Eropa dihadapkan pada musuh lamanya, yaitu nasionalisme, yang selama berabad-abad telah menimbulkan kehancuran di benua itu. Nasionalisme Eropa yang telah ditekan selama beberapa dekade kini dibangkitkan kembali oleh kekuatan globalisasi, dan kini mengancam untuk menghancurkan jiwa Uni Eropa itu sendiri.
2. Nationalism resurgent in Europe but fades in the Muslim world Once again Europe is confronted with its old adversarynationalism, which for centuries has wreaked havoc on the continent. European nationalism suppressed for decades has been reawakened by the forces of globalisation and now threatens to destroy the very soul of the Union.
Dewasa ini, orang-orang Eropa lebih mengkhawatirkan upaya menjaga identitas nasional mereka daripada melangkah maju menuju konstitusi yang lebih menekankan identitas Eropa. Akibatnya, persoalan yang dihadapi Eropa saat ini beserta solusi yang diusulkan tidak lagi dipandang dari perspektif Eropa yang bersatu, melainkan melalui kacamata nasionalisme. Perselisihan mengenai anggaran merupakan contoh klasik bagaimana nasionalisme Eropa mengoyak Uni Eropa.
Today, Europeans are more worried about safeguarding their national identities than moving forward with a constitution that places greater emphasis on a European identity. Subsequently, the current problems faced by Europe, and the solutions advocated are no longer viewed from the perspective of a unified Europe, but through the prism of nationalism. The dispute over the budget is a classic example of European nationalism tearing apart the EU.
Sebaliknya, nasionalisme yang diekspor ke dunia Islam dan digunakan untuk ‘memecah belah dan menguasai’ kaum Muslimin kini sedang mundur total. Saat ini konsep Ummah telah menggantikan nasionalisme dan menjadi kekuatan pemersatu bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Kaum Muslimin dari Maroko hingga Indonesia dengan cepat menyadari bahwa mereka memiliki lebih banyak kesamaan dengan visi persaudaraan Islam daripada identitas mereka saat ini yang ditentukan oleh batas-batas buatan.
In contrast, nationalism which was exported to the Islamic world and used to ‘divide and conquer’ Muslims is in full retreat. Today the concept of Ummah has superseded nationalism and has become a unifying force for Muslims across the world. Muslims from Morocco to Indonesia are quickly discovering that they have more in common with the Islamic vision of brotherhood than their present identities defined by artificial borders.
Penderitaan kaum Muslim di Palestina, Chechnya, Kashmir, Irak, dan Afghanistan tidak lagi dipandang sebagai masalah kedaerahan, melainkan sebagai masalah Islam yang harus memiliki solusi Islam.
The plight of Muslims in Palestine, Chechnya, Kashmir, Iraq and Afghanistan is no longer viewed as parochial problems, but as Islamic problems that must have an Islamic solution.
1. Persatuan politik adalah impian bagi Eropa, tetapi kenyataan bagi umat Islam. Eksperimen Uni Eropa merupakan upaya berani dari sejumlah negara Eropa untuk mengakhiri perpecahan dan peperangan yang berlangsung selama berabad-abad. Inisiatif ini semakin didorong ketika para elit di Prancis dan Jerman menyadari bahwa supremasi Amerika tidak dapat mereka tantang sendirian. Dari sinilah gagasan tentang sebuah negara super Eropa lahir.
1. Political unity is a dream for Europe but a reality for Muslims The EU experiment was a bold attempt by some European nations to put to rest centuries of division and warfare. This initiative was given further impetus, when the elites in France and Germany realised that American supremacy could not be challenged by them alone. Hence the concept of a European Super state was born.
Tetapi setelah 40 tahun berusaha membangun negara pascamodern, Uni Eropa telah terpecah menjadi kumpulan negara-negara premodern (negara-bangsa), di mana negara-negara kuat seperti Inggris, Prancis, dan Jerman berselisih tajam mengenai masa depan Eropa.
But after 40 years of trying to create a post modern state, the EU has disintegrated into a collection of pre-modern states (nation states), where powerful states like England, France and Germany are at loggerheads over Europe’ s future.
Ini adalah hasil yang sudah dapat diperkirakan. Benua Eropa telah dilanda perbedaan budaya, perpecahan agama, dan persaingan sengit antara negara-negara yang berkuasa.
This was a predictable outcome. The European continent has been plagued with cultural differences, religious schisms and intense rivalries between powerful states.
Sejarah Eropa dengan jelas menunjukkan bahwa sangat sedikit hal yang dapat mempersatukan bangsa-bangsa Eropa selain ancaman dari luar.
European history clearly demonstrates that there is very little to unite Europeans except foreign threats.
Pada abad ke-17, kemajuan pasukan Utsmani hingga ke gerbang Wina sempat mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk mengesampingkan perbedaan mereka, namun perbedaan itu kemudian kembali muncul. Pada abad ke-20, ancaman dari Uni Soviet, dan kemudian dari hegemoni global Amerika, memaksa Eropa untuk bersatu dalam bentuk sebuah uni.
In the 17th century the advance of the Ottoman army to the gates of Vienna briefly spurred European nations to put aside their differences-only to be resumed later. In the 20th century, the threats from the Soviet Union, and later from America’ s global hegemony forced Europe to coalesce in the form of a union.
Lebih sering daripada tidak, persatuan negara-negara Eropa hanyalah urusan sementara dan dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk memulihkan diri setelah merasakan kehancuran akibat perang. Namun begitu ancaman dari luar melemah, dalam hal ini posisi Amerika di dunia, Eropa kembali ke keadaan perpecahan.
More often than not, the coming together of European nations is a temporary affair and is used by some to recuperate after experiencing the ravages of war. But as soon as the external threat weakens, in this case America’ s position in the world, Europe defaults to a state of disunity.
Namun, penyatuan dunia Muslim menjadi satu kesatuan bukanlah sekadar impian, melainkan kenyataan. Selama berabad-abad, kaum Muslim, tanpa memandang perbedaan ras, bahasa, warna kulit, dan geografi, tetap menjadi bagian dari satu entitas politik yang dikenal sebagai Khilafah.
However, the unification of Muslim world into a single entity is not a mere dream but a reality. For centuries, Muslims irrespective of differences in race, language, colour and geography remained part of a single political entity known as the Caliphate.
Negara-bangsa yang ada di dunia Islam dewasa ini asing bagi kaum Muslimin. Negara-bangsa tersebut tidak memiliki preseden dalam sejarah Islam, dan juga bukan produk dari fikih Islam. Negara-bangsa dipaksakan kepada kaum Muslimin oleh kekuatan-kekuatan Barat untuk mencegah dibangunnya kembali Khilafah.
The present day nation states in the Islamic world are alien to Muslims. They do not have any precedence in Islamic history nor are they a product of Islamic jurisprudence. The nation state was forced upon the Muslims by western powers to prevent the re-establishment of the Caliphate.
Dengan demikian, massa Muslim tidak pernah benar-benar menyatakan kesetiaan mereka kepada negara-negara buatan ini, dan mereka harus diperintah dengan kezaliman. Kini tinggal menunggu waktu sebelum rezim-rezim teror ini digulingkan dan sebuah Khilafah global didirikan di atas reruntuhannya.
As such, the Muslim masses never really expressed their loyalty to these artificial states and had to be governed by tyranny. Now it’ s just a matter of time before these regimes of terror are toppled and a global Caliphate is established on their ruins.
Para penguasa dunia Muslim tidak buta terhadap realitas-realitas ini; sebaliknya, mereka justru menentangnya. Para penguasa ini terus-menerus menyebarkan anggapan bahwa kaum Muslimin tidak akan pernah bisa bersatu dan bahwa penegakan Khilafah termasuk dalam ranah masa lalu.
The rulers of the Muslim world are not blind to these realities; rather they are opposed to them. These rulers continuously preach that Muslims can never be united and that the establishment of the Caliphate belongs to the realm of the past.
Dan jika sekiranya mereka pernah menyerukan persatuan di antara kaum Muslimin, maka hal itu dilakukan melalui lembaga-lembaga yang terinspirasi dari Barat, seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dan sejenisnya.
If by chance, they ever do suggest unity between Muslims then it is through western inspired institutions like the OIC, Arab League, Gulf Cooperation Council (GCC) and the like.
Secara paradoks, lembaga-lembaga dan negara-bangsa yang diciptakan untuk menunda persatuan politik umat Islam justru menjadi kendaraan perubahan. Ketidakberdayaan mereka telah mendorong umat Islam di seluruh dunia untuk meninggalkan Eropa dan Amerika sebagai model negara, serta untuk melipatgandakan upaya mereka dalam menegakkan kembali Khilafah.
Paradoxically these institutions and the nation-states that were manufactured to delay the political unity of Muslims have become the vehicles of change. Their impotence has encouraged Muslims worldwide to discard Europe and America as model states, and to redouble their efforts to reestablish the Caliphate.
9 Juli 2005
July 9, 2005