4. Kelemahan Sistemik Kapitalisme
4. Capitalism’s Systemic Flaws
Saham senilai £500 miliar di sektor perbankan tampaknya merupakan lemparan dadu terakhir Pemerintah Inggris dalam upaya menyelamatkan keruntuhan sistemik di sistem keuangan. Seperti seorang penjudi yang kalah dan terus-menerus kembali ke kasino untuk mengganti kerugiannya, Pemerintah Inggris pun terus menerus menggelontorkan uang pajak rakyat yang sesungguhnya untuk menutupi kerugian "aset" keuangan.
The £500 billon stake in the banking sector appears to be the last throw of the dice by the UK Government in an attempt to rescue systemic collapse in the financial system. Like a losing gambler who returns to the casino repeatedly to recoup his losses the British Government too keeps pouring real tax payers money to cover financial ‘asset’ losses.
Negara-negara Barat selama beberapa dekade telah berceramah kepada dunia tentang manfaat kebebasan kepemilikan sebagaimana terwujud dalam kapitalisme pasar. Tidak hanya itu, mereka juga, melalui konsultan-konsultan yang dibayar tinggi, telah merancang dan menanamkan program-program privatisasi, kebijakan perdagangan bebas, struktur perusahaan kapitalis, serta operasi pasar saham di seluruh penjuru dunia.
Western nations have for decades lectured the world about the benefits of freedom of ownership as epitomised in market capitalism. Not only that, they have, via highly paid consultancies, developed and implanted privatisation programmes, free trade policies, capitalist company structures and stock market operations around the globe.
Melalui apa yang disebut "konsensus Washington", IMF dan Bank Dunia telah memaksakan kebijakan kapitalis kepada negara-negara berkembang yang miskin dan tidak siap menghadapi akibat langsung yang menghancurkan dari program-program "penyesuaian" ini. Seluruh perekonomian telah dirusak secara brutal dengan konsekuensi yang katastrofik. Namun, para bankir (IMF dan Bank Dunia) selalu berargumen, setiap kali dan setelah setiap krisis, bahwa kebijakan kapitalis ini merupakan langkah yang diperlukan menuju arah yang benar.
Through the so-called ‘Washington consensus’ the IMF and World Bank have imposed capitalist policies on poor developing nations ill equipped to deal with the disastrous direct consequences of these ‘adjustment’ programmes. Whole economies have been brutally vandalised with catastrophic consequences. Yet the bankers (IMF and WB) have argued each time and after every crisis that these capitalist policies are a necessary step in the right direction.
Namun, ketika menghadapi keruntuhan ekonomi di dalam negeri, bangsa-bangsa Barat justru menyelisihi, mengabaikan, atau dengan terang-terangan mengesampingkan resep yang sama itu.
However, faced with an economic collapse at home western nations have contradicted, overlooked or plainly disregarded the same prescription.
Kontradiksi dengan kebijakan dan prinsip pasar bebas kapitalis yang memberikan tanda-tanda jelas tentang Barat yang bangkrut secara ideologis telah banyak terjadi dalam krisis saat ini:
Contradictions with capitalist free market policies and principles which provide clear signs of an ideologically bankrupt West have been numerous in the current crisis:
1. Perusahaan swasta yang sebelumnya menguntungkan namun gagal telah dinasionalisasi (misalnya Northern Rock dan Royal Bank of Scotland di Inggris, serta Fannie Mae dan Freddie Mac di Amerika Serikat). 2. Undang-undang monopoli dan antimonopoli (atau anti-persaingan) telah diabaikan (misalnya merger antara Lloyds dan HBOS di Inggris).
1. Previously profitable failed private companies have been nationalised (e.g. Northern Rock and the Royal Bank of Scotland in the UK and Fannie Mae, Freddie Mac in the US) 2. Monopolies and anti-trust (or anti-competition) laws have been disregarded (e.g. the merger between Lloyds and HBOS in the UK).
3. Ratusan miliar uang pembayar pajak telah dicurahkan ke dalam sistem perbankan swasta untuk meminjamkan uang kepada lembaga keuangan komersial yang mencari keuntungan.
3. Hundreds of billions of tax payer’s money has been poured into the private banking system to lend money to commercial profit making financial institutions.
4. Suku bunga telah dipangkas meskipun inflasi relatif tinggi, yang bertentangan dengan kebijakan moneter yang 'sehat' (misalnya di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa).
4. Interest rates have been cut despite relatively high inflation contradicting ‘sound’ monetary policy (e.g. US, UK and Europe).
5. Pajak telah dipangkas meskipun pinjaman dan utang publik tinggi (misalnya di Amerika Serikat), yang bertentangan dengan aturan fiskal yang 'hati-hati'.
5. Taxes have been cut despite high public borrowing and debt (e.g. US) contradicting ‘prudent’ fiscal rules.
6. 100% dari kewajiban keuangan perusahaan swasta yang berorientasi laba (bank) telah dijamin oleh pemerintah (misalnya Irlandia).
6. 100% of the financial liabilities of private profit making companies (banks) have been guaranteed by governments (e.g. Ireland).
7. Perusahaan swasta pembuat mobil telah diberi jaminan kredit untuk merangsang investasi (misalnya di AS).
7. Car manufacturing private corporations have been given credit guarantees to stimulate investment (e.g. US).
8. Pemerintah telah menggunakan uang pembayar pajak untuk membeli saham di perusahaan swasta yang insolven (misalnya, rencana penyelamatan bank di Inggris).
8. Governments have used taxpayer’s money to buy shares in insolvent private corporations (e.g. UK bank rescue plan).
9. Rencana amandemen aturan akuntansi, termasuk nilai wajar (mark to market), dalam standar akuntansi keuangan.
9. The planned amendment of accounting rules including fair value (mark to market) within Financial accounting standards.
Kegagalan sistemik pasar keuangan merupakan dakwaan yang jelas terhadap kapitalisme, karena sistem keuangan mewujudkan kapitalisme dalam pemikiran, nilai, kebijakan, budaya, dan pandangan hidupnya, lebih dari institusi kapitalis mana pun. Prinsip kapitalis tentang kebebasan kepemilikan, yang pernah dianggap suci, terbukti membawa bencana dan kerusakan yang menghancurkan bagi masyarakat di Barat. Kutub yang berlawanan, yaitu komunisme, yang menolak kepemilikan sama sekali, juga terbukti tidak dapat dijalankan.
The systematic failure of financial markets is a clear indictment of capitalism because the financial system epitomises capitalism in its thoughts, values, policies, culture and outlook, more than any other capitalist institution. The capitalist principle of freedom of ownership once sacrosanct has proved disastrous and ruinously damaging for society in the West. The other extreme of communism which denied ownership altogether has also proved unworkable.