1.18 Hadis dan Ayat yang Menunjukkan Kekhalifahannya, dan Perkataan para Imam tentang Hal Itu
1.18 The Hadith And Ay At Which Indicate His Khilafah, And The Words Of The Imams On That
At-Tirmidzi meriwayatkan, dan ia menyatakannya hasan, serta al-Hakim, dan ia menyatakannya sahih, bahwa Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Ikutilah dua orang sesudahku, Abu Bakar dan Umar." At-Thabarani meriwayatkannya dari hadits Abu'd-Darda', dan al-Hakim dalam hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
At-Tirmidhi narrated, and he declared it hasan, and al-Hakim, and lie declared it sahih, that Hudhayfah, may Allah be pleased with him, said: The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said, ‘Follow the lead of the two who come after me, Abu Bakr and cUmar.’ At-Tabarani narrated it from a hadith of Abu’d-Darda’ and al-Hakim in a hadith of Ibn Mascud. may Allah be pleased with him.
Abu’l-Qasim al-Baghawi meriwayatkan dengan isnad yang baik bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar, semoga Allah meridhainya, berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan ada dua belas khalifah setelahku; Abu Bakar hanya akan bertahan sebentar.” Ada kesepakatan ulama atas keshahihan bagian pertama dari hadits ini, karena ia diriwayatkan melalui banyak jalur yang berbeda. Penjelasannya telah diberikan sebelumnya dalam pendahuluan kitab ini. Dalam dua kitab shahih pada hadits sebelumnya terdapat riwayat bahwa Nabi ﷺ, ketika berkhutbah mendekati wafatnya, bersabda, “Ada seorang hamba yang Allah beri pilihan ...” Di akhir hadits tersebut terdapat sabda beliau, “Dan jangan tersisa satu pintu pun kecuali ia ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.” Dalam lafaz riwayat keduanya (al-Bukhari dan Muslim), “Jangan tersisa di masjid sebuah lorong pun kecuali lorong Abu Bakar.” Para ulama berkata, “Ini merupakan isyarat tentang khilafah, karena beliau biasa keluar melalui pintu (dan lorong) tersebut untuk memimpin shalat kaum Muslimin.” Hal ini juga diriwayatkan dalam hadits Anas, semoga Allah meridhainya, dengan lafaz, “Tutuplah pintu-pintu yang terbuka ke masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.” Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi. Dan terdapat pula dalam hadits ‘Aisyah, semoga Allah meridhainya, yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, dalam hadits Ibnu ‘Abbas dalam Zawa’id al-Musnad, dalam hadits Mu‘awiyah bin Abi Sufyan yang diriwayatkan oleh at-Thabarani, dan dalam hadits Anas yang diriwayatkan oleh al-Bazzar.
Abu’l-Qasim al-Baghawi narrated with a good isnad that ' Abdullah ibn cUmar, may Allah be pleased with him, said: I heard the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, saying, ‘There will be twelve khalifahs after me; Abu Bakr will only last for a little.’ There is unanimous agreement on the authenticity of the first part of this hadith, as it is narrated by many different paths. Its explanation has been given earlier in the introduction of the book. In the two sahih books in the preceding hadith there is l hat he, may Allah bless him and grant him peace, when he gave a khutbah close to his death, said, ‘There is a slave whom Allah has given a choice ...’ and in the end of which there is, ‘And let not a door remain but that it is closed except for the door of Abu Bakr.’ And in a wording of the two of them (al-Bukhari and Muslim), ‘Let there not remain in the mosque a passageway except the passageway of Abu Bakr.’ The men of knowledge say, ‘This is an indication of the khilafah because he would go out by it (the door and passageway) to take the lead in the prayer for the Muslims.’ This has been narrated of a hadith of Anas, may Allah be pleased with him, and its wording is, ‘Close these doors which open into the mosque except for the door of Abu Bakr.’ It is narrated by Ibn cAdi. And it is recorded in hadith ofcA’ishah, may Allah be pleased with her, which at-Tirmidhi and others narrated, and in a hadith of Ibn cAbbas in Zawa’id al-Musnad, and in a hadith of Mucawiyah ibn Abi Sufyan which at-Tabarani narrated, and in a hadith of Anas narrated by al-Bazzar.
Dua Syaikh meriwayatkan bahwa Jubayr bin Mut'im, semoga Allah meridhainya, meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia berkata: Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ, dan beliau menyuruhnya untuk kembali lagi kepadanya nanti. Wanita itu berkata, "Bagaimana pendapatmu jika aku datang dan tidak menemukanmu?" seolah-olah maksudnya adalah "kematian." Beliau bersabda, "Jika engkau tidak menemukanku, maka datanglah kepada Abu Bakar." Al-Hakim meriwayatkan, dan ia menshahihkannya, bahwa Anas, semoga Allah meridhainya, berkata: Bani Mustaliq mengutusku kepada Rasulullah ﷺ (dengan pesan), "Tanyakan kepadanya, 'Kepada siapa kami harus membayarkan sedekah (zakat) kami setelah engkau?'" Maka aku datang kepada beliau dan menanyakannya, dan beliau bersabda, "Kepada Abu Bakar." Ibnu 'Asakir meriwayatkan bahwa Ibnu 'Abbas, semoga Allah meridhai keduanya, berkata: Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ untuk menanyakan sesuatu kepada beliau. Beliau berkata kepadanya, "Kembalilah (di lain waktu)." Wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku kembali namun tidak menemukanmu?" (maksudnya adalah wafat beliau). Beliau bersabda, "Jika engkau datang dan tidak menemukanku, maka datanglah kepada Abu Bakar, karena dialah khalifah setelahku." Muslim meriwayatkan bahwa 'Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Panggillah ayahmu (Abu Bakar) dan saudaramu agar aku dapat menulis sesuatu, karena aku khawatir ada orang yang berharap-harap dan ada yang berkata, 'Akulah yang lebih berhak,' sedangkan Allah dan kaum mukminin menolak selain Abu Bakar." Ahmad dan lainnya meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari beliau, dan dalam sebagian riwayat ia berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku dalam sakit beliau yang menyebabkan wafatnya, "Panggillah 'Abdurrahman bin Abi Bakar, dan aku akan menuliskan wasiat untuk Abu Bakar agar tidak ada seorang pun yang berselisih tentangnya setelahku." Kemudian beliau bersabda, "Tinggalkanlah. Aku berlindung kepada Allah dari kaum mukminin berselisih tentang Abu Bakar." Imam Muslim meriwayatkan bahwa 'Aisyah, semoga Allah meridhainya, pernah ditanya, "Siapa yang akan dijadikan khalifah oleh Nabi ﷺ seandainya beliau meninggalkan seorang khalifah?" Ia menjawab, "Abu Bakr." Lalu ditanyakan kepadanya, "Kemudian setelah Abu Bakr siapa?" Ia menjawab, "'Umar." Ditanyakan lagi kepadanya, "Setelah 'Umar siapa?" Ia menjawab, "Abu 'Ubaidah ibnul-Jarrah." Dua Syaikh (al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari, semoga Allah meridhainya, berkata: Nabi ﷺ jatuh sakit dan sakitnya semakin parah. Maka beliau bersabda, "Perintahkanlah Abu Bakr untuk mengimami shalat orang-orang." 'Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, ia adalah seorang yang berhati lembut."
The two Shaykhs narrated that Jubayr ibn Mutcim, may Allah be pleased with him, related from his father that he said: A woman came to the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, and he told her to come back to him later. She said, ‘What do you think if I come and don’t find you?’ as if she were saying, ‘Death.’ He said, ‘If you don’t find me then come to Abu Bakr.’ Al-Hakim narrated, and he declared it sahih, that Anas, may Allah be pleased with him, said: Banu Mustaliq sent me to the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, (saying), ‘Ask him, “To whom should we pay our sadaqat {zakat) after you?”’ So I came to him and asked him and he said, ‘To Abu Bakr.’ Ibn cAsakir narrated that Ibn cAbbas, may Allah be pleased with both of them, said: A woman came to the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, to ask him about something. He said to her, ‘Return (another time).’ She said, ‘Messenger of Allah, if I return and I don’t find you?’ (referring to his death). He said, ‘If you come and don’t find me, then come to Abu Bakr, for he is the khalifah after me.’ Muslim narrated that CA’ ishah, may Allah be pleased with her, said: The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him pcace, said to her, ‘Call your father (Abu Bakr) and your brother *10 (hat I can write something, for I fear that some desirous person will covet, and someone will say, “I am more worthy,” and Allah uikI the believers refuse all except Abu Bakr.’ A li mad and others narrated it by various routes from her in some of which she said: The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, said to me in his sickness in which he died, ‘Call cAbd arllahman ibn Abi Bakr and I will write a testament for Abu Bakr so that no-one will disagree about him after me.’ Then later he said, 'Leave it. I seek refuge with Allah that the believers should disagree about Abu Bakr.’ Muslim narrated that cA’ishah, may Allah be pleased with her, was asked, ‘Who would the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, have left as khalifah if he had left a khalifahV She said, ‘Abu Bakr.’ It was said to her, ‘Then who after Abu Bakr?’ She said, ‘cUmar.’ It was said to her, ‘Who after cUmar?’ She said, ‘Abu ‘Ubaydah ibn al-Jarrah.’ Ihe two Shaykhs narrated that Abu Musa al-Ashcari, may Allah be pleased with him, said: The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, became ill and his illness became severe. So he said, ‘Command Abu Bakr and let him lead the people in prayer.’ 1 A’ishah said, ‘Messenger of Allah, he is a man who has a tender heart.
“Jika ia berdiri di tempatmu, ia tidak akan mampu mengimami orang-orang dalam salat.” Beliau bersabda, “Perintahkan Abu Bakar agar ia mengimami orang-orang dalam salat.” Ia mengulangi ucapannya, lalu beliau bersabda, “Perintahkan Abu Bakar agar ia mengimami orang-orang dalam salat; sesungguhnya kalian adalah teman-teman perempuan Yusuf.” Maka utusan itu datang kepada Abu Bakar, dan ia pun mengimami orang-orang dalam salat pada masa hidup Nabi ﷺ. Hadis ini mutawatir dan juga diriwayatkan dalam hadis dari ‘Aisyah, Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Abdullah bin Zam‘ah, Abu Sa‘id, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Hafshah, semoga Allah meridai mereka. Aku telah mengklasifikasikan jalur-jalur periwayatannya termasuk hadis mutawatir. Dalam beberapa versi hadis ‘Aisyah, semoga Allah meridainya, ia berkata, “Aku tetap bersikeras dalam hal itu bersama Rasulullah ﷺ. Yang mendorongku melakukan itu hanyalah karena tidak pernah terlintas dalam hatiku bahwa orang-orang akan mencintai seorang laki-laki yang menggantikan kedudukannya setelah beliau. Aku hanya berpendapat bahwa tidak akan ada seorang pun yang menggantikan kedudukannya kecuali orang-orang akan menganggapnya sebagai pertanda buruk, maka aku ingin Rasulullah ﷺ memalingkan perintahnya dari Abu Bakar.” Ibnu Zam‘ah, semoga Allah meridainya, berkata bahwa Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk melaksanakan salat, sementara Abu Bakar tidak hadir, sehingga ‘Umar maju dan mengimami salat. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak! Tidak! Tidak! Allah dan kaum Muslimin menolak selain Abu Bakar. Biarlah Abu Bakar mengimami orang-orang dalam salat.” Ibnu ‘Umar berkata: ‘Umar berkata, “Allahu Akbar.” Nabi ﷺ mendengar takbirnya, lalu beliau mengangkat kepalanya dengan marah dan bersabda, “Di mana Ibnu Abi Quhafah?” Para ulama berkata: Dalam hadits ini terdapat bukti yang paling jelas bahwa as-Siddiq adalah yang terbaik secara mutlak di antara para Sahabat, yang paling berhak atas khilafah, dan yang paling layak di antara mereka untuk memimpin.
If he stands in your place he will not be able to lead the people in prayer.’ He said, ‘Command Abu Bakr and let him lead the people in prayer.’ She repeated what she had said and so he said, ‘Command Abu Bakr and let him lead the people in prayer; truly you are the female companions of Yusuf.’ So the messenger came to him (Abu Bakr) and he led the people in prayer in the lifetime of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace. This hadith is mutaivatir and it is also narrated in hadith of cA’ishah, Ibn Mascud, Ibn cAbbas, Ibn cUmar, cAbdullah ibn Zamcah, Abu Sacid, cAli ibn Abi Talib and Hafsah, may Allah be pleased with her, and I have classified their routes of transmission among the mutawatir hadith. In some of the versions of the hadith of cA’ishah, may Allah be pleased with her, she said, ‘I persisted in that with the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace. All that carried me to do that was that it did not occur to me in my heart that people could ever love a man who stood in his position after him. It was only that I was of the view that never would anyone stand in his position but that people would take a bad omen from it, and so I wished that the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, might turn from Abu Bakr.’ Ibn Zamcah, may Allah be pleased with him, said that the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, ordered them to perform the prayer and Abu Bakr was not there, so that cUmar stepped forward and he prayed (as imam). The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, said, ‘No! No! No! Allah and the Muslims refuse any but Abu Bakr. Let Abu Bakr lead the people in prayer.’ Ibn cUmar said: cUmar said, 'Allahu Akbar.’ The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, heard his Allahu Akbar, raised his head in anger and said, ‘Where is Ibn Abi Quhafah?’ The men of knowledge say: In this hadith there is the clearest of proofs that as-Siddiq was absolutely the best of the Companions, and the one having most right to the khilafah, and the most worthy of them for leadership.
Al-Asy'ari berkata: Telah diketahui secara pasti bahwa Nabi ﷺ memerintahkan Ash-Shiddiq untuk mengimami shalat orang-orang di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar. Bersama sabdanya, "Hendaklah yang mengimami orang-orang adalah yang paling baik bacaannya terhadap Kitab Allah," hal itu membuktikan bahwa beliau (Abu Bakr) adalah yang paling baik bacaannya di antara mereka, yaitu yang paling berilmu di antara mereka tentang Al-Qur'an.
Al-Ashcari said: It is known of necessity that the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, ordered as-Siddiq that he should lead the people in prayer in the presence of the Muhajirun and the Ansar. Along with his saying, ‘He must lead the people who is the best read of them in the Book of Allah,’ it proves that he (Abu Bakr) was the best read of them, i.e. the most knowledgeable of them in the Qur’an.
Para Sahabat sendiri berusaha membuktikan dengan hal ini bahwa beliau adalah orang yang paling berhak atas khilafah, di antara mereka adalah cUmar - dan perkataannya akan disebutkan dalam bagian tentang tindakan membaiat - dan di antara mereka adalah cAli.
The Companions themselves sought to prove by this that he was the one with the most right to the khilafah, among them cUmar - and his words will follow in the section on the act of pledging allegiance - and among them cAli.
Ibnu 'Asakir meriwayatkan bahwa 'Ali berkata: Sesungguhnya Nabi ﷺ memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat jamaah, dan sesungguhnya aku hadir, bukan tidak hadir dan bukan sakit; dan kami rela untuk urusan dunia kami dengan orang yang Nabi ﷺ rela untuk urusan agama kami.
Ibn lAsakir narrated that he [cAli] said: Truly the Prophet ordered Aim Bakr to lead the people in prayer and indeed I was present, HIkI I was not absent and was not ill; and we were pleased for our Worldly affairs with the one whom the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, was pleased with for our deen.
Para ulama mengatakan bahwa Abu Bakr dikenal karena keutamaannya untuk menjadi imam pada masa Nabi ﷺ.
I he men of knowledge say that Abu Bakr was recognised for his lil ness for the imamah during the time of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace.
Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd, ia berkata:
Ahmad, Abu Dawud and others narrated that Sahl ibn Sacd said:
Terjadi perselisihan di antara Bani 'Amr bin 'Awf, dan kabar itu sampai kepada Nabi ﷺ. Maka beliau pergi kepada mereka setelah shalat Zhuhur untuk mendamaikan di antara mereka. Beliau berkata kepada Bilal, "Jika waktu shalat tiba dan aku belum datang, maka perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang dalam shalat." Ketika tiba waktu shalat Ashar, Bilal mengumandangkan azan dan iqamah, kemudian ia memerintahkan Abu Bakar, lalu Abu Bakar mengimami shalat.
I here was fighting among Bani cAmr ibn cAwf and it reached the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, so he came to them after the midday prayer in order to make peace between them. He said to Bilal, ‘If it is the time of the prayer, and I don’t come, then order Abu Bakr to lead the people in prayer.’ When it was time for the afternoon prayer Bilal announced the prayer (with the iqamah) and then ordered Abu Bakr, so he led the prayer.
Abu Bakr asy-Syafi'i meriwayatkan dalam al-Ghaylaniyyat, dan Ibnu 'Asakir (meriwayatkan) bahwa Hafshah, semoga Allah meridhainya, berkata kepada Nabi ﷺ, "Ketika engkau sakit, engkau mendahulukan Abu Bakr." Beliau bersabda, "Aku bukanlah yang mendahulukannya, melainkan Allah yang mendahulukannya." Ad-Daraqutni meriwayatkan dalam al-Afrad, dan al-Khatib serta Ibnu 'Asakir (meriwayatkan) bahwa 'Ali, semoga Allah meridhainya, berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Aku telah memohon kepada Allah tiga kali agar Dia mendahulukanmu, tetapi Dia menolakku kecuali dengan mendahulukan Abu Bakr." Ibnu Sa'd meriwayatkan bahwa al-Hasan berkata: Abu Bakr berkata, "Wahai Rasulullah, aku masih melihat diriku (dalam mimpi) menginjak halaman-halaman orang." Beliau bersabda, "Engkau akan berada di tengah manusia di atas jalan {sabil}!" Ia berkata, "Dan aku melihat di dadaku sesuatu seperti dua tanda hitam kecil." Beliau bersabda, "Dua tahun." Ibnu 'Asakir meriwayatkan bahwa Abu Bakrah berkata: Aku datang kepada 'Umar, dan ada orang-orang bersamanya yang sedang makan. Ia melemparkan pandangan kepada seorang laki-laki di antara orang-orang yang paling belakang dan berkata, "Apa yang kamu temukan dalam apa yang kamu baca dari kitab-kitab sebelum kalian?" Laki-laki itu berkata, "Khalifah Nabi ﷺ adalah ash-Shiddiq-nya." Ibnu 'Asakir meriwayatkan bahwa Muhammad bin az-Zubair berkata: 'Umar bin 'Abdul 'Aziz mengutusku kepada al-Hasan al-Bashri untuk menanyakan beberapa hal kepadanya. Maka aku datang kepadanya dan berkata, "Jelaskanlah kepadaku tentang hal yang diperselisihkan orang-orang. Apakah Nabi ﷺ menunjuk Abu Bakr sebagai khalifah?" Maka al-Hasan, yang sedang duduk, menegakkan dirinya dan berkata, "Apakah ada keraguan tentang itu? Engkau tidak punya ayah (ungkapan peribahasa Arab)! Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, beliau benar-benar menunjuknya sebagai khalifah. Ia tentu lebih mengenal Allah, lebih taat dan lebih takut kepada-Nya, dan terlalu takut kepada-Nya untuk membiarkannya wafat tanpa menyerahkan kepemimpinan kepadanya." Ibnu 'Adi meriwayatkan bahwa Abu Bakr bin 'Ayyash berkata: Ar-Rasyid berkata kepadaku, "Abu Bakr, bagaimana orang-orang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah?" Aku menjawab, "Amirul Mu'minin, Allah diam, Rasul-Nya diam, dan kaum mukminin pun diam." Ia berkata, "Demi Allah, engkau hanya menambah kebingunganku." Ia (Abu Bakr bin 'Ayyash) berkata, "Amirul Mu'minin, Nabi ﷺ sakit selama delapan hari, lalu Bilal masuk menemui beliau dan berkata, 'Wahai Rasulullah, siapa yang harus mengimami shalat orang-orang?' Beliau bersabda, 'Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat orang-orang.' Maka Abu Bakar mengimami shalat orang-orang selama delapan hari, sementara wahyu masih turun. Jadi Rasulullah ﷺ diam karena diamnya Allah, dan kaum mukminin diam karena diamnya Rasulullah ﷺ." Maka (Ibnu 'Ayyash) membuatnya (ar-Rasyid) takjub, dan ia berkata, "Semoga Allah memberkahimu." Sekelompok ulama menyimpulkan kekhalifahan as-Siddiq dari ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Hasan al-Basri berkata tentang firman-Nya, Yang Mahatinggi, "Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan yang mencintai-Nya..." (), bahwa maksudnya adalah Abu Bakar dan para sahabatnya. Ketika orang-orang Arab murtad dari Islam mereka, Abu Bakar dan para sahabatnya berjihad melawan mereka hingga mereka kembali kepada Islam. Yunus bin Bukair meriwayatkan bahwa Qatadah berkata, "Ketika Nabi ﷺ wafat, orang-orang Arab murtad (dari Islam)." Kemudian ia menyebutkan perang Abu Bakar melawan mereka, hingga ia berkata, "Kami dahulu mengatakan bahwa ayat ini turun tentang Abu Bakar dan para sahabatnya, 'Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan yang mencintai-Nya!'" ()' Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Juwaybir berkata, mengenai firman-Nya, Maha Tinggi Dia, '{Katakanlah kepada orang-orang Arab Badui yang tertinggal, "Kamu akan diajak (untuk memerangi) kaum yang memiliki kekuatan besar ...}'" (Qur'an 48:
16), ‘Mereka adalah Bani Hanifah.’ Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Qutaybah berkata, ‘Ayat ini menjadi bukti atas kekhalifahan as-Siddiq, karena beliaulah yang menyeru orang-orang untuk memerangi mereka.’ Syaikh Abu’l-Hasan al-Asy‘ari berkata: Aku mendengar Abu’l-‘Abbas Ibnu Syurayh berkata, ‘Kekhalifahan as-Siddiq terdapat dalam Al-Qur’an pada ayat ini (di atas).’ Ia berkata, ‘Karena para ulama sepakat bahwa setelah ayat itu diturunkan, tidak ada peperangan yang menyerukan mereka untuk ikut serta kecuali seruan Abu Bakar, yaitu untuk memerangi orang-orang yang murtad (dari Islam) dan enggan membayar zakat!’ Ia berkata, ‘Hal itu menunjukkan wajibnya kekhalifahan Abu Bakar dan kewajiban untuk taat kepadanya, karena Allah memberitahukan kepada kita bahwa orang yang berpaling darinya akan disiksa dengan pedih.’ Ibnu Katsir berkata: Dan barangsiapa menafsirkan ‘orang-orang yang memiliki kekuatan besar’ sebagai bangsa Persia dan Romawi, maka as-Siddiq adalah orang yang mempersiapkan dan menyiapkan pasukan untuk menghadapi mereka, dan penyelesaian urusan mereka diserahkan kepada ‘Umar dan ‘Utsman yang merupakan dua cabang dari as-Siddiq. Dan Allah Ta‘ala berfirman, ‘Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, ..! (QS. An-Nur 24:
16), ‘They were Banu Hanifah.’ Ibn Abi Hatim and Ibn Qutaybah said, ‘This ayah is a proof of the khilafah of as-Siddiq, because he was the one who called people to fight them.’ Ihe Shaykh Abu’l-Hasan al-Ashcari said: I heard Abu’l-cAbbas Ibn Shurayh saying, ‘The khilafah of as-Siddiq is in the Qur’an in this ayah (above).’ He said, ‘Because the people of knowledge unanimously agree that after its revelation there was not any fight which they were called to except for Abu Bakr’s calling them, and the people, to fight those who reneged (on their Islam) and refused the zakat! He said, ‘That indicates the necessity of the khilafah of Abu Bakr and the obligation of obedience to him, since Allah informs us that the one who turns away from that will be punished painfully.’ Ibn Kathir said: And whoever explains the ‘people of great power’ as being the Persians and the Byzantines then as-Siddiq is the one who equipped and prepared the armies to go against them, and the completion of their affair was left to cUmar and cUthman who are two branches of as-Siddiq. And Allah, exalted is He, says, 'Allah has promised the ones who believe and do right actions that He will definitely appoint them as khulafa’ in the land, ..! (Qur’an 24:
55) hingga akhir ayat. Ayat ini sesuai dengan khilafah as-Siddiq.
55) up to the conclusion of the ayah. This ayah fits the khilafah of as-Siddiq.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam tafsirnya bahwa 'Abd ar-Rahman bin 'Abd al-Hamid al-Mahdi berkata: Pemberian kekuasaan kepada Abu Bakar dan 'Umar terdapat dalam Kitab Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman, {Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara kamu, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, ...} hingga akhir ayat.
Ibn Abi Hatim narrated in his tafsir that cAbd ar-Rahman ibn cAbd al-Hamid al-Mahdi said: The granting of authority to Abu Bakr and cUmar is in the Book of Allah. Allah, exalted is He, says, Allah has promised the ones who believe and do right actions that He will definitely appoint them as khulafa’ in the land, ...’ up to the conclusion of the ayah.
Al-Khatib meriwayatkan bahwa Abu Bakr bin 'Ayyash berkata: Abu Bakr ash-Shiddiq adalah khalifah Rasulullah ﷺ dalam Al-Qur'an, karena Allah Ta'ala berfirman, "(Harta rampasan) bagi orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, sedang mereka mencari karunia dari Allah dan keridhaan(-Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Qur'an 59: 8). Orang-orang yang Allah sebut "benar (shiddiqun)" bukanlah pendusta, dan mereka mengatakan, "Khalifah Rasulullah ﷺ." Ibnu Katsir berkata: Ini adalah kesimpulan yang baik.
Al-Khateeb narrated that Abu Bakr ibn cAyyash said: Abu Bakr as-Siddiq is the khalifah of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, in the Qur’an, because Allah, exalted is He, says, ‘For the poor emigrants who were expelled from their homes and their properties seeking bounty from Allah and contentment, and they help Allah and His Messenger. Those they are the truthful’ (Qur’an 59: 8). The ones Allah named ‘truthful (siddiquri)' are not liars, and they said, ‘Khalifah of the Messenger of Allah.’ Ibn Kathir said: A good deduction.
Al-Bayhaqi meriwayatkan dari az-Za'faroni bahwa asy-Syafi'i berkata: Manusia telah sepakat atas kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Hal itu karena manusia sangat membutuhkan (seorang pemimpin) sepeninggal Rasulullah ﷺ, namun mereka tidak mendapati di bawah kolong langit seorang pun yang lebih baik daripada Abu Bakar, maka mereka pun menyerahkan kekuasaan kepada beliau.
Al-Bayhaqi narrated from az-Zacfarani that ash-Shafici said: People are unanimously agreed on the khilafah of Abu Bakr as-Siddiq. That is because people were hard pressed after the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, but they did not find under the expanse of the sky one better than Abu Bakr, so they gave him authority over them.
Asad as-Sunnah meriwayatkan dalam kitab Fada'il-nya bahwa Mu'awiyah bin Qurrah berkata: Para Sahabat Rasulullah ﷺ tidak pernah meragukan bahwa Abu Bakr adalah khalifah Rasulullah ﷺ, dan mereka tidak menyebutnya dengan sebutan lain selain khalifah Rasulullah ﷺ, dan mereka tidak pernah bersepakat secara bulat atas suatu kesalahan atau kesesatan.
Asad as-Sunnah narrated in his Fada’il that Mucawiyah ibn Qurrah said: The Companions of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, never doubted that Abu Bakr was the khalifah of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, and they would not call him anything but the khalifah of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, and they never agreed unanimously on a mistake or a misguidance.
Al-Hakim meriwayatkan, dan ia menilainya sahih, bahwa Ibnu Mas'ud, semoga Allah meridai dirinya, berkata: Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka di sisi Allah pun baik. Dan apa yang dipandang buruk oleh kaum Muslimin, maka di sisi Allah pun buruk. Para Sahabat semuanya berpendapat bahwa mereka hendaknya mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.
Al-Hakim narrated, and he declared it sahih, that Ibn Mascud, may Allah be pleased with him, said: What the Muslims view as good is willi Allah good. And what the Muslims view as bad is with Allah had. The Companions all held the view that they should appoint Aim Bakr as the khalifah.
Al-Hakim meriwayatkan, dan adh-Dhahabi menyatakannya sahih, bahwa Murrah at-Tayyib berkata: Abu Sufyan ibn Harb datang kepada cAli dan berkata, "Ada apa dengan kekuasaan ini sehingga ia berada di tangan orang yang paling rendah di antara Quraisy dan yang paling hina di antara mereka?" yakni Abu Bakr. "Demi Allah, jika aku menghendaki, niscaya akan kupenuhi (Madinah) untuk melawannya dengan kuda dan pasukan." Ia berkata bahwa cAli berkata, "Sudah berapa lama engkau memusuhi Islam dan para pemeluknya, wahai Abu Sufyan, dan hal itu sama sekali tidak membahayakannya. Kami mendapati Abu Bakr layak menerimanya (khilafah)!"
Al-Hakim narrated, and adh-Dhahabi declared it sahih, that Murrah at-Tayyib said: Abu Sufyan ibn Harb came to cAli and mid, ‘What is it with this authority that it is among the very least of Quraysh and the humblest of them?’ meaning Abu Bakr, ‘By Allah, If I had wished I would have filled it against him with horses and men.’ He said that cAli said, ‘How long you have been at enmity with Islam and its people, Abu Sufyan, and that did not hurt it at ull. We found Abu Bakr worthy of it (the khilafah)!