Pendahuluan
Preface
Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya, serta memberikan keselamatan kepada mereka ﷺ
May Allah Bless The Prophet, His Family And Companions And Grant Them Peace
Edisi Pertama
The First Edition
Ini adalah terjemahan baru dari bab-bab tentang al-Khulafa' ar-Rasyidun dari Tarikh al-Khulafa' karya as-Suyuthi. Bab-bab ini memancarkan cahaya yang sungguh-sungguh.
This is a new translation of the chapters on al-Khulafa’ar- Rashidun from as-Suyuti’s Tarikh al-Khulafa’. These chapters shine with a genuine light.
Saya telah melanjutkan pembahasan melampaui empat khalifah pertama dengan memasukkan al-Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridainya, karena beliau adalah khalifah kelima dan beliau dengan sah menyerahkan kekhilafahan kepada Mu'awiyah, semoga Allah meridainya.
I have continued beyond the first four khulafa’to include al-Hasan ibn cAli ibn Abi Talib, may Allah be pleased with him, because he was the fifth of the khulafa’ and he legitimately transferred the khilafah to Mucawiyah, may Allah be pleased with him.
Anda benar bahwa sebagian besar rujukan kitab sumber hadis yang dikutip tidak tercantum dalam terjemahan, karena siapa pun yang berminat akan dengan mudah menemukan teks Arabnya.
The translation lacks the majority of references to the books which are the sources of the hadith quoted, because whoever is interested will find the Arabic text easily available.
Selanjutnya, terjemahan ini sedapat mungkin tetap mendekati bahasa Arab aslinya, dengan risiko sedikit kekakuan dalam bahasa Inggris.
Furthermore the translation stays as close as possible to the original Arabic at the risk of a slight awkwardness in the English.
Di tempat-tempat yang diperlukan, saya telah menambahkan di dalam tanda kurung apa pun yang dirasa perlu untuk memahami buku ini.
Where necessary I have added within parentheses whatever seemed necessary for an understanding of the book.
Sejarah yang diuraikan dalam halaman-halaman ini semakin terang dengan adanya sebuah karya yang bahkan lebih besar darinya, namun karya tersebut merupakan penjelasan yang mengandaikan pengetahuan tentang isi halaman-halaman ini, yaitu al-cAwasim min al-Qawasim (‘Perlindungan dari Bencana’) karya Qadi Abu Bakr ibn al-cArabi, semoga Allah merahmatinya. Jika as-Suyuti menyajikan riwayat-riwayat paling shahih yang berkaitan dengan khilafah-khilafah ini, maka Qadi Abu Bakr menyingkap makna sebenarnya dari banyak peristiwa yang dikisahkan as-Suyuti dengan sangat terampil.
The history outlined in these pages is further illuminated by a work which is even greater than it, but is itself an exposition that assumes a knowledge of what is in these pages, that is al-cAwasim min al-Qawasim (‘Defence Against Disaster’) by Qadi Abu Bakr ibn al-cArabi, may Allah show him mercy Whereas as-Suyuti gives the most authentic traditions relating to these khilafahs, Qadi Abu Bakr lays bare the real significance of many of the events which as-Suyuti so expertly relates.
Edisi Kedua
The Second Edition
Hidup di "zaman belakangan" jika bukan "zaman akhir", sangat bermanfaat untuk selalu mengingat ucapan Imam Malik, semoga Allah merahmatinya, "Hanya yang benar bagi generasi pertama umat ini yang akan benar bagi generasi terakhirnya." Hal ini semakin jelas bagi kita, "generasi belakangan", karena khayalan tentang evolusi, kemajuan, dan pembangunan semakin terbukti sebagai fiksi kosong belaka.
Living as we do in ‘later times’ if not necessarily ‘last times’, it is fruitful to bear in mind Imam Malik’s saying, may Allah be merciful to him, “Only what was right for the first of this ummah will be right for the last of it.” This is even more clear to us ‘late ones’, since the fantasy of evolution, progress and development is increasingly being exposed for the hollow fiction it is.
Manusia terbaik dan generasi terbaik umat manusia telah hidup dan berlalu. Kita yang hidup sekarang berharap dapat meneladani mereka, dan karena itu buku ini akan paling bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya sebagai penuntun dan sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang adil dan tercerahkan di zaman sekarang.
The best of mankind and the best generations of humanity have already lived and passed on. We who are alive now hope to model ourselves on them, and so this book will be of greatest value to those who take it in hand as an aid and inspiration for establishing a just and illuminated civilisation in the present age.
Setelah menyadari keagungan para khalifah pertama tersebut, semoga Allah meridhai mereka, penting pula bagi pembaca untuk memahami keagungan khalifah-khalifah terakhir, yaitu Osmanli (Utsmaniyyah atau Ottoman). Sejarah mereka menjadi bukti bahwa kekhalifahan Islam bertahan hingga zaman kita, sebab runtuhnya Utsmaniyyah (1923) secara historis hanyalah baru kemarin. Hal ini penting untuk disadari, karena jika tidak, kita bisa terjebak dalam idealisme tak berdaya dari mereka yang meromantisasi Khulafa ar-Rasyidun lalu memandang sisa sejarah Islam sebagai kemunduran yang terus-menerus dan tak dapat dibalik, alih-alih sebagai serangkaian siklus kemunculan, kejayaan, kemunduran, dan pembaharuan yang alami dan menakjubkan, seperti siklus hidup sebuah bunga. Untuk melawan gambaran keliru tentang kemunduran itu, tidak ada yang lebih baik yang dapat saya rekomendasikan kepada pembaca selain sejarah Osmanli, 1289-1922: berdasarkan sumber-sumber Osmanli karya Profesor Mehmet Maksudoglu.
Having realised the greatness of these men, the first khulafa, may Allah be pleased with them, it is also vital for the reader to grasp the greatness of the most recent khulafa’, the Osmanli (Uthmaniyyah or Ottomans). Their history is proof that the khalifate of Islam has endured right down to our own day, since the demise of the Uthmaniyyah (1923) is, historically speaking, only yesterday. It is important to realise this - otherwise we may become trapped in the helpless idealism of those who romanticise the Khulafa ar-Rashidun and then regard the rest of Islamic history as a continuing and irreversible decline, rather than as a series of cycles of emergence, greatness, decline and renewal as natural and as breathtaking as the life-cycle of a flower. To counter that false picture of decline, I can recommend nothing better for the reader than Osmanli history, 1289-1922: based on Osmanli sources by Professor Mehmet Maksudoglu.
Edisi Ketiga
The Third Edition
Edisi ini semula hanya dimaksudkan untuk mengalami sedikit perubahan, yaitu perluasan kecil pada lampiran serta penempatan dalam catatan kaki sebagian teks yang sebelumnya berada di dalam tanda kurung pada badan buku. Namun kemudian kami mengembalikan penjelasan as-Suyuti sendiri mengenai sumber-sumber hadis dan riwayat yang ia kutip. Hal ini mungkin merupakan indikasi paling nyata dari perubahan besar yang terjadi sejak penerbitan pertamanya, ketika materi tersebut dianggap tidak perlu dan bahkan mungkin memberatkan pembaca sehingga tidak dicantumkan. Pembaca pun hendaknya mengikuti penulis dalam penjelasannya yang cermat tentang ilmu ini, dan tidak mereduksinya menjadi pencarian sederhana hanya pada riwayat-riwayat dari dua kitab Sahih.
Little was meant to have changed in this edition apart from a slight expansion of the appendix and the placement in the footnotes of some text previously located in parentheses in the body of the book, but then we restored as-Suyuti’s own accounts of the sources of his hadith and narrations. It is probably the greatest indication of the profound changes that have taken place in the interim since its first publication, when it was felt unnecessary and perhaps even burdensome to the reader to include that material. The reader must on his part follow the author in his careful explication of this science and not reduce it to the simplistic search for only traditions from the two Sahih collections.
Setelah penelitian yang panjang, saya tidak menemukan alasan untuk merevisi catatan kaki tentang wafatnya al-Hasan, semoga Allah meridhainya, dan dugaan keterlibatan Yazid di dalamnya.
After extensive research I found no reason to revise the footnote about the death of al-Hasan, may Allah be pleased with him, and the alleged hand of Yazid in it.
Ironisnya, kitab ini banyak dikutip oleh kalangan Syiah karena bab yang gemilang tentang Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya, namun akan menjadi kesalahan besar jika bab tersebut dicabut dari konteks seluruh Khulafa' dan para Sahabat ini, semoga Allah meridhai mereka semua tanpa kecuali. Wawasan tajam As-Suyuthi paling jelas terlihat dari kenyataan bahwa bab tentang Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga Allah meridhainya, sama panjangnya dengan seluruh bab lainnya digabungkan, dan memuat bukti demi bukti tentang kedudukannya yang sangat tinggi dan haknya yang lebih dahulu atas kekhilafahan, banyak di antaranya diriwayatkan dari Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya.
Ironically, this book is being widely cited by Shicah sources because of its luminous chapter on Sayyiduna cAli ibn Abi Talib, may Allah honour his face, but it would be a serious mistake to take that chapter out of the context of all of these Khulafa’ and Companions, may Allah be pleased with all of them without exception. As-Suyuti's penetrating insight is best illustrated by the fact that the chapter on Sayyiduna Abu Bakr as-Siddiq, may Allah be pleased with him, is equal in volume to all of the other chapters combined, and contains proof after proof of his uniquely high standing and his prior right to the khalifate, many of them transmitted from Sayyiduna cAli ibn Abi Talib, may Allah honour his face.
Dawlah secara akar kata bermakna "pergantian nasib", yang menunjukkan konsep yang dinamis, sangat berbeda dengan konsep "negara" yang statis; ia adalah pertumbuhan organik, bukan sesuatu yang kaku dan terbentuk tetap.
1 Dawlah’s root meaning signifies a ‘turn of fortune’, revealing a dynamic concept utterly opposed to the static concept of ‘state’; it is organic growth as opposed to concrete and plastic.
Selaras dengan karya Profesor tersebut, kami mengikutinya dalam tidak menerjemahkan *fath* sebagai "penaklukan", melainkan sebagai "pembukaan [bagi Islam]", dan *Fath Makkah* sebagai "Pembukaan Makkah [bagi Islam]", bukan "Penaklukan Makkah".
2 Also in accordance with the Professor’s work, we follow him in not translating fath as ‘conquest’ but as ‘opening [to Islam]’, and the Path Makkah as ‘the Opening of Makkah [to Islam]’ rather than the ‘Conquest of Makkah’.
"Rasyidun" diterjemahkan sebagai "yang menempuh jalan yang benar", bukan "yang mendapat petunjuk", karena meskipun makna pasif itu tepat untuk kata "mahdiyyun", kata "rasyidun" memiliki makna yang lebih aktif sebagaimana yang ditunjukkan.
3' Rashidun is translated as “who took the right way” as opposed to “rightly guided” since although the latter passive sense is the correct translation of mahdiyyun, rashidun has the more active sense indicated.