1.27 Apa yang Diriwayatkan dari As-Siddiq tentang Riwayat-riwayat yang Berhenti pada Dirinya, Ucapan-ucapan, Putusan-putusan, Khutbah-khutbah, dan Doa-doa
1.27 What Is Narrated From As-siddiq Of Traditions Which Stop Short At Him, Sayings, Judgements, Khutbahs, And Prayers
Al-Lalika'i meriwayatkan dalam as-Sunnah bahwa Ibnu 'Umar berkata: Seorang laki-laki datang kepada Abu Bakr dan berkata, "Apakah engkau memandang zina sebagai ketetapan (Allah)?" Ia menjawab, "Ya." Laki-laki itu berkata, "Jadi Allah telah menetapkannya atasku, lalu kemudian Dia akan menghukumku karenanya?" Ia menjawab, "Ya, wahai anak wanita yang tidak disunat. Demi Allah, seandainya ada orang bersamaku, niscaya aku akan memerintahkannya untuk memotong hidungmu." Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Musannaf-nya bahwa az-Zubair meriwayatkan bahwa Abu Bakr berkata, ketika ia menyampaikan khutbah kepada orang-orang, "Wahai manusia, berlaku malulah dan rendah dirilah di hadapan Allah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku menaungi diriku ketika aku pergi ke tempat buang air di ruang terbuka, menutupi kepalaku karena malu kepada Allah." 'Abdurrazzaq meriwayatkan dalam Musannaf-nya dari 'Amr bin Dinar, bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq berkata: Abu Bakr berkata, "Berlaku malulah di hadapan Allah. Demi Allah, aku masuk ke jamban dan aku menyandarkan punggungku ke dinding karena malu di hadapan Allah." Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa Abu 'Abdullah as-Sunabihi menceritakan bahwa ia pernah shalat Maghrib di belakang Abu Bakr ash-Shiddiq, dan pada dua rakaat pertama ia membaca Al-Fatihah dan satu surah dari surah-surah pendek (di bagian akhir Al-Qur'an), dan pada rakaat ketiga ia membaca, "{Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami} (QS. Ali 'Imran: 8)."
Al-Lalika’i narrated in as-Sunnah that Ibn cUmar said: A man came to Abu Bakr and said, ‘Do you see adultery as a decree (of Allah)?’ He said, ‘Yes.’ He said, ‘So Allah has decreed it for me and then later He will punish me for it?’ He said, ‘Yes, son of the uncircumcised woman. By Allah, if there were anybody with me, I would order him to cut off your nose.’ Ibn Abi Shaybah narrated in his Musannafthat az-Zubayr narrated that Abu Bakr said, while he was delivering the khutbah to people, ‘People, be shy and modest before Allah. By the One in Whose hand my self is, I shade myself when I go to the toilet in the open spaces, covering my head out of modesty towards Allah.’ cAbd ar-Razzaq narrated in his Musannaf that cAmr ibn Dinar Abu Bakr as-Siddiq said: Abu Bakr said, ‘Be shy before Allah. By Allah, I enter the toilet and I lean my back against the wall out of modesty before Allah.’ Abu Dawud narrated in his Sunan that Abu cAbdullah as- Sunabihi related that he once prayed the prayer after sunset behind Abu Bakr as-Siddiq and he recited in the first two sets of bowing and prostration the Fatihah and a surah from among the small surahs (at the end of the Qur’an) and that he recited in the third, 'Our Lord, do not cause our hearts to deviate after You have guided us! (Qur’an 3: 8)
Ibnu Abi Khaythamah dan Ibnu 'Asakir meriwayatkan bahwa Ibnu 'Uyaynah berkata: Abu Bakr biasa berkata ketika menghibur seseorang yang tertimpa musibah kematian, "Tidak ada salahnya bersabar, dan tidak ada gunanya berkeluh kesah, dan kematian itu lebih ringan dibandingkan apa yang datang sebelumnya dan lebih berat dibandingkan apa yang datang sesudahnya. Ingatlah musibah wafatnya Nabi ﷺ, maka musibahmu akan terasa kecil bagimu, dan Allah akan melipatgandakan pahalamu." Ibnu Abi Syaibah dan ad-Daraqutni meriwayatkan bahwa Salim bin 'Ubayd, dan ia adalah seorang Sahabat, berkata: Abu Bakr ash-Shiddiq biasa berkata kepadaku, "Berdirilah di antara aku dan fajar agar aku bisa makan sahur (sebagai persiapan berpuasa)." Dan ia meriwayatkan bahwa Abu Qilabah dan Abush-Shafar keduanya berkata:
Ibn Abi Khaythamah and Ibn cAsakir narrated that Ibn cUyaynah said: Abu Bakr used to say, when he was consoling a man for a bereavement, ‘There is no harm in patience, and no benefit in impatience, and death is less serious than what comes before it and more severe than what comes after it. Remember the loss of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, and your affliction will seem little to you, and Allah will magnify your reward.’ Ibn Abi Shaybah and ad-Daraqutni narrated that Salim ibn ' Ubayd, and he was a Companion, said: Abu Bakr as-Siddiq used to say to me, ‘Stand between me and the dawn so that I can take the pre-dawn meal (preparatory to fasting).’ And he narrated that Abu Qilabah and Abu’s-Safar both said:
Abu Bakr as-Siddiq biasa berkata, "Tutuplah pintu sampai kita selesai makan sahur." Al-Baihaqi dan Abu Bakr ibn Ziyad an-Naisaburi, dalam Kitab az-Ziyadat, meriwayatkan bahwa Hudzaifah ibn Usaid berkata: Aku memperhatikan Abu Bakr dan Umar serta apa yang mereka tampakkan (dari perbuatan mereka), dengan maksud menetapkan sunnah-sunnah.
Abu Bakr as-Siddiq used to say, ‘Shut the door until we have eaten the pre-dawn meal.’ Al-Bayhaqi and Abu Bakr ibn Ziyad an-Naysaburi, in Kitab az- Ziyadat, narrated that Hudhayfah ibn Usayd said: I observed Abu Bakr and cUmar and what they would make apparent (of their actions), wishing to set sunnahs.
Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: Aku bersaksi bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq berkata, "Makanlah ikan yang mengapung (di permukaan air, yaitu ikan yang mati dengan sendirinya, karena boleh memakannya)." Asy-Syafi'i meriwayatkan dalam al-Umm bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq tidak menyukai perdagangan daging dengan hewan hidup.
Abu Dawud narrated that Ibn cAbbas said: I bear witness that Abu Bakr as-Siddiq said, ‘Eat the fish which float (on the surface, i.e. which have died naturally, as it is permitted to eat them).’ Ash-Shafici narrated in al-Umm that Abu Bakr as-Siddiq disliked trading meat for live animals.
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ia menempatkan kakek pada kedudukan yang sama dengan ayah, yakni dalam hal warisan.
Al-Bukhari narrated that he placed the grandfather in the same standing as the father, meaning in inheritance.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Musannafnya dari 'Atha', dari Abu Bakar bahwa ia berkata: Kakek memiliki kedudukan yang sama dengan ayah selama tidak ada ayah selain dirinya, dan cucu laki-laki dari anak laki-laki menempati kedudukan anak laki-laki selama tidak ada anak laki-laki selain dirinya.
Ibn Abi Shaybah narrated in his Musannafthzt cAta’ narrated from Abu Bakr that he said: The grandfather has the same degree as the father as long as there is no father but him, and the son of the son is in the place of the son as long as there is no son apart from him.
Dia meriwayatkan bahwa al-Qasim meriwayatkan bahwa Abu Bakr pernah didatangi seorang laki-laki yang telah menyangkal ayahnya, lalu Abu Bakr berkata, "Pukullah kepalanya, karena setan ada di dalam kepala." Dia meriwayatkan bahwa Ibnu Abi Malik berkata: Abu Bakr, ketika ia menyalatkan jenazah, biasa mengucapkan, "Ya Allah, ia adalah hamba-Mu, yang keluarga, harta, dan kerabatnya telah meninggalkannya; perbuatan salahnya besar, dan Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang." Sa'id bin Manshur meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa 'Umar meriwayatkan bahwa Abu Bakr memutuskan agar 'Ashim bin 'Umar bin al-Khaththab pergi kepada Umm 'Ashim (mantan istri 'Umar), dan ia berkata (kepada 'Umar), "Aroma, bau, dan kelembutannya lebih baik baginya daripada engkau." Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Qais bin Abi Hazim berkata: Seorang laki-laki datang kepada Abu Bakr dan berkata, "Ayahku ingin mengambil hartaku, seluruhnya, dan ia akan menghabiskannya." Abu Bakr berkata kepada ayahnya, "Engkau hanya boleh mengambil dari harta anakmu sekadar yang mencukupimu." Ayahnya berkata, "Wahai khalifah Rasulullah, bukankah Rasulullah ﷺ bersabda, 'Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu'?" Maka Abu Bakr berkata, "Ya, dan dengan itu beliau hanya bermaksud pengeluaran untuk nafkah." Ahmad meriwayatkan bahwa 'Amr bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Abu Bakr dan 'Umar tidak membunuh seorang merdeka (sebagai qishash) karena (pembunuhan) seorang budak.
He narrated that al-Qasim narrated that Abu Bakr was brought a man who had denied his father and so Abu Bakr said, ‘Hit the head for the shaytan is in the head.’ He narrated that Ibn Abi Malik said: Abu Bakr, when he prayed over the dead, used to say, ‘O Allah, [he is] Your slave, whose family, property and relatives have forsaken him; the wrong action is great, and You are all-forgiving, compassionate.’ Sacid ibn Mansur narrated in his Sunan that cUmar narrated that Abu Bakr gave judgement that cAsim ibn cUmar ibn al-Khattab should go to Umm cAsim (cUmar’s ex-wife), and that he said (to cUmar), ‘Her scent, her odour and her gentleness are better for him than you are.’ Al-Bayhaqi narrated that Qais ibn Abi Hazim said: A man came to Abu Bakr and said, ‘My father wants to take my property, all of it and he will make an end of it.’ Abu Bakr said to his father, ‘You can only have of his property that which will be sufficient for you.’ He (the father) said, ‘Khalifah of the Messenger of Allah, did the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, not say, “You and your property belong to your father”?’ So he said, ‘Yes, and by that he only meant expenditure on maintenance.’ Ahmad narrated that cAmr ibn Shucayb narrated from his father from his grandfather that Abu Bakr and cUmar would not kill a freeman (in retaliation) for (the killing of) a slave.
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Abi Mulaykah meriwayatkan dari kakeknya bahwa seorang laki-laki menggigit tangan seorang laki-laki lain sehingga gigi serinya tanggal, lalu Abu Bakar memutuskan bahwa tidak ada qisas atasnya.
Al-Bukhari narrated that Ibn Abi Mulaykah narrated from his grandfather that a man bit the hand of a man and so caused his (own) incisor to fall out, and Abu Bakr declared that there was no retaliation for it.
Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Ikrimah bahwa Abu Bakar memutuskan bahwa untuk (pemotongan atau pencacatan) satu telinga dikenakan denda lima belas ekor unta, dan beliau berkata, "Rambut dan serban akan menutupi cacatnya." Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Imran al-Juni bahwa Abu Bakar mengirim pasukan ke Syam dan mengangkat Yazid bin Abi Sufyan sebagai panglima atas mereka, lalu berkata, "Aku berpesan kepadamu dengan sepuluh perkara: jangan membunuh wanita, anak-anak, atau orang tua renta yang lemah; jangan menebang pohon yang berbuah; jangan merusak tanah yang ditanami; jangan menyembelih unta atau kambing kecuali untuk dimakan pemiliknya; jangan merusak atau membakar pohon kurma; jangan menyembunyikan harta rampasan; dan jangan bersikap pengecut." Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa'i meriwayatkan dari Abu Barzah al-Aslami, ia berkata: Abu Bakar marah kepada seorang laki-laki, dan kemarahannya sangat keras, maka aku berkata, "Wahai Khalifah Rasulullah, penggallah kepalanya!" Beliau berkata, "Celakalah engkau! Itu tidak boleh dilakukan kepada siapa pun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ." Saif meriwayatkan dalam Kitab al-Futuh dari guru-gurunya bahwa al-Muhajir bin Abi Umayyah, yang menjadi amir di al-Yamamah, pernah membawa dua penyanyi wanita ke hadapannya, salah satunya telah menyanyikan cacian terhadap Nabi ﷺ, maka ia memotong tangannya dan mencabut giginya; dan yang lain telah menyanyikan ejekan terhadap kaum Muslimin, maka ia memotong tangannya dan mencabut giginya. Abu Bakar menulis surat kepadanya, "Telah sampai kepadaku apa yang engkau lakukan terhadap wanita yang menyanyikan cacian terhadap Nabi ﷺ. Seandainya engkau tidak mendahuluiku, niscaya aku akan memerintahkanmu untuk membunuhnya, karena hukuman had bagi orang yang menghina para nabi tidak sama dengan hukuman had lainnya. Siapa pun di antara kaum Muslimin yang berani melakukan hal itu adalah murtad, dan jika ia non-Muslim yang memiliki perjanjian dengan kaum Muslimin, maka ia adalah musuh yang berkhianat dan memusuhi." Adapun wanita yang bernyanyi mengolok-olok kaum Muslim; jika ia termasuk orang-orang yang mengaku Muslim, maka ia harus diberi pengajaran adab dan dihukum, tetapi tidak dicincang. Jika ia termasuk orang-orang dzimmah (Ahli Kitab yang hidup di bawah pemerintahan kaum Muslim), maka, demi hidupku, kesyirikan yang telah kalian tinggalkan itu lebih besar (sebagai dosa) daripada mengolok-olok kaum Muslim. Seandainya aku sebelumnya telah memerintahkan kalian dalam kasus seperti ini (lalu kemudian kalian melakukan apa yang kalian lakukan), niscaya kalian akan mengalami kesengsaraan. Maka terimalah bahwa aku akan membiarkan perkara ini, dan waspadalah terhadap mencincang orang, karena itu adalah kejahatan dan harus dihindari kecuali sebagai qisas (balasan atas kejahatan serupa berupa mutilasi).' Malik dan ad-Daraquthni meriwayatkan dari Shafiyyah binti Abi 'Ubayd, bahwa seorang laki-laki berzina dengan budak wanita yang masih perawan dan ia mengakuinya, lalu Nabi ﷺ memerintahkan agar ia dicambuk, kemudian beliau ﷺ mengasingkannya ke Fadak.
Ibn Abi Shaybah and al-Bayhaqi narrated that Tkrimah said that Abu Bakr gave judgement that there were fifteen camels for (cutting off or mutilating) an ear, and said, ‘The hair and the turban will conceal its disfigurement.’ Al-Bayhaqi and others narrated that Abu Tmran al-Juni said that Abu Bakr sent troops to Syria and put in command over them Yazid ibn Abi Sufyan and said, ‘I counsel you with ten qualities: do not kill a woman, nor a child, nor a feeble old man; do not cut down a fruitful tree; do not ruin cultivated land; do not slaughter a camel or a sheep except for its owner; do not destroy the date-palm, nor burn it; do not conceal plunder; and do not be cowardly.’ Ahmad, Abu Dawud and an-Nasa’i narrated that Abu Barzah al-Aslami said: Abu Bakr was angry with a man and his anger became very severe indeed, so I said, ‘Khalifah of the Messenger of Allah, strike off his head!’ He said, ‘Woe to you! That belongs to no-one after the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace.’ Saif narrated in the Kitab al-Futuh from his shaykhs that al- Muhajir ibn Abi Umayyah, who was the Amir of al-Yamamah, had two women singers brought before him, one of whom had sung abuse of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, so he cut off her hand and pulled out her teeth; and the other had sung ridicule of the Muslims, so he cut off her hand, and pulled out her teeth. Abu Bakr wrote to him, ‘It has reached me that which you have done with the woman who sang abusing the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, and if it were not that you had preceded me I would have told you to kill her, because the hadd punishment for the prophets does not resemble other hadd punishments. Whoever of the Muslims dares to do that is a renegade, and if he is a non-Muslim who has a covenant with the Muslims then he is a treacherous and hostile enemy. As for the one who sang ridiculing the Muslims; if she was one of those who claim to be Muslims, then she should be taught manners and punished but not mutilated. If she was one of the people of the dhimmah (People of the Book living under the governance of the Muslims), then, by my life, that shirk which you have turned away from is greater (as a crime than ridicule of the Muslims). If I had previously commanded you in a case the like of this (and then later you had done what you did) you would have reached affliction, so accept that I will let things be, and beware of mutilating people, because it is a crime and must be avoided except in retaliation (for a similar crime of mutilation).’ Malik and ad-Daraqutni narrated that Safiyyah bint Abi cUbayd narrated that a man had sexual intercourse with a virgin slave girl and confessed it, so he ordered that he should be whipped and then he exiled him to Fadak.
Abu Ya'la meriwayatkan dari Muhammad bin Hatib, ia berkata: Seorang laki-laki yang telah mencuri dibawa kepada Abu Bakr, dan seluruh tangan dan kakinya telah dipotong (karena pencurian-pencurian), lalu Abu Bakr berkata, "Aku tidak menemukan sesuatu untukmu selain apa yang telah diputuskan Rasulullah ﷺ tentang dirimu pada hari beliau memerintahkan agar kamu dibunuh, dan beliau tentu lebih mengetahui tentangmu," lalu ia memerintahkan agar laki-laki itu dibunuh.
Abu Yacla narrated that Muhammad ibn Hatib said: A man who had stolen was brought to Abu Bakr and already all his hands and feet had been cut off (for thefts), so Abu Bakr said, ‘I cannot find anything for you except what the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, decided about you on the day he ordered that you be killed, and he certainly knew better about you,’ and he ordered that he be killed.
Malik meriwayatkan bahwa al-Qasim bin Muhammad berkata bahwa seorang laki-laki dari Yaman, yang tangan dan kakinya telah dipotong, datang dan tinggal bersama Abu Bakar. Ia mengadu kepadanya bahwa gubernur Yaman telah berbuat zalim kepadanya, dan ia biasa shalat malam. Maka Abu Bakar berkata, ‘Demi ayahmu, malammu bukanlah malam seorang pencuri.’ Kemudian belakangan, perhiasan milik Asma’ binti ‘Umais, istri Abu Bakar, hilang. Ia mulai berkeliling bersama mereka sambil berkata, ‘Ya Allah, Engkau harus menghukum siapa pun yang merencanakan kejahatan terhadap penghuni rumah yang saleh ini.’ Lalu mereka menemukan perhiasan itu pada seorang tukang perhiasan yang mengaku bahwa laki-laki yang anggota tubuhnya telah dipotong itu yang membawanya. Lalu ia mengakui, atau ada seseorang yang memberi kesaksian terhadapnya. Abu Bakar memberi perintah dan tangan kirinya pun dipotong.
Malik narrated that al-Qasim ibn Muhammad said that a man from Yemen, who had a hand and a foot cut off, came and stayed with Abu Bakr. He complained to him that the governor of the Yemen had wronged him, and he used to pray at night. So Abu Bakr would say, ‘By your father, your night is not the night of a thief.’ Then later they missed some jewellery belonging to Asma’ bint cUmays, Abu Bakr’s wife. He began to go around with them saying, ‘Allah, You must take [to task] whoever plotted against the people of this righteous house.’ Then they found the jewellery with a jeweller who claimed that the man whose limbs were amputated had brought it, and he confessed or someone witnessed against him. Abu Bakr gave the command and his left hand was cut off.
Abu Bakr berkata, "Demi Allah, doa buruk orang itu terhadap dirinya sendiri, bagiku lebih kuat dan lebih keras terhadapnya daripada pencuriannya." Ad-Daraqutni meriwayatkan dari Anas bahwa Abu Bakr pernah memotong (tangan) karena (pencurian) sebuah perisai yang nilainya lima dirham.
Abu Bakr said, ‘By Allah, his supplication against himself, for me Is stronger and more severe against him than his theft.’ Ad-Daraqutni narrated that Anas said that Abu Bakr would cut (off the hand) for a shield whose value was five dirhams.
Abu Nucaym meriwayatkan dalam al-Hilyah bahwa Abu Salih berkata: Ketika orang-orang Yaman datang pada masa Abu Bakr dan mereka mendengar al-Qur'an, mereka mulai menangis. Abu Bakr berkata, 'Begitulah kami dahulu, kemudian hati-hati menjadi keras.' Abu Nucaym berkata, 'yakni mereka menjadi kuat dan tenang dengan al-ma'rifah (pengenalan) kepada Allah, Yang Maha Tinggi.' Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu cUmar berkata: Abu Bakr berkata, 'Peliharalah hubungan dengan Muhammad ﷺ dalam diri keluarganya.' Abu cUbayd meriwayatkan dalam al-Gharib bahwa Abu Bakr berkata, 'Harum dan beruntunglah orang yang meninggal dunia pada masa kelemahan,' yakni pada awal mula Islam sebelum munculnya fitnah-fitnah.
Abu Nucaym narrated in al-Hilyah that Abu Salih said: When I he people of the Yemen came in the time of Abu Bakr and they heard the Qur’an, they began to weep. Abu Bakr said, ‘Just like this we used to be, then the hearts became hard.’ Abu Nucaym said, 'i.e. they became strong and tranquil with the mdrifah (gnosis) of Allah, exalted is He.’ Al-Bukhari narrated that Ibn cUmar said: Abu Bakr said, ‘Be regardful of Muhammad, may Allah bless him and grant him peace, in the people of his house.’ Abu cUbayd narrated in al-Gbareeb that Abu Bakr said, ‘Fragrant good fortune to whoever dies in the time of weakness,’ i.e. in the very beginning of Islam before the stirrings of dissensions.
Imam yang empat dan Malik meriwayatkan bahwa Qabisah berkata: Seorang nenek datang kepada Abu Bakr as-Siddiq meminta warisannya, lalu beliau berkata, "Engkau tidak mendapatkan apa-apa dalam Kitab Allah, dan aku tidak mengetahui bahwa engkau mendapatkan apa-apa dalam Sunnah Nabi Allah ﷺ. Maka kembalilah hingga aku bertanya kepada orang-orang." Beliau pun bertanya kepada orang-orang, dan al-Mughirah bin Syu'bah berkata, "Aku hadir ketika Rasulullah ﷺ memberikan kepada nenek itu seperenam." Abu Bakr berkata, "Adakah orang lain bersamamu?" Maka Muhammad bin Maslamah berdiri dan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan al-Mughirah.
The Four and Malik narrated that Qabisah said: A grandmother came to Abu Bakr as-Siddiq asking him for her inheritance and he said, ‘There is nothing for you in the Book of Allah and I have not learnt that there is anything for you in the Sunnah of the Prophet of Allah, may Allah bless him and grant him peace, so go back until I ask people.’ He asked people and al-Mughirah ibn Shucbah said, ‘I attended the Messenger of Allah who gave her (a grandmother) a sixth.’ Abu Bakr said, ‘Is there anyone else with you?’ Muhammad ibn Maslamah arose and said the like of what al-Mughirah had said.
Jadi Abu Bakr mengalokasikan hal itu untuknya.
So Abu Bakr allocated her that.
Malik dan ad-Daraqutni meriwayatkan bahwa al-Qasim ibn Muhammad berkata bahwa dua orang nenek datang kepada Abu Bakr untuk menuntut warisan mereka, yaitu ibu dari ibu dan ibu dari ayah, lalu ia memberikan warisan itu kepada ibu dari ibu. 'Abd ar-Rahman ibn Sahl al-Anshari, yang termasuk orang-orang yang hadir dalam perang Badar dan merupakan anggota Bani Harithah, berkata kepadanya, "Khalifah Rasulullah ﷺ, engkau telah memberikan kepada yang satu
Malik and ad-Daraqutni narrated that al-Qasim ibn Muhammad said that two grandmothers came to Abu Bakr seeking their inheritances, the mother of a mother and the mother of a father, and so he gave the inheritance to the mother of the mother. cAbd ar-Rahman ibn Sahl al-Ansari, who was one of those who had been present at Badr and was a member of Bani Harithah, said to him, ‘Khalifah of the Messenger of Allah, you have given to the one 93
Tarikh Para Khalifah Note: the input appears to be a fragment of a heading ("The History of the Khalifahs") followed by a sentence. Translating the text as given: "...dari siapa dia tidak akan mewarisi jika dia (wanita itu) meninggal!" Dan dia pun membagi harta itu di antara keduanya.
T h e H isto r y o f t h e K h a l ifa h s from whom he would not have inherited if she had died!’ And so he divided it between the two of them.
cAbd ar-Razzaq meriwayatkan dalam Musannaf-nya. cA'isyah, semoga Allah meridhainya, meriwayatkan hadis tentang istri Rifacah yang telah diceraikan olehnya lalu menikah dengan cAbdurrahman bin az-Zubair setelahnya, tetapi ia tidak mampu menyetubuhinya, sehingga ia ingin kembali kepada Rifacah. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, 'Tidak, sampai engkau merasakan manisnya persetubuhan dengannya dan ia merasakan manisnya persetubuhan denganmu.' Sebanyak ini terdapat dalam Sahih. cAbd ar-Razzaq menambahkan: Ia tinggal beberapa waktu, lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan memberitahukan bahwa suaminya telah menyentuhnya. Beliau melarangnya kembali kepada suami pertamanya dan bersabda, 'Ya Allah, jika kembalinya ia kepada Rifacah lebih lapang baginya, maka pernikahannya dengan laki-laki itu tidak akan sempurna baginya untuk kali yang kedua.' Kemudian setelah itu ia datang kepada Abu Bakar dan cUmar pada masa kekhalifahan keduanya, dan keduanya pun melarangnya.
cAbd ar-Razzaq narrated in his Musannafxhax. cA’ishah, may Allah be pleased with her, narrated the hadith of the wife of Rifacah who was divorced from him and married cAbd ar-Rahman ibn az-Zubayr after him but he was unable to consummate the marriage, and so she wanted to return to Rifacah. The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said to her, ‘No, not until you taste the sweetness of intercourse with him and he tastes the sweetness of intercourse with you.’ This much is in the Sahih. cAbd ar-Razzaq added: She remained for a while and then she came to him and informed him that he had touched her. He forbade her to return to her first husband and said, ‘O Allah, if it was more expansive for her that she should return to Rifacah, then her marriage to him would not be completed for her another time.’ Then later she came to Abu Bakr and cUmar in their khilafahs and they both forbade her.
Al-Bayhaqi meriwayatkan bahwa 'Uqbah bin 'Amir berkata bahwa 'Amr bin Al-'Ash dan Syurahbil bin Hasanah keduanya mengutusnya sebagai utusan kepada Abu Bakr dengan membawa kepala Bannan, panglima Romawi di Syam.
Al-Bayhaqi narrated that cUqbah ibn cAmir said that cAmr ibn al-cAs and Shurahbil ibn Hasanah both sent him as a messenger to Abu Bakr with the head of Bannan, the Byzantine general of Syria.
Ketika ia sampai kepada Abu Bakr, Abu Bakr sangat tidak menyetujui hal itu, lalu 'Uqbah berkata kepadanya, "Khalifah Rasulullah ﷺ, mereka (bangsa Romawi) melakukan itu terhadap kami." Ia berkata, "Apakah mereka mengikuti sunnah Persia dan Romawi? Jangan bawakan kepalanya kepadaku; surat dan kabar sudah cukup." Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Qais bin Abi Hazim berkata: Abu Bakr masuk menemui seorang perempuan dari Ahmas yang bernama Zainab, dan ia melihat perempuan itu tidak berbicara, lalu ia berkata, "Ada apa dengannya sehingga ia tidak berbicara?" Mereka menjawab, "Ia menunaikan haji dalam keadaan diam." Ia berkata kepadanya, "Berbicaralah, karena hal ini tidak diperbolehkan. Ini termasuk perbuatan jahiliyah." Maka perempuan itu pun berbicara dan berkata, "Siapa engkau?" Ia menjawab, "Aku adalah seorang dari kaum Muhajirin." Perempuan itu bertanya, "Dari kaum Muhajirin yang mana?" Ia menjawab, "Dari Quraisy." Perempuan itu bertanya, "Dari golongan Quraisy yang mana?" Ia menjawab, "Engkau benar-benar seorang penanya - aku adalah Abu Bakr." Perempuan itu berkata, "Sampai kapan kita akan tetap berada di atas perkara yang benar ini, yang telah Allah bawa kepada kita setelah masa jahiliyah?" Ia menjawab, "Lamanya kalian berada di atasnya adalah selama para imam kalian tetap lurus." Perempuan itu bertanya, "Siapakah para imam itu?" Ia berkata, "Bukankah kaummu memiliki para pemimpin dan tokoh yang memerintah mereka dan mereka mentaati mereka?" Perempuan itu menjawab, "Tentu saja." Ia berkata, "Mereka itulah orang-orang tersebut." Al-Bukhari meriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Abu Bakr memiliki seorang budak yang biasa membayarkan penghasilannya kepadanya. Suatu hari budak itu membawakan sesuatu untuknya, lalu Abu Bakr memakannya. Budak itu berkata kepadanya, "Tahukah engkau apa ini?" Abu Bakr berkata, "Apa itu?" Ia menjawab, "Dahulu aku pernah meramal masa depan untuk seseorang pada masa jahiliyah, dan betapa baiknya ramalanku itu, hanya saja aku telah menipunya."
When he came to Abu Bakr, he disapproved of that strongly and so cUqbah said to him, ‘Khalifah of the Messenger of Allah, they (the Byzantines) do that with us.’ He said, ‘Are they following the Sunnah of the Persians and the Byzantines? Don’t carry the head to me; a letter and news are enough.’ Al-Bukhari narrated that Qais ibn Abi Hazim said: Abu Bakr went into a woman of Ahmas called Zaynab, and he saw her not talking and he said, ‘What is wrong with her that she does not talk?’ They said, ‘She performed the Hajj in silence.’ He said to her, ‘Speak, because this is not permitted. This is one of the acts of Jahiliyyah.’ So she spoke and said, ‘Who are you?’ He said, ‘I am a man of the Muhajirun.’ She said, ‘Which of the Muhajirun?’ He said, ‘From Quraysh.’ She said, ‘From which group of Quraysh?’ He said, ‘You are a real questioner - I am Abu Bakr.’ She said, 'I low long will we remain on this right matter which Allah has brought us after ignorance?’ He said, ‘Your remaining upon it will be as long as your imams stay upstanding.’ She said, ‘Who are the imams?’ He said, ‘Do your people not have leaders and nobles who order them and they obey them?’ She said, ‘Of course.’ He said, "Ihey are those people.’ Al-Bukhari narrated that CA’ishah, may Allah be pleased with her, said: Abu Bakr had a slave who used to pay him his revenue. One day he brought him something and Abu Bakr ate of it. The slave said to him, ‘Do you know what this is?’ Abu Bakr said, ‘What is it?’ He said, ‘I used to act as a foreteller of the future for a man in the jahiliyyah and how good was the foretelling, except that I deceived.
"Ketika dia menemuiku dan memberiku makanan yang telah kau makan darinya." Maka Abu Bakr memasukkan tangannya ke dalam mulutnya dan memuntahkan semua yang ada di perutnya. Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Ibnu Sirin berkata, "Aku tidak mengetahui seorang pun yang membuat dirinya muntah setelah memakan makanan, selain Abu Bakr," dan dia menceritakan kisah yang sama.
I hen he met me and gave me that which you have eaten from.’ So Abu Bakr thrust his hand in his mouth and vomited everything in his stomach. Ahmad narrated in az-Zuhd that Ibn Sirin said, ‘I know of no-one who made himself vomit food which he had eaten cxcept for Abu Bakr,’ and he told the same story.
An-Nasa’i meriwayatkan bahwa Aslam berkata: Umar mendapati Abu Bakar sedang memegang lidahnya sambil berkata, "Inilah yang telah membawaku ke berbagai tempat." Abu 'Ubayd meriwayatkan dalam al-Gharib bahwa Abu Bakar melewati 'Abdurrahman bin 'Auf ketika ia sedang bertengkar dengan tetangganya, lalu ia berkata, "Jangan bertengkar dengan tetanggamu, karena ia akan tetap ada ketika orang-orang telah meninggalkanmu." Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari Musa bin 'Uqbah bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq biasa menyampaikan khutbah dengan berkata, "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh makhluk. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, dan kami memohon kepada-Nya keteguhan untuk apa yang ada setelah kematian, karena ajalku dan ajalmu telah dekat. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya yang Dia utus dengan kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta pelita yang menerangi, agar ia memberi peringatan kepada siapa pun yang hidup dan agar perkataan itu berlaku atas orang-orang kafir. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa mendurhakai keduanya, sungguh ia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata. Aku memberi wasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dengan ketakutan yang disertai ketaatan, dan berpegang teguh pada perintah Allah yang telah Dia tetapkan bagi kalian dan dengannya Dia memberi petunjuk kepada kalian, karena ringkasan menyeluruh dari petunjuk Islam setelah kalimat keikhlasan (syahadat)"
An-Nasa’i narrated that Aslam said that cUmar discovered Abu Bakr grasping his tongue, saying, ‘This is the one which has brought me to so many places.’ Abu cUbayd narrated in al-Ghareeb that Abu Bakr passed by cAbd ar-Rahman ibn cAwf while he was quarrelling with his neighbour and he said, ‘Do not quarrel with your neighbour for he will remain when people have left you.’ Ibn cAsakir narrated that Musa ibn cUqbah related that Abu Bakr as-Siddiq used to deliver the khutbah saying, ‘Praise belongs to Allah, the Lord of the creatures, I praise Him and seek His aid, and We ask Him for generosity for that which is after death, because my term and yours have drawn near. And I witness that there is no god but Allah alone, no partner with Him and that Muhammad is His slave and messenger whom He sent with the Truth, as a bringer of good news and a warner and an illuminating lamp so that he might warn whoever is alive and that the word would be realised on the disbelievers. Whoever obeys Allah and His Messenger is truly guided, and whoever disobeys them has gone astray into clear error. I counsel you to have fearful obedience of Allah, and to cling strongly to the command of Allah which He has laid down for you and by which He has guided you, because the comprehensive summation of the guidance of Islam after the word of sincerity (the shahadati)
"mendengar dan taat" kepada siapa pun yang Allah berikan kewenangan atas urusan kalian. Barang siapa taat kepada Allah dan kepada mereka yang memerintahkan kebaikan yang telah dikenal dan melarang kemungkaran, maka ia telah berhasil dan beruntung, serta telah menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
is ‘hearing and obedience’ to whomever Allah has given authority over your affairs, for whoever obeys Allah and those who order the well-recognised virtues and forbid what is rejected, has succeeded and prospered, and discharged that duty with which he is obliged.
Berhati-hatilah terhadap mengikuti hawa nafsu, karena sesungguhnya beruntung dan berhasil adalah orang yang terlindung dari hawa nafsu, ketamakan, ambisi, dan kemarahan. Berhati-hatilah terhadap kesombongan, karena apa yang bisa dibanggakan oleh orang yang diciptakan dari tanah, kemudian akan kembali menjadi tanah, lalu kelak belatung akan memakannya, dan ia hidup hari ini lalu mati esok hari? Maka ketahuilah satu hari dengan hari (Hari Kiamat) dan satu jam dengan jam (saat berakhirnya dunia). Lindungilah diri kalian dari doa orang yang terzalimi, anggaplah diri kalian termasuk golongan orang-orang yang telah mati, dan bersabarlah, karena segala amal itu dengan kesabaran, dan waspadalah, karena kewaspadaan itu bermanfaat. Beramallah, dan amal itu akan diterima. Jagalah diri kalian dari apa yang Allah peringatkan kepada kalian tentang siksa-Nya, dan segeralah menuju apa yang Allah janjikan kepada kalian berupa rahmat-Nya. Pahamilah, niscaya kalian akan dipahami; miliki ketakwaan (taqwa, secara harfiah: menjaga diri) niscaya kalian akan dijaga, karena Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang dengannya Dia membinasakan orang-orang sebelum kalian, dan apa yang dengannya Dia menyelamatkan siapa pun yang Dia selamatkan sebelum kalian. Dia telah menjelaskan kepada kalian dalam kitab-Nya halal dan haram-Nya, serta amal-amal mana yang Dia cintai dan mana yang Dia benci. Aku tidak akan melalaikan kalian dan diriku sendiri, dan Allah adalah Dzat yang dimohon pertolongan-Nya. Dan tiada daya (untuk mencegah kejahatan) dan tiada kekuatan (untuk melakukan kebaikan) kecuali dengan pertolongan Allah.
Beware of following the whim of passion, for he is successful and prospers who is protected from the whim of passion, greed, ambition, and anger. Beware of boasting, for what boast can he have who is created from dust, and then will later return to dust, then later maggots will eat him, and he is today alive and tomorrow dead? So know a day by a day (the Last Day) and an hour by an hour (the Hour of the end). Protect yourselves from the supplication of the wronged one, and count yourselves among the dead, and be patient, for all action is by patience, and be on your guard, for watchfulness is useful. And act, and action will be accepted. Guard yourselves from that which Allah cautioned you about of His torment, and hasten to that which Allah promised you of His mercy. Understand and you will be understood, have fearful obedience (taqwa\ literally - self-protecting) and you will be guarded, for Allah has made clear to you that for which He destroyed those who were before you, and that for which He saved whomever He saved before you. He has made clear to you in His book His halaland His haram, and which actions He loves and which He deplores. I will not neglect you and myself, and Allah is the One from Whom aid is sought. And there is no power (to prevent evil) and strength (to do right) but by Allah.
Ketahuilah bahwa selama engkau tulus kepada Tuhanmu dalam amal perbuatanmu, maka engkau telah menaati Tuhanmu, engkau telah menjaga dan melindungi bagianmu, dan engkau akan berada dalam keadaan selamat dan sejahtera.
Know that as long as you are sincere towards your Lord in your actions then you have obeyed your Lord and you have protected and guarded your portion, and you will be in a state of wellbeing.
Dan apa yang kamu berikan dengan sukarela untuk agamamu, maka jadikanlah itu sebagai persembahan sukarela (yang kamu kirim) lebih dahulu, niscaya kamu akan menerima pembayaran penuh atas pinjamanmu, dan kamu akan diberi jatah makanan harianmu yang tetap selama masa kemiskinanmu dan (pada saat)
A nd that which you offer voluntarily for your deen, then make it a I ree-will offering (which you send) before you and you will receive lull payment for your loan, and you will be given your permanent daily allowance of food during your poverty and in your (time of)
...yang dibutuhkannya. Kemudian renungkanlah, wahai hamba-hamba Allah, tentang saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu yang telah meninggal dunia. Mereka telah sampai kepada apa yang mereka kirimkan sebelum mereka, dan mereka tetap berada di atas hal itu, dan mereka sendirian dalam kesedihan dan kebahagiaan pada apa yang terjadi setelah kematian.
need of it. Then reflect, slaves of Allah, on your brethren and your companions who have passed away. They have come to that which t hey sent before them and they are established upon that, and they are alone in the grief and the happiness in that which is after death.
Allah tidak memiliki sekutu, dan tidak ada hubungan antara Dia dan salah satu makhluk-Nya yang dengannya Dia akan memberi kebaikan atau menolak keburukan, kecuali dengan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya.
Allah has no partner, and there is no relationship between Him and any one of His creatures by which He will give him good or avert evil, excepting by obedience to Him and following His command.
Sesungguhnya, tidak ada kebaikan dalam kebaikan yang setelahnya ada Neraka, dan tidak ada keburukan dalam keburukan yang setelahnya ada Surga. Aku mengucapkan perkataanku ini dan memohon ampunan Allah, bagi diriku dan bagi kalian. Bershalawatlah kepada Nabi kalian ﷺ, semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan kepadanya, dan keselamatan atasnya, rahmat Allah dan berkah-Nya.’ Al-Hakim dan al-Bayhaqi meriwayatkan bahwa 'Abdullah bin Hakim berkata:
I ruly, there is no good in a good after which comes the Fire, nor any evil in an evil after which comes the Garden. I say this word of mine and I seek the forgiveness of Allah, for me and for you. Send blessings on your Prophet, may Allah bless him and grant him peace, and peace be on him, the mercy of Allah and His blessings.’ Al-Hakim and al-Bayhaqi narrated that cAbdullah ibn Hakim said:
Abu Bakr as-Siddiq menyampaikan khutbah kepada kami, dan di dalamnya beliau memuji Allah sebagaimana layaknya Dia dipuji, lalu berkata, "Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dengan ketaatan yang disertai rasa takut, agar kalian memuji-Nya sebagaimana layaknya Dia dipuji, dan agar kalian memadukan harapan dengan rasa takut, karena Allah, Yang Maha Tinggi, memuji Zakariyya dan keluarganya dengan firman-Nya, 'Mereka selalu bersegera dalam berbuat kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, serta mereka khusyuk kepada Kami.' (Qur'an 21: 90). Maka ketahuilah, hamba-hamba Allah, bahwa Allah telah mengambil diri kalian sebagai jaminan dengan hak-Nya, dan atas dasar itu Dia mengambil perjanjian-perjanjian kalian, dan Dia telah membeli dari kalian sesuatu yang sedikit dan fana dengan sesuatu yang banyak dan kekal. Kitab Allah ini ada di tengah-tengah kalian; cahayanya tidak pernah padam dan keajaibannya tidak pernah habis, maka ambillah penerangan dari cahayanya, terimalah nasihat tulus dari Kitab-Nya, dan carilah cahaya darinya untuk Hari yang gelap; karena Dia hanya menciptakan kalian untuk ibadah dan pengabdian kepada-Nya, dan Dia telah menugaskan atas kalian para penulis mulia yang mengetahui apa yang kalian kerjakan. Maka ketahuilah, hamba-hamba Allah, bahwa kalian keluar di pagi hari dan kembali di sore hari untuk suatu masa (rentang umur) yang Dia sembunyikan pengetahuannya dari kalian; maka jika kalian mampu agar rentang umur kalian berakhir ketika kalian sedang bekerja untuk Allah, maka lakukanlah, dan kalian tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan izin Allah. Berlombalah dalam rentang umur kalian sebelum ia berlalu dan mengembalikan kalian kepada seburuk-buruk amal kalian, karena sebagian orang telah menyerahkan hidupnya untuk orang lain dan melupakan dirinya sendiri, dan aku melarang kalian menjadi seperti mereka."
Abu Bakr as-Siddiq addressed a khutbah to us and in it he praised Allah as He is worthy and then said, ‘I counsel you with fearful obedience of Allah, that you praise Him as He is worthy, and that you mix longing with fear, because Allah, exalted is He, praised Zakariyya and the people of his family saying, “ They used to hasten competitively in doing good actions, and they would supplicate Us, full of longing and fear, and they were humble to Us.” (Qur’an 21: 90). Then know, slaves of Allah, that Allah has taken, by His right, your selves as a pledge, and He has taken on that basis your covenants, and He has bought from you the transient little with the everlasting much. This Book of Allah is among you; its light does not become snuffed out and its wonders never end, so take illumination from its light, accept the sincere advice of His Book, and seek light from it for the Day of darkness; for He has only created you for His worship and service, and He has entrusted over you noble scribes who know what you are doing. Then know, slaves of Allah, that you go out in the mornings and come back in the evenings for a period of time (the life-span) the knowledge of which He has concealed from you; so if you are able that your life-spans should come to an end while you are on the work of Allah, then do so, and you will only be able to by the permission of Allah. Race in your life-spans before they pass away and return you to the worst of your actions, for some people have given their lives to others and forgotten themselves and I forbid you to be like them.
Cepatlah! Cepatlah! Bergegaslah! Bergegaslah! Karena di belakangmu ada pengejar yang gesit, yang perintahnya sangat cepat.’ Ibnu Abi'd-Dunya, Ahmad dalam az-Zuhd, dan Abu Nu'aym dalam al-Hilyah meriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Kathir meriwayatkan bahwa Abu Bakar biasa berkata dalam khutbahnya, ‘Di mana orang-orang tampan yang rupawan, yang congkak dengan masa muda mereka? Di mana raja-raja yang membangun kota-kota dan membentengi-nya? Di mana mereka yang dahulu diberi kemenangan dalam pertempuran? Yang terkuat di antara mereka menjadi hina ketika waktu mengkhianati mereka, dan mereka terbangun dalam kegelapan kubur. Cepatlah! Cepatlah! Bergegaslah! Bergegaslah!’ Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Salman berkata: Aku datang kepada Abu Bakar dan berkata, ‘Berilah aku nasihat!’ Ia berkata, ‘Salman, bertakwalah kepada Allah dengan rasa takut dalam ketaatan, dan ketahuilah bahwa akan ada kemenangan-kemenangan, tetapi aku tidak tahu apa bagianmu darinya, yaitu apa yang engkau masukkan ke dalam perutmu atau yang engkau kenakan di punggungmu (pakaian). Ketahuilah bahwa barang siapa yang shalat lima waktu, ia memasuki pagi dalam perjanjian dengan Allah, Yang Maha Tinggi, dan memasuki sore dalam perjanjian dengan Allah, Yang Maha Tinggi.
Make haste! Make haste! Be quick! Be quick! For behind you there is a nimble pursuer whose command is very fast.’ Ibn Abi’d-Dunya, Ahmad in az-Zuhd, and Abu Nucaym in al- Hilyah narrated that Yahya ibn Abi Kathir narrated that Abu Bakr used to say in his khutbah, ‘Where are the handsome fair of face, conceited with their youth? Where are the kings who built the cities and fortified them? Where are those who used to be given conquests in battles? Their strongest were humbled when time betrayed them and they awoke in the darknesses of the graves. Make haste! Make haste! Be quick! Be quick!’ Ahmad narrated in az-Zuhd that Salman said: I came to Abu Bakr and said, ‘Counsel me!’ He said, ‘Salman, have fearful obedience of Allah, and know that there will be conquests, but I do not know what your portion of them will be, that which you put in your belly or throw upon your back (clothing). Know that whoever prays the five prayers enters the morning in a covenant with Allah, exalted is He, and enters the evening in a covenant with Allah, exalted is He.
Janganlah kalian membunuh seorang pun dari orang-orang yang berada dalam perjanjian dengan Allah dan dengan demikian berbuat khianat kepada Allah berkenaan dengan perjanjian-Nya, sebab jika tidak, Allah akan menjatuhkan kalian ke dalam Neraka dengan wajah tertelungkup.’ Dia meriwayatkan bahwa Abu Bakr, semoga Allah meridainya, juga berkata, ‘Orang-orang yang berbuat baik akan diambil, yang paling utama kemudian yang berikutnya paling utama, hingga yang tersisa hanyalah sekam, kulit, dan ampas manusia seperti sisa-sisa kurma dan jelai, yang tidak akan diperhatikan atau dipedulikan oleh Allah.’ Sa'id bin Manshur meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa Mu'awiyah bin Qurrah meriwayatkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq, semoga Allah meridainya, biasa mengucapkan dalam doanya, ‘Ya Allah, jadikanlah yang terbaik dari hidupku sebagai akhirnya, yang terbaik dari amalku sebagai penutupnya, dan yang terbaik dari hari-hariku adalah hari aku menemui-Mu.’ Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa al-Hasan berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Abu Bakr biasa berdoa, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu apa yang terbaik bagiku pada akhir urusanku. Ya Allah, jadikanlah yang terakhir Engkau berikan kepadaku sebagai kebaikan, keridaan-Mu, dan derajat tertinggi di Surga Firdaus.’ Dia meriwayatkan bahwa 'Arfajah berkata: Abu Bakr, semoga Allah meridainya, berkata, ‘Barang siapa mampu menangis, hendaklah ia menangis, dan jika tidak, hendaklah ia berusaha untuk menangis.’ Dia meriwayatkan bahwa 'Azrah meriwayatkan: Abu Bakr, semoga Allah meridainya, berkata, ‘Dua warna merah telah membinasakan mereka (wanita): emas dan za'faran.’ Dia meriwayatkan bahwa Muslim bin Yasar meriwayatkan bahwa Abu Bakr berkata, ‘Seorang Muslim diberi pahala atas segala sesuatu, bahkan atas luka (di kaki) sekalipun.’
Do not kill anyone of the people who is in a covenant with Allah and thus behave treacherously towards Allah concerning His covenant, for then Allah will throw you down in the Fire upon your face.’ He narrated that Abu Bakr, may Allah be pleased with him, also said, ‘The right-acting people will be taken away, the foremost and then the next foremost until there only remain chaff, husks and dregs of people like those left over from dates and barley, for whom Allah will not be concerned or care.’ Sacid ibn Mansur narrated in his Sunan that Mucawiyah ibn Qurrah narrated that Abu Bakr as-Siddiq, may Allah be pleased with him, used to say in his supplication, ‘O Allah, make the best of my life the last of it, and the best of my action its seals and the best of my days the day I meet You.’ Ahmad narrated in az-Zuhd that al-Hasan said: It has reached me that Abu Bakr used to say in his supplication, ‘O Allah, I ask You that which is best for me at the end of the affair. O Allah, make the last that You give me of good Your good pleasure and the highest ranks in the Gardens of Bliss.’ He narrated that cArfajah said: Abu Bakr, may Allah be pleased with him, said, ‘Whoever is able to weep let him weep, and if not let him endeavour to weep.’ He narrated that cAzrah narrated: Abu Bakr, may Allah be pleased with him, said, ‘Two reds have destroyed them (women): gold and saffron.’ He narrated that Muslim ibn Yasar narrated that Abu Bakr said, ‘The Muslim is rewarded for everything, even a hurt (in the foot)
disebabkan oleh batu, putusnya tali sandalnya, atau sesuatu di dalam lengan bajunya yang ia lewatkan dan ia khawatirkan, lalu ia menemukannya di lipatan (pakaiannya).” Ia meriwayatkan bahwa Maymun bin Mihran berkata: Abu Bakar dibawakan seekor gagak bersayap besar, lalu ia membaliknya dan berkata, “Tidak ada hewan buruan yang tertangkap dan tidak ada pohon yang ditebang melainkan karena tasbih yang dilalaikannya.” Al-Bukhari meriwayatkannya dalam al-Adab, dan ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id az-Zuhd, bahwa as-Sunabihi meriwayatkan bahwa ia mendengar Abu Bakar berkata, “Doa seorang saudara untuk saudaranya karena Allah diharapkan akan dikabulkan.” ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id az-Zuhd meriwayatkan dari ‘Ubayd bin ‘Umayr bahwa Labid, sang penyair, berkata bahwa ia datang kepada Abu Bakar dan berkata, “Segala sesuatu selain Allah adalah batil.” Abu Bakar berkata, “Engkau benar.” Ia berkata, “Dan setiap kenikmatan pasti akan sirna.” Ia (Abu Bakar) berkata, “Engkau berdusta! Di sisi Allah ada kenikmatan yang tidak akan sirna.” Ketika ia berpaling, Abu Bakar berkata, “Mungkin penyair itu mengucapkan kata itu dari hikmah.” Ucapannya menunjukkan kuatnya rasa takutnya kepada Tuhannya. Abu Ahmad al-Hakim meriwayatkan bahwa Mu‘adz bin Jabal berkata: Abu Bakar memasuki sebuah kebun berdinding, dan di bawah naungan sebatang pohon ada seekor merpati, lalu ia menghela napas dan berkata, “Keberuntungan yang harum bagimu, burung! Engkau makan dari pepohonan, engkau berteduh di pepohonan, dan engkau terbang tanpa perhitungan. Alangkah baiknya jika Abu Bakar seperti engkau.” Ibnu ‘Asakir meriwayatkan bahwa al-Asma‘i berkata: Ketika Abu Bakar dipuji, ia biasa berkata, “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangka, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku atas apa yang mereka katakan.” Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Abu ‘Imran al-Juni berkata: Abu Bakar berkata, “Aku ingin sekali menjadi sehelai rambut di sisi seorang budak yang beriman.” Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Mujahid berkata: Ibnu az-Zubair dahulu seperti sepotong kayu ketika ia berdiri shalat, karena kerendahan hati yang penuh takut, dan ia berkata, "Aku diberitahu bahwa Abu Bakar juga seperti itu." Ia meriwayatkan bahwa al-Hasan berkata: Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku ingin menjadi pohon ini yang dimakan (buahnya) dan ditebang." Ia meriwayatkan bahwa Qatadah berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Abu Bakar berkata, "Aku ingin menjadi rerumputan yang dimakan ternak." Ia meriwayatkan bahwa Damrah bin Habib berkata: Kematian menimpa salah seorang putra Abu Bakar ash-Shiddiq. Pemuda itu mulai melirik ke arah sebuah kasur. Setelah ia wafat, mereka berkata kepada Abu Bakar, "Kami melihat putramu melirik ke arah kasur itu." Mereka mengangkatnya dari kasur tersebut dan mendapati di bawahnya lima atau enam dinar. Abu Bakar memukulkan tangannya ke tangan yang lain berulang kali sambil berkata, "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Wahai fulan, aku rasa kulitmu tidak akan cukup untuk (menanggung dosa) itu." Ia meriwayatkan bahwa Tsabit al-Banani meriwayatkan bahwa Abu Bakar biasa mengutip syair ini sebagai peribahasa:
"Engkau akan terus meratapi kematian orang yang engkau cintai hingga engkau menjadi dia, dan si pemuda mengharapkan suatu harapan yang ia mati sebelum mencapainya." Ibn Sa'd meriwayatkan bahwa Ibn Sirin berkata: Tidak ada seorang pun setelah Nabi ﷺ yang lebih takut menghadapi apa yang tidak ia ketahui daripada Abu Bakr. Tidak ada seorang pun setelah Abu Bakr yang lebih takut menghadapi apa yang tidak ia ketahui daripada 'Umar. Terkadang suatu perkara datang kepada Abu Bakr yang tidak ia temukan sumbernya dalam Kitab Allah maupun jejak atau tradisi dalam Sunnah, maka ia berkata, "Aku akan bersungguh-sungguh berijtihad untuk sampai pada kesimpulanku sendiri. Jika itu benar, maka itu dari Allah. Jika itu keliru, maka itu dari diriku, dan aku memohon ampun kepada Allah."
‘You will continue lamenting the death of a beloved until you are him, and the youth hopes a hope which he dies short of (attaining).’ Ibn Sacd narrated that Ibn Sirin said: No-one after the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, was as much in awe of what he did not know as Abu Bakr. No-one after Abu Bakr was as much in awe of what he did not know as cUmar. Sometimes a case would come before Abu Bakr for which he could find no source in the Book of Allah nor any trace or tradition in the Sunnah and so he would say, ‘I will exert myself to arrive at my own conclusion. If it is right then it is from Allah. If it is wrong it is from me and I seek forgiveness of Allah.’