Isi Umum Al-Qur'an
General Content Of The Qur’aan
Di Makkah, kaum Muslimin adalah minoritas yang tertindas, sedangkan setelah hijrah mereka ke Madinah, mereka menjadi mayoritas yang berkuasa. Oleh karena itu, wahyu-wahyu Al-Qur'an pada kedua fase tersebut memiliki karakteristik unik yang membedakan satu sama lain.
In Makkah, Muslims Were An Oppressed Minority, Whereas After Their Migration To Madeenah They Became The Ruling Majority. Thus, The Revelations Of The Qur’aan During The Two Phases Had Unique Characteristics Which Distinguished Them From Each Other.
Periode Mekah (609-622 M)
The Makkan Period (609-622 CE)
Periode ini dimulai dengan permulaan kenabian di Makkah dan berakhir dengan hijrah (perpindahan) Nabi ﷺ ke kota Madinah. Wahyu-wahyu pada periode ini terutama berkaitan dengan membangun landasan ideologi Islam, yaitu iman, guna mempersiapkan kelompok awal para mualaf untuk tugas yang berat, yaitu menegakkan tatanan sosial Islam secara praktis. Oleh karena itu, topik-topik dasar wahyu Makkah berikut ini semuanya mencerminkan satu aspek atau lainnya dari prinsip-prinsip yang dirancang untuk membangun iman kepada Tuhan.
This period starts with the beginning of the prophet hood in Makkah and ends with the Prophets Hijrah (migration) to the city of Madeenah. The revelations of this period were mainly concerned with building the ideological foundation of Islaam, Eemaan (faith), in order to prepare the early band of converts for the difficult task of practically establishing the social order of Islaam. Consequently the following basic topics of the Makkan revelations all reflect one aspect. Or another of principles designed to build faith in God.
(i) Tauhid (Keesaan Allah)
(i) Tawheed (Allaah’s Unity)
Sebagian besar penduduk Makkah percaya kepada Tuhan Yang Maha Tinggi yang dikenal dengan nama "Allah" sejak zaman yang paling kuno. Namun, mereka telah menambahkan sejumlah tuhan lain yang memiliki sebagian kekuasaan Allah atau bertindak sebagai perantara.
Most of the people of Makkan believed in a Supreme Being known by the name “Allaah” from the most ancient of times. However, they had added a host of gods who shared some of Allaah’s powers or acted as intermediaries.
Oleh karena itu, wahyu-wahyu Makkiyah menegaskan keesaan Allah yang unik dan menunjukkan bahwa tuhan-tuhan selain Allah tidak memberi manfaat apa pun.
Accordingly, Makkan revelations declared Allaah’s unique unity and pointed out that gods besides Allaah are no benefit.
(ii) Keberadaan Allah
(ii) Allaah’s Existence
Sebagian ayat-ayat awal menyajikan argumen logis yang membuktikan keberadaan Tuhan bagi beberapa orang Makkah yang benar-benar mengingkarinya.
Some of the early verses presented logical arguments proving the existence of God for the few Makkans who actually denied it.
(iii) Kehidupan Akhirat
(iii) The Next Life
Karena tidak ada cara bagi manusia untuk mengetahui tentang kehidupan akhirat, wahyu-wahyu Makkah menggambarkan dengan jelas keajaiban, misteri, dan kengeriannya.
Since there was no way for human beings to know about the next life, the Makkan revelations vividly described its wonders, its mysteries and its horrors.
(iv) Umat Tuhan
(iv) The People Of God
Ayat-ayat Makkiyyah sering menyebutkan contoh-contoh sejarah dari peradaban-peradaban terdahulu yang dihancurkan ketika mereka mengingkari kewajiban mereka kepada Allah, seperti kaum 'Aad dan Tsamud, untuk memberi peringatan kepada mereka yang menolak risalah Islam dan untuk mengajarkan kepada orang-orang beriman tentang keagungan Allah.
The Makkan verses often mentioned historical examples of earlier civilizations which were destroyed when they denied their obligation to God, like the ‘Aad and the Thamood, in order to warn those who rejected the message of Islaam and to teach the believers about the greatness of Allaah.
(v) Salat (Shalat Wajib)
(v) Salaah (Formal Prayer)
Karena hubungan yang erat antara Salat dan Tauhid, Salat adalah satu-satunya rukun Islam lainnya yang disyariatkan di Makkah, selain syahadat (Tauhid).
Because of the critical relationship between Salaah and Tawheed, Salaah was the only other pillar of Islaam to be legislated in Makkah, besides the declaration of faith (Tawheed).
(vi) Tantangan
(vi) Challenges
Untuk membuktikan kepada kaum musyrik Makkah bahwa Al-Qur'an berasal dari Tuhan, sebagian ayat-ayat Makkiyah menantang orang-orang Arab untuk menandingi gaya bahasa Al-Qur'an. 21
In order to prove to the pagan Makkans that the Qur’aan was from God, some of the Makkan verses challenged the Arabs to imitate the style of the Qur’aan. 21
Periode Madinah (622–632 M)
The Madeenan Period (622-632 CE)
Hijrah menandai awal periode ini, dan wafatnya Nabi ﷺ pada tahun 632 M menandai akhirnya. Setelah Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah dan Islam tersebar di sana, beliau ﷺ diangkat sebagai penguasa, dan komunitas Muslim menjadi sebuah negara yang baru tumbuh. Dengan demikian, wahyu terutama berkaitan dengan penataan Negara Islam. Dan pada periode inilah sebagian besar hukum-hukum sosial dan ekonomi syariat diturunkan.
The Hijrah marks the beginning of this period and the death of the Prophet (s.w.) in 632 CE marks the end. After the Prophet’s migration to Madeenah and the spread of Islaam there, he was appointed as the rular, and the Muslim community became a fledgling state. Thus, revelation was concerned primarily with the organization of the Muslim State. And it was during this period that the majority of the social and economic laws of the Sharee’ah were revealed.
Wahyu-wahyu pada periode ini juga memperkuat fondasi Iman dan Tauhid yang telah ditetapkan pada periode Makkah. Namun, sebagian besar topik dasar berikutnya dari wahyu-wahyu Madinah berpusat pada hukum-hukum yang diperlukan bagi pembangunan sebuah umat Islam.
Revelations during this period also strengthened the foundations of Eemaan and Tawheed, which were established during the Makkan period. However, most of the following basic topics of the Madeenan revelations concentrate on the laws necessary for the development of an Islamic nation.
(i) Hukum-hukum
(i) Laws
Pada periode Madinah, tiga rukun Islam yang terakhir diwahyukan, begitu pula larangan minuman keras, daging babi, perjudian, serta hukuman bagi zina; hukuman bagi pembunuhan dan pencurian juga ditetapkan.
It was during the Madeenan period that the last three pillars of Islaam were revealed, as well as the prohibition of intoxicants, pork, gambling, and the punishments for adultery; murder and theft were fixed.
(ii) Jihad
(ii) Jihaad
Selama periode Makkah, kaum Muslimin dilarang mengangkat senjata melawan kaum Makkah yang menindas mereka, demi menghindarkan kebinasaan mereka dan untuk menumbuhkan kesabaran mereka. Hak untuk memerangi musuh serta aturan-aturan peperangan diturunkan di Madinah setelah jumlah kaum Muslimin bertambah secara drastis.
During the Makkan period, Muslim were forbidden to take up arms against the Makkans who were oppressing them, in order to avoid their decimation and to develop their patience. The right to fight against the enemy as well as the rules of war was revealed in Madeenah after the numbers of Muslims had dramatically increased.
(iii) Ahlul Kitab
(iii) People Of The Book
Di Madinah, kaum Muslimin untuk pertama kalinya berinteraksi dengan kaum Yahudi, dan dalam skala besar berinteraksi dengan kaum Nasrani. Karena itu, sejumlah ayat Madaniyah membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum Yahudi untuk membingungkan Nabi ﷺ dan merendahkan Islam. Ayat-ayat tersebut juga menjelaskan hukum mengenai aliansi politik dengan kaum Nasrani dan Yahudi, serta hukum yang membolehkan pernikahan dengan mereka.
In Madeenah, Muslims came in contact with Jews for the first time and with Christians on a large scale. Thus, a number of Madeenan verses tackled questions, which were raised by the Jews in order to befuddle the Prophet (s.w.) and discredit Islaam. The verses also outlined laws concerning political alliances with Christians and Jews, as well as laws permitting marriage with them.
(iv) Orang-orang Munafik
(iv) The Munaafiqs (Hypocrites)
Untuk pertama kalinya sejak permulaan risalah terakhir, orang-orang mulai memasuki barisan Islam tanpa benar-benar meyakininya. Sebagian masuk Islam untuk berusaha menghancurkannya dari dalam, karena kaum Muslimin kuat dan mereka tidak dapat menentang mereka secara terbuka, sementara yang lain masuk lalu keluar tak lama kemudian dengan tujuan menggoyahkan iman orang-orang beriman. Akibatnya, beberapa ayat Madaniyah menyingkap rencana busuk mereka dan memperingatkan terhadapnya, sementara yang lain meletakkan dasar-dasar hukum mengenai orang-orang murtad.22
For the first time since the beginning of the final message, people began to enter the fold of Islaam without really believing in it. Some entered Islaam to try to destroy it from within because Muslims were strong and they could not openly oppose them, while others entered and exited shortly thereafter in order to shake the faith of the believers. Consequently, some Madeenan verses exposed their plots and warned against them, while others laid the foundations for the laws concerning apostates.22
Bidang-Bidang Kajian Al-Qur'an
Qur’anic Fields Of Study
Kumpulan informasi yang terkandung dalam Al-Qur'an, secara keseluruhan, dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian sehubungan dengan
The body of information contained in the Qur’aan, as a whole, may be grouped under three headings with regards to
bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan hal tersebut:
the fields of study to which they are related:
Pertama: Informasi yang berkaitan dengan iman kepada Tuhan, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan perkara-perkara kehidupan akhirat. Topik-topik ini tercakup dalam bidang studi yang dikenal sebagai teologi (‘Ilmu al-Kalam atau al-‘Aqidah).
First: Information related to Belief in God, His angels, His scriptures His prophets, and the affairs of the next life. These topics are covered within the field of study known as theology (‘Ilm al-Kalaam of al-‘Aqeedah)
Kedua: Informasi yang berkaitan dengan amalan hati dan jiwa, serta prinsip-prinsip moral dan aturan perilaku yang bertujuan untuk mengembangkan keluhuran akhlak. Bidang-bidang ini merupakan lapangan ilmu moral yang dikenal sebagai etika (‘Ilm al-Akhlaq).
Second: Information related to deeds of the heart and soul, and moral principles and rules of conduct aimed at the development of nobility of character. These areas represent the field of moral science known as ethics (‘Ilm al-Akhlaq).
Ketiga: Informasi yang berkaitan dengan amal-amal anggota badan dan termuat dalam kumpulan perintah, larangan, dan pilihan. Kelompok ini mewakili bidang hukum. (23)
Third: Information related to deeds of the limbs and contained within a body of commandments, prohibitions and choices. This group represents the field of law. (23)