6. Sebab-Sebab Utama Terjadinya Perbedaan Hukum
6. Main Reasons For Conflicting Rulings
Kita telah melihat bahwa meskipun para Imam dari keempat Mazhab besar sepakat tentang keutamaan empat prinsip dasar hukum Islam (Al-Qur'an, Sunnah, Ijma' dan Qiyas), tetap terjadi perbedaan di antara hukum-hukum dalam mazhab mereka, dan perbedaan itu masih ada hingga kini. Perbedaan ini muncul karena berbagai sebab, yang terutama berkaitan dengan aspek-aspek berikut:
We have seen that although the Imaams of the four major Madh-habs were all agreed on the primacy of the four fundamental priciples of Islamic law (the Qur’aan, the Sunnah, Ijmaa’and Qiyaas), certain differences have occurred and still exist among the rulings of their Madh-habs. These differences arose for various reasons, the chief ones being related to the following aspects:
Interpretasi makna kata dan konstruksi gramatikal; riwayat Hadis (ketersediaan, keotentikan, syarat-syarat penerimaan, dan interpretasi atas konflik tekstual); keabsahan prinsip-prinsip tertentu (Ijmaa', adat kebiasaan penduduk Madinah, Istihsaan, dan pendapat para Sahabat); serta metode-metode Qiyaas. Posisi empat madzhab yang ada akan disebutkan jika relevan.
interpretation of ward meanings and grammatical constructions; Hadeeth narrations (availability, authenticity, conditions for acceptance, and interpretation of textual conflict); admissibility of certain principles (Ijmaa’, customs of the Madeenites, Istihsaan, and opinions of the Sahaabah); and methods of Qiyaas. Mention will be made of the positions of the four existing Madh-habs where relevant.
Surah al-Baqarah (2): 228.
153 Soorah al-Baqarah (2): 228.
154 Abdullaah ‘Abdul-Muhsin at-Tarki, Asbaab Ikhtilaaf al-Fuqahaa, (Riyadh: Matba’ah as-Sa’aadah, cet. ke-1, 1974), hlm. 190. 155 Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Abu Daud. Lihat Ahmad Hasan, Sunan Abu Dawud (Terjemahan Bahasa Inggris), (Lahore: SH. Muhammad Ashraf, 1984), jld.
154 Abdullaah ‘abdul-Muhsin at-Tarki, Asbaab Ikhtilaaf al-Fuqahaa, (Riyadh: Matba’ah as-Sa’aadah, 1st ed. 1974), p. 190. 155 Collected by an-Nasaa’ee and Abu Daawood. See Ahmad Hasan, Sunan Abu Dawud (English Trans.), (Lahore: SH. Muhammad Ashraf, 1984), vol.
1, hlm. 71. No. 285 Hadits ini juga dicatat oleh Muslim (Sahih Muslim (Terjemahan Bahasa Inggris), jilid 1, hlm. 188-9, no. 652) dengan sedikit perbedaan redaksi.
1, p. 71. No. 285 this Hadeeth is also collected by Mulim (Sahih Muslim (English Trans.), vol. 1, pp. 188-9, no. 652) with a variation in wording.
Riwayat Abu Daawood dan an-Nasaa'ee dinyatakan sahih oleh al-Albaanee dalam Irwaa' al-Ghaleel (Beirut: al-Maktab al-Islaamee, cet. ke-1, 1979), jilid 7, hlm. 199, no. 2118.
Abu Daawood and an-Nasaa’ee’s narrations are authenticated by alAlbaanee in Irwaa al-Ghaleel (Beirut: al-Maktab al-Islaamee, 1st ed., 1979), vol. 7, p. 199, no. 2118.
156 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil, jilid 7, hlm. 200, no. 2120.
156 Collected by Ibn Maajah and authenticated by al-Albaanee in Irwaa alGhaleel, vol.7, p. 200, no. 2120.
157 Tayammum dengan debu ketika tidak ada air. 158 Surah an-Nisaa (4): 43 dan Surah al-Maaidah (5): 6.
157 Purificationwith dust in the absence of water. 158 Soorah an-Nisaa (4): 43 and Sorrah a-Maaidah (5): 6.
Keadaan suci secara ritual yang ditetapkan sebagai syarat sahnya beberapa ibadah tertentu.
159 A ritual state of purity stipulated as a precondition for certain acts of worship.
Diriwayatkan oleh al-Bukhaari (Sahih Al-Bukhari (Arabic-English Trans.), jilid 1, hlm. 294-5, no. 498) dan Abu Daawood (Sunan Abu Dawud, (English Trans.), jilid 1, hlm. 183-4, no. 712).
160 Collected by al-Bukhaaree (Sahih Al-Bukhari (Arabic-English Trans.), vol. 1, pp. 294-5, no. 498) and Abu Daawood (Sunan Abu Dawud, (English Trans.), vol. 1, pp. 183-4, no. 712).