Cinta adalah dasar dari setiap aktivitas, baik dalam kebenaran maupun kebatilan, dan dasar dari seluruh aktivitas Islam adalah memiliki cinta kepada Allah ~ dan Rasul-Nya ~, sebagaimana dasar dari Wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah) adalah memiliki iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Perasaan apa pun yang menghalangi kesempurnaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atau bersaing dengan cinta ini, sesungguhnya bertentangan dengan dasar iman dan melemahkan landasannya. Jika perasaan itu menguat hingga menentang dasar cinta kepada Allah atau iman kepada Wahyu, maka ia menjadi bentuk kemusyrikan yang meniadakan iman seseorang. Jika tidak sampai menentangnya, ia tetap merusak kesempurnaan iman yang wajib. Oleh karena itu, persahabatan yang sejati dalam Islam tidak akan tercapai kecuali dengan menunjukkan permusuhan kepada musuh-musuh Allah ~. Allah ~ menyatakan bahwa Ibrahim :%§1 bertanya kepada kaumnya: (Apakah kalian memperhatikan apa yang selama ini kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu? Sesungguhnya mereka adalah musuh bagiku, kecuali Tuhan semesta alam.)1 Ibrahim, Khalilullah, tidak membangun persahabatan yang sangat akrab dengan Allah hingga ia menyatakan permusuhannya terhadap orang-orang dari kaumnya yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah ~. Tidak ada persahabatan kecuali karena Allah, dan tidak ada persahabatan kecuali dengan menyatakan diri bebas dari segala sesuatu yang disembah selain-Nya. Karena Allah ~ berfirman: (Sungguh, telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah; kami mengingkari kalian, dan telah nampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja.")2 dan Dia ~ berfirman: (Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dia yang telah menciptakanku; sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku," dan ia menjadikan kalimat itu kalimat yang kekal pada keturunannya, agar mereka kembali (kepada Allah).)3 yaitu. Ia menjadikan persahabatan karena Allah dan pembebasan dari segala yang disembah selain Allah sebagai sebuah "kalimat" yang kekal, untuk diwariskan kepada para nabi dan pengikut mereka setelahnya; kalimat ini adalah syahadat tauhid: (la ilaha illallah - tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata). Ini adalah "kalimat" yang di atasnya langit, bumi, dan agama ditegakkan. Karena "kalimat" inilah kiblat ditetapkan dan pedang jihad diacungkan. Ini adalah "kalimat" yang melindungi darah dan harta seseorang di negeri Muslim, dan menyelamatkan seseorang dari siksa kubur. Tidak seorang pun akan masuk surga tanpanya; ia adalah Kalimat Islam, dan kunci Rumah Kedamaian, Rumah Iman. Ia membedakan rumah yang penuh berkah dari rumah yang penuh siksa dan kesulitan. Ia adalah tiang yang memikul kewajiban-kewajiban agama dan sunnah, sebab siapa yang akhir ucapannya la ilaha illallah, ia masuk surga.
Inti dari kalimat ini dan rahasianya adalah mengesakan Allah, yang kepada-Nya kekuasaan dan segala pujian, dengan cinta, pujian, dan pengagungan. Tidak mencintai selain-Nya; tidak meminta kepada selain-Nya; tidak bersandar kepada selain-Nya; tidak menginginkan keridhaan selain-Nya; tidak takut kepada selain-Nya; tidak bersumpah dengan nama selain-Nya; tidak bertobat kecuali kepada-Nya; tidak taat kecuali kepada perintah-Nya; tidak memohon keselamatan kecuali dari-Nya; tidak bersujud kepada selain-Nya; tidak menyembelih (hewan) kecuali untuk-Nya. Semua ini dapat dihimpun dalam satu kata: tidak beribadah kepada selain-Nya semata. Inilah perwujudan syahadat tauhid (la ilaha illallah).
Karena alasan inilah Allah mengharamkan neraka bagi orang yang menegakkan syahadat tauhid ini dalam hidupnya dan teguh di atasnya, sebagaimana firman Allah: ({Orang-orang yang teguh pendirian atas kesaksian mereka}). Seorang mukmin teguh di atas kesaksiannya dalam hatinya, di mana ia menempati kedudukan yang sama seperti ruh dalam jasad. Orang yang sakit adalah orang yang dekat dengan kematian, sedangkan ruh yang mengamati kesehatan tubuh itu hidup. Jadi kehidupan ruh ini bergantung pada kehidupan kalimat tersebut (dengan adanya Syahadat di dalamnya), sebagaimana kehidupan jasad bergantung pada keberadaan ruh di dalamnya. Barangsiapa menjalani hidupnya dengan berpegang teguh pada "kalimat" ini dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka ruhnya akan menikmati kehidupan baik yang telah ditentukan baginya di Surga, sebagaimana firman Allah ~: (Adapun orang yang takut akan menghadap Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.) 3 (Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.) 4 (Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa, tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati; bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Itulah kemenangan yang agung.) 5 Orang beriman yang tulus dalam ibadahnya kepada Allah adalah termasuk orang yang menikmati kehidupan terbaik, pikiran yang paling tenang, hati yang paling lapang, dan hati yang paling gembira, yang merupakan sejenis surga di dunia ini (baginya) sebelum surga di akhirat. Anas bin Malik ~ meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Apabila kalian melewati taman-taman Surga, maka berhentilah dan nikmatilah." Ketika ditanyakan apa yang dimaksud dengan taman-taman Surga, beliau ﷺ menjawab bahwa itu adalah halaqah-halaqah (majelis-majelis) tempat Allah diingat." Beliau ﷺ 6 juga bersabda: "Jarak antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman Surga." 7 Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi orang beriman selain kembali kepada Allah ~ dalam setiap urusan, mengingat-Nya, dan bersungguh-sungguh untuk meraih ridha-Nya, agar dapat merasakan cinta-Nya. Nabi ﷺ meriwayatkan bahwa Allah ~ berfirman: "Wahai anak Adam! Aku menciptakanmu untuk beribadah kepada-Ku, maka janganlah engkau menyia-nyiakan waktumu dengan bermain-main. Aku telah menjamin rezeki dan karunia-karunia-Mu, maka janganlah engkau bersusah payah." "Wahai anak Adam! Ingatlah Aku, niscaya engkau akan menemukan-Ku. Jika engkau menemukan-Ku, engkau menemukan segalanya; tetapi jika engkau kehilangan-Ku, engkau kehilangan segalanya; karena Aku lebih engkau cintai daripada apa pun."
Love is the basis of every activity, whether in truth or falsehood, and the basis of all Islamic activities is having love for Allah ~ and His Messenger ~ . just as the basis of the Revelation (the Qur 'an and the Sunnah) is having belief in Allah and His Messenger. Any feeling that prevents the perfection of this love for Allah and His Messenger, competing with this love, is indeed opposed to the basis of Faith and weakens its base. If it is strengthened until it opposes the basis of the love of Allah or the belief in the Revelation, it becomes a form of polytheism which negates one's Faith. If it does not oppose it, it impairs its credible perfection. Therefore, real friendship in Islam is not achieved, except by showing enmity to the Enemies of Allah ~ - Allah ~ stated that Ibrahim :%§1 questioned his people: ( Do you observe that which you have been worshipping, you and your ancient fathers? Verily, they are enemies to me, except the Lord of the 'Alamin (mankind, jinn and all that exists).) 1 Ibrahim, the Khalil of Allah, did not establish his real intimate friendship with Allah, until he declared his enmity towards those of his people who worshipped deities besides Allah ~ - There is no friendship except for Allah' s Sake, and there is no friendship except by declaring one's freedom from anything worshipped besides Him £. For Allah ~ said: ( Indeed, there was an excellent example for you in Ibrahim and those with him, when they said to their people: "Verily, we are free from you and whatever you worship besides Allah; we have rejected you, and there has appeared between us and you hostility and hatred, for ever, until you believe in Allah, Alone.") 2 and He ~ said: ( Remember when Ibrahim said to his father and his people: "Verily, I am innocent of what you worship, except Him (i.e. I worship none but Allah, Alone), Who did create me; and verily, He will guide me" and he made it a Word, lasting among his offspring, that they may turn back (to Allah))3 i.e. he ~1 made friendship for Allah's Sake and freedom from anything worshipped besides Allah as a lasting "word", to be inherited by the prophets and followers after him; this word is the testimony of Faith: (la ilaha illallah - none has the right to be worshipped but Allah, Alone). It was the "word" upon which the heavens, earth and religion were established. It was for this "word" that the Qiblah 1 was fixed and the Swords of Jihad were raised. It is the "word" which safeguards one's blood, property in the Muslim land, and rescues one from the Punishment of the grave. No one would enter Paradise without it; it is the Word of Islam, and the key to the House of Peace, the House of Faith. It distinguishes a house of blessings from one of torments and hardships. It is the pole carrying religious obligations and the Sunnah, for he whose last word was la-ilaha-illallah enters Paradise. The essence of this "word" and its secret is : to single out Allah, to Whom belongs all Sovereignty and Praise, with Love, Praise and Glorification. To love none but Him; to ask none but Him; to rely on none but Him; to desire to please none but Him; to fear none but Him; to swear by no other name but His; to repent only to Him; to obey only His Command; to ask for salvation only from Him; to prostrate to none but Him; to sacrifice (an animal) only to Him. All this can be combined in one word: to worship none but Him ~ Alone . This is the realization of the Testimony of Faith, (la if aha illallah ). It is for this reason that Allah ~ forbade the Hell-Fire for the one who establish this Testimony of Faith in their lives and stand by it, as Allah ~ said: ( Those who stand firmly upon their testimonies.)2 A believer stands firmly upon his/her testimony in his/her heart, where it is in the same position as the spirit is in the body. A sick person is one close to death, whereas a spirit observing the health of the body is alive. So the life of this spirit depends upon the life of this word (by having the Testimony of Faith within it) , just as the life of the body depends upon the existence of the spirit within it. Whoever has lived his life holding firmly to this "word" and observing its obligations, his/her spirit would enjoy its new destined good life in Paradise, for Allah ~ has said: (As for him who feared standing before his Lord, and restrained himself from impure evil desires and lusts, verily, Paradise is his abode.) 3 ( Whoever works righteousness - whether male or female - while he (or she) is a true believer, verily, to him We will give a good life)4 (No doubt! Verily, the auliya' of Allah (i.e. those who believe in the Oneness of Allah, fearing and loving Him much), no fear shall come upon them nor shall they grieve; those who believe and used to fear Allah much; for them are glad tidings, in the life of the present world and in the Hereafter. No change can there be in the Words of Allah. This is indeed the supreme success. ) 5 The believer who is sincere in his/her worship of Allah is the one of those people who enjoys the best life, most restful mind, most open heart, most cheerful heart, which is a type of paradise in this world (for him/her) before the one in the Hereafter. Anas bin Malik ~ reported that the Prophet ;i said: "When you come upon the pastures of Paradise feed on them ." On being asked what the pastures of Paradise were, he ~ replied that they were circles where Allah was remembered." He ~ 6 also said: "The distance between my home and my pulpit is a pasture of Paradise. " 7 There is nothing more beneficial to the believer than turning to Allah ~ ' in every matter, remembering Him and working hard to please Him, in order to enjoy His Love. The Prophet ~ reported that Allah ~ said: "Son of Adam! I have created you to worship Me, so do not waste your time playing around. I have taken charge of your blessings and provisions, so you do not tire yourself. Son of Adam! Call Me and you will find Me, and if you find Me, you find everything; but if you miss Me, you miss everything; for I am more beloved to you than anything else."