Hawa nafsu menuntun kepada syirik
Lust leads to polytheism
Hal ini dapat menjadi salah satu bentuk syirik, karena hati seseorang, dalam sebagian kasus, menjadikan kekasihnya sebagai tandingan bagi Allah; ia mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah. Lalu bagaimana dengan orang yang cintanya kepada kekasihnya lebih besar daripada cintanya kepada Allah? Jenis cinta ini tidak diampuni; ia adalah bentuk syirik, dan Allah tidak mengampuni syirik. Namun Dia mengampuni orang yang bertobat, dengan menghapus segala bentuk syirik dari hati mereka (yakni bagi mereka yang bertobat dengan sungguh-sungguh). Salah satu tanda cinta yang musyrik ini adalah bahwa orang yang dimabuk cinta lebih mengutamakan kesenangan kekasihnya daripada kesenangan Tuhannya. Ketika hak kekasihnya bertentangan dengan hak Tuhannya, ia mendahulukan hak kekasihnya! Inilah keadaan banyak orang yang memiliki gairah terlarang terhadap wanita, dan gairah terlarang untuk memandangi gambar atau wajah mereka. Letakkan nafsu syahwat mereka di satu sisi timbangan dan letakkan iman tauhid mereka di sisi yang lain, lalu cobalah melakukan penimbangan yang adil yang akan meridai Allah dan Rasul-Nya. Banyak dari mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa tidak ada lagi tempat di dalam hati mereka selain untuk kekasih mereka. Mereka lebih condong mencintai kekasihnya daripada Pencipta mereka. Mereka telah mencurahkan seluruh cinta dan gairah mereka kepada kekasihnya sehingga tidak tersisa lagi untuk beribadah kepada Allah, padahal beribadah kepada Allah menuntut kesempurnaan dalam cinta dan ketundukan seseorang. Obat bagi keadaan yang melumpuhkan ini adalah dengan mengetahui bahwa penyakit ini, yang bertentangan dengan iman tauhid seseorang, berasal dari kebodohan seseorang dan dari kelalaian hatinya dalam mengingat Allah. Seseorang harus lebih dahulu mempelajari tauhid Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya, kemudian ia harus melaksanakan ibadah, baik yang lahiriah maupun yang batiniah, yang akan menyibukkan hatinya dalam dzikir yang terus-menerus kepada Allah. Ia hendaknya menghadap kepada Allah dengan penuh kerendahan diri dan ketundukan, memohon pertolongan-Nya, agar penyakit itu dijauhkan darinya. Tidak ada obat yang lebih baik daripada tulus (ikhlas) kepada Allah ~ dalam segala perbuatan seseorang. Itulah obat yang disebutkan oleh Allah ~ ketika Dia berfirman: {Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kejahatan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (yang dibersihkan).} Allah ~ memberitahukan kepada kita bahwa Dia memalingkan Yusuf dari perbuatan keji dan zina karena ibadahnya yang tulus kepada Tuhannya. Seseorang juga harus mengetahui bahwa mengikuti Islam dan akal sehat memungkinkan tercapainya manfaat bagi individu, serta menghilangkan atau mengurangi segala sebab kerusakan. Sudah diketahui bahwa menumbuhkan nafsu untuk memandang wanita atau gambar mereka secara haram tidak memberi manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia. Bahkan, akibat buruknya terlalu banyak untuk dihitung, maka kami sebutkan beberapa aspek saja berikut ini: Pertama, hati sepenuhnya terpaut kepada kekasihnya, dan teralihkan dari mencintai Tuhannya ~ atau mengingat-Nya. Maka tidak dapat dihindari bahwa salah satunya akan mengalahkan yang lain ketika keduanya berusaha berkumpul dalam satu hati. Kedua, hati akan tersiksa karenanya, karena siapa pun yang mencintai sesuatu selain Allah ~ akan disiksa olehnya. Ketiga, hati menjadi tawanan di tangan penawannya yang dapat membuatnya terhina. Hati yang mabuk menjadi tidak sadar akan kehinaannya. Keempat, hati teralihkan dari kemaslahatan agama dan dunianya. Kelima, segala penyakit dunia dan akhirat menyerbu hati yang dibutakan oleh syahwat. Sesungguhnya, semakin hati mendekat untuk memuaskan hawa nafsunya, semakin jauh ia dari Tuhannya, dan dengan demikian ia jatuh ke tangan setan. Keenam, ketika syahwat menguasai hati, akal menjadi rusak dengan bisikan-bisikan setan yang terus bermunculan. Ketujuh, penyakit ini membawa kepada rusaknya indra, atau setidaknya sebagian darinya. Sebab ketika hati rusak, mata, telinga, dan lidah pun ikut rusak. Mata tidak lagi melihat keburukan atau kekurangan kekasihnya. Telinga tidak mau mendengarkan tuntutan untuk meninggalkan kebiasaan haram semacam itu, karena orang yang terlibat dalam suatu aktivitas tidak melihat cacatnya; cinta yang membara terhadap syahwat menempatkan tirai di atas matanya. Satu-satunya orang yang menyadarinya adalah orang yang pernah terlibat di dalamnya lalu kemudian meninggalkannya. Oleh karena itu, para Sahabat yang memeluk Islam setelah hidup dalam kemusyrikan lebih baik daripada mereka yang lahir dalam Islam. 'Umar bin Al-Khattab ~ berkata: "Tali-tali Islam dilanggar satu demi satu oleh mereka yang lahir dalam Islam dan tidak pernah menyaksikan Jahiliyah (masa sebelum Islam)." Kedelapan, asmara adalah cinta yang membara atau berlebihan; ia menguasai hati seseorang dan mulai menggunakan dengan kuat baik kekuatan hewani maupun kekuatan mentalnya, hingga terjadi kehancuran dirinya. Hal ini telah diamati dengan baik dalam perjalanan asmara: awalnya manis, pertengahannya penuh kekhawatiran dan kecemasan, dan akhirnya kehancuran diri. Pada awal asmara semacam itu, para ulama telah berkata bahwa seseorang harus menahan diri semampunya, jika memang tidak ditakdirkan baginya untuk mencapai kekasihnya secara halal (melalui pernikahan). Namun, jika ia gagal menahan kekuatannya, setidaknya ia harus diam dan tidak mengungkapkannya kepada orang lain, karena dengan begitu ia telah melanggar kehormatan kekasihnya, dan menambah kezaliman pada dirinya sendiri. Banyak penyakit yang timbul dari asmara syahwat ini, yang dalam beberapa kasus telah menjerumuskan orang-orang yang dibesarkan dalam Islam ke dalam kemusyrikan. Sesungguhnya, seorang Mu'adzin pernah melihat seorang wanita cantik dari atas atap dan terpikat olehnya. Maka ia turun dan meminta untuk menjadi kekasihnya. Wanita itu menjawab bahwa ia seorang Nasrani, dan bahwa ia akan menikah dengannya jika ia bersedia memeluk agamanya. Ia menerima, namun pada hari yang sama, ketika ia menaiki satu anak tangga di atap mereka, ia terjatuh dan meninggal. Ketika sebagian orang Kristen hendak memalingkan seorang tawanan Muslim dari agamanya, mereka memperlihatkannya kepada seorang wanita cantik, dan wanita itu kemudian harus menarik perhatiannya, hingga ia menguasai hatinya. Setelah itu ia harus menawarkan dirinya kepada laki-laki tersebut jika ia memeluk agamanya! Hal ini terjadi pada saat {Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.} 1 Orang yang berakal tidak akan menyerahkan dirinya kepada hasrat bergelora semacam ini, karena hal itu hanya membawa akibat-akibat buruk. Siapa pun yang menyibukkan pikirannya dengan nafsu hanyalah menipu dirinya sendiri dan bahkan dapat menghancurkannya, sebab jika ia tidak terus-menerus memandangi wajah kekasihnya, nafsu itu tidak akan menguasai hatinya. Cinta yang paling bermanfaat adalah cinta kepada Allah ﷻ, yang bersifat mutlak; cinta yang dengannya setiap hati terlahir secara naluriah. Inilah rahasia Syahadat, karena Tuhanlah yang dengan cinta, pengagungan, pujian, dan ketundukan disembah oleh hati-hati. Namun ibadah tidak diterima jika tidak ditujukan kepada Allah ﷻ semata, karena ibadah adalah kesempurnaan cinta bersama kesempurnaan ketundukan dan kerendahan diri. Bukti kewajiban mencintai Allah ﷻ ini disebutkan dalam seluruh Kitab-Nya, dalam risalah para nabi-Nya, dan dalam fitrah yang Allah ﷻ anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Hati manusia secara fitrah tertarik untuk mencintai Zat yang melimpahkan nikmat kepada mereka, sebagaimana Allah ﷻ berfirman: {Segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.} 2 Bukti ini juga nyata apabila hamba-hamba-Nya mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya yang terindah, yang menunjukkan kesempurnaan dan keagungan-Nya. Cinta memiliki dua daya tarik: keindahan dan kemuliaan; dan keduanya dimiliki Allah ﷻ dalam tingkat kesempurnaan yang mutlak. Dia ﷻ Maha Indah dan mencintai keindahan, karena seluruh keindahan adalah milik-Nya. Allah ~ berfirman (menujukan firman-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ): (Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.){ Qs. Ali 'Imran: 31 }. Dia ~ juga berfirman: ({ Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya (Islam), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya; yang bersikap lembut terhadap orang-orang yang beriman, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka tunduk (kepada Allah). Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolong, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.} ){ Qs. Al-Ma'idah: 54-56 }. Dasar mengambil seseorang sebagai pelindung adalah cinta, sebagaimana dasar permusuhan adalah kebencian. Allah ~ adalah Wali orang-orang yang beriman, dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Dia ~ mencintai mereka, dan Dia menjadi Wali mereka sesuai dengan tingkat cinta mereka kepada-Nya. Allah ~ telah mencela orang-orang yang mengambil selain-Nya sebagai pelindung; Dia ~ berfirman: ({ Di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cintanya kepada Allah. } ){ Qs. Al-Baqarah: 165 }. Dia ~ memberitahukan kepada kita tentang orang-orang yang menjadikan tandingan bagi-Nya (dalam ibadah), ketika mereka berkata kepada tandingan-tandingan itu di dalam Neraka: ({ Demi Allah, sesungguhnya kita dahulu berada dalam kesesatan yang nyata, ketika kita menyamakan kamu (sesembahan-sesembahan palsu) dengan Tuhan semesta alam. }){ Qs. Asy-Syu'ara: 97-98 }. 2) Dengan tauhid ini, yang didasarkan pada cinta kepada Allah, Allah ~ mengutus seluruh Rasul-Nya dengan wahyu-wahyu-Nya, membawa pesan yang sama sejak Nabi pertama (Adam ~ \) hingga Nabi terakhir (Muhammad ﷺ); karena demi tauhid inilah Allah ~ menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka; menjadikan surga (sebagai tempat tinggal yang kekal) bagi orang-orang yang mencintai-Nya, dan neraka (sebagai tempat tinggal) bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya. Nabi ﷺ bersumpah bahwa iman seseorang belum sempurna hingga Nabi ﷺ menjadi lebih dicintainya daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia; maka bagaimana dengan cinta kepada Tuhan £? Nabi ﷺ juga bersabda kepada 'Umar bin Al-Khattab: "Tidak, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri," yakni imanmu belum sempurna sampai cintamu mencapai tingkat ini! Jika Rasulullah ﷺ lebih berhak (atas kita) daripada diri kita sendiri dalam cinta dan tuntutannya, maka bukankah Tuhan £ lebih berhak untuk dicintai daripada diri kita sendiri? Allah ~ menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, dan menciptakan baginya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi; bukankah Tuhan berhak atas cinta dan keridhaan kita (yang ditunjukkan dengan penghargaan, rasa takjub, dan ibadah yang tulus kepada-Nya semata)? Dia ~ Maha Pemurah; Dia memberi kepada hamba-Nya bahkan sebelum hamba-Nya memintanya. Dia ~ menghargai usaha kecil dari hamba-Nya, dan mengampuni begitu banyak kesalahan, menghapuskannya. Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi memohon kepada-Nya setiap hari, dan Dia ~ mendengarkan permintaan setiap orang. Dia ~ tidak pernah bingung oleh banyaknya permintaan dari seluruh hamba-Nya, dan Dia tidak pernah jemu terhadap mereka yang berdoa dengan sangat bersungguh-sungguh. Bahkan, Dia ~ lebih ridha kepada mereka yang berulang kali meminta kebutuhan mereka kepada-Nya, dan Dia pun tidak menyukai jika tidak diminta! Mengapa manusia tidak mencintai Yang Esa yang satu-satunya mendatangkan kebaikan bagi mereka (dengan melipatgandakan amal baik orang beriman sepuluh kali lipat) dan menghapus keburukan mereka? Dia ~ mengabulkan doa, menghilangkan musibah, mengampuni dosa, dan memberi pahala atas amal kebaikan! Kesempurnaan cinta tampak dalam kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan jiwa; dan tentu saja tanda-tanda cinta yang sempurna ini terpuji, jika mengantarkan kepada kenikmatan abadi yang paling agung, yaitu kenikmatan akhirat dan karunia-karunianya! Allah ~ berfirman: (Bahkan kalian lebih memilih kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.) 1 Para penyihir berkata kepada Fir'aun, ketika mereka telah beriman: ("Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan, sesungguhnya engkau hanya memutuskan (perkara) kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang engkau paksakan kepada kami untuk mengerjakannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal.")1 Allah ~ menciptakan manusia dan jin agar mereka memperoleh kenikmatan abadi ini di negeri akhirat; dan karunia serta kenikmatan akhirat yang paling agung adalah memandang Wajah Allah ~, mendengar langsung Firman-Nya, dan dekat dengan-Nya ~. Nabi ~ bersabda: "Allah ~ akan menyingkap hijab, dan dari segala sesuatu yang diberikan kepada mereka, tidak ada yang lebih mereka cintai daripada memandang Tuhan mereka, Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia."2 Dan dalam hadits lain: "Ketika Dia ~ menampakkan diri kepada mereka dan mereka melihat-Nya, mereka lupa akan semua nikmat yang sedang mereka rasakan." Nabi ~ bersabda dalam salah satu doa beliau: "Aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang Wajah-Mu yang Mulia, dengan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu."3 Jenis kesenangan yang kedua adalah kesenangan yang tercela, yang berlawanan dengan kesenangan akhirat. Itulah kesenangan orang-orang yang menjadikan berhala sebagai tandingan bagi Allah; mereka mencintai berhala-berhala itu dan saling mengambil manfaat satu sama lain di dunia, sebagaimana mereka akan berusaha menjelaskan kepada Tuhan mereka pada Hari Kiamat: ("Ya Tuhan kami! Kami saling mengambil manfaat satu sama lain, dan kini kami telah sampai pada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Dia berfirman: "Neraka adalah tempat tinggalmu; kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.") Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.) 1 Kesenangan orang-orang berdosa, orang-orang zalim, dan orang-orang yang melampaui batas hanyalah di sini, di dunia, namun itu hanyalah tangga bertahap menuju kehancuran mereka. Allah ~ berfirman: ( Kami akan membinasakan mereka secara bertahap dengan cara yang tidak mereka sadari; sesungguhnya Aku memberi mereka tenggang waktu; sesungguhnya rencana-Ku itu kokoh.) 2 Sebagian ulama menambahkan dalam penafsiran ayat di atas bahwa setiap kali orang-orang yang melampaui batas melakukan dosa, Allah ~ menciptakan nikmat bagi mereka, ( hingga ketika mereka larut dalam kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka, tiba-tiba Kami menimpakan azab kepada mereka, maka mereka pun terjerumus dalam kebinasaan dengan penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Maka, binasalah orang-orang yang berbuat zalim; segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.) 3 Allah ~ berfirman tentang orang-orang yang bergelimang kesenangan seperti itu: (Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu, Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak menyadari.) 4 Dia ~ juga berfirman tentang mereka: ( Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum (wahai Muhammad ﷺ); sesungguhnya Allah hendak menyiksa mereka dengan semua itu di kehidupan dunia, dan agar jiwa mereka melayang (mati) dalam keadaan kafir.) 5 Jenis kesenangan yang ketiga adalah kesenangan yang tidak berhasil sebagai kesenangan akhirat maupun tidak menimbulkan azab; inilah yang dimaksud oleh Nabi ﷺ dalam hadis: "Setiap hal yang dengannya seseorang bersenang-senang adalah sia-sia, kecuali memanah dengan busurnya, melatih kudanya, dan bermain dengan istrinya; karena semua itu termasuk hal yang benar." 6 Cinta semacam ini tidak tercela; ia termasuk jenis cinta yang terpuji, begitu pula cinta kepada Nabi ﷺ. Namun, yang kami maksud di sini adalah cinta yang menguasai hati orang yang mencintai; yakni orang yang mencurahkan pikiran dan ingatannya kepada kekasihnya. Setiap Muslim memiliki dalam hatinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang merupakan syarat untuk memeluk Islam; namun tingkat cinta ini berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, dan hanya Allah yang mengetahuinya ~ Cinta inilah yang meringankan beban kewajiban agama; ia mengubah perbuatan yang kikir menjadi perbuatan yang dermawan; ia menanamkan keberanian dalam hati orang yang penakut; ia menyucikan pikiran dan menjinakkan hawa nafsu; ia menerangi wajah dan menyenangkan hati. Demikian pula, mencintai Firman Allah~ (Al-Qur'an) adalah tanda cinta kepada Allah. Jika seseorang ingin melihat tingkat cintanya kepada Allah, perhatikanlah bagaimana engkau mencintai Al-Qur'an dalam hatimu; kesenanganmu mendengarkannya, dibandingkan dengan kesenangan orang lain mendengarkan musik. Diketahui bahwa siapa pun yang mencintai kekasihnya, ucapan dan perkataannya menjadi lebih berharga baginya daripada apa pun. 'Utsman bin 'Affan ~ berkata: "Seandainya hati kita suci, niscaya kita tidak akan pernah merasa cukup dengan Firman Allah." Suatu hari, Nabi ﷺ berkata kepada Abdullah bin Mas'ud ~: "Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku." Ia menjawab: "Haruskah aku membacakannya kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?" Nabi ﷺ bersabda: "Aku suka mendengarnya dari orang lain." Maka ia membacakan Surat An-Nisa' (Wanita) hingga sampai pada ayat (ke-41): {Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami datangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami datangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas seluruh umat manusia.} Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Berhentilah!" Ketika itu ia melihat mata Nabi ﷺ berlinang air mata. Adapun cinta kepada pasangan hidup, tidak ada celaan di dalamnya. Ini adalah nikmat yang Allah~ anugerahkan kepada para hamba-Nya; sebagaimana firman-Nya: {Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.} Dia ~ menjadikan wanita sebagai tempat bersandarnya hati seorang laki-laki, dan menetapkan cinta dan kasih sayang yang tulus di antara keduanya, yaitu cinta yang disertai kasih sayang. Allah ~ telah berfirman, setelah menyebutkan apa yang halal dan apa yang haram bagi laki-laki terhadap wanita: (Allah hendak menjelaskan kepadamu dan menunjuki kamu kepada jalan-jalan orang-orang sebelum kamu dan hendak menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah hendak menerima taubatmu, tetapi orang-orang yang mengikuti syahwatnya ingin supaya kamu sangat condong (berbuat maksiat) yang besar. Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah) (yakni tidak sabar meninggalkan hubungan seksual dengan wanita). Jabir bin Abdullah 4 meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melihat seorang wanita, lalu beliau mendatangi istrinya, Zaynab, untuk memenuhi hasratnya dengannya. Kemudian beliau pergi menemui para Sahabatnya dan berkata kepada mereka: "Seorang wanita datang dan pergi dalam rupa setan, maka apabila salah seorang dari kalian melihat seorang wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena hal itu akan menolak apa yang ia rasakan dalam hatinya." Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari hadis ini. Pertama, dianjurkan untuk mengalihkan diri dari sesuatu yang diingini dengan sesuatu yang sejenis dengannya. Hadis ini memerintahkan agar hasrat terhadap wanita mana pun diobati dengan obat terbaik, yaitu memenuhi keinginan seksual dengan istri. Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi dua orang yang saling mencinta selain pernikahan. Menikahi wanita yang dicintai adalah obat terbaik bagi gejolak asmara, yang telah Allah ~ halalkan bagi umat manusia. Obat ini pula yang digunakan oleh Nabi Dawud %!\\; karena beliau menikahi seorang wanita yang sangat beliau cintai. Adapun kisah Zaynab binti Jahsy: suaminya, Zayd 4, telah memutuskan untuk menceraikannya, meskipun Zaynab tidak menyetujuinya. Zayd 4 berkonsultasi kepada Nabi ﷺ, yang kemudian menyuruhnya untuk tetap mempertahankan istrinya. Namun Nabi ﷺ mengetahui bahwa perceraian mereka pasti akan terjadi, dan beliau merahasiakan rencana bahwa beliau akan menikahinya setelah ia berpisah dengan Zayd, karena beliau ﷺ khawatir orang-orang akan berkata: "Nabi Muhammad ﷺ menikahi istri anaknya sendiri." (Sebagaimana diketahui, beliau ﷺ telah mengangkat Zayd sebagai anak sebelum dimulainya masa kenabian beliau). Allah ~ hendak menetapkan suatu syariat umum demi kemaslahatan hamba-hamba-Nya; maka ketika Zayd 4e menceraikan Zaynab dan masa 'iddah-nya telah berakhir, Allah ~ mengutus Nabi ~ untuk melamarnya. Zayd 4e berdiri membelakangi pintu. Nabi memanggilnya dari balik pintu: "Wahai Zaynab, Rasulullah sedang melamarmu." Ia berkata: "Aku tidak dapat memutuskan sebelum aku meminta petunjuk kepada Allah ~ (dalam shalat)." Ia pun melaksanakan shalat, dan Allah ~ sendiri yang mengurus perkara itu dan menuntaskan akad nikah mereka dari atas 'Arsy-Nya; dengan wahyu: {Maka tatkala Zayd telah menceraikannya, Kami kawinkan engkau dengannya.} Zaynab biasa membanggakan pernikahannya dengan Nabi ~ di hadapan istri-istri Nabi yang lain, seraya berkata: "Keluarga kalian yang menikahkan kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit." Tidak diragukan lagi bahwa wanita dijadikan sesuatu yang disukai oleh Nabi ~, sebagaimana sabdanya: "Wewangian dan wanita telah dijadikan sesuatu yang aku sukai, namun penyejuk mataku dijadikan dalam shalat."2 Nabi ~ pernah memberi syafaat kepada seorang budak yang sangat mencintai mantan istrinya, yang menolak kembali kepadanya setelah ia dimerdekakan. Ibnu 'Abbas~ berkata: "Suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits; seolah-olah aku melihatnya sekarang, ia berjalan di belakang Barirah sambil menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Maka Nabi bersabda kepada Barirah: 'Mengapa engkau tidak kembali kepadanya?' Ia berkata: 'Wahai Rasulullah! Apakah engkau memerintahkanku demikian?' Beliau ~ bersabda: 'Tidak, aku hanya memberi syafaat untuknya.' Ia berkata: 'Aku tidak membutuhkannya.' Nabi bersabda kepada 'Abbas: 'Wahai 'Abbas! Tidakkah engkau heran dengan cinta Mughits kepada Barirah, dan kebencian Barirah kepada Mughits?'"3 Nabi ~ biasa membagi waktunya secara adil di antara para istrinya, dan beliau bersabda: "Ya Allah, inilah pembagianku atas apa yang aku miliki, maka janganlah Engkau mencelaku atas apa yang tidak aku miliki." (yaitu cinta). Karena Allah ~ berfirman: {Kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian, walaupun kalian sangat menginginkannya}1, yang berkaitan dengan cinta dan hubungan seksual. Orang yang sedang jatuh cinta hendaknya menunjukkan kesabaran dan pengendalian diri, serta lebih memilih untuk menunjukkan cinta, takut, dan harap kepada Allah ~; dengan demikian ia termasuk golongan orang yang tentang mereka Allah ~ berfirman: ({Adapun orang yang takut akan kedudukan dirinya di hadapan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya}).2 ({Dan bagi orang yang takut akan kedudukan dirinya di hadapan Tuhannya, ada dua surga}).3 Kami memohon kepada Allah ~, Tuhan Arsy yang agung, agar menjadikan kami termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan cinta mereka kepada Allah daripada keinginan hawa nafsu mereka sendiri, dan dengannya mencari Keridhaan-Nya semata.
This can become an aspect of polytheism, because a person's heart, in some cases, adopts the lover as a rival to Allah ~ ; he loves him as he loves Allah ~ ; but what about the one whose love for his lover is greater than his love of Allah ~ ? This type of love is not to be forgiven; it is a type of polytheism, and Allah does not forgive polytheism; He ~forgives those who repent, w1pmg away all aspects of polytheism in their hearts (i.e. for pure repentance). One sign of this polytheistic love is that the passionate person prefers the pleasure of his lover to that of his Lord. When the rights of his lover are in conflict with the rights of his Lord, he gives precedence to the right of his lover! This is the case of many of those who have an illegal passion for women, and an illegal passion for looking at their pictures or faces. Put their lustful passion on one side of the scales and put their Faith of Monotheism on the other, and then try to make a just measurement that would please Allah ~ and His Messenger. Many of these people declare publicly that there is no longer a place in their heart; except for their lover. They have a predilection for their lover that is stronger than for their Creator. They have devoted all their love and passion for their lover and so have none left to worship Allah, knowing that worshipping Allah requires the perfection in one ' s love and submission. The cure for this crippling condition is to know that the affliction by this ailment, which opposes one's Faith of Monotheism, comes from one' s ignorance and one ' s heart 's carelessness about remembering Allah ~- One first has to learn Allah's Monotheism and its Signs, then he should perform both the outward and inward acts of worship, which would occupy his/her heart in the constant remembrance of Allah ~ - He/she should tum to Allah ~ in humiliation and submission, to seek His Help, in order to turn that ailment away from him/her. There is no cure better than being sincere to Allah ~. in all one's actions. It is the cure mentioned by Allah~. when He said: (That happened, so We might avert from him all evil and lust. He was one of Our Chosen (Guided) Servants.) Allah ~ informed us that He turned Yusuf away 1 from the evil and illegal sexual intercourse because of his sincere worship of his Lord. One should also learn that following Islam and intellect enable the achievement of benefits for the individual, and remove or reduce all causes of corruption. It is known that developing a passion for unlawful gazing at women or their pictures has neither religious nor worldly benefit. Rather, its evil consequences are too many to be counted, so we list but the following aspects: First, the heart is completely devoted to its lover, and distracted from loving its Lord ~ or remembering Him. So is inevitable that one would overcome the other when they try to gather in the same heart. Second, the heart would be tortured with it, because whoever loves something besides Allah ~ . would be punished by it. Third, the heart becomes a prisoner in the hands of its captor who could subject it to disgrace. An intoxicated heart becomes unaware of its humiliation. Fourth, the heart is distracted from its religious and worldly benefits. Fifth, all the ailments of this world and the Hereafter come rushing towards the heart, which is besotted by lust. Indeed, as the heart gets closer to satisfy its passion, it becomes distant from its Lord, and so it falls in the hands of the devil. Sixth, when lust takes control of the heart, the mind becomes corrupted with emerging devilish whisperings. Seventh, this ailment leads to the corruption of the senses, or at least some of them. In fact when the heart is corrupted, the eyes, the ears and the tongue also become corrupted. The eyes no longer see the evil aspects or shortcomings of the lover. The ears do not listen to the demands of giving up such an illegal habit, because the one who is involved in an activity does not see his defect; his ardent love for lust places a screen over his eyes. The only person, who is aware of it, is the one who was once involved in it and later gave it up. It is for this reason that the Companions who embraced Islam after a life in polytheism were better than those who were born in Islam. 'Umar bin Al-Khattab ~ said: "The bonds of Islam are violated, one after the other, by those who were born in Islam and never witnessed Jahiliyah (the pre-Islamic era)." Eighth, passion is ardent or excessive love; it takes control of a man's heart and starts to vigorously use both his animal and mental powers, until his self-destruction occurs. This has well observed in the course of passion: its beginning is sweet, its middle is full of worry and anxiety, and its end is self-destruction. In the beginning of such passion, the scholars have said that a person should resist it to his best capability, if it had not been decreed for him to reach his lover legally (through marriage). However, if he fails to resist its power, he should at least keep silent about, and not reveal it to other people, because he would be violating the sanctity of the lover, and add more injustice upon himself. There are many ailments generated by this lustful passion, which in some cases has led people, who were brought up in Islam, into polytheism. Indeed, a Caller to prayer (Mu 'addhin) once saw a beautiful woman from the roof and was infatuated by her. So he went down and asked to be her lover. She replied that she was a Christian, and that she would marry him if he accepted to embrace her religion. He accepted, however on the same day, when he climbed a step on their roof, he fell and died. When some Christians wanted to tum a Muslim prisoner away from his religion, they exposed him to a beautiful woman, and she would then have to attract his attention, until she took control of his heart. Then she would have to offer herself to him if he embraced her religion! This would be in such moment that (Allah will keep firm those who believe, with the Word that stands firm in this world and in the Hereafter; and Allah will cause to go astray those who are wrong-doers, and Allah does what He wills.) 1 A reasonabl e person would not subject himself to this kind of passionate desire, because it simply leads to evil consequences. Whoever occupies his mind with lust is merely deceiving himself and may even destroy it, as had he not been constantly gazing at the face of his beloved, lust would not have dominated his heart. The most beneficial love is that of Allah ~ which is absolute; that which all hearts are instinctively born with. This is the secret of the Testimony of Faith, because God is the One Whom hearts worship with love, glorification, praise and submission. Yet worship is not accepted if it is not directed to Allah ~' Alone, as worship is the perfection of love together with the perfection of submission and humiliation. The proof of this obligation to love Allah ~ was mentioned in all of His Revelations, the Message of His Prophets, and the natural order endowed by Allah ~ in His Servants. People's hearts are naturally attracted to love the One Who bestows His Blessings upon them, as Allah ~ has said: ( Whatever of blessings and good things you have, it is from Allah. Then, when harm touches you, unto Him you cry aloud for help.) 2 This proof is also evident once His Servants learn His Best Names and Attributes, which designate His Perfection and Supremacy. Love has two attractors: beauty and honour; which Allah ~ possesses to a degree of absolute perfection. He ~ is graceful and loves grace, as all grace belongs to Him J.;. Allah ~ said (addressing His Messenger, Muhammad ~ ): ( Say: If you really love Allah, then follow me; Allah will love and forgive you your sins.) 1 He ~ also said: ( 0 You who believe! Whoever from among you turns back from his religion (Islam), Allah will bring a people whom He will love and they will love Him; humble towards the believers, stern towards the disbelievers, fighting in the way of Allah, and never afraid of the blame of the blamers. That is the Grace of Allah which He bestows on whom He wills: Allah is All-Sufficient for His Creatures' Needs, All-Knower. Verily, your Wali (helper or protector) is none other than Allah, His Messenger, and the believers, those who perform Sa/at, and give Zakat, and bow down with obedience to Allah in prayer. Whosoever takes Allah, His Messenger, and those who have believed as Protectors, then the Party of Allah will be the victorious.)2 The basis of taking someone as a protector is love, just as the basis of enmity is hatred. Allah ~ is the Wa!T of those who believe, and they are His Pious People. He ~ loves them, and He is their WalI according to the level of their love for Him J.;. Allah ~ has censured those who take others as protectors besides Him £; for He ~ said: ( And of mankind are some who take others besides Allah as rivals (to Allah). They love them as they love Allah. But those who believe, love Allah more (than anything else). ) 1 He ~ informed us about those who take others as rivals to Him (in worship) , when they say to these rivals as they gather in Hell: ( By Allah, we were truly in manifest error, when we held you (false gods) as equals (in worship) with the Lord of the 'Alamin. ) 2 With this Monotheism, based on the love of Allah, Allah ~ sent all His Messengers with His Revelations, bearing the same Message from the First Prophet (Adam ~ \) to the Last Prophet (Muhammad :i); as it was for its sake that Allah ~ created the heavens and the earth, Paradise and Hell; making Paradise (as a permanent abode) for the people who love Him, and Hell (as one) for those who associate rivals to Him. The Prophet :i swore that a person's faith is not complete until the Prophet :i becomes dearer to him than his child, his father and all people; so what about the love of the Lord £ ? He ~ also said to 'Umar bin Al -Khattab: "No, until I am dearer to you than your own self' i.e . your faith is not complete until your Jove reaches this standard! If the Messenger of Allah is more deserving (to us) than our own selves , in love and its requirements , then is th e Lord £ not more entitled to love than our own selves? Allah ~ created man to worship Him, and created for him everything in the heavens and the earth; is the Lord not entitled to our love and pleasure (shown by our dedicated appreciation, awe and worship of Him, Alone)? He ~ is the Most-Generous; He gives to His Servant even before His Servant asks Him for anything. He ~ appreciates the little effort from His Servant, and forgives so many misdeeds, expiating them . Everything that exists in the heavens and the earth asks of Him daily, and He ~ listens to the requests of everyone. He ~ is never confused by all the numerous requests from all His Servants, and He never gets annoyed by those who make most insistant supplications. Instead, He ~ is more pleased with those who repeatedly ask Him of their needs , and He even dislikes not being asked! Why do people not love the only One Who brings them good deeds (by multiplying a believer's good deed by ten) and removing their bad deeds. He ~ answers invocations, removes misfortunes, forgives sins and rewards good deeds! The perfection of love is manifested in the delight, joy and happiness of the self; and certainly these signs of perfect love are praiseworthy, if they lead to the greatest eternal delight, namely that of the Hereafter and its blessings! Allah ~ said: (Nay, you prefer the life of this world, although the Hereafter is better and more lasting.) 1 The sorcerers said to Pharaoh, when they believed: ( "So decree whatever you desire to decree, for you can only decree regarding this life of the world. Verily, we have believed in Our Lord, that He may forgive us our faults, and the magic to which you did compel us; and Allah is better (as regards reward, in comparison to your reward) and more lasting.")1 Allah ~ created mankind and jinn so as to grant them this eternal delight in the world of the Hereafter; and the best ever blessing and delight of the Hereafter is that of looking at the Face of Allah ~ and listening directly to His Words, and being close to Him ~. The Prophet ~ said: "Allah ~ would lift the veil , and of all the things given to them nothing would be dearer to them than the sight of their Lord, the Mighty and the Glorious."2 And in another Hadith: "When He ~ appeared to them and they saw Him, they forgot about all the blessings which they were enjoying." The Prophet ~ said in one of his supplications: "I ask You for the pleasure to look at Your Generous Face, with the desire to meet You. " 3 The second type of delight is a reprehensible one, which is opposite to the delight of the Hereafter. It is the delight of those who take idols as rivals to Allah; they love them and benefit from one another in this world, as they will try to explain to their Lord, on the Day of Judgment: ("Our Lord! We benefited from one another, but now we have reached our appointed term which you did appoint for us" He will say: "The Fire is your dwelling place; you will dwell therein forever, except as Allah may will. Certainly, your Lord is All-Wise, All-Knowing." Thus, We do make the wrong-doers supporters of one another, because of that which they used to earn.) 1 The delight of sinners, wrong-doers and transgressors is only here, on earth, yet it is but a gradual lead to their destruction; Allah ~ said: ( We shall gradually seize them with punishment in ways they perceive not; for I respite them; certainly my plan is strong.) 2 Some scholars added to the interpretation of the above Verse that whenever the transgressors commit a sin, Allah ~ creates a blessing for them, ( until in the midst of their enjoyment in that which they were given, all of a sudden, We took them (in punishment), and they were plunged into destruction with deep regrets and sorrows. So, the root of the people who did wrong was cut off; all Praise and Thanks are Allah's, the Lord of the 'Alamin.)3 Allah ~ has said about people of such delight: (Do they think that in wealth and children We extend to them, We are hastening to them with good things? No indeed, but they have no awareness.) 4 He ~ also said about them: ( So do not let their wealth and children impress you (0 Muhammad :j;); in reality Allah's Plan is to punish them with these things in the life of this world, and that their souls shall depart (die) while they are disbelievers.) ' The third type of delight is one which does not succeed as a delight of the Hereafter nor generate any punishment; it is the one which was meant by the Prophet ~' in the Hadith: "Everything with which a man amuses himself is vain, except for: his shooting with his bow, his training of his horse, and his playing with his wife; for they pertain to what is right. " 2 This love is not censured; it is one of the types of love that is praiseworthy, as well as love for the Prophet :j;. However, what we mean here is that love which occupies the heart of the one who loves; the one who devotes his/her thought and remembrance to his/her beloved one. Every Muslim has in his heart a love for Allah and His Messenger which is necessary for him/her to enter Islam; yet the degree of this love varies from one to another, and is known only to Allah ~ - It is this love which reduces the pressure of the religious obligations; it makes the niggardly acts become generous ones; it puts bravery in the heart of the coward; it purifies the mind and tames the self; it lightens up the face and delights the heart. Likewise, loving the Word of Allah~ (the Qur'an) is a sign of having love of Allah. If one wants to see the degree of one's love for Allah, look at the way you love the Qur' an in your heart; your delight in listening to it, as compared to other people's delight in listening to music. It is known that whoever loves a beloved, his/her words and speech become dearer to him/her than anything else. 'Uthman bin Affan ~ said: "If our hearts were purified, they would never have enough of the Word of Allah." One day, the Prophet ~ told Abdullah bin Mas'ud ~ : "Recite the Qur'an to me." He replied: "Shall I recite it to you, eventhough it was revealed to you?" The Prophet ~ said: "I like to hear it from others." So he ~ recited Surat An-Nisa' (The Women), till he reached the Verse (N° 41): ( How (will it be) then when We bring from each nation a witness, and We bring you (0 Muhammad) as a witness against these people.) Then the Prophet~ told him: "Stop!" Whereupon he saw the eyes of the Prophet ~ overflowing with tears." 1 As for the love of one's spouse(s), there is no blame in this. It is a blessing that Allah~ has bestowed upon His Servants; for He ~ said: (Among His Signs is that He created for you wives from among yourselves, that you may find repose in them, and He has put between you affection and mercy, in that are indeed signs for a people who reflect.) 1 He ~ has made women as a resting place for a man's heart, and established sincere love and affection between them, which is love with mercy. Allah ~ has said, after mentioning what is lawful for men of women and what is not: ( Allah wishes to make clear (what is lawful and what is unlawful) to you, and to show you the ways of those before you, and accept your repentance; for Allah is All-Knower, All-Wise. Allah wishes to accept your repentance, but those who follow their lusts, wish that you (believers) should deviate tremendously away (from the right Path). Allah wishes to lighten the burden for you, for man was created weak (i.e. cannot be patient to leave sexual intercourse with women))2 Jabir bin Abdullah 4, reported that the Prophet :Ji saw a woman, and so he approached his wife, Zaynab, to fulfil his desire with her. He then went to his Companions and told them : 'A woman advances and returns in the shape of a devil , so when one of you sees a woman, he should approach his wife, for that would repel whatever he felt in his heart. " '3 There are many lessons to be learned from this Hadith: first, it is advised to distract oneself from something coveted with something of the same nature it is commanded to heal the passion for any woman with the best cure, and that is to fulfil one's sexual desire with the wife. The Prophet ~ said that there is nothing better for two lovers than marriage 1• Marrying a beloved woman is the best cure for passion, which Allah ~ made legal for mankind. This cure was used by Prophet Dawud %!\\; for he married a woman whom he loved very much. As for the story of Zaynab, daughter of Jahsh: her husband Zayd 4, had decided to divorce her, although she did not agree. He 4, consulted the Prophet ~ who told him to keep her. However the Prophet~ learnt that they inevitably were going to divorce, and kept secret the plan that he was going to marry her once she had become separated from Zayd, because he ~ was worried that people might say: "The Prophet ti married the wife of his son." (As he ~ had adopted Zayd as a son before the start of his Mission as a Prophet). Allah ~ wanted to legislate a general legislation for the benefits of His Servants; so when Zayd 4e, divorced Zaynab and her 'Jddah 2 period expired, Allah ~ sent the Prophet ~ to propose to her. Zayd 4e, stood with his back to the door. The Prophet called her from behind the door: "O Zaynab, the Messenger of Allah is proposing to you." She said: "I cannot decide until I ask Allah ~ (in prayer). " She performed a prayer, and Allah ~ took charge Himself and concluded their marriage contract above Hi s Throne; with the Revelation: (So when Zayd had divorced her, We gave her to you in marriage.) Zaynab used to boast of her 1 marriage to the Prophet ~ before the other wives of the Prophet, saying: "Your families conducted your marriage, but mine was conducted by Allah from above the seven heavens." There is no doubt that women were made dear to the Prophet ~. as he said: "Perfume and women have been made dear to me, but my comfort has been provided by Salah (prayer)."2 The Prophet ~ interceded for a slave who was passionately in love with ex-wife, who had refused to return to him, once she was manumitted. lbn 'Abbas~ said: "Barira's husband was a slave called Mughith; it is as if I am seeing him now , going behind Barira and weeping with his tears flowing down his beard. The Prophet then said to Barira: 'Why don't you return to him?' She said: 'O Messenger of Allah! Do you order me to do so?' He ~ said: 'No, I am only interceding for him.' She said: 'I am not in need of him.' The Prophet said to 'Abbas: 'O 'Abbas! Are you not astonished by the love of Mughith for Barira, and the hatred of Barira for Mughith?'"3 The Prophet ~ used to equally divide his time with his wives, and used to say: "O Allah! this is my division, for what I own, so do not blame me for what I do not own." (i.e. love). For Allah ~ said: (You will never do perfect justice between your wives, even if it is your ardent desire) 1, which is regarding love and sexual intercourse. A person who is in love should show patience and restraint, and should prefer to show love, fear and pleasure for Allah ~ ; thus he/she would come under the category of those about whom Allah ~ said: ( But As for him who feared standing before his Lord, and restrained himself from impure evil desires and lusts, verily Paradise will be his abode .)2 ( But for him who fears the standing before his Lord, there will be two gardens .)3 We ask Allah ~ ' the Lord of the Supreme Throne, to make us among those who prefer their love for Allah to that of their own desires, and seek therewith to attain His Pleasure, Alone.
I Surat Yusuf, Verse 24.
Surat Ibrahim, Ayat 27. 2 Surat an-Nahl, Ayat 53. 1 Surat Al-'Imran, Ayat 31. 2 Surat Al-Ma'idah, Ayat 54-56. 1 Surat Al-Baqarah, Ayat 165. 2 Surat Ash-Shu'ara', Ayat 97-98. 1 Surat Al-A'la, Ayat 16-17. 1 Surat Ta-Ha, Ayat 72-73. 2 Diriwayatkan oleh Muslim dalam "Kitab Iman", Hadits 297, At-Tirmidzi dalam "Kitab Surga", bab 16, Ibnu Majah dalam kitab "Pendahuluan", bab 13. 3 Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam kitab "As-Sahw", bab 62, Ahmad dalam Musnadnya (5/191). 1 Surat Al-An'am, Ayat 128-129. 2 Surat Al-A'raf, Ayat 182-183. 3 Surat Al-An'am, Ayat 44-45. 4 Surat Al-Mu'minun, Ayat 55-56. 1 Surat At-Taubah, Ayat 55. 2 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab "Keutamaan Jihad", bab 11, Ibnu Majah dalam "Kitab Jihad", bab 19, Ahmad dalam Musnadnya (4/144, 148). 1 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab "Tafsir Surah An-Nisa'", bab 6, dalam kitab "Keutamaan Al-Qur'an", bab 32, 35; Muslim dalam kitab "Musafir", Hadits 247, 248; Abu Dawud dalam "Kitab Ilmu", bab 13. 1 Surat Ar-Rum, Ayat 21. 2 Surat An-Nisa', Ayat 26-28. 3 Diriwayatkan oleh Muslim dalam "Kitab Nikah", Hadits 9, Abu Dawud dalam "Kitab Nikah", bab 43, At-Tirmidzi dalam kitab "Ar-Radha'", bab 9, Ahmad dalam Musnadnya (3/230). 1 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam "Kitab Nikah", bab 1. 2 Masa tunggu yang ditetapkan oleh syariat, selama mana seorang wanita tidak boleh menikah lagi, setelah menjadi janda karena cerai atau kematian suaminya (untuk melihat apakah ia hamil atau tidak dari suami yang telah menceraikannya atau meninggal). 1 . 2 Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam kitab "Isyrah An-Nisa'", bab 1, Ahmad dalam Musnadnya (3/128, 199, 285). 3 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. 1 . 2 . 3 .