Akidahnya
His Creed
Pendiriannya tentang Pokok-Pokok Keyakinan
His Position On The Fundamentals Of Belief
[Aḥmad:] Iman terdiri dari apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Iman dapat bertambah dan dapat berkurang.
[Aḥmad:] Belief consists of what you say and what you do. It can increase or decrease.
Itu adalah satu-satunya sumber ketakwaan, dan kedurhakaan kepada Tuhan menguranginya. 20.1
It is the only source of piety, and disobedience to God lessens it. 20.1
Kedudukannya Terhadap Al-Qur'an
His Position On The Qurʾan
[Isḥāq ibn Ibrāhīm:] Ketika ditanya tentang orang-orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk, Aḥmad ibn Ḥanbal menjawab, "Siapa pun yang mengatakan demikian adalah seorang yang kufur (ingkar kepada nikmat)."119 20.2
[Isḥāq ibn Ibrāhīm:] When asked about people who say that the Qurʾan is created, Aḥmad ibn Ḥanbal replied, “Anyone who says that is an Ingrate.”119 20.2
[Isḥāq ibn Ibrāhīm:] Ketika ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk, Aḥmad ibn Ḥanbal menjawab, "Dia adalah kafir," dengan menggunakan bentuk isim fa'il.120 20.3
[Isḥāq ibn Ibrāhīm:] Asked about anyone who says that the Qurʾan is created, Aḥmad ibn Ḥanbal replied, “He’s an unbeliever,” using the participle.120 20.3
[Salamah ibn Shabīb:] Aku mendengar Aḥmad ibn Ḥanbal berkata bahwa siapa pun yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk adalah seorang yang kufur (ingkar). 20.4
[Salamah ibn Shabīb:] I heard Aḥmad ibn Ḥanbal say that whoever says that the Qurʾan is created is an Ingrate. 20.4
[Al-Sarrāj:] Aku bertanya kepada Aḥmad bin Ḥanbal tentang seseorang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk. 20.5
[Al-Sarrāj:] I asked Aḥmad ibn Ḥanbal about someone who says that the Qurʾan is created. 20.5
"Dia seorang yang tidak tahu berterima kasih." "Bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa lafaz Al-Qur'an yang diucapkan adalah sesuatu yang makhluk?" "Dia adalah pengikut Jahm."121
“He’s an Ingrate.” “What about someone who says that the text of the Qurʾan spoken aloud is a created thing?” “He’s a follower of Jahm.”121
[Al-Kawsaj:] Saya bertanya kepada Aḥmad ibn Ḥanbal tentang pendapatnya mengenai orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk. 20.6
[Al-Kawsaj:] I asked Aḥmad ibn Ḥanbal what he thought of someone who called the Qurʾan created. 20.6
"Dia telah melakukan KE-TIDAK-PERCAYA-AN," jawabnya, menekankan setiap suku kata.
“He’s committed UN-BE-LIEF ,” he answered, stressing each syllable.
[Al-ʿUkbarī:] Saya bertanya kepada Aḥmad ibn Ḥanbal apakah benar bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan, yang tidak diciptakan, dan bahwa ia berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. 20.7
[Al-ʿUkbarī:] I asked Aḥmad ibn Ḥanbal whether it was true that the Qurʾan is the speech of God, uncreated, and that it came from Him and goes back to Him. 20.7
Dia menjawab: "Dari-Nya ilmu tentang hal itu berasal, dan kepada-Nya lah hukum mengenainya dikembalikan."122
He answered: “From Him came the knowledge of it, and to Him belongs the judgment concerning it.”122
[Ṣāliḥ:] Saya mengetahui bahwa Abū Ṭālib telah mengutip ayah saya sebagai mengatakan, “Lafaz Al-Qur'an, ketika diucapkan dengan keras, itu tidak diciptakan.” Saya memberitahukan hal ini kepada ayah saya, dan beliau bertanya bagaimana saya mengetahuinya. Saya menjawab bahwa saya mendengarnya dari Fulan. 20.8
[Ṣāliḥ:] I found out that Abū Ṭālib had been quoting my father as saying “The text of the Qurʾan, spoken aloud, is uncreated.” I told my father about this, and he asked how I knew. I told him I had heard it from So-and-So. 20.8
"Panggillah Abū Ṭālib," katanya.
“Send for Abū Ṭālib,” he said.
Aku memanggilnya, lalu dia datang bersama Fūrān.123
I sent for him and he came, along with Fūrān.123
"Pernahkah aku mengatakan kepadamu bahwa lafaz Al-Qur'an yang diucapkan itu tidak diciptakan?" kata ayahku dengan tubuh gemetar karena marah.
“Did I ever say to you that the text of the Qurʾan spoken aloud is uncreated?” said my father, shaking with anger.
“Aku membaca «Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa»124 dengan suara keras, dan engkau berkata, ‘Itu tidak diciptakan.’” “Tetapi mengapa engkau mengutipku dengan mengatakan ‘Teks Al-Qur’an yang diucapkan dengan lantang itu tidak diciptakan’? Bukan hanya itu: aku mendengar engkau menuliskannya dan mengirimkannya kepada orang-orang. Jika engkau menuliskannya, hapuslah sekuat tenagamu, dan tulislah kepada orang-orang yang engkau tulisi itu, katakan bahwa aku tidak pernah mengatakan hal itu.” Fūrān mulai meminta maaf, dan akhirnya pergi dengan wajah ketakutan. Abū Ṭālib kembali untuk mengabarkan bahwa ia telah menghapus kata-kata itu dari catatannya dan menulis surat yang menjelaskan bahwa ia telah salah mengutip ayahku.
“I read «Say, He is God, the one»124 out loud and you said, ‘That’s not created.’” “But why did you quote me as saying ‘The text of the Qurʾan spoken aloud is uncreated’? Not only that: I hear you wrote this down and sent it to people. If you wrote it down, rub it out as hard as you can, and write to the people you wrote to and tell them I never said that.” Fūrān began apologizing, and finally left looking terrified. Abū Ṭālib came back to say that he had rubbed the words out of his notes and written a letter explaining that he had misquoted my father.
Tentang Riwayat-Riwayat Sifat Tuhan
On Reports Of God’s Attributes
[Aḥmad:] Kami meriwayatkan hadis-hadis ini sebagaimana kami temukan. 20.9
[Aḥmad:] We transmit these reports as we find them. 20.9
[Aḥmad:] Seorang mukmin yang termasuk golongan ahlus sunnah wal jamaah hendaknya menyerahkan kepada Tuhan apa yang tidak ia pahami. Jika ia mendengar riwayat hadis seperti "Penduduk Surga akan melihat Tuhan mereka,"126 ia hendaknya meyakininya tanpa berusaha menafsirkannya.
[Aḥmad:] A believer who belongs to the people of sunnah and community should defer what he doesn’t understand to God. If he hears a Hadith report like “The people in the Garden will see their Lord,”126 he should believe it without trying to explain it.
Semua ulama di mana pun sepakat tentang hal ini. 20.10
All men of learning everywhere are agreed on this. 20.10
Sikapnya Terhadap Perdebatan dan Orang-Orang yang Terlibat di Dalamnya
His Position Against Disputation And Those Who Engage In It
[ʿAbd Allāh:] Ayahku pernah menulis kepada ʿUbayd Allāh ibn Yaḥyā ibn Khāqān: “Saya tidak terlibat dalam Perdebatan, dan saya tidak berpendapat bahwa seseorang boleh membicarakan hal-hal itu kecuali jika hal tersebut terdapat dalam Kitab Suci atau Hadis Nabi ﷺ. Membicarakan selain itu tidak ada baiknya.” 20.11
[ʿAbd Allāh:] My father once wrote the following to ʿUbayd Allāh ibn Yaḥyā ibn Khāqān: “I don’t engage in Disputation, and I don’t think one should talk about any of that unless it appears in Scripture or the Hadith of the Prophet, God bless and keep him. Talking about anything else is no good.” 20.11
[Aḥmad:] Jangan duduk bersama para ahli debat, sekalipun mereka sedang membela sunnah.128 20.12
[Aḥmad:] Don’t sit with Disputationists, even if they’re defending the sunnah.128 20.12
Pendiriannya terhadap bid'ah-bid'ah para pengikut Jahm, para penganut paham Qur'an makhluk, kaum Waqqafiyyah, dan para penganut paham kebebasan kehendak
His Position On The Heresies Of The Followers Of Jahm, The Proponents Of Created Utterance, The Stoppers, And The Proponents Of Free Will
[Aḥmad:] Para pendukung ucapan makhluk (Lafdziyyah) lebih buruk daripada para pengikut Jahm. 20.13
[Aḥmad:] The Proponents of Created Utterance are worse than the followers of Jahm. 20.13
Ibnu al-Layth menambahkan: "Aku pernah mendengar seseorang bertanya kepada Aḥmad ibn Ḥanbal tentang kaum Al-Wāqifah, dan ia berkata: 'Menurutku, Al-Wāqifah, para pengikut Jahm, dan para penganut Kalam Makhluk, semuanya sama buruknya.'" 20.14
Ibn al-Layth added: “I once heard someone ask Aḥmad ibn Ḥanbal about the Stoppers, and he said: ‘As far as I’m concerned, the Stoppers, the followers of Jahm, and the Proponents of Created Utterance are all equally bad.’” 20.14
[Aḥmad:] Jika Anda shalat dan orang di samping Anda ternyata seorang pengikut Jahm, ulangilah shalatnya. 20.15
[Aḥmad:] If you do the ritual prayer and the man next to you turns out to be a follower of Jahm, do it over. 20.15
[Salamah ibn Shabīb:] Aku pergi menemui Aḥmad ibn Ḥanbal untuk menanyakan pendapatnya tentang orang yang berkata, "Al-Qur'an adalah firman Tuhan."130 20.16
[Salamah ibn Shabīb:] I went to see Aḥmad ibn Ḥanbal to ask him what he thought of someone who says, “The Qurʾan is the speech of God.”130 20.16
“Jika ia tidak mengatakan, ‘Al-Qur’an adalah firman Tuhan, yang tidak diciptakan,’ maka ia adalah seorang yang kufur.” Ia melanjutkan: “Jangan ragu akan hal itu. Jika ia tidak mengatakan, ‘Al-Qur’an adalah firman Tuhan, yang tidak diciptakan,’ maka ia sedang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diciptakan. Dan siapa pun yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diciptakan telah berdosa kepada Tuhan, Yang Mahaperkasa dan Mahamulia.” Saya bertanya kepadanya apakah kaum Stoppers itu termasuk orang-orang yang kufur.
“If he doesn’t say, ‘The Qurʾan is the speech of God, uncreated,’ then he’s an Ingrate.” He went on: “Have no doubt about it. If he doesn’t say, ‘The Qurʾan is the speech of God, uncreated,’ then he’s saying it’s created. And anyone who says it’s created has sinned against God, mighty and glorious.” I asked him if the Stoppers were Ingrates.
"Mereka memang demikian." [Aḥmad:] Siapa pun yang mengatakan bahwa teks Al-Qur'an yang diucapkan dengan lisan adalah makhluk yang diciptakan131 adalah pengikut Jahm. 20.17
“They are.” [Aḥmad:] Anyone who says that the text of the Qurʾan spoken aloud is a created thing131 is a follower of Jahm. 20.17
[ʿAbd Allāh:] Aku memberitahu ayahku bahwa al-Karābīsī mengatakan bahwa teks Al-Qur'an yang diucapkan dengan lantang adalah sesuatu yang diciptakan. 20.18
Pendirian Beliau Mengenai Keutamaan Relatif Para Sahabat Nabi ﷺ
His Position On The Relative Merits Of The Prophet’s Companions
[Al-Muṭṭawwiʿī:] Pernah saya mendengar seseorang bertanya kepada Aḥmad bin Ḥanbal tentang keutamaan para Sahabat Nabi ﷺ, lalu beliau menjawab, "Mereka hendaknya diurutkan sesuai dengan Hadis Ibnu ʿUmar.137 Adapun mengenai kekhalifahan, urutannya adalah sebagaimana disebutkan dalam Hadis Safīnah: pertama Abū Bakr, kemudian ʿUmar, kemudian ʿUtsmān, kemudian ʿAlī." 20.24
[Al-Muṭṭawwiʿī:] I once heard someone ask Aḥmad ibn Ḥanbal about the relative merits of the Prophet’s Companions, and he answered, “They should be ranked according to the Hadith of Ibn ʿUmar.137 As far as the caliphate is concerned, the order is the one given in the Hadith of Safīnah: first Abū Bakr, then ʿUmar, then ʿUthmān, then ʿAlī.” 20.24
"Apakah riwayat itu diriwayatkan oleh Ḥashraj?" "Tidak, oleh Ḥammād ibn Salamah." [Penulis:] Pertanyaan ini muncul karena baik Ḥammād ibn Salamah maupun Ḥashraj ibn Nubātah sama-sama meriwayatkan Hadis Safīnah, namun Ḥashraj diragukan keandalannya, sedangkan Ḥammād ibn Salamah adalah seorang yang menjadi teladan.
“Was that report transmitted by Ḥashraj?” “No, by Ḥammād ibn Salamah.” [The author:] This question arose because both Ḥammād ibn Salamah and Ḥashraj ibn Nubātah transmitted the Hadith of Safīnah, but Ḥashraj is of dubious reliability while Ḥammād ibn Salamah is an exemplar.
[ʿAbd Allāh:] Aku bertanya kepada ayahku tentang kesaksian bahwa Abū Bakr dan ʿUmar berada di Surga. Beliau berkata, "Itu benar. Aku mengikuti Hadis Saʿīd ibn Zayd, yang berbunyi, 'Aku bersaksi bahwa Nabi ﷺ berada di Surga, begitu pula sembilan sahabatnya.' Dan Nabi ﷺ bersabda, 'Penghuni Surga berbaris dalam seratus dua puluh shaf, dan delapan puluh di antaranya diisi oleh umatku.' Jika para sahabatnya tidak termasuk, lalu siapa lagi?" 20.25
[ʿAbd Allāh:] I asked my father about the testimony that Abū Bakr and ʿUmar are in the Garden. He said, “It’s true. I follow the Hadith of Saʿīd ibn Zayd, which says, ‘I testify that the Prophet is in the Garden, and so are his nine Companions.’ And the Prophet, God bless and keep him, said, ‘The people in the Garden stand in a hundred and twenty rows, of which eighty are filled by members of my community.’ If his Companions aren’t included, then who would be?” 20.25
[Al-Maymūnī:] Aḥmad ibn Ḥanbal berkata kepadaku, "Abū l-Ḥasan, jika engkau mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang buruk tentang para Sahabat Nabi ﷺ, maka engkau patut meragukan keislamannya." 20.26
[Al-Maymūnī:] Aḥmad ibn Ḥanbal said to me, “Abū l-Ḥasan, if you hear anyone saying anything bad about the Companions of the Prophet, God bless and keep him, then you should doubt his Islam.” 20.26
Pandangannya tentang Mendahulukan ʿUthmān atas ʿAlī
His Position On Giving ʿuthmān Precedence Over ʿalī
[Ṣāliḥ:] Seseorang bertanya kepada ayah saya—sementara saya hadir—apakah orang yang mengatakan bahwa ʿAlī lebih utama daripada ʿUthmān sedang melakukan sesuatu yang baru dan buruk. 20.30
[Ṣāliḥ:] Someone asked my father—with me present—whether someone who says that ʿAlī was better than ʿUthmān is doing something new and bad. 20.30
"Siapa pun yang melakukan itu layak dicela," kata ayahku. "Para Sahabat Rasulullah ﷺ mendahulukan ʿUthmān—semoga Allah meridainya—di atas yang lain." Catatan: sesuai aturan, "God" diterjemahkan sebagai "Tuhan" dan bukan "Allah". Berikut terjemahan yang sudah disesuaikan: "Siapa pun yang melakukan itu layak dicela," kata ayahku. "Para Sahabat Rasulullah ﷺ mendahulukan ʿUthmān—semoga Tuhan meridainya—di atas yang lain." [ʿAmr ibn ʿUthmān al-Ḥimṣī:] Ketika Aḥmad ibn Ḥanbal dibawa dari Samarra menuju perbatasan Bizantium, mereka berhenti di sini, di Homs. Aku menemuinya dan bertanya kepadanya tentang pendiriannya terhadap ʿAlī dan ʿUthmān. 20.31
“Anyone who does that deserves to be denounced,” said my father. “The Companions of the Emissary put ʿUthmān—God be pleased with him—first.” [ʿAmr ibn ʿUthmān al-Ḥimṣī:] When Aḥmad ibn Ḥanbal was transported from Samarra to the Byzantine frontier, they stopped here in Homs. I found him and asked him his position on ʿAlī and ʿUthmān. 20.31
"Pertama Utsman, kemudian Ali," katanya. "Dengarkan, wahai Abu Hafsh," lanjutnya. "Siapa pun yang mendahulukan Ali atas Utsman, maka ia telah mencemooh Majelis Syura."139
“First ʿUthmān, then ʿAlī,” he said. “Listen, Abū Ḥafṣ,” he continued. “Anyone who puts ʿAlī before ʿUthmān is scoffing at the Council.”139
[Muḥammad ibn ʿAwf:] Aku bertanya kepada Aḥmad ibn Ḥanbal tentang mengutamakan sebagian Sahabat atas yang lain. Beliau berkata, “Siapa pun yang mengutamakan ʿAlī atas Abū Bakr sungguh telah mempertanyakan keputusan Utusan Allah ﷺ. Siapa pun yang mengutamakan ʿAlī atas ʿUmar sungguh telah mempertanyakan keputusan Utusan Allah ﷺ dan Abū Bakr sekaligus. Siapa pun yang mengutamakan ʿAlī atas ʿUthmān sungguh telah mempertanyakan keputusan Utusan Allah ﷺ, Abū Bakr, ʿUmar, dan kaum Muhajirin, dan aku tidak dapat membayangkan bahwa orang yang melakukan hal itu akan memperoleh manfaat dari amal baik apa pun yang ia kerjakan.” 20.32
[Muḥammad ibn ʿAwf:] I asked Aḥmad ibn Ḥanbal about putting some Companions before others. He said, “Anyone who puts ʿAlī ahead of Abū Bakr is questioning the judgment of God’s Emissary. Anyone who puts ʿAlī ahead of ʿUmar has questioned the judgment of God’s Emissary and Abū Bakr both. Anyone who puts ʿAlī ahead of ʿUthmān has questioned the judgment of God’s Emissary, Abū Bakr, ʿUmar, and the Emigrants, and I can’t imagine that someone who does that will benefit from any good works he does.” 20.32
Pendiriannya terhadap ʿAlī, semoga keselamatan abadi atasnya, dan anggota keluarga Nabi ﷺ
His Position On ʿalī, On Whom Eternal Peace, And The Members Of The Prophet’s Household
[ʿAbd Allāh:] Suatu hari aku sedang duduk bersama ayahku ketika beberapa orang dari al-Karkh datang. Mereka berbicara cukup lama tentang kekhalifahan Abū Bakr, ʿUmar, dan ʿUthmān. Kemudian mereka beralih ke kekhalifahan ʿAlī dan terus membicarakannya panjang lebar.
[ʿAbd Allāh:] One day I was sitting with my father when some people from al-Karkh came in. They spoke for a good long while about the caliphates of Abū Bakr, ʿUmar, and ʿUthmān. Then they turned to the caliphate of ʿAlī and went on and on about it.
Setelah beberapa lama, ayah saya memandang mereka dan berkata, "Kalian telah banyak membicarakan ʿAlī dan kekhalifahan, namun bukanlah jabatan itu yang membuat ʿAlī agung. Justru ʿAlī-lah yang membuat jabatan kekhalifahan itu agung." 20.33
After a while my father looked up at them and said, “You’ve said a lot about ʿAlī and the caliphate, but it wasn’t holding the office that made ʿAlī great. It was having ʿAlī as caliph that made the office great.” 20.33
Al-Sayyārī menambahkan, "Aku menceritakan kisah ini kepada seorang Syiah, dan dia berkata, 'Engkau baru saja menghilangkan separuh dari kebencianku terhadap Aḥmad ibn Ḥanbal.'" [ʿAbd Allāh:] Setelah mendengar ayahku membacakan Hadis Safīnah,141 aku bertanya kepadanya, "Ayah, apa pendapatmu tentang mengutamakan sebagian Sahabat atas yang lain?" 20.34
Al-Sayyārī added, “I told this story to a Shiʿi, and he said, ‘You’ve just taken away half the resentment I had against Aḥmad ibn Ḥanbal.’” [ʿAbd Allāh:] After hearing my father recite the Hadith of Safīnah,141 I asked him, “Dad, what do you say about putting some Companions before others?” 20.34
“Mengenai urutan kekhalifahan, yaitu Abū Bakr, kemudian ʿUmar, lalu ʿUthmān.” “Bagaimana dengan ʿAlī ibn Abī Ṭālib?” “Nak, ʿAlī adalah bagian dari keluarga Nabi ﷺ. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan mereka.” [Aḥmad:] Tidak ada seorang pun dari para Sahabat yang memiliki keutamaan yang sebanyak dan sekuat riwayatnya seperti ʿAlī ibn Abī Ṭālib. 20.35
“As far as the succession goes, it’s Abū Bakr, then ʿUmar, then ʿUthmān.” “What about ʿAlī ibn Abī Ṭālib?” “Son, ʿAlī was a member of the Prophet’s household. No one compares with them.” [Aḥmad:] None of the Companions has as many well-attested virtues as ʿAlī ibn Abī Ṭālib. 20.35
[Aḥmad:] Siapa pun yang mengingkari bahwa ʿAlī adalah teladan, kemampuannya menemukan jalan lebih buruk daripada keledai keluarga. 20.36
[Aḥmad:] Anyone who denies that ʿAlī was an exemplar is even worse at finding his way than the family donkey. 20.36
Sikapnya terhadap Perselisihan yang Terjadi di Antara Para Sahabat
His Position On The Disputes That Broke Out Among The Companions
[Abū Bakr al-Marrūdhī:] Ketika kami berada di Samarra, salah seorang utusan khalifah bertanya kepada Aḥmad ibn Ḥanbal tentang pendapatnya mengenai perselisihan antara ʿAlī dan Muʿāwiyah. 20.38
[Abū Bakr al-Marrūdhī:] When we were in Samarra, one of the caliph’s messengers asked Aḥmad ibn Ḥanbal what he thought about the dispute between ʿAlī and Muʿāwiyah. 20.38
“Saya tidak mengatakan apa pun kecuali yang baik tentang mereka.” Saya juga pernah mendengar Ibnu Hanbal berkata, setelah seseorang menyebut para Sahabat Rasulullah ﷺ: “Semoga Tuhan merahmati mereka semua! Muawiyah, Amr bin al-Ash, Abu Musa al-Asy'ari, dan al-Mughirah, semuanya disebutkan dalam Kitab Tuhan, di mana difirmankan, {Tanda-tanda mereka ada pada wajah mereka, bekas sujud mereka.}”142
“I have nothing but good to say about them.” I also heard Ibn Ḥanbal say, after someone mentioned the Companions of God’s Emissary: “God have mercy on them all! Muʿāwiyah, ʿAmr ibn al-ʿĀṣ, Abū Mūsā l- Ashʿarī, and al-Mughīrah are all described in the Book of God, where it says, «Their marks are on their faces, the traces of their prostrations.»”142
[Ibrāhīm ibn Āzir:] Saya pernah berada di rumah Ibnu Ḥanbal ketika seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi antara ʿAlī dan Muʿāwiyah. Ibnu Ḥanbal mengabaikannya. Kemudian, ketika ia diberitahu bahwa laki-laki itu berasal dari keluarga Hāshim, ia menoleh kepadanya dan membacakan:
[Ibrāhīm ibn Āzir:] I was once at Ibn Ḥanbal’s when a man asked him about what had happened between ʿAlī and Muʿāwiyah. Ibn Ḥanbal ignored him. Then, when he was told that the man was from the house of Hāshim, he turned to him and recited:
"Itu adalah umat yang telah berlalu; bagi mereka apa yang telah mereka usahakan dan bagi kalian apa yang telah kalian usahakan. Kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan."143 20.39
“«Those were a people that have passed away; theirs is what they did and yours what you have done. You shall not be answerable for their deeds.»”143 20.39
Pendirian Beliau terhadap Kaum Penolak
His Position On The Rejectionists
[ʿAbd Allāh:] Saya bertanya kepada ayah saya apa itu Rafidhah. 20.40
[ʿAbd Allāh:] I asked my father what a Rejectionist is. 20.40
"Barangsiapa yang mencaci dan mencela Abu Bakar dan Umar." Aku juga bertanya kepadanya tentang mencaci salah seorang Sahabat Utusan Tuhan.
“Anyone who curses and reviles Abū Bakr and ʿUmar.” I also asked him about cursing any of the Companions of the Emissary of God.
"Saya tidak akan menyebutnya seorang Muslim." 145
“I wouldn’t call him a Muslim.” 145